Dinamika Kenakalan Remaja Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama AL AZHAR Gresik Melisa UPT SD Negeri 239 Gresik meborahe@gmail. Indari Program Studi Pendidikan Ilmu Sosial. Universitas Negeri Surabaya ndhaindari@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dinamika kenakalan remaja dan apa saja faktor yang mempengaruhi munculnya kenakalan remaja pada siswa SMP AL AZHAR gresik. Metode penelitian ini dipilih secara purposive sampling. Jumlah dari informan adalah 4 orang yaitu 3 orang santri putra dan 1 orang pengurus pondok sebagai informan pendukung. Hasil penelitian ini menemukan bahwa dinamika kenakalan remaja pada siswa SMP Al Azahar muncul dalam empat aspek, yaitu: . orientasi, . emosi, . interaksi sosial, dan . Temuan yang menarik dari penelitian ini adalah dua faktor utama yang menyebabkan munculnya perilaku kenakalan remaja pada siswa SMP Al Azhar yaitu waktu dan pengawasan. Kata Kunci: Faktor penyebab 1. Kenakalan Remaja 2. Siswa Sekolah Berbasis Islam 3. Dynamics of Juvenile Delinquency in AL AZHAR Gresik Junior High School Students Abstract This research aims to find out the dynamics of juvenile delinquency and what factors influence the emergence of juvenile delinquency among students at AL AZHAR Middle School in Gresik. The informants for this research were selected using purposive sampling. The number of informants was 4 people, namely 3 male students and 1 boarding school administrator as supporting informants. The results of this research found that the dynamics of juvenile delinquency among Al Azahar Middle School students appeared in four aspects, namely: . orientation, . emotions, . social interactions, and . An interesting finding from this research is the two main factors that cause the emergence of juvenile delinquent behavior in Al Azhar Middle School students, namely time and Keywords: Causal factor 1. Juvenile Delinquency 2. Islamic Based School Students 3. PENDAHULUAN Pesantren merupakan lembaga pendidikan agama Islam untuk mempelajari, memahami, menghayati serta mengamalkan ajaran Islam dengan penekanan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan pendidikan di pesantren adalah untuk membentuk manusia yang bertaqwa dan mampu hidup dengan kekuatan sendiri. Melalui pendidikan di pesantren anak-anak diharapkan dapat menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan bertaqwa kepada Allah. Kehidupan di pondok pesantren tidak terlepas dari masalah yang berkaitan dengan santrinya. Tanpa dikehendaki, perilaku menyimpang santri sering kali terjadi dalam kehidupan sosial di Peraturan yang sudah diterapkan pesantren tidak membuat santri mengikuti semua peraturan yang ada (Sadali, 2. Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan (Rahmadi et al. , 2. Kesalahan yang dilakukannya sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungannya, orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahankesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja (Sumara. Humaedi. Santoso, 2. Kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit . secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal (Karlina, 2. Kenakalan remaja sebagai tingkah lakuyang menyimpang dari norma-norma hukum pidana, sedangkan kenakalan remaja suatu tindakan anak muda yang dapat merusak dan menggangu, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kenakalan remaja sebagai kumpulan dari berbagaiperilaku, dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial sampai tindakan kriminal. Aspek-aspek kenakalan remaja sebagai berikut (Khermarinah, 2. Orientasi pada umumnya anak pada usia remaja tidak terlalu memikirkan masa yang akan datang, karena yang terpenting adalah masa sekarang dan waktunya banyak digunakan untuk bersenang-senang (Haruman et al. , 2. Emosi di usia remaja anak memiliki emosi yang belum matang, terkadang jika keinginannya tidak terpenuhi maka emosinya tidak terkontrol dan dilampiaskan dalam bentuk-bentuk reaksi kompensatoris. Interaksi sosial. Remaja sebaiknya mampu bersosialisasi dengan lingkungan sosialnya sehingga dapat bertanggung jawab secara sosial terhadap lingkungannya (Haya, 2. Aktivitas remaja menginginkan adanya pengakuan dari lingkungannya dengan melakukan aktivitas yang terkadang menantang dan hal ini dapat dilakukan berdasarkan dengan berkompetisi dengan remaja lainnya (Hamali, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi Fokus penelitian pada dinamika kenakalan remaja dan apa saja faktor yang mempengaruhi munculnya kenakalan remaja (Netrasari, 2. Penelitian ini dipilih secara purposive sampling. Jumlah dari informan adalah 4 orang yaitu 3 orang santri putra dan 1 orang pengurus pondok. Dalam penelitian ini mengkhususkan informan santri dengan ciri-ciri yaitu berstatus santri tetap SMP Al Azhar, berusia 13-16 tahun dan pernah melakukan pelanggaran lebiih dari lima kali. Pada penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara dan observasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Dinamika kenakalan remaja pada siswa Sekolah Menengah Pertama berbasis Pendidikan Islam merupakan serangkaian sikap melanggar aturan yang dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain yang dilakukan remaja di bawah umur 17 tahun. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan pada tiga orang santri SMP Al Azhar gresik dan satu informan pendukung didapatkan bahwa kenakalan remaja pada siswa SMP Al Azhar terbentuk karena rasa bosan dan penasaran yang dialami siswa/santri. Dinamika kenakalan remaja pada siswa SMP Al Azhar muncul dalam empat aspek, yaitu: . Orientasi, . Emosi, . Interaksi sosial, dan . Aktivitas. Pada aspek orientasi, dinamika kenakalan remaja muncul disebabkan oleh pemahaman dan pendapat santri tentang peraturan di sekolah maupun pesantren, selain itu pengaruh dari peraturan tersebut juga menjadi salah satu hal yang mempengaruhi munculnya perilaku nakal pada santri. Sedangkan pada aspek emosi dapat dilihat dari alasan santri melakukan pelanggaran, waktu melakukan pelanggaran, dan perasaan setelah melakukan pelanggaran. Selain itu, aspek interaksi sosial dapat dilihat dari peran orang tua, peran guru atau pengasuh, dan pengaruh teman sebaya. Pada aspek aktivitas dapat dilihat dari jenis pelanggaran dan proses melakukan pelanggaran (Utomo & Nursalim, 2. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa dalam situasi tertentu, terutama dalam hal waktu dan pengawasan yang kosong atau longgar, siswa berkemungkinan melakukan atau tidak melakukan pelanggaran. Bagi siswa memilih untuk tidak melanggar, biasanya mereka akan melakukan aktivitas lain seperti belajar kelompok, mencuci, mengerjakan tugas, dan kegiatan lainnya. Siswa yang melakukan pelanggaran terdapat dua jenis yaitu pelanggaran yang dilakukan berkelompok dan pelanggaran yang dilakukan sendiri. Pelanggaran kelompok dilakukan karena siswa ingin merasa sama dengan temannya, diakui, rasa penasaran, dan keinginan untuk mengikuti teman. Sedangkan pelanggaran individu dilakukan karena rasa penasaran dan ingin mencoba (SuAoud, 2. Ketika siswa melakukan pelanggaran bersama teman sebayanya secara kelompok, mereka akan cenderung merasa was-was pada awalnya, namun mereka merasa senang, bangga, dan bahagia karena bisa membuktikan pada temannya bahwa ia mampu melakukan pelanggaran. Remaja menginginkan adanya pengakuan dari lingkungannya dengan melakukan aktivitas yang terkadang menantang dan hal ini dapat dilakukan berdasarkan dengan berkompetisi dengan remaja lainnya. Sedangkan ketika melakukan pelanggaran individu siswa akan merasa was-was dan takut. Kemudian siswa akan merasa senang setelah melewati hukuman yang diberikan. Peran orang tua berpengaruh dalam sikap anak untuk memberikan kebebasan pada anaknya membuat anak tidak jera dalam melakukan pelanggaran, tetapi jika orang tua mengawasi anak dengan ketat, anak menjadi cukup jera untuk melakukan pelanggaran (Nur & Malli, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Patterson dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Setelah melakukan pelanggaran, terdapat dua situasi yang mungkin dialami siswa, yaitu ketahuan atau tidak ketahuan. Saat pelanggaran diketahui pihak sekolah, siswa yang melanggar akan merasa tidak tenang dan takut dimarahi jika orang tua mereka mengetahui. Ketika diberi hukuman, siswa akan merasa malu, menyesal, kecewa, dan jera. Biasanya selama proses hukuman berlangsung mereka menyendiri dan merenung. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan bahwa siswa tersebut tidak akan mengulangi melakukan pelanggaran (Fatmala. Sedangkan saat pelanggarannya tidak diketahui pihak sekolah, siswa akan merasa bahwa pelanggaran yang dilakukannya berhasil karena tidak mendapat hukuman sehingga tidak menimbulkan perasaan jera pada diri siswa. Hal tersebut membuat siswa memiliki keinginan untuk melakukan kembali pelanggaran tersebut atau mencoba melakukan pelanggaran lainnya. Berdasarkan wawancara yang dilakukan, ditemukan bahwa terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi munculnya perilaku kenakalan remaja pada siswa SMP Al Azhar, yaitu waktu atau kesempatan melakukan pelanggaran serta pengawasan dilingkungan pondok. Adanya kesempatan untuk melakukan pelanggaran menjadi faktor yang sering memicu munculnya pelanggaran. Pada saat jam pelajaran kosong atau pada jam-jam tertentu seperti pada jam istirahat, siswa merasa bosan dan akan mencari kegiatan yang menurut mereka dapat menghilangkan kebosanan tersebut (Wini, 2. Kenakalan remaja juga dapat digambarkan sebagai kegagalan untuk mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah laku. Beberapa anak gagal dalam mengembangkan kontrol diri yang esensial yang sudah dimiliki orang lain selama proses pertumbuhan. Kebanyakan remaja telah mempelajari perbedaan antara tingkah laku yang dapat diterima dan tingkah laku yang tidak dapat diterima, namun remaja yang melakukan kenakalan tidak mengenali hal Mereka mungkin gagal membedakan tingkah laku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima, atau mungkin mereka sebenarnya sudah mengetahui perbedaan antara keduanya namun gagal mengembangkan kontrol yang memadai dalam menggunakan perbedaan itu untuk membimbing tingkah laku Selanjutnya dalam hal pengawasan, berkaitan dengan peran orang tua dan guru/pengasuh yang berada di lingkungan sehari-hari siswa, terutama orang Penerapan disiplin keluarga yang tidak tepat dapat menjadi faktor munculnya perilaku nakal pada remaja. Ketika anak sering memperoleh perlakuan kasar dan keras dari orang tua, mungkin anak akan taat dan patuh dihadapan orang tua. Akan tetapi, sifat kepatuhan itu semu dan sementara (Krisdayanti, 2. Mereka cenderung akan melakukan tindakan-tindakan yang negatif sebagai pelarian maupun protes terhadap orang tuanya. Penelitian yang dilakukan oleh Patterson dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Perselisihan dalam keluarga atau stress yang dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan. Faktor genetik juga termasuk pemicu timbulnya kenakalan remaja, meskipun persentasenya tidak begitu besar (Khermarinah, 2. Selain pengawasan dari keluarga, terutama orang tua, pengawasan guru di lingkungan sekolah juga sangat penting. Apalagi untuk sekolah dengan sistem pesantren yang mengharuskan siswa tinggal di pesantren. Guru atau pengasuh menjadi orang yang seharusnya lebih banyak berinteraksi dengan siswa dan mengetahui perkembangan siswa secara langsung. Peran guru sebagai pendidik . merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan . , tugas-tugas pengawasan dan pembinaan . serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalamanpengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan. untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada (Muh Akib, 2. SIMPULAN Terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi munculnya perilaku kenakalan remaja pada siswa SMP Al Azhar Gresik, yaitu adanya waktu atau kesempatan untuk melakukan pelanggaran dan pengawasan di lingkungan pondok, sekolah dan rumah. Terdapat dua jenis pelanggaran yang dilakukan yaitu berkelompok dan pelanggaran yang dilakukan sendiri. Pelanggaran kelompok dilakukan karena siswa ingin merasa sama dengan temannya, diakui, rasa penasaran, dan keinginan untuk mengikuti teman. Sedangkan pelanggaran individu dilakukan karena rasa penasaran dan ingin mencoba. Perubahan perilaku selama proses hukuman berlangsung, mereka cenderung untuk menyendiri dan merenung serta adanya perasaan malu, menyesal, kecewa, dan jera saat pelanggaran diketahui pihak sekolah dan diketahui orang tua. Namun saat pelanggarannya tidak diketahui pihak sekolah, siswa akan merasa bahwa pelanggaran yang dilakukannya berhasil karena tidak mendapat hukuman sehingga tidak menimbulkan perasaan jera pada diri siswa. REFERENSI