Ali, dkk / Tropical Animal Science 7. :262-270 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 Tropical Animal Science. November 2025, 7. :262-270 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas EFEKTIVITAS PENGGUNAAN TEPUNG MAGGOT BLACK SOLDIER FLY (BSF) SEBAGAI SUBSTITUSI SEBAGIAN RANSUM KOMERSIAL TERHADAP KUALITAS FISIK TELUR PUYUH PETELUR EFFECTIVENESS OF USING BLACK SOLDIER FLY (BSF) MAGGOT FLOUR AS A PARTIAL SUBSTITUTION FOR COMMERCIAL RATIONS ON THE PHYSICAL QUALITY OF LAYING QUAIL EGGS Dharru Indira Tirtomas Ali1. Eudia Christina Wulandari 2*. Zakaria Husein Abdurrahman2 1Mahasiswa Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Boyolali. Boyolali. Indonesia 2Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Boyolali. Boyolali. Indonesia *E-mail korespondensi: eudia1990. christina@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan tepung maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai substitusi sebagian ransum komersial terhadap kualitas fisik telur puyuh petelur (Coturnix coturnix japonic. Studi dilakukan dengan menggunakan 100 ekor puyuh betina yang ditempatkan dalam 20 sekat kandang, masing-masing berisi 5 ekor. Rancangan acak lengkap (RAL) digunakan dengan empat perlakuan level tepung maggot . %, 5%, 10%, dan 15%) serta lima Pakan disusun berdasarkan prinsip iso protein agar kandungan protein seimbang di setiap perlakuan. Parameter yang diamati meliputi indeks kuning telur, indeks putih telur. Haugh Unit, berat telur, berat cangkang, dan ketebalan cangkang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 10% tepung maggot menghasilkan indeks kuning telur tertinggi, mengindikasikan rasio protein dan lemak yang paling mendukung pembentukan kuning telur. Sementara itu, indeks putih telur dan Haugh Unit tertinggi justru diperoleh dari perlakuan tanpa tepung maggot, menunjukkan bahwa pakan komersial standar lebih optimal dalam mempertahankan kualitas Berat telur, berat cangkang, dan ketebalan cangkang tertinggi diperoleh pada perlakuan dengan penambahan 5% tepung maggot, menandakan level ini sebagai kombinasi yang paling ideal untuk mendukung pembentukan massa dan kekuatan cangkang telur. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan tepung maggot BSF pada level 5% dalam pakan puyuh petelur memberikan pengaruh paling optimal terhadap kualitas fisik telur tanpa mengurangi kualitas interior secara signifikan. Kata Kunci: tepung maggot, puyuh petelur, kualitas telur, indeks kuning telur. Haugh Unit ABSTRACT This study aims to evaluate the effectiveness of Black Soldier Fly (BSF) maggot meal as a partial substitute for commercial feed on the physical quality of quail eggs (Coturnix coturnix japonic. A total of 100 female quails were used and housed in 20 cage partitions, each containing five birds. A Completely Randomized Design (CRD) was employed with four treatment levels of maggot meal inclusion . %, 5%. Ali, dkk / Tropical Animal Science 7. :262-270 10%, and 15%) and five replications. The feed composition was formulated using the iso-protein principle to ensure equal protein content across all treatments. Observed parameters included yolk index, albumen index. Haugh Unit, egg weight, shell weight, and shell thickness. The results showed that the 10% maggot meal treatment produced the highest yolk index, indicating that the protein and fat ratio at this level best supported yolk formation. However, the highest albumen index and Haugh Unit were found in the control group without maggot meal, suggesting that standard commercial feed more effectively maintains albumen quality. The highest egg weight, shell weight, and shell thickness were recorded in the group fed with 5% maggot meal, identifying this level as the most optimal in supporting egg mass and shell integrity. Overall, it can be concluded that supplementing quail diets with 5% BSF maggot meal yields the most favorable effect on egg physical quality without significantly compromising internal egg components. Keywords: maggot meal, laying quail, egg quality, yolk index. Haugh Unit PENDAHULUAN Industri peternakan puyuh di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap produk telur dan daging puyuh. Kegiatan budidaya puyuh menjadi salah satu pilihan strategis, terutama bagi peternak pemula, karena siklus hidup puyuh yang singkat, kebutuhan lahan yang minimal, serta efisiensi konsumsi pakan. Namun demikian, tantangan dalam manajemen pakan tetap menjadi isu utama, mengingat biaya pakan menyumbang porsi terbesar dalam total biaya Oleh karena itu, diperlukan upaya inovatif untuk menemukan sumber pakan alternatif yang ekonomis namun tetap bernilai gizi tinggi. Salah satu alternatif yang kini banyak dikaji adalah penggunaan larva Black Soldier Fly (BSF), khususnya dalam bentuk tepung Tepung maggot BSF dikenal sebagai sumber protein hewani yang kaya akan asam amino esensial, lemak, serta mineral seperti kalsium dan fosfor, maggot mengandung protein kasar sebesar 41Ae42%, lemak kasar 31Ae 35%, abu 14Ae15%, kalsium 4,80Ae5,10%, dan fosfor 0,60Ae0,63%. , yang sangat dibutuhkan dalam produksi telur. Berbagai penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa tepung pertumbuhan dan performa produksi pada Misalnya. Widiawati et al. menyatakan bahwa penggunaan tepung maggot dalam ransum puyuh petelur mampu mempertahankan kualitas produksi dalam batas penggunaan tertentu. Widjastuti et al. juga menyebutkan bahwa kandungan protein maggot cukup untuk mendukung sintesis albumen dan komponen telur lainnya. Namun demikian, sebagian besar kajian terdahulu masih terbatas pada evaluasi performa pertumbuhan, konversi pakan, atau efisiensi biaya, dan belum banyak yang secara spesifik menelaah pengaruh penggunaan tepung maggot terhadap kualitas fisik telur puyuh, terutama parameter interior seperti indeks kuning telur, indeks putih telur, dan Haugh Unit. Selain itu, masih sedikit penelitian yang mengkaji keterkaitan antara level substitusi maggot dalam pakan dengan mutu eksterior telur seperti berat, berat cangkang, dan ketebalan cangkang, secara komprehensif. Penelitian ini dilakukan untuk mengisi celah tersebut, dengan mengevaluasi sejauh mana tepung maggot dapat menggantikan pakan komersial secara parsial, tanpa menurunkan kualitas fisik telur puyuh. Fokus utama terletak pada pengaruh berbagai level tepung maggot terhadap enam parameter kualitas telur, baik dari segi interior maupun Dengan demikian, penelitian ini Ali, dkk / Tropical Animal Science 7. :262-270 tidak hanya memperkaya khasanah ilmiah dalam pemanfaatan pakan alternatif, tetapi juga memberikan panduan aplikatif bagi peternak dalam meningkatkan efisiensi dan mutu produksi telur puyuh. MATERI DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember hingga Februari di peternakan puyuh milik Bapak Anhar yang berlokasi di Desa Kaligentong. Kecamatan Gladagsari. Kabupaten Boyolali. Jawa Tengah. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh berbagai level tepung maggot Black Soldier Fly (BSF) terhadap kualitas fisik telur puyuh Materi yang digunakan adalah 100 ekor burung puyuh betina (Coturnix coturnix japonic. berumur 21 Day old Quail (DOQ), dengan kisaran bobot badan awal A100 gram. Seluruh ternak dipelihara secara intensif dan ditempatkan dalam 20 unit sekat kandang baterai berbahan kawat berlapis galvanis, masing-masing diisi oleh 5 ekor. Kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum berbahan plastik . roduk CV. Agrotama Jaya. Klate. , serta lampu pijar 5 watt (Philips. Indonesi. sebagai sumber pencahayaan dan penghangat. Pakan dasar yang digunakan adalah pakan komersial puyuh petelur starter dari PT. Sari Rosa Asih dengan kandungan protein kasar 22% dan energi metabolisme 3000 kkal/kg, serta pakan fase layer dari perusahaan yang sama dengan kandungan protein kasar 14%, lemak kasar 20%, dan kalsium 7%. Tepung maggot diperoleh dari produsen lokal CV. Biopakan Sejahtera. Sleman, yang telah dikeringkan secara oven dan dihaluskan. Nutrisi utama tepung maggot mencakup protein kasar sebesar 35%, lemak 26%, dan kalsium A2,9%. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan, terdiri atas: A P0 = 100% pakan komersial . A P1 = 95% pakan komersial 5% tepung A P2 = 90% pakan komersial 10% tepung maggot A P3 = 85% pakan komersial 15% tepung maggot Formulasi pakan disusun berdasarkan iso-protein Pengamatan dilakukan setelah tingkat produksi telur mencapai 60%, dan data dikumpulkan selama 21 hari. Parameter yang diamati meliputi: Indeks kuning telur dihitung dengan ycycnycuyciyciycn ycoycycuycnycuyci ycyceycoycyc . yccycnycaycoyceycyceyc ycoycycuycnycuyci ycyceycoycyc . Pengukuran dilakukan dengan meletakkan telur pada kaca datar, tinggi kuning telur diukur menggunakan tusuk gigi dan diameter diukur dengan jangka sorong digital. Indeks putih telur dihitung berdasarkan rumus: ycycnycuyciyciycn ycaycoycaycycoyceycu ycyceycoycyc . ycycaycycaOeycycaycyca yccycnycaycoyceycyceyc ycyycaycuycycaycuyci yccycaycu ycyyceycuyccyceyco ycaycoycaycycoyceycu Metode pengukuran sama seperti indeks kuning telur, menggunakan jangka sorong dan permukaan kaca datar. Nilai Haugh Unit (HU) dihitung dengan rumus (Stojcic et al. , 2. HU = 100ycoycuyci (H 7,57 Ae 1,7ycO 0,37 dengan H = tinggi albumen . W = bobot telur . Berat timbangan digital presisi 0,01 g (Camry EK5055. Chin. Berat cangkang telur diukur setelah bagian dalam telur dibuang dan dicuci Ali, dkk / Tropical Animal Science 7. :262-270 Ketebalan A OOycnyc = galat acak Metode dan pengukuran yang digunakan mengacu pada pedoman Standar Nasional Indonesia (SNI 3926:2. dan protokol ilmiah dari Badan Standardisasi Nasional serta referensi akademik relevan. menggunakan jangka sorong digital pada tiga titik . jung tumpul, tengah, dan ujung lanci. , lalu dirata-rata. Seluruh data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi Jika terdapat perbedaan yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji DuncanAos Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikansi 5%. Model statistik yang digunakan dalam analisis data adalah: ycUycnyc = yuN yuaycn OOycnyc di mana: ycUycnyc = nilai pengamatan yuN = nilai tengah umum yuaycn = pengaruh perlakuan ke-i HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian pemberian tepung maggot dengan level yang berbeda pada puyuh . ortunic japonic. terhadap Kualitas Eksterior dan Interior Telur Puyuh Fase Layer 1 Yang Diberi Berbagai Level Maggot disajikan pada tabel di bawah ini Tabel 1. Indeks Kuning Telur. Indeks Haugh. Indeks Putih Telur. Berat Telur. Berat Cangkang Telur. Ketebalan Cangkang Telur. Parameter IndeksKuning Telur 0,356 0,352 0,378 0,342 Indeks Putih Telur 0,136A 0,126AN 0,106 0,112 Indeks Haugh 88,678 87,994 85,558 87,414 Berat Telur . 9,738 10,686 9,48 10,008 BeratCangkang Telur . 0,800 0,904 0,756 0,826 Ketebalan Cangkang Telur . 0,2AN 0,28A 0,2AN 0,2AN a,b,c d superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perbedaan yang nyata (P<0,. P0 = 100% pakan komersial . P1 = 95% pakan komersial 5% tepung maggot. P2 = 90% pakan komersial 10% tepung maggot. P3 = 85% pakan komersial 15% tepung maggot. Nilai indeks kuning telur tertinggi diperoleh pada perlakuan P2 . % maggo. dengan angka 0,378, sedangkan nilai terendah terdapat pada P3 . % maggo. yaitu 0,342. Meskipun perbedaan antar perlakuan tidak (P>0,. , kecenderungan tersebut menunjukkan bahwa rasio lemak dan protein pada level 10% maggot pembentukan kuning telur. Kandungan asam lemak esensial dan protein dari maggot diketahui mampu meningkatkan sintesis lipoprotein, yang menjadi komponen utama kuning telur. Menurut Zotte et al. ransum unggas yang mengandung lemak dalam jumlah seimbang dapat memperbaiki tekstur dan kekentalan kuning telur, karena lipoprotein yang menjadi komponen utama dalam kuning telur. Namun, pada level 15%, penurunan kualitas kemungkinan disebabkan berdampak pada efisiensi metabolisme puyuh. Ali, dkk / Tropical Animal Science 7. :262-270 Indeks putih telur menunjukkan hasil berbeda, di mana nilai tertinggi diperoleh pada perlakuan P0 . anpa maggo. , yaitu 0,136, sedangkan nilai terendah terjadi pada P2 sebesar 0,106. Berdasarkan analisis statistik, perbedaan ini signifikan (P<0,. , yang menunjukkan bahwa penambahan tepung maggot, terutama pada level sedang dan tinggi, cenderung menurunkan kualitas putih Hal ini dapat dijelaskan oleh adanya penurunan palatabilitas pakan akibat aroma khas maggot serta kemungkinan ketidak seimbangan energi dan asam amino esensial, yang sangat memengaruhi sintesis albumen di Meskipun demikian, nilai indeks putih telur pada seluruh perlakuan masih berada dalam kisaran normal berdasarkan standar telur segar. Haugh Unit (HU) yang menggambarkan tingkat kesegaran putih telur menunjukkan hasil tertinggi pada perlakuan P0 . , diikuti oleh P1. P3, dan terendah pada P2 . Semua perlakuan masih termasuk dalam kategori Grade AA, sesuai klasifikasi USDA, menandakan bahwa telur tetap segar meskipun ada perbedaan perlakuan. Hasil ini menunjukkan bahwa pakan komersial tanpa substitusi lebih stabil dalam mempertahankan kekentalan albumen, meskipun penggunaan maggot hingga 15% tidak menurunkan mutu telur secara drastis. Berat telur tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 . ,686 . , sedangkan terendah pada P2 . ,480 . Meskipun secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,. , tren ini memperlihatkan bahwa level maggot 5% paling mendukung pertambahan massa telur. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh keseimbangan antara energi metabolisme dan protein yang ideal pada perlakuan tersebut, sehingga mendukung pembentukan telur secara efisien. Konsumsi pakan yang seragam antar perlakuan juga menjadi faktor yang mengurangi variasi berat telur secara Keseragaman berdampak pada ke stabilan konsumsi pakan harian yang tercatat berkisar antara 22,1 hingga 22,5 gram/ekor/hari. Putri et al. Jumlah konsumsi pakan yang hampir sama ini menyebabkan asupan nutrisi total yang dikonsumsi oleh masing-masing individu ternak menjadi relatif setara. Pada perlakuan P1 menunjukkan nilai tertinggi sebesar 0,904 gram, sementara P2 mencatat 0,756 Penambahan tepung maggot dalam jumlah moderat . %) memberikan kontribusi positif terhadap penyediaan kalsium dari sumber organik yang memiliki bioavailabilitas tinggi. Sebaliknya, peningkatan level maggot hingga 10% dan 15% justru tidak menunjukkan peningkatan bobot cangkang, yang diduga akibat rasio kalsium-fosfor yang tidak seimbang serta potensi pengikatan kalsium oleh lemak tinggi dari maggot. P1 . % tepung maggo. merupakan perlakuan paling cangkang telur puyuh. Hal ini menegaskan bahwa pemberian tepung maggot sebagai sumber kalsium alternatif sangat potensial, namun harus diberikan dalam dosis yang ketidakseimbangan nutrisi dan dampak Ketebalan menunjukkan hasil paling optimal pada perlakuan P1 dengan nilai 0,28 mm, yang termasuk kategori AutebalAy menurut klasifikasi Sementara itu, ketebalan pada perlakuan lainnya berkisar 0,20 mm, tergolong Hasil ini mengindikasikan bahwa pada level 5% tepung maggot, kandungan kalsium dan fosfor terserap secara efisien dan mendukung proses pembentukan kerabang. Selain itu, rasio Ca terhadap protein kasar yang lebih seimbang pada P1 menjadi salah satu faktor utama dalam pembentukan cangkang yang lebih kuat dan tebal. KESIMPULAN hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung maggot dalam jumlah Ali, dkk / Tropical Animal Science 7. :262-270 terbatas . hususnya pada level 5%) mampu meningkatkan beberapa aspek kualitas fisik telur puyuh, terutama berat telur, berat cangkang, dan ketebalan cangkang, tanpa menyebabkan penurunan yang signifikan pada mutu bagian dalam telur. Formulasi keseimbangan antara kandungan protein, lemak, kalsium, dan energi sangat penting untuk mengoptimalkan performa produksi serta mutu telur yang dihasilkan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Anhar selaku pemilik peternakan puyuh di Desa Kaligentong. Kecamatan Gladagsari. Kabupaten Boyolali, yang telah menyediakan lokasi dan fasilitas untuk pelaksanaan penelitian ini. Selain itu, penulis menyampaikan apresiasi kepada PT. Sari Rosa Asih yang telah mendukung penyediaan pakan komersial dan informasi komposisi ransum yang digunakan dalam penelitian ini. Terima kasih juga disampaikan kepada CV. Biopakan Sejahtera. Sleman, atas ketersediaan dan suplai tepung maggot BSF berkualitas tinggi sebagai bahan utama dalam penelitian Penelitian ini didanai secara mandiri oleh penulis sebagai bagian dari tugas akhir program sarjana. Segala bentuk bantuan, baik secara langsung maupun tidak langsung, sangat berarti dalam kelancaran dan keberhasilan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA