Vol 20 No 1 Jun 2025 Page: 1-30 E-ISSN: 2540-9204 P-ISSN: 1907-1191 DOI: 10. 37680/adabiya. Al-Adabiya Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Research article Evaluasi Model Komunikasi Islam dalam Upaya Stop PMO Evaluation of Islamic Communication Models in the Effort to Stop PMO Achyar Zein Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Indonesia. achyarzein@uinsu. Abstract This study aims to evaluate the effectiveness of the Islamic communication model in overcoming Pornography. Masturbation, and Orgasm (PMO) behavior among Communication Science students at the State Islamic University of North Sumatra. The urgency of this study arises because of the high prevalence of PMO among adolescents in Indonesia and the need for an approach that is integrated with Islamic values. The methodology involves the Analytic Hierarchy Process (AHP) and qualitative analysis to integrate Islamic communication principles and assess their effects on student behavior. The results of the study indicate that the Islamic communication model is effective in reducing PMO behavior, with the Interpersonal Psychotherapy Model (IPM) ranking the highest in effectiveness, followed by the Interpersonal Communication Model (ICM). Digital Campaign Model (DCM). Collaborative Group Discussion (CGD). Problem-based Learning (PL), and Islamic Lecturebased Instructional Model (ILIM). This approach reduces PMO incidents and supports students' emotional and spiritual growth. Based on these results, this study recommends a broader integration of the Islamic communication model in Islamic universities' curricula and extracurricular activities. It aims to enhance preventive education and support students in developing better psychosocial and spiritual health. This study also proposes further integration of Islamic communication models in the curriculum and extracurricular activities to develop a more holistic and in-depth preventive education. Thus, this study provides new insights into the effectiveness of value-based communication approaches in education and broadens the understanding of the adaptation of value-based education in addressing sensitive issues in higher education environments. Keywords Evaluation. Islamic Communication Model. PMO. Students. Article history Submitted: 28/11/2024. revised: 26/01/2025. accepted: 07/03/2025. A 2025 by the author. This is an open- access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY SA) license, https://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Published by Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo. Indonesia https://ejournal. id/index. php/adabiya/index Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan PENDAHULUAN Problematika Pornografi. Masturbasi, dan Orgasme (PMO) di Indonesia menjadi diskursus yang menarik. Data menunjukkan bahwa 66,6% remaja laki-laki dan 62,3% remaja perempuan di Indonesia menyaksikan aktivitas seksual secara virtual (Suara Surabaya, 2. Hal ini mengindikasikan bahwa pornografi mulai mengintervensi dinamika bermasyarakat, khususnya di kalangan remaja (Wright et al. , 2. Data yang dipaparkan di atas menunjukkan betapa krisisnya kehidupan sosial dalam konteks pornografi (Jones, 2021. Velez, 2. Lebih lanjut, kegiatan pornografi ini bertransformasi menjadi elemen baru yang memunculkan perilaku masturbasi dan orgasme di kalangan remaja. Berdasarkan data yang diperoleh, 92% pria dan 76% wanita mengatakan pernah melakukan masturbasi (Selwyn, 2. Meskipun angka PMO tergolong tinggi, tidak dapat dimungkiri bahwa sebagian besar remaja yang melakukannya mengaku memiliki keinginan besar untuk berhenti. Hal ini ditandai dengan munculnya gerakan-gerakan besar untuk menghindari PMO, seperti AuNo Nut November ChallengeAy (Garas, 2. Gerakan ini menguji para remaja untuk menahan diri dari kegiatan PMO selama sebulan penuh, kemudian diakhiri dengan tahap evaluasi. Para peneliti dan praktisi kesehatan mental telah menyoroti bagaimana konsumsi pornografi yang berlebihan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari, merusak hubungan interpersonal, dan menyebabkan distorsi harapan seksual. Selain itu, terdapat indikasi bahwa kecanduan pornografi dan kebiasaan masturbasi yang berlebihan dapat menyebabkan masalah psikologis, seperti rasa bersalah, malu, kecemasan, dan dalam beberapa kasus, depresi (Fischer et al. , 2022. Jiao et al. , 2. Meskipun masih terdapat perdebatan dalam komunitas ilmiah mengenai sejauh mana PMO dapat dianggap sebagai perilaku menyimpang atau berbahaya, kesadaran akan pentingnya pendekatan berbasis bukti ilmiah terhadap isu ini terus bertumbuh (Allen et al. , 2. Sejauh ini, belum banyak artikel yang meninjau PMO melalui metode komunikasi, khususnya komunikasi Islam. Model komunikasi Islam dalam upaya menghentikan praktik pornografi, masturbasi, dan orgasme (PMO) menekankan penggunaan pesan yang sesuai dengan nilai-nilai spiritual dan etika yang dijunjung dalam Islam. Pendekatan ini tidak hanya menyampaikan konsekuensi negatif dari PMO dari segi kesehatan dan psikologis, tetapi juga dampaknya terhadap spiritualitas individu (Mintah et al. , 2020. Vitz & Williams, 2. Achyar Zein | Evaluasi Model Komunikasi Islam dalam Upaya Stop PMO Pendekatan ini juga menekankan pentingnya dialog yang membangun, bukan sekadar penghakiman, sehingga individu yang terlibat dalam PMO merasa didukung untuk mengubah perilaku mereka. Komunikasi Islam yang efektif tidak hanya memberikan informasi tentang bahaya PMO, tetapi juga menawarkan solusi praktis dan bimbingan spiritual untuk mengatasinya. Pendekatan ini melibatkan keterlibatan tokoh agama, pendidikan berbasis masjid, serta kelompok dukungan sebaya yang bersinergi dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan pribadi dan pengembangan karakter. Melalui model komunikasi yang holistik dan inklusif ini, kampanye "STOP PMO" berpotensi memberikan dampak lebih mendalam, mengubah sikap dan perilaku, serta memberdayakan individu untuk membuat pilihan yang lebih sehat dan beretika (Mushy et al. , 2. Latar belakang yang disajikan di atas menunjukkan pentingnya evaluasi komunikasi Islam dalam konteks "STOP PMO". Penelitian ini secara khusus mengkaji isu ini dalam konteks mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU). Kajian ini berangkat dari beberapa penelitian ilmiah mengenai aktivitas pornografi serta program pengabdian masyarakat oleh Program Magister Komunikasi UINSU yang mengusung tema perilaku seksual. Fakta ini mengindikasikan bahwa UINSU sedang gencar mengadakan aktivitas akademik terkait perilaku PMO atau isu yang Sebagai institusi yang mengutamakan nilai-nilai Islam dalam pendidikannya. UINSU menghadapi tantangan dalam membentuk perilaku mahasiswa agar selaras dengan nilai-nilai tersebut. Pornografi, masturbasi, dan orgasme (PMO) merupakan isu yang sering dianggap tabu, tetapi memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan mahasiswa. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan edukasi mengenai PMO menjadi sangat penting. Penelitian menunjukkan peningkatan diskusi tentang PMO di media sosial. Studi terkini mencatat bahwa sekitar 66,6% remaja laki-laki dan 62,3% remaja perempuan di Indonesia mengakses konten seksual secara virtual. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pengintegrasian literasi digital yang efektif dalam kurikulum universitas guna mengatasi tantangan perilaku seksual yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam di kalangan mahasiswa UINSU (Al-Mujtahid et al. , 2. Penelitian berlandaskan nilai-nilai Islam dalam mengatasi isu PMO di kalangan mahasiswa Ilmu Komunikasi UINSU. Dengan menggunakan pesan dan metode yang sesuai dengan Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan ajaran Islam, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi seberapa efektif pendekatan komunikasi Islam dalam mengubah sikap dan perilaku mahasiswa. Dengan metodologi hierarkis, penelitian ini berusaha mengintegrasikan prinsip-prinsip Islam dalam teori komunikasi, menilai dampaknya terhadap perilaku mahasiswa, dan mengeksplorasi potensi komunikasi religius sebagai alat edukatif dalam lingkungan akademis Islam. Penelitian ini mengadopsi teori difusi inovasi oleh Everett Rogers sebagai kerangka teoretis untuk menganalisis penyebaran dan adopsi strategi komunikasi Islam dalam konteks pengendalian PMO di kalangan mahasiswa UINSU. Teori ini menekankan proses adopsi inovasi dalam suatu sistem sosial, memberikan wawasan berharga mengenai bagaimana pesan berbasis nilai Islam dapat diterima dan diinternalisasi oleh mahasiswa. Dengan mempertimbangkan variabel seperti karakteristik inovasi, komunikasi antarpribadi, dan norma sosial yang berlaku, teori ini membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kecepatan serta efektivitas adopsi strategi komunikasi yang ditawarkan (E. Rogers, 2. Dalam konteks ini, komunikasi Islam bertindak sebagai inovasi yang menantang norma perilaku yang ada dan mengusulkan alternatif yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, pendekatan ini diharapkan dapat memfasilitasi perubahan perilaku melalui proses kognitif dan afektif yang lebih mendalam di kalangan mahasiswa, sehingga meningkatkan pemahaman dan kepatuhan terhadap perilaku yang etis dan sehat. Dalam observasi awal, penulis menemukan adanya keterbatasan dalam penelitian terdahulu mengenai isu PMO di kalangan remaja. Untuk menganalisis kesenjangan penelitian ini, penulis menggunakan analisis jaringan dan analisis density melalui aplikasi VosViewer. Adapun hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut: Achyar Zein | Evaluasi Model Komunikasi Islam dalam Upaya Stop PMO Gambar 1. Analisis Jaringan Penelitian Terdahulu Sumber: Diolah Peneliti menggunakan aplikasi VosViewer . Jaringan semantik yang divisualisasikan dalam analisis ini menyoroti keterkaitan antara berbagai konsep yang berhubungan dengan PMO (Pornografi. Masturbasi, dan Onan. Analisis ini mengungkapkan bahwa masturbasi pada masa kanak-kanak dan remaja merupakan titik sentral yang memiliki hubungan erat dengan berbagai tema lain, seperti perilaku seksual, fantasi masturbasi, dan frekuensi hubungan seksual dengan pasangan. Elemen-elemen seperti guilt . asa bersala. dan sexual dysfunction . isfungsi seksua. menunjukkan adanya dampak psikologis serta emosional yang dapat dikaitkan dengan PMO. Selain itu, terdapat indikasi adanya pertimbangan sosial dan gender, sebagaimana terlihat dari koneksi antara male dan female masturbation dengan jaringan konsep yang lebih luas. Penggunaan primates sebagai nodus menunjukkan bahwa penelitian mungkin telah mengeksplorasi perilaku ini dalam konteks biologis atau evolusioner. Sementara itu, hubungan antara politics dan discourse mengisyaratkan adanya perdebatan publik serta pengaruh sosial-politik dalam cara PMO dipandang dan dibahas di Secara keseluruhan, peta ini menggambarkan kompleksitas interaksi berbagai faktor yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh PMO, sekaligus mengisyaratkan perlunya pendekatan multidisipliner untuk memahami fenomena ini secara lebih Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Gambar 2. Analisis Density Penelitian Terdahulu Sumber: Diolah Penulis menggunakan aplikasi VosViewer . Peta kepadatan ini menggambarkan kerapatan tematik dari topik yang berkaitan dengan PMO (Pornografi. Masturbasi, dan Onan. berdasarkan frekuensi kemunculan istilah dalam kumpulan data tertentu. Kepadatan yang lebih tinggi, ditandai dengan warna yang lebih terang, menunjukkan konsentrasi yang lebih besar dari dialog ilmiah atau publikasi mengenai keterkaitan antara childhood masturbation dan adolescence. Hal ini menyoroti periode penting dalam perkembangan seksual, di mana intervensi dan edukasi dapat memberikan dampak yang signifikan. Sementara itu, area dengan warna lebih gelap, seperti yang berkaitan dengan disease dan insanity, menunjukkan topik yang mungkin memiliki sedikit literatur atau kurang menjadi fokus dalam diskusi akademis. Istilah seperti guilt . asa bersala. dan sexual dysfunction . isfungsi seksua. yang muncul dalam konteks ini mengindikasikan konsekuensi emosional dan fisik potensial dari PMO, yang sering menjadi perhatian dalam penelitian kesehatan mental dan seksual. Sementara itu, istilah politic dan discourse dengan kepadatan yang lebih rendah dapat menunjukkan adanya perdebatan dan diskusi yang luas, tetapi kurang mendapat perhatian dalam kajian ilmiah. Hal ini mengarah pada perlunya lebih banyak penelitian yang terfokus pada aspek sosial dan politik dari PMO. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa masih sedikit kajian yang meninjau PMO melalui perspektif komunikasi, khususnya komunikasi Islam. Model komunikasi Islam dalam upaya menghentikan praktik PMO menekankan penggunaan pesan yang sesuai dengan nilai-nilai spiritual dan etika Islam. Pendekatan ini tidak hanya menyampaikan konsekuensi negatif dari PMO dalam Achyar Zein | Evaluasi Model Komunikasi Islam dalam Upaya Stop PMO aspek kesehatan dan psikologis, tetapi juga dampaknya terhadap spiritualitas individu (Mintah et al. , 2020. Vitz & Williams, 2. Penelitian oleh Colom et al. , berfokus pada akses, konsumsi, dan dampak penggunaan pornografi di kalangan remaja. Melalui survei terstruktur, penelitian ini mengungkap bagaimana aksesibilitas luas terhadap pornografi memengaruhi persepsi dan perilaku seksual remaja. Temuan mereka menunjukkan bahwa paparan pornografi yang intens berkontribusi terhadap distorsi ekspektasi seksual dan berdampak pada kesehatan mental remaja. Penelitian ini relevan dalam konteks model komunikasi Islam dalam upaya "Stop PMO", karena menegaskan pentingnya pendidikan seksual berbasis nilai-nilai etis dan moral sebagai benteng pertahanan terhadap dampak negatif pornografi. Dalam studi oleh Kholisoh. Ganiem, dan Mijan . dilakukan evaluasi terhadap pengaruh literasi media dalam pencegahan dampak pornografi, dengan pendekatan sosial pribadi Desa Gerendong. Pandeglang. Banten. Menggunakan metode kualitatif berupa wawancara dan observasi, penelitian ini menemukan bahwa peningkatan literasi media berkontribusi positif terhadap kesadaran dan pencegahan perilaku berisiko. Temuan ini mendukung pentingnya integrasi literasi media dalam pendekatan komunikasi Islam dalam studi "Stop PMO", di mana edukasi dan peningkatan kesadaran dapat memperkuat upaya pencegahan. Mediawati. Yosep, dan Mardhiyah . meneliti hubungan antara keterampilan hidup dan perilaku seksual berisiko di kalangan remaja Indonesia melalui survei lintas-seksional. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa remaja dengan keterampilan hidup yang lebih baik cenderung memiliki perilaku seksual yang lebih bertanggung jawab. Studi ini relevan karena menekankan pentingnya pengembangan keterampilan hidup dalam pendidikan remaja, yang dapat diterapkan dalam model komunikasi Islam untuk mengurangi perilaku PMO. Hal ini menggarisbawahi perlunya pendekatan holistik dalam pendidikan remaja. Penelitian oleh Meehan . mengeksplorasi sensitivitas politik dalam studi mengenai pornografi di kalangan anak muda. Melalui wawancara kualitatif. Meehan menemukan adanya perbedaan pendapat yang signifikan mengenai kepatutan topik tersebut di kalangan remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi yang sensitif dan berbasis nilai dapat memengaruhi efektivitas kampanye edukasi, sebagaimana diusulkan dalam model komunikasi Islam dalam studi "Stop PMO". Zhou . meneliti pengaruh jejaring sosial terhadap kesadaran sosial remaja melalui analisis data kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan di media sosial memiliki dampak positif dan negatif terhadap perilaku sosial remaja. Oleh karena itu, model komunikasi digital yang digunakan dalam kampanye "Stop PMO" perlu mempertimbangkan aspek interaksi sosial ini untuk meningkatkan efektivitas dalam mengubah perilaku remaja terkait pornografi. Urgensi penelitian ini terletak pada identifikasi dan pengukuran efektivitas model komunikasi Islam dalam upaya pencegahan PMO di kalangan mahasiswa. Hingga saat ini, masih terdapat keterbatasan studi yang menyelidiki pendekatan komunikasi secara holistik dan terstruktur dalam konteks universitas Islam di Indonesia. Dengan menerapkan Analytic Hierarchy Process (AHP), penelitian ini bertujuan untuk menyediakan analisis komparatif terhadap model komunikasi Islam yang telah diterapkan di Fakultas Ilmu Sosial. METODE Penelitian fenomenologis berbasis survei untuk menilai efektivitas model komunikasi Islam dalam mengatasi perilaku Pornografi. Masturbasi, dan Orgasme (PMO) di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (Creswell & Poth, 2018. Weyant, 2. studi ini, pengumpulan data primer dilakukan melalui survei yang diselenggarakan secara daring dan luring, menggunakan kuesioner yang dirancang khusus untuk mengeksplorasi persepsi serta pengalaman mahasiswa. Sementara itu, data sekunder dihimpun dari berbagai literatur, termasuk jurnal, buku, dan artikel daring yang mendukung pemahaman teoritis serta kontekstual mengenai penerapan komunikasi Islam dalam intervensi PMO. Populasi penelitian mencakup seluruh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial yang berjumlah 180 orang, dengan sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin yang menghasilkan 124 responden pada tingkat kesalahan 0,05 (Sugiyono, 2. Teknik pengambilan sampel acak sederhana digunakan untuk memastikan setiap individu memiliki peluang yang sama untuk terpilih, sehingga meminimalkan bias dan meningkatkan representasi populasi. Penelitian ini mengintegrasikan teknik Analytic Hierarchy Process (AHP) dalam analisis data, yang memungkinkan pengolahan serta penguraian data survei secara kuantitatif guna menilai prioritas dan efektivitas model komunikasi yang digunakan. Validitas hasil penelitian diperkuat melalui uji triangulasi sumber dengan Achyar Zein | Evaluasi Model Komunikasi Islam dalam Upaya Stop PMO mengombinasikan berbagai sumber data untuk memverifikasi temuan penelitian (Flick, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Analytical Hierarchy Process: Model Komunikasi Islam dalam Kampanye Stop PMO Dalam upaya mengurai kompleksitas pengaruh Model Komunikasi Islam terhadap perilaku Pornografi. Masturbasi, dan Orgasme (PMO) di kalangan mahasiswa, penelitian ini mengimplementasikan Analytic Hierarchy Process (AHP) sebagai metodologi utama. AHP menyediakan kerangka kerja kuantitatif yang memungkinkan dekomposisi sistematis dari elemen-elemen model komunikasi dan penilaian prioritasnya. Proses ini membangun hierarki yang terdiri dari kriteria dan subkriteria, memfasilitasi evaluasi komparatif berdasarkan konsistensi matematis dan logika analitik. Melalui pendekatan ini, penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkuantifikasi kontribusi relatif dari setiap aspek komunikatif terhadap efektivitas kampanye Stop PMO, sehingga mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti dan sistematis dalam konteks akademis maupun praktis. Adapun model asumsi dan kriteria yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Tabel 1. Model Asumsi Kriteria Alternatif Simbol Interpersonal Communication Memberhentikan PMO dan mengarahkan Model (Mardhiyyah et al. , ke aktivitas alternatif positif (Cividini2. Digital Motta et al. , 2. Campaign Model (Wakefield et al. , 2. Interpersonal Lecture-based Instructional Model (Amaliah et al. , 2. Problem-based Learning (Bahri et al. , 2. (Fraumeni-McBride. Psychotherapy Peningkatan aktivitas spiritual dan mental Model (Hackett et al. , 2. Islamic Berkomitmen dalam menjalankan aktivitas (Chisholm & Gall, 2. Kesediaan dalam menerima dukungan sosial (Bensimon, 2. Kesadaran bahwa PMO dapat memicu (Ferguson Hartley, 2. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Collaborative Group Discussion (Estimo et al. , 2. Kesadaran PMO mental . an Tuijl et al. , 2. Tabulasi Model Asumsi Sumber: Diolah Peneliti . Tabel 2. Kriteria Matriks Perbandingan Berpasangan Keterangan Nilai Equally Importance (EI) Moderate Importance (MI) Strong Importance (SI) Very Strong Importance (VSI) Extreme Importance (EXI) Tabulasi Kriteria Matriks Perbandingan Berpasangan Sumber: Diolah Peneliti . Dalam penelitian ini, enam model komunikasi yang digunakan dalam kampanye Stop PMO dievaluasi berdasarkan kerangka Analytic Hierarchy Process (AHP). Setiap model diwakili oleh simbol tertentu: Interpersonal Communication Model (ICM) sebagai K1. Digital Campaign Model (DCM) sebagai K2. Interpersonal Psychotherapy Model (IPM) sebagai K3. Islamic Lecture-based Instructional Model (ILIM) sebagai K4. Problem-based Learning (PL) sebagai K5, dan Collaborative Group Discussion (CGD) sebagai K6. Untuk menilai dan membandingkan keefektifan relatif dari setiap model tersebut, digunakan skala kuantitatif berupa Matriks Perbandingan Berpasangan, yang mengklasifikasikan tingkat kepentingan dari satu model terhadap model lainnya dalam lima kategori: Equally Important (EI) dengan nilai 1. Moderate Importance (MI) dengan nilai 3. Strong Importance (SI) dengan nilai 5. Very Strong Importance (VSI) dengan nilai 7, dan Extreme Importance (EXI) dengan nilai 9. Skala ini memungkinkan peneliti untuk secara sistematis dan objektif menilai prioritas antar model berdasarkan perbandingan yang jelas dan terstruktur. Analisis menggunakan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) melalui tabel 2 dan 3 di atas memperlihatkan evaluasi sistematis terhadap efektivitas model komunikasi dalam pencegahan PMO. Melalui penggunaan Matriks Perbandingan Berpasangan, kepentingan antarmodel dari Interpersonal Communication Model (ICM). Digital Achyar Zein | Evaluasi Model Komunikasi Islam dalam Upaya Stop PMO Campaign Model (DCM). Interpersonal Psychotherapy Model (IPM). Islamic Lecturebased Instructional Model (ILIM). Problem-based Learning (PL), dan Collaborative Group Discussion (CGD). Skala nilai dari 1 hingga 9 menggambarkan tingkatan kepentingan dari setara hingga ekstrem, memungkinkan evaluasi yang objektif mengenai mana model yang paling efektif berdasarkan bobot nilai yang ditetapkan. Pendekatan ini menghasilkan analisis yang kuantitatif dan mendalam tentang relasi dan efektivitas relatif dari setiap model, memfasilitasi pengambilan keputusan berbasis bukti dalam strategi komunikasi untuk mengurangi perilaku PMO di lingkungan akademis. Tabel 3. Matriks Perbandingan Berpasangan Kriteria ICM DCM IPM ILIM CGD ICM DCM IPM ILIM CGD Tabulasi Matriks Perbandingan Berpasangan Sumber: Diolah Peneliti . Dalam kerangka Analytic Hierarchy Process (AHP). Matriks Perbandingan Berpasangan disusun untuk evaluasi sistematis terhadap efektivitas enam model komunikasi dalam konteks kampanye Stop PMO. Matriks ini menampilkan perbandingan kuantitatif antara Interpersonal Communication Model (ICM). Digital Campaign Model (DCM). Interpersonal Psychotherapy Model (IPM). Islamic Lecturebased Instructional Model (ILIM). Problem-based Learning (PL), dan Collaborative Group Discussion (CGD). Nilai diagonal matriks yang seragam . menunjukkan kesetaraan model terhadap dirinya sendiri. Faktor penilaian yang meningkat . , 5, 7, . mencerminkan dominasi signifikan dari model baris terhadap model kolom dalam hal pengaruh dan preferensi, sedangkan nilai pecahan . /3, 1/5, dst. ) mengindikasikan kecenderungan yang lebih rendah terhadap model baris, menggambarkan hierarki prioritas dan efektivitas yang jelas antar model dalam strategi komunikasi untuk mengatasi PMO. Matriks Perbandingan Berpasangan yang disusun dalam kerangka Analytic Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Hierarchy Process (AHP) untuk evaluasi efektivitas model komunikasi dalam mengatasi PMO mengungkapkan dinamika relasional yang signifikan antar model. Matriks ini, dengan menggunakan skala nilai dari satu . hingga sembilan . epentingan ekstre. , menyediakan basis kuantitatif untuk menilai keefektifan relatif setiap model seperti Interpersonal Communication Model (ICM). Digital Campaign Model (DCM). Interpersonal Psychotherapy Model (IPM). Islamic Lecturebased Instructional Model (ILIM). Problem-based Learning (PL), dan Collaborative Group Discussion (CGD). Diagonal matriks yang seragam dengan nilai satu menandakan bahwa setiap model dianggap efektif dalam konteksnya sendiri. Namun, nilai yang lebih tinggi dalam baris menunjukkan preferensi kuat terhadap model tersebut dibandingkan dengan model lain dalam kolom, sedangkan nilai pecahan menunjukkan penilaian yang lebih rendah, mengindikasikan hierarki yang jelas dalam efektivitas relatif mereka. Analisis ini tidak hanya mengidentifikasi model mana yang paling dominan menurut persepsi pengguna, tetapi juga menyoroti mengimplementasikan strategi komunikasi untuk pencegahan PMO di lingkungan Di sisi lain, adapun tabel simplifikasi matriks perbandingan berpasangan yang penulis dapatkan adalah sebagaimana berikut: Tabel 4. Simplifikasi Matriks Perbandingan Berpasangan Kriteria ICM DCM IPM ILIM CGD ICM DCM 0,33 IPM 0,333 ILIM 0,143 0,25 0,333 0,111 0,167 0,167 CGD Total 2,287 4,916 9,533 Tabulasi Simplifikasi Matriks Perbandingan Berpasangan Sumber: Diolah Peneliti . Dalam tabel Simplifikasi Matriks Perbandingan Berpasangan, setiap model komunikasi dalam kampanye Stop PMO dievaluasi berdasarkan keefektivitasannya Model-model Interpersonal Communication Model (ICM). Digital Campaign Model (DCM). Interpersonal Achyar Zein | Evaluasi Model Komunikasi Islam dalam Upaya Stop PMO Psychotherapy Model (IPM). Islamic Lecture-based Instructional Model (ILIM). Problem-based Learning (PL), dan Collaborative Group Discussion (CGD). Nilai matriks ini menggambarkan pengaruh relatif antar model, dengan nilai 1 menandakan kesetaraan antara model, sedangkan nilai yang lebih besar menunjukkan dominasi yang signifikan, dan nilai pecahan menunjukkan pengaruh yang lebih rendah. Kolom 'Total' menghitung jumlah keseluruhan dari setiap kolom, yang mengindikasikan bobot agregat dari setiap model terhadap model lainnya dalam matriks. Analisis ini memfasilitasi identifikasi dan prioritisasi model komunikasi yang paling efektif dalam mempengaruhi pengurangan perilaku PMO berdasarkan penilaian komparatif dan agregatif mereka. Melalui tabel di atas yang dihasilkan dalam penelitian ini, terungkap bobot relatif dan keefektivitasan dari berbagai model komunikasi yang digunakan dalam upaya menghentikan PMO. Analisis ini mengkategorikan dan menilai model-model tersebut berdasarkan seberapa signifikan masing-masing mempengaruhi perubahan perilaku yang diharapkan. Dari hasil yang ditabulasi, jelas bahwa Problem-based Learning (PL) mendominasi dengan bobot agregat tertinggi, mengindikasikan bahwa model ini paling efektif dalam mendorong refleksi dan penanganan isu PMO. Di sisi lain, modelmodel seperti Interpersonal Communication Model (ICM) dan Digital Campaign Model (DCM) juga menunjukkan pengaruh yang signifikan, meski tidak sekuat PL. Faktor penilaian yang lebih tinggi pada beberapa model menunjukkan preferensi kuat dalam konteks pengaruhnya terhadap perilaku, sedangkan nilai yang lebih rendah pada model lain mengindikasikan kebutuhan untuk kombinasi pendekatan yang lebih luas atau penyesuaian strategis. Analisis komparatif ini secara keseluruhan menyoroti bagaimana masing-masing model berkontribusi terhadap strategi intervensi keseluruhan, memberikan panduan yang berharga untuk optimasi kebijakan dan praktik dalam mengatasi PMO di lingkungan universitas. Tabel Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan yang dipresentasikan di atas menyajikan hasil evaluasi komparatif dari berbagai model komunikasi dalam rangka kampanye Stop PMO. Matriks ini menampilkan nilai yang dinormalisasi untuk setiap model, yang merefleksikan proporsi relatif pengaruhnya dibandingkan dengan model lain dalam studi ini. Setiap kolom menunjukkan respons relatif terhadap satu model komunikasi, seperti Interpersonal Communication Model (ICM). Digital Campaign Model (DCM), dan lainnya, terhadap total nilai kolom, mencerminkan kepentingan relatif dari setiap model dalam konteks yang lebih luas. Adapun tabulasi normalisasinya adalah sebagai berikut: Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Tabel 5. Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan Kriteria ICM DCM IPM ILIM Vektor CGD Prioritas Eigen ICM 0,437 0,610 0,524 0,560 0,429 0,625 0,531 1,214 DCM 0,146 0,203 0,315 0,320 0,286 0,156 0,238 1,168 IPM 0,087 0,102 0,105 0,240 0,238 0,104 0,146 1,392 ILIM 0,062 0,051 0,035 0,080 0,095 0,063 0,064 0,804 0,049 0,034 0,021 0,040 0,048 0,052 0,041 0,851 CGD 0,219 0,407 0,315 0,400 0,286 0,313 0,323 1,034 Tabulasi Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan Sumber: Diolah Peneliti . Kolom "Prioritas" dihitung dengan mengambil rata-rata dari nilai normalisasi setiap model, yang menggambarkan bobot atau prioritas keseluruhan dari setiap model komunikasi berdasarkan evaluasi berpasangan. Kolom "Vektor Eigen" adalah sumatif dari baris nilai normalisasi untuk setiap model, memberikan indikasi tentang pengaruh kumulatif dari masing-masing model dalam struktur hierarkis kampanye. Model dengan nilai vektor eigen yang lebih tinggi menunjukkan pengaruh yang lebih signifikan dalam menerapkan strategi komunikasi yang efektif untuk mengurangi perilaku PMO. Tabel Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan di atas mengungkapkan seberapa efektif berbagai model komunikasi dalam mempengaruhi perilaku PMO di kalangan mahasiswa. Proses normalisasi memungkinkan perbandingan langsung antar model, dengan memperlihatkan bobot relatif dan prioritas masing-masing dalam kampanye Stop PMO. Dari data yang dinormalisasi. Interpersonal Communication Model (ICM) dan Interpersonal Psychotherapy Model (IPM) menunjukkan pengaruh yang paling signifikan, seperti tercermin dari nilai Vektor Eigen yang tinggi. Sebaliknya. Problem-based Learning (PL) dan Islamic Lecturebased Instructional Model (ILIM) menunjukkan pengaruh yang lebih rendah dalam konteks ini. Penilaian ini mengindikasikan bahwa metode yang melibatkan interaksi langsung dan terapi personal lebih efektif dalam mengatasi isu PMO dibandingkan dengan pendekatan yang lebih berfokus pada pembelajaran dan diskusi kelompok. Efektivitas relatif ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan interpersonal dan psikoterapi dalam merancang strategi komunikasi yang berorientasi pada Achyar Zein | Evaluasi Model Komunikasi Islam dalam Upaya Stop PMO pengurangan PMO, memberikan wawasan berharga bagi pengembangan program intervensi di masa depan. Untuk memastikan validitas dan reliabilitas analisis menggunakan AHP, dihitung Consistency Index (CI) yang mengukur seberapa konsisten perbandingan berpasangan yang dilakukan peneliti. CI dihitung menggunakan rumus: uImaxOeyc. cuOe. ( maxOe. Oe. Dimana yuI max adalah eigenvalue maksimum yang diperoleh dari matriks, dan ycu adalah jumlah kriteria atau model. Sebuah matriks perbandingan dianggap konsisten jika nilai Consistency Ratio (CR), yang merupakan rasio CI terhadap Random Index (RI) yang sesuai dengan ukuran matriks, berada di bawah ambang batas 0,1. Jika CR lebih rendah dari 0,1, maka asumsi konsistensi terpenuhi, memperkuat kepercayaan terhadap keputusan yang dibuat berdasarkan matriks tersebut. Hasil dari olahan data yang penulis dapatkan menghasilkan CI. RI, dan CR sebagai berikut: Tabel 6. Konsistensi Matriks Perbandingan Berpasangan Konsistensi Nilai Consistency Index (CI) 0,092 Random Index (RI) 1,24 Consistency Ratio (CR) 0,074 Tabulasi Konsistensi Matriks Perbandingan Berpasangan Sumber: Diolah Peneliti . Dalam evaluasi matriks perbandingan berpasangan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP), penting untuk memastikan bahwa pengambilan keputusan didasarkan pada perbandingan yang konsisten. Untuk itu, matriks tersebut diuji dengan menghitung Consistency Index (CI). Random Index (RI), dan Consistency Ratio (CR). CI yang dihitung sebesar 0,092 menunjukkan seberapa jauh konsistensi perbandingan berpasangan dari keacakan sempurna, sementara RI, yang nilainya 1,24, merupakan nilai rata-rata yang diharapkan dari CI jika perbandingan dilakukan secara acak. Nilai CR yang dihasilkan sebesar 0,074 . ihitung dari CI dibagi dengan RI) menunjukkan bahwa matriks perbandingan memiliki tingkat konsistensi yang dapat diterima. CR di bawah 0,1 menandakan bahwa perbandingan dalam matriks memiliki tingkat inkonsistensi yang relatif rendah, sehingga memvalidasi keandalan analisis dan hasil yang dihasilkan dalam konteks studi. Ini memungkinkan kepercayaan yang lebih tinggi terhadap evaluasi model komunikasi dalam kampanye Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Stop PMO yang dijelajahi dalam penelitian ini. Hasil dari konsistensi dalam penggunaan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk evaluasi model komunikasi dalam kampanye Stop PMO menunjukkan keandalan yang signifikan dalam pengambilan keputusan berbasis data. Nilai Consistency Index (CI) sebesar 0,092, yang jauh di bawah ambang batas keacakan yang ditetapkan oleh Random Index (RI) sebesar 1,24, menandakan bahwa perbandingan antar model komunikasi dilakukan dengan tingkat ketelitian yang tinggi dan minim distorsi acak. Lebih lanjut, nilai Consistency Ratio (CR) yang hanya 0,074 menegaskan bahwa matriks perbandingan tidak hanya konsisten, tetapi juga menunjukkan tingkat keandalan yang memadai untuk menghasilkan hasil yang dapat diandalkan. Dengan demikian, penilaian ini menyediakan dasar yang kuat bagi implementasi strategis dari model komunikasi yang efektif, memberikan panduan yang tepat untuk intervensi dalam konteks PMO di lingkungan akademik, serta memungkinkan pemetaan prioritas yang akurat dan berbasis bukti dalam penyebaran kebijakan dan praktik komunikatif di masa depan. Adapun hasil normalisasi vector eigen dapat dilihat sebagaimana tabulasi berikut: Tabel 7. Normalisasi Vektor Eigen Kriteria Vektor Eigen Nilai Interpersonal Communication Model 1,214 0,188 Digital Campaign Model 1,168 0,181 Interpersonal Psychotherapy Model 1,392 0,215 Islamic Lecture-based Instructional Model 0,804 0,124 Problem-based Learning 0,851 0,132 Collaborative Group Discussion 1,034 0,16 Tabulasi Normalisasi Vektor Eigen Sumber: Diolah Peneliti . Tabel hasil yang disajikan mencerminkan evaluasi dan peringkat efektivitas berbagai model komunikasi yang digunakan dalam kampanye Stop PMO, menggunakan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP). Nilai dalam tabel diwakili oleh Vektor Eigen dan nilai akhir yang dihitung, di mana nilai akhir telah dinormalisasi untuk memberikan persentase relatif yang menggambarkan kontribusi Achyar Zein | Evaluasi Model Komunikasi Islam dalam Upaya Stop PMO tiap model terhadap keseluruhan efektivitas kampanye. Dalam Psychotherapy Model (IPM) Interpersonal 21,5%, mengindikasikan bahwa model ini paling efektif dalam mengurangi perilaku PMO di antara model yang dinilai. Ini diikuti oleh Interpersonal Communication Model (ICM) dengan 18,8% dan Digital Campaign Model (DCM) dengan 18,1%, keduanya menunjukkan pengaruh yang signifikan. Collaborative Group Discussion (CGD) memiliki efektivitas sebesar 16%, sedangkan Problem-based Learning (PBL) menunjukkan kontribusi sebesar 13,2%. Islamic Lecture-based Instructional Model (ILIM), dengan 12,4%, dinilai sebagai model yang paling kurang efektif dalam studi Dengan demikian, tabel Normalisasi Vektor Eigen di atas mengungkapkan peran krusial dari berbagai model komunikasi dalam mengurangi perilaku Pornografi. Masturbasi, dan Orgasme (PMO) melalui pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP). Dari analisis. Interpersonal Psychotherapy Model (IPM) menonjol sebagai metode paling efektif, dengan skor prioritas tertinggi, yang menunjukkan kekuatannya dalam menangani isu-isu psikologis yang berkontribusi pada perilaku PMO. Disusul oleh Interpersonal Communication Model (ICM) dan Digital Campaign Model (DCM), kedua model ini juga menunjukkan efektivitas yang signifikan, menyoroti pentingnya interaksi langsung dan penggunaan media digital untuk penyadaran dan pencegahan. Model Collaborative Group Discussion (CGD) dan Problem-based Learning (PBL) juga memberikan kontribusi penting, walaupun dengan skor yang lebih rendah, menegaskan bahwa pendekatan kolaboratif dan pembelajaran berbasis masalah efektif dalam meningkatkan kesadaran dan kapasitas adaptasi di kalangan mahasiswa. Sementara itu. Islamic Lecture-based Instructional Model (ILIM) terlihat sebagai metode yang paling kurang efektif dalam konteks ini, mungkin karena pendekatan yang lebih tradisional dan kurang interaktif dalam menghadapi isu yang sensitif dan kompleks seperti PMO. Hasil ini tidak hanya memperkuat kebutuhan akan strategi intervensi yang multidimensi, tetapi juga memberikan wawasan penting untuk alokasi sumber daya dan pengembangan program edukatif yang lebih terfokus dan berdampak dalam upaya mengurangi perilaku PMO di lingkungan universitas. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan PMO: Model Komunikasi vs Distraksi Sosial Penelitian ini mengeksplorasi dua pendekatan berbeda dalam menghadapi tantangan Pornografi. Masturbasi, dan Orgasme (PMO) di lingkungan akademis: penerapan teknik komunikasi yang berbasis nilai Islam dan strategi distraksi sosial. Pendekatan ini dicermati dalam konteks efektivitasnya dalam mengurangi perilaku PMO, dengan menyoroti bagaimana kedua metode tersebut mempengaruhi sikap dan perilaku mahasiswa. Analisis ini bertujuan untuk membedakan efek intervensi langsung melalui komunikasi edukatif yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam dengan metode alternatif yang mengalihkan perhatian mahasiswa ke aktivitas sosial yang lebih positif dan membangun. Dengan membandingkan kedua pendekatan ini, studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi mana yang lebih efektif dalam konteks universitas yang berorientasi pada nilai-nilai Islam. Penelitian ini penting karena memberikan wawasan mengenai bagaimana variabel komunikasi yang berbasis nilai dan interaksi sosial yang sehat dapat diintegrasikan atau diadaptasi untuk menciptakan lingkungan akademis yang Penelitian ini juga akan mengukur pengaruh kedua strategi tersebut terhadap pengurangan insiden PMO, memberikan rekomendasi berbasis bukti untuk implementasi strategi pencegahan yang lebih holistik di masa depan. Dalam konteks ini, terdapat beberapa isu yang relevan mengenai fenomena PMO pada dewasa ini, sebagaimana berikut: Tabel 8. Fenomena PMO Kontemporer Isu Kecanduan Deskripsi Banyak konsumsi materi pornografi, yang dapat berkembang menjadi kecanduan. Dampak pada Penggunaan berlebihan pornografi dapat mempengaruhi hubungan pribadi, menurunkan keintiman dan kepuasan dalam hubungan romantis. Masalah kesehatan PMO berlebihan dikaitkan dengan masalah kesehatan mental seperti depresi, ansietas, dan rendahnya harga diri. Distorisasi ekspektasi Paparan pornografi yang sering dapat menciptakan ekspektasi yang tidak realistis tentang seks, yang dapat Achyar Zein | Evaluasi Model Komunikasi Islam dalam Upaya Stop PMO mempengaruhi perilaku seksual. Masalah Kecanduan menyebabkan penurunan kinerja. Aksesibilitas dan Aksesibilitas materi pornografi yang luas dan sering kali tidak teratur di internet menimbulkan tantangan dalam pengaturan dan pemantauan. Tabulasi Fenomena PMO Sumber: Wawancara dan Observasi Peneliti . Isu kecanduan pornografi mewakili tantangan sosial yang signifikan, di mana individu menghadapi kesulitan mengontrol konsumsi materi pornografi, yang dapat berkembang menjadi kecanduan. Model komunikasi Islam, seperti Interpersonal Communication Model, dapat diterapkan untuk mengatasi isu ini melalui dialog yang mendalam dan pembinaan secara personal, memungkinkan individu mendapatkan dukungan emosional dan spiritual yang diperlukan untuk mengatasi kecanduan (Ergyn, 2023. Healy-Cullen et al. , 2. Dampak pornografi terhadap hubungan interpersonal sering kali menurunkan keintiman dan kepuasan dalam hubungan romantis (Healy-Cullen et al. , 2024. Sarfi Agustina Tri Astuti & Yuliani Winarti, 2. Digital Campaign Model, dengan pemanfaatan platform digital dan media sosial, bisa efektif dalam menyebarkan kesadaran dan pendidikan tentang bagaimana pornografi dapat merusak hubungan interpersonal, serta mempromosikan nilai-nilai kebersamaan dan kesetiaan yang diajarkan dalam Islam (Goldstein, 2020. Meilani et al. , 2. Masalah kesehatan mental, seperti depresi, ansietas, dan rendahnya harga diri, sering kali dikaitkan dengan PMO berlebihan. Interpersonal Psychotherapy Model, dalam konteks komunikasi Islam, dapat memberikan pendekatan terapeutik yang memadukan prinsip-prinsip psikoterapi dengan nilai-nilai spiritual Islam, membantu individu mengatasi masalah kesehatan mental yang berakar dari kebiasaan PMO (Aulia, 2023. Meirison et al. , 2. Distorisasi ekspektasi seksual yang ditimbulkan oleh paparan pornografi yang sering dapat menciptakan ekspektasi yang tidak realistis tentang seks (Mennig et al. Peterson et al. , 2. Islamic Lecture-based Instructional Model bisa digunakan untuk memberikan pemahaman yang benar dan sehat tentang seksualitas dalam Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Islam, mengoreksi distorsi yang disebabkan oleh pornografi melalui pendidikan yang berbasis pada ajaran Islam. Kecanduan atau penggunaan pornografi berlebihan dapat mengganggu produktivitas kerja atau akademis (Hanseder & Dantas, 2023. Privara & Bob, 2. Problem-based Learning, yang merupakan salah satu model komunikasi Islam, bisa mengajak peserta didik untuk menganalisis dan menemukan solusi terhadap masalah produktivitas yang ditimbulkan oleh PMO, dengan cara yang sistematis dan berorientasi pada hasil. Aksesibilitas materi pornografi yang luas dan sering kali tidak teratur di internet menimbulkan tantangan besar dalam pengaturan dan pemantauan (Jahnen et al. , 2022. Tan et al. , 2. Model Collaborative Group Discussion dapat diimplementasikan dalam komunitas Muslim untuk membahas dan merumuskan strategi yang efektif dalam mengatur dan memantau akses ke materi pornografi, dengan cara yang kolaboratif dan berbasis konsensus. Pada nilai-nilai Islam memungkinkan diskusi yang lebih mendalam tentang dampak moral dan etika dari PMO. Melalui Interpersonal Communication Model, misalnya, dialog bisa secara spesifik menargetkan penyembuhan dari dampak emosional dan spiritual, sementara Digital Campaign Model efektif dalam menyebarkan pesan yang menjangkau audiens yang lebih luas (Capityo et al. , 2. Interpersonal Psychotherapy Model menekankan pentingnya dukungan terapis yang memahami latar belakang keagamaan pasien, menawarkan ruang aman bagi individu untuk menyatakan kekhawatiran mereka dan mencari bimbingan spiritual (Hale & Aarts, 2023. van Bentum et al. , 2. Sementara itu. Islamic Lecture-based Instructional Model memfokuskan pada edukasi formal di lingkungan akademik atau komunitas, memperkuat pemahaman yang benar tentang ajaran Islam terkait perilaku seksual (Salari et al. , 2. Problem-based Learning mendorong partisipasi aktif dalam mengatasi tantangan yang disebabkan oleh PMO, mengajak individu untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan nyata (Bains & Kaliski, 2020. Hertlein et al. , 2. Collaborative Group Discussion menguatkan komunitas untuk bekerja sama dalam mengidentifikasi dan mengimplementasikan solusi praktis, meningkatkan kesadaran kolektif dan tindakan komunal terhadap isu PMO (Kager et al. , 2. Dengan mengintegrasikan model-model komunikasi Islam ini, tidak hanya tercipta pendekatan yang komprehensif terhadap masalah PMO, tetapi juga Achyar Zein | Evaluasi Model Komunikasi Islam dalam Upaya Stop PMO mengembangkan fondasi yang kuat untuk pencegahan dan edukasi yang berkelanjutan dalam komunitas Muslim. Melalui sinergi berbagai model ini, komunitas dapat lebih efektif dalam mengatasi masalah PMO dengan cara yang holistik dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. 3 Pembahasan Dalam evaluasi model komunikasi Islam untuk mengatasi perilaku Pornografi. Masturbasi, dan Orgasme (PMO) di kalangan mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, pendekatan teori komunikasi Islam menjadi Teori ini mengutamakan prinsip-prinsip dasar komunikasi yang berakar pada nilai-nilai Islam, seperti kejujuran, kejelasan, dan empati, yang esensial dalam penyampaian pesan yang bertujuan mengubah perilaku (Hastasari et al. , 2. Penerapan Interpersonal Communication Model (ICM) dianggap efektif dalam konteks ini karena membina hubungan langsung dan mendalam antara komunikator dan komunikan. Pendekatan ini memungkinkan penyampaian pesan secara personal dan lebih terasa, memfasilitasi dialog yang mendalam tentang dampak negatif PMO dan pentingnya menjaga kesucian diri sesuai dengan ajaran Islam. Digital Campaign Model (DCM) menawarkan platform alternatif melalui media digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dalam konteks PMO, kampanye digital dapat efektif menyebarkan informasi dan membentuk kesadaran tentang bahaya PMO serta mengajak audiens untuk berpartisipasi dalam diskusi online, webinar, dan kegiatan interaktif lain yang mendukung upaya penghentian PMO. Model Interpersonal Psychotherapy dalam komunikasi Islam juga mendukung pendekatan yang lebih personal, di mana terapis atau konselor yang memahami latar belakang keagamaan pasien dapat memberikan dukungan emosional dan spiritual. Model ini membantu individu mengatasi masalah kesehatan mental yang mungkin mendasari atau dipicu oleh PMO, dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Islamic Lecture-based Instructional Model langsung yang berfokus pada ajaran-ajaran Islam tentang seksualitas dan moralitas. Melalui ceramah dan sesi pembelajaran, model ini menanamkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana Islam memandang kegiatan seksual dan perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Problem-based Learning penyelesaian masalah secara praktis, di mana mahasiswa dihadapkan pada kasus- Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan kasus nyata terkait PMO dan diarahkan untuk mencari solusi yang efektif. Metode ini tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka tentang isu tersebut, tetapi juga mengembangkan kemampuan analitis dan kritis dalam konteks yang realistis. Collaborative Group Discussion memungkinkan mahasiswa untuk berkolaborasi dan berdiskusi tentang PMO dalam setting yang mendukung dan berorientasi pada Diskusi kelompok ini memfasilitasi pertukaran ide dan strategi untuk mengatasi PMO, seraya menggali lebih dalam nilai-nilai dan etika dalam Islam yang mendukung kehidupan bebas dari perilaku merugikan ini. Teori Diffusion of Innovation juga relevan dalam konteks ini, di mana upaya menghentikan PMO dapat dilihat sebagai proses adopsi inovasi perilaku (Qiu & Chreim, 2022. Rogers, 1. Melalui model komunikasi Islam yang berbeda, mahasiswa diharapkan tidak hanya menerima informasi tetapi juga menginternalisasi dan mengadopsi perilaku baru yang lebih sehat dan sesuai dengan ajaran Islam. Penerapan gabungan dari model-model komunikasi ini membentuk strategi yang robust untuk mengurangi dan akhirnya menghentikan perilaku PMO di kalangan Dengan memfokuskan pada prinsip dan praktik dalam Islam, upaya ini tidak hanya berusaha mengubah perilaku tetapi juga meningkatkan kesadaran spiritual dan kesejahteraan emosional mahasiswa. Maka dari itu, evaluasi mendalam terhadap penerapan model komunikasi Islam di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara menunjukkan efektivitas strategi yang beragam dalam menghadapi perilaku Pornografi. Masturbasi, dan Orgasme (PMO) di kalangan mahasiswanya. Model Interpersonal Communication (ICM) efektif dalam memperkuat relasi dan dialog empati antara komunikator dan komunikan untuk mengubah persepsi tentang PMO. Digital Campaign Model (DCM) memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan konten edukatif secara luas melalui webinar dan diskusi online. Interpersonal Psychotherapy Model memberikan dukungan emosional dan spiritual secara personal, sementara Islamic Lecture-based Instructional Model dan Problem-based Learning mengintensifkan pemahaman dan analisis kritis melalui pengajaran dan penyelesaian masalah praktis. Collaborative Group Discussion mendukung pembelajaran kolaboratif dan pembentukan konsensus, sementara penerapan Teori Diffusion of Innovation menunjukkan bahwa menghentikan PMO memerlukan adopsi perilaku baru yang sehat dan etis. Pendekatan gabungan ini tidak hanya informatif tapi juga transformasional, meningkatkan kesadaran spiritual dan emosional serta memperkuat nilai-nilai Islam dalam mengatasi PMO. Achyar Zein | Evaluasi Model Komunikasi Islam dalam Upaya Stop PMO Novelty dari penelitian ini adalah pengintegrasian teori Diffusion of Innovation dengan model komunikasi Islam untuk mengevaluasi dan memahami persepsi serta adopsi perilaku anti PMO di kalangan mahasiswa. Penelitian ini unik karena mengkombinasikan pendekatan komunikasi yang berakar pada nilai-nilai Islam dengan kerangka kerja Teori Diffusion of Innovation untuk mengidentifikasi faktorfaktor yang mempengaruhi penerimaan dan penyebaran praktik baik dalam konteks Ini menyediakan wawasan baru mengenai cara efektif menyampaikan dan mengimplementasikan program pencegahan PMO yang tidak hanya memperhatikan aspek kesehatan dan psikologis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual dan etika dalam proses perubahan perilaku di lingkungan universitas Islam. SIMPULAN Penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa model komunikasi Islam memiliki potensi signifikan dalam mengurangi perilaku Pornografi. Masturbasi, dan Orgasme (PMO) di kalangan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Melalui penerapan berbagai model, seperti Interpersonal Communication Model. Digital Campaign Model, dan Islamic Lecture-based Instructional Model, yang dikombinasikan dengan teori Difusi Inovasi, strategi ini tidak hanya mendidik tetapi juga memotivasi mahasiswa untuk mengadopsi perilaku yang lebih sehat. Keterlibatan komunikasi yang efektif, yang berakar pada nilai-nilai Islam, menunjukkan keberhasilan dalam tidak hanya menyebarluaskan informasi tentang bahaya PMO, tetapi juga dalam mendukung mahasiswa secara emosional dan spiritual, mendorong mereka untuk membuat pilihan yang lebih sehat dan beretika. Kesimpulannya, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik dan inklusif dalam mengatasi isu PMO di lingkungan akademik, dengan memanfaatkan kekuatan komunikasi berbasis nilai dan pendidikan karakter melalui model komunikasi Islam. Hasil ini juga menunjukkan bahwa integrasi antara prinsip komunikasi Islam dan metodologi modern seperti Difusi Inovasi dapat menghasilkan strategi intervensi yang efektif, yang tidak hanya mengubah perilaku, tetapi juga memperkuat identitas religius dan pribadi mahasiswa. Dengan demikian, universitas harus menerapkan dan mungkin memperluas penggunaan model-model komunikasi ini untuk mendukung lebih banyak mahasiswa dalam menghadapi tantangan PMO serta mempromosikan pengembangan pribadi dan akademis yang holistik. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan REFERENSI