74 PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL GEOMETRI PADA MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FPMIPA IKIP PGRI BALI TAHUN AKADEMIK 2015/2016 Drs. I Made Surat. MPd. Dosen jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI BALI Email : madesurat@gmail. ABSTRACT The Problem Based Learning (PBL) Influence on Ability to Solve Problems of Geometri The FPMIPA StudentAoof Mathematics Department in Academic Year 2015/2016 This study aimed to determine the effect of Problem Based Learning upon the ability to solve problems of Geometry and how the level of activity the studentAos of Mathematics Department. FPMIPA IKIP PGRI Bali. This type of research is quasi eksperiment, by design matching post test only control group. From the population of 133 people taken from a sample of the research of 2 classes. There are 31 pairs of sample as a group eksperimen and control. In the group eksperiment given PBL and group control given a convensional learning. After 4 meeting, the data collected with the test and observation sheet. The technique of analisis data used for test hipotesis by t-test technique for correlated samples, at significant level 5 % for df = 30. analyze the activity level used descriptive analysis. The analysis result obtained t-test = 3,84, confirm with t-table = 2,042 evidently t-test > t-table, this means Ho rejected and Ha accepted. So that the conclusion of this research: there is an effect of PBL toward ability to solve problems of Geometriy, and the studentAo learning activity in category AoactiveAo. The finding of this research is recommended that the mathematic teachers implement PBL in the suitable mathematic teaching process. Keywords: Problem Based Learning. Geometry ability. PENDAHULUAN Matakuliah geometri merupakan mata kuliah yang mengkaji tentang bangun datar dan bangun ruang. Topik geometri diajarkan dari tingkat Pendidikan Dasar sampai tingkat Sekolah Lanjutan. Melalui pengetahuan geometri peserta didik dapat mengembangkan pemahamannya terhadap dunia sekitarnya. Bahkan kepada anak di Taman Kanak Kanak juga dapat dikenalkan bangun bangun Geometri dengan bangun ruangnya merupakan pengetahuan dasar yang harus dipelajari peserta didik. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika sebagai calon guru harus menguasai topik-topik geometri sehingga dapat mendukung kompetensinya dalam mengelola pembelajaran pokok bahasan geometri, yang dirasakan masih sulit dicerna oleh peserta didik di sekolah. Oleh karena itu sudah seharusnya mahasiswa memiliki pengetahuan yang memadai tentang konsep titik, garis, bidang dan ruang, serta bangunbangun geometri yang meliputi bangun datar dan bangun ruang serta pengukurannya. Bangun-bangun digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan nyata maupun dalam penerapannya di bidang mata pelajaran lain. Pengetahuan tentang bangun-bangun ruang dapat mengembangkan pemahaman anak didik terhadap dunia sekitarnya. Penguasaan akan konsep dan prisip dasar matematika akan sangat membantu dalam menyelesaikan soalsoal geometri. Setiap soal geometri memuat perpaduan konsep dan prinsip yang harus dicermati tentang hubungan yang terjadi di Di sisi lain mahasiswa harus pula menguasai algoritma penyelesaian serta dapat mengevaluasi akan kesahihan pola pikir yang Bekal penguasaan materi harus pula dilengkapi dengan kemampuan mengelola peroses pembelajaran sehingga transfer of learning benar-benar dapat terjadi secara maksimal. Terkait matematika, banyak kecendrungan baru yang tumbuh dan berkembang di banyak Negara sebagai inovasi dan informasi model-model pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tantangan sekarang dan mendatang. Beberapa di antaranya adalah model-model Contextual learning. Cooperative learning. Realistic Mathematics Education (RME). Problem Solving dan lain lainnya. Dalam penerapan kurikulum 2013 pembelajaran, yakni dari pembelajaran konvensional menuju kepada pembelajaran yang kreatif dan inovatif sehingga aktivitas peserta didik benar-benar maksimal. Hal ini sesuai dengan makna perkuliahan sebagai benar-benar membuat mahasiswa aktif mencari tahu, bukannya kepada dosen yang mengajar. Pembelajaran yang saintifik untuk menunjang implementasi kurikulum 2013 harus benarbenar diterapkan di depan kelas. Salah satu Pembelajaran Berbasil Masalah ( Problem Based Learning = PBL). Pembelajaran ini didasarkan atas teori kognitif yakni Mahasiswa terlatih aktif mengkonstruksi pengetahuan sendiri serta kemampuan berpikir kritis untuk memecahkan masalah yang dihadapi, baik secara mandiri maupun berkelompok. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikemukakan rumusan permasalahan yaitu, apakah penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) kemampuan menyelesaikan soal Geometri Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali Tahun 2015/2016. Bagaimana tingkat aktivitas belajar pada kelompok Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali Tahun 2015/2016. Geometri Ruang Kata geometri berasal dari bahasa Yunani AuGeosAy yang berarti bumi, dan AumetronAy yang berarti ukuran. Nenek moyang orang Mesir. Cina. Babylonia. Romawi dan Yunani keperluan survey, navigasi, astronomi dan Bangsa Yunani telah menyusun secara sistematis fakta-fakta geometri yang telah ditemukan alas an-alasan logis dan saling Dalam geometri ada istilahistilah yang tak terdefinisikan seperti titik, garis, dan bidang. Istilah ini disebut sebagai unsur primitive, yang digunakan sebagai awal pendefinisian dan sekaligus sebagai dasar dari definisi seluruh istilah-istilah dalam geometri. Akan tetapi makna-maknanya dapat diberikan melalui deskripsi dari masing-masing istilah Mata kuliah geometri ruang bertujuan agar mahasiswa mampu menjelaskan gometri sebagai suatu serta memiliki daya tanggap ruang yang tajam dan menguasai bangunbangun geometri untuk pembelajaran di sekolah, dan mendukung pemahaman materi perkuliahan lainnya. Deskripsi dari mata kuliah geometri ruang meliputi, mempelajari tentang unsur-unsur ruang, kesejajaran, ketegaklurusan, proyeksi, sudut dalam ruang, jarak prisma, limas, tabung, kerucut, bola dan bidang banyak beraturan. Menurut Van Hiele ( Gatot Muhsetyo, 2. tentang hierarkis belajar geometri, disebutkan bahwa eksistensi dari lima tingkatan yang berbeda tentang pemikiran geometrik yaitu, . level 0 . , . level 1 . , . level 2 . eduksi forma. , . level 3 . , dan . level 4 . Untuk tingkat SLTA dan mahasiswa umumnya telah mencapai level 3 dan 4. Pada level 3 ditandai dengan kemampuan menggunakan aksiomatik-deduktif. Untuk level 4 ditandai dengan kemampuan membedakan dan mengaitkan system-sistem aksiomatik yang berbeda dan merupakan level dari matematis. Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) Pembelajaran berbasis masalah awal mulanya diterapkan di Perguruan Tinggi, dalam suatu perkuliahan medis. Dr Howard Borrows . alam Sani, mendefinisikan PBL sebagai berikut: AuA learning method based on principle of using problems as a starting point for the acquisition and interation of new knowledgeAy. Dari definisi ini maka jelas bahwa masalah sebagai titik tolak dari pembelajaran PBL. Charles dan Laster (Walk,1. mendefinisikan bahwa suatu masalah adalah suatu tugas yang mana . menyelesaikannya, . seseorang tak punya prosedur yang siap pakai untuk memperoleh selesaian, . seseorang harus melakukan suatu usaha untuk memperoleh selesaian. Bentuk pertanyaan yang memerlukan pemecahan masalah antara lain, . soal ceritera . erbal/word proble. , . soal tidak rutin . on-routine mathematics problem. , dan . soal nyata . eal/application problem. PBL berkaitan dengan teori konstruktivisme, yakni bagaimana peserta didik dapat membangun pengetahuan geometrinya melalui interaksi dengan lingkungannya. Peserta didik belajar melalui upaya penyelesaian masalah dunia Dalam peroses pembelajaran ini menuntut peserta didik untuk aktif melakukan permasalahan yang dihadapinya. Penerapan PBL dalam perkuliahan mempunyai beberapa cirri antara lain . menyajikan permasalahan, . mengajukan pertanyaan, . memfasilitasi penyelidikan, . membuka dialog. Dari kegiatan perkuliahan yang menerapkan PBL, maka dapat dikembangkan proses berpikir antara lain. membuat perencanaan, . berpikir generatif, . berpikir sistematis, . berpikir analogis, . berpikir sistemik. Selanjutnya Norman dan Schmidt . menyatakan bahwa PBL dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mentransfer konsep, mengintegrasikan konsep-konsep, meningkatkan ketertarikan belajar, dan Tahapan awal yang bisa dilakukan setelah menyajikan permasalahan adalah: . mendefinisikan permasalahan, . mengkaji permasalahan, . mengembangkan ide-ide penyelesaian bisa disertai dengan mengajukan . Tahapan perkuliahan dengan metode PBL adalah sebagai berikut: Dosen atau mahasiswa mengajukan permasalahan yang sesuai dengan topic yang akan dibahas, dengan criteria terkait dengan situasi nyata, kompleks dan kontekstual Membentuk mendiskusikan permasalahan, untuk mencari konsep_konsep yg terkait dan melakukan memahami permasalahan dan mengajukan Membuat perencanaan untuk penyelesaian permasalahan, dengan berbagi tugas untuk mencari konsep yang relevan Mahasiswa melakukan observasi untuk mengumpulkan fakta-fakta, konsep dan prinsip dari berbagai sumber Mahasiswa kembali melakukan diskusi kelompok untuk bertukar informasi yang mengarah kepada penyelesaian masalah Kelompok menyampaikan penyelesaian permasalahan yang dibahas di depan kelas. Melakukan pengkajian terhadap jawaban atau penyelesaian masalah, ini dilakukan oleh semua mahasiswa, untuk melihat kontribusi, penilaian diri, maupun penilaian teman sejawat. Pembelajaran dengan metode PBL akan dapat melibatkan mahasiswa dan sekaligus melatih diri untuk belajar memecahkan masalah, mengelola masalah, aktif dan kreatif mengumpulkan fakta, konsep dan prinsip, serta mengintegrasikannya secara PBL juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Dari uraian di atas maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian. AuAda PBL kemampuan menyelesaikan soal Geometri Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali Tahun 2015/2016. METODE PENELITIAN Jenis eksperimen semu atau Quasi Experiment ( Campbell dan J. Stanley, 1. Hal ini disebabkan kondisi yang tak memungkinkan untuk melakukan control secara ketat sebagaimana penelitian di laboratorium. Rancangan yang digunakan adalah rancangan Mathcing only post test only control group Variabel bebasnya adalah Metode Pembelajaran, yang terdiri dari Metode PBL dan Metode Konvensional, sedangkan variable terikatnya adalah Kemampuan menyelesaikan soal-soal Geometri. Dua kelompok sampel digunakan yang diambil secara acak bertahap . ulti stage random samplin. Dari populasi yang berjumlah 4 kelas . , pada tahap pertama dipilih secara acak 2 kelas sebagai sampel. Kelas yang terpilih adalah kelas IV A yang jumlahnya 33 sebagai kelompok control dan IV C jumlahnya 35 sebagai kelompok eksperimen. Pada tahap . Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kelompok yang setara. Menurut Hadi . , cara yang terbaik untuk menyeragamkan kedua kelompok adalah memasangkan individu ke dalam salah satu karakteristik yang dianggap mempunyai kaitan dengan variabel yang diteliti. Indikator yang digunakan untuk mensejajarkan ke dua kelompok adalah Indeks Prestasi semester sebelumnya (Sm . Dari hasil penyetaraan ini hanya diperoleh 31 pasang yang dianggap Hal-hal yang dipersiapkan dalam eksperimen ini adalah: menyiapkan perangkat pembelajaran PBL, menyiapkan instrument pengumpul data yang berupa tes uraian dan lembar observasi serta pencatat dokumen. Dalam pelaksanaannya peneliti melakukan observasi dibantu oleh teman dosen Yunior dantelah melakukan kolaborasi dan koordinasi dengan peneliti. Tabel 1. Sumber. Jenis. Teknik dan Alat Pengumpul Data Sumber Data Jenis Data Teknik Pengumpul Data Dokumen Indeks Prestasi Sm i Dokumenter Mahasiswa Skor Kemampuan Tes Menyelesaikan Soal Geometri (Kuantitati. Mahasiswa Aktivitas . Non Tes Skor kemampuan pemecahan masalah yang diperoleh dari tes uraian sebanyak 5 butir, skornya merentang dari 0 Ae 100. Sebelum digunakan diuji reliabelitas dan validitasnya melalui uji coba pada klas yang tidak terpilih sebagai sampel. Menentukan Instrumen Pencatat Dokumen Tes Uraian Pedoman Observasi validitas butir soal, dihitung dengan menentukan koefisien korelasi. Koefisien korelasi ini dihitung menggunakan rumus Product Moment dari Pearson dengan formula rxy A N Eu XY A AEu X AAEu Y A AuN Eu X A AEu X A Ay AuN EuY A AEuY AAy Keterangan: rxy = koefisien korelasi antara X dan Y. N = Jumlah responden. X = Skor butir tes. Y = Skor total. Untuk mengetahui E k e Eu A b EE reliabilitas instrumen tes tersebut digunakan rumus Alpha, yaitu. r11 A E E 1A A t2 EE E k A 1 e Keterangan: r11 = koefisien reliabilitas. k= Banyak butir soal. Eu A b2 = Jumlah varians skor setiap butir soal. A t2 = Varians skor total. (Arikunto, 2. Setelah koefisien rxy dan r11 diketahui. Mahasiswa yang menjawabnya. Hasil analisis kemudian dibandingkan dengan harga rtabel reliabilitas tes kemampuan menyelesaikan soal Geometri diperoleh r11 sebesar 0. 6017 dengan dengan taraf signifikansi 5%. Apabila rxy dan taraf signifikan 5% diperoleh rtabel sebesar r11 lebih besar dari rtabel maka dapat dikatakan 0. Karena r11 > rtabel maka, tes instrumen tersebut valid dan reliabel. Untuk kemampuan menyelesaikan soal geometri instrument pedoman observasi uji validitasnya tersebut reliabel. menggunakan uji validitas isi melalui Metode analisis data yang digunakan judgement 2 orang pakar. Hasil uji coba untuk menguji hipotesis adalah teknik t-test tentang Validitas dan reliabilitas instrument untuk sampel berkorelasi. Sebelum dilakukan dapat diketahui bahwa dari item tes uraian ada uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji 1 item yang tidak valid. Yaitu butir nomor 5. prasyarat analisis penggunaan uji t. Asumsi Setelah direvisi dari segi bahasa dan yang yang harus dipenuhi adalah normalitas dianggap sebagai penyebab yang mengganggu populasi dan homogenitas varians. Uji validitas butir maka butir yang kurang valid normalitas menggunakan rumus Chi-Kuadrat, tersebut digunakan kembali agar indicator yaitu: dalam kisi-kisi tetap terpenuhi. Hal ini berdasarkan diskusi dengan teman sejawat dan E( f A f )2 E e E . Keterangan: A 2 = nilai Chi-Square. f = frekuensi observasi. A A EuE o fe= frekuensi harapan (Sugiyono, 2. Kriteria pengujian: Jika A 2 hitung< A 2 populasi Fhitung A Ftabel maka varians dalam sub-sub tabel dengan taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan db = . maka dapat disimpulkan populasi Pengujian bahwa sampel berasal dari populasi yang dilakukan pada taraf signifikansi 5%. berdistribusi normal. Homogenitas varians Membandingkan Fhitung Ftabel diuji dengan menggunakan uji F dengan rumus digunakan rumus sebagai berikut. n Ae 1 . ntuk varians terbesa. , dbpenyebut Varians terbesar FA Ae . ntuk Jika Varians terkecil (Sugiyono, 2. Kreteria pengujian, jika bahwa Fhitung C Ftabel maka varians dalam sub-sub berdistribusi normal dan homogen maka untuk menguji hipotesis nol (H. pada penelitian Me A Mk ini digunakan uji-t dengan taraf signifikansi 5% dengan rumus. t hit A Eu n. A . keterangan: M e = rataAerata post-test kelompok eksperimen . M k = rataAerata post-test kelompok Eu b 2 = jumlah deviasi dari mean perbedaan. n = jumlah subjek yang dipasangkan. (Sugiyono, 2. Dalam pengujian ini, digunakan taraf dikumpulkan melalui lembar observasi tentang signifikan 5% dan db = n-1. Jika dalam aktivitas yang terdiri dari 8 asfek pengamatan perhitungan haga thitung > ttabel maka nilai t . Dengan menggunakan skala Likert tersebut signifikan. Hal ini berarti bahwa ada 5 alternatif pengamatan setiap item, yaitu hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis SA (Sangat Akti. A (Akti. CA (Cukup alternatif (H. diterima, dan bila diperoleh Akti. KA (Kurang Akti. dan TA (Tidak harga thitung < ttabel maka t tidak signifikan, hal Akti. Skor masing-masing item berjenjang ini berarti hipotesis nol (H. diterima dan yaitu 5,4,3,2, dan 1. Data tentang aktivitas hipotesis alternatif (H. siswa dalam pembelajaran matematika dengan Analisis tentang aktivitas siswa dalam pendekatan CTL yang berbasis media Geometri PBL interaktif dianalisis dengan statistik deskriptif. Tabel 2. Pedoman Konversi Rentang Skor > Mi 1,5. Sdi Mi 0, 5 Mi 1,5 Sdi Mi - 0, 5 Mi 0,5 Sdi Mi - 1, 5 Mi - 0,5 Sdi Mi - 1,5 Sdi Keterangan: Mi = Mean Ideal = A . ( skor maksimal ideal skor minimal idea. Sdi = 1/3 . Mi dan = rata-rata kelas dari skor setiap lembar observasi. Dengan terendah setiap item adalah 1 dan tertingginya Rentang Skor HASIL DAN PEMBAHASAN Skor kemampuan menyelesaikan soal Geometri pada kelompok eksperimen dapat dideskripsikan sebagai berikut. Dari jumlah Kategori Sangat Aktif Aktif Cukup Aktif Kurang Aktif Tidak Aktif (Nurkencana dan Sunartana, 2. adalah 5, maka skor ninimalnya 8 (=8 item x . dan skor maksimalnya adalah 40 (=8 item x . ini berarti Mi = A . = 24 dan Sdi = 1/3 . = 8 dan rentang skor untuk setiap kategori adalah sebagai berikut: Kategori Sangat Aktif Aktif Cukup Aktif Kurang Aktif Tidak Aktif sampel sebanyak 31orang setelah disajikan ke dalam tabel distribusi frekuensi menjadi 6 kelompok, ternyata kurang lebih 77% mahasiswa yang memperoleh skor 70 ke atas. Sisanya kurang lebih 23 % mahasiswa yang memperoleh skor di bawah 70. Hasil Tabel Tabel 3. Distrbusi Skor Kemampuan Memecahkan Masalah pada Kelompok Eksperimen Kelas Interval Frekuensi Persentase 60 Ae 64 9,68 % 65 Ae 69 12,90% 70 Ae 74 29,03% 75 Ae 79 25,81% 80 Ae 84 16,14% 85 Ae 89 6,45% Jumlah Pada kelompok kontrol, terlihat bahwa ada kurang lebih 17 % mahasiswa memperoleh skor di atas 70. Terdapat kurang lebih 83 % mahasiswa yang memperoleh skor 70 ke bawah. Tabel 4. Distribusi Skor Kemampuan Memecahkan Masalah pada Kelompok Kontrol Kelas Interval Frekuensi Persentase 51 Ae 55 9,68% 56 Ae 60 16,14% 61 Ae 65 32,26% 66 Ae 70 22,57% 71 Ae 75 76 Ae 80 6,45% Jumlah Hasil uji persyaratan analisis yang meliputi uji Uji homogenitas varians juga menunjukkan normalitas diperoleh kesimpulan bahwa bahwa varians dari kedua kelomok bersifat populasi berdistribusi normal. Pada kelompok homogen. Nilai Fhitung = 1,03 dan Ftabel pada db eksperimen diperoleh X2 = 1,65 sedangkan pembilang dan penyebut masing-masing 31pada kelompok control diperoleh X2 = 3,04 1=30 dan sebesar 1,83. yang dibandingkan dengan tabel pada db = 6 Ae 1 = 5 dan didapat X2 . , 5%) = 11,07. Hasil perhitungan uji t untuk sampel yang berkorelasi secara singkat dapat ditampilkan Eu K A 2056 A 66,52 M A Eu E A 2241 A 72,29. sebagai berikut: M k A Eu B A A 179 A A5,77 b A B - MB. t A M e A M k A 72,29 A 66,52 A 5,77 MB A 2104,27 2104,27 Eu b2 n. A . 5,77 5,77 A 3,84 A 1,503 2,26 Nilai t yang diperoleh dalam perhitungan sebesar 3,84. Berdasarkan taraf signifikansi A . t hit A 5% dan derajat kebebasan db = 31-1 = 30 diperoleh nlai ttabel sebesar 2,042 , ini berarti thitung > ttabel maka Ho : berarti Ha : Kesimpulannya adalah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) Geometri mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali Tahun 2015/2016. Analisis data tentang aktivitas siswa dalam Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) menggunakan statistic deskriptif. Menurut Arikunto ( 2. analisis ini didasarkan atas rata-rata kelas ( ). Mean Ideal (M. dan Standar Deviasi Ideal Sdi. Hasil perhitungannya adalah sebagai berikut: Rata-rata kelas dari skor aktivitas sebesar 29,29 ini jika dibandingkan ke dalam sebelumnya, maka berada pada kategori Aktif , yaitu berada pada rentang interval 28 Uji hipotesis menunjukkan hasil yang sangat signifikan, dengan nilai t = 3,84 jauh melampaui di atas t-tabel = 2,042. Hal ini mengindikasikan bahwa kuatnya pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah terhadap kemampuan menyelesaikan soal Geometri. Apabila dicermati jalannya perkuliahan dengan PBL pada awal eksperimen tampak menemui banyak hambatan. Hambatan yang dialami pada awal-awal perkuliahan adalah sulitnya merubah kondisi belajar mahasiswa yang biasanya bersifat pasif, duduk dengan tenang dan dosen mentransfer pengetahuan kepada mahasiswa. Walaupun kadang-kadang diselingi dengan tanya jawab untuk membangun proses interaksi antara dosen dengan mahasiswa. Biasanya pembelajaran seperti itu berorientasi pada target penguasaan Apabila ketuntasan belajar telah tercapai, maka pembelajaran sudah dianggap PBL merupakan pembelajaran yang berbasis masalah. Mulai dari menemukan dan kemudian merumuskannya. Di awal ini mahasiswa mengalami kesulitan dalam masalah-masalah kontekstual namun berkaitan dengan topic yang dibahas, sampai kepada merumuskan Apalagi matematika merupakan ilmu deduktif yang bersifat abstrak. Di antara topiktopik matematika yang paling deket dengan kehidupan nyata adalah topic Geometri. Topik-topik Geometri yang dikemas dalam PBL adalah jarak dua garis dalam ruang. Mahasiswa mengalami kesulitan ketika mendiskusikan untuk mencari penyelesaian dari jarak dua garis yang bersilangan dalam Dengan menggunakan simulasi gambar-gambar video pembelajaran pada kedua kelompok. Pada kelompok eksperimen Nampak aktivitas cukup tinggi, hal ini dapat terjadi karena mahasiswa terangsang dan terus terpacu dalam mengidentifikasi permasalahan yang kontekstual hingga mampu merumuskan Dalam setiap pembelajaran harus disadari oleh pendidik bahwa aktivitas peserta didik sangatlah penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pendidik yang berperan sebagai fasilitator harus mampu mengkondisikan hal ini sehingga dalam pembelajaran terjadi multi interaksi. Pada kelompok yang menerapkan pembelajaran yang konvensional Nampak peran dosen Sekalipun pembelajaran berjalan dengan baik, namun mengembangkan intuisinya, sehingga kurang peka terhadap masalah yang dihadapi. Kedua pembelajaran ini diperlukan dalam konteks yang berkaitan dengan waktu dan karakteristik materi yang akan di bahas. Paling tidak pendidik harus menguasai berbagai model pembelajaran untuk dapat menghidupkan peruses pembelajarannya dan bersifat dinamis. Interpretasi lain dari hasil uji t yang sangat signifinakan adalah adanya keakuratan desain yang digunakan. Pemasangan individu sebagai sampel yang berkorelasi nampaknya belum maksimal mengingat indeks prestasi yang digunakan sebagai indicator, ternyata sudah disempurnakan dg hasil remidi yang merupakan program setiap akhir semester dari Jurusan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Pembelajaran Berbasis Masalah berpengaruh terhadap kemampuan menyelesaikan soal Geometri pada Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2015/2016. Tingkat aktivitas mahasiswa dalam Pembelajaran Berbasis Masalah tergolong Aktif Saran