Indonesian Journal of School Counseling Volume 5 . Agustus 2025 Page 120-129 DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. ISSN: 2775-555X Keterampilan Komunikasi Interpersonal Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di Pesantren: Sebuah Studi Deskriptif Riska Yanawati1*. Faisal Akbar Rahmansyah 2. Ade Siti Mariyam 3 Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam. Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung. 3 Psikologi. Universitas Negeri Jakarta. Coresponden Email: riskayanawati@unik-cipasung. Received: June-2025. Reviewed: July-2025. Accepted: July-2025. Published: August-2025. Abstract. This study aims to obtain a general overview of the interpersonal communication skills of Islamic Guidance and Counseling (BKPI) students at KH. Ruhiat Cipasung Tasikmalaya Islamic University who live in Islamic boarding schools. Interpersonal communication is crucial for social cohesion and self-development in the Islamic boarding school environment. This study used a quantitative approach with descriptive methods. Sampling was carried out with a specific purpose . urposive samplin. involving 117 students living in the Islamic boarding school. Data were collected using an interpersonal communication skills instrument developed by DeVito and data processing using Rasch modeling analysis. The results showed that the interpersonal communication skills of students living in the Islamic boarding school tended to be moderate . SD 0. A total of 70% . were in the moderate category, 18% . were high, and 12% . were low. These findings indicate that BKPI students living in Islamic boarding schools have adequate communication skills, but need to improve in empathy and active listening. The interpersonal communication skills of most Islamic boarding school students are average and require development. The implication of this research is the importance of strengthening the interpersonal communication program within the BKPI curriculum. Keywords: Interpersonal Communication. Islamic Guidance and Counseling students. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran umum keterampilan komunikasi interpersonal mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung Tasikmalaya yang tinggal di pesantren. Komunikasi interpersonal krusial untuk kohesi sosial dan pengembangan diri di lingkungan pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan tujuan khusus . urposive samplin. melibatkan 117 mahasiswa yang tinggal di pesantren. Data dikumpulkan menggunakan instrumen keterampilan komunikasi interpersonal yang dikembangkan oleh DeVito dan pengolahan data menggunakan analisis pemodelan Rasch. Hasil menunjukkan keterampilan komunikasi interpersonal mahasiswa yang tinggal di pesantren cenderung sedang . ata-rata 0,71. SD 0,. Sebanyak 70% . berada di kategori sedang, 18% . tinggi, dan 12% . Temuan ini mengindikasikan mahasiswa BKPI yang tinggal di pesantren memiliki dasar komunikasi yang memadai, namun perlu peningkatan dalam empati dan mendengarkan aktif. penelitian ini adalah pentingnya penguatan program komunikasi interpersonal dalam kurikulum BKPI. Kata kunci: Komunikasi Interpersonal. Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam PENDAHULUAN Lingkungan pesantren di Indonesia merupakan institusi pendidikan Islam tradisional yang memiliki karakteristik unik, memadukan aspek pendidikan formal, spiritual, dan sosial dalam satu wadah. Kehidupan di pesantren menuntut mahasiswa yang tinggal di pesantren untuk hidup bersama dalam komunitas yang erat, jauh dari keluarga, dan terikat pada aturan serta rutinitas yang ketat. Dinamika kehidupan komunal ini secara inheren memengaruhi pola 120 | How to cite this article: Yanawati. Rahmansyah. , & Mariyam. Keterampilan Komunikasi Interpersonal Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di Pesantren : Sebuah Studi Deskriptif. Indonesian Journal of School Counseling, 5. , 120Ae129. https://doi. org/10. 26858/ijosc. 75442 A 2025 The Author. Journal: Indonesian Journal of School Counseling. Publisher: Guidance and Counseling Study Program. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar. Link: https://ojs. id/ijosc Indonesian Journal of School Counseling Volume 5 . Agustus 2025 Page 120-129 DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. ISSN: 2775-555X komunikasi interpersonal di antara para mahasiswa. Komunikasi interpersonal sendiri merupakan proses pertukaran informasi, ide, dan perasaan antara dua individu atau lebih, yang melibatkan interaksi tatap muka, verbal, dan nonverbal (DeVito, 2. Dalamonteks pesantren, komunikasi interpersonal menjadi krusial untuk membangun kohesi sosial, menyelesaikan konflik, serta menunjang proses pembelajaran dan pengembangan diri mahasiswa yang tinggal di pesantren. Penelitian mengenai komunikasi interpersonal mahasiswa pesantren menjadi penting mengingat kompleksitas interaksi yang terjadi di dalamnya. Mahasiswa yang menempuh pendidikan di pesantren berasal dari berbagai latar belakang budaya, sosial, dan ekonomi, serta memiliki tingkat kematangan emosional yang beragam (Anggraini & Indrawati, 2021. Lestari & Santoso, 2. Keragaman ini menjadi tantangan sekaligus potensi dalam interaksi sehari-hari. Setibanya di lingkungan pesantren, mereka dihadapkan pada proses adaptasi yang Ini meliputi penyesuaian terhadap norma dan aturan baru, interaksi dengan teman sebaya yang belum dikenal, serta komunikasi dengan ustaz/ustazah sebagai figur otoritas dan Selain itu, mereka juga dituntut untuk mengelola emosi dan kebutuhan pribadi dalam kondisi yang seringkali penuh keterbatasan, baik dari segi fasilitas maupun kebebasan pribadi (Putri & Sari, 2. Pola komunikasi yang efektif di antara mahasiswa pesantren, serta antara mahasiswa dan ustaz/ustazah, memiliki dampak signifikan. Komunikasi yang baik dapat memfasilitasi proses adaptasi, membantu mahasiswa memahami lingkungan baru, dan mengungkapkan kebutuhan mereka. Lebih dari itu, komunikasi interpersonal yang positif memperkuat ikatan persaudaraan . di antara sesama mahasiswa yang tinggal di pesantren, menciptakan rasa memiliki dan dukungan sosial yang esensial (Hidayat & Azizah, 2023. Ramadhani & Nurbaeti, 2. Hal ini juga dapat mengurangi potensi gesekan dan konflik antarindividu akibat perbedaan pandangan atau kesalahpahaman. Sebaliknya, pola komunikasi yang kurang efektif dapat menimbulkan berbagai konsekuensi negatif. Kesalahpahaman, misinterpretasi pesan, dan kesulitan dalam menyampaikan perasaan dapat memicu konflik, menciptakan ketegangan, dan bahkan berujung pada isolasi sosial. Dampak negatif ini tidak hanya memengaruhi kesejahteraan psikologis mahasiswa yang tinggal di pesantren, seperti peningkatan stres atau kecemasan, tetapi juga dapat berimbas pada performa akademik mereka (Syafi'i & Hasan, 2020. Wirawan, 2. Oleh karena itu, memahami dan mengoptimalkan komunikasi interpersonal di lingkungan pesantren bukan hanya relevan, melainkan mendesak untuk mendukung perkembangan holistik mahasiswa. Beberapa studi sebelumnya telah mengkaji aspek komunikasi dalam konteks pendidikan Islam, namun fokus spesifik pada komunikasi interpersonal mahasiswa di lingkungan pesantren masih memerlukan eksplorasi lebih lanjut. Misalnya, penelitian tentang pola komunikasi kepemimpinan di pesantren telah banyak dilakukan (Misbah, 2. , atau studi mengenai adaptasi mahasiswa yang tinggal di pesantren baru (Rachman, 2. Urgensi penelitian ini muncul dari fakta bahwa dinamika interaksi sehari-hari di antara mahasiswa pesantren, termasuk cara mereka mengelola perbedaan pendapat, mengungkapkan perasaan, atau memberikan dukungan sosial, belum sepenuhnya terungkap dalam literatur Pesantren sebagai ekosistem sosial yang unik, di mana individu hidup, belajar, dan tumbuh bersama dalam keterbatasan dan norma komunal yang ketat, menciptakan kompleksitas interaksi yang berbeda dari lingkungan pendidikan lainnya. Studi yang lebih baru menyoroti pentingnya kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis mahasiswa yang tinggal di pesantren (Azizah & Rahmawati, 2. serta bagaimana 121 | | Riska Yanawati. Faisal Akbar Rahmansyah. Ade Siti Mariyam. Keterampilan Komunikasi Interpersonal Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di Pesantren: Sebuah Studi Deskriptif Indonesian Journal of School Counseling Volume 5 . Agustus 2025 Page 120-129 DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. ISSN: 2775-555X dukungan sosial antar mahasiswa yang tinggal di pesantren memengaruhi resiliensi mereka (Ningsih & Budiyanti, 2. Ini mengindikasikan bahwa kualitas komunikasi interpersonal adalah faktor krusial. Jika interaksi ini tidak efektif, dapat memicu stres, konflik, bahkan memengaruhi kemampuan adaptasi dan performa akademik mahasiswa yang tinggal di pesantren secara keseluruhan (Hasanah & Latifah, 2. Oleh karena itu, penelitian ini merupakan upaya untuk mengisi celah tersebut dengan perspektif yang lebih mendalam mengenai bagaimana komunikasi interpersonal secara spesifik memengaruhi pembentukan komunitas yang harmonis dan kondusif dalam konteks pesantren saat ini. Mengingat bahwa komunikasi interpersonal adalah fondasi bagi semua hubungan sosial (Devito, 2. , memahami dinamika fundamental ini di pesantren akan memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana komunitas ini berfungsi dalam menghadapi tantangan modern. METODE Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Creswell . mengemukakan pendekatan kuantitatif mengelola survei dari sampel untuk menggambarkan sikap, pendapat, perilaku atau karakteristik dari populasi dalam hal ini tentang Keterampilan Komunikasi Interpersonal Mahasiswa yang Tinggal di Pesantren. Pengambilan sampel dilakukan dengan tujuan khusus . urposive samplin. Sampel penelitian berjumlah 117 mahasiswa yang tinggal di pesantren. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif, metode digunakan untuk mengetahui gambaran umum keterampilan komunikasi interpersonal mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam. Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung yang tinggal di pesantren. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen keterampilan komunikasi interpersonal berdasarkan tujuh aspek yang dikemukakan oleh DeVito . komunikasi nonverbal, penguatan, bertanya, merefleksikan, membuka dan menutup, pendengar aktif, dan keterbukaan diri. Uji validitas dilakukan dalam dua tahap: pertama, validitas isi dikonsultasikan dengan tiga ahli bidang bimbingan konseling untuk menilai kesesuaian butir dengan indikator teoritis. Setelah revisi dari ahli, skala diuji coba kepada mahasiswa di luar sampel utama untuk keperluan uji validitas dan reliabilitas secara statistik. Hasil dari uji validitas 42 dari 46 pernyataan dinyatakan valid. Selanjutnya data ini dianalisis menggunakan pendekatan pemodelan Rasch (Rasch mode. , kemudian data yang dihasilkan adalah gambaran umum keterampilan komunikasi interperonal mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam yang tinggal di pesantren. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan hasil instrumen keterampilan komunikasi interpersonal yang sudah diberikan kepada mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam. Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung Tasikmalaya didapatkan hasil sebagai berikut. Tabel 1. Kategorisasi Umum Keterampilan Komunikasi Interpersonal Kriteria Kategori 1,04 O X 0,38 O X < 1,04 X < 0,38 Tinggi Sedang Rendah 122 | | Riska Yanawati. Faisal Akbar Rahmansyah. Ade Siti Mariyam. Keterampilan Komunikasi Interpersonal Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di Pesantren: Sebuah Studi Deskriptif Indonesian Journal of School Counseling Volume 5 . Agustus 2025 Page 120-129 DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. ISSN: 2775-555X Keterampilan komunikasi interpesonal mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di Universitas KH. Ruhiat Cipasung Tasikmalaya kecenderungan berada pada kategori sedang, dengan rata-rata sebesar 0,71 dan standar deviasi sebesar 0,33. Komunikasi interpesonal mahasiswa bergerak dari kategori rendah sampai dengan kategori tinggi dengan skor minimum 0,38 , skor maksimum 1,04. Pada Tabel dirincikan distribusi frekuensi komunikasi interpesonal mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di Universitas KH. Ruhiat Cipasung Tasikmalaya tahun 2025. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Keterampilan Komunikasi Interpesonal Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di Universitas KH. Ruhiat Cipasung Tasikmalaya No. Skor Kategori Frekuensi Persentase 1,04 O X 0,38 O X < 1,04 X < 0,38 Tinggi Sedang Rendah Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa sebanyak 21 mahasiswa berada pada kategori tinggi, lalu sebanyak 82 mahasiswa dalam kategori sedang, dan pada kategori rendah sebanyak 14 mahasiswa. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi interpersonal mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung Tasikmalaya yang tinggal di pesantren cenderung berada pada kategori sedang, dengan rata-rata sebesar 0,71 dan standar deviasi 0,33. Data distribusi frekuensi lebih lanjut memperkuat temuan ini, di mana sebagian besar mahasiswa . % atau 82 oran. berada dalam kategori sedang. Kemudian 18% . pada kategori tinggi, dan 12% . pada kategori rendah. Rentang skor keterampilan komunikasi interpersonal mahasiswa bergerak dari minimum 0,38 hingga maksimum 1,04, mencerminkan adanya variasi dalam kemampuan individu. Temuan ini mengindikasikan bahwa secara umum, mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) di Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung yang tinggal di pesantren memiliki dasar keterampilan komunikasi interpersonal yang cukup memadai, namun masih terdapat ruang untuk peningkatan yang signifikan. Kategori "sedang" menunjukkan bahwa mahasiswa yang tinggal di pesantren ini mampu terlibat dalam interaksi sosial, menyampaikan pesan, dan merespons orang lain, namun mungkin belum pada tingkat optimal dalam hal empati, mendengarkan aktif, atau mengelola konflik secara efektif (DeVito, 2. Keterampilan komunikasi interpersonal yang baik adalah fondasi krusial, terutama bagi mahasiswa BKPI yang dipersiapkan untuk menjadi seorang konselor. Dalam profesi konseling, kemampuan untuk membangun rapport, mendengarkan dengan penuh perhatian, memahami perspektif konseli, dan menyampaikan umpan balik secara konstruktif sangatlah esensial (Corey, 2. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa keterampilan komunikasi interpersonal mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung yang tinggal di pesantren secara umum berada pada kategori sedang. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata skor 0,71 dengan standar deviasi 0,33, serta fakta bahwa sebagian besar responden . % atau 82 oran. berada dalam kategori ini. Meskipun ada 123 | | Riska Yanawati. Faisal Akbar Rahmansyah. Ade Siti Mariyam. Keterampilan Komunikasi Interpersonal Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di Pesantren: Sebuah Studi Deskriptif Indonesian Journal of School Counseling Volume 5 . Agustus 2025 Page 120-129 DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. ISSN: 2775-555X variasi kemampuan individu . entang skor 0,38 hingga 1,. , hanya sebagian kecil mahasiswa . %) yang menunjukkan keterampilan tinggi, sementara 12% berada pada kategori rendah. Kategori "sedang" ini mengindikasikan bahwa mahasiswa memiliki dasar yang cukup memadai dalam berinteraksi sosial, menyampaikan pesan, dan merespons orang lain. Namun, ada ruang signifikan untuk peningkatan, khususnya dalam aspek penting seperti empati, mendengarkan aktif, dan pengelolaan konflik yang efektif. Sebagai cara memahami lebih jauh implikasi dari temuan ini, penting untuk menguraikan setiap aspek komunikasi interpersonal menurut DeVito . mungkin termanifestasi dalam populasi ini. Tujuh aspek tersebut adalah komunikasi nonverbal, penguatan, bertanya, merefleksikan, membuka dan menutup, pendengar aktif, dan keterbukaan diri. Komunikasi nonverbal mencakup ekspresi wajah, gerak tubuh, kontak mata, sentuhan, dan penggunaan ruang pribadi (DeVito, 2. Dalam konteks pesantren, nilai-nilai kesopanan . dan penghormatan sangat ditekankan, yang secara tidak langsung memengaruhi komunikasi nonverbal. Mahasiswa mungkin cenderung menunjukkan ekspresi wajah yang sopan, menjaga jarak fisik, dan menggunakan gerakan tubuh yang terkontrol sebagai bentuk penghormatan, terutama ketika berinteraksi dengan ustaz/ustazah atau Penelitian oleh Agustina . mengindikasikan bahwa nonverbalitas dalam lingkungan pesantren sering kali lebih bersifat conformist dan formal, mencerminkan hierarki dan norma sosial yang berlaku. Keterampilan nonverbal yang "sedang" bisa berarti mereka cukup baik dalam menampilkan kesopanan, namun mungkin kurang ekspresif dalam menunjukkan emosi yang lebih kompleks seperti empati yang mendalam atau ketidaksetujuan secara halus. Ini bisa menjadi tantangan dalam konseling, di mana konselor perlu mampu membaca dan merespons isyarat nonverbal konselidengan akurat, serta menyampaikan dukungan nonverbal yang meyakinkan (Corey, 2. Berdasarkan kedua pernyataan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa keterampilan komunikasi nonverbal yang cenderung "sedang" di lingkungan pesantren mungkin mengindikasikan kemampuan beradaptasi dengan norma kesopanan dan formalitas, namun berpotensi membatasi ekspresi emosi kompleks seperti empati mendalam atau ketidaksetujuan halus. Kondisi ini menimbulkan tantangan signifikan bagi mahasiswa BKPI yang dipersiapkan menjadi konselor, karena profesi tersebut sangat menuntut kemampuan membaca dan merespons isyarat nonverbal konseli secara akurat serta menyampaikan dukungan nonverbal yang meyakinkan. Penguatan . dalam komunikasi interpersonal merujuk pada respons yang mendorong lawan bicara untuk terus berbagi, seperti anggukan kepala, kontak mata yang membesarkan hati, atau komentar singkat seperti "ya" atau "oh begitu" (DeVito, 2. Keterampilan penguatan yang sedang pada mahasiswa mengindikasikan bahwa mereka mungkin sudah cukup baik dalam memberikan feedback sederhana. Namun, beberapa belum sepenuhnya memanfaatkan penguatan secara strategis untuk mendorong eksplorasi yang lebih dalam atau untuk memberikan dukungan emosional yang kuat. Lingkungan komunal pesantren yang mengedepankan ukhuwah . dapat mendorong bentuk-bentuk penguatan dasar, namun mungkin kurang menekankan pada penguatan yang bersifat individualistik atau reflektif (Astuti, 2. Keterampilan ini penting bagi konselor untuk membangun rapport dan membuat konseli merasa didengarkan dan divalidasi. Kemampuan bertanya yang efektif adalah inti dari komunikasi interpersonal yang produktif, khususnya dalam konteks konseling. Keterampilan ini tidak hanya melibatkan penggunaan pertanyaan terbuka untuk mendorong eksplorasi mendalam, tetapi juga 124 | | Riska Yanawati. Faisal Akbar Rahmansyah. Ade Siti Mariyam. Keterampilan Komunikasi Interpersonal Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di Pesantren: Sebuah Studi Deskriptif Indonesian Journal of School Counseling Volume 5 . Agustus 2025 Page 120-129 DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. ISSN: 2775-555X pertanyaan tertutup untuk mengklarifikasi informasi spesifik (DeVito, 2. Jika mahasiswa berada pada kategori sedang dalam keterampilan ini, mereka mungkin mampu mengajukan pertanyaan dasar, namun belum mahir dalam merumuskan pertanyaan probing yang mendorong refleksi diri atau menggali akar masalah secara lebih mendalam. Konteks pendidikan tradisional di pesantren, yang seringkali cenderung satu arahAidi mana ustaz memberikan materi dan mahasiswa yang tinggal di pesantren mendengarkanAimungkin kurang melatih keterampilan bertanya kritis dan eksploratif yang diperlukan (Hidayat, 2. Hal ini menjadi krusial dalam praktik konseling. Kegagalan dalam bertanya secara efektif dapat menyebabkan konselor melewatkan informasi penting, salah memahami situasi konseli, atau gagal membantu konseli memahami isu-isu mereka dari berbagai sudut pandang (Ivey. Ivey, & Zalaquett, 2. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan bertanya yang lebih maju menjadi sangat penting bagi mahasiswa BKPI di lingkungan pesantren. Merefleksikan (Reflectin. adalah kemampuan untuk mengulang kembali inti pesan, perasaan, atau makna yang disampaikan lawan bicara dengan kata-kata sendiri (DeVito. Ini adalah salah satu keterampilan paling esensial dalam mendengarkan aktif dan membangun empati (Rogers, 1. Kategori sedang menunjukkan mahasiswa mungkin mampu merefleksikan sebagian dari pesan, tetapi belum sepenuhnya menangkap kedalaman emosi atau makna tersirat. Kurangnya latihan dalam memproses dan mengungkapkan kembali emosi orang lain secara akurat bisa menjadi penyebabnya. Padahal, keterampilan refleksi membantu lawan bicara merasa dipahami dan divalidasi, yang sangat penting dalam proses konseling (Corey, 2. Aspek membuka dan menutup . pening and closin. merujuk pada kemampuan untuk memulai percakapan secara efektif, membangun rapport awal, dan mengakhirinya dengan cara yang tepat (DeVito, 2. Mahasiswa yang berada pada kategori sedang kemungkinan besar dapat memulai dan mengakhiri percakapan sehari-hari dengan baik. Namun, dalam situasi yang lebih formal atau sensitif . isalnya, sesi konselin. , mereka mungkin masih canggung dalam menciptakan suasana yang nyaman di awal atau memberikan penutup yang menginspirasi di akhir. Lingkungan pesantren yang sudah terbiasa dengan rutinitas dan interaksi yang terstruktur mungkin tidak secara spesifik melatih keterampilan ini dalam konteks yang bervariasi atau non-formal (Rachman, 2. Pendengar aktif (Active Listenin. adalah keterampilan komprehensif yang mengintegrasikan berbagai aspek seperti perhatian penuh, pemahaman verbal dan nonverbal, serta kemampuan untuk merespons dengan cara yang menunjukkan pemahaman (DeVito, 2. Prevalensi kategori sedang menunjukkan bahwa mahasiswa mungkin memiliki niat untuk mendengarkan, tetapi belum sepenuhnya menguasai semua komponen pendengar Mereka mungkin mendengarkan untuk merespons, bukan untuk memahami sepenuhnya (Stewart & Logan, 2. Ini berarti meskipun mereka bisa menyimak, mereka mungkin kesulitan dalam menahan diri dari menyela, memberikan penilaian, atau terlalu cepat menawarkan solusi. Dalam profesi konseling, kemampuan mendengarkan aktif adalah inti dari hubungan terapeutik, memungkinkan konselor untuk masuk ke dunia konseli dan memahami masalah dari sudut pandang konseli (Ivey & Ivey, 2. Keterbukaan diri (Self-Disclosur. adalah berbagi informasi pribadi tentang diri sendiri kepada orang lain (DeVito, 2. Keterampilan ini penting untuk membangun kepercayaan dan kedalaman hubungan. Kategori sedang bisa berarti mahasiswa mampu membuka diri pada tingkat yang dangkal atau dalam konteks yang aman . isalnya, dengan teman deka. , tetapi mungkin merasa canggung atau enggan untuk berbagi informasi yang lebih mendalam 125 | | Riska Yanawati. Faisal Akbar Rahmansyah. Ade Siti Mariyam. Keterampilan Komunikasi Interpersonal Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di Pesantren: Sebuah Studi Deskriptif Indonesian Journal of School Counseling Volume 5 . Agustus 2025 Page 120-129 DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. ISSN: 2775-555X atau rentan, terutama dalam lingkungan yang menjunjung tinggi privasi atau menjaga citra Konteks pesantren yang seringkali menekankan batasan dan murua'ah . enjaga kehormatan dir. mungkin membuat mahasiswa yang tinggal di pesantren lebih berhati-hati dalam keterbukaan diri (Wirawan, 2. Bagi seorang konselor, keterbukaan diri yang tepat waktu dan relevan dapat membangun jembatan dengan konseli, namun keterbukaan diri yang berlebihan atau tidak tepat justru bisa mengganggu proses konseling. Prevalensi mahasiswa dalam kategori sedang ini dapat dijelaskan dari beberapa Pertama, sebagai mahasiswa perguruan tinggi Islam yang mayoritas mungkin tinggal di lingkungan pesantren atau memiliki latar belakang pendidikan pesantren, mereka terbiasa dengan pola interaksi komunal yang khas. Lingkungan pesantren menekankan pentingnya adab, sopan santun, dan menjaga harmoni dalam interaksi sosial (Misbah, 2. Nilai-nilai ini tentu membentuk dasar komunikasi yang positif. Namun, seringkali komunikasi dalam konteks pesantren lebih bersifat hierarkis . ntara mahasiswa yang tinggal di pesantrenustaz/ustazah, junior-senio. dan mungkin kurang mendorong ekspresi diri secara bebas atau pembahasan isu-isu personal yang mendalam, yang merupakan aspek penting dari komunikasi interpersonal yang efektif (Wirawan, 2. Wirawan . bahkan menyoroti bahwa dinamika hubungan interpersonal di pesantren, jika tidak dikelola dengan baik, dapat memicu ketidaknyamanan atau kesalahpahaman. Oleh karena itu, meskipun mahasiswa memiliki bekal etika komunikasi yang kuat dari pesantren, mereka mungkin memerlukan pelatihan tambahan untuk mengembangkan keterampilan yang lebih adaptif dan terapeutik. Oleh karena itu, meskipun mereka memiliki dasar komunikasi yang baik, mereka mungkin belum sepenuhnya menguasai nuansa dan keterampilan yang lebih kompleks untuk situasi interpersonal yang beragam. Adanya kelompok mahasiswa dengan keterampilan komunikasi interpersonal yang tinggi . %) merupakan indikator positif. Mahasiswa dalam kelompok ini kemungkinan besar tidak hanya menguasai aspek dasar, tetapi juga mahir dalam komunikasi non-verbal, resolusi konflik, dan kemampuan persuasi yang etis (Wood, 2. Mereka bisa menjadi aset berharga sebagai peer counselor atau mentor bagi teman-teman mereka yang masih kesulitan. Keberadaan mereka juga menunjukkan bahwa lingkungan pesantren, meskipun memiliki tantangan, tidak sepenuhnya menghambat perkembangan keterampilan komunikasi yang unggul bagi individu tertentu. Identifikasi karakteristik mahasiswa dalam kategori tinggi ini dapat memberikan wawasan tentang faktor-faktor pendorong yang dapat direplikasi. Di sisi lain, proporsi mahasiswa yang berada pada kategori rendah . %) adalah area yang memerlukan perhatian mendesak. Mahasiswa ini mungkin menunjukkan kesulitan dalam berbagai aspek komunikasi, mulai dari kecemasan berbicara di depan umum, kesulitan memulai percakapan, kurangnya inisiatif dalam berinteraksi, hingga kurangnya pemahaman terhadap isyarat non-verbal orang lain (Stewart & Logan, 2. Kondisi ini tidak hanya akan menghambat perkembangan akademik mereka di jurusan BKPI, tetapi juga berpotensi menimbulkan isolasi sosial dan masalah adaptasi di lingkungan pesantren maupun kampus. Mahasiswa yang tinggal di pesantren dengan keterampilan komunikasi yang lebih baik cenderung memiliki strategi koping yang lebih adaptif, mampu mengekspresikan kesulitan, dan mencari solusi melalui interaksi sosial (Nurhayati & Kurniawan, 2. Mahasiswa dengan keterampilan rendah mungkin mengalami kesulitan lebih besar dalam beradaptasi dan merasa menjadi bagian dari komunitas. Dalam konteks BKPI, keterampilan komunikasi yang rendah adalah kontraindikasi serius terhadap kompetensi profesional di masa depan, karena konseling pada intinya adalah proses komunikasi yang intens dan empatik (Burnard, 1. 126 | | Riska Yanawati. Faisal Akbar Rahmansyah. Ade Siti Mariyam. Keterampilan Komunikasi Interpersonal Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di Pesantren: Sebuah Studi Deskriptif Indonesian Journal of School Counseling Volume 5 . Agustus 2025 Page 120-129 DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. ISSN: 2775-555X Implikasi dari temuan ini adalah pentingnya penguatan program pengembangan keterampilan komunikasi interpersonal dalam kurikulum BKPI di Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung. Intervensi yang terarah dapat dirancang untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan aktif, empati, asertivitas, negosiasi, dan resolusi konflik (DeVito, 2. Pelatihan praktis, simulasi kasus, serta kesempatan untuk refleksi diri dapat membantu mahasiswa yang berada di kategori sedang untuk bergerak menuju kategori tinggi, dan memberikan dukungan intensif bagi mahasiswa di kategori rendah untuk mengembangkan keterampilan dasar yang esensial. Dengan demikian, lulusan BKPI tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kapasitas interpersonal yang kuat, siap untuk menjalankan tugastugas konseling secara profesional dan efektif. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai keterampilan komunikasi interpersonal mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung Tasikmalaya yang tinggal di pesantren, dapat disimpulkan bahwa keterampilan komunikasi interpersonal mahasiswa yang tinggal di pesantren secara umum berada pada kategori sedang. Sebanyak 70% mahasiswa menunjukkan tingkat keterampilan komunikasi interpersonal sedang, sementara 18% berada di kategori tinggi, dan 12% di kategori rendah. Rata-rata skor keterampilan komunikasi interpersonal adalah 0,71 dengan standar deviasi 0,33. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun sebagian besar mahasiswa memiliki kemampuan dasar dalam berinteraksi, masih ada potensi besar untuk peningkatan kualitas komunikasi interpersonal mereka. Mahasiswa yang berada dalam kategori sedang kemungkinan telah menguasai aspek-aspek dasar komunikasi namun perlu pengasahan lebih lanjut dalam dimensi yang lebih kompleks seperti mendengarkan aktif, empati, asertivitas, dan resolusi konflik. Kehadiran sebagian kecil mahasiswa dengan keterampilan tinggi menunjukkan adanya role model yang baik. Saran