Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) p-ISSN: 2797-2879, e-ISSN: 2797-2860 Volume 5, nomor 4, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/jppi. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas Pendidikan di Era Media Sosial Ahmad Iqbal Annahawan*. Dian Nur Anna Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta. Indonesia *Coresponding Author: ahmadiqbalannahawan@gmail. Dikirim: 06-08-2025. Direvisi: 28-08-2025. Diterima: 31-08-2025 Abstrak: Penelitian ini mengeksplorasi relevansi pandangan Plato mengenai pendidikan, keadilan, dan moralitas dalam menghadapi problematika etika di era digital, khususnya terkait pengaruh media sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pandangan Plato mengenai problematika etika dan moralitas pendidikan di era media sosial serta mengidentifikasi prinsip-prinsip Plato yang relevan dalam konteks pendidikan modern. Studi ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi pustaka dengan menganalisis beberapa refrensi, yang terdiri atas karya-karya klasik Plato . erutama dialog The Republi. dan literatur kontemporer tentang filsafat pendidikan, etika, serta media sosial. Teknik pemilihan pustaka dilakukan dengan purposive sampling, yakni memilih literatur yang relevan dengan fokus penelitian. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan analisis isi . ontent analysi. melalui tahapan membaca mendalam, mengelompokkan tema, menafsirkan gagasan Plato, serta mengaitkannya dengan fenomena pendidikan di era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berpotensi mengaburkan peran pendidik sebagai teladan moral dan menurunkan profesionalisme mereka. Menurut Plato, pendidikan seharusnya menekankan pembentukan karakter yang bijaksana dan adil, bukan sekadar transfer pengetahuan. Kesimpulannya, pendidikan perlu mengadopsi prinsip-prinsip Plato untuk mengurangi dampak negatif media sosial dan memperkuat nilai moral di kalangan generasi muda. Kata Kunci: Plato. Pendidikan. Keadilan. Media Sosial. Profesionalisme Guru Abstract: This study explores the relevance of PlatoAos views on education, justice, and morality in addressing ethical issues in the digital era, particularly those related to the influence of social media. The purpose of this research is to analyze PlatoAos perspectives on the ethical and moral challenges of education in the age of social media and to identify PlatoAos principles that remain relevant in the context of modern education. This research employs a qualitative descriptive method with a literature review approach, analyzing a number of references, including PlatoAos classical works . specially the dialogue The Republi. and contemporary literature on philosophy of education, ethics, and social media. The selection of sources was carried out using purposive sampling, namely by choosing literature that is directly relevant to the focus of the study. The collected data were analyzed using content analysis, involving several stages: in-depth reading, thematic categorization, interpretation of PlatoAos ideas, and linking them to current educational phenomena in the digital era. The findings indicate that social media has the potential to obscure the role of educators as moral role models and diminish their professionalism. According to Plato, education should emphasize the formation of wise and just character rather than merely transferring knowledge. In conclusion, education needs to adopt PlatoAos principles to minimize the negative impacts of social media and to strengthen moral values among the younger generation. Keyword: Plato. Education. Justice. Social Media. Teacher Professionalism @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Annahawan & Anna. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk kepribadian dan moral individu serta komunitas. Fungsi pendidikan tidak hanya terbatas pada pengalihan ilmu pengetahuan, tetapi juga meliputi penanaman nilai-nilai etika dan norma moral yang esensial dalam menghadirkan kehidupan sosial yang adil dan beradab. Pada kerangka pemikiran filsafat. Plato seorang filsuf terkemuka dari Yunani Kuno menegaskan bahwa esensi dari pendidikan adalah mengembangkan manusia yang mampu menahan diri, berpikir secara rasional, serta bertindak secara adil demi tercapainya masyarakat yang tertib dan seimbang (Enjang, 2. Plato mengungkapkan bahwa terciptanya keadilan dalam diri seseorang hanya dapat diwujudkan apabila ketiga unsur utama dalam jiwa manusia, yakni akal . , semangat . , dan keinginan . , dapat berfungsi secara harmonis. Akal harus memegang kendali sebagai pemimpin dari dua unsur lainnya agar individu dapat membuat keputusan yang bijak dan etis. Gagasan ini juga diaplikasikan dalam tatanan masyarakat ideal versi Plato, di mana setiap anggota masyarakat menjalankan perannya berdasarkan bakat dan kemampuannya, sehingga membentuk suatu komunitas yang adil dan selaras. Seiring dengan perkembangan teknologi digital, terutama media sosial, dunia pendidikan menghadapi dinamika baru yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Sejumlah platform seperti TikTok. Instagram, dan YouTube kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga berperan besar dalam membentuk cara berpikir, nilai-nilai sosial, serta perilaku generasi muda. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi elemen yang melekat pada kehidupan sehari-hari, khususnya bagi kalangan pelajar dan remaja (Taufik, 2. Dari sudut pandang Plato, fenomena ini merupakan bentuk dominasi doxa, yaitu pandangan atau opini publik yang tidak berdasar pada akal sehat atau kebenaran Plato mengingatkan bahwa manusia rentan terjebak dalam persepsi semu yang menjauhkan mereka dari dunia ide, yang dalam filsafat Platonik merupakan sumber kebenaran yang murni. Dalam hal ini, media sosial dapat dianggap sebagai refleksi dari dunia ilusi yang berpotensi mengacaukan persepsi dan perilaku, terutama dalam konteks pendidikan. Penggunaan media sosial secara tidak bijaksana oleh pendidik juga dapat memicu krisis dalam hal keteladanan dan tanggung jawab profesi. Guru, yang semestinya menjadi teladan dalam aspek moral dan intelektual, kerap mencari pengakuan melalui popularitas di dunia maya. Akibatnya, peran mereka sebagai pendidik menjadi kabur dan menurunkan tingkat penghormatan siswa terhadap otoritas serta integritas guru. Kondisi ini berdampak langsung pada merosotnya wibawa lembaga pendidikan secara keseluruhan (Lele et al. , n. Permasalahan ini menuntut perhatian serius. Maka, penting untuk menelaah Situasi tersebut menuntut perhatian serius untuk dikaji lebih dalam. Oleh karena itu, penting untuk menelaah kembali prinsip-prinsip moralitas dan keadilan dalam pendidikan menurut Plato agar dapat diterapkan dalam menghadapi disrupsi akibat dominasi media sosial. Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis pandangan Plato mengenai problematika etika dan moralitas pendidikan di era media sosial serta mengeksplorasi relevansi pemikirannya sebagai landasan penguatan nilai-nilai pendidikan modern (Hasanah, 2. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Annahawan & Anna. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. Metode ini dipilih karena penelitian tidak berorientasi pada pengukuran kuantitatif, melainkan pada upaya menggali, menafsirkan, dan menganalisis gagasan filsafat Plato mengenai pendidikan, moralitas, dan etika dalam kaitannya dengan fenomena media sosial. Pendekatan kualitatif deskriptif memberikan ruang untuk mendeskripsikan secara sistematis pandangan Plato dan mengaitkannya dengan problematika pendidikan kontemporer, sehingga lebih sesuai dengan sifat penelitian yang berbasis kajian filsafat dan literatur. Penelitian ini menganalisis 24 pustaka yang terdiri atas karya-karya klasik Plato khususnya dialog The Republic sebagai sumber primer dan literatur sekunder berupa buku, artikel jurnal, serta hasil penelitian kontemporer yang relevan dengan filsafat pendidikan, etika, dan pengaruh media sosial. Teknik pemilihan pustaka dilakukan secara purposive sampling, yaitu dengan memilih literatur yang memiliki keterkaitan langsung dengan tema penelitian. Hal ini memastikan bahwa data yang dianalisis memiliki relevansi akademik yang kuat, baik dari sisi orisinalitas pemikiran Plato maupun dari perspektif kontemporer yang membahas fenomena media sosial dalam konteks Pendidikan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis isi . ontent analysi. Analisis ini dilakukan melalui beberapa tahapan: . membaca dan menelaah pustaka secara mendalam, . mengidentifikasi dan mengelompokkan tema-tema utama, . menafsirkan gagasan Plato terkait pendidikan, keadilan, dan moralitas, serta . menghubungkan pemikiran tersebut dengan realitas pendidikan di era digital. Dengan tahapan ini, data yang diperoleh dapat dipahami secara lebih mendalam, sehingga penelitian tidak hanya mendeskripsikan pandangan Plato, tetapi juga memberikan pemaknaan kritis atas relevansinya bagi problematika pendidikan modern. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: . Mendeskripsikan biografi Plato serta latar belakang keluarganya, pendidikannya, dan pengaruh guru-gurunya terhadap pembentukan pemikirannya, . Mendeskripsikan konsep etika dan moralitas ideal pendidikan menurut Plato, khususnya dalam kaitannya dengan pembentukan karakter, keadilan, dan tujuan Pendidikan, . Menganalisis relevansi pemikiran Plato terhadap problematika pendidikan di era media sosial, terutama terkait krisis keteladanan, degradasi moral, dan profesionalisme pendidik, dan . Mengidentifikasi strategi penerapan prinsip-prinsip Plato dalam pendidikan modern dan agama, sebagai upaya memperkuat nilai moral dan etika di tengah tantangan era digital. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Plato adalah sekian dari satu tokoh, filsuf kuno yang sangat masyhur sekitar . SM) dari sebuah keluarga masyhur dari ayahnya yang Bernama Ariston dan ibunya Perictione. Ayahnya merupakan sebuah keluarga ternama di Athena yang merupakan suatu bangsawan dengan garis turun dari raja Kodrus. Raja terakhir Athena yang hadir kisaran 1068 SM. Plato menghembuskan nafas terakhir di Athena pada tahun 347 -348 @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Annahawan & Anna. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas. SM pada usia 80 tahun . Nama asli Plato dulunya Aristocles, kemudian dijuluki Plato karena sosoknya yang berpengaruh dalam pemikiranya. Meskipun pergantian nama tersebut dari laporan Diogenis masih di ragukan menurut buku dari Frederick Copleston (Copleston, 2. Plato berawal pada keluarga Aristokrasi sebuah keluarga bangsawan yang kaya Ia memiliki dua saudara laki laki dan Perempuan dari Aristhone dan Perictione. Adeimantus. Galucon dan saudara perempuannya Patone. Plato kecil memperoleh pendidikan yang baik di Athena , termasuk pelajaran yang kita kenal dari Plato adalah filsafat yang berasal dari gurunya yaitu Socrates. Plato hidup dalam periode budaya Athena yang berkembang dan pasti telah menerima Pendidikan budaya tempat Menurut Diogenes Laertus . okoh penulis sekaligus filsuf kuno hidup 3M) Plato menjadi murid dari Socrates pada usia 20 tahun, akan tetapi menurut dari Charmiedes yaitu pamannya setidaknya Plato bertemu dengan Socrates pada tahun 431 SM saat usia sebelum 20 tahun. Sehingga kita dapat mengasumsikan bahwa ajaran dari gurunya tidak terlepas dan sepenuhnya mengabaikan diri pada pelajaran. Plato juga mempunyai guru antara lain: Pytilampes. Kritias. Krathylos. Theodoros (Copleston. Sosok Plato yang sangat cerdas dalam pendidikannya tidak mungkin pemikirannya kedalam karya karyanya. Bahkan karyanya dibagi tiga periode. Pertama, antara lain Apologia. Krinton. Menon. Minor. Syimposion. Phaidon. Protagoros Periode kedua. Parmanidos. Republik, dan lain-lain. Periode ketiga: politius. Philebos. Nomoni dan lain lain. Plato di kenal sebagai filsuf dengan pemikiran terdepan sepanjang masa. Ia adalah pemikiran yang lebih sistematis dan positif dari Socrates. Plato muda adalah sosok seorang yang cerdas ia tak hanya menguasai pemikiran kritisnya, akan tetapi Plato banyak menekuni bidang bidang antara lain melukis, belajar music, dan puisi. Pada umur 20 tahun Plato menerima Pelajaran dari Socrates yang memberi kepuasan baginya. Plato adalah murid setianya, hampir seluruh karyanya tak lepas dari pemikiran metode AuSocretesAy yaitu sebuah metode yang dikembangkan dan dikenal dengan AuMetode DialektifAy sehingga dengan metode tersebut membuahkan sebuah karya untuk meraih kebenaran pengetahuan dan berbagai nilai kesusilaan yang dijadikan norma pada individu di kesehariannya (Copleston, 2. Socrates mengembangkan prinsip dasar pendidikan melalui metode dialektika, yaitu teknik tanya-jawab yang bertujuan menstimulasi pemikiran kritis dan Ia menolak pendekatan pendidikan yang bersifat dogmatis dan otoritatif, di mana guru hanya menyampaikan pengetahuan secara satu arah. Sebaliknya, dalam pandangan Socrates, guru bertugas menjadi pengarah yang menuntun murid dalam mencari kebenaran melalui proses berpikir reflektif dan analitis. Tujuan utama pendidikan berdasarkan Socrates ialah menumbuhkan intelektual yang cermat, disiplin mental, dan perkembangan moral yang berkesinambungan. Ia menekankan bahwa pengetahuan adalah kebajikan, dan orang yang benar-benar memahami kebaikan akan terdorong untuk berbuat benar. Oleh karena itu, pendidikan tidak sekadar mentransfer informasi, melainkan membentuk karakter dan kesadaran etis. Metode dialektik Socrates menjadi dasar penting bagi pendekatan pembelajaran modern, meskipun ia sendiri tidak membangun sistem filsafat formal seperti Plato. Ia lebih menekankan pembentukan konsep dan metode berpikir yang bersifat induktif, yakni menyusun pengetahuan umum berdasarkan banyak pengalaman dan kasus khusus. Pendekatan @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Annahawan & Anna. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas. ini memberikan kontribusi fundamental dalam perkembangan pedagogi dan filsafat pendidikan (Tang. Mansur, & Ismail, 2. Puncak karir Plato disaat kekalahan Kerajaan Athena dalam kekalahan perang Pelopones pada tahun 404 SM karena akibat ketidakmampuan mengatur system demokrasi, dari itulah Plato merangsang semangat dalam pemikirannya dan menempuh karir politik ketika terbentuknya pemerintah oligarki Aristokrasi, akan tetapi cita cita Plato pupus setelah kematian gurunya yaitu Socrates, di bunuhnya Socrates di sebut mengacaukan serta mendoktrin para pemuda karena pemikirannya membentuk pandangan baru di Athena. Plato mengetahui tidak beresnya struktur pemerintahan yang terdapat pada saat itu serta budi pekerti para pemimpin yang rusak. sehingga Plato memiliki pandangan bahwa negara ideal adalah negara yang di pimpin oleh raja yang paham filsuf. Satu-satunya orang yang dapat dan seharusnya menjadi raja adalah para pemikir. Plato menegaskan bahwa karena manusia dan negara adalah satu kesatuan, masalah moral harus menjadi prioritas utama. Sehingga masyarakat mencapai kesenangan dan kebahagiaan hidup dan pemerintahan wajib mempunyai pemahaman yang nantinya menjadikan baik dalam melalui seluruhnya untuk segala idealnya, sebab ide yang teratas ada didunia ialah ide kebaikan serta kebijaksanaan (Copleston, 2. Konsep Etika Moralitas Ideal Pendidikan. Moralitas, atau adat, adalah asal dari etika atau Ethos, yang berarti karakter. Etika ialah bagian dari bagian filsafat aksiologi yang membahas mengenai nilai serta norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Etika dapat didefinisikan sebagai cabang ilmu filsafat yang mempelajari tentang nilai, norma, dan moral yang menjadi pegangan hidup seseorang atau suatu kelompok untuk mengatur sikap baik maupun buruk yang bisa diidentifikasi dengan akal serta pikiran. AuMoralAy berawal pada kata Latin AumoresAy, yang artinya AuadatAy atau Aucara hidupAy, yang artinya adat istiadat atau tata krama. Kata AumosAy serta jamaknya AumoresAy seperti pada kata AuetikaAy, yang berarti adat kebiasaan. Moral dapat dipahami sebagai adat, gaya hidup, tata karma, dan budi pekerti yang berlaku di masyarakat (Basir et al. , 2. Plato percaya bahwa etika dan moralitas berasal dari Audunia ideAy atau idea realm bukan dari persetujuan sosial. Plato mengatakan bahwa ide adalah representasi dari keadaan yang sebenarnya, bukan hanya pikiran akan tetapi representasi dari realitas. Plato mengatakan bahwa ide tentang kebaikan berada di luar dunia material dan merupakan dasar dari nilai-nilai etika yang benar. Kebaikan sejati tidak dapat diubah dan tidak dipengaruhi oleh pendapat masyarakat. Moralitas muncul ketika akal . mengatur emosi dan keinginan manusia. Tujuan terakhir manusia adalah mencapai kebijaksanaan dan kebahagiaan melalui kehidupan yang adil dan baik, bukan kesenangan duniawi (Taufik, 2. Plato mendifinisikan pikiran sebagai penentu tujuan dan nilai-nilai etika. Suatu gagasan menjadi moralitas, yaitu melalui gagasan dari orang yang mengetahui sisi tindakan tersebut apakah baik atau buruk. Penilian ini muncul karena suatu ide yang berlabuh dalam pikiran. Suatu gagasan menjadi moralitas, dari gagasan tersebut mengatahui sisi baik dan buruk dari tindakan yang beralasan karena ide manjadi titik acuan dan menjadi tujuan dari pengatahuan sejati. Menurut Plato, etika adalah intelektual dan rasional. Dasar ajarannya untuk mencapai perolehan karakter yang Ilmu yang baik dan sempurna adalah ilmu yang mampu diterapkan dalam tindakan nyata, sehingga manusia dapat hidup dengan berpegang pada aturan etika @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Annahawan & Anna. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas. yang bersifat terbuka dan universal. Sebab fakta bahwa Aupikiran manusia dilengkapi dengan rasionalitas, sehingga memiliki kemampuan untuk membuat pilihan ia adalah makhluk yang bebasAy dan karena setiap orang merupakan bagian dari kosmos yang memiliki tujuan (Anwar, 2. Plato mencoba menggali dan mengembangkan potensi intelektual setiap individu agar mampu berperan sebagai warga negara yang bijak untuk masyarakat yang tertib dan harmonis. Oleh karena itu, sistem pendidikan harus dirancang secara cermat dan terstruktur agar efektif mencapai tujuannya. Plato menekankan pentingnya propaganda dan sensor sebagai alat untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan dalam Negara bertugas menumbuhkan semangat kebersamaan, loyalitas, dan cinta terhadap nilai kebaikan serta keadilan demi tercapainya tatanan sosial yang ideal. Plato menegaskan butuhnya Pendidikan yang terencanakan serta terprogram dengan sangat baik supaya bisa memperoleh tujuan yang diinginkan (Tang et al. , 2. Konsep pendidikan Plato sebagai Sarana Pembentukan Moral dan Keadilan Plato menggambarkan keadilan sebagai Authe supreme virtue of the good stateAy, yaitu kebajikan tertinggi dalam sebuah negara yang ideal. Menurutnya, individu yang adil ialah Authe self disciplined man whose passions are controlled by reasonAy yakni seseorang yang mampu menjaga nafsunya melalui kekuatan akal. Dalam pandangan Plato, keadilan muncul ketika setiap elemen dalam masyarakat menempati posisi yang tepat dan menjalankan fungsinya secara selaras. Dalam karyanya The Republic. Plato memaparkan yakni keadilan ialah suatu situasi harmonis pada jiwa manusia, yaitu akal menjadi pengendali terhadap nafsu dan semangat. Keadilan dalam diri seseorang tercapai apabila setiap unsur jiwa rasio, semangat, dan keinginan berfungsi secara proporsional dan teratur, mencerminkan keharmonisan dalam tatanan internal yang seimbang (Nurhayati et al. , 2. Dalam AuRepublikAy Plato membahas konsep pendidikan ideal, yang mencakup berbagai tahapan untuk membangun karakter dan kemampuan seseorang, terutama bagi mereka yang akan menjadi pemimpin. Dia berbicara tentang pentingnya pendidikan yang menggabungkan pertumbuhan fisik, intelektual, dan moral. Dia juga menekankan bahwa pendidikan harus berlangsung sepanjang hidup, dengan penekanan khusus pada pertumbuhan filsafat pada tahap kedewasaan. Secara keseluruhan, ide-ide ini mencerminkan perspektif Plato tentang pentingnya pendidikan untuk mewujudkan keadilan dan kebaikan di masyarakat. Menurut Plato, proses pendidikan individu berlangsung secara bertahap sebagai berikut: (Mardizal, n. Tahap awal pendidikan, yakni sejak masa kanak-kanak hingga remaja, difokuskan pada pengenalan materi-materi dasar seperti membaca, menulis, berhitung, serta berbagai pengetahuan umum. Selain itu, pendidikan juga mencakup kegiatan olahraga, seni, dan pelatihan moral. Tujuan dari tahap ini adalah untuk membentuk karakter melalui penanaman sopan santun, penghargaan terhadap keindahan, kemampuan menahan diri, serta memperkuat keterpaduan antara kesehatan jiwa dan rohani. Pada usia 15 hingga 18 tahun, peserta didik mulai diperkenalkan dengan pelajaran matematika sebagai sarana untuk mengasah kemampuan berpikir logis. Materi yang diajarkan meliputi aritmetika, geometri, astronomi, dan harmoni musik. Pada tahap ini juga mulai diberikan pengantar filsafat guna menumbuhkan apresiasi terhadap nilai kebenaran. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Annahawan & Anna. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas. Pada rentang usia 18 hingga 20 tahun, pendidikan lebih difokuskan pada pelatihan jasmani yang bertujuan untuk membentuk kesiapan fisik dan semangat bela negara. Latihan-latihan fisik ini bersifat umum namun dilaksanakan dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan latihan para atlet Yunani pada masa itu. Pada tahap kedewasaan, individu yang dipersiapkan sebagai calon pemimpin diarahkan untuk mempelajari filsafat secara mendalam, terutama dalam bentuk pengembangan kemampuan dialektika. Studi ini berlangsung hingga usia 50 tahun sebagai upaya pembentukan kecakapan berpikir kritis dan kepemimpinan filosofis. Pada jenjang pendidikan yang telah diformulasikan oleh Plato, metode yang digunakan berfokus pada pendekatan dialektis. Peserta didik didorong untuk berpikir kritis serta memahami berbagai hal secara komprehensif dan mendalam. Pendekatan ini membantu mereka mengembangkan pemikiran menjadi konsep-konsep yang bersifat universal. Dalam konsep jenjang Pendidikan yang diterapkan oleh plato Pendidikan yang disusun secara bertahap, mulai dari usia dini hingga perguruan tinggi, bertujuan membentuk karakter peserta didik agar memiliki kesantunan, rasa keindahan, serta kemampuan dalam mengendalikan diri. Sebagai tokoh filsuf ternama. Plato memberikan perhatian besar terhadap bidang pendidikan. Ia meyakini bahwa proses pendidikan harus dirancang secara matang supaya maksud yang ingin didapatkan akan terbentuk dengan sempurna. Menurutnya, apabila peserta didik berhasil berkembang menjadi individu yang baik serta bisa meraih kebenaran, selanjutnya mereka akan berkembang menjadi individu yang memberikan kontribusi konstruktif bagi negara dan masyarakat mereka. Plato menekankan bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan isu yang sangat penting bagi negara. Negara bertanggung jawab untuk menjamin pendidikan mulai dari pendidikan usia dini hingga tingkat profesional (Enjang, 2. Pada studi yang dijalankan dari beberapa pengamat, ditemukan sejumlah aspek yang berkontribusi terhadap menurunnya moral dalam anak-anak. Faktor-faktor tersebut meliputi antara lain, 1. kurangnya penanaman nilai-nilai keimanan sejak usia dini, 2. pengaruh lingkungan sosial yang tidak kondusif, 3. tidak efektifnya pendidikan moral baik dalam lingkup keluarga, sekolah, maupun masyarakat, 4. ketidakharmonisan dalam kehidupan rumah tangga, 5. maraknya peredaran obatobatan terlarang dan alat kontrasepsi yang tidak sesuai usia, 6. tersebarnya berbagai tulisan, gambar, dan tayangan media yang bertentangan pada berbagai nilai moral, 7. minimnya arahan untuk melewati masa lenggang melalui kegiatan positif yang mendukung pelatihan karakter, dan terakhir, 8. kurang tersedianya pusat-pusat bimbingan dan penyuluhan khusus untuk anak-anak (Hasanah, 2. Dari berbagai faktor penyebab kemerosotan moral anak, ada dua hal utama yang paling berpengaruh, yaitu keluarga dan lingkungan tempat anak bergaul. Kedua faktor ini menjadi sumber utama perilaku anak, karena dari situlah mereka belajar dan meniru, baik perilaku positif maupun negatif. Oleh karena itu, anak sangat membutuhkan bimbingan dan pembinaan agar bisa mengetahui mana yang baik serta yang buruk. Maka dari itu, pendidikan terutama pendidikan moral di sekolah berperan amat utama dalam kunci utama untuk membangun serta memperbaiki perilaku anak. (Hasanah, 2. Problematika Pendidik dan Pengaruh Trend Media Sosial. Pendidikan memiliki peran sentral dalam mewujudkan keadilan, baik pada tingkat personal maupun sosial. Keadilan dalam diri individu dapat dicapai ketika @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Annahawan & Anna. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas. seseorang mampu mengembangkan seluruh potensi dan kemampuannya secara Sementara itu, keadilan sosial terwujud apabila setiap anggota masyarakat memperoleh akses pendidikan yang setara, sehingga mereka dapat berperan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Plato menekankan bahwa tujuan utama pendidikan adalah membimbing individu menuju kebahagiaan dan kehidupan yang baik, tidak sekedar untuk individunya sendiri, namun untuk masyarakat pula secara Pendidikan yang ideal memungkinkan individu mengenali dan mengasah potensi diri, memahami kebenaran, serta berperilaku sesuai dengan prinsip-prinsip moral dan keadilan (Maulana El-Yunusi & Sholikhah, 2. Pada masa digital saat ini, media sosial sudah dijadikan komponen integral pada keseharian manusia modern. Perkembangannya tidak sekedar memengaruhi cara individu berhubungan, namun pula turut membangun model hubungan sosial, budaya, dan ekonomi secara global Andreas Kaplan dan Michel Haenlain mengartikan bahwasanya media social merupakan AuKonten yang dibuat oleh pengguna dapat dibuat dan dibagikan menggunakan kumpulan aplikasi berbasis web yang didasarkan pada ideologi dan teknologi webAy. Media online dengan berbagai penggunaanya dapat memudahkan kita dalam turut serta dari berbagai jejaring sosial, globalisasi membawa perebuhan yang siginifikan terhadap perubahan zaman. Kemajuan ilmu pengatahuan serta teknologi menuntun kehidupan manusia pada masa yang tidak ada habisnya. Hal ini telah merevolusi gaya hidup dan cara berpikir, sehingga individu harus beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan zaman yang cepat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa umat manusia ke era potensi yang tak terbatas (Ainiyah. Studi kasus yang sering dijumpai yaitu remaja pada ia mengolah media sosial tersebut belum mengerti hal positif dan negatif, sehingga ketika terdapat hal yang trend atau popular biasanya meniru tanpa melihat resiko terhadap etika dan moral. Hanya saja menuruti sebuah pergaulan dan mencari sebuah popularitas hidupnya agar namanya dan jati dirinya terkenal melalui media sosial tersebut (Marlia, 2. Zaman dengan teknologi saat ini membuat anak terlihat amat pasif serta enggan berbaur terhadap sekitar. Saat ini, tidak jarang anak-anak kehilangan waktu berharga karena mereka lebih fokus pada layar di depan mereka daripada bermain dengan teman sebaya mereka, hal ini mempengaruhi anak sekarang tidak dapat melihat hal kepekaan terhadap lingkungan. Karenanya remaja sekarang sudah memeliki candu terhadap dunianya, menurut Mapelo AuKecanduan ialah sebuah kontribusi dengan tanpa henti melalui suatu kegiatan sekalipun berbagai hal itu menyebabkan masalah yang burukAy (Putri, 2. Peranan guru terhadap siswa memiliki keinginan yang tinggi, pengajar harus memiliki keunggulan supaya menjadi suri tauladan untuk muridnya baik dengan etika atau pemikiran. Metode mengajar juga hendak mendorong siswa untuk memperluas wawasan, mendorong berpikir kritis, memberikan keterampilan untuk berpikir logis, memberikan edukasi dan contoh terhadap moral dan permasalahan sosial, mendorong nilai-nilai peradaban dan bagaimana cara mencintai dan merubah pola pandang agar murid cinta terhadap pelajaran yang dianggap sulit dan yang paling penting guru melatih berpikir kreatif (Putri, 2. Landasan filosofis Pendidikan merupakan seperangkat asumsi pada filsafat yang dimanfaatkan landasan titik tolak pada Sejarah Pendidikan, hal ini berisikan mengenai pendapat maupun berbagai model yang sifatnya normatif maupun prespektif. Dalam @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Annahawan & Anna. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas. praktiknya banyak ditemukan beragam makna, di Indonesia contohnya Pendidikan mengacu dalam keterampilan dasar terciptanya masyarakat yang meritorik atau menghadirkan waktu jam pendidikan yang luas pada keterampilan pelajaran khusus. Filsafat pendidikan Indonesia yang berawal dalam sejumlah nilai budaya yang termuat dalam Pancasila untuk diterapkan sehari hari dan sebagai pedoman hidup. Berkenaan dengan ini. Plato mengelompokkan manusia di dalam negara menurut kemampuan keterampilannya, yakni: pertama, kelas counselors . elas penasihat atau gur. Kedua, kelas the state assistants/guardians . embantu atau, penjag. yaitu kelompok militer, dan ketiga, kelas money makers . elas karya/penghasi. yaitu para petani, pengusaha (Muslim, 2. Tantangan pendidikan perilaku di masa digital semakin kompleks berdasarkan meningkatnya penggunaan media sosial di kelompok remaja. Studi memperlihatkan yakni banyak remaja cenderung meniru tren tanpa mempertimbangkan aspek etika dan moral, sehingga media sosial sering menjadi medium pencarian eksistensi semu yang menjauhkan mereka dari interaksi sosial yang sehat. Fenomena ini menunjukkan lemahnya kesadaran kritis dan kepekaan sosial akibat kurangnya bimbingan dan kontrol terhadap penggunaan media (Marlia, 2. Pada masalah ini, tugas pendidik amat vital tidak sekedar untuk mengajar, namun pula menjadi teladan moral yang mendorong siswa berpikir kritis, logis, dan kreatif serta menginternalisasi nilai-nilai Berangkat dari landasan filosofis pendidikan, seperti yang dirumuskan dalam pemikiran Plato, manusia diklasifikasikan berdasarkan kapasitas dan potensinya dalam Kelas pendidik atau AucounselorsAy memiliki peran paling penting karena bertanggung jawab membentuk keadaban publik melalui pendidikan. Maka, dalam konteks Indonesia, pendidikan yang berawal dalam sejumlah nilai Pancasila harus bisa menghadirkan sistem pembelajaran yang tidak sekedar berpusat dalam kognitif, namun pula membentuk moralitas dan kepekaan sosial peserta didik. Pendidikan harus menjembatani kesenjangan antara pengaruh negatif media sosial dan kebutuhan akan pembentukan karakter yang kuat. Dengan demikian, kolaborasi antara landasan filosofis, peran pendidik, serta pendekatan kontekstual terhadap tantangan era digital menjadi kunci dalam membentuk generasi yang beretika, tangguh, dan berpikiran kritis di tengah arus globalisasi digital yang cepat (Rahman et al, 2. Fenomenologi Pendidikan dan Dampak Media Sosial Pada masa digital, media sosial sudah dijadikan komponen utama pada keseharian, juga tercakup bagi siswa sekolah dasar. baik dengan langsung atau tidak langsung, murid melihat sejumlah konten yang ada di sosial media, yang bisa mengubah cara beripikir serta tindakan murid. Penggunaan media sosial yang tidak bijak oleh generasi muda menyebabkan berbagai dampak negatif, salah satunya adalah hilangnya jati diri dan nilai-nilai luhur sebagai bangsa Indonesia. Hal ini memicu perubahan budaya, melemahnya moral dan etika, serta menjauhkan generasi muda dari interaksi sosial di dunia nyata. Contoh nyata yang sering terjadi adalah ketika berkumpul dengan keluarga atau teman, banyak anak muda lebih sibuk bermain ponsel dan berselancar di media sosial daripada berinteraksi langsung. Aktivitas kumpul lebih sering diisi dengan berfoto untuk kebutuhan unggahan, bukan untuk membangun komunikasi yang bermakna. Akibatnya, sifat individualistik meningkat dan kemampuan komunikasi sosial menurun (Putri et al. , n. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Annahawan & Anna. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas. Dari data diatas maraknya dan dampak dari media sosial sudah dijadikan komponen pada keseharian generasi muda saat ini, termasuk di lingkungan Platform misalnya TikTok. Instagram, serta YouTube tidak sekedar sebagai media hiburan, namun pula telah membentuk pola pikir, gaya hidup, dan sistem nilai siswa. Dalam konteks ini, munculnya tren konten viral seperti berjoget di ruang kelas atau lipsync oleh guru tidak hanya berdampak pada citra guru, tetapi juga menciptakan lingkungan pembelajaran yang mengaburkan batas antara edukasi dan Banyak siswa menjadikan media sosial sebagai sumber utama dalam mencari identitas diri dan validasi sosial. Ketika guru ikut serta dalam tren media sosial yang lebih menonjolkan unsur hiburan daripada pendidikan, maka siswa akan mengarah untuk mengikuti yang dilihat, bukan sebab itu benar, tapi karena itu dianggap populer. Hal tersebut menurut Plato dikategorikan sebagai AudoxaAy pandangan atau persepsi yang tidak didasarkan pada rasio atau nilai kebenaran sejati, tetapi pada kesan semu yang diterima dari lingkungan sekitar (Lele et al. , n. Sehingga dapat diartikan bahwasanya apabila guru menjadikan profesinya sebagai alat panggung hiburan bukan sebuah edukasi dalam lintas ilmu akan tetapi memiliki perasaan ataupun sebuah ke fomoan sebagai alat hiburan untuk mendapatkan likes ataupun pengakuan digital. Dari pandangan feneomena tersebut konsep Plato relevan terhadap pilihan hidup dalam bayangan . , bukan dalam cahaya nilai yang Kurangnya pemahaman etika dalam penggunaan media sosial dapat menyebabkan krisis moral di kalangan pengguna, termasuk guru dan siswa. Ketika guru tidak menunjukkan perilaku etis dalam bermedia sosial, mereka dapat memberikan contoh yang buruk bagi siswa. Penelitian menyoroti pentingnya pemahaman etika dalam penggunaan media sosial untuk mencegah dampak negatif terhadap lingkungan sosial Dari paparan tersebut analisis fenomena etis dan moral yang menjadi konsekuensi terhadap dunia Pendidikan yaitu (Firmansyah et al. , 2. Profesionalitas Guru dituntut untuk menunjukkan integritas dan profesionalisme dalam setiap tindakannya, baik di dalam atau di luar ruang kelas. Sayangnya, terdapat sebagian guru yang lebih sibuk menciptakan citra menarik di dunia maya daripada fokus mengajar dengan baik. Akibatnya, mereka lebih dikenal sebagai pembuat konten ketimbang sebagai pendidik. Ini membuat peran guru jadi kabur dari panutan. (Imaniah and Al Manar n. Krisis keteladanan. Guru seharusnya menjadi contoh baik bagi siswanya, baik dalam perilaku maupun cara berpikir. Namun, jika guru terlalu sering membuat konten lucu atau santai di media sosial, siswa bisa kesulitan menghargai mereka. Siswa akan lebih melihat guru sebagai teman hiburan, bukan sebagai pembimbing yang serius. Situasi seperti ini bisa menyebabkan hilangnya rasa hormat siswa terhadap peran guru di kelas (Prayoga et al. , 2. Institusi Kehilangan Wibawa Sekolah serta lembaga pendidikan lainnya sudah sepatutnya dijadikan tempat yang merepresentasikan nilai, ilmu, dan etika. Namun, saat ruang kelas atau sekolah menjadi latar pembuatan konten lucu, menari, atau hal-hal yang jauh dari suasana akademik, institusi pendidikan perlahan kehilangan wibawanya maka orang luar bisa melihat sekolah hanya sebagai tempat hiburan. Ini membuat orang meragukan wibawa @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Annahawan & Anna. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas. sekolah sebagai lembaga yang membentuk karakter dan ilmu pengetahuan (Falah & Setiawa, 2. Peranan guru terhadap siswa memiliki keinginan yang tinggi, pengajar wajib tangguh supaya bisa dijadikan suri tauladan untuk muridnya baik dengan perilaku atau Metode mengajar juga hendak mendorong siswa untuk memperluas wawasan, mendorong berpikir kritis, memberikan keterampilan untuk berpikir logis, memberikan edukasi dan contoh terhadap moral dan permasalahan sosial, mendorong nilai-nilai peradaban dan bagaimana cara mencintai dan merubah pola pandang agar murid cinta terhadap pelajaran yang dianggap sulit dan yang paling penting guru melatih berpikir kreatif (Nuraida, 2. Hal ini berbanding terbalik di Indonesia terdapat oknum tenaga didik yang mencoreng dunia pendidikan berkaitan dengan etika dan moralitas. Ditengah kondisi problematical dan tidak ideal ini, banyak sekolah-sekolah ramai akan tetapi bukan dari ilmu, diskusi, dan keteladanan, akan tetapi mengikuti trend media sosial. Antara lain tenaga didik berkolaborasi mengikuti trend yang ada di dunia maya. Sehingga ketika ruang belajar menjadi ruang panggung hiburan berjoget. Ketika guru sibuk mengejar viewers dan popularitas mengabaikan dampak yang terjadi, mengabaikan peran ilmu dan metode penerapan ke ilmuan. Karena pendidikan sejatinya bukan untuk menghibur dengan hal yang dapat menghilangkan marwah guru dan norma pendidkan akan tetapi untuk menumbuhkan, menyadarkan dan menyelamatkan generasi muda terhadap kondisi dan krisis moral yang terjadi. Maka dari semboyan Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah AuIng Ngarsa Sung Tulada. Ing madya mangun karsa, tut wuri HandayaniAy artinya: Audi depan memberi contoh, ditengah memberi semangat, di belakang memberi doronganAy(AuMakna 3 Semboyan Ki Hajar Dewantara Yang Dikenal Bapak Pendidikan Indonesia,Ay 2. Di satu sisi, media sosial menawarkan ruang bagi interaksi sosial dan penyebaran pengetahuan, namun di sisi lain, tanpa kontrol dan literasi digital yang baik, platform ini cenderung mendorong perilaku menyimpang seperti ujaran kebencian, konsumsi konten destruktif, dan pencarian popularitas semu. Temuan ini sangat relevan dengan pandangan Plato tentang pendidikan sebagai sarana membimbing jiwa manusia menuju keutamaan moral dan keadilan. Dalam konteks digital saat ini, media sosial telah menjadi Aulahan baruAy yang menantang tujuan utama pendidikan sebagaimana dirumuskan Plato, yakni membentuk manusia bijaksana dan beradab. Problem etika dan moralitas yang muncul dari penggunaan media sosial tanpa pendampingan mencerminkan lemahnya peran pendidikan. Hal tersebut bisa menjadi membebaskan manusia dari Auketidaktahuan digitalAy sebuah kondisi tersebut yang dalam perspektif Plato merupakan bentuk keterikatan pada bayang-bayang semu dari realitas. Oleh karena itu, pendidikan karakter yang terintegrasi dengan pendekatan filosofis dan literasi digital menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa perkembangan teknologi tidak menjadi ancaman bagi pembentukan moral, tetapi justru sebagai instrumen pembebasan dan pencapaian keadilan, sebagaimana cita-cita ideal Plato (Fitri Aulia Rahman et al. , 2. Pendidikan Moral Perspektif Islam. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan yaitu sebuah tuntutan hidup yang didalamnya Pendidikan itu ibarat bimbingan atau tuntunan yang diberikan kepada anak-anak agar mereka bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi atau bakat alami . yang mereka miliki. Tujuannya adalah agar mereka bisa menjadi @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Annahawan & Anna. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas. manusia yang baik, serta mampu hidup sebagai anggota masyarakat yang berguna, sehingga tercapainya kehidupan yang selamat dan bahagia setinggi-tingginya. Pendidikan bertujuan membentuk manusia yang utuh, artinya memperhatikan semua aspek diri manusia jasmani dan rohani, individu dan sosial, serta kemampuan berpikir . , sikap . , dan keterampilan . Pendidikan juga menghubungkan manusia dengan dirinya sendiri, lingkungannya, dan Tuhannya. Dalam Islam, istilah pendidikan disebut AutarbiyahAy . ari kata rabb. , sedangkan pengajaran disebut AutaAolimAy . ari kata Aoallam. Pendidikan dalam bahasa Arab sering disebut sebagai Autarbiyah wa ta'limAy, yang mencakup proses membimbing dan mengajarkan manusia secara menyeluruh (Rubini, 2. Pendidikan moral dalam Islam bertujuan untuk membentuk akhlak yang baik setiap individu, terutama generasi muda. Proses ini sangat penting untuk membekali anak-anak dengan nilai-nilai etika dan moral yang dapat membantu mereka berinteraksi dengan baik dalam masyarakat. Tujuan utama dari pendidikan ini adalah mencegah individu dari perilaku yang tidak sesuai dengan norma agama, sosial, dan Pendidikan moral dalam Islam mencakup pengajaran nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, kesabaran, tanggung jawab, dan kasih sayang. Nabi Muhammad SAW menjadi contoh utama dalam mengajarkan moralitas melalui sifat-sifat seperti siddiq . , amanah . , dan fathanah . , yang seharusnya dicontohkan oleh umat Islam. Guru dan orang tua memegang peran penting dalam membimbing dan menciptakan lingkungan yang mendukung pendidikan moral, agar anak-anak dapat berkembang menjadi pribadi yang memiliki akhlak yang mulia (Rubini, 2. Guru memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan karakter peserta Selain menyampaikan ilmu pengetahuan, guru juga bertindak sebagai pembimbing yang menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan ajaran agama yang dibutuhkan untuk membentuk pribadi yang ideal. Peran guru tidak terbatas di ruang kelas, tetapi juga mencakup lingkungan sekolah dan masyarakat secara lebih luas. Salah satu tugas utama guru adalah menjadi teladan bagi siswanya. Pentingnya membentuk karakter disiplin dan religius pada siswa menjadi bagian yang harus Disiplin, sebagai bentuk ketaatan terhadap aturan, perlu diajarkan sejak dini agar siswa terbiasa hidup teratur dan patuh pada norma. Begitu juga dengan nilai religius, harus diperkenalkan melalui pembiasaan ibadah yang konsisten sejak usia Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dianjurkan menggunakan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, sehingga nilai-nilai karakter dapat lebih mudah dipahami dan diresapi oleh mereka. Keterlibatan aktif ini mendukung terciptanya proses pendidikan karakter yang berkelanjutan dan efektif (Judrah et al. Akhlak yang baik termasuk di dalamnya etika, budi pekerti luhur, dan moral merupakan hasil dari proses pendidikan yang menyeluruh. Permasalahan moral di masa kini menunjukkan bahwa individu membutuhkan pendidikan yang dapat memberikan contoh nyata untuk dijadikan panutan dalam membentuk akhlak mulia. Hal ini telah ditegaskan dalam Al-QurAoan surat Al-Ahzab ayat 21, yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW adalah suri teladan yang baik bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan yang berakhlak (Hasanah, 2. AcEEa aO eEOa eO aIA AcEEa aEaO UeA AeEa a aOaE aa NA AIaU aE aI eI aEIa Oa e aO NA AEaCae aEIa EaEa eI Aa eO aa eO aE NA a AcEEa a aeO U aA @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Annahawan & Anna. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas. Sesungguhnya Telah ada pada . Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu . bagi orang yang mengharap . Allah dan . hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q. Al-Ahzab, 33: . Salah satu bagian yang yang relevan terhadap fenomena tersebut ialah guru yang menjadi dampak. Sehingga hilangnya marwah karena terlalu larut dalam tren media sosial seperti berjoget atau konten lucu di TikTok. Yang tidak memikirkan dampak yang akan terjadi terhadap lingkungannya. beliau Imam Az-Zarnuji dalam kitab TaAolim al-MutaAoallim bab tentang adab terhadap guru A aOO aaEacNa aOOa a a eINa aOOaEaOIa AaO a aC aN a aac aea O UI Ia eI aea OIa aN E aaO aE a aNAUA e E eaE a eE aI aO aE aI eI Oa e aa Ia eINa eE eaE aIA a a eEOa aaOA. AuMaka hendaklah seorang penuntut ilmu tawadhu' . endah hat. terhadap ilmu dan kepada guru tempat ia menimba ilmu. Hendaklah ia memuliakan dan mengagungkan gurunya, bahkan lebih daripada penghormatannya kepada orang tuanya sendiri. Ay (Az-Zarnuji, 2. Dalam pandangan klasik Islam seperti dijelaskan oleh Az-Zarnuji dalam TaAolim al-MutaAoallim, guru adalah sosok yang harus dimuliakan melebihi orang tua karena ia membimbing pada ilmu dan akhlak. Dalam konteks pendidikan, guru memegang peran penting sebagai panutan moral bagi siswa. Namun, jika guru terlarut dalam tren media sosial yang tidak sesuai dengan norma kesopanan, seperti membuat konten yang tidak pantas, hal ini dapat merusak citra mereka sebagai pendidik dan mengurangi rasa hormat terhadap profesionalisme mereka. Maka, penting bagi seorang guru untuk menjaga akhlak dan etika dalam kehidupan pribadi dan profesional, agar tetap menjadi teladan yang baik bagi generasi muda. Maka perilaku guru yang melanggar norma kesopanan di media sosial dapat merusak citra mulia tersebut dan berpotensi membuat pendidik kehilangan rasa hormat sebagai profesionalitasnya. KESIMPULAN Pemikiran Plato tentang pendidikan, moralitas, dan keadilan memiliki relevansi yang tinggi dalam menghadapi tantangan etika di era digital saat ini. Menurut Plato, keadilan merupakan hasil dari keseimbangan antara rasio, kehendak, dan nafsu dalam diri seseorang, serta tercermin dalam struktur sosial yang berjalan sesuai peran dan fungsinya masing-masing. Dalam kerangka tersebut, pendidikan tidak semata-mata menjadi media untuk mentransfer ilmu, tetapi harus berfungsi sebagai sarana utama dalam membentuk karakter yang bermoral. Namun demikian, arus perkembangan media sosial yang cenderung bersifat instan dan berorientasi pada kesenangan sesaat kerap kali menyesatkan arah pendidikan, terutama apabila digunakan secara tidak bijak oleh pelajar maupun pendidik. Guru memiliki tanggung jawab besar sebagai figur panutan yang menjaga kehormatan profesi pendidik. Jika pendidik terlalu larut dalam budaya populer di media sosial, misalnya dengan membuat konten hiburan yang bertentangan dengan nilai-nilai akademik, maka kredibilitas dan otoritas lembaga pendidikan akan tergerus. Dalam menghadapi fenomena ini, penting bagi dunia pendidikan untuk kembali merujuk pada prinsip-prinsip luhur sebagaimana diajarkan oleh Plato, yaitu mendidik dengan menekankan pembentukan watak berdasarkan nilai kebijaksanaan, keadilan, dan kebenaran. Pendidikan seharusnya menjadi garda terdepan dalam membentengi @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Annahawan & Anna. Analisis Pandangan Plato terhadap Problematika Etika dan Moralitas. generasi muda dari dekadensi moral, bukan justru menjadi bagian dari tren yang mengaburkan arah pembangunan karakter. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat menyebabkan degradasi nilai etika dan moral dalam dunia pendidikan, khususnya pada generasi muda. Dalam perspektif Plato, pendidikan memiliki fungsi utama sebagai sarana pembentukan karakter, penuntun keadilan, serta pembebasan jiwa dari kebodohan dan ilusi. Namun, realitas media sosial saat ini memperlihatkan adanya penyimpangan dari tujuan ideal tersebut, di mana ruang digital kerap kali menjadi ajang pencarian eksistensi dan popularitas semu yang menjauhkan peserta didik dan bahkan tenaga pendidik dari nilai-nilai keutamaan moral. Kemerosotan moralitas ini juga ditandai dengan krisis keteladanan dan hilangnya profesionalisme guru dalam konteks digital, yang memicu melemahnya marwah lembaga pendidikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan revitalisasi nilai-nilai pendidikan karakter yang berbasis pada filsafat Plato melalui pendekatan literasi digital, keteladanan etis, dan kurikulum yang menekankan pembentukan jiwa adil dan bijaksana. Sinergi antara keluarga, sekolah, agama dan masyarakat juga penting agar pendidikan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan esensinya sebagai fondasi peradaban yang luhur. DAFTAR PUSTAKA