Siti Yuriah HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG HIV/AIDS DENGAN SIKAP TERHADAP PROVIDER INITIATED TEST AND COUNSELLING (PITC) Siti Yuriah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Al Ae MaAoarif Email: sitiyuriah@stikesalmaarif. ABSTRACT Human Immunodeficiency Virus is a virus that attacks the human immune system. Whereas. Acquired Immunodeficiency Syndrome is a number of symptoms of a disease that results in a decrease in the immune system. HIV and AIDS is a global public health problem, if it is not immediately treated, it will have complications such as tuberculosis, cryptococcal meningitis, bacterial infections, lymphomas. Kaposi's sarcoma and even death. HIV infection in pregnant women can spread to their babies. Primary Health Center of Sleman Yogyakarta had 2 HIV positive pregnant women registered as patients in 2018 which were detected from the results of the PITC test. This study aimed to determine the relationship between the level of knowledge of pregnant women and attitudes towards PITC at Primary Health Center of Sleman Yogyakarta. The research was a quantitative research with Cross Sectional approach. The population was 312 pregnant women and 76 of them were taken as respondents who had given the PITC The sampling technique was done by Quota Sampling on all pregnant women. Data were analysed through bivariate analysis using Kendall Tau. The results showed that there was a significant relationship between the level of knowledge of pregnant women about HIV / AIDS and attitudes toward PITC with p value . and r correlation coefficient of 0. 360 which indicated a low closeness relationship. Most of respondents had a good level of knowledge about HIV / AIDS and had a good attitude towards PITC. Midwives are expected to be able to convince pregnant women to undergo HIV / AIDS screening and increase promotion of HIV / AIDS. Kata Kunci: HIV/AIDS. Pregnant women. PITC. Knowledge level. Attitude ABSTRAK Human Immunodeficiency Virus merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh Sedangkan Acquired Immunodeficiency Syndrome merupakan kumpulan gejala penyakit yang mengakibatkan menurunnya sistem kekebalan tubuh. HIV dan AIDS menjadi permasalahan kesehatan masyarakat secara global, apabila tidak segera mendapatkan penanganan akan memberikan dampak komplikasi seperti TBC, meningitis kriptokokus, infeksi bakteri, limfoma, sarkoma kaposi hingga kematian. Infeksi HIV pada ibu hamil dapat menularkan kepada Puskesmas Sleman Yogyakarta terdaftar penderita 2 ibu hamil positif HIV pada tahun 2018 yang terdeteksi dari hasil tes PITC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil dengan sikap terhadap PITC di Puskesmas Sleman Yogyakarta. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Jumlah populasi 312 dengan sampel 76 responden ibu hamil yang sudah melakukan pemeriksaan PITC. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara Quota Sampling pada semua ibu hamil. Pengolahan data dengan analisa bivariat menggunakan Kendall Tau. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan signifikan antara hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS dengan sikap terhadap PITC dengan p value . dan r koefisien korelasi sebesar 0,360 menunjukkan hubungan keeratan rendah. Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik tentang HIV/AIDS dan mempunyai sikap baik terhadap PITC. Diharapkan bidan mampu meyakinkan ibu hamil untuk menjalani skrining HIV/AIDS dan meningkatkan promosi tentang HIV/AIDS. Kata Kunci: HIV/AIDS. Ibu hamil. PITC. Tingkat pengetahuan. Sikap Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Siti Yuriah PENDAHULUAN Salah Sustainable Development Goals (SDG. 2015-2030 adalah mengakhiri epidemi AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat di tahun Tertuang dalam tujuan ketiga yaitu untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang. Kesehatan yang baik adalah prasyarat untuk kemajuan dalam mengakhiri AIDS. Memastikan hidup sehat dan mempromosikan layanan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak penting untuk pembangunan berkelanjutan (Sidibe, 2. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Sedangkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang dapat mengakibatkan menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV (InfoDatin, 2. HIV dan AIDS masih permasalahan kesehatan masyarakat secara Masalah kesehatan tersebut apabila tidak segera mendapatkan penanganan dapat memberikan dampak komplikasi seperti TBC, meningitis kriptokokus, infeksi bakteri, limfoma, sarkoma kaposi hingga kematian (WHO, 2. Walaupun insiden HIV menurun dari 0,40 per 1000 penduduk menjadi 0,26 per 1000 penduduk di tahun 2016, namun kecenderungannya masih Hingga akhir tahun 2017. WHO melaporkan terdapat sekitar 36,9 juta orang dengan HIV/AIDS (ODHA), 940. kematian karena HIV dan 1,8 juta orang terinfeksi baru akibat HIV (UNAIDS, 2. Salah satu faktor risiko wanita HIV penularan HIV dari ibu ke bayinya, baik selama kehamilan, persalinan maupun Pada tahun 2017 sejumlah 000 wanita hamil hidup dengan HIV, 10,8 % ibu melahirkan menularkan ke bayinya dan 20,2 % terjadi penularan selama Penularan HIV dari ibu ke anak merupakan penyebab utama terjadinya infeksi HIV anak usia di bawah 15 tahun (WHO, 2. Di Indonesia, insiden HIV mencapai 0,19 per 1000 penduduk. Insiden tersebut masih di bawah angka global, namun berada di atas angka rata-rata wilayah Asia Tenggara . ,08 per 1000 Bahkan menempati urutan tertinggi ketiga ODHA di wilayah Asia Pasifik setelah India dan China. Kematian karena AIDS juga dilaporkan meningkat 68% di tahun 2016. Kondisi ini menjadi tantangan berat Indonesia untuk mencapai tujuan SDGs di tahun 2030 (WHO, 2. Faktor risiko penularan HIV/AIDS paling dominan di Indonesia tahun 2017 yaitu heteroseksual sebesar 68,9%, homoseksual 20,4%, perinatal . enularan dari ibu ke bay. 2,7%, pengguna narkoba suntikan 2,1%, biseksual 1,0%, transfusi 0,3%, lain-lain 0,4%, dan tidak diketahui 4,2%. Data Kemenkes menunjukkan dari 21. 103 ibu hamil yang menjalani tes HIV, 534 . ,5%) di antaranya positif terinfeksi HIV (Kemenkes RI, 2. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempati urutan ke-9 sebagai provinsi dengan penderita HIV-AIDS. Pada tahun 2016 berjumlah 4. 317 kasus HIV dan meningkat pada tahun 2017 yaitu 5. Jumlah kumulatif HIV/AIDS di Kabupaten Sleman tahun 2016 sebesar 1220 kasus . kasus HIV dan 352 kasus AIDS). Kabupaten Sleman menempati posisi tertinggi dibandingkan kabupaten lainnya di DIY. Urutan kedua di kabupaten Bantul dengan 1139 kasus . HIV dan 307 AIDS), kemudian disusul Kota dengan 1061 kasus . HIV dan 242 AIDS). Gunung Kidul dengan 411 kasus . HIV dan 158 AIDS), dan Kulon Progo menempati posisi terendah yaitu 247 kasus . HIV dan 65 AIDS) (Dinkes DIY, 2. Risiko seorang ibu menularkan HIV kepada bayinya diperkirakan 5-10% selama kehamilan, 10-20% selama persalinan dan 5-20% melalui menyusui. Jika tanpa intervensi pencegahan, tingkat penularan HIV dari ibu ke anak bervariasi apabila tidak menyusui 15%-30% dan 30%-45% dengan menyusui berkepanjangan (WHO. Persentase wanita hamil dengan HIV yang mengkonsumsi obat antiretroviral meningkat dari tahun 2010 sejumlah 3% menjadi 13% di tahun 2017 seiring adanya program pencegahan penularan dari ibu ke bayi (UNAIDS, 2. Provider Initiated Test and Counselling (PITC) adalah program pencegahan penularan dari ibu pengidap HIV ke bayi yang dikandungnya dengan cara mendeteksi Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Siti Yuriah dini melalui konseling dan tes HIV. PITC dan Tes HIV Sukarela dilaksanakan dilayanan kesehatan dasar salah satunya Puskesmas, dilakukan di poliklinik KIA/KB dengan sasaran ibu hamil (Depkes R1, 2. PITC didirikan oleh WHO pada tahun 2007 sebagai metode pengujian HIV untuk menggantikan VCT. Kebijakan PITC telah Botswana. Lesotho, dan Kenya ketika WHO mengeluarkan panduannya (USAID, 2. Di Indonesia sendiri. Kemenkes telah mengeluarkan pedoman penerapan PITC sejak tahun 2010. Sayangnya setelah sekitar lima tahun diterapkan, masih sangat sedikit evaluasi terhadap penerapan PITC di Indonesia. Apabila ada, evaluasi tersebut skalanya kecil terpublikasi dengan baik sehingga sulit untuk dijadikan pembelajaran bersama (Lily, 2. Menurut Iswidhiastuti, . , di Kota Jember, menunjukkan ada sebagian perempuan menolak dilakukan pemeriksaan PITC dengan alasan jika hasil tes positif, mereka tidak ingin di jauhi keluarganya, walaupun pilihan tersebut kesempatan untuk diobati. Stigma yang buruk terhadap penyakit HIV masih tinggi dan menyebabkan kesalahpahaman. Anggapan masyarakat yang tidak mengetahui penyakit HIV/AIDS menjadikan banyaknya informasi tidak benar diterima oleh masyarakat terkait penularannya, sehingga muncul pandangan negatif di ODHA dianggap tidak wajar oleh masyarakat karena beranggapan penyakit tersebut adalah penyakit yang kotor, menjijikan, dan mematikan. Menurut pandangan masyarakat penyakit HIV/AIDS ditularkan melalui pakaian, bekas kursi yang diduduki, bersentuhan tangan, penggunaan WC yang sama, tinggal serumah dan menggunakan sprei yang sama dengan penderita (Katiandagho, 2. Program layanan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PITC) ditawarkan kepada setiap ibu hamil yang datang ke terintegrasi di layanan kesehatan ibu dan anak (KIA), sesuai dengan kebijakan Permenkes RI Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan HIV. Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak dengan membuat kebijakan dalam pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif (Permenkes RI, 2. Sesuai Permenkes Nomor 97 tahun 2014 dalam pasal 10-11 tentang pedoman pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, bahwa wewenang bidan dalam pencegahan HIV adalah menganjurkan mendeteksi dini adanya virus HIV dengan memberikan konseling tentang penyakit menular dan merujuk jika hasil test HIV positif khususnya ibu hamil (Permenkes RI, 2. Sesuai Peraturan Daerah DIY Penanggulangan HIV dan AIDS. Program pengendalian HIV/AIDS masyarakat DIY Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germa. Tujuannya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS, menggerakkan peran serta aktif masyarakat secara luas dalam upaya pencegahan penularan HIV, menumbuhkan kesadaran tentang perlunya tes HIV untuk semua orang, serta menghilangkan stigma untuk HIV (KPA DIY, 2. Hal-hal yang berhubungan dengan pemeriksaan tes HIV yaitu pengetahuan, sikap, dukungan dari suami, keluarga, dan tenaga kesehatan. Upaya untuk mencegah penularan HIV ke bayinya dengan HIV/AIDS seperti PITC (Notoatmodjo. Pengetahuan tentang HIV dapat membantu pencegahan penularan sejak dini. Oleh karena itu PITC dapat meningkatkan akses pelayanan konseling dan tes HIV di negara-negara yang epidemi HIV sudah Pengetahuan adalah hasil bentuk informasi penting dalam mempengaruhi seseorang untuk mengambil keputusan. Hal ini sejalan dengan penelitian Sanusi . , responden yang mempunyai pengetahuan baik berpeluang 14,7 kali untuk tes HIV mempunyai pengetahuan kurang. Sikap ibu hamil terhadap pemanfaatan tes HIV adalah bagaimana ibu menilai atau berpendapat tentang manfaat tes HIV. Penilaian tersebut kemudian akan mendorong individu untuk melaksanakan apa yang diketahui, disikapi, atau dinilai Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Siti Yuriah baik sehingga dapat menentukan untuk dilakukan tes HIV atau tidak (Arniti, 2. Menurut Notoatmodjo positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan Data Dinkes Sleman menunjukkan dari 25 Puskesmas di kabupaten Sleman. Puskesmas Sleman dan Puskesmas Pakem menempati urutan terbanyak dengan 2 penderita ibu hamil yang positif HIV (Dinkes Sleman, 2. Dari hasil studi pendahuluan pada tanggal 20 Desember 2018 di Puskesmas Sleman dengan teknik wawancara didapatkan 8 ibu hamil yang saat itu datang untuk memeriksakan kehamilan rutin, tujuh ibu hamil mengatakan sudah melakukan tes HIV, karena ada penawaran dari petugas kesehatan, ibu mengatakan menerima untuk melakukan pemeriksaan HIV dengan alasan untuk mendeteksi penyakit agar cepat ditangani apabila terdeteksi penyakit HIV dan satu ibu hamil mengatakan tidak pernah tes HIV karena ibu beranggapan bahwa kehamilannya normal Dari uraian diatas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil dengan sikap tentang PITC di Puskesmas Sleman Yogyakarta. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional survey. Jumlah sempel 76 responden. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling. Pengolahan data dilakukan dengan analisis univariat untuk mengetahui gambaran distribusi frekuensi dan proporsi dari masing-masing variabel. Analisa bivariat untuk menguji hubungan yang digunakan adalah uji korelasi Kendall Tau. Keeratan hubungan antara pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS dengan sikap terhadap PITC ditentukan oleh koefisiensi korelasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisa Univariat Karakteristik Responden Penelitian ini dilakukan terhadap responden sebanyak 76 ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Sleman Yogyakarta yang dilakukan pada bulan Juli 2019. Berdasarkan hasil analisis dilakukan, didapatkan distribusi responden sebagai berikut: Karakteristik Responden Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Hamil Umur Frekuensi Presentase (%) < 20 tahun 20-35 tahun > 35 tahun Jumlah Berdasarkan hasil penelitian mengenai umur responden yang terdapat pada tabel 1 dapat diketahui bahwa umur responden dalam penelitian ini mayoritas berumur 2035 tahun berjumlah 62 responden . ,6%). Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Hamil Presentase Pendidikan Frekuensi SD/Sederajat 17,1 % SMP/Sederajat 22,7 % SMA/Sederajat 44,7 % Perguruan 15,8 % Tinggi/Sederajat Jumlah Berdasarkan hasil penelitian mengenai pendidikan responden yang terdapat pada tabel 2 dapat diketahui bahwa responden berpendidikan SMA yaitu 34 orang . ,7%). Karakteristik Responden Berdasarakan Pekerjaan Tabel 3. Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Hamil Presentase Pekerjaan Frekuensi Tidak Bekerja Bekerja Jumlah Berdasarkan responden yang terdapat pada tabel 3 dapat diketahui bahwa pekerjaan responden dalam penelitian ini mayoritas bekerja yaitu berjumlah 41 responden . ,9%). Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Siti Yuriah Tabel 6. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tingkat Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Hamil Tentang HIV/AIDS dengan Sikap Tentang HIV/AIDS di Puskesmas Terhadap PITC Sleman Yogyakarta Tingkat Sikap Terhadap Total Tabel 4. Distribusi Frekuensi Tingkat PITC Pengetahuan Ibu Hamil Tentang HIV/AIDS Pengetahuan Pengetahuan Baik Cukup Kurang Jumlah Frekuensi Presentase % 48,7% 32,9% 18,4% Berdasarkan tabel 4 pada variabel pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS mayoritas baik yaitu berjumlah 37 responden . ,7%). Ibu Hamil Tentang HIV/AIDS Analisis Bivariat Analisis pada penelitian ini hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS dengan sikap terhadap PITC. Dengan identifikasi melalui analisis bivariat dengan menggunakan uji statistic Kendall Tau. Hasil tabulasi terdapat pada tabel di bawah ini : Cukup Kura Baik F % % F % 23 30,3 14 18,4 0 0 Cukup 15 19,7 Kurang 12 15,8 2 2,6 Jumlah 38 50,0 35 46,1 3 3,9 Tabel 5. Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Hamil Terhadap PITC Sikap Frekuensi Presentase Baik 50,0% Cukup 46,1% Kurang 3,9% Jumlah Berdasarkan tabel 5 pada variabel sikap menunjukkan bahwa sikap ibu hamil terhadap PITC mayoritas baik yaitu berjumlah 38 responden . ,0%). Baik 11,8 1 1,3 (Sumber: data primer,diolah 2. Berdasarkan hasil analisis bivariat untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS dengan sikap terhadap PITC pada tabel 6 terlihat bahwa 37 responden menunjukan HIV/AIDS, 23 responden . ,3%) dengan pengetahuan baik dan sikap yang baik, dan 14 responden . ,5%) dengan pengetahuan baik dan sikap yang cukup. Hasil analisis Kendall Tau bahwa p value 0,001 atau p value < 0,05 maka Ho ditolak Ha diterima yang berarti terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS dengan sikap terhadap PITC di Puskesmas Sleman Yogyakarta. Hasil nilai koefisien korelasi sebesar 0,360 pada uji ini menunjukkan bahwa adanya hubungan keeratan rendah (Arikunto, 2. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis berdasarkan univariat dan bivariat data yang diperoleh dari kuesioner kemudian diolah dan disusun dijadikan pembahasan. Membandingkan dengan teori atau penelitian sebelumnya. Pembahasan hipotesis dan tujuan penelitian. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS dengan sikap terhadap PITC di Puskesmas Sleman Yogyakarta. Analisis data yang dilakukan dengan melihat hasil pvalue pada statistic. Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 PVal Siti Yuriah Karakteristik Responden Berdasarkan ditinjau dari umur responden sebagian besar reponden berumur 20 Ae 35 tahun, umur tersebut tegolong reproduktif, hubungan sosial responden yang masih muda akan memperlancar proses interaksi sosial karena tidak terhambat oleh kesehatan yang mulai menurun, sehingga informasi kesehatan khususnya tentang HIV/AIDS dapat diperoleh dengan mudah. Menurut Kumalasari . semakin cukup umur akan mempengaruhi tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Pengetahuan juga akan dipengaruhi dari pengalaman, baik pengalaman langsung maupun pengalaman orang lain. Menurut Harlock . , semakin cukup umur, tingkat kematangam dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Sukaesih bahwa ibu yang masih berada dalam usia reproduktif yaitu 20-35 berpeluang 7,3 kali akan dapat menerima pengetahuan dan memiliki pengalaman yang dapat mempengaruhi pola pikir terhadap suatu objek atau informasi yang Ditinjau responden, sebagian besar berpendidikan SMA/Sederajat yaitu 34 responden ,7%), SD/Sederajat sebanyak 13 responden . ,1%), berpendidikan SMP/Sederajat sebanyak 17 responden . ,7%), dan berpendidikan PT/Sederajat sebanyak 12 responden . ,8%). Pendidikan seseorang akan mempengaruhi pengetahuan seseorang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden sebagian besar dengan kategori baik dapat disebabkan karena responden paling banyak berpendidikan SMA. Pendidikan SMA/SMK merupakan pendidikan menengah tinggi . econdary educatio. yaitu memiliki pendidikan yang tinggi. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin mudah orang tersebut memperoleh informasi, baik dari orang lain maupun media massa (Budiman, 2. Semakin banyak informasi yang masuk, semakin banyak pula pengetahuan ibu tentang kesehatan. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Mwamwenda menyimpulkan adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS. Semakain tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin baik pengetahuannya tentang HIV/AIDS. Ditinjau dari pekerjaan responden sebagian besar ibu bekerja sebanyak 41 responden . ,9%). Pekerjaan merupakan kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari artinya makin cocok jenis pekerjaan yang diemban, makin tinggi pula kepuasan yang Menurut Notoatmodjo . berkaitan dengan informasi, seseorang yang mempunyai informasi lebih banyak akan mempunyai pengetahuan yang luas. Dikaitkan dengan pekerjaan responden pada penelitian ini yang mayoritas bekerja dapat diasumsikan bahwa untuk mendapat informasi mengenai penyakit HIV/AIDS cukup baik karena menurut Wawan dan Dewi . ibu yang tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga terdapat keterbatasan dalam mempunyai sosialisasi dan interaksi dibandingkan dengan ibu yang bekerja. Sehingga ibu hamil yang bekerja akan sangat mudah dalam mendapatkan informasi, sosialisasi dan interaksi kepada lingkungan sekitar yang membuat pengetahuan ibu hamil Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang HIV/AIDS Terhadap PITC di Puskesmas Sleman Yogyakarta Berdasarkan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS di Puskesmas Sleman Yogyakarta banyak ibu hamil yang memiliki pengetahuan baik yang berjumlah 37 responden . ,7%). Data tersebut juga menunjukkan bahwa HIV/AIDS, dapat diketahui melalui kenyataan . endengar sendir. , serta melalui surat kabar/koran. TV, leafleat, penyuluhan langsung personal dan dengan ditambah oleh konseling oleh tenaga kesehatan. Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Siti Yuriah Menurut (Notoatmodjo, 2. ada beberapa hal yang mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu pertama tingkat pendidikan. Pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan, sehingga terjadi pemahaman perilaku positif yang meningkat. Semakin tinggi pendidikan, seseorang akan semakin mudah menerima hal-hal baru dan mudah menyesuaikan dengan hal tersebut. Yang kedua adalah informasi, seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan mempunyai pengetahuan yang luas. Hal yang mempengaruhi pengetahuan yang ketiga adalah budaya, budaya sangat berpengaruh karena informasi yang baru akan disaring dan dipilih sesuai dengan budaya yang ada. Yang keempat pengalaman, berkaitan dengan umur individu semakin tua umur seseorang akan semakin bertambah banyak pengalaman. Kemudian yang adalah sosial ekonomi, lingkungan sosial akan mendukung ekonomi berkaitan dengan pendidikan seseorang, jika tingkat ekonomi baik maka tingkat pendidikan juga akan tinggi sehingga pengetahuan akan tinggi juga. Dari hal tersebut dapat dilihat juga pada kuesioner butir soal no 1 tentang pengertian HIV sebagian besar responden 73 . ,1%) menyatakan bahwa ibu sudah mengerti HIV itu berasal dari virus, virus ini dapat mengakibatkan AIDS, dan dapat menular ke janin apabila ibu yang HIV/AIDS Adanya pengetahuan yang baik ibu hamil tentang HIV/AIDS akan HIV. Tes HIV/AIDS atau PITC apabila tidak didukung dengan pemberian informasiinformasi yang jelas maka akan terjadi peningkatan penularan virus HIV. Sikap Ibu Hamil Terhadap PITC di Puskesmas Sleman Yogyakarta Berdasarkan hasil yang telah kebanyakan ibu hamil memiliki sikap baik tentang HIV/AIDS terhadap PITC yaitu sebanyak 38 responden . ,0%), diikuti dengan kategori cukup sebanyak 35 responden . ,1%) dan kurang sebanyak 3 responden . ,9%). Ibu hamil yang memiliki sikap baik terhadap konseling dan tes HIV seperti pada butir soal kuesioner nomor 13 yaitu tentang sikap responden terhadap manfaat program PITC. Ibu hamil berpendapat bahwa faktor resiko terjadinya penyakit HIV/AIDS dapat dideteksi secara dini melalui program PITC yang terintegrasi KIA yang berada di fasilitas kesehatan primer atau Puskesmas untuk proses penentuan kejelasan status HIV. Berdasarkan kuesioner yang telah diisi ibu hamil dilihat dari aspek kognitif sebagian besar responden memilih jawaban setuju namun ada yang memilih tidak setuju. Aspek pengetahuan, kepercayaan/pikiran yang berhubungan dengan obyek yang menghasilkan suatu keputusan untuk Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Kepercayaan datang dari apa yang telah dilihat atau apa yang telah diketahui (Azwar, 2. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Walgito, 2. bahwa pengetahuan memegang peranan penting Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan hal ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, individu dorongan untuk mengerti, dengan Menurut (Notoatmodjo, 2. bahwa tingkat pengetahuan merupakan domain bagi seseorang untuk melakukan tindakan seseorang hingga taraf memahami ditunjukkan melalui penginterpretasian materi secara benar selanjutnya pengaplikasian secara rill, yang berarti mampu memandang penyakit HIV/AIDS dengan benar. Pengetahuan dapat mempengaruhi sikap seseorang untuk melakukan suatu tindakan, dalam hal ini sikap ibu hamil terhadap penyakit HIV/AIDS. Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Siti Yuriah Hal ini didukung oleh penelitian Taha . didapatkan hasil bahwa pengetahuan berkorelasi positif terhadap Hal ini membuktikan pentingnya untuk meningkatkan pengetahuan seseorang yang pada akhirnya akan membentuk sikap orang Dan didukung oleh penelitian Yasemin . yang menjelaskan bahwa meningkatnya pengetahuan seseorang dapat mengubah terhadap suatu permasalahan dan hal pengembangan kesadaran diri seseorang. Hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS dengan sikap terhadap Provider Initiated Test and Counselling (PITC) Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil berpengetahuan baik bersikap baik yaitu sebanyak 23 responden . ,2%) dan pengetahuan baik bersikap cukup yaitu sebanyak 14 responden . ,8%). Pengetahuan cukup bersikap baik 15 . ,0%), pengetahuan cukup bersikap cukup sebanyak 9 responden . ,0%), dan pengetahuan cukup bersikap kurang sebanyak 1 . ,0%). Pengetahuan kurang bersikap cukup sebanyak 12 responden . ,7%) dan pengetahuan kurang bersikap kurang 2 responden . ,3%). Sebagian besar responden berpengetahuan baik dengan sikap baik dalam melakukan tes HIV/AIDS pada kehamilannya. Dari uji statistik menggunakan Kendall Tau didapatkan bahwa p value = 0,001 < 0,05 Ho ditolak Ha diterima berarti terdapat hubungan pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS dengan sikap terhadap PITC di Sleman Yogyakarta yang memiliki nilai korelasi 0,360 dengan keeratan hubungan rendah. Penelitian ini relevan dengan hasil penelitian (Titik, 2. menunjukkan bahwa sebanyak 21 . ,0%) ibu hamil yang pengetahuan tentang HIV/AIDS dan VCT nya baik dan mereka merasa terhadap konseling dan tes HIV/AIDS secara sukarela di Puskesmas Karangdoro Semarang. Sebaliknya 12 . ,6%) ibu hamil yang memiliki pengetahuan kurang tentang HIV/AIDS dan VCT lebih cenderung sikap tidak setuju atau kurang terhadap konseling dan tes HIV/AIDS secara sukarela di Puskesmas Karangdoro Semarang. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan adanya hubungan antara ibu hamil yang mengetahui bahwa HIV/AIDS dapat menular pada bayinya maka dan tes HIV/AIDS. Selain itu tempat pelayanan konseling dan tes ini masih terbatas pada tempat-tempat tertentu atau masih sulit untuk dijangkau. Dengan demikian maka dilakukan koreksi Continuity Correction dengan X2 hitung . ,240 > 3,. artinya ada perbedaan sikap ibu hamil antara yang memiliki pengetahuan baik dan cukup dengan pengetahuan Dengan kata lain ada hubungan antara pengetahuan ibuhamil tentang HIV/AIDS dan VCT dengan sikap terhadap konseling dan tes HIV/AIDS secara sukarela di Puskesmas Karangdoro Semarang. Menurut (Rosyidah, pengetahuan, keyakinan, dan faktor demografi serta faktor pendukung yang lain juga dapat mempengaruhi seseorang untuk bersikap. Dengan ini sudah dapat terbaca bahwa sikap yang baik dapat terbentuk dari pengetahuan yang baik. Adanya semua ini dapat tercapai karena peran serta dari berbagai pihak untuk semua program untuk kesehatan ibu hamil khususnya, agar kesehatan baik ibu hamil ataupun janin yang dikandung sehat dan tidak tertular virus HIV/AIDS. Adanya hubungan antara ibu hamil yang mengetahui bahwa HIV/AIDS dapat menular pada bayinya maka ia perlu melakukan konseling dan tes HIV/AIDS Menurut (Peganarifan, 2. dalam hal ini untuk menurunkan angka penderita HIV/AIDS, dibutuhkan peran serta orang tua, keluarga, lingkungan, dan penyuluhanpenyuluhan pada semua lapisan masyarakat umumnya dan ibu hamil khususnya yang juga rentan terhadap HIV/AIDS. Menurut penelitian (Sitorus, 2. tingkat pengetahuan PITC dari sampel yang semula rendah dapat ditingkatkan hingga menjadi baik melalui Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Siti Yuriah penyuluhan, sosialisasi, dan promosi. Sikap dan perilaku pasien terhadap PITC juga diubah namun perubahan tersebut tidak dapat menciptakan sikap dan perilaku yang baik bagi sebagian besar sampel. Penyebab utama hal ini adalah perasaan takut tehadap stigma, diskriminasi dan masyarakat sekitar apabila seseorang melakukan tes infeksi HIV. Selain itu, seseorang yang melakukan tes PITC juga seringkali ditunjuk memiliki riwayat promiskuitas atau positif menderita penyakit AIDS. PENUTUP Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut sebagian besar responden berumur 20-35 tahun yaitu sebanyak 62 responden . ,6%). SMA/Sederajat sebanyak 34 responden . ,7%) dan sebagian besar responden bekerja sebanyak 41 responden . ,9%). Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS berpengetahuan baik sebanyak 37 responden . ,7%). Sikap ibu hamil terhadap PITC sebagian besar dengan kategori baik sebanyak 38 responden . ,0%). Terdapat hubungan tingkat HIV/AIDS dengan sikap terhadap PITC di Puskesmas Sleman yang signifikan secara statistik dengan nilai P-Value 0,001 < 0,05. Terdapat keeratan hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS dengan sikap terhadap PITC di Puskesmas Sleman Yogyakarta dengan nilai koefisien korelasi 0,360 menunjukkan keeratan rendah. DAFTAR PUSTAKA