Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Calon Pengantin Tentang HIV/AIDS Dengan Pelaksanan Tes HIV Knowledge. Attitude of Brides and Voluntary Counselling Test HIV Yanna Wari Harahap1. Mhd. Arsyad Elfiqoh2. Rambe Nila Kesuma 3 Dosen Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Sarjana Fakultas Kesehatan Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Sarjana Fakultas Kesehatan Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan . ilaoppoa37@gmail. com, 62812 6099 0. ABSTRAK Kasus penderita HIV/AIDS di Indonesia per September 2020 sebanyak 409. 857 kasus. Sedangkan di Sumatera utara berjumlah 21. 160 orang dan di Kota Padangsidimpuan terdapat 17 kasus HIV/AIDS. Adapun salah satu faktor penyebab tingginya kasus HIV/AIDS adalah disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit HIV/AIDS dan masih tingginya pandangan atau sikap negatif masyarakat tentang HIV/AIDS. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan dan Sikap Calon Pengantin Tentang HIV/AIDS dengan Pelaksanaan Tes HIV di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan. Jenis penelitian yaitu kuantitatif dengan desain Cross Sectional. Jumlah sampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah 67 responden. Uji statistik yang digunakan adalah Chi Square. Hasil penelitian diketahui ada hubungan Pengetahuan Calon Pengantin tentang HIV/AIDS dengan pelaksanaan tes HIV dengan nilai p . < dan ada hubungan sikap calon pengantin tentang HIV/AIDS dengan pelaksanaan tes HIV dengan nilai p . < . Diharapkan bagi responden yang memiliki pengetahuan kurang, dapat meningkatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan berbagai informasi kesehatan melalui media sosial maupun media cetak. Kata kunci: HIV/AIDS, tes HIV, pengetahuan, sikap. BSTRACT Cases of people with HIV/AIDS in Indonesia as of September 2020 were 409,857 cases. While in North Sumatra there were 21,160 people and in Padangsidimpuan City there were 17 cases of HIV/AIDS. One of the factors causing the high number of cases of HIV/AIDS is the lack of public knowledge about HIV/AIDS and the high level of negative public views or attitudes about HIV/AIDS. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and attitudes of brides and grooms about HIV/AIDS with the implementation of HIV testing at the Sadabuan Health Center. Padangsidimpuan City. The type of research is quantitative with a cross sectional design. The number of samples using total sampling technique with a total of 67 respondents. The statistical test used is Chi Square. The results showed that there was a relationship between the knowledge of the bride and groom about HIV/AIDS with the implementation of the HIV test with a p value . < and there was a relationship between the attitudes of the bride and groom about HIV/AIDS with the implementation of the HIV test with a p value . < . It is expected that respondents who have less knowledge can increase their knowledge about HIV/AIDS with various health information through social media and print media. Keywords: HIV/AIDS. HIV test, knowledge, attitude. Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal PENDAHULUAN Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah sejenis virus yang menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi oleh HIV. (Kemenkes RI, 2. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa HIV/AIDS masih menjadi masalah kesehatan global dan tercatat sebagai penyebab kematian 32 juta orang di dunia. Hingga saat ini HIV/ AIDS masih tetap menjadi momok yang menakutkan bagi dunia. HIV /AIDS menjadi salah satu epidemik paling multinasional yang amat sangat serius. Berdasarkan data dari United Nations Programme on HIV and AIDS (UNAIDS) tahun 2019 populasi HIV terbesar di dunia adalah di benua Afrika . ,7 juta oran. , kemudian di Asia tenggara . ,8 jut. dan di Amerika . ,5 jut. , di Eropa sebanyak . ,5 jut. , sedangkan terendah berada di Pasifik Barat sebanyak . ,9 juta oran. Tingginya populasi orang terinfeksi HIV di Asia Tenggara mengharuskan Indonesia untuk lebih waspada terhadap penyebaran dan penularan virus ini. Indonesia termasuk Negara urutan ke tiga penyumbang penderita HIV/AIDS di Asia Pasifik, setelah India dan China. Menurut laporan Sistem Informasi HIV AIDS (SIHA ) tahun 2019 meskipun cenderung fluktuatif, data kasus HIV AIDS di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun dan mencapai puncaknya dalam kurun 2 tahun terakhir yakni pada tahun 2019 dimana jumlah kasus pemeriksaan pemeriksaan HIV dan 50. 282 diantaranya merupakan HIV positif. Dimana kebanyakan adalah pada usia produktif. (Infodatin Kemenkes RI, 2. Data kemenkes menyebutkan per September 2020 jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia sebanyak 409. 857 orang, dimana kasus tertinggi HIV/AIDS pada tahun 2020 berada di DKI Jakarta dengan 69. 353 kasus, sedangkan kasus HIV/AIDS terendah berada pada propinsi Sulawesi barat sebanyak 253 Kasus HIV/ AIDS di Sumatera utara secara nasional berada pada urutan ke 7 dari 34 propinsi, yang terdiri dari 21. 160 kasus HIV/ Vol. 6 No. 2 Desember 2021 AIDS dengan 276 kematian. (Kemenkes RI. Kasus HIV /AIDS tertinggi di wilayah sumatera utara pada tahun 2018 berada di kota Medan yakni sebanyak 1333 kasus, sedangkan terendah berada di kabupaten Humbang hasundutan yakni 1 kasus HIV/AIDS dan kota Padangsidimpuan menempati peringkat ke 16 di Sumatera utara dengan jumlah penderita HIV / AIDS sebanyak 17 orang. (Profil Dinkes Padangsidimpuan,2. Data Kementerian Kesehatan . menunjukkan dari 21. 103 ibu hamil yang menjalani tes HIV, 534 . ,5%) di antaranya positif terinfeksi HIV. Penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya juga cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah perempuan HIV positif yang tertular baik dari pasangan maupun akibat perilaku yang berisiko. Wudineh . menyatakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak merupakan program yang semakin menjadi perhatian seiring meningkatnya kejadian HIV pada ibu dan anak. Infeksi HIV pada ibu hamil dapat mengancam kehidupan ibu serta ibu dapat menularkan virus kepada bayinya. Lebih dari 90% kasus anak terinfeksi HIV, ditularkan melalui proses penularan dari ibu ke anak atau Mother To Child Hiv Transmission (MTCT). Virus HIV dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada anaknya selama kehamilan, saat persalinan dan saat menyusui (Permenkes RI, 2. Adapun salah satu cara yang ditempuh pemerintah guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan HIV adalah melalui program bimbingan perkawinan yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama Kabupaten/Kota. Kantor urusan Agama Kecamatan, maupun lembaga lain yang memenuhi persyaratan dan penyelenggaraan dari Kementerian Agama sesuai dengan tingkat kewenangan yang ditetapkan oleh Kementerian Agama. Namun yang menjadi masalah utama adalah kebanyakan masyarakat menolak untuk melakukan tes HIV karena dilatarbelakangi oleh stigma yang buruk tentang HIV serta kurangnya pengetahuan masyarakat akan tes HIV tersebut (Kemenkes RI, 2. Pengetahuan tentang HIV/AIDS sangat mempengaruhi sikap seseorang terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Stigma muncul berkaitan dengan ketidaktahuan seseorang tentang mekanisme penularan HIV yang Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal dipengaruhi oleh adanya epidemic HIV/AIDS. Kesalahpahaman atau ketidaktahuan tentang HIV sering kali berdampak pada ketakutan terhadap ODHA sehingga menyebabkan penolakan terhadap ODHA. Stigma juga pencegahan, perawatan, pengobatan, dukungan HIV. Ketakutan akan stigma membuat orang cenderung kurang ingin melakukan tes HIV dan kurang ingin atau menunda mengungkapkan status HIV kepada pasangan. ( Berliana, 2. Menurut Herek dalam jurnal of public health . stigma terkait AIDS adalah diskriminasi yang ditujukan kepada ODHA Diskriminasi merupakan aksi atau tindakan yang berasal dari munculnya stigma dan langsung ditujukan kepada orang yang Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA erat kaitannya dengan cara penularan HIV dan AIDS yang identik dengan perbuatan tercela seperti penggunaan obat terlarang, homoseksual, pelacuran dan lain sebagainya. Dalam dikemukakan oleh Busca . yang berjudul Chalenging Stigma and Discrimination in Southeast Asia menjelaskan bahwa stigma dan diskriminasi telah menjadi penghalang bagi ODHA untuk mengakses pelayanan kesehatan yang optimal. Stigma dan diskriminasi ODHA pelayanan kesehatan serta takut untuk membuka status. Dalam penelitian Zahroh, et al . menyebutkan populasi beresiko akan merasa takut untuk melakukan tes HIV karena apabila terungkap hasilnya reaktif akan menyebabkan mereka dikucilkan. Disamping itu tingginya stigma masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS menyebabkan banyak perlakuan diskriminatif baik dalam hal pekerjaan, perawatan, pengobatan, pendidikan maupun dalam hal yang lainnya ( Hesti, 2. Hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Puskesmas Sadabuan yang terletak di Kecamatan Kota Padangsidimpuan utara yang memiliki jumlah kelurahan terbanyak yakni 16 kelurahan dengan jumlah penduduk sebanyak 66. 143 jiwa, dimana didapati Usia Kawin Pertama ( UKP ) yang cukup tinggi yakni berjumlah 6. 594 orang. Dalam 2 tahun terakhir didapati calon pengantin yang telah melakukan tes Vol. 6 No. 2 Desember 2021 pemeriksaan kesehatan berjumlah 1. 093 orang. Dimana pada tahun 2019 berjumlah 502 orang dan yang bersedia melakukan tes HIV sebanyak 472 orang, sedangkan pada tahun 2020 berjumlah 591 orang dan yang bersedia melakukan tes HIV sebanyak 559 orang,dimana ditemukan 3 calon pengantin dengan hasil pemeriksaan tes HIV-nya reaktif . Menurut keterangan dari petugas Puskesmas yang melakukan tes kesehatan terhadap calon pengantin rata Ae rata pengetahuan catin terhadap tes HIV ini masih sekedar formalitas untuk mendapatkan surat keterangan sehat yang diperlukan untuk pemberkasaan kelengkapan pernikahan di KUA dan masih ada ditemukan pasangan calon pengantin yang tidak mengetahui tentang pemeriksaan kesehatan pra nikah,tentu saja hal ini dapat meningkatkan resiko permasalahan kesehatan di masa yang akan datang. Dan ada juga calon pengantin yang bersikap menolak untuk tes HIV dikarenakan calon pengantin tersebut merasa tidak beresiko. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Hubungan Pengetahuan dan Sikap Calon Pengantin Tentang HIV/AIDS Dengan Pelaksanan Tes HIV di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2021. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Dalam menggunakan pendekatan kuantitatif metode ini sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaidah ilmiah yaitu konkrit/empiris, objektif, terukur, rasional dan Metode ini juga disebut metode discovery karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru dan data penelitiannya berupa angka Ae angka dan analisis menggunakan statistik. (Nurdin, 2. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subjek yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Siyoto. Populasi di Puskesmas Sadabuan pada bulan Mei Ae bulan Juni 2021 adalah sebanyak 76 populasi yang terdaftar di Puskesmas Sadabuan dalam buku catin tetapi dari total Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal populasi tersebut yang bersedia menjadi responden hanya 67 orang. Sampel Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi Ataupun bagian kecil dari anggota populasi yng diambil menurut prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasinya. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya keterbatasan dana, tenaga, waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Sampel yang akan diambil dari populasi tersebut harus betul Ae betul representatif atau dapat mewakili. (Siyoto, 2. Sampel dalam penelitian ini yaitu seluruh calon pengantin . aki-laki dan yang telah melakukan pemeriksaan tes kesehatan dan telah terdaftar di Puskesmas Sadabuan dalam buku catin pada bulan Mei Ae Juni 2021 . Teknik pengambilan sampling dalam penelitian ini menggunakan total sampling, total sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan (Sugiyono. Alasan mengambil total sampling karena menurut Sugiyono . jumlah populasi yang kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian semuanya. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data adalah suatu cara yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data yang diperlukan dalam AuPengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, sumber dan caraAy (Sugiyono, 2. Berdasarkan pada settingnya, data dapat dikumpulkan pada setting alami, di rumah, dengan berbagai responden, seminar dan lain Ae lain. kemudian berdasarkan sumber datanya, pengumpulan data dibagi menjadi sumber data primer dan sumber data sekunder, yang dipergunakan oleh penulis Selanjutnya dilihat dari segi cara pengumpulan data,teknik pengumpulan data dilakukan dengan interview . ,kuesioner . , observasi . dan gabungan ketiganya. Dalam menggunakan metode sumber data primer yang diperoleh langsung dari calon pengantin dengan menggunakan alat pengumpul data / kuesioner . Sedangkan sumber data sekunder didapatkan dari Puskesmas Sadabuan kota Padangsidimpuan. Vol. 6 No. 2 Desember 2021 HASIL PENELITIAN Hasil Analisis Univariat Analisis univariat adalah analisa yang dilakukan menganalisis tiap variabel dari hasil penelitian. Analisis univariat berfungsi untuk meringkas kumpulan data hasil pengukuran sedemikian rupa sehingga kumpulan data tersebut berubah menjadi informasi yang berguna (Endra, 2. Berdasarkan hasil analisis univariat yang didapatkan pada penelitian ini adalah sebagai Tabel 4. 1Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Wilayah Kerja Puskesmas Sadabuan Tahun 2021 Jenis Kelamin . Persen (%) Laki-laki Perempuan Total Tabel 4. 1 di atas dapat diketahui bahwa dari 67 responden, jenis kelamin yang terbanyak adalah laki-laki yaitu sebanyak 34 responden . ,7%), sedangkan jenis kelamin perempuan adalah 33 responden . ,3%). Tabel Distribusi Responden Berdasarkan Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Sadabuan Tahun 2021 Kelompok Umur . Persen (%) Total Tabel 4. 2 di atas dapat diketahui bahwa dari 67 responden, kelompok umur yang terbanyak adalah 21-30 tahun yaitu sebanyak 45 responden . ,2%), sedangkan kelompok umur responden yang paling sedikit adalah 11-20 tahun yaitu sebanyak 3 responden . ,5%). Tabel 4. 3 Distribusi responden berdasarkan pengetahuan, sikap dan keikutsertaan responden tentang HIV/AIDS di wilayah kerja Puskesmas Sadabuan Tahun 2021 Variabel . Persen (%) Pengetahuan Kurang Cukup Baik Variabel Sikap . Persen (%) Negatif Positif Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal Variabel Keikut sertaan Ikut Tidak ikut . Persen (%) Tabel 4. 3 diperoleh data distribusi responden berdasarkan pengetahuan tentang HIV/AIDS, mempunyai pengetahuan baik sebanyak 26 responden . ,8%), berpengetahuan kurang sebanyak 22 responden . dan sebagian kecil berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 19 responden . ,4%). Diperoleh data distribusi responden berdasarkan sikap, sebagian besar responden memiliki sikap positif tentang HIV/AIDS yaitu sebanyak 36 responden . ,7%) dan yang 31responden. ,3%). Dari tabel di atas dapat diketahui mengenai keikut sertaan responden terhadap Tes HIV, dimana dari 67 responden, 35 responden atau 52,2% ikut melakukan tes HIV dan 32 responden atau 47,8% tidak ikut. Hasil Analisis Bivariat Analisis bivariat adalah analisis data yang dilakukan untuk mengetahui hubungan 2 variabel atau lebih. Dalam hasil penelitian ini menganalisis hubungan antara pengetahuan dan sikap calon pengantin tentang HIV/AIDS denganpelaksanaan tes HIV. Berdasarkan hasil analisis bivariat yang didapatkan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Tabel 4. 4 Tabulasi silang pengetahuan dan sikap responden dengan keikut sertaan tes HIV di wilayah kerja Puskesmas Sadabuan Tahun 2021 Tes HIV Variabel Total Ikut Tidak Pengetahuan . Value . Kurang Cukup 0,017 Baik Variabel Tes HIV Total Ikut Tidak Sikap Value . Negatif 0,21 Positif Hasil uji statistik diperoleh nilai p value . < . artinya Ha diterima, dimana terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan responden dengan keikut sertaan pelaksanaan tes HIV di Wilayah Kerja Puskesmas Sadabuan Tahun 2021. Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Berdasarkan hasil tabulasi ini diketahui bahwa responden yang memiliki pengetahuan kurang tentang HIV/AIDS dan tidak ikut serta dalam tes HIV sebanyak 16 orang dan yang memiliki pengetahuan kurang tetapi ikut serta dalam tes HIV sebanyak 6 orang, responden yang memiliki pengetahuan cukup tentang HIV dan ikut serta dalam tes HIV sebanyak 12 orang dan yang memiliki pengetahun cukup tetapi tidak ikut serta melakukan tes HIV sebanyak 7 orang, yang memilik pengetahun baik tentang HIV dan ikut serta dalam tes HIV yaitu sebanyak 17 orang dan responden yang memiliki pengetahuan baik tetapi tidak ikut serta dalam tes HIV sebanyak 9 orang. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value . < . artinyaHa diterima, dimana terdapat hubungan yang signifikan antara sikap responden tentang HIV/AIDS dengan keikut sertaan pelaksaan tes HIV di Wilayah Kerja Puskesmas Sadabuan Tahun 2021. Berdasarkan hasil tabulasi ini diketahui bahwa dari 31 responden yang memiliki sikap negatif tentang HIV/AIDS sebanyak 20 orang tidak ikut melakukan tes HIV dan responden yang memiliki sikap negatif tentang HIV/AIDS tetapi ikut melakukan tes HIV sebanyak 11 orang, sedangkan dari 36 responden yang memiliki sikap positif tentang HIV/AIDS dan mengikuti tes HIV sebanyak 24 orang dan responden yang memiliki sikap positif tentang HIV/AIDS tetapi tidak ikut tes HIV sebanyak 12 orang. PEMBAHASAN Gambaran Pengetahuan Pengantin terntang HIV/AIDS Calon Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 26 calon pengantin yang memiliki pengetahuan baik tentang HIV/AIDS yang melaksanakan tes HIV pranikah adalah sebanyak 17 orang lebih besar apabila dibandingkan dengan calon pengantin yang tidak ikut serta pelaksanaan tes HIV pranikah yaitu sebanyak 9 orang, dari 22 calon pengantin yang memiliki pengetahuan kurang tentang HIV/AIDS yang mengikuti tes HIV sebanyak 6 orang lebih kecil apabila dibandingkan dengan calon pengantin yang tidak ikut serta pelaksanaan tes HIV pranikah yaitu sebanyak 16 orang dan dari 19 calon pengantin yang HIV/AIDS yang mengikuti tes HIV pranikah sebanyak 12 orang lebih besar apabila Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal dibandingkan dengan calon pengantin yang tidak ikut tes HIV pranikah yaitu sebanyak 7 Penelitian ini sejalan dengan penelitian Panjaitan Desy Octavia . Hasil analisa hubungan Pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan penularan ibu ke anak dengan pemanfaatan pemeriksaan HIV di Puskesmas Paya Lombang Tahun 2018 menunjukkan hasil bahwa dari 31 responden, terdapat 18 ,1%) dengan pengetahuan baik dan yang ikut serta dalam pemanfaatan test HIV 12 responden . ,7%), persentase ini lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan tidak baik tentang pencegahan penularan ibu ke anak yang berjumlah 13 responden . ,9%) hanya 2 ,5%) memanfaatkan test HIV. Hasil ini juga didukung oleh penelitian Puspitasari Ria . , yang membuktikan bahwa ada hubungan antara pengetahuan WPS (Wanita Pekerja Seksua. tentang HIV/AIDS dan VCT . oluntary counselling and testin. dengan kesediaan VCT di wilayah Gilingan Kecamatan Banjarsari Surakarta. Semua WPS yang memiliki pengetahuan baik bersedia melakukan VCT yaitu sebanyak 29 orang . %). Sedangkan WPS yang memiliki pengetahuan kurang sebagian besar tidak bersedia melakukan VCT yaitu sebanyak 9 orang . ,8%), sedangkan yang bersedia melakukan VCT sebanyak 2 orang . ,2%). Kholid, . menyatakan bahwa individu atau masyarakat dapat mengubah perilakunya apabila memahami faktor-faktor yang dapat berpengaruh dalam perubahan dari seseorang merupakan hal yang mendasari perubahan perilakunya. Namun pada realitasnya sulit dibedakan dalam menentukan perilaku, karena perilaku juga dapat dipengaruhi oleh faktor pengalaman, keyakinan, dan ketersediaan fasilitas yang dapat mendukung terwujudnya tindakan. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo. Kesalahpahaman pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS Vol. 6 No. 2 Desember 2021 berdampak pada ketakutan masyarakat terhadap ODHA, sehingga muncul penolakan terhadap ODHA (Shaluhiyah Z, 2. Gambaran Sikap tentang HIV/AIDS Calon Pengantin Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa dari 36 responden yang memiliki sikap positif tentang HIV/AIDS dan ikut melakukan tes HIV sebanyak 24 orang dan responden yang memiliki sikap positif tentang HIV/AIDS dan tidak ikut melakukan tes HIV sebanyak 12 orang, sedangkan dari 31 responden yang memiliki sikap negatif tentang HIV/AIDS dan ikut melakukan tes HIV sebanyak 11 orang dan responden yang memiliki sikap negatif tentang HIV/AIDS dan tidak mengikuti tes HIV sebanyak 20 orang Penelitian ini sejalan dengan penelitian Puspitasari Ria . , hubungan pengetahuan dan sikap tentang HIV/AIDS dan VCT serta peran petugas dengan kesediaan melakukan VCT pada wanita pekerja seks di wilayah Gilingan kecamatan Banjarsari Surakarta. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara sikap WPS tentang HIV/AIDS dan VCT dengan kesediaan VCT di wilayah Gilingan Kecamatan Banjarsari Surakarta. bahwa WPS dengan sikap positif yang bersedia melakukan VCT sebanyak 28 orang . ,8%), sedangkan WPS dengan sikap positif yang tidak bersedia melakukan VCT sebanyak 5 orang . ,2%). Untuk WPS dengan sikap negatif yang bersedia melakukan VCT sebanyak 3 orang . ,8%) sedangkan yang tidak bersedia melakukan VCT sebanyak 4 orang . ,2%). Sikap merupakan respon seseorang terhadap stimulus yang diberikan. Sikap HIV/AIDS pelaksanaan tes HIV. Oleh sebab itu, seseorang yang sikapnya positif cenderung akan setuju untuk melakukan tes HIV. Begitupun sebaliknya, seseorang yang sikapnya negatif memiliki kecenderungan untuk menghindari, menunda bahkan menolak untuk melakukan tes HIV. Ada dua faktor yang mempengaruhi sikap, yaitu faktor intrinsik individu diantaranya kepribadian, intelegensi, bakat, minat, perasaan, serta kebutuhan dan motivasi seseorang dan faktor ekstrisik antara lain adalah faktor lingkungan, pendidikan, ediologi, ekonomi dan politik. Selain itu ada berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap diantaranya pengalaman pribadi, kebudayaan Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal orang lain, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta emosi dalam diri individu (Notoatmodjo, 2. Gambaran Keikut sertaan Calon Pengantin terhadap pelaksanaan tes HIV Dari hasil penelitian ini diketahui responden yang mengikuti tes HIV di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan tahun 2021 adalah sebanyak 35 orang sedangkan yang tidak ikut melaksanakan tes HIV sebayak 32 orang. Hal ini menunjukkan bahwa masih tingginya ketidak bersediaan masyarakat melaksanakan tes HIV. Stigma merupakan hambatan utama dalam pencegahan, perawatan, pengobatan, dan dukungan HIV. Ketakutan akan stigma membuat orang cenderung kurang ingin melakukan pemeriksaan HIV dan kurang ingin atau menunda mengungkapkan status HIV kepada pasangan. Stigma juga berhubungan dengan penundaan atau penolakan perawatan dan ketidakpatuhan dalam pengobatan HIV. Analisa Hubungan Pengetahuan Calon Pengantin tentang HIV/AIDS dengan pelaksanaan tes HIV di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2021 Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh nilai p value ( 0,017 ) < . yang artinya terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan responden dengan keikut sertaan pelaksanaan tes HIV di wilayah kerja Puskesmas Sadabuan tahun 2021. Faktor internal yang mempengaruhi pengetahuan meliputi pengalaman, sumber informasi, pemahaman. Faktor eksternal yang lingkungan dan sosial budaya. Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan perilaku orang maupun kelompok. Sehingga responden bisa mendapatkan pengetahuan melalui informasi yang didapatkan disekitar lingkungannya. Analisa Hubungan Sikap Calon Pengantin tentang HIV/AIDS dengan pelaksanaan tes HIV di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2021 Hasil diperoleh bahwa p value . < ( 0,. Vol. 6 No. 2 Desember 2021 yang artinya terdapat hubungan yang bermakna antara sikap responden dengan keikut sertaan tes HIV di wilayah kerja Puskesmas Sadabuan Dimana responden yang memiliki sikap positif terhadap pelaksanaan tes HIV sebanyak 36 orang dan yang ikut melaksanakan tes HIV sebanyak 24 orang sedangkan responden yang memiliki sikap negatif terhadap pelaksanaan tes HIV sebanyak 31 orang dan yang ikut melaksanakan tes HIV sebanyak 11 orang. Menurut peneliti dalam penentuan sikap, berpikir, keyakinan dan emosi memegang peranan penting. Contoh misalnya seorang calon pengantin yang telah mendengar penyakit HIV/AIDS . enyebabnya, akibatnya, pencegahannya dan sebagainy. sikap ini akan membawa calon pengantin untuk berpikir dan berusaha supaya tidak terkena HIV/AIDS dalam berpikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja, sehingga calon pengantin tersebut bersedia untuk melakukan tes HIV untuk mengetahui deteksi dini HIV pemeriksaan HIV/AIDS tersebut. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan pengetahuan dan sikap calon HIV/AIDS pelaksanaan tes HIV di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2021 dapat disimpulkan sebagai berikut : Persentase pengetahuan responden yang terbanyak adalah baik sebanyak 26 orang . ,8%). Persentase sikap responden terbanyak adalah sikap positif yaitu sebanyak 36 orang . ,7%). Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan calon pengantin dengan pelaksanaan tes HIV di wilayah kerja Puskesmas Sadabuan Tahun 2021 dengan nilai p value . < . Ada hubungan yang signifikan antara sikap calon pengantin dengan pelaksanaan tes HIV di Wilayah Kerja Puskesmas Sadabuan Tahun 2021 dengan nilai p value . < . SARAN Berdasarkan hasil penelitian tentang Hubungan Pengetahuan dan Sikap Calon Pengantin Tentang HIV/AIDS Dengan Pelaksanaan Tes HIV di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2021, ada Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal beberapa saran yang akan peneliti sampaikan yaitu sebagai berikut: Bagi Puskesmas - Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan sumber informasi kepada petugas program pelaksanaan tes HIV dalam menjalankan tugasnya dan diharapkan mampu membenahi stigma negatif tentang HIV/AIDS di - Diharapkan kepada Puskesmas agar lebih gencar lagi melakukan sosialisasi HIV/AIDS menggunakan berbagai media yang lebih menarik baik media cetak maupun media sosial. Bagi Responden - Diharapkan bagi responden yang memiliki pengetahuan kurang, dapat meningkatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan berbagai informasi kesehatan melalui media sosial maupun media cetak. - Diharapkan bagi responden yang memiliki sikap negatif terhadap pelaksanaan tes HIV agar dapat mengubah sudut pandangnya menjadi lebih positif. Bagi Akademik Dengan adanya hasil penelitian ini perbendaharaan skripsi ilmu kesehatan Universitas Aufa Royhan Kota Padangsidimpuan menambah wawasan bagi mahasiswa dan mahasiswi Aufa Royhan tentang HIV/AIDS. DAFTAR PUSTAKA