STIKes Mitra Keluarga Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) p-ISSN 2580-3379. ,e-ISSN 2716 0874 . Vol. No. Desember 2025. Hal. Research Article PENGARUH ENGKLEK TERHADAP PERKEMBANGAN KETERAMPILAN MOTORIK ANAK PAUD DI TKIT RAFLESIA DAN TKIT FITRI THE INFLUENCE OF ENGKLEK ON THE DEVELOPMENT OF MOTOR SKILLS IN PRESCHOOL CHILDREN AT TKIT RAFLESIA AND TKIT FITRI Nanda Sartika1*. Meilani Safitri2 1,2 STIKes Raflesia. Jln. Mahkota Raya No. Tugu. Cimanggis. Depok. Jawa Barat, 16451. Indonesia *nandasartika_89@ymail. INFORMASI ARTIKEL Article history Submitted: 14-10-2025 Accepted: 22-12-2025 Published: 31-12-2025 DOI : https://doi. org/10. 47522/jmk. Kata Kunci: Engklek. usia prasekolah. motorik kasar dan motorik Keywords : Engklek. preschool age. and fine motor skills ABSTRAK Pendahuluan: Perkembangan motorik pada anak merupakan salah satu aspek dasar yang membutuhkan perhatian khusus karena digunakan sebagai pendukung utama aktivitas sehari-hari serta kesiapan anak untuk pendidikan formal. Prevalensi kesulitan pada perkembangan motorik pada anak prasekolah di Indonesia cukup memprihatinkan, berkisar antara 52,5% hingga 54%. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh permainan engklek terhadap kemampuan motorik kasar dan halus anak prasekolah di TKIT Raflesia dan TKIT Fitri. Metode: Penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif kuantitatiif dengan desain pra-eksperimen tipe one-group pretest-posttest, dengan jumlah sampel sebanyak 77 orang anak usia prasekolah dari TKIT Raflesia dan TKIT Fitri. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi permainan engklek dan keterampilan motorik fisik anak, dengan teknik analisa data uji Wilcoxon Signed Ranks. Hasil: Temuan penelitian ini menunjukkan terdapat peningkatan yang signifikan pada kemampuan motorik kasar dan motorik halus setelah bermain engklek dengan nilai p sebesar 0,000 (< 0,. Kesimpulan: Permainan engklek memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan kemampuan motorik kasar dan keterampilan motorik halus pada anak usia prasekolah di TKIT Raflesia dan TKIT Fitri, yang ditunjukkan oleh nilai p sebesar 0,000 pada kedua variabel. Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 42 Ae 50 ABSTRACT Introduction: Motor development in children is one of the fundamental aspects that requires special attention because it supports childrenAos daily activities and their readiness to enter formal education. The prevalence of motor development difficulties in preschool children in Indonesia is fairly frightening, ranging from 52. 5% to 54%. The purpose of this study wa to examine the influence of engklek games on the gross and fine motor skills of preschool children at TKIT Raflesia and TKIT Fitri. Method: This study employed a descriptive quantitative approach with a preexperimental design, especially a one-group pretest-posttest design with the sample size for this study was 77 preschool children from TKIT Raflesia and TKIT Fitri. The research instrument used was an observation sheet for hopscotch activities and childrenAos physical motor skills, employing the Wilcoxon Signed Ranks test for data analysis. Result: The research results provide evidence regarding the development of gross motor and the fine motor skills after engaging in the engklek game were statistically significant with a p-value of 0. 000 (< 0. Conclusion: This study demonstrates that the engklek game significantly influences the development of both gross and fine motor skills in preschool children at TKIT Raflesia and TKIT Fitri . = 0. PENDAHULUAN Anak usia prasekolah berada dalam fase krusial yang dikenal sebagai masa keemasan, dimana terjadi perkembangan dalam aspek sosial, kognitif, emosional, dan fisik yang signifikan. Pada masa ini, pendidikan dirancang untuk memberikan kesempatan belajar yang mendukung perkembangan fisik dan mental anak serta mempersiapkan mereka untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam konteks ini, perkembangan motorik merupakan aspek fundamental yang memerlukan perhatian khusus. Aspek perkembangan motorik terdiri atas keterampilan motorik kasar yang berkaitan dengan gerakan otot besar seperti berlari dan melompat, serta keterampilan motorik halus yang memerlukan tingkat ketelitian dan koordinasi yang tinggi, seperti menggenggam dan menggambar. Keterkaitan erat antara kedua jenis keterampilan motorik ini menjadikan penopang utama bagi aktivitas sehari-hari anak dan kesiapan mereka untuk pendidikan formal (Zalukhu et al. , 2. Prevalensi gangguan perkembangan motorik pada anak usia prasekolah di Indonesia sangat memprihatinkan, berkisar antara 52,5% hingga 54%. Hal ini diperkuat oleh temuan Riset Kesehatan Dasar . yang mencatat 9,8% anak mengalami gangguan motorik halus, serta penelitian oleh Usrati. Santi, & Amin . yang menemukan bahwa prevalensi keterlambatan motorik kasar pada anak mencapai 29,3%. Masalah ini seringkali disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik, meningkatnya paparan terhadap gawai, dan rendahnya pemahaman orang tua tentang pentingnya bermain dalam pendidikan anak. Menanggapi hal ini, berbagai penelitian telah dilakukan untuk menggali potensi permainan tradisional sebagai solusinya. Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 42 Ae 50 Sejumlah penelitian telah memberikan bukti empiris yang kuat mengenai manfaat Lorena. Drupadi, & Syafrudin . mengungkapkan bahwa modifikasi permainan engklek memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan motorik kasar anak usia 5-6 tahun dari kategori rendah ke tinggi. Temuan ini didukung oleh Nurhayati. Fauziah, & Iklima . dengan hasil uji analisis Spearman's Rank menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,75. Hal ini membuktikan adanya pengaruh yang positif antara frekuensi bermain engklek dengan perkembangan motorik kasar anak. Penelitian. Raihana & Sari . mencatat adanya peningkatan skor kemampuan motorik kasar yang bermakna dengan nilai p = 0,03 setelah penerapan permainan engklek. Akan tetapi, meskipun temuan-temuan ini memberikan kontribusi penting, sebagian besar penelitian tersebut cenderung memiliki cakupan yang terbatas, dengan fokus utama hanya pada kemampuan motorik kasar. Selain itu, ukuran sampel yang digunakan dalam banyak penelitian sebelumnya relatif kecil, hanya melibatkan 10 hingga 11 anak, sehingga membatasi generalisasi temuan ke populasi yang lebih luas. Berdasarkan tinjauan pustaka yang ada, dapat disimpulkan bahwa pemahaman tentang manfaat engklek masih belum lengkap. Literatur yang tersedia masih lemah dalam menyelidiki pengaruh permainan engklek terhadap perkembangan motorik halus anak-anak. Padahal, engklek pada dasarnya melibatkan gerakan-gerakan yang membutuhkan ketepatan, seperti melempar dan menangkap gacuk . , yang secara logis merangsang koordinasi mata-tangan sehingga tidak hanya berpengaruh terhadap motorik kasar, tetapi juga motorik halus anak. Oleh karena itu, penelitian ini sangat penting untuk dilakukan dan relevan terhadap upaya optimalisasi tumbuh kembang anak, dengan menguji efektivitas aktivitas permainan tradisional sebagai alat pendidikan holistik, dengan tujuan untuk melihat pengaruh permainan engklek terhadap kemampuan motorik kasar dan motorik halus anak prasekolah di TKIT Raflesia dan TKIT Fitri. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan pra-eksperimental dengan desain onegroup pretestAeposttest yang melibatkan 22 anak usia prasekolah di TKIT Raflesia dan TKIT Fitri. Subjek penelitian dipilih berdasarkan kriteria inklusi, yaitu anak usia prasekolah, dalam kondisi sehat, serta tidak memiliki gangguan pada kemampuan melompat atau Data penelitian diperoleh melalui lembar observasi permainan engklek dan lembar observasi keterampilan motorik fisik anak, yang diisi oleh peneliti pada tahap pretest dan posttest. Intervensi dilakukan selama 1-2 bulan dengan 1 orang anak melakukan 3 kali intervensi . ermainan engkle. Jarak antara intervensi pertama ke intervensi kedua adalah 1 hari, begitu juga jarak antara intervensi kedua ke intervensi ketiga adalah 1 hari. Teknik analisis data yang digunakan adalah Uji Wilcoxon nonparametrik dengan bantuan perangkat lunak statistik SPSS 22. Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 42 Ae 50 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Penelitian ini melibatkan 77 siswa . siswa TK A dan TK B di TKIT Raflesia dan 16 siswa TK B di TKIT Raflesi. Karakteristik responden berdasarkan usia adalah sebagai berikut: Tabel 1. Frekuensi Pengaruh Permainan Engklek terhadap Perkembangan Motorik Anak Prasekolah Berdasarkan Usia (N=. Usia 4 tahun 5 tahun 6 tahun Total Frekuensi Persentase (%) Tabel di atas menunjukkan bahwa usia responden terdiri dari 4 orang berusia 4 tahun . ,9%), 28 orang berusia 5 tahun . ,9%), dan 45 orang berusia 6 tahun . ,7%). Pada kelompok usia ini terdapat empat area cakupan perkembangan penting, yaitu keterampilan motorik kasar dan motorik halus, keterampilan pribadi dan sosial, serta keterampilan linguistik yang merupakan fase emas perkembangan anak dimana stimulasi motorik kasar dan halus merupakan aspek yang penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Pada fase ini, anak masih berada dalam proses penyesuaian terhadap pertumbuhan biologis dan lingkungan sosial, sehingga berpotensi lebih rentan mengalami perkembangan yang kurang optimal apabila tidak memperoleh stimulasi yang memadai. Risiko biologis, bahaya lingkungan sosial dan fisik, dan risiko perilaku semuanya berdampak pada Bahaya biologis untuk anak-anak kecil di prasekolah terkait dengan usia mereka, karena mereka masih tumbuh dan berkembang. Tahap ini dapat menyebabkan berkurangnya koordinasi dalam gerakan mereka, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kesehatan mereka dan meningkatkan kemungkinan cedera (Renteng, 2. Karakteristik responden dapat dilihat berdasarkan jenis kelamin menunjukkan adanya dominasi jumlah anak laki-laki dibandingkan anak perempuan, yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Frekuensi Pengaruh Permainan Engklek terhadap Perkembangan Motorik Anak Usia Prasekolah Berdasarkan Jenis Kelamin . Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Total Frekuensi Persentase (%) 51,95 48,05 Tabel diatas menunjukkan distribusi responden menurut kategori jenis kelamin laki-laki terdiri dari 40 anak . ,95%) dan perempuan terdiri dari 37 anak . ,05%). Namun jenis kelamin tidak berpengaruh pada keterampilan motorik anak. Hal ini diungkapkan pada hasil penelitian Apriloka . yang menunjukkan bahwa jenis Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 42 Ae 50 kelamin anak tidak memengaruhi perkembangan motoriknya. Akan tetapi, ini bertentangan dengan hasil penelitian Robingatin. Asiah, & Ekawati . yang mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna dalam keterampilan motorik halus antara anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki memperoleh skor rata-rata penilaian perkembangan yang memenuhi harapan (BSH/ baik sesuai harapa. , sedangkan anak perempuan mendapatkan skor rata-rata penilaian yang dianggap sangat baik (BSB/ berkembang sangat bai. Perbedaan ini dapat diamati pada permainan seperti engklek dan kegiatan kreatif seperti mewarnai, melipat origami, menjiplak bentuk, dan sebagainya. Anak laki-laki biasanya lebih aktif dan antusias di dalam kegiatan yang mengembangkan fungsi gerak kasar, sementara anak perempuan lebih aktif dan antusias pada aktivitas yang menstimulasi peningkatan kemampuan motorik halus. Usia dan jenis kelamin anak prasekolah merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam merancang kegiatan stimulasi perkembangan, walaupun tidak selalu menjadi satu-satunya indikator pencapaian dalam keterampilan motorik. Fokus penelitian pada responden usia prasekolah di TKIT Raflesia dan TKIT Fitri sangat tepat karena pada rentang usia ini anak-anak secara alami mencapai puncak perubahan kemampuan gerak mereka, baik kemampuan gerak kasar maupun kemampuan gerak Hal tersebut menunjukkan bahwa lingkungan TKIT memiliki potensi besar sebagai pengaturan yang optimal untuk memberikan stimulasi motorik yang terencana dan bervariasi, yang akan mendukung pencapaian perkembangan motorik yang sesuai dengan usia anak (Apriloka, 2. Sejumlah penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara anak laki-laki dan perempuan dalam aspek perkembangan motorik, tetapi peneliti melihat adanya kecenderungan perbedaan dalam minat dan respon anak-anak terhadap jenis kegiatan yang dilakukan. Anak laki-laki cenderung lebih menyukai kegiatan yang membutuhkan kekuatan fisik dan gerakan aktif, seperti engklek, sedangkan anak perempuan lebih tertarik pada kegiatan yang membutuhkan ketelitian dan koordinasi yang baik, seperti membuat pola atau gambar untuk bermain engklek. Oleh karena itu, peneliti berpendapat bahwa pendekatan stimulasi perkembangan motorik perlu disesuaikan tidak hanya berdasarkan usia, tetapi juga dengan mempertimbangkan karakteristik minat dan kecenderungan aktivitas berdasarkan jenis kelamin, sehingga intervensi yang diberikan menjadi lebih efektif, menyenangkan, dan bermakna bagi Deskripsi variabel penelitian Parameter statistik deskriptif yang dianalisis meliputi nilai minimum, maksimum, rata-rata, serta standar deviasi. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Permainan Engklek terhadap Perkembangan Motorik Anak Usia Prasekolah Berdasarkan Kemampuan Motorik (N=. Keterangan Minimum Maksimum Berarti Deviasi Standar Keterampilan 30,99 Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 42 Ae 50 Keterampilan 42,42 Berdasarkan tabel 3, nilai keterampilan motorik sebelum bermain engklek memiliki nilai minimum 24 dan nilai maksimum 38. Rata-rata yang diperoleh adalah 30,99 dan simpangan bakunya adalah 2,755. Data ini menunjukkan bahwa, secara rata-rata, keterampilan motorik sebelum permainan engklek berkembang sesuai harapan. Sementara itu, nilai maksimum yang diperoleh setelah permainan engklek adalah 44 dan nilai minimum yang diperoleh adalah 37. Nilai rata-rata setelah permainan engklek adalah 42,42, dengan simpangan baku 2,179. Hal ini menunjukkan bahwa setelah permainan engklek, skor rata-rata keterampilan motorik menunjukkan tingkat perkembangan yang sangat baik, dimana setelah permainan engklek terdapat potensi peningkatan keterampilan yang lebih tinggi dibandingkan sebelum permainan Selain itu, nilai statistik deskriptif yang menunjukkan bagaimana engklek memengaruhi perkembangan motorik anak prasekolah adalah sebagai berikut: Tabel 4. Distribusi Frekuensi Pengaruh Permainan Engklek terhadap Perkembangan Motorik Anak Usia Prasekolah Berdasarkan Permainan Englek (N=. Keterangan Tes Awal Permainan Engklek Tes Pasca Permainan Engklek Minimum Maksimum Berarti Deviasi Standar 8,57 9,77 ,456 Berdasarkan tabel 4, jumlah sampel untuk tes awal . re-tes. dan tes pasca permainan engklek . ost-tes. masing-masing adalah 77 sampel. Skor tes awal . untuk permainan engklek memiliki nilai minimum 6 dan nilai maksimum 10. Skor rata-rata yang diperoleh adalah 8,57, dan simpangan bakunya adalah 0,979. Data ini menunjukkan bahwa secara rata-rata, skor pre-test untuk permainan engklek sudah berada pada tingkat yang baik. Sementara itu, skor maksimum yang diperoleh pada tes pasca permainan engklek . ost-tes. , skor minimum meningkat menjadi 8 dan skor maksimum tetap 10, dengan nilai rata-rata sebesar 9,77 serta simpangan baku sebesar 0,456. Temuan ini mengindikasikan adanya peningkatan skor permainan engklek setelah pelaksanaan permainan engklek sebagai intervensi . Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 42 Ae 50 Hasil Uji Wilcoxon Pengaruh Permainan Engklek terhadap Perkembangan Motorik Anak Prasekolah di TKIT Raflesia dan TKIT Fitri Besarnya pengaruh variabel x . ktivitas permainan engkle. terhadap variabel y . eterampilan motorik anak prasekola. dapat dilihat pada hasil analisis statistik yang dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 22 dengan metode uji Wilcoxon, sebagaimana dijelaskan di bawah ini: Tabel 5. Hasil Uji Wilcoxon Pengaruh Permainan Engklek Terhadap Perkembangan Motorik Anak Usia Prasekolah (N=. Analisa Z . ebelum dan sesudah intervensi permainan engklek ) Asimilasi . Sig. -eko. Hasil Berdasarkan tabel diatas, uji Wilcoxon Signed Rank menghasilkan nilai Z estimasi sebesar -7,643 dengan nilai signifikansi 0,000 yang berarti nilai tersebut C 0,05. Hasil analisis ini memperlihatkan bahwa permainan engklek terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan keterampilan motorik anak di TKIT Raflesia dan TKIT Fitri, yang berarti hipotesis diterima. Hasil penelitian ini menunjukkan kesesuaian dengan hasil studi yang dilakukan oleh Litiloli & Aisyah . yang melibatkan 8 anak di Kelompok B2 di Bahrul TK Ulum di Surabaya Surabaya dengan nilai p-value 0,000 (C 0,. , mengungkapkan bahwa permainan engklek mendukung peningkatan keterampilan motorik kasar anak. Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Maharani . menemukan bahwa permainan engklek memiliki pengaruh terhadap perkembangan motorik halus dan kasar anak di TK Barunawati 3 Samarinda, dengan hasil uji Wilcoxon p-value 0,000 C 0,05. Penelitian yang dilakukan oleh Lorena et al. menunjukkan peningkatan keterampilan motorik kasar anak dari kategori rendah ke sedang dan dari kategori sedang ke tinggi setelah mereka berpartisipasi dalam sesi engklek yang dimodifikasi. Pengukuran dilakukan sebelum . ra-intervens. dan setelah . asca-intervens. sesi Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Zalukhu. Samosir, & Herawati . menunjukkan korelasi positif . = 0,. antara permainan engklek dan keterampilan motorik kasar anak-anak. Analisis regresi menghasilkan persamaan y = 7,10 0,85X dengan nilai uji-F sebesar 7,03 (> Nilai F-tabe. Hasil ini memperkuat temuan mengenai permainan engklek yang memiliki efek signifikan terhadap peningkatan keterampilan motorik kasar pada anak. Engklek bukan hanya aktivitas permainan yang menyenangkan saja, tetapi permainan ini membantu anak-anak mengembangkan keterampilan motorik yang penting untuk perkembangannya, termasuk keterampilan motorik halus dan kasar. Anak yang berpartisipasi dalam permainan engklek baik dalam bentuk standar mapun modifikasi yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan peningkatan keterampilan motorik. Permainan ini dapat merangsang koordinasi, keseimbangan, dan ketepatan gerak secara komprehensif Lorena et al. Dengan nilai-p yang signifikan dan korelasi positif yang cukup kuat, peneliti yakin bahwa engklek dapat Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 42 Ae 50 digunakan sebagai metode alternatif sebagai upaya mendukung perkembangan motorik anak usia dini yang menyenangkan, hemat biaya, dan mudah diterapkan di berbagai lingkungan pendidikan, terutama di tingkat prasekolah dan taman kanakkanak. Oleh karena itu, peneliti sangat mendukung penggunaan permainan tradisional seperti engklek lebih sering sebagai bagian dari pendekatan pembelajaran berbasis aktivitas untuk mendukung perkembangan holistik anak. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa permainan engklek memberikan pengaruh yang signifikan pada perkembangan motorik anak usia prasekolah di TKIT Raflesia dan TKIT Fitri, baik gerakan otot besar dan kecil. Hal ini didukung oleh p-value 0,000 (C 0,. Penelitian ini berhasil memberikan bukti empiris yang kuat bahwa permainan engklek juga efektif merangsang keterampilan motorik halus pada anak, tidak hanya pada motorik kasar seperti yang diungkapkan oleh para peneliti sebelumnya. Hasil penelitian ini diperkuat dengan penggunaan ukuran sampel yang lebih besar yaitu sebanyak 77 anak, yang memberikan generalisasi yang lebih kuat dibandingkan dengan penelitian UCAPAN TERIMA KASIH Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada responden yang telah bermurah hati membantu dalam penelitian ini, serta kepada STIKes Raflesia yang telah mendukung Ucapan terima kasih juga peneliti tujukan kepada TKIT Raflesia dan TKIT Fitri sebagai tempat dilakukannya penelitian sehingga dapat diselesaikan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA