Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Transformasi Legenda Desa Limbasari sebagai Kearifan Lokal di Era VUCA 1,2,3 Agus Wismanto1*. Arisul Ulumuddin2. Murywantobroto3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas PGRI Semarang ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Transformasi legenda Desa Limbasari sebagai kearifan lokal di era VUCA (Volatility. Uncertainty. Complexity. Ambiguit. merupakan kajian yang penting untuk memahami bagaimana nilai-nilai tradisional dapat bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan global yang cepat dan tidak menentu. Legenda Ki Gede Limbasari, yang menjadi inti identitas budaya Desa Limbasari di Kabupaten Purbalingga, mengandung berbagai unsur kebijaksanaan, kepemimpinan, dan spiritualitas yang relevan hingga kini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi legenda ini dalam konteks modernisasi dan digitalisasi, serta bagaimana legenda tersebut diinterpretasikan ulang dan diintegrasikan ke dalam kehidupan masyarakat modern. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengkaji perubahan yang terjadi dalam narasi, ritual, dan fungsi sosial dari legenda ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legenda Desa Limbasari mengalami adaptasi yang signifikan dalam cara penyampaian dan peran sosialnya, terutama melalui media digital dan pendidikan formal. Transformasi ini memungkinkan legenda tersebut tetap relevan dan berfungsi sebagai sarana penguatan identitas lokal di tengah tantangan era VUCA. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa ada risiko komodifikasi budaya yang dapat mengurangi nilai intrinsik dari legenda tersebut jika tidak dikelola dengan bijak. DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Transformasi Legenda. Desa Limbasari. Kearifan Lokal. Era VUCA. Modernisasi. Digitalisasi. Identitas Budaya Kata Kunci: Transformasi legenda. Desa Limbasari, kearifan lokal, era VUCA, modernisasi, digitalisasi, identitas budaya. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Agus Wismanto Universitas PGRI Semarang Jl. Sidodadi Timur Jalan Dokter Cipto No. Karangtempel. Kota Semarang. Jawa Tengah 50232. Indonesia Email: aguswismanto080860@gmail. PENDAHULUAN Kearifan lokal merupakan elemen penting dalam mempertahankan identitas budaya suatu masyarakat, terutama di tengah perubahan zaman yang terus bergejolak. Legenda Desa Limbasari di Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai luhur dan telah diwariskan secara turuntemurun. Legenda ini, yang berkisar pada sosok Ki Gede Limbasari dan Putri Limbasari, berperan tidak hanya sebagai cerita rakyat, tetapi juga sebagai medium pendidikan sosial dan spiritual bagi masyarakat setempat. Di era VUCA (Volatility. Uncertainty. Complexity. Ambiguit. , yang ditandai dengan ketidakstabilan, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas, kearifan lokal seperti legenda ini menghadapi tantangan dalam Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X mempertahankan relevansinya. Globalisasi, modernisasi, dan digitalisasi turut mengubah cara masyarakat mengakses, memahami, dan menghidupi tradisi mereka. Oleh karena itu, transformasi legenda menjadi penting agar tetap relevan dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat modern. Rumusan Masalah: Bagaimanakahkah proses transformasi Legenda Desa Limbasari di era VUCA? Bagaimana nilai-nilai dalam legenda ini dapat dipertahankan dan diadaptasi di tengah modernisasi dan Apakah dampak dari perubahan ini terhadap masyarakat setempat? Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses transformasi Legenda Desa Limbasari sebagai kearifan lokal di era VUCA, serta menganalisis bagaimana nilai-nilai budaya yang terkandung dalam legenda tersebut beradaptasi dalam konteks modern. Selain itu, penelitian ini juga ingin memahami peran transformasi ini dalam menjaga identitas budaya masyarakat Desa Limbasari. METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan wawancara mendalam. Sumber data utama adalah naskah legenda yang telah diturunkan secara lisan, serta wawancara dengan tokoh masyarakat, pemuka adat, dan praktisi budaya di Desa Limbasari. Selain itu, kajian pustaka terhadap berbagai jurnal akademik tentang kearifan lokal dan perubahan budaya di era VUCA juga digunakan untuk memperkaya analisis. Landasan Teori. Transformasi budaya sering kali dikaji dalam konteks perubahan sosial. Dalam hal ini tradisi-tradisi lama harus beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Eric Hobsbawm dalam *The Invention of Tradition . menjelaskan bahwa tradisi diciptakan, diubah, dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dalam konteks Di era VUCA, masyarakat Desa Limbasari perlu menyesuaikan tradisi lisan mereka untuk mempertahankan relevansi legenda tersebut. Geertz . dalam The Interpretation of Cultures berargumen bahwa simbol dan makna budaya dapat berubah sesuai dengan kondisi sosial. Oleh karena itu, legenda yang menjadi bagian dari kearifan lokal dapat berfungsi sebagai simbol yang terus bertransformasi untuk menyesuaikan dengan perubahan zaman. Selain itu, konsep digitalisasi budaya menjadi relevan dalam penelitian ini, di mana legenda-legenda lokal dapat didokumentasikan dan disebarluaskan melalui media digital untuk mempertahankan keberadaannya. Hal ini sejalan dengan temuan Sweeney . yang menekankan transisi dari orality ke literacy dalam budaya Melayu dan Jawa. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Transformasi Legenda Desa Limbasari di Era VUCA Transformasi Legenda Desa Limbasari terjadi dalam beberapa bentuk, baik dalam penyampaian maupun dalam interpretasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sebelumnya, legenda ini diturunkan melalui tradisi Maksudnya cerita-cerita tentang Ki Gede Limbasari dan Putri Limbasari diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengisahan langsung. Di era VUCA, perubahan signifikan terjadi dalam cara legenda ini disampaikan. Beberapa perubahan tersebut meliputi: Digitalisasi dan Media Sosial: Legenda ini sekarang mulai terdokumentasikan dalam bentuk digital. Masyarakat lokal dan penggiat budaya mulai membuat konten video atau artikel yang mengangkat legenda ini, sehingga dapat diakses oleh audiens yang lebih luas melalui platform digital. Digitalisasi membantu menyebarluaskan cerita ini dan menarik minat generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi. Reinterpretasi Nilai-nilai Tradisional: Dalam konteks modern, nilai-nilai yang terkandung dalam legenda ini diinterpretasikan ulang agar relevan dengan tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini. Misalnya, keberanian dan kesaktian Putri Limbasari kini sering dihubungkan dengan semangat perempuan lokal dalam menghadapi tantangan di era modern. Adaptasi Nilai-nilai Kearifan Lokal Nilai-nilai yang terkandung dalam legenda Desa Limbasari, seperti kepemimpinan, keberanian, dan keseimbangan dengan alam, tetap relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi dan modernisasi. Namun, adaptasi dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai ini ke dalam konteks pendidikan, pengembangan sosial, dan kebijakan lokal. Salah satu contoh adalah penggunaan legenda ini dalam pendidikan formal di sekolahsekolah lokal, di mana cerita tentang Ki Gede Limbasari dan Putri Limbasari digunakan sebagai alat untuk mengajarkan sejarah, kebijaksanaan lokal, dan pentingnya pelestarian budaya. Dampak Transformasi terhadap Masyarakat Transformasi legenda ini berdampak positif terhadap masyarakat Desa Limbasari. Melalui dokumentasi digital, generasi muda dapat lebih mudah mengakses dan memahami legenda tersebut. Selain itu, adaptasi nilainilai legenda ke dalam konteks sosial modern telah membantu memperkuat identitas budaya masyarakat setempat Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X di tengah pengaruh globalisasi. Namun, ada juga tantangan yang dihadapi, seperti risiko komodifikasi budaya. Beberapa bagian dari legenda ini, yang dulunya sakral, mungkin kehilangan makna spiritualnya ketika diangkat sebagai produk budaya populer. Jika tidak dikelola dengan baik, komodifikasi ini dapat mengurangi esensi asli dari legenda tersebut. SIMPULAN Legenda Desa Limbasari telah mengalami transformasi yang signifikan di era VUCA, baik dalam bentuk penyampaian maupun dalam interpretasi nilai-nilainya. Digitalisasi dan reinterpretasi nilai-nilai tradisional telah membantu menjaga relevansi legenda ini di tengah tantangan modernisasi. Namun, penting untuk tetap menjaga integritas budaya agar transformasi ini tidak menghilangkan makna asli dari legenda. DAFTAR PUSTAKA