J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 Identifikasi Nematoda Gastrointestinal Pada Kambing Kacang (Capra aegagrus hircu. Di Kota Tiakur. Kecamatan Moa. Kabupaten Maluku Barat Daya Steffanie M. Noach1*. Sherli Melani Ludji2. I Putu Juli Sukariada2. Agustina Viktoria Tae1 . Animal Husbandry Study Program. Faculty of Agriculture. Science and Health. Universitas Timor. Kefamenanu. Nusa Tenggara Timur. Indonesia . Animal Husbandry Study Program. Faculty of Vocational Military Logistics. Indonesia Defense University. Kakuluk Mesak. East Nusa Tenggara. Indonesia *Corresponding Author: steffanienoach@unimor. Article Info Abstrak Article history: Received 19 Juni 2025 Received in revised form 24 Juni 2025 Accepted 24 Juli 2025 Nematoda gastrointestinal merupakan satu diantara golongan parasit yang umum ditemukan menginfestasi ruminansia, khususnya kambing. Parasit ini juga diketahui dapat mempengaruhi produktivitas ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeidentifikasi parasit cacing khususnya nematoda gastrointestinal dan prevalensi infestasinya pada kambing kacang di Kota Tiakur. Kecamatan Moa. Kabupaten Maluku Barat Daya. Sampel DOI: dalam penelitian ini adalah feses yang dikoleksi dari 50 ekor kambing yang dipelihara secara https://doi. org/10. 32938/ja. semi intensif pada dua peternakan lokal di Kota Tiakur. Pemeriksaan telur cacing dilakukan Keywords: dengan metode natif langsung dan hasil pengujian dianalisis secara deskriptif. Hasil Cacing pengujian menunjukkan prevalensi infestasi pada peternakan 1 adalah 80% dan pada Kambing kacang peternakan 2 adalah 92%. Jenis parasit cacing gastrointestinal yang menginfestasi kambing Nematoda kacang pada dua peternakan lokal di Kota Tiakur antara lain Haemonchus contortus. Prevalensi Thrichuris sp. dan Trichostrongylus sp. Tingkat pemahaman peternak yang rendah terkait dengan pentingnya menerapkan konsep biosekuriti dan manajemen pemeliharaan yang baik memiliki pengaruh yang besar terhadap infestasi parasit cacing gastrointestinal pada ternak kambing. Penelitian ini juga mendukung peternak untuk meningkatkan dan memperbaiki pengetahuan mereka tentang manajemen pemeliharaan serta pemberian obat cacing . untuk mencegah ternak dari infestasi parasit. PENDAHULUAN Sektor peternakan berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Maluku Barat Daya. Kambing kacang (Capra aegagrus hircu. merupakan satu diantara komoditas peternakan yang cukup dominan di daerah ini. Kambing kacang dipelihara oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan protein hewani dan sebagai sumber pendapatan. Manajemen pemeliharaan kambing kacang memudahkan peternak karena ternak ini mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah-ubah. Pamungkas et al. , . menyatakan bahwa kambing kacang mempunyai keunggulan lain yaitu cepat berkembang biak karena dapat menghasilkan keturunan pada umur 15-18 bulan dan merupakan penghasil daging sebagai sumber protein bagi manusia. Manajemen pemeliharaan kambing kacang yang paling banyak diterapkan adalah pemeliharaan secara semi intensif (Suhardono et al. , 2. Nilai tambah dari sistem pemeliharaan ini adalah biaya produksi rendah serta minim pekerja, sistem pemeliharaan ini juga memungkinkan ternak dapat berperilaku secara alami (Animut et al. , 2. namun, sistem pemeliharaan ini juga menjadikan ternak rentan terinfestasi berbagai macam penyakit, satu diantaranya penyakit parasit gastrointestinal. Penyakit yang disebabkan oleh infestasi parasit gastrointestinal merupakan satu diantara penyakit yang paling sering menimbulkan permasalahan dalam sektor peternakan kambing namun sering kali disepelekan oleh peternak (Hanafiah et al. , 2. Menurut Zeryehun . ternak kambing dan domba tergolong ternak yang mudah terinfestasi parasit cacing gastrointestinal secara klinis maupun subklinis karena kebiasaannya merumput, hal seperti ini sering kali terjadi di negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Infestasi parasit cacing gastrointestinal dapat menyebabkan kerugian diantaranya menurunkan performa produksi dan reproduksi ternak serta menurunkan konsumsi pakan dan efisiensi konversi pakan pada ternak (Ayaz et al. , 2013. Kanyari et al. , 2. Kerugian yang ditimbulkan ini disebabkan karena infestasi parasit cacing gastrointestinal menghambat penyerapan nutrisi sehingga berdampak pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan ternak, anemia serta terjadinya kematian pada infestasi berat (Terefe et al. , 2012. Hassan et al. , 2. Infestasi parasit cacing gastrointestinal dapat menurunkan kinerjas sistem kekebalan tubuh sehingga ternak menjadi rentan terhadap infestasi sekunder yang disebabkan oleh agen patogen lainnya yang pada akhirnya akan berdampak pada penurunan produktivitas dan kerugian ekonomi peternak (Garedaghi et al. , 2. Berdasarkan uraian, diketahui bahwa infestasi parasit cacing gastrointestinal merupakan masalah utama penyebab gangguan kesehatan pada kambing kacang yang dipelihara secara semi intensif dan dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengeidentifikasi jenis parasit cacing gastrointestinal dan prevalensi infestasinya pada ternak kambing yang dipelihara secara semi intensif. Noach S. , et al. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 MATERI DAN METODE Penelitian ini menggunakan 50 sampel feses kambing kacang yang diambil dari dua peternakan lokal yang ada di Kota Tiakur. Kecamatan Moa masing-masing 25 sampel. Pengujian sampel dilakukan di Kliknik Veteriner Universitas Pertahanan RI di Desa Werwaru. Kecamatan Moa. Kabupaten Maluku Barat Daya. Alat dan bahan yang digunakan adalah mikroskop, gelas objek dan cover, pipet, plastik sampel, feses kambing, aquades, dan formalin 10%. Koleksi sampel feses dilakukan secara per rektal dengan jumlah sampel feses kurang lebih 5-10 gram. Sampel yang telah diambil kemudian dimasukkan ke dalam plastik sampel dan ditambahkan formalin 10% dengan volume 2-3 ml. sampel kemudian disimpan dalam coolbox selama koleksi sampel di lapangan. Sampel yang telah dikoleksi kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Pemeriksaan sampel feses di laboratorium menggunakan metode natif langsung (Taylor, et. , 2. Pengujian parasit gastrointestinal menggunakan metode natif langsung. Sampel feses diletakan pada gelas objek, tambahkan 1-2 tetes . ,1 m. aquades, aduk hingga homogen. Bagian feses yang besar dikeluarkan, tutup dengan cover dan amati dibawah mikroskop dengan perbesaran 40x (Balai Veteriner. Berdasarkan karakteristik morfologi, dibandingkan dengan literatur untuk mengidentifikasi parasit gastrointertinal yang ditemukan. Hasil pengujian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan gambar sedangkan prevalensi infestasi parasit cacing gastrointestinal dihitung dengan menggunakan rumus dari Budiharta . sebagai berikut: Prevalensi: ycU 100% Keterangan: F = Jumlah sampel yang positif. N = Jumlah dari seluruh sampel yang diperiksa. HASIL DAN PEMBAHASAN Infestasi Parasit Cacing Gastrointestinal Pada Kambing Kacang di Kota Tiakur. Kecamatan Moa Pengujian laboratorium terhadap keberadaan telur cacing pada keseluruhan sampel feses menunjukkan bahwa ditemukan adanya parasit cacing gastointestinal, khususnya nematoda yang menginfestasi kambing kacang pada peternakan 1 dan peternakan 2 di Kota Tiakur. Kecamatan Moa. Prevalensi infestasi parasit cacing gastrointestinal ditampilkan dalam Tabel 1. Tabel 1. Prevalensi infestasi parasit cacing gastrointestinal pada kambing kacang di Kota Tiakur. Lokasi Sampling Jumlah Sampel Positif Negatif Prevalensi Peternakan 1 Peternakan 2 Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat tidak terdapat perbedaan signifikan pada prevalensi infestasi parasit cacing pada kambing di kedua peternakan namun prevalensi infestasi parasit cacing gastrointestinal pada peternakan 2 menunjukkan angka yang sedikit lebih tinggi yaitu 92%, artinya dari 25 sampel yang diuji 23 diantaranya teridentifikasi adanya parasit cacing gastrointestinal sedangkan pada peternakan 1 menunjukkan nilai yang lebih rendah yaitu 80%, artinya dari 25 sampel yang diuji 20 diantaranya teridentifikasi adanya parasit cacing gastrointestinal. Sistem perkandangan kedua peternakan dalam penelitian ini berbeda. Pada peternakan 1 memiliki sistem perkandangan panggung sedangkan peternakan 2 memiliki sistem perkandangan postal atau langsung pada tanah. Hasil penelitian ini sejalan dengan Putri et al. , . yang berpendapat bahwa prevalensi kecacingan pada kambing yang dipelihara di kandang panggung lebih rendah jika dibandingkan dengan kambing yang dipelihara di kandang yang langsung pada Satu diantara beberapa faktor yang menyebabkan tingkat infestasi parasit cacing gastrointestinal pada sistem perkandangan postal lebih tinggi dibandingkan dengan sistem perkandangan panggung adalah menjaga kebersihan dan sanitasi pada sistem perkandangan postal lebih sulit dibandingkan dengan pada sistem perkandangan panggung. Peternakan dengan sistem perkandangan postal sangat jarang melakukan sanitasi termasuk didalamnya pembersihan feses. Peternak pada peternakan 2 hanya akan membersihkan kandang jika akan dilakukan pembongkaran feses ketika dilihat sudah kotor, hal ini dilakukan kurang lebih sekali dalam 6 bulan. Purwaningsih et al. , . berpendapat bahwa faktor lain yang mempengaruhi penyebaran cacing nematoda adalah sanitasi dan kebersihan kandang. Feses yang dibiarkan menumpuk di dalam kandang dapat mengundang lalat dan memungkinkan perkembangan telur atau larva nematoda. Ketika kulit ternak bersentuhan dengan feses ataupun feses mengkontaminasi pakan kambing, maka beberapa telur atau larva cacing dapat masuk ke dalam tubuh ternak. Selain sanitasi dan kebersihan kandang, faktor lain yang menyebabkan tingginya prevalensi infestasi pada kedua peternakan ini adalah pemberian obat cacing. Pemberian obat cacing harus dilakukan sebagai langkah awal pencegahan infestasi parasit cacing gastrointestinal pada ternak kambing. Azhar . Noach S. , et al. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 menyatakan bahwa Infestasi parasit cacing menjadi masalah kesehatan yang paling sering terjadi dan dapat menurunkan produktivitas ternak. Pemberian obat cacing secara rutin dapat mengendalikan infestasi parasit tersebut dan menjaga keseimbangan kesehatan ternak. Berdasarkan hasil wawancara dengan peternak diperoleh informasi bahwa ternak yang ada di kedua peternakan ini sama sekali belum diberikan obat cacing secara oral maupun injeksi. Hal ini yang menyebabkan prevalensi infestasi parasit cacing gastrointestinal pada ternak kambing di kedua peternakan tinggi. Jenis Parasit Cacing Gastrointestinal yang Menginfestasi Kambing Kacang di Kota Tiakur. Kecamatan Moa Hasil identifikasi jenis parasit cacing gastrointestinal pada kambing kacang di Kota Tiakur. Kecamatan Moa ditampilkan dalam Tabel 2. Tabel 2. Jenis parasit cacing gastrointestinal pada kambing kacang di Kota Tiakur. Lokasi Sampling Jenis Parasit Peternakan 1 Peternakan 2 Haemonchus contortus Trichuris sp. Trichostrongylus sp. Total Haemonchus contortus Trichuris sp. Trichostrongylus sp. Total Jumlah Positif Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa pada peternakan 1 dan peternakan 2, jenis parasit cacing gastrointestinal yang teridentifikasi pada feses kambing kacang di Kota Tiakur. Kecamatan Moa adalah Haemonchus contortus. Thrichuris sp. dan Trichostrongylus sp. Jenis parasit cacing gastrointestinal yang paling banyak menginfestasi di kedua peternakan di Kota Tiakur. Kecamatan Moa adalah Haemonchus contortus. Jenis parasit cacing ini menginfestasi 7 ekor kambing . %) pada peternakan 1 dan 13 ekor kambing . ,52%) pada peternakan 2. Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian pada kambing di Kecamatan Lakor, prevalensi infestasi H. contortus mencapai 81,60% tertinggi ditemukan di Desa Yamluli dan Desa Lolotuara (Sukariada et al. , 2. Tingginya prevalensi infestasi H. contortus disebabkan karena karakteristik H. contortus yang mampu bertahan hidup pada daerah tropis dan subtropis dengan suhu hangat maupun sangat dingin. Parasit ini juga bersifat patogen, memiliki habitat pada abomasum ternak yang terinfestasi dan menghisap darah serta menyebabkan gangguan kesehatan pada ternak sehingga berpengaruh terhadap produktivitas ternak dan ekonomi peternak (Arsenopoulos et al. , 2. Jenis cacing kedua yang menginfestasi kambing di Kota Tiakur. Kecamatan Moa adalah Trichuris sp. Jenis parasit cacing ini menginfestasi 6 ekor kambing . %) pada peternakan 1 dan 8 ekor kambing . ,78%) pada peternakan 2. Prevalensi infestasi parasit cacing ini tergolong rendah bila dibandingkan penelitian Jasnia et al. , . sebanyak 46,67% kambing yang berumur kurang dari 1 tahun terinfestasi cacing Trichuris sp. di Kota Kendari. Umur ternak juga dapat mempengaruhi tingkat infestasi parasit cacing gastrointestinal pada ternak. Sebagian besar kambing dalam penelitian ini berumur lebih dari 1 tahun sehingga prevalensi infestasinya lebih rendah. Hal ini sejalan dengan pernyataan Wakelin . bahwa, jika dibandingkan dengan ternak dewasa, ternak muda lebih mudah terinfestasi nematoda gastrointestinal. Cacing Thrichuris sp. pernah dilaporkan menginfestasi ternak kambing di beberapa daerah dengan prevalensi yang dikategorikan rendah (Junaidi, et al. , 2014. Muktar et al. , 2015. Purwatihningsing et al. Namun, hasil penelitian ini sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Datta et al. , . dimana ternak kambing di Kota Kupang. Provinsi Nusa Tenggara Timur teridentifikasi parasit cacing Trichuris sp. sebesar 25%. Morfologi parasit cacing gastrointestinal yang ditemukan pada feses kambing kacang di Kota Tiakur disajikan dalam Gambar 1. Jenis cacing kedua yang menginfestasi kambing di Kota Tiakur. Kecamatan Moa adalah Trichostrongylus sp. Jenis parasit cacing ini menginfestasi 7 ekor kambing . %) pada peternakan 1 dan 2 ekor kambing . ,70%) pada peternakan 2. Berdasarkan hasil penelitian ini terlihat bahwa jenis parasit cacing Trichostrongylus sp. lebih banyak menginfestasi kambing yang berada pada peternakan 1 dengan sistem perkandangan panggung karena pada sistem perkandangan panggung yang kondisinya tidak lembab dan kering menjadi tempat yang cocok bagi cacing Trichostrongylus sp. untuk berkembang biak. Berbeda dengan kondisi di peternakan 2 dengan sistem perkandangan postal yang lembab dan basah menyebabkan cacing Trichostrongylus sp. susah untuk berkembang biak. Weningtiyas et al. , . menyatakan bahwa cacing Trichostrongylus sp. mudah berkembang biak pada kondisi kandang yang kering. Soulsby . juga berpendapat hal yang sama, yaitu cacing Trichostrongylus sp. ditemukan dalam jumlah yang banyak pada Noach S. , et al. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 bulan kering dibandingkan pada bulan basah karena berbeda dengan cacing Fasciola sp. , perkembangan telur cacing Trichostrongylus sp. tidak begitu banyak memerlukan air. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Tribudi et al. , . di Desa Kuala Mandor B Kalimantan Barat yang menunjukkan bahwa prevalensi infestasi Trichostrongylus sp. pada kambing kacang sebesar 73,33%. Pernyataan serupa juga dilaporlan oleh Yufa et al. , . , yang menyatakan prevalensi infestasi cacing Trichostrongylus sp. kambing di Kota Padang adalah sebesar 64%. Cacing Trichostrongylus sp. tergolong satu diantara jenis parasit cacing yang umum ditemukan dalam feses pada kambing dan domba di Jawa Barat (Beriajaya, 2. dan rumah potong hewan Banda Aceh (Hanafiah et al. , 2. Prevalensi infestasi yang berbeda dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya bangsa ternak, status kekebalan ternak serta kondisi klimat (Gruner et al. , 2006. Rupa and Portugaliza, 2. Keterangan: . Haemonchus contortus. Trichuris sp. Trichostrongylus sp. Gambar 1. Morfologi parasit cacing gastrointestinal yang ditemukan pada feses kambing kacang di Kota Tiakur. Kecamatan Moa. SIMPULAN Jenis parasit cacing gastrointestinal yang meninfestasi kambing kacang pada 2 peternakan lokal di Kota Tiakur. Kecamatan Moa Kabupaten. Maluku Barat Daya. Jenis parasit cacing gastrointestinal tersebut adalah Haemonchus contortus. Thrichuris sp. , dan Trichostrongylus sp. Penerapan biosekuriti, sanitasi lingkungan secara baik, pemantauan kesehatan, dan pemberian antelmintik secara rutin dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya infestasi parasit cacing gastrointestinal pada ternak kambing. Untuk mendukung hal tersebut maka edukasi kepada peternak terkait dengan manajemen pemeliharaan yang baik juga perlu dilakukan agar dapat mengurangi faktor risiko kejadian infestasi parasit cacing gastrointestinal pada kambing sehingga dapat meningkatkan status kesehatan dan performa produksi ternak, khususnya ternak kambing. PUSTAKA