Jurnal Abdimas Prakasa Dakara https://doi. org/10. 37640/japd. e-ISSN 2776-768X Revitalisasi Peran BUMDes Berbasis Partisipasi Komunitas: Model Capacity Building Menuju Ekonomi Desa Berkelanjutan Di Kabupaten Nagekeo Maria Fatima Coo1. Emanuel KosatA*. Eusabius Saperera NironA 1,2,3 Program Studi Ilmu Pemerintahan . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Katolik Widya Mandira Kupang *kosatemanuel@gmail. Abstrak Penguatan kapasitas pengurus BUMDes di Desa Olaia. Kabupaten Nagekeo adalah sebuah langkah untuk memperbaiki pengelolan dan operasional BUMDes agar lebih mandiri serta mampu berdaya saing. Pengelola BUMDes perlu memiliki keterampilan untuk mengenali potensi yang ada di desa, merancang sistem pengelolaan yang efektif dengan memulai dari rencana kebutuhan sumber daya, jenis usaha yang akan dijalankan, serta melaksanakan proses secara parsipatif, terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan para pengurus serta pengelola BUMDes dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam yang dapat digunakan untuk usaha pengembangan bisnis BUMDes. Metode yang digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat adalah penyuluhan/sosialisasi. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya perkembangan yang signifikan dalam pengetahuan dan kemampuan pengurus BUMDes. Sebanyak 20 pengurus berpartisipasi dalam program ini dengan tingkat kehadiran yang mencapai 100 persen. Adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pengelolaan BUMDes yang bersifat partisipatif dan berkelanjutan sebesar 80 persen. Para pengurus berhasil menciptakan setidaknya tiga usaha baru yang memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada di desa. Peningkatan pendapatan desa yang mencapai 15 persen dalam enam bulan setelah program berlangsung. Dengan demikian, program ini memberikan dampak yang nyata dalam meningkatkan kapasitas pengurus BUMDes serta mendorong kesejahteraan ekonomi masyarakat Desa Olaia. Kata Kunci: Badan Usaha Milik Desa. Berdaya Saing. Capacity Building. Pemberdayaan Komunitas Desa. Pengurus BUMDes Dikirim: 5 Agustus 2025 Direvisi: 3 Oktober 2025 Diterima: 10 Oktober 2025 PENDAHULUAN Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. merupakan entitas yang dimiliki dan dioperasikan oleh desa untuk mengoptimalkan potensi yang ada demi meningkatkan kesejahteraan warga serta kemandirian desa. BUMDes memegang peranan krusial dalam pengembangan potensi ekonomi desa melalui pengelolaan bisnis, investasi, dan penyediaan produk serta layanan untuk masyarakat desa. Secara keseluruhan, jumlah BUMDes di Indonesia kini lebih dari 58. 000 unit, yang menunjukkan perkembangan yang signifikan jika dibandingkan dengan tahuntahun sebelumnya. Namun, masih ada banyak BUMDes yang menghadapi berbagai tantangan, seperti kurangnya pemahaman dan keterampilan di kalangan pengelola, tidak adanya rencana usaha yang jelas, serta terbatasnya sumber daya manusia. Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. adalah suatu lembaga atau usaha ekonomi yang dikelola dengan dana yang berasal dari partisipasi langsung dana desa (Rihi et al. , 2. Content from this work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. 85 | Coo. Kosat & Niron Dalam pelaksanaannya, beberapa BUMDes berperan sebagai penggerak ekonomi desa, menciptakan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan pendapatan Namun, terdapat juga yang mengalami "mati suri" atau belum berjalan dengan baik. Ini terjadi karena kurangnya manajemen yang profesional dan terstruktur serta minimnya pendampingan dan pembinaan dari pemerintah atau pihak terkait lainnya. Dengan demikian, penting untuk memperkuat kapasitas pengurus dan mengembangkan strategi pengelolaan agar BUMDes dapat beroperasi secara efektif, berkelanjutan, dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat desa. Desa Olaia, yang terletak di Kabupaten Nagekeo, merupakan salah satu desa yang memiliki BUMDes, namun menghadapi berbagai tantangan dalam meningkatkan kapasitas pengurusnya. Secara umum tumpuan pertumbuhan dan peningkatan perekonomian masyarakat di Desa Olaia sangat bergantung pada potensi sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Meskipun begitu, pengurus BUMDes mengalami sejumlah tantangan dalam mengelola usaha yang ada. Salah satu permasalahan yang paling mendasar adalah minimnya pemahaman dan kemampuan dalam manajemen bisnis, perencanaan usaha, serta pengelolaan keuangan yang efektif. Hadirnya BUMDes di setiap desa diharapkan dapat menopang kegiatan ekonomi desa dan berperan sebagai lembaga sosial dan komersial (Be et al. , 2. Tantangan umum yang dihadapi Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. di Indonesia meliputi berbagai aspek penting. Pertama, isu anggaran menjadi hambatan utama karena BUMDes sering menerima dana yang sangat terbatas dan dianggap sebagai anggaran sisa, sehingga sulit untuk mengembangkan usaha secara Kedua, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengelola BUMDes masih cukup rendah, baik dari segi manajerial, komitmen, maupun motivasi. Banyak pengelola yang hanya menangani BUMDes sebagai pekerjaan sampingan dengan perhatian yang minim, sehingga kinerja BUMDes tidak optimal (Jayadi et al. Ketiga, pengorganisasian dalam BUMDes yang belum teratur dengan baik menyebabkan ketidakjelasan dalam peran dan tugas, serta proses pengambilan keputusan yang tidak strategis. Selain itu, kurangnya koordinasi yang efektif antara pemerintah desa dan pengurus BUMDes mengakibatkan kemajuan yang terhambat. Keempat, adanya regulasi dan pengawasan yang tidak jelas serta lemahnya sistem transparansi dalam pengelolaan keuangan seringkali menciptakan risiko penyalahgunaan dana dan keberlanjutan usaha yang rentan. Kelima, keterbatasan modal juga menjadi kendala besar dalam membuka dan mengembangkan unit usaha baru. Perubahan perilaku pasar, terutama setelah pandemi COVID-19, juga berpengaruh pada omzet dan daya saing BUMDes. Terakhir, adanya masalah hukum dan kompleksitas perizinan usaha membuat BUMDes kesulitan untuk berkembang secara legal dan profesional, karena tidak adanya kebijakan yang memberi kepastian hukum dan perlindungan usaha yang Studi kasus tentang BUMDes di Desa Olaia. Kabupaten Nagekeo, mengungkapkan berbagai masalah khusus yang menghambat pengelolaan dan pengembangan usaha desa. Masalah utama yang dihadapi adalah kurangnya pemahaman pengurus dan warga mengenai fungsi dan peran BUMDes, yang Revitalisasi Peran BUMNDes Berbasis Partisipasi Komunitas A | 86 hasilnya mengakibatkan partisipasi dan dukungan masyarakat menjadi tidak maksimal dalam pengelolaan BUMDes. Di samping itu, adanya keterbatasan dalam sumber daya manusia yang berkualitas dan rendahnya keahlian dalam manajemen usaha menjadi penghalang yang signifikan. Pengelolaan keuangan BUMDes di Desa Olaia juga belum dilakukan dengan baik, di mana sistem administrasi dan pelaporan keuangannya masih tergolong sederhana dan tidak transparan, sehingga sulit untuk dipertanggungjawabkan. Situasi ini semakin memburuk karena kurangnya pelatihan dan pembinaan untuk pengurus, yang mengakibatkan perencanaan usaha dan pengelolaan sumber daya tidak berjalan maksimal. Tantangan lain yang dihadapi adalah keterbatasan modal untuk pengembangan usaha baru serta kurangnya strategi bisnis yang efektif dan berkelanjutan. Minimnya pendampingan dari pemerintah desa dan pihak-pihak terkait juga menjadi penghambat bagi perkembangan BUMDes agar dapat beroperasi secara profesional dan memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat Desa Olaia. Secara keseluruhan, masalah yang dihadapi BUMDes Desa Olaia meliputi rendahnya kapasitas pengurus, kurangnya pemahaman dan partisipasi masyarakat, pengelolaan keuangan yang belum optimal, keterbatasan modal, serta kurangnya pembinaan dan pendampingan yang berkelanjutan. Kesenjangan dan kebutuhan intervensi pada BUMDes di Desa Olaia terutama berhubungan dengan rendahnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat serta pengurus mengenai peran dan fungsi BUMDes sebagai penggerak ekonomi desa. Akibatnya, partisipasi masyarakat dan komitmen pengurus dalam menjalankan BUMDes masih belum maksimal. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas pengurus melalui pelatihan dan pembinaan yang berkelanjutan agar mereka memiliki keahlian manajerial dan pengetahuan bisnis yang cukup (Boelan et al. , 2. Di sisi lain, pengelolaan keuangan dan administrasi BUMDes juga memerlukan intervensi untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, sehingga kepercayaan masyarakat dapat terbangun dan pengelolaan sumber daya dapat dilakukan secara profesional. Selain itu, dukungan modal diakui sebagai kebutuhan penting untuk pengembangan unit usaha baru yang dapat mendongkrak pendapatan Intervensi yang diperlukan meliputi sosialisasi yang terstruktur, pendampingan teknis dalam manajemen usaha, pelatihan pengelolaan keuangan, serta pendorongan kerjasama dengan berbagai pihak seperti pemerintah daerah, lembaga pemberdayaan masyarakat, dan institusi perguruan tinggi. Pendampingan yang berlangsung terus-menerus akan membantu pengurus BUMDes untuk merumuskan strategi usaha yang efisien dan berkelanjutan, serta meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Olaia secara keseluruhan (Khairani dkk, 2. Kondisi saat ini terlihat BUMDes Desa Olaia masih belum menjalankan jenis usaha apapun setelah pergantian pengurus BUMDes baru. Pada masa jabatan pengurus BUMDes lama, mereka sempat menjalankan jenis usaha yaitu koperasi simpan pinjam yang dibentuk pada tahun 2016 yang bertujuan untuk menyediakan layanan keuangan bagi komunitas desa, terutama dalam bentuk tabungan dan Model bisnis ini serupa dengan koperasi simpan pinjam pada umumnya, 87 | Coo. Kosat & Niron tetapi dioperasikan oleh BUMDes yang dimiliki secara bersama oleh desa dan warga desa. BUMDes Koperasi Simpan Pinjam adalah salah satu jenis usaha yang dijalankan oleh BUMDes di sektor jasa keuangan, dengan maksud untuk memudahkan masyarakat desa dalam mengakses tabungan dan pinjaman. Namun, seiring berjalannya waktu. BUMDes Koperasi Simpan Pinjam Desa Olaia. Kabupaten Nagekeo menghadapi masalah yang menyebabkan mereka tidak dapat beroperasi lagi di tahun 2021. Beberapa faktor umum yang membuat BUMDes tersebut tidak bisa berfungsi adalah. pengelolaan yang tidak profesional dan lemahnya pengawasan, yang mengakibatkan kesalahan dalam manajemen keuangan. Rasio pengembalian pinjaman yang rendah disebabkan oleh kredit bermasalah dari anggota. Minimnya partisipasi dan kepercayaan masyarakat terhadap BUMDes, dan kurangnya inovasi layanan serta keterbatasan dalam menyesuaikan diri terhadap kebutuhan pasar. Dampak dari ketidakberoperasian BUMDes Koperasi Simpan Pinjam ini adalah hilangnya salah satu sumber pembiayaan yang terjangkau bagi masyarakat, yang berujung pada penurunan potensi pendapatan asli desa (PADe. Selain itu, tantangan lain dalam pengembangan BUMDes adalah mengubah cara berpikir masyarakat yang beranggapan bahwa dana penyertaan yang dikelola oleh BUMDes adalah uang bantuan dari pemerintah (Khairani dkk, 2. Pengelola BUMDes di Desa Olaia belum memahami mengenai pengelolaan yang efektif, terutama dalam hal mengenali potensi sumber daya lokal . adi,jagung,sayuran organik,ubi jalar,ubi singkong,kemir. yang berhubungan dengan pemilihan dan pengembangan jenis usaha yang cocok dengan sumber daya lokal yang ada. Contohnya padi merupakan sumber daya lokal yang utama di Desa Olaia. Dengan potensi ini, pengurus BUMDes dapat mendirikan usaha seperti penggilingan padi, pemasaran beras lokal, atau beras organik. Padahal aktivitas pengembangan desa adalah elemen dari perencanaan dan strategi menyeluruh untuk membangun BUMDes yang tahan lama. Berangkat dari situasi yang ada muncul ide baru untuk melaksanakan Sosialisasi Penguatan Kapasitas Pengurus BUMDes di Desa Olaia dengan melibatkan masyarakat desa dan pengurus BUMDes (Absah et al. , 2. Hasil dari program ini akan memungkinkan peningkatan potensi desa dengan meningkatkan kemampuan pengelola BUMDes di Desa Olaia, sehingga masyarakat dapat merasakan berbagai keuntungan, baik dalam aspek ekonomi maupun non-ekonomi. Anggaran BUMDes merupakan rencana keuangan tahunan yang disusun sebagai dasar pelaksanaan kegiatan usaha dan operasional BUMDes selama satu tahun anggaran. Dokumen anggaran ini juga mencerminkan komitmen BUMDes terhadap prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana. Terkait dengan dana BUMDes TA 2025. Untuk sementara penyertaan modal hanya berasal dari dana desa saja. Tabel 1. Anggaran BUMDes Olaia Tahun 2025 Pendapatan Jumalah Penyertaan Modal Desa Rp. Revitalisasi Peran BUMNDes Berbasis Partisipasi Komunitas A | 88 Total Pendapatan Rp. Dana BUMDes yang tersedia di Desa Olaia masih tergolong kecil, dari total dana desa sebesar Rp. 000 dan dana untuk BUMDes sebesar Rp. Dengan perhitungan tersebut, hanya 5% yang dialokasikan untuk BUMDes. Di sisi lain, dalam Permendes PDTT No. 2 tahun 2024 tentang Petunjuk Operasional atas Fokus Penggunaan Dana Desa Tahun 2025, dinyatakan bahwa minimal 20% dari Dana Desa harus dialokasikan. Berawal dari pemahaman mengenai situasi ini, pengabdi merasa terdorong untuk melaksanakan Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dengan judul AyPenguatan Kapasitas Pengurus BUMDes di Desa Olaia Kabupaten NagekeoAy. Aktivitas ini diharapkan dapat diadaptasi oleh pengurus BUMDes di desa-desa lain dengan menyesuaikan pada kondisi lokal, sehingga dapat meningkatkan kapasitas dalam pengembangan BUMDes di masa mendatang. Terdapat beberapa permasalahan mitra yang dapat dirumuskan antara lain: Kurangnya penyertaan dana desa untuk BUMDes, sehingga BUMDes di Desa Olaia masih belum berjalan di TA 2025 ini. Kemampuan pengurus BUMDes di Desa Olaia dalam memilih dan mengembangkan unit usaha dengan potensi desa yang tersedia sangat Tingkat kemampuan pengelola BUMDes di Desa Olaia yang rendah membuat mereka kesulitan dalam menjalin kerjasama pengelolaan BUMDes degan pemerintah desa dan masyarakat secara aktif untuk menangani masalah ketidakberdayaan. Kapasitas pengurus BUMDes di Desa Olaia yang terbatas dalam mengidentifikasi potensi desa. Oleh karena itu, tujuan dari kegiatan ini adalah. Pengembangan Keterampilan pengelola BUMDes di Desa Olaia dalam menganalisis potensi desa sesuai dengan sumber daya yang tersedia. Peningkatan keterampilanpengelola BUMDes Olaia mengembangkan usaha yang efisien guna memajukan ekonomi desa Untuk itu, pengabdian ini berfokus pada kegiatan memberikan sosialisasi serta dukungan kepada pengelola BUMDes di Desa Olaia dengan maksud meningkatkan kemampuan mereka dalam mengelola usaha secara lebih profesional dan efisien. Dengan peningkatan kemampuan ini, diharapkan BUMDes mampu memanfaatkan potensi yang dimilki dan memberikan dampak yang lebih signifikan bagi perekonomian desa secara berkelanjutan. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat mengenai penguatan BUMDes di Desa Olaia adalah untuk meningkatkan kemampuan serta pengetahuan pengurus BUMDes, agar mereka mampu mengelola usaha dengan cara yang efisien dan Kegiatan ini ditujukan untuk memperkokoh literasi dan pemahaman pengurus serta masyarakat tentang fungsi strategis BUMDes dalam memajukan ekonomi desa dan meningkatkan kesejahteraan penduduk. Di samping itu, kegiatan ini ingin mendorong pengurus untuk mengenali dan mengembangkan potensi sumber daya alam yang ada di desa sebagai salah satu dasar bagi usaha yang Secara khusus, program pengabdian ini mencakup pelatihan manajerial dan teknis dalam pengelolaan usaha, peningkatan kemampuan dalam merencanakan 89 | Coo. Kosat & Niron usaha BUMDes, serta peningkatan keterbukaan dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan. Dengan adanya penguatan kapasitas ini, diharapkan BUMDes Desa Olaia dapat tumbuh menjadi sebuah lembaga usaha yang mandiri, kompetitif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan pendapatan desa serta kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Program ini juga berfungsi sebagai sarana kolaborasi antara mahasiswa, pakar pemberdayaan masyarakat, dan pemerintah desa dalam mendukung keberlanjutan BUMDes. METODE PELAKSANAAN Metode pelaksanaan pengabdian ini mengadopsi pendekatan pembelajaran dewasa dengan pendekatan Participatory Learning and Action (PLA), yang mengintegrasikan ceramah dan diskusi interaktif untuk meningkatkan pemahaman serta keterlibatan masyarakat dan pengurus BUMDes Desa Olaia. Langkah pertama adalah kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan di Kantor Desa Olaia pada hari Rabu, 14 Mei 2025, mulai pukul 09:00 hingga selesai. Dalam langkah ini, penyampaian materi dilakukan melalui slide yang mudah dimengerti selama sekitar satu jam dengan menggunakan presentasi dan materi yang Kriteria keberhasilan dari langkah ini adalah tingkat partisipasi yang mencapai minimal 90%, serta kemampuan peserta dalam memahami isi materi yang dievaluasi melalui kuis singkat setelah sesi berakhir. Peserta mendapatkan kesempatan untuk mencatat hal-hal penting guna memperkuat pemahaman mereka. Narasumber yang memimpin sesi ini adalah Kanisius Roni Jhon. T (KORCAM) serta didampingi oleh Kamaludin Ahmad S. Langkah kedua melibatkan sesi diskusi partisipatif yang dimulai setelah ceramah untuk memberikan kesempatan bagi peserta untuk bertanya dan berdialog secara aktif. Lama sesi ini bervariasi sesuai kebutuhan, dengan rata-rata berlangsung selama 60 menit, dan bertujuan untuk memperjelas materi serta menggali tantangan nyata yang dihadapi oleh BUMDes. Instrumen yang digunakan dalam tahap ini adalah pertanyaan terbuka dan pencatatan hasil diskusi. Indikator keberhasilan ditentukan dari besarnya keterlibatan aktif peserta dan kualitas solusi serta pemahaman yang muncul selama diskusi. Fasilitator memotivasi peserta untuk berbagi pengalaman dan memberikan umpan balik mengenai isu yang dibahas. Evaluasi hasil pengabdian dilakukan melalui pengukuran yang bersifat kuantitatif dan kualitatif secara terintegrasi. Pengukuran kuantitatif meliputi perbandingan hasil pre-test dan post-test untuk menentukan peningkatan pengetahuan peserta. Sedangkan evaluasi kualitatif dilakukan melalui wawancara dan observasi untuk menilai perubahan sikap serta tingkat partisipasi pengurus dalam pengelolaan BUMDes setelah pelatihan. Hasil dari evaluasi ini digunakan untuk membantu tindak lanjut pendampingan agar lebih terarah dan efektif. Secara logis, proses ini dimulai dengan penyampaian materi dasar melalui ceramah yang berfungsi sebagai dasar pengetahuan bagi peserta, lalu dilanjutkan dengan diskusi aktif untuk memperdalam dan menerapkan konsep yang telah Dengan adanya hubungan yang terintegrasi antara tahapan-tahapan tersebut, pengabdian ini dapat memastikan transfer ilmu yang tidak hanya bersifat teori, tetapi juga praktis dan relevan bagi pengurus BUMDes Desa Olaia. Hal ini akan membangun landasan yang kuat untuk peningkatan kapasitas yang Revitalisasi Peran BUMNDes Berbasis Partisipasi Komunitas A | 90 berkelanjutan serta kesiapan pengurus dalam menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan BUMDes. Tahap kedua meliputi sesi diskusi yang melibatkan partisipasi, dilakukan setelah ceramah dengan waktu sekitar 60 menit. Dalam sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dan berinteraksi secara aktif, bertujuan untuk memperdalam pemahaman serta membahas masalah dalam pengelolaan BUMDes. Alat yang digunakan pada tahap ini adalah pertanyaan terbuka dan catatan hasil diskusi, dengan indikator keberhasilan diukur dari seberapa aktif peserta terlibat dan kualitas solusi yang dihasilkan selama pembicaraan. Hasil evaluasi dari kegiatan pengabdian dilakukan dengan metode kuantitatif melalui perbandingan pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan, serta evaluasi kualitatif melalui wawancara dan pengamatan terhadap perubahan sikap dan tingkat partisipasi pengurus setelah mendapatkan pelatihan. Hasil dari evaluasi ini akan menjadi acuan untuk pendampingan lebih lanjut agar program bisa lebih efektif. Proses perencanaan serta pelaksanaan dilakukan dengan mengacu pada gambar 1 berikut ini: Survei Dan FGD ( Forum Group Discussio. Penyusunan Materi Penyuluhan Evaluasi Hasil Pelaksanaan Pendampiang Gambar 1. Proses Pengabdian Gambar 1 memperlihatkan serangkaian langkah dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat, yang terdiri dari beberapa tahap utama, yakni penyusunan bahan penyuluhan, survei dan Diskusi Kelompok Terfokus (FGD), pelaksanaan kegiatan pengabdian, pendampingan, serta penilaian hasil. Setiap tahap ini berhubungan satu sama lain dan membentuk sebuah siklus yang teratur untuk memastikan bahwa program pengabdian berlangsung secara efisien dan tepat Penjelasan singkat ini berfungsi sebagai pengantar yang baik untuk melanjutkan ke pembahasan tentang hasil dan penilaian dampak dari kegiatan pengabdian yang telah dilaksanakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan Tahap persiapan untuk pengabdian ini dimulai dengan penentuan masalah yang dilakukan oleh tim pengabdian bersama perwakilan pengurus BUMDes Olaia. Dalam fase ini, wawancara dilakukan dengan pengurus BUMDes dan pengamatan langsung terhadap aktivitas dan operasi usaha yang dijalankan. Tujuan dari penentuan masalah adalah untuk memahami tantangan yang dihadapi oleh pengurus, seperti kurangnya pengetahuan dalam pengelolaan keuangan, pemasaran, atau hambatan dalam mengelola sumber daya manusia. Selain itu, pengumpulan 91 | Coo. Kosat & Niron informasi juga dilakukan melalui diskusi dengan masyarakat desa untuk memperloleh pandangan mereka tentang kinerja BUMDes dan pengaruhnya terhadap kesejahteraan mereka. Hasil dari penentuan masalah dan peninjauan kebutuhan ini akan menjadi landasan dalam menyusun program pelatihan dan bimbingan yang tepat dan sesuai untuk pengurus BUMDes, sehingga mampu meningkatkan kemampuan mereka dalam mengelola bisnis desa dengan lebih profesional dan berkelanjutan. BUMDes dalam pelaksanaannya bisa menitikberatkan pada salah satu aspek sumber ekonomi, yaitu kegiatan usaha keuangan atau usaha riil. Dengan mempertimbangkan bahwa situasi kesiapan setiap desa tidaklah sama. BUMDes memiliki opsi untuk memilih menjalankan usaha dalam salah satu aspek tersebut . Setelah masalah dikenali, langkah selanjutnya adalah menilai kebutuhan. Dalam penilaian ini, dilakukan pemetaan terhadap keterampilan dan pengetahuan yang harus dikembangkan oleh pengelola BUMDes. Penilaian kebutuhan ini melibatkan aspek teknis, seperti pengelolaan keuangan yang lebih terbuka, kemampuan memasarkan produk desa, serta manajemen operasional yang lebih efektif. Selain itu, juga dianalisis kebutuhan untuk memperkuat tata kelola organisasi, seperti perencanaan yang lebih baik dan sistem pengawasan yang efisien. Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan, tim pengabdi melaksanakan kegiatan sosialisasi yang bertujuan untuk mempersiapkan pengurus BUMDes dengan wawasan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk mengelola bisnis desa secara efisien dan Program penyuluhan diadaptasi berdasarkan hasil pengamatan masalah dan analisis kebutuhan yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga materi yang diajarkan dapat segera diterapkan dalam konteks BUMDes di desa Olaia. Sosialisasi dibagi menjadi beberapa sesi, dengan fokus utama pada sisi manajerial dan teknis. Sesi pertama membahas terkait regulasi, tata kelola dan kelembagaan, perencanaan usaha, perencanaan anggaran, pencatatan transaksi, pembuatan laporan keuangan yang transparan, serta teknik pengelolaan yang efisien (Wahyuningsih & Rahmawati, 2. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pengetahuan mengenai relevansi akuntabilitas, dan keterbukaan dalam pengelolaan BUMDes. Selain itu, ada bagian yang mengajarkan kemampuan pemasaran, dengan penekanan pada perancangan strategi pemasaran produk desa, pemanfaatan media sosial, dan metode promosi yang efisien. Sesi selanjutnya bertujuan untuk memperkuat kemampuan pengurus dalam pengelolaan operasional dan tata kelola organisasi. Pada tahap ini, peserta memperoleh pelajaran tentang cara merancang rencana bisnis, merencanakan aktivitas usaha, dan mengorganisir tim kerja dengan efektif. Sosialisasi ini juga melibatkan peningkatan kemampuan dalam melakukan pengawasan dan penilaian kinerja, sehingga setiap program atau aktivitas yang dilaksanakan oleh BUMDes dapat terlaksana sesuai dengan rencana yang telah ditetapakan. Setiap sesi penyuluhan dilakukan dengan cara interaktif menggunakan metode pemaparan materi, diskusi, dan tanya jawab, yang memungkinkan para pengurus untuk lebih memahami manajemen BUMDes yang baik. Tabel 2. Materi Pengabdian Revitalisasi Peran BUMNDes Berbasis Partisipasi Komunitas A | 92 No Materi Manajemen Keuangan BUMDes Materi Uraian Materi ini ditujukan untuk menyamapaikan pengetahuan fundamental tentang pengelolaan keuangan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Para pengurus mendapatkan edukasi tentang bagaimana mebuat anggaran, laporan keuangan, serta metode pencatatan dan pelaporan yang efektif. Manajemen Materi ini menyampaikan pengalaman kepada pengurus Sumber Daya tentang cara mengelola sumber daya manusia yang Manusia tersedia, dimulai dari proses rekrutmen, pengembangan, hingga penilaian kinerja. Pelatihan mencakup penyusunan sistem penilaian dan peningkatan kemampuan anggota BUMDes. Tata Kelola Dalam materi ini, pengurus diberikan penjelasan Organisasi mengenai signifikansi dari adanya struktur organisasi BUMDes yang terdefinisi dengan baik, penyusunan SOP (Prosedur Operasional Standa. , serta dasar-dasar pengelolaan yang baik dalam mengelola BUMDes. Selain itu, materi ini juga mencakup cara-cara pengawasan dan pengendalian aktivitas BUMDes agar dapat berfungsi dengan lebih efisien dan efektif. Gambar 2. Sesi Pemaparan Materi 93 | Coo. Kosat & Niron Gambar 3. Foto Bersama Narasumber. Pengurus BUMDes, dan Mahasiswa-mahasiswi MBKM UNWIRA Nilai keuntungan yang didapat oleh mitra dan masyarakat dari program pengabdian ini meliputi peningkatan pengetahuan tentang konsep, tujuan dan keuntungannya BUMDes bagi ekonomi desa. Di samping itu, keterampilan manajerial, pengurus BUMDes juga mengalami peningkatan melalui pelatihan dalam pengelolaan keuangan, pemasaran, dan pembuatan rencana bisnis BUMDes. Diharapkan, hal ini akan mendorong perkembangan usaha BUMDes yang berpengaruh pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat (Rukmana et al. SIMPULAN Simpulan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan pengetahuan dan keterampilan bagi pengurus serta pengelola BUMDes dalam memanfaatkan sumber daya alam yang sesuai dengan karakter dan potensi yang ada dalam masyarakat. Program ini juga berhasil meningkatkan kemampuan manajerial pengurus dalam mengelola usaha BUMDes yang menerima bantuan, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik dan potensi ekonomi desa. Di samping itu, terbentuknya strategi kolaborasi yang solid antara pengurus, pengelola, dan masyarakat turut mendukung penambahan kemandirian, keswadayaan, serta kesejahteraan mereka. Untuk indikator hasil yang lebih jelas dari program ini, peserta kini lebih paham dalam menyusun laporan keuangan sederhana, serta pengurus dapat merancang rencana usaha yang efisien dan berkelanjutan. Peningkatan tersebut tampak pada kemampuan pengurus dan penerima manfaat dalam melaksanakan manajemen usaha BUMDes yang berorientasi pada potensi lokal, sehingga BUMDes berperan sebagai sumber ekonomi desa yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Sebagai langkah lanjutan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini, telah direncanakan adanya pendampingan berkelanjutan secara periodik untuk membantu pengurus BUMDes dalam menerapkan rencana usaha serta memperkuat pengelolaan keuangan dan administrasi. Pendampingan ini juga bertujuan untuk mengawasi proses evaluasi dan pengembangan usaha secara terus-menerus agar Revitalisasi Peran BUMNDes Berbasis Partisipasi Komunitas A | 94 BUMDes desa dapat berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar dalam pembangunan ekonomi desa secara berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Pemerintahan Desa Olaia, masyarakat, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan,kesempatan, dan kerjasama yang luar biasa dalam menyukseskan pelaksanaan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Partisipasi aktif dan sinergi yang terjalin dengan baik antara Universitas, pemerintahn desa, serta masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan kegiatan ini. Semoga kolaborasi yang telah terbangun dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang nyata bagi pembangunan desa di masa mendatang. DAFTAR PUSTAKA