OPEN ACCESS Indonesian Journal of Spatial Planning P-ISSN: and E-ISSN: 2723-0619 http://journals. id/index. php/ijsp Vol 6. No 1, tahun 2025, pp 31-39 KAJIAN KARAKTERISTIK PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) PADA KORIDOR JALAN MT. HARYONO KOTA SEMARANG aMuhammad Wildan Aldida, bWahjoerini aUniversitas Semarang. Jl. Soekarno Hatta. aldidawildan78@gmail. bUniversitas Semarang. Jl. Soekarno Hatta. wahjoerini@usm. Info Artikel: a Artikel Masuk: 2024-10-08 a Artikel diterima: 2025-03-02 a Tersedia Online: 2025-06-04 ABSTRAK Kemudahan aksesbilitas pada Koridor Jalan MT. Haryono Semarang menjadikan munculnya aktivitas fungsi baru di sepanjang koridor jalan seperti pola persebaran pedagang kaki lima yang menjadikan jalur pedestrian sebagai lokasi dagang mereka, parkir dibahu jalan meliputi aktivitas bongkar muat barang oleh pelaku usaha, serta pola sirkulasi kendaraan yang tidak teratur yang sering digunakan oleh kendaraan untuk melawan arus dan banyaknya kendaraan yang menyebrang tanpa memperhatikan rambu-rambu lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipologi PKL beberapa kategori meliputi tipologi pedagang yang berjualan di trotoar, tipologi pedagang yang berjualan di bahu jalan dan tipologi pedagang yang berjualan berpindah-pindah kemudian menganalisis karakteristik PKL. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu diskriptif kualitatif dengan pengamatan langsung dilapangan didukung kajian literatur dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik Pedagang Kaki Lima di koridor jalan MT. Haryono dari persimpangan Pasar Kambing persimpangan Sompok Kota Semarang dipengaruhi oleh lokasinya yang strategis, waktu berdagang yang menyesuaikan keramaian lokasi baik pagi, siang hingga malam hari, sarana fisik perdagangan dan jenis dagangannya . idak permanen dan dapat dipindah-pindah dengan menggunakan gerobak, dengan meja dan kursi yang setelah selesai berjualan bisa dibawa pulang kembal. , serta pola penyebaran PKL mengelompok dan linear. Kata Kunci : Pedagang Kaki Lima (PKL), karakteristik pedagang kaki lima ABSTRACT Ease of accessibility on the Road Corridor MT. Haryono Semarang led to the emergence of new functional activities along the road corridor, such as the distribution pattern of street vendors who use the pedestrian path as their trading location, parking on the roadside including loading and unloading activities of goods by business actors, as well as irregular vehicle circulation patterns which are often used by vehicles. to fight the flow and the large number of vehicles crossing without paying attention to traffic signs. This research aims to analyze the typology of street vendors in several categories including the typology of traders who sell on the sidewalk, the typology of traders who sell on the shoulder of the road and the typology of traders who sell on the move and then analyze the characteristics of street vendors. The method used in this research is descriptive qualitative with direct observation in the field supported by literature review and interviews. The results of this research show that the characteristics of street vendors in the road corridor MT. Haryono from the Pasar Kambing intersection - Sompok intersection. Semarang City is influenced by its strategic location, trading times that adjust to the location's crowds both morning, afternoon and evening, physical trading facilities and the type of merchandise . ot permanent and can be moved using carts, with tables and chairs which after finishing selling can be taken home agai. , as well as the distribution pattern of street vendors is grouped and linear. Keyword: Street Vendors (PKL), characteristics of street vendors PENDAHULUAN Perkembangan mengalami perubahan seiring berjalannya waktu, hal ini berkaitan dengan jumlah penduduk penduduk kota. Semakin tinggi laju pertumbuhan penduduk maka semakin tinggi juga kebutuhan masyarakat di kota tersebut yang harus terpenuhi. Dalam (Fitriyani, 2. , struktur usaha informal cenderung tidak jelas dan juga sederhana. Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan pendukung dari sektor informal perkotaan yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, menjadikannya salah satu bentuk sektor informal yang melekat dalam sistem ekonomi Koridor jalan merupakan ujung tombak identitas pengenal dalam sebuah kawasan dikarenakan karakteristik visualnya Aldida. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 1, tahun 2025 yang paling mudah dibaca oleh pengguna jalan. Aspek yang dilihat pengguna tidak hanya dari segi bentuknya saja tetapi dari aktivitas yang dilakukan oleh manusia di dalamnya (Azima. Perkembangan pembangunan Kota Semarang yang semakin pesat ditandai dengan maraknya bangunan perdagangan dan jasa di satu sisi menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi, bukti bahwa sektor riil terus bergerak, tapi pada sisi lain dapat menimbulkan persoalan baru dalam bertambahnya PKL, salah satunya di Koridor Jalan MT. Haryono, keberadaan pasar tradisional. Pusat oleh-oleh dan pusat perbelanjaan lainnya, keberadaan sarana perdagangan yang ada ini mengakibatkan tingginya aktivitas pegerakan di koridor jalan tersebut, seperti parkir yang memakan bahu jalan, karena sebagian besar perdagangan dan jasa yang ada tidak memiliki ruang parkir, transportasi . ngkutan umu. yang menunggu penumpang, menggunakan bahu jalan untuk berjualan, mobilitas pembeli yang berpindah dari satu toko ke toko lain. Perkembangan kegiatan PKL seperti ini jika tidak tertata dengan baik akan menyebabkan penurunan dari kualitas lingkungan kota yang dihasilkan, seperti pengurangan pemanfaatan ruang terbuka hijau, mengganggu sirkulasi pejalan kaki dan dapat Kebanyakan dari PKL ini memilih berjualan di trotoar sebagai lokasi strategis arus pergerakan pengguna jalan, sehingga fungsi utama trotoar untuk jalur pejalan kaki hampir sebagian hilang karena adanya aktivitas PKL ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipologi PKL beberapa kategori meliputi tipologi pedagang yang berjualan di trotoar, tipologi pedagang yang berjualan di bahu jalan dan tipologi pedagang yang berjualan berpindah-pindah kemudian menganalisis karakteristik PKL. Karakteristik dari PKL ini meliputi: aktivitas dari PKL baik berupa lokasi, waktu berdagang, dagangannya, pola penyebaran PKL dan pola pelayanan PKL. DATA DAN METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian Au Kajian Karakteristik Lokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) pada Koridor Jalan MT. Haryono Kota SemarangAy menggunakan metode pendekatan kualitatif suatu pendekatan yang diperoleh dari berbagai Dalam penelitian kualitatif analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain sehingga dapat dengan mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, serta data Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu menggunakan purposive Teknik purposive sampling siapa yang akan diambil sebagai sampel diserahkan pada berdasarkan dengan pertimbangannya sesuai dengan tujuan penelitian. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu itu maksudnya seperti orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa menjelajahi objek/situasi sosial yang diteliti (Sugiyono, 2. Sampel yang akan diambil merupakan pelaku usaha pedagang kaki lima koridor Jalan MT. Haryono Kota Semarang yang berjumlah 30 PKL karena unit sampel yang diambil disesuaikan dengan kriteria karakteristik PKL meliputi waktu, lokasi, jenis dagangan, sarana berdagang, pola pelayanan dan pola HASIL DAN PEMBAHASAN Tipologi Pedagang Kaki Lima di Koridor Jalan MT. Haryono Kota Semarang Setelah melakukan observasi lapangan mengenai karakteristik pedagang kaki lima di koridor jalan MT. Haryono Kota Semarang diperoleh 3 variabel yang dapat dikategorikan sebagai pedoman dalam menganalisis agar terfokus pada konsep dan konsistensi yang memudahkan untuk mengenal bagian-bagian, terbagi menjadi 3 tipologi karakteristik pedagang kaki lima yaitu : Tipologi pedagang yang berjualan di trotoar dan memerlukan ruang kecil hingga sedang, tipologi pedagang yang mempunyai besar Aldida. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 1, tahun 2025 dimensi sarana berdagang seluas 1 Ae 2 Tipologi pedagang yang berjualan di bahu jalan dan memerlukan ruang sedang hingga luas, tipologi pedagang yang mempunyai besar dimensi sarana berdagang seluas 2 Ae 8 meter. Tipologi berpindah-pindah dan memerlukan ruang kecil, tipologi pedagang yang mempunyai besar dimensi sarana berdagang seluas 1 Ae 2 meter. Tabel 1. Kriteria Tipologi Pedagang Kaki Lima di Koridor Jalan MT. Haryono Kota Semarang (Hasil Analisis, 2. Trotoar Bahu Jalan Tidak menggunakan peralatan berdagang rumit untuk berjualan, hanya menggunakan peralatan portabel dan praktis yang dapat dikemas dan pulang setelah jam operasional pedagang Menggunakan berdagang yang lebih banyak tenda meja kursi yang dapat dikemas dan pulang setelah jam operasional Berpindah pindah Tidak peralatan khusus yang dibutuhkan untuk berjualan, portabel dan atau A 2 meter agar tidak menghalangi hak pejalan kaki yang ada. Gambar 1. Peta Tipologi PKL di Jalan MT. Haryono Kota Semarang Sumber : Hasil Analisis, 2024 Tipologi Pedagang Kaki Lima yang Berjualan di Trotoar Untuk pedagang yang berjualan di trotoar terdapat pedagang kuliner skala kecil yang tersebar di daerah sekitar jalan Wonodri dan depan persimpangan sompok sebagian buka pada sore - malam hari yang menggunakan trotoar sebagai tempat pengunjung menikmati hidangan dan memerlukan ruang 1-2 meter. Tabel 2. Tipologi Pedagang Kaki Lima yang Berjualan di Trotoar (Hasil Analisis, 2. Lokasi berjualan trotoar/pedestrian Lokasi berjualan sebagian besar bahu jalan dan trotoar dan ruang yang lebih Lokasi berjualan bahu jalan dan trotoar yang ruang yang kecil Lokasi pedagang yang berjualan di atas trotoar, bahu jalan dan berpindah Ae pindah di Koridor jalan MT. Haryono yang tidak beraturan menjadikan hak-hak pejalan kaki yang terabaikan, untuk mengatasi hal ini, pedagang dapat bertransaksi jual beli di kawasan pedestrian, namun dengan ketentuan dan peraturan tidak lebih dari 50% dari luas trotoar Tipologi Pedagang Kaki Lima yang Berjualan di Trotoar Dokumentasi Keterangan A Pedagang kuliner Memerlukan ruang 1 Ae 2 meter untuk berjualan, sebagian besar di jalan Wonodri persimpangan sompok Aldida. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 1, tahun 2025 Tipologi Pedagang Kaki Lima yang Berjualan di Trotoar pakaian/tekstil/sand pangan/kelontong Memerlukan ruang 2 meter untuk berjualan panjang, gantungan rak baju dan terpal lokasi sebagian besar di depan pasar Peterongan Tipologi Pedagang Kaki Lima yang Berjualan di bahu Jalan kuliner skala Memerlukan ruang 2 meter untuk sarana berdagang gerobak panjang A memerlukan ruang sekitar 5 m tersebar di berbagai titik koridor jalan dengan jarak antar pedagang sejenis sekitar 5 Ae 8m. Tipologi Pedagang Kaki Lima yang Berjualan di Bahu Jalan Pedagang yang menggunakan bahu jalan sebagian besar berjualan pada sore sampai malam hari dikarenakan untuk waktu pagi sampai siang area tersebut harus bersih dari para pedagang sehingga tidak menggangu sirkulasi lalu lintas. Tipologi Pedagang Kaki Lima yang Berjualan Berpindah-pindah Lokasi pedagang yang berpindah Ae pindah adalah lokasi yang sekiranya kosng, strategis dan ramai aktivitas mereka berjualan di jam- jam tertentu Pedagang yang masuk dalam kategori ini, mempunyai lokasi berjualan yang tidak Tabel 4. Tipologi Pedagang Kaki Lima yang Berjualan Berpindah-Pindah (Hasil Analisis, 2. Tipologi Pedagang Kaki Lima yang Berjualan di Berpindah-pindah Dokumentasi Keterangan A Pedagang sol Tabel 3. Tipologi Pedagang Kaki Lima yang Berjualan di Bahu Jalan (Hasil Analisis. Tipologi Pedagang Kaki Lima yang Berjualan di bahu Jalan Dokumentasi Keterangan A Pedagang kuliner skala Memerlukan ruang 4 Ae 8 meter untuk sarana berdagang 2 tenda rumah tangga Aldida. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 1, tahun 2025 Tabel 5. Karakteristik Lokasi PKL (Hasil Analisis, 2. Tipologi Pedagang Kaki Lima yang Berjualan di Berpindah-pindah A Karakteristik Pedagang Kaki Lima di Koridor Jalan MT. Haryono Kota Semarang PKL juga akan menempati lokasi yang mudah dilihat dan dijangkau pengunjung sehingga memudahkan interaksi. Secara umum. PKL selalu memilih ruang yang paling menguntungkan dimana terdapat pengunjung yang berlalu lalang. Penggunaan ruang dengan mobilitas pengunjung yang cukup tinggi, . eperti dagangan mereka. Seperti halnya karakteristik lokasi PKL, antara lain : Terdapat akumulasi orang pada waktu pertimbangan kemungkinan konsumen yang lebih banyak. Merupakan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang sering dikunjungi. Interaksi langsung antara penjual dan pembeli dapat berlangsung dengan mudah meski dengan ruang yang relatif sempit. Lokasi Daerah Java Mall Lokasi Pedagang Kaki Lima di Koridor Jalan MT. Haryono Dari hasil penelitian, lokasi yang paling diminati oleh pedagang kaki lima untuk berjualan yaitu di sekitaran trotoar koridor jalan MT. Haryono Kota Semarang. Lokasi ini merupakan pusat simpul yang strategis di kota karena dilalui banyak kendaraan dari berbagai arah dan Daerah Peterongan Karakteristik Pedagang Kaki Lima Daerah sekitar Java Mall modern yang (Star Hote. (Metro Peteronga. dan komplek (Metro Sport Cente. Mayoritas PKL berjualan makanan dan Daerah sekitar pasar Peterongan koridor jalan MT. Haryono didukung oleh (Peterongan Plaz. , elektronik,toko Peterongan, dan toko Swalayan Aneka jaya dan Ramai Pada kaki lima yang sandang/ toko berjualan di lokasi dekat Peterongan Keterangan A A A Terdapat orang pada waktu yang yang lebih Merupakan pusat-pusat yang sering Interaksi penjual dan pembeli pada simpul jalur pejalan kaki yang lebar dan strategis . ekat lokasi publi. , yang saling dan pembeli Aldida. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 1, tahun 2025 Lokasi Karakteristik Pedagang Kaki Lima Jalan Wonodri Jalan Wonodri jalan lokal ke lokasi jalan koridor jalan MT. Haryono didukung oleh (Peterongan Plaz. , dan toko Mayoritas PKL berjualan makanan dan Waktu Keterangan A A Siang hari . 00 Ae A A A A Sore hari . 00 Ae A A Malam hari . 00 Ae A A A A A Gambar 2. Peta Lokasi PKL di Koridor Jalan MT. Haryono Kota Semarang Keterangan Berlangsung setiap hari Sebagian besar menggunakan bahu jalan untuk berjualan Didominasi oleh pedagang kaki lima makanan minuman dan pedagang pakaian tekstil Lokasi pedagang memanjang di MT. Haryono Berlangsung setiap hari Sebagian besar berjualan di trotoar jarak antar pedagang 5 Ae 10 meter Didominasi oleh pedagang kuliner Sebagian besar waktu sore para peralatan dagang mereka dan pergantian pedagang di loaksi yang Pedagang kuliner mengelompok di lokasi jalan Wonodri dan depan Java Mall Berlangsung setiap hari Para pedagang lebih memilih berjualan di lokasi jalan Wonodri karena sebagai pusat berbagai macam kuliner Para pedagang lebih memilih lokasi berkumpulnya pedagang gorengan dan ayam goreng yang merupakan ciri khas di lokasi tersebut akan pedagang yang ada Para pedagang yang memilih berjualan di depan Java Mall merupakan pedagang martabak dan berkelompok tepat akses pintu masuk Java Mall Sumber : Hasil Analisis, 2024 Waktu Pedagang Kaki Lima di Koridor Jalan MT. Haryono Aktivitas pedagang kaki lima dalam pola aktivitasnya pedagang kaki lima menyesuaikan alur kegiatan masyarakat di lokasi sekitar tempat berjualannya, baik berhubungan dengan kegiatan sektor formal. Terdapat pula fenomena satu lokasi ditempati oleh dua pedagang atau lebih dengan waktu layanan yang berbeda. Tabel 6. Waktu Berdagang PKL (Hasil Analisis, 2. Waktu Pagi hari . 00 Ae A A Keterangan Didominasi komoditas pasar Lokasi berjualan mengelompok di area sekitar pasar Peterongan yaitu jalan Lamper Sari . ersimpangan peteronga. dan jalan Wonodri Gambar 3. Peta Waktu Berdagang PKL di Koridor Jalan MT. Haryono Kota Semarang Sumber : Hasil Analisis, 2024 Aldida. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 1, tahun 2025 Jenis Dagangan Pedagang Kaki Lima di Koridor Jalan MT. Haryono Karakteristik jenis dagangan di setiap lokasi eksistingnya penelitian di koridor jalan MT. Haryono berbeda Ae beda kebanyakan pedagang kuliner karena mempunyai lokasi yang strategis dan berada di pinggir jalan. Karakteristik jenis barang dagangan PKL pada umumnya mengikuti kebutuhan kegiatan utama yaitu aktivitas perdagangan jasa. Jenis barang dagangan yang mayoritas diperdagangkan berupa makanan. Jenis barang dagangan yang diperdagangkan lainnya adalah non makanan, jasa pelayanan serta kelontong. Pedagang jasa perorangan Pedagang asongan Pedagang pakaian/tekstil/sepatu/kelA Pedagang komoditas pasar Pedagang makanan Malam sehingga setelah berjualan mereka akan menutup dagangan dengan alas berjualan dan membawanya pulang atau menitipkan di suatu tempat, pedagang yang menggunakan sarana ini didominasi oleh pedagang makanan minuman, pakaian / tekstil /sepatu / kelontong dan pedagang komoditas pasar. Masing-masing bentuk sarana berdagang memiliki ukuran yang berbeda beda, sehingga berbeda pula ukuran ruang yang diperlukan. Besaran ruang mempengaruhi dalam pengaturan dan penataan ruang untuk PKL. Sore Siang Pagi Gambar 4. Grafik Jenis Dagangan dan Jumlah PKL di Koridor Jalan MT. Haryono Kota Semarang Sumber : Hasil Analisis, 2024 Dilihat dari sisi positif keberadaan pedagang kaki lima di koridor jalan MT. Haryono makanan mulai dari kebutuhan primer seperti sayur dan makanan siap saji hingga kebutuhan sekunder seperti kebutuhan pakaian dan kebutuhan lainnya. Sarana Berdagang Pedagang Kaki Lima di Koridor Jalan MT. Haryono Sarana berdagang yang digunakan pedagang di koridor jalan MT. Haryono antara lain gelaran alas/lapak mereka menjajakan dagangan di atas gelaran tikar atau terpal. Bentuk ini dikategorikan kedalam semi menetap Gambar 5. Grafik Sarana Berdagang PKL di Koridor Jalan MT. Haryono Kota Semarang Sumber : Hasil Analisis, 2024 Sarana dagangan yang digunakan tersebut mudah untuk dibongkar pasang dan dipindahkan untuk disimpan/dibawa pulang oleh Hal ini sesuai dengan peraturan yang berlaku di kawasan tersebut, bahwa setelah waktu berdagang selesai, pedagang tidak boleh meninggalkan sarana dagangan di lokasi dan tempat berdagang PKL. Pedagang kaki lima di koridor jalan MT. Haryono, keseragaman dari penggunaan sarana dagang tidak terlihat sehingga terlihat kurang rapi dan cenderung Penggunaan sarana dagang dalam bentuk gerobak roda dan tenda, gelar tikar, jongko, etalase dan kios ini memanfaatkan bahu jalan dan trotoar dalam aktivitasnya sehingga dapat mengganggu aktivitas lalu lintas orang dan kendaraan yang melintas di kawasan ini. Pola Pelayanan Pedagang Kaki Lima di Koridor Jalan MT. Haryono Di koridor jalan MT. Haryono Kota Semarang memiliki cara pedagang kaki lima berlokasi terbagi menjadi 2 sifat pelayanan Aldida. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 1, tahun 2025 pedagang yaitu menetap dan tidak menetap. Pelayanan Menetap, berdasarkan penelitian, diperoleh bahwa sebagian penjual memiliki teriitori khusus lokasi berjualannya, bisa disebabkan karena lokasi berjualan yang sudah menahun dan telah turun temurun berjualan pada lokasi tersebut, hingga lokasi yang sudah dikenal dengan baik oleh pembeli sehingga mereka menetap dan memiliki langganan yang Kondisi ini mencerminkan pedagang kaki lima (PKL) selalu ingin dikenal oleh pengunjung sehingga mereka dapat lebih mudah dalam berpindah-pindah tempat . udah punya nam. Dengan menempati lokasi yang tetap, dengan waktu yang tetap dalam jangka waktu tertentu akan memiliki pelanggan yang tetap. Pelayanan tidak menetap, ada beberapa pedagang kaki lima (PKL) di koridor jalan MT. Haryono Kota Semarang yang pelayanannya masih bersifat tidak menetap karena baru saja memulai berdagang PKL sehingga belum mempunyai lokasi khusus berdagang yang Mereka cenderung mencari dan mendatangi pembeli mereka agar tetap eksis sembari memperkenalkan jualan mereka. Biasanya pembeli jenis ini berjualan dengan lapak sederhana dari tikar/terpal atau gerobak dorong yang pada saat tertentu bisa digunakan berkeliling untuk menjajakan jualannya. Gambar 6. Peta Pola Pelayanan PKL di Koridor Jalan MT. Haryono Kota Semarang Sumber : Hasil Analisis, 2024 Lokasi Jalan Wonodri Lokasi Peterongan Lokasi daerah Java Mall Gambar 7. Pola Persebaran PKL di Koridor Jalan MT. Haryono Kota Semarang Sumber : Hasil Analisis, 2024 Pola Persebaran Pedagang Kaki Lima di Koridor Jalan MT. Haryono Pola penyebaran pedagang kaki lima di koridor jalan MT. Haryono memiliki 2 pola . inear mengelompok . ocus aglomeration. Dari hasil pengamatan, pola persebaran PKL di terbagi menjadi 3 lokasi yaitu lokasi daerah Java Mall, lokasi daerah pasar Peterongan dan lokasi daerah jalan Wonodri dengan pola persebaran yang berbeda tiap lokasi nya. SIMPULAN Dari hasil penelitian, lokasi yang paling diminati oleh PKL untuk berjualan yaitu di sekitaran trotoardan bahu jalan. Lokasi ini merupakan pusat simpul yang strategis di koridor jalan karena dilalui banyak kendaraan dari berbagai arah dan tujuan serta merupakan pusat kegiatan baik perkantoran, perdagangan jasa yang berada di sekitar lokasi. Dengan simpul ini kemudian terbentuklah akumulasi dibandingkan pada lokasi yang lainnya. Hal inilah yang menyebabkan koridor ini timbul adanya sektor aktifitas PKL karena tingginya angka minat pengunjung terhadap barang dan jasa untuk mendukung kegiatan yang ada pada koridor jalan. Aldida. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 1, tahun 2025 REFERENSI