Volume 8. Issue 1, 2026, 75 - 89 http://jurnal. id/jdk/article/view/96591 DOI: https://doi. org/10. 20961/desa-kota. Copyright A 2026 The Authors E-ISSN: 2656-5528 Tingkat Kesesuaian Lokasi Shelter Pedagang Kaki Lima di Kawasan Perkotaan Madiun Suitability Level of Street Vendor Shelter Location in Madiun Urban Area Choirun Nisa Nur Rahmadhani1*. Murtanti Jani Rahayu1,2. Erma Fitria Rini1,2 1Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Indonesia 2 Pusat Informasi Pembangunan Wilayah (PIPW). LPPM Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Indonesia *e-mail: choirunnisanur2001@gmail. (Recieved: 17 December, 2024. Accepted: 17 Januari 2. Abstrak Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM), termasuk Pedagang Kaki Lima (PKL), memiliki peran signifikan dalam perekonomian Indonesia, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dan peluang pendapatan. Namun, pandemi Covid-19 telah berdampak negatif pada sektor ini, termasuk pada penurunan pendapatan. Pemerintah Kota Madiun merespons permasalahan dengan membangun shelter bagi PKL untuk meningkatkan ekonomi lokal juga estetika kota, meskipun terdapat tantangan seperti kesesuaian lokasi dan minat pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian lokasi shelter PKL dengan karakteristik lokasi berdagang PKL di Kawasan Perkotaan Madiun. Di antara empat lokasi shelter PKL yang menjadi wilayah penelitian. Shelter Kembulsari. Shelter Rejomulyo, dan Shelter Kampir termasuk dalam kategori cukup sesuai sebagai lokasi shelter PKL, sementara Shelter Banjarejo termasuk dalam kategori kurang sesuai sebagai lokasi shelter PKL. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti pentingnya kedekatan dengan aktivitas utama yang produktif dan aksesibilitas transportasi umum dalam menentukan kesesuaian lokasi shelter PKL. Fasilitas dasar yang memadai tidak cukup untuk menjamin keberhasilan jika lokasi tidak strategis dan sulit dijangkau oleh pelanggan. Oleh karena itu, perbaikan aksesibilitas dan pemilihan lokasi strategis menjadi kunci dalam meningkatkan daya tarik pengunjung, memastikan keberlanjutan usaha, serta mendorong stabilitas ekonomi PKL di Kawasan Perkotaan Madiun. Kata kunci: kesesuaian lokasi. Pedagang Kaki Lima. PKL. shelter PKL Abstract Micro. Small, and Medium Enterprises (MSME. , including street vendors, play a significant role in Indonesia's economy, especially in creating employment and income opportunities. However, the Covid-19 pandemic has negatively impacted this sector, including a decrease in income generation. The Madiun City government responded to this problem by building shelters for street vendors to improve the cityAos local economy as well as aesthetics, although challenges such as location suitability and visitor interest remain. This study aims to evaluate the suitability of street vendor shelter locations with the characteristics of street vendor trading location in the Madiun Urban Area. Among the four street vendor shelter locations analyzed in this research. Kembulsari Shelter. Rejomulyo Shelter, and Kampir Shelter are classified into the moderately suitable category as street vendor shelter locations. Meanwhile. Banjarejo Shelter is classified into the less suitable category as a street vendor shelter location. Overall, this study highlights the importance of proximity to major productive activity locations and public transport accessibility in determining the suitability of street vendor shelter locations. Adequate basic facilities are not enough to guarantee success if the location is not strategic and difficult to be reached by customers. Therefore, improved accessibility and strategic location selection are key in attracting potential costumers, ensuring business sustainability, and promoting the economic stability of street vendors in Madiun Urban Area . Keywords: location suitability. street vendors. street vendor shelters PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara dengan perekonomian berkembang memiliki fondasi ekonomi yang masih tergolong Salah satu upaya pemerintah dalam memperkuat ekonomi nasional adalah dengan mempertimbangkan peran Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM memiliki peranan penting dalam ekonomi Indonesia yang terbukti mampu bertahan dan menjadi penggerak ekonomi, terutama setelah terjadinya krisis ekonomi (Sedyastuti, 2. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 UMKM dapat digolongkan menjadi berbagai kriteria, salah satunya adalah livelihood activities, yaitu kegiatan yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah, juga disebutkan bahwa UMKM berperan dalam menunjang penghidupan melalui sektor informal, salah satu bentuknya adalah Pedagang Kaki Lima (PKL). Sebagai bagian dari sektor informal. PKL berfungsi sebagai unit yang terlibat dalam produksi barang atau jasa untuk menciptakan lapangan kerja serta pendapatan (Febrianto, 2. Namun, perkembangan UMKM mengalami penurunan pada awal tahun 2020 akibat pandemi Covid-19. Pandemi ini memberikan dampak signifikan terhadap penurunan perputaran ekonomi, termasuk pada sektor informal seperti PKL (Firdaus et al. , 2. PKL mengalami omset penjualan serta permintaan dari masyarakat yang menurun drastis. Selain itu. PKL masih harus berjuang untuk membayar harga sewa lokasi berdagang yang menjadi salah satu faktor banyaknya sektor informal terpaksa gulung tikar pada masa pandemi. Dalam situasi ini, diperlukan langkah-langkah pemerintah untuk mengontrol sektor ekonomi. Pemerintah Kota Madiun telah mengambil berbagai inisiatif untuk meningkatkan perekonomian pasca pandemi, termasuk dengan mengoptimalkan keberadaan PKL. Saat ini. PKL di Kota Madiun tersebar di area pasar tradisional, trotoar, serta jalanan utama yang ramai. Namun. Kota Madiun belum memiliki lokasi sentra PKL yang khusus sehingga aktivitas perdagangan sektor informal ini sering kali menyebabkan kemacetan lalu lintas, mengganggu mobilitas warga, dan merusak estetika kota. Sebagai respons terhadap situasi ini, serta untuk mengatasi dampak pandemi dan memperbaiki estetika kota. Pemerintah Kota Madiun merencanakan program pengembangan sektor informal termasuk pengembangan PKL. Upaya ini dituangkan dalam Peraturan Walikota Nomor 32 Tahun 2020 tentang Masterplan Smart City Kota Madiun Tahun 2019Ae2024. Masterplan tersebut mencakup program pembangunan sarana bagi PKL yang bertujuan untuk menciptakan sentra PKL sehingga mereka tidak berjualan sembarangan di trotoar dan pinggir jalan yang ramai. Program ini juga diharapkan dapat memperbaiki estetika kota dengan menyediakan lokasi berdagang yang lebih teratur bagi PKL. Untuk merealisasikan program ini. Pemerintah Kota Madiun membangun 27 titik shelter di setiap taman kelurahan di Kawasan Perkotaan Madiun. Shelter yang menjadi ruang lingkup wilayah dalam penelitian ini adalah Shelter Kembulsari. Shelter Rejomulyo. Shelter Kampir, dan Shelter Banjarejo. Shelter-shelter ini dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti listrik, toilet, tempat sampah, air bersih, dan lahan parkir, serta tidak dikenakan retribusi sehingga memungkinkan PKL untuk fokus meningkatkan ekonomi mereka. Meskipun demikian, realisasi program ini menghadapi tantangan. Beberapa PKL yang telah memiliki tempat berjualan enggan pindah ke shelter yang disediakan meskipun fasilitas sudah lengkap dan retribusi telah dihapus. Selain itu, beberapa shelter kurang diminati pengunjung karena pengunjung lebih tertarik ke lokasi lain. Sebagian besar penelitian sebelumnya yang terkait PKL berfokus pada kesesuaian lokasi atau penataan lokasi PKL, termasuk stabilisasi lokasi, karakteristik lokasi, preferensi pedagang, serta pengaruh lokasi terhadap sosial dan ekonomi (Amalia et al. , 2023. Demas & Dewanti, 2021. Nazihah et al. , 2024. Perdana et al. , 2. Namun, studi yang secara spesifik mengevaluasi hubungan antara lokasi shelter PKL dengan karakteristik lokasi berdagang PKL di Kawasan Perkotaan Madiun masih terbatas. Dengan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kesesuaian lokasi shelter PKL, serta mengkaji efektivitasnya dalam mendukung aktivitas ekonomi PKL di Kawasan Perkotaan Madiun. KAJIAN TEORI SEKTOR INFORMAL DAN KARAKTERISTIK SEKTOR INFORMAL Sektor informal adalah bagian ekonomi yang mencakup entitas tidak tunduk pada regulasi hukum atau pajak pemerintah yang berfokus pada produksi barang dan jasa untuk menciptakan lapangan kerja dan pendapatan. Sektor ini ditandai oleh hubungan kerja yang bersifat sosial dan pribadi, tanpa perjanjian formal atau jaminan, seperti jaminan sosial atau pajak penghasilan (Febrianto, 2. Karakteristik sektor informal meliputi pola kegiatan yang tidak konsisten, penggunaan teknologi sederhana, dan struktur organisasi berbasis keluarga. Sektor ini biasanya memiliki jadwal kerja tidak teratur, tempat kerja tidak menetap, dan melayani kelompok terbatas tanpa persyaratan pendidikan formal (Dewi et al. , 2. Sektor informal sering kali memiliki hasil yang kecil, tidak tersentuh oleh peraturan pemerintah, dan tempat usaha yang tidak permanen (Lahengko & Suryono, 2. Sektor ini fleksibel dalam menyerap tenaga kerja dengan berbagai tingkat pendidikan tanpa membutuhkan keahlian khusus (Riyanto, 2. Sektor informal memainkan peran penting dalam ekonomi, terutama dalam menyediakan lapangan kerja bagi kelompok berpendapatan Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 rendah dan mereka yang memiliki akses terbatas ke sektor formal. Meskipun bersifat tidak formal dan sering kali tidak teratur, sektor ini krusial dalam konteks ekonomi negara berkembang. PEDAGANG KAKI LIMA SEBAGAI SEKTOR INFORMAL Pedagang Kaki Lima atau PKL didefinisikan sebagai individu yang menawarkan produk berupa barang dan jasa, serta berlokasi di tepi jalan (Bromley, 2. Istilah PKL berasal dari trotoar yang dulunya lebarnya 5 kaki, atau kira-kira 1 koma 5 meter, jadi dalam pengertian ini. PKL mengacu pada pedagang yang mendirikan toko di tempat umum, biasanya di trotoar di depan toko atau pasar, sekolah, atau bioskop (Widodo, 2. PKL merujuk kepada individu yang berusaha mengembangkan usaha dengan menjajakan barang atau jasa walaupun dengan modal sedikit (Rudi, 2. McGee & Yeung . mendefinisikan pedagang asongan sebagai sekelompok orang yang menawarkan barang dan jasa untuk dijual di ruang publik, khususnya di pinggir jalan dan trotoar, dan mereka menggunakan definisi ini untuk menggambarkan Pedagang Kaki Lima. KARAKTERISTIK AKTIVITAS PEDAGANG KAKI LIMA PKL merupakan bagian penting dari sektor informal yang menunjukkan karakteristik khusus dalam aktivitasnya. Menurut McGee & Yeung . , waktu berdagang PKL dipengaruhi oleh ritme kehidupan masyarakat dan aktivitas formal di sekitarnya. Waktu tersibuk PKL sering bertepatan dengan jam ramai di area perumahan, perkantoran, dan rekreasi, seperti pagi hingga siang hari di pasar atau saat jam istirahat di pusat kota. Jenis dagangan PKL bervariasi berdasarkan lingkungan tempat mereka beroperasi, meliputi makanan mentah dan siap saji, barang non-makanan seperti pakaian, serta layanan seperti perbaikan sol sepatu dan pemotongan rambut (McGee & Yeung, 1. Sarana fisik untuk berdagang juga beragam, mulai dari meja, pikulan, keranjang, lapak, gerobak, warung semi permanen, hingga kios (Setyaningrum et al. , 2. Sarana ini menunjukkan fleksibilitas dan adaptasi PKL terhadap kondisi dan kebutuhan lokasi berdagang. Pola sebaran aktivitas PKL dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pola mengelompok . ocus agglomeratio. dimana PKL berkumpul di ujung jalan, ruang terbuka, atau sekitar pasar, dan pola memanjang . treet concentratio. yang terjadi di sepanjang jalan utama atau penghubung, ditentukan oleh aksesibilitas tinggi di lokasi tersebut (McGee & Yeung, 1. PKL juga dikategorikan berdasarkan pola pelayanan mereka, yaitu pedagang menetap . tatic hawker. yang menggunakan kios permanen, pedagang semi permanen . emistatic hawker. yang menggunakan kios beroda, dan pedagang keliling yang berpindah-pindah dengan gerobak atau kendaraan lainnya. Pembagian ini menunjukkan keberagaman dalam cara PKL menyediakan barang dan jasa kepada konsumen. KARAKTERISTIK LOKASI BERDAGANG PEDAGANG KAKI LIMA Pengelolaan PKL oleh pemerintah kota merupakan upaya perencanaan kota yang berkelanjutan dan wilayah yang stabil (Rahayu et al. , 2. Pemerintah menyediakan shelter bagi PKL di taman kota sebagai bentuk pemerataan pembangunan dan pengelolaan sektor informal. Menurut McGee & Yeung . PKL cenderung beroperasi di lokasi dengan kepadatan penduduk tinggi atau area komersial, seperti pusat kota, tempat hiburan, pasar umum, terminal, dan area komersial untuk menarik pelanggan dan meningkatkan penjualan. Hong Kong dan Singapura mengarahkan PKL terkonsentrasi di daerah dengan populasi padat. Widodo . mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi berdagang PKL. Pertama, lokasi yang strategis dan dekat dengan pusat kota atau aktivitas formal, yang menarik banyak pelanggan. Kedua, lokasi yang dekat dengan tempat tinggal PKL untuk mengurangi biaya transportasi. Ketiga, lokasi yang mudah dicapai lokasi dengan transportasi umum. Keempat, lokasi beroperasi yang berkelompok dengan penjual serupa, yang menciptakan aglomerasi sehingga menarik lebih banyak pelanggan. Stabilisasi PKL adalah penataan PKL dimana PKL diizinkan menetap di lokasi usahanya saat ini atau sama dengan sebelumnya, dengan diberikan legalitas, diatur secara tertib, dan sering kali difasilitasi dengan shelter atau penataan estetika agar tidak mengganggu fungsi kota (Rahayu, 2. Lokasi stabilisasi PKL memerlukan perhatian pada jarak dari aktivitas utama dan tempat tinggal. Rahayu . mengemukakan bahwa jarak yang ideal untuk lokasi stabilisasi PKL dari aktivitas utama adalah 25 - 50 m, dan jarak dari rumah berkisar antara 400-1. 000 m. PKL sering memilih lokasi dekat rumah untuk mengurangi biaya transportasi. Selain itu, kedekatan dengan zona perdagangan, pendidikan, permukiman, dan rekreasi juga penting karena lokasi ini cenderung menarik lebih banyak pengunjung (Rahayu et al. Jenis jalan juga memengaruhi lokasi stabilisasi PKL, dengan preferensi pada jalan kolektor atau jalan lingkungan dengan aktivitas tinggi (Rahayu et al. , 2. Di Kota Surakarta, lokasi stabilisasi PKL sering ditemukan di zona perdagangan dan jasa, permukiman, serta rekreasi. Di Kota Semarang. PKL cenderung menempati zona rekreasi, pendidikan, dan perkantoran, serta menggunakan ruang terbuka seperti taman (Rahayu et al. , 2019. Widjajanti & Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 Wahyono, 2. Ruang publik dengan aktivitas campuran memungkinkan PKL mendapatkan lebih banyak pelanggan (Widjajanti et al. , 2. Fasilitas dasar yang lengkap adalah karakteristik penting dari lokasi stabilisasi PKL. Fasilitas dasar tersebut meliputi kios, toilet, musala, air bersih, penerangan, dan tempat sampah. Fasilitas ini mendukung operasional PKL dan menjaga kebersihan lokasi berdagang. Air bersih dan fasilitas sanitasi menjadi sangat penting bagi PKL yang menjual makanan dan minuman (Kristian, 2021. Rahayu, 2020. Sriharyati & Marlina, 2. Penyediaan jaringan drainase, jaringan air bersih, dan layanan listrik, sangat diperlukan oleh PKL, terutama yang beroperasi pada malam hari (Nisa, 2. Keberadaan tempat sampah dan sistem pembuangan limbah yang baik mendukung kebersihan dan kenyamanan di lokasi berdagang. Penerangan yang memadai penting untuk keamanan dan kenyamanan PKL dan pelanggan, terutama di malam hari Adonis . Secara keseluruhan, pemilihan lokasi berdagang PKL sangat bergantung pada faktor aksesibilitas, kedekatan dengan aktivitas utama, keamanan, dan fasilitas pendukung. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif yang berawal dari teori umum untuk menghasilkan hipotesis spesifik tentang kesesuaian lokasi shelter PKL di Kawasan Perkotaan Madiun. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yang melibatkan pengumpulan dan analisis data numerik untuk memahami fenomena yang diteliti. Data yang dikumpulkan akan dianalisis menggunakan teknik analisis skoring untuk menilai kesesuaian lokasi shelter PKL berdasarkan karakteristik lokasi berdagang yang ideal bagi PKL. Hasil analisis skoring diklasifikasikan untuk menentukan tingkat kesesuaian lokasi shelter PKL di Kawasan Perkotaan Madiun. Setiap lokasi shelter akan diidentifikasi dan dilakukan analisis skoring sesuai dengan bobot indikator dikali dengan skor parameter. Penilaian kesesuaian lokasi shelter PKL di Kawasan Perkotaan Madiun dilakukan dengan menjumlahkan seluruh nilai skor indikator penelitian. Total keseluruhan nilai indikator akan disandingkan dengan klasifikasi kesesuaian berdasarkan Tabel 1. Nilai yang diberikan untuk setiap indikator dalam penelitian ini menggunakan skala Guttman sehingga akan mendapatkan pernyataan yang tegas terhadap kuesioner yang telah diberikan (Mandasari et al. , 2. Pemberian skor indikator dalam penelitian ini akan didasarkan pada sesuai atau tidaknya indikator tersebut terhadap parameter yang telah disusun oleh peneliti. Dalam tahap ini, setiap indikator akan disandingkan dengan parameter yang telah disusun sebelumnya untuk diberi skor yang kemudian dikalikan dengan bobot indikator. Tabel 2 merupakan skor yang digunakan untuk setiap indikator. Tabel 1. Klasifikasi Kelas Kesesuaian Lokasi Shelter PKL Klasifikasi Rentang Skor Sesuai 3,1-4,00 Cukup Sesuai 2,1-3,00 Kurang Sesuai 1,1-2,00 Tidak Sesuai 0-1,00 Tabel 2. Skoring Variabel dan Indikator Kesesuaian Lokasi Shelter PKL di Kawasan Perkotaan Madiun Variabel Sub Indikator Bobot Parameter Variabel Indikator Sesuai . Tidak Sesuai . Kedekatan Jarak aktivitas utama Lokasi berdagang PKL Lokasi berdagang PKL dengan aktivitas dekat lokasi berdagang berjarak 0-50 meter berjarak 50-100 meter PKL dengan berbagai jenis dengan berbagai jenis aktivitas utama yang aktivitas utama yang berada di sekitar lokasi berada di sekitar lokasi Aksesibilitas Ketersediaan trayek Lokasi berdagang PKL Lokasi berdagang PKL transportasi umum dilalui oleh transportasi tidak dilalui oleh menuju lokasi transportasi umum berdagang PKL Jangkauan sarana Terdapat halte atau Tidak terdapat halte atau pendukung berupa halte terminal yang dapat terminal yang dapat atau terminal di sekitar dicapai dengan berjalan dicapai dengan berjalan lokasi berdagang PKL kaki sejauh maksimal 400 kaki sejauh maksimal 400 Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 Variabel Sub Variabel Indikator Bobot Indikator Lokasi aman dari relokasi setiap saat karena lokasi telah ditentukan oleh Lokasi aman dari tindak Tempat Ketercukupan tempat Air bersih Ketercukupan kuantitas air bersih Listrik Sesuai . Lokasi berdagang PKL sudah ditentukan oleh Tidak Sesuai . Lokasi berdagang PKL bukan ditentukan oleh Tidak pernah terjadi tindak kriminalitas pada kawasan lokasi berdagang PKL Memiliki tempat sampah dengan kapasitas volume minimal 40 L per PKL Sering terjadi tindak kriminalitas pada kawasan lokasi berdagang PKL Jumlah air yang tersedia memenuhi standar 5 liter/m2 luasan kios Ketercukupan daya Toilet Ketercukupan kebutuhan Lahan Ketercukupan lahan Kapasitas daya listrik yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan aktivitas berdagang PKL Toilet yang tersedia memenuhi standar yaitu dengan asumsi perhitungan 1 . toilet untuk 40 orang Luas lahan parkir yang disediakan minimal 59 SRP per 1. 000 m2 dari total luasan lokasi shelter PKL Jumlah air yang tersedia tidak memenuhi standar minimal 5 liter/m2 luasan Kapasitas daya listrik yang tersedia tidak dapat memenuhi kebutuhan aktivitas berdagang PKL Toilet yang tersedia memenuhi standar yaitu dengan asumsi perhitungan 1 . toilet untuk 40 orang Luas lahan parkir yang disediakan kurang dari 59 SRP per 1. 000 m2 dari total luasan lokasi shelter PKL Keamanan Lokasi Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Parameter Memiliki tempat sampah dengan kapasitas volume kurang dari 40 L per PKL HASIL DAN PEMBAHASAN 1 KESESUAIAN SHELTER KEMBULSARI SEBAGAI LOKASI SHELTER PKL DI KAWASAN PERKOTAAN MADIUN Hasil penelitian tentang kesesuaian Shelter Kembulsari sebagai lokasi shelter PKL di kawasan perkotaan Madiun menunjukkan bahwa meskipun shelter ini memiliki sejumlah fasilitas fisik yang lengkap dan mendukung, seperti kios, fasilitas air bersih, listrik, serta tempat sampah yang memadai, lokasinya yang dekat jalan kolektor dengan kecepatan kendaraan yang tinggi mengurangi kemungkinan kendaraan berhenti dan pengunjung datang. Shelter Kembulsari dilalui oleh angkutan kota dan bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP). Namun, bus AKDP jarang berhenti, yang menunjukkan bahwa aksesibilitas shelter ini masih kurang optimal. Meskipun terletak di area dengan aktivitas utama seperti perkantoran dan pergudangan, jarak terdekat dari aktivitas utama ini adalah 55 meter untuk perkantoran dan 80 meter untuk pergudangan sehingga keberadaan shelter ini tidak optimal untuk menarik pengunjung dari aktivitas tersebut. Namun, keamanan di Shelter Kembulsari cukup terjamin berkat patroli malam yang dilakukan oleh PKL dan adanya dukungan dari sistem keamanan di sekitarnya. Tabel 3 menyajikan analisis skoring kesesuaian Shelter Kembulsari sebagai lokasi shelter PKL. Total keseluruhan skor indikator pada lokasi Shelter Kembulsari adalah 2,5 yang berada dalam rentang skor 2,1 - 3 sehingga dikategorikan sebagai cukup sesuai sebagai lokasi shelter PKL. Meskipun lokasi ini memiliki kesesuaian pada aksesibilitas transportasi umum dan kelengkapan sarana-prasarana, seperti tempat sampah, air bersih, listrik, toilet, dan lahan parkir, terdapat beberapa kekurangan yang memengaruhi tingkat kesesuaiannya. Kekurangan utama terletak pada kedekatan dengan aktivitas utama dan kurangnya halte atau terminal dalam radius yang dapat dijangkau pejalan kaki. Hal ini Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 menunjukkan bahwa meskipun fasilitas fisik cukup mendukung, konektivitas dan kedekatan lokasi dengan aktivitas utama masih perlu ditingkatkan untuk mencapai tingkat kesesuaian yang lebih optimal. Variabel Kedekatan aktivitas utama Aksesibilitas Keamanan Lokasi Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Tabel 3. Analisis Skoring Kesesuaian Shelter Kembulsari sebagai Lokasi Shelter PKL Bobot Skor Skor Indikator Hasil Analisis Peneliti Indikator Parameter Variabel Aktivitas utama terdekat yakni lahan pertanian dengan jarak 30 m dari lokasi shelter. Terdapat Jarak aktivitas aktivitas perkantoran dengan jarak 55 m serta utama yang didekati aktivitas pergudangan yang berjarak 80 m dari lokasi berdagang lokasi shelter. PKL Aktivitas utama yang didekati oleh Shelter Kembulsari memiliki jarak 55 m dan 80 m. Ketersediaan trayek Jalan kolektor yang melalui Shelter Kembulsari transportasi umum merupakan bagian dari rute angkutan Kota menuju lokasi Madiun kode trayek AA. BB, dan CC. berdagang PKL Jangkauan sarana pendukung berupa Tidak terdapat halte dan terminal yang dapat halte atau terminal ditempuh dengan jalan kaki sejauh 400 m di sekitar lokasi berdagang PKL Lokasi Shelter Kembulsari telah termasuk Lokasi aman dari dalam realisasi pembangunan shelter yang relokasi setiap saat dilakukan di 9 Kelurahan di wilayah Kecamatan karena lokasi telah Kartoharjo (Peraturan Walikota Madiun Nomor ditentukan oleh 32 Tahun 2020 Tentang Masterplan Smart City Pemerintah Kota Madiun Tahun 2019-2. Lokasi aman Lokasi tergolong aman karena tidak pernah dari tindak mengalami tindak kriminalitas Timbulan sampah yang dihasilkan kurang lebih Ketercukupan 100 liter per hari. Kapasitas gerobak sampah tempat sampah 840 liter. Ketersediaan tempat sampah di Shelter Kembulsari telah mencukupi. Air bersumber dari PDAM, memenuhi Ketercukupan kebutuhan air untuk aktivitas berdagang PKL kuantitas air bersih sehari- hari pada Shelter Kembulsari. Tidak pernah terjadi pemadaman ketika Ketercukupan daya peralatan listrik digunakan secara bersamaan. Ketersediaan daya listrik sudah mencukupi. Terdapat dua toilet pada Shelter Kembulsari. Ketercukupan Ketersediaan toilet di Shelter Kembulsari kebutuhan toilet mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari para pedagang dan pengunjung Shelter Kembulsari menyediakan lahan parkir 100 SRP untuk kendaraan roda dua atau 13 SRP kendaraan roda empat dalam satu waktu. Standar minimal SRP untuk 1. 000 m2 Ketercukupan lahan lahan yakni 59 SRP. Shelter Kembulsari dengan total luas 1. 700 m2 harus menyediakan minimal 100 SRP. Lahan parkir pada Shelter Kembulsari telah mencukupi kebutuhan lahan parkir untuk aktivitas berdagang PKL sehari-hari Total Klasifikasi Kesesuaian Cukup Sesuai Dengan 5 pedagang yang menempati kios-kios di shelter ini, tingkat produksi sampah harian yang dihasilkan sekitar 100 liter dengan sistem pengelolaan sampah yang memadai. Kebutuhan air bersih untuk keperluan memasak, kebersihan, dan toilet dipenuhi dengan baik melalui pasokan PDAM meskipun jumlah air yang disediakan tidak diketahui Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 secara pasti. Fasilitas listrik stabil dengan daya 450 watt per kios mendukung operasional harian para PKL. Dua toilet yang ada mampu melayani hingga 100 pengunjung sehari cukup untuk memenuhi kebutuhan sanitasi. Shelter ini juga memiliki lahan parkir yang luas, mampu menampung hingga 100 kendaraan roda dua atau 13 kendaraan roda empat, yang sesuai dengan standar minimal Satuan Ruang Parkir (SRP) untuk luas area 1. 700 m2. Secara keseluruhan. Shelter Kembulsari memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk operasional PKL. Namun, lokasinya yang dekat dengan jalan kolektor dengan arus lalu lintas cepat serta jarak dari aktivitas utama mengurangi potensi kunjungan meskipun keamanan dan fasilitas lainnya sudah cukup memadai. Gambar 1. Peta Lokasi Shelter Kembulsari Gambar 2. Fasilitas Pendukung di Shelter Kembulsari 2 KESESUAIAN SHELTER REJOMULYO SEBAGAI LOKASI SHELTER PKL DI KAWASAN PERKOTAAN MADIUN Hasil penelitian tentang kesesuaian Shelter Rejomulyo sebagai lokasi shelter PKL di Kawasan Perkotaan Madiun menunjukkan bahwa shelter ini berada dalam lingkungan permukiman dengan tingkat keramaian aktivitas yang rendah sehingga potensi kunjungan masyarakat juga relatif rendah. Meskipun demikian, para PKL yang berdagang di shelter ini memilih untuk berdagang sepanjang hari dari pukul 06. 00 hingga 18. 00 WIB dengan asumsi kebutuhan masyarakat terhadap makanan dan minuman siap saji akan tetap ada sepanjang waktu. Shelter ini memiliki kios-kios dengan ukuran 3x3 m2. PKL yang berdagang disana tidak dikenakan retribusi oleh pemerintah, dan hanya membayar biaya pemeliharaan, kebersihan, serta kebutuhan air dan listrik. Shelter Rejomulyo dilalui oleh jalan lokal yang menghubungkan antar permukiman di Kelurahan Rejomulyo dan tidak dilalui oleh layanan angkutan kota yang mengurangi aksesibilitas dan potensi kunjungan. Keamanan di shelter ini terbilang baik, dengan PKL yang saling menjaga keamanan dan belum pernah terjadi tindak kriminalitas. Shelter ini diisi delapan pedagang dengan fasilitas fisik yang mencakup kios, gerobak, dan kontainer, serta tempat sampah dengan kapasitas total sekitar 460 liter, yang mencukupi untuk menampung timbulan sampah harian sekitar 180 liter. Air bersih Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 disediakan melalui toren dengan kapasitas total 1. 040 liter yang mencukupi kebutuhan sehari-hari PKL untuk memasak dan keperluan kebersihan. Shelter ini juga dilengkapi dengan meteran listrik berdaya 1. 300 watt yang cukup untuk kebutuhan listrik harian para PKL, meskipun penggunaan listrik diatur dengan iuran harian. Terdapat dua toilet yang mampu melayani pengunjung harian hingga 100 orang, yang mencukupi kebutuhan sanitasi di shelter tersebut. Lahan parkir seluas 90 m2 dapat menampung sekitar 60 kendaraan roda dua dan 7 kendaraan roda empat, sesuai dengan standar minimal SRP yang ditentukan untuk area seluas 900 m2. Meskipun sebagian besar pengunjung datang dengan kendaraan roda dua, fasilitas parkir yang ada sudah mencukupi kebutuhan harian. Gambar 3. Peta Lokasi Shelter Rejomulyo Gambar 4. Fasilitas Pendukung di Shelter Rejomulyo Secara keseluruhan, fasilitas fisik di Shelter Rejomulyo cukup memadai untuk mendukung aktivitas berdagang PKL, meskipun aksesibilitas dan potensi kunjungan masyarakat dapat ditingkatkan dengan adanya konektivitas yang lebih baik ke jalur transportasi umum dan lokasi dengan aktivitas yang lebih tinggi. Evaluasi ini menyoroti pentingnya penempatan strategis dan dukungan infrastruktur untuk memaksimalkan potensi shelter PKL dalam mendukung ekonomi lokal dan memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Berikut merupakan tabel analisis skoring kesesuaian Shelter Rejomulyo sebagai lokasi shelter PKL. Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4, total keseluruhan skor variabel pada lokasi Shelter Rejomulyo adalah 3 yang berada dalam rentang skor 2,1 Ae 3. Dengan demikian, lokasi Shelter Rejomulyo dikategorikan sebagai cukup sesuai sebagai lokasi shelter PKL. Kesesuaian Lokasi Shelter Rejomulyo sebagai lokasi shelter PKL didasarkan pada jarak aktivitas utama yang mendukung, keamanan lokasi, serta kelengkapan sarana dan prasarana seperti tempat sampah, air bersih, daya listrik, toilet, dan lahan parkir. Namun, terdapat kelemahan signifikan pada aksesibilitas, terutama karena shelter ini tidak dilalui oleh transportasi umum dan tidak memiliki halte atau terminal dalam radius yang dapat dijangkau pejalan kaki. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan aksesibilitas untuk mendukung keterjangkauan lokasi oleh konsumen potensial. Meskipun demikian, kinerja optimal dalam aspek keamanan dan prasarana mampu mempertahankan kategori cukup sesuai yang berpotensi ditingkatkan melalui perbaikan infrastruktur transportasi. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 Variabel Kedekatan aktivitas utama Aksesibilitas Aksesibilitas Keamanan Lokasi Keamanan Lokasi Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Tabel 4. Analisis Skoring Kesesuaian Shelter Rejomulyo sebagai Lokasi Shelter PKL Bobot Skor Indikator Hasil Analisis Peneliti Indikator Parameter Terdapat aktivitas utama berupa aktivitas permukiman dengan jarak 10 meter dari lokasi Jarak aktivitas Shelter Rejomulyo. Aktivitas utama yang utama yang didekati didekati oleh Shelter Kembulsari memiliki jarak lokasi berdagang 10 meter sehingga indikator jarak aktivitas PKL utama yang didekati termasuk dalam kategori Ketersediaan trayek transportasi umum Shelter Rejomulyo tidak dilalui oleh menuju lokasi transportasi umum (Angkutan Kota Madiu. berdagang PKL Jangkauan sarana pendukung berupa Tidak terdapat halte dan terminal di sekitar halte atau terminal Shelter Rejomulyo yang dapat ditempuh di sekitar lokasi dengan jalan kaki sejauh 400 m berdagang PKL Lokasi Shelter Rejomulyo telah termasuk Lokasi aman dari dalam realisasi pembangunan shelter yang relokasi setiap saat dilakukan di 9 Kelurahan di wilayah Kecamatan karena lokasi telah Kartoharjo (Program pengembangan sarana ditentukan oleh bagi PKL dalam Peraturan Walikota Madiun Pemerintah Nomor 32 Tahun 2020 Tentang Masterplan Smart City Kota Madiun Tahun 2019-2. Shelter Kembulsari tergolong aman Masyarakat dan PKL di Shelter Rejomulyo Lokasi aman dari bergotong royong menjaga keamanan serta tindak kriminalitas tidak pernah terjadi tindak kriminalitas pada lokasi Shelter Rejomulyo Total timbulan sampah yang dihasilkan kurang lebih sekitar 180 liter per hari. Kapasitas tempat sampah yang terdsedia 460 liter Ketercukupan Kapasitas tong sampah yang tersedia di tempat sampah Shelter Rejomulyo mampu menampung semua sampah yang dihasilkan dari aktivitas berdagang PKL sehari-hari Kesuluruhan 8 kios pada Shelter Rejomulyo membutuhkan kurang lebih 360 liter air bersih. Ketercukupan Kapasitas air sebanyak 1. 040 liter yang kuantitas air bersih ditampung pada toren air. Kebutuhan air bersih pada lokasi Shelter Rejomulyo terbilang Tidak pernah terjadi pemadaman selama aktivitas berdagang berlangsung, bahkan Ketercukupan daya ketika para PKL menggunakan peralatan listrik secara bersamaan. Daya listrik pada lokasi Shelter Rejomulyo terbilang mencukupi. Terdapat 2 toilet di Shelter Rejomulyo. Ketersediaan fasilitas toilet pada Shelter Ketercukupan Rejomulyo telah mencukupi kebutuhan baik kebutuhan toilet dari pedagang maupun pengunjung untuk aktivitas berdagang PKL sehari-hari. Shelter Rejomulyo menyediakan lahan parkir sebesar 60 SRP untuk kendaraan roda dua atau 7 SRP kendaraan roda empat dalam satu Ketercukupan lahan Standar minimal satuan ruang parkir 000 m2 lahan yakni 59 SRP. Shelter Rejomulyo dengan total luas 900 m2 harus menyediakan minimal 53 SRP. Lahan parkir Skor Variabel Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 Variabel Indikator Hasil Analisis Peneliti pada Shelter Rejomulyo telah mencukupi kebutuhan lahan parkir untuk kendaraan roda dua saat aktivitas berdagang PKL sehari-hari. Total Klasifikasi Kesesuaian Bobot Indikator Skor Parameter Skor Variabel Cukup Sesuai 3 KESESUAIAN SHELTER KAMPIR SEBAGAI LOKASI SHELTER PKL DI KAWASAN PERKOTAAN MADIUN Shelter Kampir memiliki luas 2. 000 mA dan berlokasi dekat dengan permukiman dan lapangan olahraga, yang memberikan potensi kunjungan yang tinggi. Meskipun tidak dilalui angkutan umum, aksesibilitasnya didukung oleh jalan lokal yang memperlambat kendaraan, memungkinkan kunjungan dengan moda transportasi pribadi. Shelter ini dihuni oleh 10 PKL yang menyediakan makanan dan minuman siap saji, dengan kios berukuran 3x3 m2. Gambar 5. Peta Lokasi Shelter Kampir Gambar 6. Fasilitas Pendukung di Shelter Kampir Fasilitas fisik termasuk tempat sampah yang cukup dan gerobak sampah berkapasitas 840 liter, cukup untuk menampung sampah harian. Kebutuhan air bersih dipenuhi oleh PDAM, mencukupi kebutuhan PKL dan toilet yang Namun, terdapat keterbatasan fasilitas hanya satu toilet untuk 90-100 pengunjung harian sehingga dapat menimbulkan antrean. Ketersediaan listrik dengan daya 1. 300 watt dirasa kurang mencukupi, sering terjadi pemadaman saat peralatan digunakan bersamaan. Selain itu, lahan parkir sebesar 90 mA hanya mampu menampung 60 kendaraan roda dua dan 5 kendaraan roda empat, yang tidak memenuhi standar minimal lahan parkir yang diperlukan. Meskipun demikian, lokasi strategis Shelter Kampir mendukung aktivitas PKL dan menarik kunjungan masyarakat, namun perlu penambahan fasilitas pendukung seperti toilet, listrik yang lebih memadai, dan lahan parkir yang lebih luas untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung dan kesesuaian shelter sebagai tempat usaha PKL. Ketidakcukupan daya listrik Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 dapat menyebabkan pemadaman saat aktivitas berdagang berlangsung serta dapat mengganggu kenyamanan pedagang dan pelanggan, sehingga perlu adanya peningkatan kapasitas jaringan listrik. Selain itu, keterbatasan lahan parkir dapat membatasi jumlah pengunjung dan memengaruhi potensi ekonomi shelter ini. Untuk meningkatkan kategori kesesuaian lokasi, pengadaan fasilitas transportasi umum serta pengelolaan infrastruktur yang lebih baik menjadi prioritas yang perlu dipertimbangkan. Tabel 5 menyajikan analisis skoring kesesuaian Shelter Kampir sebagai lokasi shelter PKL. Dari tabel tersebut, diketahui bahwa total keseluruhan skor variabel pada lokasi Shelter Kampir adalah 2,6 yang berada dalam rentang skor 2,1Ae3. Dengan demikian, lokasi Shelter Kampir termasuk dalam kategori cukup sesuai sebagai lokasi shelter PKL. Shelter ini memiliki kesesuaian dalam kedekatan dengan aktivitas utama serta kelengkapan sarana seperti tempat sampah, kuantitas air bersih, dan kebutuhan toilet. Namun, terdapat beberapa kekurangan, antara lain keterbatasan daya listrik, ketersediaan lahan parkir yang belum mencukupi, serta tidak adanya akses transportasi umum dan fasilitas halte atau terminal terdekat. Variabel Kedekatan aktivitas utama Aksesibilitas Aksesibilitas Keamanan Lokasi Keamanan Lokasi Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Kelengkapan Sarana dan Prasarana Tabel 5. Analisis Skoring Kesesuaian Shelter Kampir sebagai Lokasi Shelter PKL Bobot Skor Indikator Hasil Analisis Peneliti Indikator Parameter Aktivitas utama berupa aktivitas permukiman yang berjarak 30 meter dari lokasi Shelter Jarak aktivitas Kampir. Aktivitas utama zona ruang terbuka utama yang didekati berupa lapangan olahraga yang berjarak 40 lokasi berdagang meter dari lokasi shelter. Jarak aktivitas utama PKL sesuai yakni 0 Ae 50 meter dari lokasi shelter PKL sehingga indikator jarak aktivitas utama yang didekati termasuk dalam kategori sesuai Ketersediaan trayek transportasi umum Shelter Kampir tidak dilalui oleh transportasi menuju lokasi umum (Angkutan Kota Madiu. berdagang PKL Jangkauan sarana pendukung berupa Tidak terdapat halte dan terminal di sekitar halte atau terminal Shelter Kampir yang dapat ditempuh dengan di sekitar lokasi jalan kaki sejauh 400 m berdagang PKL Lokasi Shelter Kampir termasuk dalam realisasi Lokasi aman pembangunan shelter yang dilakukan di 9 dari relokasi setiap Kelurahan di wilayah Kecamatan Kartoharjo saat karena lokasi (Program pengembangan sarana bagi PKL telah ditentukan dalam Peraturan Walikota Madiun Nomor 32 oleh Pemerintah Tahun 2020 Tentang Masterplan Smart City Kota Madiun Tahun 2019-2. Shelter Kampir tergolong aman. Seluruh Lokasi aman PKL pada Shelter Kampir bekerja sama dari tindak menjaga keamanan serta tidak pernah terjadi tindak kriminalitas pada lokasi Shelter Kampir Timbulan sampah yang dihasilkan oleh PKL pada lokasi Shelter Kampir kurang lebih sekitar 240 liter. Kapasitas gerobak sampah yang ter Ketercukupan sedia pada lokasi Shelter Kampir kurang lebih tempat sampah 840 liter. Kapasitas gerobak sampah yang tersedia di Shelter Kampir mampu menampung semua sampah yang dihasilkan dari aktivitas berdagang PKL sehari-hari Keseluruhan kios membutuhkan kurang lebih Ketercukupan 450 liter air bersih. Air dihasilkan oleh PDAM kuantitas air bersih untuk memenuhi kebutuhan aktivitas secara keseluruhan terbilang sangat mencukupi Daya listrik pada lokasi Shelter Kampir belum Ketercukupan daya mencukupi kebutuhan listrik PKL. Hal ini dikarenakan masih sering terjadi pemadaman Skor Variabel Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 Variabel Indikator Pendukung Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Ketercukupan kebutuhan toilet Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Ketercukupan lahan Hasil Analisis Peneliti apabila para PKL menggunakan peralatan listrik secara bersamaan Shelter Kampir hanya memiliki 1 toilet. Ketersediaan toilet pada Shelter Kampir dapat mencukupi kebutuhan toilet untuk aktivitas berdagang PKL sehari-hari dikarenakan lama kunjungan masyarakat tergolong singkat sehingga tidak akan menyebabkan antrean panjang saat pedagang atau pengunjung akan menggunakan toilet Shelter Kampir menyediakan lahan parkir 60 SRP untuk kendaraan roda dua atau 5 SRP kendaraan roda empat dalam satu waktu Standar minimal satuan ruang parkir untuk 000 m2 yakni 59 SRP. Shelter Kampir dengan total luas 2. 000 m2 harus menyediakan minimal 118 SRP. Lahan parkir di Shelter Kampir belum mencukupi kebutuhan lahan parkir untuk kendaraan roda dua saat aktivitas berdagang PKL sehari-hari Total Klasifikasi Kesesuaian Bobot Indikator Skor Parameter Skor Variabel Cukup Sesuai 4 KESESUAIAN SHELTER BANJAREJO SEBAGAI LOKASI SHELTER PKL DI KAWASAN PERKOTAAN MADIUN Shelter Banjarejo, yang terletak di Kelurahan Banjarejo. Kecamatan Taman. Kota Madiun, memiliki luas 774 mA dan berdekatan dengan lahan pertanian, sehingga tingkat keramaiannya rendah dan pengunjung umumnya adalah pelanggan tetap. Letaknya yang jauh dari aktivitas utama seperti permukiman dan perkantoran membuat interaksi dan potensi kunjungan masyarakat ke shelter ini terbatas, meskipun dilalui oleh jalan lokal yang menghubungkan antar Shelter ini tidak dilalui oleh angkutan kota, sehingga pengunjung lebih banyak menggunakan transportasi Terdapat 5 PKL di shelter ini yang menempati kios berukuran 3x3 m2, menyediakan makanan dan minuman siap Gambar 7. Peta Lokasi Shelter Banjarejo Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 Gambar 8. Fasilitas Pendukung di Shelter Banjarejo Tempat sampah yang tersedia mampu menampung seluruh sampah yang dihasilkan setiap hari, dan air bersih diperoleh dari sumur dengan toren berkapasitas 520 liter, yang cukup untuk kebutuhan harian. Listrik disuplai dengan 300 watt, dan meskipun keterbatasan daya tersebut, tidak pernah terjadi pemadaman saat peralatan listrik digunakan bersamaan. Shelter ini juga memiliki satu toilet yang cukup untuk melayani 60-90 pengunjung harian, sesuai dengan parameter yang telah ditentukan. Lahan parkir seluas 100 mA mampu menampung 66 kendaraan roda dua dan 8 kendaraan roda empat, yang memenuhi standar minimal SRP yang dibutuhkan. Secara keseluruhan, meskipun terletak jauh dari aktivitas utama. Shelter Banjarejo cukup memenuhi kebutuhan dasar bagi PKL dan pengunjung, namun potensi kunjungan masyarakat dari luar lingkungan tetap rendah karena faktor lokasi dan aksesibilitas. Tabel 6 merupakan tabel analisis skoring kesesuaian Shelter Banjarejo sebagai lokasi shelter PKL. Total keseluruhan skor variabel pada lokasi Shelter Banjarejo adalah 2 yang berada dalam rentang skor 1,1Ae2. Dengan demikian, lokasi Shelter Banjarejo termasuk dalam kategori kurang sesuai sebagai lokasi shelter PKL. Beberapa indikator menunjukkan kesesuaian, seperti ketercukupan tempat sampah, kuantitas air bersih, daya listrik, dan kebutuhan toilet, yang mencukupi untuk mendukung aktivitas PKL. Namun, terdapat beberapa aspek yang perlu Salah satunya adalah jarak aktivitas utama yang tidak sesuai, dengan aktivitas utama terdekat berada lebih dari 50 meter, yang dapat mengurangi daya tarik lokasi shelter bagi PKL dan pelanggan. Selain itu, tidak adanya akses transportasi umum atau halte di sekitar shelter juga menjadi kelemahan utama, yang membatasi aksesibilitas bagi pengunjung dan pedagang. Keterbatasan fasilitas transportasi umum, meskipun lokasi shelter sudah ditetapkan dalam program pemerintah, menunjukkan pentingnya penyesuaian infrastruktur untuk mendukung kelancaran akses. Oleh karena itu, agar shelter ini lebih sesuai bagi kegiatan PKL, perlu adanya pengembangan jaringan transportasi atau peningkatan aksesibilitas yang lebih mudah ke lokasi tersebut. Variabel Kedekatan aktivitas utama Aksesibilitas Aksesibilitas Keamanan Lokasi Tabel 6. Analisis Skoring Kesesuaian Shelter Banjarejo sebagai Lokasi Shelter PKL Bobot Skor Indikator Hasil Analisis Peneliti Indikator Parameter Aktivitas utama terdekat yakni lahan pertanian dengan jarak 10 meter dari lokasi shelter. Terdapat aktivitas perkantoran dengan jarak 600 Jarak aktivitas meter serta aktivitas permukiman yang berjarak utama yang 200 meter dari lokasi shelter. Aktivitas utama didekati lokasi dekat Shelter Kembulsari memiliki jarak 600 berdagang PKL meter dan 200 meter sehingga indikator jarak aktivitas utama yang didekati oleh lokasi shelter termasuk dalam kategori tidak sesuai. Ketersediaan trayek transportasi Shelter Banjarejo tidak dilalui oleh transportasi umum menuju umum (Angkutan Kota Madiu. lokasi berdagang PKL Jangkauan sarana pendukung berupa Tidak terdapat halte dan terminal di sekitar halte atau terminal Shelter Banjarejo yang dapat ditempuh dengan di sekitar lokasi jalan kaki sejauh 400 m berdagang PKL Lokasi aman dari Lokasi Shelter Banjarejo telah termasuk dalam relokasi setiap realisasi pembangunan shelter yang dilakukan di Skor Variabel Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 Variabel Indikator Hasil Analisis Peneliti saat karena lokasi telah ditentukan oleh Pemerintah 7 Kelurahan di wilayah Kecamatan Taman (Peraturan Walikota Madiun Nomor 32 Tahun 2020 Tentang Masterplan Smart City Kota Madiun Tahun 2019-2. Shelter Banjarejo tergolong aman. Sejauh ini, tidak pernah terjadi tindak kriminalitas pada lokasi Shelter Banjarejo Timbulan sampah yang dihasilkan kurang lebih sekitar 100 liter. Kapasitas tempat sampah yang tersedia di Shelter Banjarejo yakni kurang lebih 840 liter. Kapasitas gerobak sampah yang tersedia di Shelter Banjarejo mampu menampung semua sampah yang dihasilkan aktivitas berdagang PKL sehari- hari. Keseluruhan 5 kios di Shelter Banjarejo membutuhkan kurang lebih 225 liter air bersih setiap harinya. Kapasitas air sebanyak 520 liter yang ditampung pada toren air. Kebutuhan air bersih pada lokasi Shelter Banjarejo terbilang Tidak pernah terjadi pemadaman meskipun PKL menggunakan peralatan listrik secara Ketercukupan daya listrik pada lokasi Shelter Banjarejo terbilang mencukupi. Shelter Banjarejo hanya memiliki 1 toilet. Ketersediaan toilet pada Shelter Banjarejo dapat mencukupi kebutuhan toilet untuk aktivitas berdagang PKL sehari-hari dikarenakan durasi kunjungan masyarakat tergolong singkat sehingga tidak akan menyebabkan antrean panjang saat pedagang atau pengunjung akan menggunakan toilet Shelter Banjarejo menyediakan lahan parkir 66 SRP untuk kendaraan roda dua atau 8 SRP kendaraan roda empat dalam satu waktu. Standar minimal SRP untuk 1. 000 lahan yakni 59 SRP. Shelter Banjarejo dengan total luas 774m2 harus menyediakan minimal 46 SRP. Lahan parkir pada Shelter Banjarejo telah mencukupi kebutuhan lahan parkir untuk kendaraan roda dua saat aktivitas berdagang PKL sehari-hari. Total Klasifikasi Kelas Keamanan Lokasi Lokasi aman dari tindak Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Ketercukupan tempat sampah Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Ketercukupan kuantitas air bersih Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Ketercukupan daya listrik Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Ketercukupan kebutuhan toilet Kelengkapan Sarana dan Prasarana Pendukung Ketercukupan lahan parkir Bobot Indikator Skor Parameter Skor Variabel Kurang Sesuai KESIMPULAN Penelitian ini menganalisis kesesuaian lokasi shelter Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kawasan Perkotaan Madiun, dengan hasil menunjukkan variasi dalam kesesuaian lokasi berdasarkan fasilitas dan aksesibilitas. Shelter Kembulsari dinilai cukup sesuai meski memiliki fasilitas memadai, namun jaraknya yang jauh dari aktivitas utama mengurangi potensi aliran pelanggan. Shelter Rejomulyo, meskipun berlokasi dekat permukiman, kurangnya aksesibilitas transportasi umum menjadi kelemahan utama. Shelter Kampir memiliki keunggulan lokasi dekat permukiman dan lapangan olahraga, namun kurangnya fasilitas daya listrik dan aksesibilitas dapat mempengaruhi kesediaan PKL untuk berdagang pada lokasi tersebut. Shelter Banjarejo dinilai kurang sesuai karena jaraknya yang jauh dari aktivitas utama yang produktif dan minimnya akses transportasi umum. Temuan ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan aktivitas utama yang produktif dan aksesibilitas transportasi umum sangat mempengaruhi kesesuaian lokasi shelter PKL, di mana fasilitas dasar yang memadai tidak cukup untuk menjamin keberhasilan tanpa lokasi yang strategis dan mudah diakses pelanggan. Untuk itu, perbaikan aksesibilitas dan pemilihan lokasi yang tepat sangat penting bagi stabilitas Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah. Kota, dan Permukiman. Volume 8. Issue 1, 2026, 75-89 dan keberlanjutan usaha PKL di Kawasan Perkotaan Madiun. Temuan ini dapat membantu pemerintah daerah dalam merencanakan dan mengelola shelter PKL dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, serta sebagai referensi untuk meningkatkan infrastruktur transportasi dan penataan kawasan. Keterbatasan penelitian ini terletak pada cakupan yang terbatas dan fokus hanya pada fasilitas dan aksesibilitas, tanpa mempertimbangkan faktor sosialekonomi yang dapat mempengaruhi keberhasilan shelter. Penelitian lebih lanjut yang mencakup lebih banyak variabel dan kawasan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif bagi pengelolaan PKL yang lebih efektif. DAFTAR PUSTAKA