E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 Penilaian EAFM Pada Domain Teknik Penangkapan Ikan di Pulau Sangat Kecil Terluar dan Terdepan Indonesia (Studi Kasus Gugus Pulau Ayau. Raja Ampa. Vicky Rizky A. Katili1. Muhamad Ali Ulat1. Amir M. Suruwaky1. Ismail1. Iksan Badarudin3. Muh. Arzad3. Kadarusman1. Reiner B Hitalessy2. Roger Tabalessy4. Dwi Indah Widya Yanti4. Melisa Ch. Masengi4. Siswanto5. Tagor Manurung6 Marcelinus Petrus Saptono7 Ilham Marasabessy2* Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong. Papua Barat Prodi Menajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan UM Sorong Prodi Pengolahan Hasil Perikanan Fakultas Perikanan UM Sorong Prodi Menajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian UKIP. Sorong Politeknik Pelayaran Sorong. Universitas Victory. Sorong Politeknik Saint Paul. Sorong Corresponding author: illo. marssy@gmail. Received, 8 Juni 2022. Revised: 7 Juli 2022. Accepted: 10 September 2022 ABSTRAK Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya di pulau sangat kecil terluar, terdepan Negara Indonesia penting untuk menjamin peningkatan ekonomi masyarakat lokal dan keberlanjutan ekosistem. Penelitian bertujuan mengetahui nilai status sumberdaya perikanan di perairan gugus Pulau Ayau. Raja Ampatpada domain teknik penangkapan ikan. Penilaian status implementasi EAFM dilakukan dengan cara menjumlahkan nilai setiap kriteria, kemudian dibagi dengan jumlah indikator. Nilai skor indeks didapatkan dari rata-rata nilai flag modelpada domain tersebut. Total nilai indeks yang diperoleh, selanjutnya dianalisis dengan menggunakansistem multikriteria, membandingkan nilai indeks total semua atribut/indikator dengan indeks total maksimum. Analisis pemetaan menggunakan perangkat lunak Arcmap GIS 10. 1, dibuat untuk memperoleh letak koordinat dan luas pulau. Hasil analisis nilai komposit EAFM pada domain 8%, yang mengindikasikan nilai skor rendah dengan indeks sebesar 315 dan 60. Atas dasar evidensi ini, maka pengelolaan perikanan skala kecil di gugus Pulau Ayau perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya perbaikan tata kelola perikanan yang lebih baik. Keywords: Ayau. Perikanan. Penangakapan. Pengelolaan. EAFM. DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 ABSTRACT Management and utilization of the fisheries resources in the IndonesiaAys outermost tiny island, became a crucial concern, in order to ensure the economic improvement of the local communities and the sustainability of the ecosystem. This study aims to determine the value of the status of fisheries resources in the domain of fishing techniques across the Ayau Archipelago. Evaluation of EAFM implementation status is carried out by the adding up of the scores for each criterion and then dividing by the number of indicators. The index score is obtained from the average value of the flag model in the fishing technique domain. The total index value obtained is then analyzed using a multi-criteria system comparing the total index value of all attributes/indicators with the maximum total index. Arcmap GIS 10. 1 for mapping was made to obtain the coordinates and area of the The results analysis of the composite value EAFM is 68. Our Analysis also indicate that fishing capacity and fishing effort as well as crew certification of fishing boat have low scores with the index values of 315 and 60 respectively. Howover, small scale fisheries management in the Ayau archipelago attracts much special attention from related sectors for further Management of small-scale fisheries in the Ayau Islands from a technical and implementation point of view needs to be improved. Keywords: EAFM. Resource management. Tiny Island PENDAHULUAN Karakteristik sebagai Negara Kepulauan terbesar di dunia dengan keanekaragaman sumberdaya perairan yang sangat tinggi. Indonesia diprediksi menjadi poros yang mampu menyeimbangkan kekuatan block barat dan timur dunia (Widjaja & Kadarusman, 2. Secara geografis,Indonesia memiliki 111 pulau kecil terluar terdepan, dimana 12 pulau berada dalam wilayah administrasi Provinsi Papua dan Papua Barat (Kepres RI Nomor 6 Tahun 2017, tentang penetapan pulau-pulau kecil Pulau-pulau terluar tersebutberbatasan dengan negara-negara tetangga, beberapa diantaranya berpenduduk dan sebagian besar tidak berpenduduk (Oping, 2. Wilayah perbatasan ini memiliki nilai strategis bagi kedaulatan negara, peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional dan kesimbangan ekosistem global. Potensi sumberdaya perikanan dan kelautan di Papua Barat sangat besar, bahkan dikenal dunia sebagai "the Amazon of the ocean". Letaknya yang strategis di kawasan segi tiga terumbu karang dunia . oral triangl. , yang berkontribusi besar dalam pembangunan nasional (Mathon et al. Ironisnya, pemanfaatan sumberdaya perikanan belum optimal (Wiadnyana et al. , 2017. Pane et al. , 2. beberapa kendala yang melingkupinya seperti. memiliki geografis wilayah pulaukecil . mall islan. dan pulau sangat kecil . iny islan. berpenduduk dan tidak berpenduduk, jauh dari aksesibilitas . , kualitas sumberdaya manusia belum memadai dalam implementasi pengetahuan dan teknologi yang dicirikan DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 dengan rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya akses modal, keterbatasan sarana dan prasarana unit panangkapan ikan, kondisi sosial ekonomi dan kerusakan fisik ekosistem (Badarudin et al. , 2. Kebiasaan penggunan alat tangkap dan olahan produk perikanan oleh nelayan gugus Pulau Ayau berkaitan langsung dengan jenis ikan target tangkapan, seperti. pancing tradisional dengan armada tangkap sederhana dan telah berlangsung secara turun temurun. Penggunaan pancing lebih banyak diperuntukan untuk proses penangkapan ikan demersal seperti. pancing ulur, pancing tegak dan sebagian lagi mengkombinasikan dengan penggunaan bubu. Pengolahan hasil produk perikanan juga masih dilakukan secara tradisional seperti. pengasapan dan penggaraman ikan. Penggunaan teknologi yang sederhana pada kegiatan penangkapan dan Pulau Ayau keterampilan/pendidikan nelayan yang menggunakan teknologi tersebut. Faktor sosial ekonomi terutama pendidikan, jumlah tanggungan keluarga dan umur, turut mempengaruhi peningkatkan pendapatan nelayan (Lanuhu. Selain itu, usaha penangkapan ikan yang dilakukan secara terbuka . pen acces. , namun jika usaha ini dilakukan tanpa pengaturan dan pengawasan yang tepat dapat berpotensi mengancam ekosistem dan sumberdaya ikan di suatu kawasan (Marasabessy et al. , 2018. Badarudin et al. , 2. Penerapan konsep Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM)di gugus Pulau Ayau merupakan pendekatan pengelolaan perikanan melalui penyeimbangan antara keberlanjutan ekologis, manfaat ekonomi dan sosial melalui tata kelola yang baik. Implementasi EAFM di kepuluan terluar terdepan Indonesia membutuhkan indikator yang dapat digunakan sebagai alat monitoring dan evaluasi terkait pengelolaan Prinsip-prinsip pengelolaan berbasis ekosistem, salah satu domain penting dalam EAFM ialah teknik penangkapan ikan. Penelitian bertujuan untukmengetahui nilai status sumberdaya perikanan di perairan gugus Pulau Ayau sebagai kawasan terluar terdepan di Timur Indonesia pada domain teknik penangkapan ikan, untuk pengembangan sektor kelautan dan perikanan secara berkelanjutan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi data base dalam upaya pengelolaan perikanan di wilayah Kepulauan Ayau. MATERI DAN METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan pada tahun, 2021 di empat Pulau dalam wilayah administrasi Kepulauan Ayau. Raja Ampat. Papua Barat. Secara geografis. Kepulauan Ayau terletak pada bagian utara Papua berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik pada koordinat 0A62'74. 02" LS 0A. 35'12. 05" LS dan 131A. 14'38. 40" BT - 131A. 03' 83. 60" BT. Secara administratif. Kepulauan ini berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik di bagian timur. Perairan Halmahera di bagian barat. Pulau Fanidi bagian utara dan Pulau Supnin Waigeo Utara di bagian selatan (Gambar . DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 Gambar 1. Peta lokasi penelitian Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei dan observasi, yang mencakup data primer dan sekunder. Penilaian EAFM pada penelitian ini difokuskan pada domain Teknik Penangkapan Ikan (TPI), yang mengacu pada domain yang digunakan oleh KKP dan EAFM . denganpenyesuaian khusus di kawasan pulau kecil terluar dan terdepan. Jumlah indikator pada penelitian ini sebanyak enam, sedangkan teknik pengumpulan data dan kebutuhan data disajikan pada Tabel 1. Analisis nilai agregat komposit EAFM dikategorikan menjadi tiga kriteria dan ditampilkan dengan menggunakan bentuk model bendera . lag mode. seperti terlihat pada Gambar 2 dan Tabel 3. Penilaian EAFM menggunakan kriteria yang sudah ditetapkan berdasarkan bobot dan skor setiap indikator (Tabel 2 dan . Penilaian status implementasi EAFM dilakukan dengan menjumlahkan nilai setiap kriteria kemudian dibagi dengan jumlah indikator (Zhang et al. , 2. Nilai yang diplot adalah nilai yang didapatkan dari flag model. Sedangkan nilai skor indeks didapatkan dari rata-rata nilai flag model setiap domain. Tabel 1. Metode pengumpulan data domain teknik penangkapan ikan EAFM. Indikator Metode destruktif dan/atau illegal Modifikasi penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan Kapasitas perikanan dan upaya penangkapan Kebutuhan data Penggunaan metode penangkapan yang merusak dan atau tidak Penggunaan alat tangkap dan alat bantu yang negative terhadap SDI Besarnya kapasitas dan aktivitas penangkapan DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. Pengumpulan data Wawancara nelayan gugus Pulau Ayau Sampling panjang ikan hasil Wawancara nelayan gugus Pulau Ayau E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 Aktivitas penangkapan yang dikaitkan dengan luasan, waktu dan keragaman hasil Selektifitas alat tangkap Wawancara nelayan gugus Pulau Ayau Survei dokumen surat-surat Kapal. Sampling nelayan lokal Survei sertifikat Sertifikasi awak kapal Kualifikasi kecakapan awak awak kapal/nelayan. perikanan sesuai dengan kapal perikanan . Wawancara awak panel komunita. kapal/ nelayan lokal di gugus Pulau (Sumber. Yuliana, 2016. Roni et al. , 2021. Survey data primer, 2. Kesesuaian fungsi dan dengan dokumen ilegal Sesuai atau tidaknya fungsi dan ukuran kapal dengan dokumen legal Tabel 2. Kriteria dan bobot domain teknik penangkapan ikan EAFM. Indikator Metode penangkapan ikanyang bersifat destruktifdan/atau ilegal Skor Kriteria frekuensi pelanggaran >10 kasus/tahun frekuensi pelanggaran 5-10 kasus/tahun frekuensi pelanggaran <5 kasus/tahun >50% ukuran target spesies < Lm 25-50% ukuran target spesies < Lm <25% ukuran target spesies < Lm Modifikasi alat ikan dan alat bantu rasio < 1 . rasio = 1 rasio > 1 . rendah (<50% alat tangkap selekti. -75% alat Selektifitas penangkapan tinggi (>75% alat tangkap selekti. kesesuaiannya rendah (>50% Kesesuaian fungsi dan sampel tidak sesuai dokumen lega. ukuran kapal kesesuaiannya sedang . -50% sampel tidak sesuai dokumen lega. ikan dengan dokumen kesesuaiannya tinggi (<30% tidak sesuai dokumen lega. <50% sampel kapal dioperasikan oleh awak bersertifikat Sertifikasi awak kapal 50-75% sampel kapal dioperasikan perikanan sesuai dengan oleh awak bersertifikat >75% sampel kapal dioperasikan oleh awak bersertifikat (Sumber. Adrianto et al. , 2014. Yuliana, 2016. Roni et al. , 2. Kapasitas perikanan dan upaya penangkapan Bobot DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 Tabel 3. Penggolongan nilai agregat komposit domain teknik penangkapan ikan dan visualisasi flag model EAFM Nilai Agregat Komposit 100 - 3567 3568 - 7035 7036 - 10500 Model Bendera Deskripsi/Keterangan Buruk Sedang Baik (Sumber. Adrianto et al. , 2014. Yuliana, 2016. Abdullah et al. , 2. Menentukan kriteria dan reference point Sistem skoring: 1-3 Memberikan skor setiap Ke -i domain TPI ke-j: 1, 2. Menetapkan skor . setiap Indikator Menghitung nilai indeks untuk setiapindikator (Nilai Skor x Nilai bobot x Skor densita. Menentukan bobot . Menentukan skor densitas . Menjumlahkan nilai indeks indikator pada domain Teknik Penangkapan Ikan (Indeks komposi. Gambar 2. Diagram alir penghitungan status domain teknik penangkapan ikan dengan flag model (Adrianto et al. , 2. Tabel 4. Analisis data EAFM pada domain teknik penangkapan ikan Parameter Penilaian status pengelolaan Analisis Fishing Capacity Pengukuran: Konektivitas antar-indikator EAFM pada Domain Teknik Penangkapan Ikan Analisis data Flag model Fishing Capacity. FC = V y C y E Logical causal analysis Metode Zhang et al. , . (Sumber. Yuliana, 2016. Abdullah et al. , 2. Menghitung Nilai Indeks Nilai indeks diperoleh dengan mengalikan nilai skor dengan bobot dan densitas setiap indikator. Pembagian bobot untuk setiap indikator ditentukan berdasarkan derajat pengaruh . ingkat kepentinga. indikator tersebut di dalam domain teknik penangkapan ikan. Indikator yang memiliki pengaruh langsung atau pengaruh yang besar dalam domain, maka indikator tersebut memiliki bobot yang besar pula (EAFM 2014. Adrianto et , 2014. Sulistyowati et al. , 2018. Roni et al. , 2. DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 Cat-i = Sat-i y Wat-I yDat-i Keterangan: Cat-i = Nilai indeks atribut/indikator ke-i Sat-i = Skor atribut/indikator ke-i Wat-i = Bobot atribut/indikator ke-i Dat-i = Densitas atribut/indicator ke-i Menghitung Nilai Komposit Penilaian indikator EAFM merupakan sebuah sistem multikriteria yang berujung pada indeks komposit terkait dengan tingkat pencapaian pengelolaan perikanan sesuai dengan prinsip EAFM. Total nilai indeks yang diperoleh, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis komposit sederhana berbasis rataan aritmetik yang kemudian ditampilkan dalam bentuk model bendera . lag mode. dengan kriteria seperti pada Nilai komposit ini merupakan konversi nilai total semua indikator. NK = (Cat / Cat-ma. y 100% Keterangan: Cat = Nilai indeks total semua atribut/indikator Cat-max = Nilai indeks total maksimum Tabel 5. Penggolongan nilai indeks komposit dan visualisasi model bendera Rentang Nilai Model Deskripsi/Keterangan Komposit (%) Bendera 00 Ae 1. 33 - 55. Kurang 51 Ae 2. 56 - 77. Sedang 51 Ae 3. 78 - 100 Baik (Sumber. Adrianto et al. , 2014. Sulistyowati et al. , 2. Nilai Skor HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik dan Potensi Wilayah Gugus Pulau Ayau Gugus Pulau Ayau terdiri dari beberapa pulau sangat kecil seperti. Pulau Dorekar. Reni. Rutum. Abidon. Meosbekwan dan beberapa pulau sangat kecil lain, secara geografis membentuk gugusan pulau kecil di Utara terluar Papua Barat. Wilayah Kepulauan ini ada yang berpenduduk dan tidak berpenduduk, saling berinteraksi secara fungsional dari sisi ekologis, ekonomi, sosial dan budaya, secara individual maupun bersinergis meningkatkan skala ekonomi dari pengelolaan sumberdaya dalam Status sebagai pulau sangat kecil . iny islan. dengan luas kurang dari 100 km2 (Marganingrum et al. , 2. pada wilayah terluar terdepan di Timur Indonesia tentu memiliki karakteristik yang spesifik dan DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 unik jika dibandingkan dengan wilayah Kepulauan lain. Untuk lebih jelas luas masing-masing pulau disajikan pada (Tabel . Tabel 6. Luas pulau dalam gugus Pulau Ayau Nama pulau Dorekar Meosbekwan Abidon Rutum Reni Luas wilayah A5,88 kmA . ,27 milA) A211. 093,27 mA . 189,01 kakiA) A836. 184,45 mA . 614,51 kakiA) A269. 255,23 mA . 239,18 kakiA) A926. 985,72 mA . 991,20 kakiA) (Sumber. Analisis GIS Badan Informasi Geospasial, 2. Berdasarkan Tabel 6, diketahui bahwa Pulau Dorekar memiliki luas wilayah paling besar dari pulau lain. Jumlah penduduk relatif tinggi, menjadi pusat pemerintahan distrik Ayau, basis pertumbuhan ekonomi dan pendidikan digugus Pulau Ayau. Sedangkan pada empat pulau lain memiliki luas wilayah < 1 km2. Pulau Abidon menjadi pusat pemerintahan distrik Kepulauan Ayau, uniknya pulau ini memiliki sebaran pemukiman yang rendah dibanding pulau lain dalam distrik Kepulauan Ayau. Penduduk gugus Pulau Ayau umumnya berkerja sebagai nelayan perikanan tangkap tradisional, memanfaatkan potensi kelautan dan perikanan perairan samudera pasifik khususnya pada ekosistem terumbu karang, dan lamun. Potensi sektor kelautan dan perikanan di gugus Pulau Ayau sangat besar dan menjanjikan jika dikelola secara terukur dan berkelanjutan. Gugus Pulau Ayau memiliki ekosistem terumbu karang tepi laut . ringing ree. , bentuk seperti sabuk, tertambat di daratan dan mempunyai lebar beberapa feet (Shepard et al. , 1971. Ayal, 2009. Marasabessy et al. , 2. Distribusi ekosistem lamun membentang secara horizontal pada perairan pesisir pulau membentuk koloni padang lamun pada zona intertidal, memiliki hutan teresterial pesisir, berinteraksi dengan ekosistem pantai berpasir, sehingga secara ekologi menyediakan habitat alami bagi berbagai macam biota laut (Marasabessy et al. , 2. Hasil tangkapan nelayan lokal gugus Pulau Ayau didominasi oleh ikan demersal ekonomis penting seperti. ikan bubara (Caranx sp. ), kerapu (Epinephelus sp. ), kakap (Lutjanus sp. ), lencam (Lethrinus sp. ) dan baronang (Siganus sp. Berdasarkan pengamatan dan wawancara terkait aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan lokal, diketahui jumlah hasil tangkapan ikan melimpah pada kawasan ekosistem terumbu karang di kedalaman 5 - > 30 meter. Hal ini identik dengan fungsi ekosistem terumbu karang sebagai tempatmencari makanan . eeding groun. ,daerah perkembang-biakan . pawning groun. , tempat berlindung . rotection groun. dan daerah asuhan . ursery groun. (Tuwo et al. , 2012. Marasabessy et al. , 2. Potensi yang demikian besar ini memiliki arti penting dalam prespektif peningkatan ekonomi daerah dan masyarakat lokal khususya pada wilayah terluar dan terdepan sebagai teras Negara Republik Indonesia. Perencanaan, pengelolaan dan pemanfaatan secara DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 berkelanjutan khususnya kawasan pesisir dan lautan di gugus Pulau Ayau menjadi sebuah kebutuhan mutlak. Fungsi perencanaan dan pengelolaan melalui integrasi ekosistem dan implementasi pengetahuan juga teknologi dilakukan secara terukur untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lokal dan menjamin ketersediaan sumberdaya dalam jangka waktu lama. Konsep pengelolaan melalui EAFM pada domain teknik penangkapan ikan, diterapkan dengan memperhatikan indikator metode penangkapan ikan yang ramah lingkungan, modifikasi alat penangkapanikan dan alat bantupenangkapan, kapasitas perikanan danupaya penangkapan, selektifitas penangkapan, kesesuaian fungsi danukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal dan sertifikasi awak kapalperikanan sesuai denganperaturan yang berlaku. Penilaian Indikator EAFM pada Domain Teknik Penangkapan Ikan di Gugus Pulau Ayau Metode penangkapan Ikan yang destruktif dan/atau Ilegal Indikator metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan/atau ilegal dinilai dengan melihat jumlah kasus pelanggaran yang terjadi selama Penangkapan ikan yang merusak . meliputi penggunaan bahandan/atau alat yang berbahaya, seperti. bom, racun, potassium dan Dalam UU Nomor 45 Tahun 2009, tentang perikanan pasal 8 ayat 1 sampai 3 sertapasal 12 ayat 1 dan 4 ditegaskan dengan sangat jelas bahwa penggunaan bahan destruktif tersebut dilarang dan penggunanya dapat dikenakan sangsi. Letak geografis gugus Pulau Ayau pada wilayah terluar dan terdepan di Timur Indonesia menyebabkan minimnya pengawasan khususnya terkait pemanfaatan sumberdaya ikan di laut. Sebagai kawasan yang berbatasan dengan Negara tetangga pengawasan di gugus Pulau Ayau lebih difokuskan pada menjaga kedaulatan Negara dalam presepektif batas Informasi terkait aktivitas perikanan destruktif/ilegal diperoleh dari keterangan petugas TNI-AL dan sebagian dari masyarakat lokal. Berdasarkan modul EAFM . , indikator metodepenangkapan ikan yang destruktif dan/atau ilegal memperoleh skor 2 dengan frekuensi pelanggaran 5-10 kasus dalam 1 tahun. Pelanggaran terjadi antara lain, tidak memiliki dokumen kegiatan perikanan danpenangkapan menggunakan racun Modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan Indikator ini dinilai dengan membandingkan rata-rata ukuran ikan target yang tertangkap dengan ukuran matang gonad (L. ikan target Berdasarkan data diketahui, ikan target tangkapan nelayan gugus Pulau Ayau umumnya jenis ikan karang . Sampling ukuran panjang ikandominan dari 5 kelas seperti. Caranx sp. Epinephelus sp. Lutjanus sp. Lethrinus sp. dan Siganus sp. yangdidaratkan dari 54trip DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 dalam sehari, dari jumlah 81 nelayan terdata pada Pulau Meosbekwan. Abidon. Rutum dan Reni. Distribusi ukuran ikan demersal yang tertangkap oleh nelayan lokal sangat bervariasi, tetapi memiliki rerata ukuran yang relatif seragam. Panjang Total (C. 34,57 27,35 22,76 Panjang Standar (C. 28,93 27,55 23,44 19,18 Bubara Lencam 25,08 21,60 Panjang Cagak/Karapax (C. 27,82 Kerapu 24,63 19,42 Kakap 24,82 21,07 17,20 Baronang Gambar 3. Panjang rerata ikan hasil tangkapan nelayan gugus Pulau Ayau Berdasarkan data panjang ikan yang diperoleh nelayan gugus Pulau Ayau dikatahui bahwa, ukuran panjang Ikan bubara (Caranxsp. ) berukuran relatif kecil. Menurut (Froese & Pauly, 2. spesies Caranx bartholomaei dalam fish base memiliki ukuran matang gonad . : Lm 45. 0, kisaran ideal 32 cm. Caranx latus. Maturity: Lm 37. 0, kisaran ideal 34 Trachinotus carolinus,Maturity: Lm masih belum diketahui tetapi kisaran panjang 25 cmdan Caranx ruber,Maturity: Lm 31. 0, kisaran ideal 26 Panjang rerata ikan bubara yang ditangkap dari 4 spesies sebesar 57 cm. Ikan tangkapan jenis ini masuk dalam tingkat sudah matang gonad . atau dengan kata lain sudah layak tangkap Ikan kakap terdiri dari 5 spesies antara lain. Lutjanus analis. Maturity: Lm 43. 8, kisaran panjang 28 - 40 cm. Lutjanus vivanus. Maturity: Lm 41. umum ditemui 24 - 26 cm. Lutjanus buccanella. Maturity: Lm 28. 7, kisaran panjang 21 - 25 cm dan Lutjanus apodus. Maturity: Lm 25. Panjang rerata ikan kakap yang tertangkap dari 5 spesies sebesar 27. 82 cm. Mengacu pada fishbase hasil tangkapan spesies initergolong kategori matang gonad atau layak tangkap(Froese & Pauly, 2. Ikan lencam terdiri dari 5 spesies seperti. Lethrinus amboinensis. Lm masih belum diketahui namun secara umum memiliki ukuran panjang > 40 Lethrinus atkinsoni,kisaran panjang maturity 28 cm. Lethrinus borbonicus,Maturity: Lm 21. 3 cm. Lethrinus enigmaticus. Maturity: Lm 25. cm dan Lethrinus erythracanthus,kisaran ukuran panjang matang gonad 25 Ukuran rerata panjang ikan lencam yang ditangkap nelayan lokal 55 cm. Data fish base diketahui ukuran panjang ikan lencam DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 sebagian belum matang gonad namun umumnya telah layak tangkap (Froese & Pauly, 2. Ikan kerapu yang tertangkap sebanyak 4 spesies antara lain. Plectropomus leopardus. Maturity: Lm 37. 3, kisaran panjang 21 - 60 cm. Epinephelus fuscoguttatus, matang gonadkisaran 50 cm. Epinephelus bleekeri. Maturity: Lm 36. 0, dengan kisaran panjang ideal 42 cm dan Chromileptes altivelis. Maturity: Lm kisaran panjang 39 cm. Panjang ikan kerapu yang tertangkap nelayan gugus Pulau Ayau sebesar 28. 93 cm. Mengacu pada fish base diketahui ikan kerapu hasil tangkapan ikan kerapu nelayan wilayah inibervariasi ada yang sudah layak tangkap dan sebagian belum layak tangkap (Froese & Pauly, 2. Hasil tangkapan ikan baronang terdiri dari 3 spesies antara Siganus canaliculatus. Maturity: Lm 11. 6, kisaran ukuran panjang 12 Siganus guttatus,Maturity: Lm 18. 1, kisaran panjang ideal 12 cm. Siganus virgatus, maksimum panjang 30 cm namun panjang layak tangkap sebesar > 13 cm. Ukuran rerata ikan baronang yang ditangkap memiliki 82 cm (Froese & Pauly, 2. Berdasarkan ketentuan pada fish base diketahui ukuran panjang ikan baronang yang ditangkap umumnya telah layak tangkap. Pada indikator ini memiliki ukuran target spesies < Lm dengan persentase ikan layak tangkap sebesar 25 Ae 50%, sehingga mempunyai skor 2. Kapasitas perikanan dan upaya penangkapan Indikator kapasitas perikanan . ishing capacit. dan upaya penangkapan . dinilai dengan membandingkan fishing capacity pada bulan dasar . wal bula. dengan fishing capacity pada bulan setelahnya, selama 12 bulan untuk memproyeksi fishing capacity sampai akhir tahun Menggunakan datajumlah hasil tangkapan, jumlah kapal, dan jumlah trip dalam kurun waktu 12 bulan. ata 1 tahun selama 2. diperoleh ratarata rasio fishing capacity selama 12 bulan sebesar 0. 9198 (Tabel . Tabel 7. Fishing capacity ikan karang di Gugus Pulau Ayau tahun 2021 Tahun 2021 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Oktober November Desember Rerata fishing capacity (FC) 381,724,731 367,869,600 350,358,372 346,464,540 327,278,475 245,138,400 268,113,807 249,026,400 333,632,520 327,216,510 386,535,240 410,391,360 332,812,496 Rasio A DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 Ketidakseragaman rasio yang diperoleh dari data kapasitas penangkapan ikan di gugus Pulau Ayau, menyebabkan penilaianindikator ini dilakukan dengan menggunakan rerata modus nilai rasio fishing capacity pada bulan Juli. September. November dan Desember, yaitu sebesar Mengacu pada modul EAFM . , diketahui indikator ini memperoleh skor 1 dengan nilai rasio kurang dari 1. Indikator fishing capacity menjadi input kontrol dalam menajemen perikanan tangkap. Jika input perikanan . lat tangkap, kapal dan tri. terlalu tinggi, berpotensi menimbulkan kapasitas yang berlebih . ver capacit. Kondisi ini jika berlangsung terus menerus menyebabkan over fishing yang menghambat terwujudnya perikanan berkelanjutan (Atmaja dan Nugroho, 2017. Pradnya et al. , 2. Selektivitas penangkapan Jenis dan jumlah alat tangkap ikanyang digunakan saat ini mengalami metamorfosis sesuai tingkat kebutuhan manusia, namun perkembangannya dari segi jumlah, dimensi, model dan teknologi penangkapan ikan cenderung lambat bagi masyarkat gugus Pulau Ayau. Berdasarkan data diketahui, alat tangkap ikan yang umumnya dipakai oleh nelayan gugus Pulau Ayau ialah jenis pancing dan bubu. Penggunaan alat tangkap ikan jenis ini memiliki selektivitas yang baik sekitar >75% dan ramah lingkungan dengan skor nilai 3. Menurut (Yuliana et al. , 2. penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan, diantaranya adalah jaring hanyut, jaring insang dan pancing ulur. Alasan penggunaannya sangat identik dengan metode penangkapan yang dilakukan dan karakterisrik nelayan setempat, yaitu merupakan nelayan tradisonal menggunakan alat tangkap sederhana dan target tangkapan ikan demersal umumnya pada ekosistem terumbu karang dan lamun. Menurut (FAO, 1. selektivitas alat tangkap ikan yang ideal sangat berkaitan dengan kemampuan mendapatkan ikan target secara efektif dan efisien serta meminimalisir hasil tangkapan sampingan . y catc. Lebih lanjut (Prayitnoet al. , 2017. Elvany, 2. , selektivitas penangkapan ikan berkaitan dengan sifat aplikatif alat tangkap yang ramah lingkungan. Penggolongan alat tangkap yang selektif dan tidak/kurang selektif dari beberapa hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Daftar penggolongan selektifitas alat penangkapan ikan Selektif Tidak/Kurang Selektif Jaring insang Pukat tarik . ayang, dogol, pukat . aring insang hanyut, jaring panta. , 2. Pukat hela . ukat udang, insangtetap, jaring insang lingkar, pukat ika. , 3. Pukat cincin . urse trammel ne. Pancing . awai tetap, rawai Jaring angkat . agan perahu/rakit, tegak, bagan tancap, serok, jaring angkat pancing tond. DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 Alat pengumpul . ubu, pengumpul rumput lau. Muro ami. Perangkap alat jermal, perangkap lainny. ero, (Sumber: Simbolon et al. , 2011. Nanlohy, 2. Kesesuaian fungsi dan ukuran perahu penangkap ikan dengan dokumen legal Status pemanfaatan potensi perikanan di gugus Pulau Ayau sangat berkaitan dengan tersediaan sumberdaya dan kesehatan ekosistem pesisir juga laut. Geografis gugus Pulau Ayau pada kawasan terluar terdepan di Timur Indonesia dengan karakteristik pulau sangat kecil, memberikan spesifikasi pada banyak aspek, seperti. kerentanan wilayah tinggi, terisolasi, bergantung pada pulau lain dan jauh dari pengawasan. Kondisi ini berdampak terhadap tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan di sekitar Secara umum nelayan gugus Pulau Ayau tergolong nelayan tradisional, kegiatan penangkapan ikan hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keseharian dan dalam jumlah relatif terbatas, sehingga tidak diwajibkan memiliki dokumen perizinan usaha perikanan. Penjelasan dalam UU Nomor 45 Tahun 2009, tentang perikanan pasal 27 ayat . dan pasal 28 ayat . disebutkan bahwa Nelayan Tradisional tidak diwajibkan memiliki SIUP. SIPI dan SIKPI. Pengecekkan kesesuaian perahu dilakukan dengan mengukur langsung dimensi . anjang, lebar, dala. dari 3-5 sample perahu nelayan pada masing-masing pulau, kemudian di proyeksikan secara kolektif untuk memperoleh data kesesuaian fungsi dan ukuran perahu yang digunakan. Logical Causal Analisys dibuat dengan asumsi bahwa jenis usaha perikanan tangkap masyarakat gugus Pulau Ayau memiliki orientasi panangkapan ikan yang seragam sehingga membentuk kesamaan aktivitas dan kelengkapan unit penangkapan ikan. Informasi yang diperoleh ialah fungsi dan ukuran perahu ikan sesuai dengan hasil pengukuran dan keadaan sebenarnya dimiliki, memperoleh skor 3 karena kurang dari 30% sample yang tidak sesuai. Menurut (Wahyudin et al. , 2. atribut kesesuaian fungsi dan ukuran kapal dengan dokumen legal, memiliki pengaruh penting, karena bila persentase kesesuaian dokumen legal rendah, maka dapat diperkirakan pada wilayah perairan tersebut masih terjadi tindakan illegal fishing, yang tentunya dapat membahayakan kelestarian sumberdaya ikan. Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan Seperti pembahasan sebelumnya, diketahui status nelayan gugus Pulau Ayau umumnya bersifat tradisional. Informasi ini menjelaskan bahwa sebagian besar nelayan tidak memiliki dokumen sertifikasi kapal perikanan sertifikat keahlian pelaut nautika kapal penangkapikan (ANKAPIN). dan sertifikat keahlian pelaut teknik permesinan kapal penangkap ikan DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 (ATKAPIN). Berdasarkan kepemilikan alat produksi, nelayan tradisional terbagi menjadi dua yaitu. Nelayan pemilik alat produksi. Nelayan yangbertugas sebagai buruh. Namun dalam implementasi usaha ada juga nelayan pemilik perahu yang melakukan kegiatan menangkap ikan seorang diri menggunakan perahu miliknya (Imron, 2002. Valentina, 2. Sertifikasi awak kapal perikanan diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2000, tentang Kepelautan. Sertifikat yang wajib dimiliki nahkoda kapal dengan ukuran panjang kurang dari 12 meter, pada daerah pelayaran < 60 mil dari garis pantai di perairan Indonesia tidak termasuk ZEE, adalah sertifikat ANKAPIN i. Dari 23 sampel nelayan yang diperoleh, tidak satupun memiliki sertifikat. Menurut (Amin et al. , 2. sertifikat sebagai suatu standar kompetensi nelayan sangat penting guna penerapan kegiatan penangkapan ikan yang bertanggung jawab. Selain itu, untuk memberikan standarisasi keahlian terhadap profesi nelayan, mencegah penipuan dan pembohongan serta penyalahgunaan keahlian yang Kondisi sosial yang dinamis ditambah kebutuhan ekonomi yang semakin besar menyebabkan nelayan gugus Pulau Ayau harus bertahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga regulasi terkait hal ini masih terus disosialisasikan secara bertahap melalui pendekatan persuasif dan edukatif. Menurut (Anugerah, 2. , pelatihan dan bimbingan kepada nelayan agar sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan dapat diberikan melalui penerapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Berdasarkan modul EAFM . , indikator ini memperoleh skor 1 dengan jumlah sampel kapal yang dioperasikan oleh awak bersertifikat kurang dari Nilai Indeks dan Nilai Komposit EAFM pada Domain Teknik Penangkapan Ikan di Gugus Pulau Ayau Pengelolaan sumberdaya perikanan di gugus Pulau Ayau dengan model EAFM pada domain teknik penangkapan ikan memiliki nilai komposit 8%, termasuk dalam kategori sedang dengan visualisasi model bendera berwarna kuning (Tabel . Maka pengelolaan perikanan skala kecil di gugus Pulau Ayau dari segi teknis dan implementasi konsep EAFM perlu dilakukan perbaikan. Tabel 9. Analisis nilai komposit EAFM pada domain teknik penangkapan ikan gugus Pulau Ayau Indikator Teknologi penangkapan ikan Metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan/atau Hasil Bobot (%) Densitas Nilai Indeks Total Kasus pelanggaran tangkap antara 5-10 merata pada seluruh nelayan di gugus Pulau Ayau DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 Modifikasi penangkapan ikan Kapasitas Ikan target panjang nya menurun dan juga menurun Selektifitas Selektivitas sekitar 60% Relatif pada semua nelayan di gugus Pulau Ayau Umumnya Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen Sertifikasi perahu perikanan Rasio penangkapan kurang Penilaian EAFM Domain Teknik Penangkapan Ikan Nilai Maksimum Nilai Komposit (%) Prinsip pengelolaan perikanan berkelanjutan hakekatnya adalah suatu proses perencanaan dan pengaturan melalui kontrol terhadap aktivitas nelayan, pelaku utama kegiatan perikanan, dalam mengoperasikan alattangkapnya, waktu/musim, lokasi . ishing groun. dan seberapa besarkapasitas perikanan dapat diperbolehkan untuk ditangkap (Baihaqi dan Hufiadi, 2013. Kurniawan et al. , 2. Kondisi teknik penangkapan ikan di gugus Pulau Ayau, sangat berpengaruh pada ketersediaan sumber daya ikan dimasa mendatang. Berdasarkan hasil analisis nilai komposit EAFM pada domain teknik penangkapan ikan gugus Pulau Ayau, diketahui kapasitas perikanan dan upayapenangkapan juga sertifikasi awak perahu perikanan memiliki skor rendah dengan nilai indeks sebesar 315 dan 60. Untuk itu perlu dilakukan pengendalian penangkapan ikan secara konstruktif melalui pengaturan penggunaan alat tangkap, penyesuaian musim tangkapan berkaitan dengan volume stok sumberdaya ikan yangditangkap . aik musiman maupun tahuna. dan pengendalian upaya penangkapan ikan secara Berdasarkan data (Food and Agriculture Organization (FAO), 1995. Zulbainarni, 2. menyebutkan sumber utama dari kerusakanperikanan di beberapa negara adalah sulitnya mengontrol input . rmada perikana. Lebih lanjut (Roni et al. , 2. , perkembangan kegiatan penangkapan yang tidak terkendali menyebabkan kegiatan perikanan menjadi tidak efisien dan menimbulkan penurunan nilai sumberdaya pesisir dan laut. DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2022: 156 - 174 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penilaian sumberdaya perikanan di gugus Pulau Ayau dengan model EAFM pada domain teknik penangkapan ikan memiliki nilai komposit 8%, termasuk dalam kategori sedang dengan visualisasi model bendera berwarna kuning. Berdasarkan hasil pengkajian ini, maka diperlukan perbaikan dari segi teknis pengelolaan dan implementasi kebijakan perikanan skala kecil untuk perbaikan sumberdaya dimasa mendatang. UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan pada program Pulau terluar Indonesia yang dilaksanakan oleh Forum DIKTI SORAYA, khususnya para Rektor. Ketua dan Direktur Perguruan Tinggi se-Sorong Raya. Secara spesifik, terima kasih kepada Bapak Bupati (Abdul Faris Umlat. dan Wakil Bupati (Orideko Iriano Burda. Kabupaten Raja Ampat. Ucapan yang seragam, kami haturkan kepada Kepala Distrik Kepulauan Ayau (Frits Felix DImar. serta jajarannya dan masyarakat di keempat kampung meliputi Bapak Astus Sarwah. Bapak Thomas Mirino. Bapak Richard Mail dan Bapak Yakob Burdam. Terakhir, terima kasih atas dedikasi Kapten dan kru Kapal Latih Airaha 02 Politeknik KP Sorong yang telah memberikan layanan fasilitasnya selama pelayaran berlangsung. DAFTAR PUSTAKA