Shategi DakruahIslan dalam PendekatanRasionalTransendental futdyhnuvnn F--- ;Lt*:;,,| JtLi oe5Ja g-*-t €S +8,-,)t ;3*-rJlalt"iltoi.o d, aLt-l i ic; ;nl1 r(;Jt a*t :V.e- qriJtJtdJt Jilt -*:J!-.*dl .J-= C ,f LAI U.-b p.r*:-,| frl3 .a*ilrt olo.:,ll g-lt:lt C 6-Ar"? .-o t--5 L-,-rrJl a;-JlJ 411l)--f ,'+i al*., ol .cAl Jt +y-ryr dl--r Jr-", .f ;J-r-rlt {.-i4 .;tljt Tps|.l-;Ir tir J: i;---e.rJt,.ga:q-,r.Jl 65a.rJr J1!r 4lt : ;4*i -a-a,2!.,a.t+*It LJIJ 6 a-a"bat'.,r^*-J.t* L--.rtLi J-lll * i;E!t S e--=r-rblli-1-r.tJf 4Ult -;Jt1 .ol-ai; cl-2*ta4t, & J2*')t;l-i9 J-{ #)U J:.r+t C Lti'., .1,atJ i,r-l-It ait3 .,l, i:+fl -tt CJlrl rll e----- cli--o bt J! d-,1 4" A' .Jaj-Jtj i,-Ff r#.rt -)t q! tairi H LFI lr--r r43_. i-ilt 5.r-,_"r4t gt-.lt "r--e Jt)us ot:t-i:tt9ot -i' F C* c!;r,"_rlr e..- ,&st ..6r-, -.-; ob-l ca'iljl ,l^,f;;c-rJl "f Al=lam{ah,Vol. 4ONo. 1,January- June2002 "t=.1)J 155 Andy Dermawarr, StrategiD aktoahIslam dalamPendekatanRasionnlTransdmtal Abstract This article tries to apply the transcendental rational approach to the preachingof Islam. The characteristicpreaching of Islam in transcmdental rational approach relies on how ratio works in catching reality in the real world empirically, and then we analyze through an integralistic combination between "fikir" arrd "zikir" to answer mankind's problems based on Allah's sayings and the prophet's tradition. The author tries to offer preaching of Islam's comprehension rientifically as follow : (1). Normatifpreachingi.e., preaching of Islam which is based on Al-Qur'an and Hadits and is analyzed hermeneutical, dialectical, systematically in order to seize the moral teachings integrally without doi.g *y reductions on both sources;(2). Irtsbnlcpreachngi.e., preaching of Islam which develops post Rasulullah's life up to recent days which is made as consideration to understand both sources(Al-Qur'an and Hadith). Whereas the characteristic of historic preaching is always open for changes, criticism, and giving reinterpretation and recomprehension toward the reality of existing preaching. Latar Belakang uhammad Iqbal mengawali bukunya yang berjudul The Rrcon' sbuction ofReligious Thoug/tttn Islam, dengan pernyataart" 7he deed rather tltan ideal' Qur'an is a book which bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang mengutamakan amal daripada ide. Terminologi amal menunjuk pada suatu tindakan nyata, empirik dan konkret atas apa yang telah dikonstruksi Alquran secara konseptual. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa amal dalam tradisi Islam menempati peran terpenting dari sisi praktiknya setelah fundamental konseptualnya dibangun sebagaimana tersurat dalam ayat-ayat-Nya. Dalam kaitannya dengan dakwhh Islam, prinsip membangun intelektual umat diharuskan terjun langsung ke lapangan pemikiran dan ke 'MuhammadIqbal,TheRrcorctrucfibnof ReligzousThoughtnlslam,(NewDelhi: Kitab Bhavan,1981),hlm. 1. 1,56 Al-lami'nh,Vol. 40,No. 1,January- June2002 Andy Dermawan, StrategiD&anh IslamdnlnmPmdekatanRasionalTransendental praktik. Inilah sesungguhnyabentuk konkret dari prinsip ilmu dan amal yang mesti dilakukan terus-menerus.Kedua prinsip, yakni ilmu dan amal, tersebutbagaikan satu keping mata uang logam, antara sisi satu dengan lainnya berbeda tetapi pada dasarnya ia tetap satu. Begitu juga dengan manusia sebagai subjek dakwah, ia harus merupakan cermin dari pikiran, perasaan, proses dan karya. Dari situlah, ujian dan hasil itu ditentukan. Bahkan dalam Alquran pun disebutkan bahwa orang yang merasasudahberiman pun juga diuji, apalagiyang belum dan tidak beriman. Sintesis antara ilmu dan amal dalam tradisi dakwah akan menjadi perangkatmetodis yang kuat apabiladiikuti denganbangunanspiritual yang dalam, karena itu merupakan perangkat lunak dari kedua prinsip tersebut. Berangkatdari pemaparansebagaimanadisebutkan, dalam perkembangannya manusia tidak akan bisa mencapai kesempumaan spiritualnya,- tanpa pernah memupuk akar kehidupan di dalam diri melalui kekhusyukanibadah (pendalamanIslam lewat Alquran) atau pererurnganyang dalam (renungan filosofis atas realitas, atau refleksi). Karena itu,Islam mencobamenawarkan solusi ataspersoalan-persoalanyang menimpa manusia secarakompleksitas denganajaran-ajarannyayang secaradinamik memerlukan keteguhantrntuk menggali kebenarannyalewat dakwah yang dilakukan oleh para dal atau m uballig &rhadap objek dakwahnya. Secara'faktual,tipologi dakwah (Islar) in garcraAebih menampakkan wajahnya yang top4ovun, yaknilebih kepada bentuk legitimasi da'idengart sifat dasarnya yang struktural (atas-bawah), merasa punya hak untuk mengarahkan oftmg menjadi baik yang terkadang itu tidak diberlakukan bagi dirinya sendiri, dan bentuk perryampaianrisalah Islamnya lebih bersifat "penghibur" daripada melakukan perubahansecaranyata pada masyarakat. Di sisi lain, juga terdapat adanya anggapan bahwa masyarakat yang dijadikan sasaran dakwah seringkali dianggap sebagai masyarakat statis, tidak tahu apa-apa sehingga da'iatau muballighmetasa punya hak untuk mengisi apa saja ruang kosong itu dengan berbagai perangkat keyakinan, moral, ideologi, dan kebenaran yang pada suatu saat siap dikeluarkan Dalam kelimpahruahan informasi, dalam hipersirkuit komunikasi, dalam hutan rimba citraan yang bersifat transparan, apa yang diperoleh oleh umat manusia justru bukan peningkatan kualitas kemanusiaan dan spiritualitas, sebaliknya, sebuah ironi kemanusiaandan spiritual. Lihatpenjelasanselanjubrya dalamYasraf AmirPiliang *buah Dunia yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang MilIenium Ketiga dan Matinya Posmdemtbme, (Bandung: lvlizan, 1998),hlm. 104. Al-lami'ah,Vol. rt0,No. 1,January- June2002 1,57 Andy Dermawary StrategiDakoahlslnmdalamPenilekatanRnsionalTransendental bilamana dibutuhkan. Melihat kondisi dakwah yang begitu puspa.-ragambentuk penyampaiannya,dengandihadapkan pada kondisi zamanyang sesungguhnya lebih menuntut peran para da'i ataumuballigliuntuk lebih cerdasdalam membangun emosi keagamaarurya,maka diperlukan perangkat metodis sebagai struktur fundamentalnya. Dari kondisi seperti ini maka dakwah Islam sudah saatnya dirubah bentuknya yakni lebih bersifat bottom-up dengan bersama-samamasyarakat menggali potensi dirinya dalam menciptakan tradisi kebaikan secaraberlomba-lomba,kerjasamadan bekerja bersama. Selanjutnya,seiring dengan realitas dakwah Islam yang ada, dituntut untuk merekonstruksimetode atau pendekatannyasesuaidenganproblematika yang dihadapi umat dewasa ini. Sudah saatnya umat (masyarakat muslim) mengetahui,merumuskan dan bahkan memecahkanpersoalannya sendiri dengan kemampuan potensi diri yang digalinya secara terusmenerus. Ada banyak cara yang dapat dan sedang dilakukan, misalnya saia dakwah memakai pendekatan psikologi, konseling, sejarah, dan beberapa variasi ilmu bantu lainnya sebagaimanasekarang ini sedang dibangunnalar keihnuannya oleh beberapadosendi fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam kesempatanini iuga, penulis mencobamenawarkansuatu kajian metodologis dakwah Islam denganpendekatanrasional transendentaldalam rangka ikut menjawabproblematika umat (Islam)di eramodem ini. Thwaran metodologis ini bukanlah harga mati yang tak boleh ditawar-tawar IagS,, akan tetapi sebuahusulan intelek untuk menegaskanjati diri dakwah Islam yang telah dibangun oleh Nabi saw. dilaniutkan oleh para Wali Songo' sampai dengan saat sekarang ini, merupakan substansi yang perlu dikembangkan terus-menerus melalui pergulatan intelektual yang tak mengenal finalitas akhir. Di sinilah sesungguhnyamainsteamdan autentisitas keilmuan itu ditegaskan, bahwa tradisi keilmuan tidak mengenal senioritas, tetapi lebih ditentukan oleh proses panjang pergumulan pemikiran dan aplikasinya dalam ranah pengalamandi wilayah publik ilmu- 3Kata "wali"berasaldaribahasaArab wala,atau waL/a,yangberarfi garabayak'ni "dekat". Dalam Alquran istilah ini dipakai dengan pengertian "ketabat", "teman", atau "pelindung" sebagaimana dapat ditemui dalam beberapa ayat. Misalnya Alquran surat (10):62dan (2):257. 158 Al-lam{ah,Yol.40,No. L,January- }une2002 Andy Dermawan, StrategiDalapahlslam dnlamPendekatanRasionalTransendental Mengapademikian?Setiaporang memiliki kelebihandan kekurang.rn, dan setiap hasil renungan dan pemikiran dipengaruhi oleh banyak faktor; seperti tingkat intelegensi, kecenderunganpribadi, latar belakang pendidikan, bahkan perkembangan ilmu pengetahuan dan kondisi sosial masyarakatnya.Memahami hal-hal tersebutadalahmutlak guna memahami hasil pemikiran seseorang,dan ini pada gilirannya dapat mengantar kepada penilaian pendapat yang dikemukakan itu serta batas-bataskewajarannya untuk dianut atau ditolak. Dalam kertaskerja ini, penulis ingin menunjukkan bahwa karakteristik dakwah Islam dalam pendekatan rasional transendental itu terletak pada cara kerja rasio dalam menangkap realitas di lapangan secaraempirik untuk kemudian dianalisis melalui perpaduan integral antara fiktr (tafakkur fi khalqillah) dan zikir (dzikrullall untuk menjawab problematika umat berdasarkan visi tauhid dan teladan Nabi saw. yang mensejarah. Struktur Fundamental Keilmuan: Rasional Transendbntaln Dalam menjalankan dakwah atau syiar Islam, ada yang harus dibangun unfuk mencapai sasaran dakwah, yakni kemampuan memenej Dalam tradisi Jawa, sebutan wali dianggap keramat karena pada dirinyalah kanmall yang unsur di dalamnya termasuk kelebihan mereka dalam pemahaman agama (ilmu pengetahuan agama dan pranata sosial), kemampuan mengetahui apa yang akan terjadi (pengetahuan gaib), karunia t€naga gaib, kekuatan batin, kesaktian dan bahkan berilmu tinggi dalam berbagai hal. Sedangkantenninologi "songo", adalah angka hitungan ]awa yang berarti sembilan. Hanya saia, ada beberapa komentar para tokoh intelektual yang memberi pengertian berbeda mengenaihal ini. Msalnya saja,kutipan Moh. Adnan dari kamus al-Mtnjid(Beirut: 1937) yang mengatakan bahwa terrrinologi "songo" merupakan perubahan atau bahkan kerancuan dari pengucapan atauh.ala sana. Kata ini berasal dari bahasa Arab Mna 'yang mempunyai pengertian "terpuji" yang searti juga dengan kata maltmud (hamida, yalunadu). Dengan demikian maka pengucapan yang benar adalah wali tsana'yakai wali-wali yang terpuji. Pendapat ini diperkuat oleh R. Tanoi