ANALISIS PEMODELAN BENTUK GEDUNG T DAN L (Rizwan Ae Her. ANALISIS PEMODELAN BENTUK GEDUNG T DAN L DENGAN INERSIA YANG SAMA TERHADAP RESPONS SPEKTRUM Rizwan Komarudin Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta Email : rizwankomarudin@gmail. Heri Khoeri Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta Email : hkhoeri@hesa. Abstrak: Indonesia adalah Negara dengan tingkat kegempaan yang sangat tinggi karena diapit oleh lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, hal ini menyebabkan tantangan sendiri bagi para ahli struktur dalam merancang suatu bangunan gedung yang tahan terhadap gempa. Pada proses perancangan beban gempa dapat dilakukan dengan berbagai analisis mulai dari statik ekivalen dan analisis dinamik respon spektrum. Tulisan ini bertujuan untuk meninjau struktur gedung menggunakan analisis dinamik respon spektrum struktur yang mengacu pada SNI 03-1726-2012. Pembebanan yang di input yaitu beban mati, beban hidup dan beban gempa. Bangunan gedung yang ditinjau dalam tulisan ini yaitu gedung bentuk gedung L dan T dengan inersia yang sama terhadap sumbu arah x. Masing-masing struktur berlantai 3 dengan menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Kedua bentuk gedung tersebut akan dianalisis menggunakan respon spektra desain kota Jakarta Pusat dan diasumsikan sebagai tanah lunak. Untuk mempercepat proses perhitungan analisis ini menggunakan bantuan software Etabs versi 9. Analisis respon struktur yang ditinjau adalah waktu getar, perpindahan . , rasio simpangan antar lantai . tory drif. , momen lentur . ending mome. balok dan kolom serta torsi (Torsio. dari kedua bangunan gedung bentuk L dan T. Dari hasil analisis kedua bentuk gedung didapatkan data data sebagai berikut, gedung bentuk L mempunyai waktu getar lebih kecil daripada gedung bentuk T, perpindahan . gedung bentuk T lebih kecil daripada gedung bentuk L, simpangan antar lantai . tory drif. gedung bentuk T lebih kecil dari pada gedung bentuk L, momen bentuk gedung T, momen maksimum gedung bentuk L lebih kecil daripada gedung bentuk T, serta torsi rata rata gedung bentuk T lebih kecil daripada gedung bentuk L Kata kunci: respon spektrum. SNI 03-1726-2012, analisis dinamik respon spektrum Abstract: Indonesia is a country with a very high level of seismicity which is flanked by the Indo-Australian plate and the Eurasian plate, causing its own challenges for experts in designing the structure of a building resistant to earthquakes. In the design process the seismic load can be done with a variety of analysis ranging from the equivalent static and dynamic analysis of the response spectrum. This paper aims to review the structure of the building using the response spectrum dynamic analysis of structures that refer to SNI 031726-2012. Loads at the input is dead loads, live loads and seismic loads. Shapes of buildings reviewed in this paper namely of buildings L shape and T shape with the same inertia about the axis x direction. Each of these structures by using a 3-story with Special Moment (SRPMK). Both forms of the building will be analyzed using the design response spectra Center Jakarta and assumed to be the soft ground. To speed up the calculation process analysis using statistical software ETABS version 9. Analyzing the response of structures to be reviewed is the time history, displacement, story drift, bending moment and Torsion. Data of building obtained the following data, building L-shape having a time history smaller than building a T shape, displacement building of T shape smaller than building of L shape, story drift building of T shape is smaller 65 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 9 Nomer 2 | Juli 2018 than the building L shape, moments maximum L shape is smaller than T shape and torque L-shape building is smaller than building a T shape. Keywords: spectral response. SNI 03-1726-2012, dynamic response spectrum analysis Pendahuluan Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat pergerakan antar lempeng-lempeng di lapisan bumi, letusan gunung berapi dan ledakan yang dibuat oleh manusia. Dalam hubungannya dengan analisis struktur, maka yang umum ditinjau adalah gempa yang terjadi akibat pergeseran antar lempeng-lempeng mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa ini dikenal dengan istilah gempa tektonik. Dilihat dari banyaknya kerusakan dan kegagalan bangunan yang disebabkan bencana gempa bumi bahkan hingga menimbulkan korban jiwa, maka analisis bangunan dengan struktur tahan gempa sangat diperlukan dengan tujuan mengetahui resiko yang terjadi terhadap bangunan Gedung. Pada gempa kecil yang sering terjadi, maka struktur utama bangunan harus tidak rusak dan berfungsi dengan baik. Kerusakan kecil yang masih dapat ditoleransi pada elemen non-struktur masih diperbolehkan. Pada gempa menengah yang relatif jarang terjadi, maka struktur utama bangunan boleh rusak/retak ringan tetapi masih dapat/ekonomis untuk diperbaiki. Elemen non-struktur dapat saja rusak tetapi masih dapat diganti dengan yang baru. Pada gempa kuat . trong earthquak. yang jarang terjadi, maka struktur bangunan boleh rusak tetapi tidak boleh runtuh total . otally collaps. Kondisi seperti ini juga diharapkan pada gempa besar . reat earthquak. , yang tujuannya adalah melindungi manusia/penghuni bangunan secara maksimum. Gambar 1. Diagram Fishbone dan kondisi gempa pada struktur gedung 66 | K o n s t r u k s i a ANALISIS PEMODELAN BENTUK GEDUNG T DAN L (Rizwan Ae Her. Batasan Masalah Perbandingan respons spektrum kedua gedung tersebut dengan Inersia yang sama terhadap sumbu arah x Mutu beton yang digunakan adalah fAoc 25 MPa dengan mutu baja tulangan utama fy = 410 MPa, tulangan sengkang fys = 240 MPa dan E = 200000 MPa Dimensi kolom ukuran 500mm x 500mm dan dimensi balok 300mm x Data tanah yang digunakan yaitu tanah lunak di wilayah DKI Jakarta Perhitungan analisis struktur tidak menghitung detail tulangan. Untuk beban gempa menggunakan analisis dinamik berdasarkan peraturan gempa SNI 1726 : 2012. bentuk, ukuran, macam dan penempatan struktur utama bangunan, serta macam dan nonstructural element, (Arnold dan Reitherman, 1. Gambar a adalah konfigurasi bangunan yang menyangkut bentuk, ukuran dan proporsi bangunan. Gambar b adalah konfigurasi bangunan yang berhubungan dengan jenis, kombinasi, letak dan orientasi struktur utama bangunan. Selanjutnya Gambar c adalah konfigurasi bangunan yang berhubungan dengan letak orientasi elemen non-struktur. Konfigurasi bangunan dapat dilihat pada Gambar di bawah ini Maksud Dan Tujuan Memberikan gambaran umum tentang kedua gedung tersebut dilihat dari perpindahan . , simpangan antar lantai . tory drif. , waktu getar alami gedung . ime histor. , torsi . , dan momen . ending mome. Hipotesa Waktu getar gedung bentuk L lebih kecil daripada gedung bentuk T Displacement gedung bentuk T lebih kecil daripada gedung bentuk L Simpangan antar lantai gedung bentuk T lebih kecil daripada gendung bentuk L Gedung bentuk L mempunyai momen lentur lebih besar daripada gedung Torsi gedung bentuk T lebih kecil daripada gedung bentuk L Landasan Teori Konfigurasi bangunan pada hakekatnya adalah sesuatu yang berhubungan dengan Gambar 2. Konfigurasi Bangunan Konfigurasi struktur sangat berpengaruh dalam menentukan suatu perencanaan. Konfigurasi struktur tersebut adalah struktur bangunan beraturan atau tidak Struktur bangunan gedung beraturan dan tidak beraturan berdasarkan SNI 1726:2012. Klasifikasi tersebut didasarkan pada konfigurasi horizontal dan vertikal dari struktur bangunan gedung. Pada struktur bangunan beraturan, pengaruh gempa rencana dapat ditinjau sebagai pengaruh beban gempa yang berperilaku statik, yaitu suatu representasi dari beban gempa setelah disederhanakan dan dimodifikasi. Sedangkan pada bangunan tidak beraturan harus ditinjau sebagai pengaruh beban dinamik. Beban gempa ekivalen statik merupakan penyederhanaan dari beban gempa dinamik, yaitu berupa 67 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 9 Nomer 2 | Juli 2018 gaya horizontal F yang bekerja pada pusat massa bangunan dan bersifat statik. Perhitungan dalam metode ini hanya memperhatikan kontribusi dari mode ke-1 saja, sehingga hanya cocok untuk bangunan Sebagai konsekuensinya, semakin tinggi bangunan akan semakin fleksibel dan kontribusi higher mode menjadi lebih besar, sehingga perancangan bangunan harus didasarkan pada analisis dinamik. (Widodo, 2. Perioda fundamental struktur (T) / Waktu Getar. Perioda fundamental struktur (T), tidak boleh melebihi hasil koefisien untuk batasan atas pada perioda yang dihitung (C. dan perioda fundamental pendekatan, dan perioda fundamental struktur memiliki batasan minimum dan maksimum, dan besarnya nilai tersebut adalah: Ta min =Crhn x Ta max =Cu Ta min Keterangan: Ta min = Nilai batas bawah perioda Ta max = Nilai batas atas perioda bangunan = dapat dilihat pada tabel = dapat dilihat pada tabel = dapat dilihat pada tabel = Ketinggian struktur Tabel 1. Respons spektral 68 | K o n s t r u k s i a Tabel 2. Koefisien tipe struktur Simpangan . adalah perpindahan lateral relatif antara dua tingkat bangunan yang berdekatan atau simpangan mendatar tiap tiap tingkat bangunan . orizontal story to story deflectio. Penentuan simpangan antar lantai tingkat desain . harus dihitung sebagai perbedaan defleksi pada pusat massa di tingkat teratas dan terbawah yang ditinjau. Bagi struktur yang dirancang untuk kategori desain seismik C,D. E atau F yang memiliki ketidakberaturan horizontal Tipe 1a atau 1b, simpangan antar lantai desain, i, harus dihitung sebagai selisih terbesar dari defleksi titik-titik di atas dan di bawah tingkat yang diperhatikan yang letaknya segaris secara vertikal, di sepanjang salah satu bagian tepi struktur. Defleksi pusat massa di tingkat x . uycu ) . harus ditentukan sesuai dengan persamaan Cd xe x = Keterangan: = Faktor amplifikasi defleksi xe = Defleksi yang ditentukan oleh analisis elastis = Faktor keutamaan gempa Simpangan antar lantai tingkat desain tidak boleh melebihi simpangan antar lantai tingkat izin, seperti diperlihatkan dalam Tabel di bawah ini. ANALISIS PEMODELAN BENTUK GEDUNG T DAN L (Rizwan Ae Her. Tabel 3. Batas simpangan antar lantai Torsi merupakan puntiran yang terjadi pada penampang tegak lurus terhadap sumbu utama dari elemen. Beban lateral dapat mengakibatkan torsi pada bangunan ketika beban lateral tersebut cenderung memutar bangunan tersebut dengan arah vertikal. Hal ini terjadi ketika pusat beban tidak tepat dengan pusat kekakuan elemen vertikal beban lateral Ae sistem ketahanan struktur Eksentrisitas diantara pusat kekakuan dan massa bangunan dapat menyebabkan gerakan torsi selama terjadinya gempa. Torsi ini dapat meningkatkan displacement pada titik ekstrim bangunan dan menimbulkan masalah pada elemen penahan lateral yang berlokasi pada tepi gedung. Berdasarkan SNI 1726:2012 terdapat dua jenis torsi yang terjadi, yaitu: Gambar 3. Faktor pembesaran torsi (A. Metodologi Gambar 4. Flow chart A AuStartAy Mulai A AuData primerAy dan AuData sekunderAy, data primer yaitu pemodelan desain struktur menurut penulis dan data sekunder adalah jurnal jurnal yang dijadikan referensi dalam pembuatan tugas akhir A AuInersia sama?Ay yaitu pengolahan data pemodelan bentuk gedung T dan L terhadap Momen Inersia, sedemikian rupa diolah sampai menemukan perhitungan Inersia yang sama. A AuBentuk TAy & AuBentuk LAy Bentuk T adalah pemodelan tampak atas dari gedung . erlihat seperti huruf T) dan Bentuk L adalah pemodelan tampak atas . erlihat seperti huruf L) 69 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 9 Nomer 2 | Juli 2018 A AuPendimensianAy adalah data data asumsi awal terhadap dimensi Kolom. Balok dan Pelat Lantai berdasarkan SNI 2847:2013 A AuPembebananAy adalah proses input beban beban berdasarkan peraturan, untuk beban mati mengacu pURG 1987, untuk beban hidup mengacu pada AuSNI 1727:2013 Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur Lain Au dan untuk beban gempa mengacu pada SNI 1726:2012 AuTata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung & Non GedungAy kemudian beban beban yang didapat dari hasil perhitungan di input ke software Etabs 9. A AuAnalisisAy yaitu analisa perhitungan terhadap displacement (D), simpangan antar lantai . , waktu getar gedung (T). Torsi (A. Momen lentur (M) A AuPerbandingan bentuk gedung T dan LAy yaitu perbandingan hasil AuAnalisisAy dari kedua bentuk gedung tersebut A AuKesimpulanAy adalah simpulan dari perbandingan bentuk gedung T dan L, dalam hal ini akan memberikan gambaran terhadap kondisi gedung berdasarkan data hasil analisis kedua gedung tersebut A AuSelesaiAy A Dimensi kolom A Dimensi balok : 500 x 500 mm : 300 x 500 mm Pengecekan Inersia gedung bentuk L. Gambar 5. Gedung bentuk L Tabel 4. Inersia gedung bentuk L Pengecekan Inersia gedung bentuk T. Gambar 6. Gedung bentuk T Tabel 5. Inersia gedung bentuk L Hasil Dan Analisa Berikut adalah data-data dari bangunan yang dianalisis A Jenis bangunan : Gedung perkantoran A Denah gedung : 20 x 15 m2 A Tinggi lantai 1 : 3,5 m A Tinggi lantai 2-3 :3m A Jenis struktur : Beton A Jenis tanah : Tanah lunak A Mutu beton : fcAo 25 MPa A Mutu tulangan : fy 410 MPa A Sistem rangka : SRPMK 70 | K o n s t r u k s i a Berdasarkan hasil pengecekan bentuk gedung L dan T terhadap koordinat sumbu x didapatkan Inersia yang sama sebesar 2500 Waktu Getar Gedung bentuk L Mode 1 (Tc . = 0,4679 detik (Arah Y) Mode 2 (Tc . = 0,4577 detik (Arah X) ANALISIS PEMODELAN BENTUK GEDUNG T DAN L (Rizwan Ae Her. Perioda fundamental pendekatan (T. dapat digunakan untuk menentukan fundamental alami (T), adalah sebagai berikut: Ta min = 0,0466 x . 0,9 = 0,353 detik Ta max = 1,4 x 0. 3534 = 0,495 detik Sehingga perioda fundamental alami struktur untuk masing-masing arah adalah: Tcy = 0,4679 detik (Arah Y) Tcx = 0,4577 detik (Arah X) Gedung bentuk T Mode 1 (Tc. = 0,4670 (Arah Y) Mode 2 (Tc. = 0,4582 (Arah X) Perioda fundamental pendekatan (T. dapat digunakan untuk menentukan fundamental alami (T), adalah sebagai berikut: Ta min = 0,0466 x . 0,9 = 0,353 detik Ta max = 1,4 x 0. 3534 = 0,495 detik Sehingga perioda fundamental alami struktur untuk masing-masing arah adalah: Tcy = 0,4670 (Arah Y) Tcx = 0,4582 (Arah X) Gedung Bentuk T Tabel 8. Simpangan gedung bentuk T Arah x Tabel 9. Simpangan gedung bentuk T Arah y Displacement Tabel 10. Displacement gedung bentuk L Simpangan Antar Lantai Gedung Bentuk L Tabel 6. Simpangan gedung bentuk L Arah x Tabel 7. Simpangan gedung bentuk L arah y 71 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 9 Nomer 2 | Juli 2018 Tabel 11. Displacement gedung bentuk T Torsi Gedung bentuk L Tabel 12. Torsi gedung bentuk L arah x Tabel 13. Torsi gedung bentuk L Arah y Gedung bentuk T Pemodelan Gedung Tabel 14. Torsi gedung bentuk T Arah x Tabel 15. Torsi gedung bentuk T Arah x Momen Gambar 7. Gedung bentuk L Tabel 16. Gedung Bentuk L Tabel 17. Gedung Bentuk T Gambar 8. Gedung bentuk T 72 | K o n s t r u k s i a ANALISIS PEMODELAN BENTUK GEDUNG T DAN L (Rizwan Ae Her. Detail Momen Tabel 19. Momen untuk gedung T Gedung bentuk L Kesimpulan Tabel 20. Rekapitulasi Gambar 9. Gedung bentuk L Tabel 18. Momen untuk gedung L Gedung bentuk T Gambar 10. Gedung bentuk T Gedung bentuk L mempunyai waktu getar lebih kecil daripada bentuk T Gedung displacement lebih kecil daripada gedung bentuk L Gedung simpangan antar lantai lebih kecil daripada bentuk gedung L Gedung bentuk L mempunyai momen maksimum lebih kecil daripada gedung Gedung bentuk L mempunyai Torsi lebih besar daripada gedung bentuk gedung T, dan pengaruh torsi kedua bentuk gedung diabaikan. Daftar Pustaka