Jurnal Bimbingan Dan Konseling Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2622-6057 (Media ceta. e-ISSN 2657070X (Media onlin. STRATEGI BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK MODELLING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL Dini QurrotulAoaini. Vasco Delano. Fitri Arnita Universitas MathlaAoul Anwar Banten Abstrak Keterampilan sosial merupakan aspek penting yang perlu dimiliki siswa agar mampu berinteraksi secara efektif dengan Rendahnya keterampilan sosial siswa dapat menimbulkan berbagai permasalahan, seperti menarik diri, kesulitan menyampaikan pendapat, hingga hambatan dalam proses belajar. Penelitian ini bertujuan guna mengetahui efektivitas layanan Bimbingan Kelompok dengan teknik modelling dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest. Populasi penelitian ialah seluruh siswa SMA kelas X, dengan sampel purposive berjumlah 10 siswa yang mempunyai keterampilan sosial rendah. Instrumen yang dipakai ialah angket keterampilan sosial yang telah diuji validitas Serta Teknik analisis data meliputi uji normalitas, homogenitas serta Mann Whitney. Temuan studi mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan yang berarti antara skor pretest serta posttest, sebagaimana dibuktikan oleh nilai Asymp. Sig 0,000 < 0,05. Hal ini mengimplikasikan bahwa intervensi bimbingan kelompok yang menggunakan metode modelling terbukti efektif dalam meningkatkan kapabilitas sosial peserta didik. Dengan demikian, disimpulkan bahwa layanan Bimbingan Kelompok yang mengadopsi teknik modelling merupakan sebuah opsi strategis dalam kerangka layanan Bimbingan serta Konseling di institusi pendidikan guna mendukung optimalisasi perkembangan kompetensi sosial siswa. Kata kunci: Keterampilan Sosial. Teknik Modelling. Bimbingan Kelompok Abstract Social skills are crucial for students to interact effectively with their environment. Poor social skills can lead to various problems, such as withdrawal, difficulty expressing opinions, and obstacles in the learning process. This study aims to determine the effectiveness of group guidance services with modeling techniques in improving students' social skills. The study used a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The study population was all 10th-grade high school students, with a purposive sample of 10 students with low social skills. The instrument used was a social skills questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis techniques included normality, homogeneity, and Mann-Whitney tests. The results showed a significant difference between pretest and posttest scores, with an Asymp. Sig. value of 0. 000 <0. 05, indicating that group guidance services with modeling techniques effectively improve students' social skills. The conclusion of this study is that group guidance with modeling techniques can be an alternative strategy for guidance and counseling services in schools to help students develop their social Keywords: Social Skills. Modeling. Group Guidance Jurnal Bimbingan Dan Konseling Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2622-6057 (Media ceta. e-ISSN 2657070X (Media onlin. PENDAHULUAN Keterampilan sosial ialah sesuatu konstruk yang terdiri dari beberapa sub konstruk. Keterampilan sosial terdiri atas 2 domain ialah domain marah serta daerah sosial. Domain emosi terdiri atas mimik muka marah, kepekaan emosi serta kontrol emosi. Sebaliknya daerah sosial terdiri atas ekspresi sosial, kepekaan sosial, kontrol sosial serta manipulasi sosial. Keterampilan sosial tidak terbentuk secara otomatis sejak lahir, melainkan dipelajari melalui proses pembelajaran dari lingkungan serta pengalaman sosial. Keterampilan sosial ialah kemampuan individu dalam mengatur emosi serta perilakunya guna menjalin interaksi yang efektif (Bali, 2. Individu dengan keterampilan sosial rendah berisiko mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, menarik diri dari lingkungan, hingga kurang percaya diri saat berkomunikasi. Sekolah berperan penting sebagai lingkungan sosial setelah keluarga yang mendukung pengembangan keterampilan sosial. Sebagian besar siswa SMA berada pada kategori cukup Serta rendah dalam keterampilan sosial (Dewanti et al. , 2. Berdasarkan hasil observasi bahwa hasil observasi keterampilan sosial siswa menunjukan dengan rata-rata kelas 70,4 dengan kriteria cukup dengan siswa yang mendapat kriteria sangat baik Serta baik . riteria penelitia. mencapai 33,3% dengan jumlah siswa 7 dari 21 siswa. Serta siswa yang memperoleh cukup Serta kurang mencapai 66,7% dengan jumlah siswa 14 dari 21 siswa. Sedangkan berdasarkan hasil tabel frekuensi keterampilan sosial kategori sangat tinggi ialah 58,33%, kategori tinggi adalah 8,3%, kategori cukup ialah 12,5%, kategori kurang adalah 0% Serta kategori rendah ialah 8,3%. Maka dari penelitian diatas dapat diketahui bahwa masih banyak siswa yang mempunyai keterampilan sosial yang rendah. Hasil pengamatan serta diskusi yang dilakukan peneliti dengan konselor di SMAN 10 Pandeglang mengindikasikan bahwa sebagian siswa masih menunjukkan tingkat keterampilan sosial yang belum Permasalahan yang sering ditemui yaitu kurangnya kemampuan siswa dalam menjalin interaksi dengan teman sebaya, serta lingkungan sekitarnya. Seperti tidak berani berbicara didepan umum, mereka cenderung lebih menyendiri serta sulit berbaur. Hal ini bisa disebabkan oleh rasa tidak Aman, kurangnya percaya diri. Serta kurangnya dukungan lingkungan sekitar. Keadaan ini ditemukan pada beberapa siswa/siswi kelas X yang seharusnya mereka sudah mampu berinteraksi dengan orang lain Serta mempunayi keterampilan sosial yang baik. Jika permasalahan ini tidak segera diatasi, dikhawatirkan keterampilan sosial siswa semakin rendah dan tidak dapat berinteraksi dengan orang disekitarnya. Oleh sebab itu perlu dilakukan analisis lebih mendalam untuk mencari solusi yang tepat guna meningkatkan keterampilan sosial siswa di sekolah, salah satunya yaitu dengan memberikan layanan Bimbingan Kelompok dengan teknik modelling. Oleh karena itu program pelatihan keterampilan sosial perlu dikembangkan di seluruh jenjang pendidikan di sekolah, karena Keterampilan sosial . ocial skill. ialah bagian berarti dari keahlian hidup orang. Tanpa mempunyai keahlian sosial, manusia tidak bisa berhubungan dengan orang lain yang terdapat di lingkungannya (Khalilah, 2. Peran guru Bimbingan dan Konseling sangat krusial dalam menciptakan iklim pembelajaran yang produktif di lingkungan sekolah melalui penyediaan layanan Bimbingan Kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok adalah sebuah metode penyampaian bantuan . onseling atau araha. kepada beberapa individu, umumnya siswa, melalui interaksi dalam suatu kelompok. Fokus utama dari Bimbingan Kelompok adalah pada pembahasan materi-materi yang bersifat general Serta relevan bagi seluruh partisipan kelompok (Kardimin et al. , 2. Terdapat beberapa macam teknik dalam pelaksanaan Bimbingan Kelompok sebagai berikut: pemberian informasi, diskusi kelompok, pemecahan masalah . roblem solvin. , permainan peranan . ole playin. , simulasi . imulation game. , karyawisata . ield tri. , penciptaan suasana keluarga . ome roo. (Fikriyani & Herdi, 2. Dalam sesi Bimbingan dan Kelompok yang menerapkan metode modelling, siswa dengan kemampuan sosial yang terbatas akan diberi peluang untuk berpartisipasi dalam diskusi mengenai topik yang ditentukan. Siswa yang menunjukkan tingkat keterampilan sosial yang rendah mungkin menghadapi tantangan dalam membangun interaksi yang efektif dengan individu lain (Nurjannah, 2. Masalah tersebut bisa ditangani dengan bantuan Konselor, dengan menggunakan teknik modelling dalam Bimbingan Kelompok. Teknik modelling ialah proses bagaimana individu belajar dari mengamati orang lain (Puspitaningrum, 2. Modelling lebih banyak dipakai guna motivasi belajar atau perilaku prososial, tetapi jarang difokuskan langsung pada keterampilan sosial remaja di SMA. Dalam konteks sesi Bimbingan Kelompok, siswa memiliki kesempatan untuk mengobservasi individu teladan dan mengadopsi perilaku yang dinilai sesuai dari individu tersebut. Implementasi metode modelling ini diproyeksikan akan berkontribusi pada peningkatan kompetensi sosial para siswa. Jurnal Bimbingan Dan Konseling Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2622-6057 (Media ceta. e-ISSN 2657070X (Media onlin. METODE Studi ini menerapkan metodologi kuantitatif melalui rancangan penelitian eksperimen semu. Desain kuasi-eksperimental adalah jenis metode penelitian yang memperkirakan dampak kausal suatu intervensi tanpa menggunakan penugasan acak pada kelompok perlakuan dan kontrol (Yunitri et al. , 2. Desain yang dipilih adalah rancangan uji pre-tes dan post-tes untuk satu kelompok. Segmen populasi studi ini mencakup seluruh peserta didik kelas X di Sekolah Menengah Atas, dengan jumlah keseluruhan 320 Sampel penelitian dipilih memakai teknik purposive sampling, yakni 10 siswa dengan skor keterampilan sosial terendah berdasarkan hasil angket awal. Instrumen penelitian berupa angket keterampilan sosial yang disusun berdasarkan teori Riggio dengan tujuh subdimensi. Instrumen telah melalui uji validitas isi oleh ahli serta uji reliabilitas memakai CronbachAos Alpha dengan hasil 0,803 yang menunjukkan reliabilitas tinggi. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan observasi, dokumentasi dan angket. Analisis data dilaksanakan dengan penerapan uji normalitas (Shapiro-Wil. , uji homogenitas (Levene Tes. , dan uji Mann Whitney guna menguji perbedaan antar kelompok. Seluruh analisis dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25. HASIL Setelah dilaksanakannya treatment Bimbingan Kelompok dengan teknik modelling, maka peneliti mengadakan posttest berupa pemberian angket kepada kelompok eksperimen yang memiliki keterampilan sosial yang rendah untuk dibandingkan dengan hasil pretest. Apakah terdapat peningkatan hasil pada kelompok eksperimen setelah menerima layanan Bimbingan Kelompok menggunakan teknik modelling selama enam sesi. Selain itu, kami akan menganalisis perbedaan antara hasil pretest Serta posttest kelompok eksperimen terkait efektivitas layanan Bimbingan Kelompok dengan teknik modelling tersebut. Strategi Bimbingan Kelompok dengan Teknik Modelling guna Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa Kelas X di SMAN 10 Pandeglang Tahun Ajaran 2025/2026 Pelaksanaan Bimbingan Kelompok sebagai bentuk layanan Bimbingan Serta Konseling pada penelitian ini bertujuan guna meningkatkan keterampilan sosial yang dimiliki siswa kelas X di SMAN 10 Pandeglang tahun ajaran 2025/2026. Bimbingan Kelompok dikatakan dapat menurunkan jika ditunjukkan oleh adanya disparitas yang substansial antara data dari evaluasi awal . Serta data dari evaluasi akhir . , serta adanya perbaikan pada skor kecakapan sosial yang mengarah pada hasil yang lebih baik. Tabel 4. 3 Hasil Pretest Serta Posttest kelompok eksperimen Nama Kelas Hasil Hasil Responden Pretest Posttest Rendah Sedang Rendah Tinggi Rendah Sedang MWA Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Tinggi Rendah Sedang MRA Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Tinggi Dari tabel diatas menunjukan bahwa hasil pretest yang diperoleh siswa mendapatkan kategori rendah, sehingga dijadikan sampel penelitian, yang mana para siswa memiliki keterampilan sosial yang Siswa yang dijadikan sampel berjumlah 10 orang kelompok eksperimen. Pengujian untuk melihat peningkatan keterampilan sosial siswa kelompok eksperimen setelah diberikan layanan Bimbingan Kelompok dengan teknik modelling, hal ini bertujuan guna mengetahui ada tidaknya perbedaan signifikan dari data pretest Serta posttest. Jurnal Bimbingan Dan Konseling Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2622-6057 (Media ceta. e-ISSN 2657070X (Media onlin. Uji normalitas dilakukan guna mengenali penyaluran dalam elastis yang dipakai dalam riset. Data yang baik serta layak dipakai dalam riset ialah data yang berdistribusi normal. Normal tidaknya sebaran data riset bisa dilihat dari pengambilan keputusan jika sig > 0. 05 maka data berdistribusi normal. Sedangkan jika sig < 0. 05 maka data tidak berdistribusi normal (Sujarweni, 2. Pengujian ini akan dilakukan dengan bantuan SPSS for windows release 25. Tabel 4. 4 Hasil Uji Normalitas Shapiro wilk Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova KELAS Statistic Shapiro-Wilk Sig. Statistic Sig. HASIL PRETEST POSTTEST Lilliefors Significance Correction Dalam pengujian, suatu data dikatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikansi lebih dari 0,05 (Sig. > 0,. Hasil uji normalitas yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa distribusi data penelitian tidak normal . urang dari 0,. Uji homogenitas dilakukan guna menentukan apakah beberapa varians populasi memiliki Berdasarkan temuan dari uji homogenitas, data yang dikumpulkan terdistribusi secara homogen sebab nilai t hitung lebih kecil daripada nilai t tabel. Verifikasi ini akan dilaksanakan dengan bantuan SPSS for windows release 25. Tabel 4. 5 Hasil Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic HASIL Sig. Based on Mean Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed mean Dalam pengujian, suatu data dikatakan homogen apabila nilai signifikansi lebih dari 0,05 . ig pvalue 0,. Dari perhitungan data pretest diperoleh p-value = 0,292 sedangkan pada posttest di peroleh p value = 0,686 dengan alpha () = 0,05 jadi p value > . Menunjukan variabel pretest Serta posttest pada kelas eksperimen homogen. Seperti halnya dasar pengambilan keputusan dalam uji homogenitas, jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka distribusi data homogen. Taraf signifikansi yang pada pretest diperoleh sebesar 0,292 > 0,05 selanjutnya pada posttest diperoleh sebesar 0,686 > 0,05 dapat dikatakan bahwa data tersebut homogen. Uji mann whitney ialah bagian dari statistik nonparametrik. Dalam melakukan uji mann whitney tidak diperlukan data penelitian yang berdistribusi normal Serta homogen. Oleh karena itu uji mann whitney dipakai sebagai alternatif pengganti guna uji independent t-test. Tujuan dari uji mann whitney untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rata-rata dua sampel yang tidak berpasangan. Jurnal Bimbingan Dan Konseling Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2622-6057 (Media ceta. e-ISSN 2657070X (Media onlin. Tabel 4. 7 Hasil Uji Mann Whitney Test Statisticsa HASIL Mann-Whitney U Wilcoxon W Asymp. Sig. -taile. Exact Sig. -tailed Sig. Bersumberkan pada tabel diatas, diketahui bahwa nilai Asymp Sig. -taile. yang didapat sebesar 0,000 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa Auhipotesis diterimaAy. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa Strategi Bimbingan Kelompok yang memanfaatkan metode modelling terbukti efektif dalam mengembangkan kompetensi sosial peserta didik kelas X SMAN 10 Pandeglang Tahun Ajaran 2025/2026. Pembahasan Penelitian Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa layanan bimbingan kelompok dengan teknik modelling efektif dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa. Hal ini dibuktikan dengan adanya perbedaan signifikan antara skor pretest Serta posttest dengan nilai Asymp. Sig sebesar 0,000 < 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa perlakuan yang diberikan dalam enam sesi bimbingan kelompok mampu membawa perubahan positif yang sebelumnya menunjukkan tingkat keterampilan sosial yang rendah. Secara teoretis, hasil ini sejalan dengan konsep keterampilan sosial yang dikemukakan Riggio bahwa keterampilan sosial terdiri atas dimensi ekspresi, kepekaan. Serta kontrol baik dalam ranah emosional maupun sosial. Siswa yang semula mengalami hambatan dalam berkomunikasi, menyampaikan pendapat, serta membangun relasi dengan teman sebaya, melalui bimbingan kelompok Serta paparan model perilaku positif, mampu meniru serta mempraktikkan keterampilan baru. Teknik modelling merupakan proses belajar sosial yang sangat efektif, di mana individu memperoleh perilaku baru dengan mengamati Serta meniru perilaku orang lain yang dijadikan model (Hidayat, 2. Temuan penelitian ini memperkuat teori tersebut, sebab siswa menunjukkan peningkatan signifikan meningkatkan tingkat keterampilan sosial pada siswa setelah menerima intervensi yang menggunakan teknik pemodelan. Lebih lanjut, hasil lain mendukung pandangan bahwa bimbingan kelompok berfungsi sebagai wahana bagi siswa untuk belajar bersama, berbagi pengalaman, serta memperoleh kesempatan mempraktikkan keterampilan sosial secara langsung (Mahyuddin, 2. Lingkungan kelompok yang suportif membuat siswa dengan keterampilan sosial rendah tidak merasa sendirian dalam menghadapi masalah, melainkan memperoleh dukungan dari teman sebaya Serta fasilitasi konselor (Darmayanti, 2. Dengan demikian, peningkatan keterampilan sosial yang dialami siswa tidak hanya terjadi karena faktor instruksional dari konselor, melainkan juga karena dinamika kelompok yang mendukung. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, hasil ini konsisten yang melaporkan bahwa bimbingan kelompok dapat meningkatkan rata-rata keterampilan sosial siswa, meskipun peningkatannya belum merata (Maharani et al. , 2. Sejalan dengan penelitian lain juga menunjukkan adanya variasi kategori keterampilan sosial siswa, yang memperlihatkan masih adanya kelompok siswa dengan keterampilan sosial rendah (Rici & Alawiyah, 2. Dengan demikian, investigasi ini memperkaya dasar bukti empiris yang menunjukkan bahwa Bimbingan Kelompok yang menerapkan teknik spesifik, khususnya pemodelan, mampu menjadi alternatif intervensi yang efektif. Selain itu, modelling efektif meningkatkan motivasi belajar siswa walaupun fokus motivasi belajar, namun prinsip dasar observational learning tetap relevan, yakni siswa belajar melalui peniruan perilaku positif yang diperlihatkan model. Demikian pula dengan yang menggunakan teknik role playing untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa. Hasilnya juga menunjukkan peningkatan keterampilan sosial setelah layanan diberikan. Dengan demikian, penelitian ini memperluas cakupan literatur dengan menegaskan bahwa modelling tidak hanya efektif untuk aspek motivasi atau pembelajaran, tetapi juga sangat relevan untuk peningkatan keterampilan sosial siswa SMA (Khairunnisa & Mauluddini, 2. Keunikan dari penelitian ini terletak pada fokus penerapan modelling dalam Bimbingan Kelompok yang diarahkan secara spesifik untuk mengatasi keterampilan sosial rendah di kalangan siswa SMA. Selama ini, sebagian besar penelitian lebih menitikberatkan pada motivasi belajar, keterampilan komunikasi umum. Jurnal Bimbingan Dan Konseling Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2622-6057 (Media ceta. e-ISSN 2657070X (Media onlin. atau perilaku prososial. Penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan sosial yang mencakup kemampuan berinteraksi, berempati, mengontrol diri, serta menyesuaikan diri dengan norma kelompok, dapat ditingkatkan melalui proses belajar meniru perilaku positif yang ditunjukkan oleh model dalam dinamika Selain itu, temuan riset ini dapat dihubungkan dengan teori perkembangan remaja yang dikemukakan oleh Erikson, terutama pada fase identitas versus kebingungan peran. Siswa SMA berada pada fase perkembangan di mana mereka sangat membutuhkan interaksi sosial yang sehat untuk membangun identitas diri. Keterampilan sosial yang rendah dapat menimbulkan kesulitan dalam membangun identitas, rasa percaya diri. Serta relasi interpersonal. Dengan diberikan intervensi melalui modelling, siswa mendapatkan contoh konkret perilaku sosial yang tepat, sehingga membantu mereka mengembangkan keterampilan sosial sekaligus membentuk identitas diri yang lebih positif. Secara praktis, peningkatan keterampilan sosial siswa pasca intervensi terlihat dari perubahan perilaku, seperti meningkatnya keberanian menyampaikan pendapat, kemampuan bekerja sama, serta keterampilan menjalin relasi dengan teman sebaya. Perubahan ini penting, karena keterampilan sosial merupakan bekal penting bagi siswa untuk beradaptasi dengan lingkungan akademik maupun social (Siahaan, 2. Temuan ini menguatkan argumentasi bahwa program bimbingan kelompok berbasis modelling perlu diintegrasikan dalam layanan BK sekolah secara berkesinambungan. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan layanan Bimbingan Serta Konseling di sekolah, khususnya dalam konteks intervensi keterampilan sosial. Efektivitas teknik modelling yang terbukti signifikan dalam penelitian ini dapat dijadikan dasar bagi guru BK untuk menyusun program Bimbingan Kelompok yang lebih inovatif, kreatif. Serta sesuai dengan kebutuhan siswa. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul AuStrategi Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Modelling Untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa Kelas X Di SMAN 10 Pandeglang Tahun Ajaran 2025/2026Ay, maka dapat disimpulkan bahwa dari 76 siswa yang diuji menggunakan instrumen angket keterampilan sosial, sebanyak 26 siswa berada pada kategori tinggi, 34 siswa berada pada kategori sedang Serta 16 siswa berada pada kategori rendah. Rancangan layanan Bimbingan Kelompok dengan teknik modelling untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa dibuat dengan 6 sesi atau pertemuan berdasarkan kemungkinan masalah yang dialami oleh siswa. Menggunakan layanan Bimbingan Kelompok dengan teknik modelling dapat diberikan oleh guru BK kepada siswa, hal ini ditunjukan dengan hasil posttest setelah melaksanakan layanan Serta terdapat perubahan, dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa. Hal tersebut mengindikasi bahwa siswa memiliki keterampilan sosial yang baik setelah diberikan perlakuan/treatment. Strategi layanan Bimbingan Kelompok menggunakan teknik modelling terhadap siswa terbukti mampu meningkatkan keterampilan sosial. Hal ini dikonfirmasi oleh hasil uji Mann Whitney yang menunjukkan nilai signifikansi atau sig = 0,000. Nilai ini lebih kecil dari taraf signifikansi = 0,05, yang mengindikasikan bahwa p = 0,000 < 0,05. Terdapat perbedaan yang jelas antara data pretest Serta posttest pada kelompok eksperimen, dengan hasil signifikan 0,000 < 0,05. Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa strategi Bimbingan Kelompok dengan teknik modelling efektif dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas X di SMAN 10 Pandeglang pada Tahun Ajaran 2025/2026. SARAN Penelitian ini menyarankan agar guru Bimbingan Serta Konseling di sekolah mengadopsi layanan Bimbingan Kelompok yang menggunakan teknik modelling secara lebih ekstensif. Implementasi program ini berpotensi untuk dipadukan dengan strategi lain seperti role playing atau video modelling sehingga siswa lebih terlibat aktif Serta mampu menginternalisasi keterampilan sosial yang dipelajari. Penelitian selanjutnya disarankan mengembangkan desain eksperimen dengan kelompok kontrol Serta jumlah sampel yang lebih besar untuk memperoleh temuan yang lebih generalis. DAFTAR PUSTAKA