Copyright : ISSN : 2807-9280 @ 2023 Petrus Nugroho DS https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK PENERAPAN METODE SOSIODRAMA DALAM PROMOSI KESEHATAN TENTANG DETEKSI DINI GANGGUAN KESEHATAN JIWA Petrus Nugroho DS 1. Suryo Pratikwo 2. Nur Zakiyah 3. Ulfah Agus Sukrillah 4 ,Sudirman 5 1,2,3,4 Program Studi Keperawatan Pekalongan Poltekkes Kemenkes Semarang. Indonesia *e-mail korespondensi : petrusnds@gmail. ABSTRAK Latar Belakang : Jumlah gangguan jiwa secara global menurut data WHO . terdapat 280 juta jiwa di dunia mengalami depresi dan 800 ribu jiwa meninggal dunia karena bunuh diri. di Kota Pekalongan tahun 2019 sarana pelayanan kesehatan tingkat lanjut yaitu 18. 190 jiwa dengan sasaran ODGJ berat pada kecamatan Pekalongan Utara daerah Dukuh yaitu 52 jiwa. Di berbagai daerah banyak penderita gangguan kesehatan jiwa belum tertangani dengan baik. Dalam pelayanan kesehatan jiwa sekarang, tidak hanya berfokus pada pengobatan atau penyembuhan saja. Akan tetapi dilakukan berbagai upaya lain seperti pendidikan kesehatan jiwa, pencegahan atau deteksi dini gangguan jiwa dan pemberdayaan pada Masyarakat. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh metode sosiodrama dalam promosi mengenai deteksi dini gangguan kesehatan jiwa yang berguna bagi masyarakat dan petugas kesehatan Metode : Penelitian yang digunakan adalah quasi experimental dengan pre-post test with control group design Hasil : Nilai p=0,000 . <0,. artinya ada perbedaan yang bermakna tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah perlakuan kelompok berpasangan sebelum dan sesudah perlakuan metode sosio drama dan diskusi. Dan juga kelompok kontrol berpasangan. Sedangkan hasil uji beda kelompok tidak berpasangan kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum yaitu ada perbedaan yang bermakna tingkat pengetahuan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum perlakuan. Dan juga setelah perlakuan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Simpulan : penelitian tingkat pengetahuan responden pada kelompok intervensi dengan metode sosiodrama dan diskusi menunjukkan bahwa terdapat peningkatan skor pengetahuan responden tentang deteksi dini gangguan kesehatan jiwa Kata Kunci : Sosiodrama. Deteksi Dini. Kesehatan Jiwa Petrus Nugroho DS 1. Suryo Pratikwo 2. Nur Zakiyah 3 JLK Team Copyright : @ 2023ISSN Petrus:Nugroho https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK APPLICATION OF SOCIODRAMA METHODS IN HEALTH PROMOTION CONCERNING EARLY DETECTION OF MENTAL HEALTH DISORDERS Petrus Nugroho DS 1. Suryo Pratikwo 2. Nur Zakiyah 3 ,Ulfah Agus Sukrillah 4 ,Sudirman 5 1,2,3,4 Pekalongan Nursing Study Program. Health Polytechnic. Ministry of Health. Semarang. Indonesia *e-mail korespondensi : petrusnds@gmail. ABSTRACT Background: The number of mental disorders globally according to WHO data . shows that 280 million people in the world experience depression and 800 thousand people die due to In Pekalongan City in 2019, advanced health service facilities were 18,190 people with a target of severe ODGJ in the North Pekalongan sub-district. Dukuh area, namely 52 people. various regions, many people suffering from mental health disorders have not been treated In today's mental health services, there is not only a focus on treatment or healing. However, various other efforts have been made, such as mental health education, prevention or early detection of mental disorders and community empowerment Objective: to determine the influence of the sociodrama method in promoting early detection of mental health disorders which is useful for the community and health workers Method: The research used was quasi experimental with pre-post test with control group design Results: The p value = 0. <0. means that there is a significant difference in the level of knowledge before and after the paired group treatment before and after the socio drama and discussion method treatment. And also a paired control group. Meanwhile, the results of the unpaired group difference test between the intervention group and the control group before were that there was a significant difference in the level of knowledge between the intervention group and the control group before treatment. And also after treatment between the intervention group and the control group. Conclusion: research on the level of knowledge of respondents in the intervention group using sociodrama and discussion methods shows that there is an increase in respondents' knowledge scores regarding early detection of mental health disorders Keywords: Sociodrama. Early Detection. Mental Health Petrus JLK Team Nugroho DS 1. Suryo Pratikwo 2. Nur Zakiyah 3 The Journal of Cross Nursing PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Gangguan jiwa menurut American Psychiatric Association (APA) adalah sindrom atau pola psikologis atau pola perilaku yang penting secara klinis, yang terjadi pada individu dan sindrom tersebut dihubungkan dengan adanya distress . isalnya gejala nyeri, . etidakmampuan pada salah satu bagian atau beberapa fungsi pentin. atau disertai peningkatan risiko secara bermakna untuk mati, sakit, ketidakmampuan, atau kehilangan Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) adalah sebutan resmi bagi penyandang gangguan jiwa berdasarkan Undang-Undang Kesehatan Jiwa Nomor 18 Tahun 2014. Jumlah gangguan jiwa secara global menurut data WHO . , terdapat 280 juta jiwa di dunia mengalami depresi dan 800 ribu jiwa meninggal dunia karena bunuh diri. Berdasarkan laporan Provinsi Jawa Tengah Riskesdas . penderita gangguan jiwa meningkat, peningkatan ini terlihat dari kenaikan prevalensi rumah tangga yang memiliki ODGJ di Indonesia, ada peningkatan jumlah menjadi 7 permil rumah tangga artinya per 1000 rumah tangga terdapat 7 rumah tangga dengan ODGJ sehingga jumlahnya diperkirakan sekitar 450 ribu ODGJ berat. Menurut data jumlah kunjungan rawat jalan, rawat inap, dan kunjungan gangguan jiwa di Kota Pekalongan tahun 2019 pada saranan pelayanan kesehatan tingkat pertama yaitu 579 jiwa dan pada sarana pelayanan kesehatan tingkat lanjut yaitu 18. 190 jiwa dengan sasaran ODGJ berat pada kecamatan Pekalongan Utara daerah Dukuh yaitu 52 jiwa. Dalam PP No. 2 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Permenkes No. 4 Tahun 2019 tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar Pada SPM Bidang Kesehatan, kesehatan jiwa menjadi salah satu indikator yang harus dipenuhi pemerintah daerah sehingga menjadi kewajiban untuk melakukan upaya kesehatan jiwa di masing-masing wilayah. Layanan kesehatan primer di Puskesmas atau Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) adalah pelayanan tepat sasaran di masyarakat, minimnya pelayanan dan fasilitas kesehatan jiwa di berbagai daerah sehingga banyak penderita gangguan kesehatan jiwa belum tertangani dengan baik. Agens perubahan yang ideal untuk kemajuan pelayanan kesehatan masyarakat khususnya kesehatan jiwa adalah perawat, perawat yang selanjutnya disebut sebagai CHMN (Community Mental Health Nursin. merupakan mata dan telinga dari setiap permasalahan kesehatan jiwa di komunitas Copyright : @ 2024 Petrus Nugroho Djoko Santoso pengalaman klinis, dan pendidikan mmemandu kita dalam mengkaji gejolak masalah kesehatan yang potensial yang terjadi disekitar Dalam pelayanan kesehatan jiwa sekarang, tidak hanya berfokus pada pengobatan atau penyembuhan saja. Akan tetapi dilakukan berbagai upaya lain seperti pendidikan kesehatan jiwa, pencegahan atau deteksi dini gangguan jiwa dan pemberdayaan pada masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa melalui upaya kegiatan kesadaran, kepedulian serta pemahaman terhadap masalah kesehatan jiwa warganya. Salah satu upaya yaitu deteksi dini gangguan kesehatan jiwa yang merupakan upaya penemuan kasus gangguan jiwa secara dini oleh tenaga terintegrasi dengan pelayanan dasar lainnya di puskesmas maupun jaringannya. Melihat hal tersebut, maka perlu upaya lebih untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anggota keluarga tentang deteksi dini gangguan kesehatan jiwa yang merupakan upaya penemuan kasus gangguan jiwa secara dini dengan melibatkan secara langsung dalam promosi kesehatan yang bersifat peningkatan . dan pencegahan . melalui kelompok sosial. Harapannya melalui peran serta aktif di kelompok dasa wisma, ibu rumah tangga di tiap RT maupun RW dapat menekan angka kasus gangguan jiwa yang terjadi pada kelompok keluarga. Salah satu bentuk promosi kesehatan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan metode sosiodrama yang dikemas dalam bentuk video, dimana dari hasil promosi kesehatan melalui metode tersebut akan didiskusikan bersama dengan keluarga. Metode sosiodrama dalam promosi kesehatan tentang deteksi dini gangguan kesehatan jiwa mempunyai keunikan dan karakteristik tersendiri dibandingkan metode Karakteritik yang dimaksud adalah melibatkan peserta yaitu keluarga dengan untuk berperan aktif sebagai tokoh dalam promosi kesehatan. Menurut Djamarah dan Zain . menyatakan metode sosiodrama . ermain mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial. Metode ini digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan peserta untuk memecahkannya. Penelitian mengenai metode promosi kesehatan ini akan dilakukan secara Pada tahap pertama, penelitian akan memfokuskan pada penerapan metode sosiodrama dengan melibatkan keluarga tentang deteksi dini gangguan kesehatan jiwa. Selanjutnya, pada tahun kedua, peneliti akan Petrus Nugroho Djoko Santoso1. Suryo Pratikwo 2. Nur Zakiyah3 . Ulfah Agus Sukrillah 4 ,Sudirman 5 Page 3 Of 12 Copyright : The Journal of Cross Nursing @ 2024 Petrus Nugroho Djoko Santoso membuat media audio visual berdasarkan skenario sosiodrama yang diberikan kepada Pada tahun ketiga, hasil audio visual diaplikasikan dalam pembelajaran mata kuliah promosi kesehatan bagi mahasiswa keperawatan. Pada tahap akhir yaitu tahun ke-empat, hasil penelitian ini dapat menghasilkan Hak Karya Intelektual (HAKI) dalam bentuk CD tentang promosi kesehatan sosiodrama tentang deteksi dini gangguan kesehatan jiwa bagi masyarakat. melakukan deteksi dini dan penanganan yang baik maka gangguan jiwa dapat cepat dipulihkan dan tidak menjadi makin berat. Deteksi dini gangguan jiwa dapat dilakukan di puskesmas, rumah sakit, psikiater, psikolog, perawat jiwa dan di rumah sakit jiwa "Apabila dideteksi dengan lebih cepat makagangguan jiwa akan lebih mudah diterapi, diobati sehingga yang bersangkutan dapat pulih dan produktif kembali," Pemeriksaan yang dilakukan adalah wawancara, pemeriksaan lab dan radiologi RUMUSAN MASALAH . ila diperluka. , tes kesehatan mental dan tes Kurangnya pengetahuan dan kesadaran Setelah keluarga tentang deteksi dini gangguan ditegakkan maka terapi akan segera dimulai kesehatan jiwa berdampak pada semakin dan kesembuhan akan cepat diraih. Pengobatan tingginya angka prevalensi gangguan jiwa. untuk gangguan jiwa berlangsung lama dan Untuk mengatasi hal tersebut perlu suatu upaya dibutuhkan konsultasi yang rutin. Dengan promosi kesehatan yang kreatif dan inovatif melakukan deteksi dini dan pemeriksaan maka gangguan jiwa yang berat dapat dihindari sehingga bahaya juga bisa dicegah," masyarakat pada umumnya. Berbagai metode dalam promosiA. Prinsip Perawatan ODGJ Dalam laman resmi Organisasi Kesehatan kesehatan yang lazim digunakan adalah Dunia (WHO), disebutkan beberapa metode ceramah, diskusi, seminar, sedangkan metode prinsip perawatan ODGJ. Perawatan berbasis sosiodrama yang akan diimplementasikan komunitas ternyata solusi yang terbaik. dalam penelitian sebagai strategi inti belum Diagnosis obyektif diidentifikasi lebih lanjut. Metode sosiodrama Diagnosis objektif yang benar sangat penting ini dapat membantu penyampaian informasi untuk perencanaan perawatan individu, dan dan materi supaya dengan mudah dipahami dan untuk pilihan perawatan yang tepat. Karena cepat dimengerti oleh anggota masyarakat perawatan yang berbeda diindikasikan untuk melalui bermain peran aktif dan langsung penyakit yang berbeda, diagnosis merupakan titik awal yang penting dari setiap intervensi. Maka, rumusan masalah dalam Intervensi dini sangat penting dalam mencegah penelitian ini adalah bagaimana penerapan metode sosiodrama dalam promosi kesehatan tentang tentang deteksi dini gangguan Semakin awal dilakukan pengobatan yang kesehatan jiwa. tepat, semakin baik prognosisnya. Perawatan kontinyu T TINJAUAN PUSTAKA Beberapa gangguan mental dan perilaku Gangguan jiwa bisa menyerang siapa saja mengikuti perjalanan kronis, meskipun dengan tanpa memandang latar belakang dan status periode remisi dan kekambuhan yang mungkin ekonomi serta pendidikannya. Ganguan jiwa menyerupai gangguan akut. Namun demikian, terjadi melalui suatu proses yang terjadi sejauh menyangkut penatalaksanaannya, beberapa waktu sebelumnya, bisa cepat, bisa penyakit ini mirip dengan penyakit fisik kronis. juga lebih lambat. Oleh karena itu, paradigma perawatan kronis Menurut Psikiater dr. Lahargo Kembaren. Maka SpKJ yang juga Kepala Instalasi Rehabilitasi kesinambungan perawatan itu penting. Psikososial RS. dr H Marzoeki Mahdi Bogor Misalnya ada klinik khusus untuk kelompok dan RS Siloam Bogor, gangguan jiwa membuat pasien dengan diagnosis atau masalah yang seseorang menjadi terganggu fungsi dan memberikan keterampilan merawat produktivitasnya dan ini bisa mengganggu juga kepada pengasuh. tim pengobatan yang sama keluarga dan masyarakat. Orang dengan memberikan perawatan kepada pasien dan gangguan jiwa (ODGJ) tidak bisa sekolah, pendidikan kelompok pasien dan kuliah dan bekerja dengan baik. desentralisasi layanan. Fungsi sosial juga menjadi terganggu, perawatan ke dalam perawatan kesehatan ODGJ tidak mampu berinteraksi dengan primer Rehabilitasi Berbagai macam layanan sekitarnya dengan baik. Kemampuan fokus, diperlukan untuk memberikan perawatan konsentrasi, atensi, memori, memutuskan komprehensif bagi beberapa orang dengan untuk bertindak, kemampuan berkomunikasi, penyakit mental. Diperlukan rehabilitasi pada fungsi gerakan juga terganggu sehingga fungsi Layanan ini dapat memberikan dan produktivitas menjadi pengobatan atau menyediakan program Sehingga, dr. Lahargo menegaskan dengan Petrus Nugroho Djoko Santoso1. Suryo Pratikwo 2. Nur Zakiyah3 . Ulfah Agus Sukrillah 4 ,Sudirman 5 Page 4 Of 12 The Journal of Cross Nursing Copyright : @ 2024 Petrus Nugroho Djoko Santoso rehabilitasi khusus, bantuan hukum atau bentuk lain dari dukungan sosial ekonomi. Personel khusus, seperti perawat, psikolog klinis, pekerja sosial, terapis okupasi dan sukarelawan, juga dibutuhkan Pendekatan perawatan berbasis keluarga. Bagaimana para penderita gangguan jiwa dan keluarganya bisa mendukung pengobatan dan perawatan melibatkan komunitas lokal Keyakinan, sikap, dan tanggapan masyarakat menentukan banyak aspek perawatan Kesehatan mental. Orang dengan penyakit mental sangat dipengaruhi 2. dukungan masyarakat. Jika lingkungan sosial mendukung, itu berkontribusi pada pemulihan lebih cepat. Integrasi perawatan Kesehatan primer Prinsip penting lainnya yang memainkan peran Kesehatan A mental adalah integrasi ke dalam perawatan kesehatan primer. Sebab gangguan mental bisa terlihat dari deteksi pasien di perawatan primer Kualitas dan kuantitas layanan kesehatan jiwa A spesialis yang dibutuhkan bergantung pada layanan yang diberikan di tingkat perawatan kesehatan primer. Dengan kata lain, pemberian A pelayanan perlu diimbangi antara community A care dan hospital care. Deteksi Dini Gangguan Kejiwaan Kejadian traumatis dapat memukul kejiwaan seseorang, meskipun mereka yang mengalami peristiwa menyedihkan tadi tidak menunjukkan tanda atau gejala yang A mencurigakan, namun perlu didampingi agar tidak mengalami gangguan jiwa. Penting juga untuk menemukan cara deteksi gangguan jiwa pada seseorang sejak dini agar kondisi tidak semakin parah. Deteksi gangguan jiwa sejak dini juga penting, karena penyebab orang terserang gangguan jiwa ini multikompleks dan tidak A Penyebabnya tidak berdiri sendiri meski biasanya disebabkan oleh situasi sosial serta kelainan dalam tubuh yang menyebabkan gangguan jiwa muncul. Berikut ini cara deteksi gangguan jiwa yang bisa dilakukan. Pemeriksaan kondisi kejiwaan melalui Tahapan awal dalam pemeriksaan kondisi kejiwaan adalah wawancara. Seseorang diminta informasi tentang riwayat dan kondisinya secara umum, apabila seseorang tidak dapat memberikan informasi secara jelas, maka anggota keluarganya dapat membantu menjawab pertanyaan. Informasi yang diminta bisa meliputi identitas pribadi . eliputi nama, pekerjaan, status perkawinan, riwayat pendidikan, dan hal lain seputar latar belakang sosial dan budaya Setelah itu menanyakan perihal pemeriksaan kejiwaan. Biasanya memberi pertanyaan pancingan terkait keluhan yang Setelah wawancara dilanjutkan dengan pemeriksaan yang paling utama untuk menentukan diagnosis gangguan mental yang sedang diidap. Yaitu pasien atau keluarga menceritakan gejala dan riwayat gangguan mental yang diidap serinci mungkin. Selain gejala mental, perlu menilai apakah ada gejala fisik yang dirasakan Observasi Status Mental Deteksi gangguan jiwa bisa dilakukan dengan mengamati kondisi pasien saat melakukan Beberapa hal yang diamati, antara Penampilan seperti pakaian, apakan sesuai dengan situasi, usia, dan jenis kelamin pasien. Bisa juga melalui gerak tubuh, apakah ia terlihat cemas atau mungkin tidak fokus. Sikap pasien kepada psikiater. Observasi bisa dilihat dari ekspresi serta respon dalam menjawab pertanyaan. Mood dan afeksi. Pola bicara. Bisa meliputi volume suara dan intonasi selama wawancara, kualitas dan kuantitas pembicaraan, kecepatan berbicara, serta bagaimana pasien merespons pertanyaan wawancara, apakah pasien hanya menjawab sekadarnya atau bercerita panjang lebar. Hal-hal yang diperiksa dari proses berpikir pasien yaitu hubungan antara pembicaraan, apakah pasien sering mengganti topik pembicaraan, atau apakah pasien berbicara dengan kata-kata yang tidak lazim dan tidak bisa dimengerti. Persepsi dan daya tanggap pasien terhadap kenyataan atau apakah pasien memiliki halusinasi atau waham . juga Konten atau isi pikiran. Pemeriksaan konten pikiran pasien bisa dilihat dari orientasi pasien, kesadaran, kemampuan menulis, membaca, dan mengingat. Bisa juga observasi apakah pasien memiliki keinginan membunuh atau bunuh diri, fobia, obsesi, pemahaman diri . , impulsivitas, serta keandalan . Pemeriksaan Penunjang Jika tahap wawancara dan observasi dirasa kurang membantu dalam proses deteksi gangguan jiwa, maka bisa dilakukan pemeriksaan penunjang. Ini bertujuan Pemeriksaan penunjang ini dapat berupa pemeriksaan darah dan urine di laboratorium atau dengan pencitraan. Petrus Nugroho Djoko Santoso1. Suryo Pratikwo 2. Nur Zakiyah3 . Ulfah Agus Sukrillah 4 ,Sudirman 5 Page 5 Of 12 The Journal of Cross Nursing Copyright : @ 2024 Petrus Nugroho Djoko Santoso Psikotes juga bisa dilakukan sebagai pemeriksaan tahap lanjut. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengevaluasi lebih dalam fungsi mental dan hal spesifik terkait kejiwaan pasien, seperti tipe kepribadian, tingkat kecerdasan (IQ), dan kecerdasan emosional (EQ) pasien. Keluhan Dan Gejala Gangguan Kejiwaan Masalah kesehatan jiwa menimbulkan dampak sosial yang cukup besar. Dampak ini dapat dilihat antara lain dari meningkatnya angka kekerasan baik di rumah tangga maupun penyalahgunaan napza . arkotika psikotropika dan zat adiktif lainny. , masalah dalam perkawinan dan pekerjaan, masalah di pendidikan, dan mengurangi produktivitas secara signifikan. Gangguan jiwa yang paling banyak ditemui adalah gangguan mental emosional yang terdiri dari gangguan depresi dan cemas. Gangguan ini dapat dengan mudah dikenali dan dideteksi dini. Orang dengan penyakit fisik kronis, baik infeksi & non-infeksi. Orang dengan keluhan fisik yang timbul/memberat jika ada masalah psiki. keluhan fisik beraneka ragam/bergantiganti. Orang yang mengalami pengalaman hidup yang ekstrem . rauma psikologis, stress yang berat, kehilanga. Orang dengan Mereka adalah kelompok orang yang mempunyai risiko tinggi mengalami masalah kesehatan jiwa. Keluhan utama gangguan mental emosional dapat berupa: Keluhan Fisik, yaitu keluhan mengenai kondisi fisik dan tidak jelas berlatar belakang mental emosional. Contoh: panas, batuk, pilek, mencret, muntah, borok, luka, perdarahan dan lain-lain Keluhan Psikosomatik, yaitu keluhan fisik/jasmani yang diduga berkaitan dengan masalah kejiwaan . ental emosiona. Contoh: berdebar-debar, tengkuk pegal, tekanan darah tinggi, uluhati perih. kembung, gangguan pencernaan . sesak napas, mengik . ejala respiratoriu. gatal, eksim . ejala dermatolog. encok, pegal-pegal, kejang, sakit kepala . ejala muskuloskeleta. gangguan haid, keringat dingin disertai debar-debar . ejala hormonal-endokrin Keluhan Mental Emosional, yaitu keluhan yang berkaitan dengan masalah kejiwaan. Contoh: mendengar bisikan, melihat bayangan iblis, telanjang di depan umum . ejala psikoti. cemas / takut tanpa sebab yang jelas, gelisah, panik, pikiran dan/atau perilaku yang berulang . ejala neurotik/cema. bergairah, putus asa, ide kematian . ejala penyalahgunaan atau ketergantungan terhadap narkoba . angguan penggunaan zat ayan, bengong, kejang-kejang . gejala pada anak-anak dan remaja seperti kesulitan belajar, tak bisa mengikuti pelajaran di sekolah, . etardasi menta. , atau gangguan perkembangan. , atau gejala psikotik pada anak seperti gejala autisme pada kanak, hiperaktivitas, gangguan pemusatan perhatian dan sebagainya Deteksi dini ini dapat dilakukan oleh kader kesehatan, keluarga, guru dan tenaga Secara umum masyarakat kita masih minim pengetahuan tentang tanda dan gejala gangguan jiwa, hal ini diperburuk juga oleh pengaruh stigma negatif terkait sosial budaya yang menganggap penderita gangguan jiwa adalah aib memalukan bagi keluarga, akibat kutukan, terkait dengan hal mistis, misalnya kesurupan, dll. Yang menyebabkan pencarian pertolongan yang tidak tepat, misalnya berobat menyelesaiakan masalah. bahkan seringkali karena dianggap aib dan memalukan maka penderita AudisembunyikanAy , dipasung, dan tidak berobat selayaknya. Gangguan kejiwaan bisa diobati secara medis. Gangguan jiwa jenisnya sangat beragam, tapi setidaknya ada beberapa gejala umum yang bisa dijadikan panduan bagi masyarakat awam untuk mengetahuinya, dan selanjutnya menjadi alasan untuk sesegera mungkin berobat ke pelayanan medis atau rumah sakit. Karena penemuan gejala sejak dini dan berobat lebih awal hasilnya jelas lebih baik. Gejala gangguan jiwa secara umum sebagai Adanya ketidak kesesuaian antara pikiran, perasaan dan tindakan Hilangnya semangat hidup berkepanjangan Sering bicara / tertawa / menangis sendiri Cara berfikir yang aneh dan tidak wajar Mempunyai keyakinan yang tidak masuk akal Rasa takut, cemas yang berlebihan Perasaan curiga berlebihan dan tidak wajar Tidak mampu merawat diri Menarik diri dari lingkungan sosial Merasa tidak berguna, rendah diri Mengungkapkan keinginan untuk bunuh diri Bertindak dan berperilaku aneh Menggangu / membahayakan lingkungan Berbicara tidak jelas, tidak AunyambungAy Keluyuran tak jelas arah dan tujuan Perubahan alam perasaan yang sangat ekstrim dari sedih ke gembira, atau sebaliknya Gagasan dan cara berfikir yang aneh dan tidak Dengan memahami gejala dini tersebut, diharapkan masyarakat bisa secara dini memahami, dan mampu mendeteksi gejala awal penyakit jiwa di masyarakat, dan apabila menemukannya segera berobat ke pelayanan Kader Petrus Nugroho Djoko Santoso1. Suryo Pratikwo 2. Nur Zakiyah3 . Ulfah Agus Sukrillah 4 ,Sudirman 5 Page 6 Of 12 The Journal of Cross Nursing Copyright : @ 2024 Petrus Nugroho Djoko Santoso keterjangkauan terdekat dengan masyarakat dalam membantu meningkatkan kesehatan Namun memperlihatkan masih minimnya pemahaman kader kesehatan jiwa mengenai deteksi dini gangguan jiwa serta cara merawat penderita gangguan jiwa. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuannya dalam mendeteksi dini gangguan jiwa serta merawat penderita gangguan jiwa. Metoda yang digunakan adalah ceramah, diskusi, tanya jawab dan demonstrasi, sosiodrama, disertai penggunaan video, slide serta leaflet sebagai media kesehatan dengan metode sosiodrama tentang Deteksi dini gangguan kesehatan jiwa, kemudian didiskusikan dan dievaluasi bersama sedangkan kelompok kontrol hanya diberikan audio visual saja dalam promosi kesehatan. Adapun intervensi yang diberikan pada kelompok perlakuan terlebih dahulu dilakukan pre-test, kemudian diberikan perlakuan dengan promosi kesehatan menggunakan metode sosiodrama tentang Deteksi dini gangguan kesehatan jiwa, kemudian didiskusikan dan dievaluasi, setelah itu dilakukan post-test. Sedangkan kelompok kontrol akan diberikan promosi kesehatan dengan menggunakan audio visual yang berisi tentang Deteksi dini gangguan kesehatan jiwa. Pemberian promosi kesehatan diberikan oleh kader kesehatan yang telah terlatih dan dibina oleh petugas kesehatan Puskesmas Dukuh tentang Deteksi dini gangguan kesehatan jiwa. Berikut ini adalah kerangka konsep penelitian yang akan dilakukan: TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN TUJUAN KEGIATAN Tujuan umum Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas metode sosiodrama dalam upaya mendeteksi secara dini gangguan Promkes dengan jiwa pada masyarakat VARIABEL VARIABEL metode sosio INDEPENDENT DEPENDENT Tujuan khusus drama, diskusi Adapun tujuan khusus kegiatan penelitian ini Deteksi dini Kelompok Intervensi: kesehatan jiwa Kelompok Memberikan pengetahuan kepada masyarakat Deteksi dini Kontrol: tentang orang dengan gangguan kesehatan jiwa Promkes Memberikan pengetahuan kepada masyarakat Sehingga, rancangan penelitian ini adalah tentang tanda dan gejala orang dengan Kelompok intervensi : O1 X1 gangguan kesehatan jiwa Kelompok kontrol : O1 X2 Memberikan pengetahuan kepada masyarakat Keterangan: tentang cara mendeteksi dini gangguan O1 = Pre test untuk mengetahui tingkat kesehatan jiwa pengetahuan tentang Deteksi dini gangguan Mengetahui pengaruh metode sosiodrama kesehatan jiwa terhadap upaya deteksi dini gangguan jiwa O2 = Post test untuk mengetahui perubahan pada masyarakat tingkat pengetahuan tentang Deteksi dini gangguan kesehatan jiwa. MANFAAT KEGIATAN Intervensi dengan menggunakan media AVA Adapun manfaat dari kegiatan ini adalah dengan metode sosio drama dan diskusi dalam untuk memberikan pengetahuan dan sebagai promosi kesehatan. upaya deteksi dini gangguan kesehatan jiwa pada masyarakat, sehingga mampu mendeteksi 2 Intervensi dengan menggunakan audio visual sebagai media promosi kesehatan. dini kesehatan jiwa di lingkungannya dan orang dengan gangguan kesehatan jiwa dapatB. POPULASI DAN SAMPEL segera ditangani. Populasi Hasil penelitian ini dapat memberikan Populasi dalam penelitian ini adalah Kelompok masukan sehingga dapat digunakan untuk dasa wisma dan kader kesehatan yang tercatat bahan referensi penelitian lebih lanjut. sebagai anggota binaan wilayah kerja Puskesmas Dukuh kota Pekalongan. Sampel Sampel penelitian ini dengan menggunakan DESAIN PENELITIAN purposive sampling method. Sampel ini dipilih Rancangan atau desain yang digunakan dalam dengan kriteria inklusi yaitu Kelompok dasa penelitian ini adalah quasi experimental wisma dan kader kesehatan yang tercatat dengan pre-post test with control group design, sebagai anggota binaan wilayah kerja dimana rancangan ini mengukur perbedaan Puskesmas Dukuh kota Pekalongan, aktif antara sebelum dan sesudah dilakukan dalam kegiatan dalam kurun waktu 3 bulan intervensi dengan menggunakan kelompok terakhir, usia produktif O 45 tahun, dapat Perbedaan antara sebelum dan sesudah membaca dan menulis, serta pendidikan intervensi diasumsikan merupakan efek dari minimal tamat Sekolah Dasar (SD). intervensi (Polit. Beck & Hungler, 2. Kelompok perlakuan akan diberikan promosi METODE PENELITIAN Petrus Nugroho Djoko Santoso1. Suryo Pratikwo 2. Nur Zakiyah3 . Ulfah Agus Sukrillah 4 ,Sudirman 5 Page 7 Of 12 Copyright : The Journal of Cross Nursing @ 2024 Petrus Nugroho Djoko Santoso WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN Waktu Penelitian Kegiatan untuk penelitian dimulai dari persiapan, pelaksanaan dan penyusunan laporan di mulai dari bulan Agustus sampai dengan Desember 2023. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di Kelompok dasa wisma dan kader kesehatan yang tercatat sebagai anggota binaan wilayah kerja Puskesmas Dukuh Pekalongan Pekalongan. dilaksanakan pada bulan Agustus s/d Desember 2023. Responden yang terpilih menjadi sampel sejumlah 54 responden yang terbagi menjadi 27 orang untuk kelompok intervensi dan 27 responden untuk kelompok Data penelitian yang diperoleh melalui pengisian kuesioner sebelum dan sesudah perlakuan baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol, dimana isi kuesioner mencakup karakeristik responden yaitu nama, umur, dan tingkat pendidikan serta 10 pertanyaan tingkat pengetahuan tentang pengetahuan deteksi dini gangguan kesehatan jiwa. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Cara pengumpulan data yang akan dilakukanA. Hasil Penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Karakteristik Responden Peneliti mengajukan surat ijin penelitian di a. wilayah Kota Pekalongan kepada Walikota Pekalongan melalui Kepala Bappeda kota Pekalongan, dengan surat pengantar dari Ketua Program Studi D-i Keperawatan Pekalongan. Setelah mendapatkan surat ijin penelitian, selanjutnya peneliti melakukan penjajagan dan koordinasi dengan Kepala Puskesmas Dukuh kota Pekalongan. Selanjutnya, tim peneliti bekerjasama dengan kader kesehatan wilayah kerja Puskesmas Dukuh kota Pekalongan Pekalongan untuk perencanaan promosi kesehatan dengan menggunakan Audio Visual dengan menggunakan metode Sosiodrama. Sebelum dilakukan implementasi, tim peneliti bersama kader kesehatan melakukan proses seleksi dasa wisma sesuai dengan kriteria inklusi yang ditetapkan. Setelah implementasi, tim peneliti dan kader mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari jalannya sosio drama Deteksi dini gangguan kesehatan jiwa. ANALISA DATA Univariat Analisa pada variabel yang diteliti berdasarkan Karakteristik responden yang terdiri dari umur, pekerjaan, pendidikan serta tendensi sentral yang terdiri dari Mean. Median, distribusi Frekuensi, dan presentasi. Bivariat Pada analisa ini merupakan analisa pada dua variabel atau lebih. Analisa data pada penelitian ini dengan menggunakan Uji beda pada kedua kelompok yang tidak berpasangan dengan menggunakan uji independet T. Tes atau dengan uji Maan Whithney dengan signifikasi P Value < 0. yang sebelumnya terlebih dahuli dilakukan uji normalitas data. Usia Responden penelitian adalah kelompok dasa wisma dan kader kesehatan yang tercatat sebagai anggota binaan wilayah kerja Puskesmas Dukuh kota Pekalongan usia produktif O 45 tahun, sebanyak 27 responden sebagai kelompok intervensi dan 27 orang di Desa Dukuh sebagai kelompok kontrol. Data keseluruhan responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol Kelompok Usia Intervensi Persentase Kontrol Persentase (%) (%) 21 Ae 28 Tahun 29 Ae 36 Tahun 37 Ae 45 Tahun Jumlah Berdasarkan tabel diatas, diperoleh rentang usia responden pada kelompok intervensi tertinggi dengan usia 29-36 tahun yaitu 48,1% dan terendah . ,2%) antara usia 37-45 tahun. Berbeda dengan usia responden pada kelompok kontrol yaitu tertinggi 70,4% berada pada rentang usia 21-28 tahun dan terendah pada usia 37-45 tahun yaitu 7,4%. Pendidikan Pendidikan responden baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol diukur berdasarkan pendidikan terakhir pada saat pengambilan data. Data keseluruhan responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat di tabel 5. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui untuk mengetahui efektifitas metode sosiodrama dalam upaya mendeteksi secara dini gangguan jiwa pada masyarakat yang Petrus Nugroho Djoko Santoso1. Suryo Pratikwo 2. Nur Zakiyah3 . Ulfah Agus Sukrillah 4 ,Sudirman 5 Page 8 Of 12 Copyright : The Journal of Cross Nursing @ 2024 Petrus Nugroho Djoko Santoso Tabel 5. Distribusi Frekuensi Pendidikan Terakhir Responden Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Kelompok Pendidikan Intervensi Persentase (%) Kontrol Persentase (%) SLTP SLTA Jumlah Berdasarkan tabel 4. 2 diketahui bahwa pendidikan responden hampir merata pada semua responden. Akan tetapi responden pada kelompok intervensi paling banyak memiliki latar belakang pendidikan SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Ata. sebesar 33,3% dan terendah 11,1% dengan latar belakang pendidikan SD (Sekolah Dasa. Sementara pada kelompok kontrol, responden yang memiliki persentase terbanyak yaitu dengan latar belakang pendidikan SLTP (Sekolah Menengah Tingkat Pertam. sebesar 40,7% dan responden terendah 14,8% dengan latar belakang pendidikan PT (Perguruan Tingg. Tingkat Pengetahuan Responden Kelompok Intervensi Hasil analisis tingkat pengetahuan tentang deteksi dini gangguan kesehatan jiwa pada kelompok intervensi dapat ditunjukkan pada Tabel 5. Skor Pengetahuan Responden Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Kelompok Intervensi Sebelum Perlakuan Sesudah Perlakuan Skor Pengetahuan (F) Jumlah Persentase (F) (%) Persentase (%) Hasil penelitian pada tabel 5. bahwa peningkatan skor pengetahuan responden sebelum dan sesudah perlakuan terlihat dengan jelas, sebelum perlakuan menggunakan metode sosiodrama dan diskusi masih ada responden yang mempunyai skor kurang dari 7 dan sebagian besar responden mempunyai skor 7. Sesudah perlakuan menggunakan metode sosio drama dan diskusi semua responden mempunyai skor pengetahuan di atas 7 dan sebagian responden mempunyai skor 9. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan metode Sosiodrama dan Diskusi dapat meningkatkan skor pengetahun responden tentang deteksi dini gangguan kesehatan jiwa. Tingkat Pengetahuan Responden Kelompok Kontrol Hasil analisis tingkat pengetahuan tentang deteksi dini gangguan kesehatan jiwa pada kelompok kontrol dapat ditunjukkan pada Tabel 5. Tingkat Pengetahuan Responden Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Kelompok Kontrol Skor Sebelum Perlakuan Pengetahuan (F) Persentase (%) Sesudah Perlakuan (F) Persentase (%) Jumlah Berdasarkan tabel 5. pengetahuan pada kelompok kontrol sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan dengan menggunakan Audio Visual, terlihat bahwa terjadi peningkatan skor pengetahuan, sebelum memperoleh skor di bawah 5, setelah perlakuan tidak ada lagi responden yang memperoleh skor di bawah 5, kemudian terjadi peningkatan jumlah responden yang memperoleh skor 9. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan metode Audio Visual dapat meningkatkan skor pengetahun responden tentang deteksi dini peningkatannya belum maksimal karena masih ada yang memperoleh skor dibawah 7. Perbedaan Tingkat Pengetahuan Antara Kelompok Intervensi Dan Kelompok Kontrol Hasil analisis untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol diuraikan pada tabel 5. berikut ini : Petrus Nugroho Djoko Santoso1. Suryo Pratikwo 2. Nur Zakiyah3 . Ulfah Agus Sukrillah 4 ,Sudirman 5 Page 9 Of 12 Copyright : The Journal of Cross Nursing @ 2024 Petrus Nugroho Djoko Santoso Tabel 5. Hasil Analisis Perbedaan Tingkat Pengetahuan Pada Kelompok Intervensi Dan Kelompok Kontrol. Variabel Kelompok Intervensi Kontrol Mean A SD Mean A SD Sebelum Perlakuan 7,15 A 0,86 6,48 A1,34 Sesudah Perlakuan 8,78 A 0,51 7,78 A 1,25 p-value 0,000 0,000 Data Selisih 1,63 A 0,74 1,30 A 1,03 p-value 0,000 0,000 Menurut hasil analisis penelitian pada tabel dapat diuraikan bahwa hasil uji beda kelompok berpasangan antara kelompok sebelum dan sesudah perlakuan dengan menggunakan metode sosiodrama dan diskusi didapatkan nilai p=0,000 . <0,. artinya ada perbedaan yang bermakna tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil uji beda kelompok berpasangan pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah perlakuan dengan menggunakan audio visual didapatkan nilai p = 0,000 . <0,. artinya ada perbedaan yang bermakna tingkat pengetahuan pada kelompok kontrol sebelum perlakukan dan sesudah perlakuan menggunakan . Sedangkan hasil uji beda kelompok tidak berpasangan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum didapatkan nilai p=0,000 . <0,. artinya ada perbedaan yang bermakna tingkat pengetahuan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum perlakuan. Hasil uji beda kelompok tidak berpasangan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol sesudah perlakuan didapatkan nilai p = 0,000 . <0,. artinya ada perbedaan yang bermakna tingkat pengetahuan pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sesudah perlakuan. Pembahasan Deteksi dini merupakan upaya awal untuk mengenali atau menandai gejala atau ciri-ciri yang ada pada seseorang terkait gangguan jiwa. Deteksi dini dilakukan untuk mencegah meningkatnya gangguan jiwa di masyarakat, hasil yang diperoleh di lapangan memudahkan pengelola dalam memberikan penanganan segera untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan jiwa (Sahriana, 2. Pada permasalahan seperti ini dibutuhkan tindakan salah satunya dengan pemberian promosi kesehatan jiwa. Upaya promosi kesehatan jiwa ialah upaya yang dilakukan agar masyarakat tetap sehat atau bahkan kesehatannya lebih baik. Promosi kesehatan jiwa ini adalah salah satu upaya promotif yang dapat dilakukan bersama tokoh masyarakat atau tokoh yang berpengaruh di masyarakat untuk mencegah adanya penurunan kesehatan mental (Sidjabat et al. , 2. Salah satu cara promosi kesehatan yang dilakukan adalah pemberian sosiodrama dan audio visual. Sosiodrama dalam penelitian ini merupakan permainan peran yang dilakukan untuk mendeskripsikan tentang deteksi dini gangguan kesehatan jiwa yang dilakukan oleh anggota binaan dasa wisma dan kader kesehatan jiwa wilayah kerja Puskesmas Dukuh Kota Pekalongan. Peran kader kesehatan jiwa adalah melakukan deteksi dini pada warga yang mengalami gangguan jiwa, peran lain yang dilakukan kader yaitu memberikan penyuluhan kesehatan pada saat pertemuan PKK dan Dasa Wisma (Iswanti et , 2. Pada penelitian ini rentang usia responden anggota binaan dasa wisma dan kader kesehatan jiwa wilayah kerja Puskesmas Dukuh Kota Pekalongan adalah 21-45 tahun dimana menurut data BPS pada tahun 2020 menyatakan rentang usia produktif adalah pada usia 15-64 tahun (BPS, 2. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Banowati . bahwa umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam penelitian-penelitian merupakan salah satu hal yang mempengaruhi Umur adalah lamanya waktu hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan sampai berulang tahun yang Umur mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan, responden sudah pernah mengikuti pendidikan formal mulai dari SD sampai dengan perguruan tinggi, artinya responden dengan latar belakang pendidikannya mampu menerima informasi, ide-ide dan teknologi yang baru. Menurut Budiman & Riyanto . pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam proses belajar, semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah orang tersebut menerima berbagai informasi dan meningkatkan Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa seseorang yang berpendidikan rendah akan memiliki pengetahuan yang rendah, serta sikap yang tidak baik. Tinggi serta rendahnya tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang tidaklah hanya didapatkan dari pendidikan formal saja, pengetahuan juga dapat diperoleh melalui pendidikan informal, seperti melalui media sosial yang dapat dengan mudah diakses oleh setiap kelompok maupun individu. Petrus Nugroho Djoko Santoso1. Suryo Pratikwo 2. Nur Zakiyah3 . Ulfah Agus Sukrillah 4 ,Sudirman 5 Page 10 Of 12 The Journal of Cross Nursing Copyright : @ 2024 Petrus Nugroho Djoko Santoso didapat dari pengalaman, serta dapat juga didapat dari lingkungan sosial (Syakurah et al. Tingkat pengetahuan dapat menjadikan seseorang memiliki kesadaran sehingga berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang Perubahan perilaku yang dilandasi pengetahuan membuat kader yakin untuk melakukan deteksi dini gangguan jiwa tanpa paksaan tapi berdasarkan kesadaran kader (Pratama & Widodo, 2. Hasil penelitian tingkat pengetahuan responden pada kelompok intervensi dengan metode sosiodrama dan diskusi menunjukkan bahwa terdapat peningkatan skor pengetahuan responden tentang deteksi dini gangguan kesehatan jiwa. Menurut Nugraha & Ajie . teknik sosiodrama adalah permainan peran yang ditujukan untuk memecahkan masalah sosial yang timbul dalam hubungan antar manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode sosiodrama dan diskusi lebih efektif meningkatkan pengetahuan responden, hal ini dikarenakan teknik sosiodrama memiliki signifikansi terhadap kemampuan komunikasi interpersonal, artinya teknik sosiodrama efektif untuk meningkatkan (Syalafiah & Rima, 2. Sedangkan hasil tingkat pengetahuan menunjukkan bahwa penggunaan metode audio visual dapat meningkatkan skor pengetahuan responden tentang deteksi dini peningkatannya belum maksimal karena masih ada yang memperoleh skor dibawah 7. Penggunaan media audiovisual dalam edukasi kesehatan membuat responden dapat menyerap melibatkan dua indera terbesar dalam pendengaran serta indera penglihatan (Sasmita et al. , 2. Hasil pengetahuan pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah perlakuan dengan nilai p=0,0000. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Febrianto et al. , . di Desa Banyutowo dengan jumlah 62 sampel satu kelompok. Pemaparan pengetahuan yang diberikan melalui pendidikan kesehatan berupa materi yang dilakukan dengan metode Pengukuran pengetahuan dilakukan pretest dan posttest pendidikan kesehatan dengan hasil secara statistik ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan kader. Penelitian lain yang dilakukan oleh Purnomo . juga menyampaikan hal yang sama dengan sampel 33 responden satu Intervensi yang diberikan kepada sampel berupa promosi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan responden. Hasil pengukuran pretest menunjukan pengetahuan responden dengan rerata 19,30 dan posttest dengan rerata 20,36 dengan nilai p sebesar 0,044 < 0,05 () yang berarti signifikan. Maka pengetahuan kader kesehatan jiwa setelah diberikan promosi kesehatan. DAFTAR PUSTAKA