Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 HUBUNGAN HYGIENE DAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA Zairinayati1. Rio Purnama2 Program Studi Di Kesehatan Lingkungan. STIKES Muhammadiyah Palembang1,2 zairinayati@yahoo. purnama1210@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Stunting merupakan salah satu bentuk kurang gizi berupa keterlambatan pertumbuhan linear. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah pengetahuan gizi ibu yang kurang sehingga cendrung untuk memberikan makanan kepada anaknya tanpa memandang kandungan gizi, mutu dan keanekaragaman makanan. Faktor lain adalah perilaku higiene sanitasi makanan yang kurang baik, menyebabkan penyakit infeksi disertai gangguan seperti nafsu makan berkurang dan muntah-muntah. Kondisi ini dapat menurunkan keadaan gizi balita dan berimplikasi buruk terhadap kemajuan pertumbuhan anak . Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kondisi hygiene sanitasi lingkungan . enis jamban, sumber air bersih, kejadian diare, kejadian kecacinga. dengan kejadian stunting pada. Metode: ini adalah case control dengan pendekatan retrospective study, dengan analisis data menggunakan uji statistik chi square. Populasi kasus dalam penelitian ini adalah seluruh anak balita yang berumur 1-5 tahun yang dinyatakan mengalami stunting oleh dokter/petugas paramedis dan populasi kontrol adalah balita yang dinyatakan tidak menderita stunting dengan besar sampel 30 kasus dan 30 kontrol. Hasil: Anak yang menderita stunting sebesar 43, 3% berada pada rentang umur 3,2 - 3,9 tahun, memiliki berat badan 9-15 kg sebanyak 73,3% dan 97% keluarga memilki pendapatan rendah . urang dari juta/bula. Hasil uji bivariat didapatkana ada hubungan antara jenis jamban, sumber air bersih dengan kejadian stunting pada balita. Namun tidak ada hubungan antara kejadian kecacingan dengan stunting. Saran: kepada tenaga sanitarian khususnya agar dapat memberikan informasi kesehatan terkait dengan penggunaan air bersih, dan menggunakan jamban, karena daerah yang kondisi sanitasinya buruk, ditandai dengan rendahnya akses rumah tangga ke jamban sehat, umumnya punya prevalensi stunting yang tinggi dan perlu menggunakan pendekatan dengan analisis kohort untuk mengamati pengaruh langsung dari kejadian stunting. Keyword : Stunting. Sanitasi. Diare ABSTRACT Background: Stunting is one form of malnutrition in the form of linear growth delay. One of the factors that influence is the lack of knowledge of maternal nutrition so it tends to provide food to children regardless of the nutritional content, quality and diversity of food. Another factor is the behavior of poor food sanitation hygiene, causing infectious diseases accompanied by disorders such as reduced appetite and vomiting. This condition can reduce the nutritional condition of children and have bad implications for the progress of child growth . Objective: To find out the relationship between environmental sanitation hygiene conditions . ype of toilet, source of clean water, the incidence of diarrhea, the incidence of helminthiasi. and the incidence of stunting in children under five. Method: this is a case control with a retrospective study approach, and used chi square test. The case population in this study were all children under five who were 1-5 years old who were declared stunted by doctors / paramedics and the control population were toddlers who were declared not suffering from stunting with 30 cases and 30 control. Results. Children who suffer from stunting are 43, 3% are in the age range of 3. 2 - 3. 9 years, have a weight of 9-15 kg as much as 73. and 97% of families have low income . ess than million / mont. Bivariate test results obtained a relationship between the type of toilet, the source of clean water and the incidence of stunting in But there was no relationship between the incidence of helminthiasis and stunting. Suggestion: especially for sanitarian personnel to be able to provide health information related to the use of clean water, and to use latrines, because areas with poor sanitation conditions are indicated by Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 78 Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 low access to healthy latrines, generally having a high prevalence of stunting and need to use an approach with cohort analysis to observe the direct effect of the incidence of stunting. Keywords: Stunting. Sanitation. Diarhea berakibat kurang gizi. (Properawati dan PENDAHULUAN Stunting ini merupakan keadaan Kusumawati, 2. Kurang gizi sangat tidak normal tubuh yang disebabkan oleh lebih dari satu faktor . Anak mental dan kemampuan berpikir. Anak yang stunting akan mengalami gangguan pertumbuhan tinggi badan atau panjang penurunan Intelligence badan, dimana pertumbuhan tinggi badan sebesar 10-15 poin (Bappenas, 2. Quotient (IQ) Masalah gizi pada bayi dan balita bertambahnya usia. Stunting pada anak berdampak besar terhadap perkembangan merupakan hasil jangka panjang konsumsi dan pertumbuhan pada masa bayi dan yang bersifat kronis, diet berkualitas balita terutama pada dua tahun awal Balita morbiditas, penyakit infeksi dan masalah merupakan hasil dari masalah gizi kronis Selain faktor di atas faktor sebagai akibat dari asupan makanan yang risiko lain penyebab stunting menurut kurang, ditambah dengan penyakit infeksi. WHO ialah kejadian BBLR (Berat Badan Lahir Renda. , riwayat pemberian ASI lingkungan fisik dan sanitasi di sekitar rumah sangat memengaruhi kesehatan kualitas dan jumlah MP-ASI, dan praktik penghuni rumah tersebut termasuk status Dengan paktik higiene yang buruk mengindikasikan bahwa faktor lingkungan Keadaan Keadaan sebagai faktor penentu stunting tidak menyebabkan anak kehilangan zat-zat gizi berdiri sendiri, ada faktor lain yang secara yang penting bagi pertumbuhan. (Desyanti bersama-sama dan Nindya. misalnya penyakit infeksi dan pola asuh. Pada usia balita pertumbuhan anak Anak yang sering sakit akan memengaruhi sangat pesat sehingga memerlukan asupan asupan makan yang kurang sehingga zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan Apabila asupan zat gizi tidak Asupan makanan bukan merupakan satu- memenuhi kebutuhan balita maka dapat Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 79 Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 penyebabnya multifaktorial. Faktor-faktor kemiskinan, kepadatan penduduk dan makanan tambahan dan waktu pemberian kemungkinan kontaminasi makanan serta makananya serta kebiasan hidup sehat. Hal penyakit infeksi dapat berdampak pada ini sangat berpengaruh terhadap kejadian status kesehatan anak. (Cahyono, dkk. stunting balita. (Ngaisyah. D 2. Ramli et al. , menyatakan Stunting bahwa sosial ekonomi keluarga yakni bentuk kurang gizi berupa keterlambatan pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan pertumbuhan linear. Masalah stunting terkait dengan masalah gizi dan kesehatan terjadinya stunting pada anak. Hal ini ibu hamil dan menyusui, bayi yang baru sejalan dengan hasil penelitian Riyadi et lahir dan anak di bawah dua tahun . , yang dilakukan di Timor . Masa-masa ini lebih dikenal Tengah Utara menemukan bahwa angka kehidupan manusia. Periode ini merupakan positif dengan lingkungan fisik rumah proses pertumbuhan dan perkembangan . ermasuk ketersediaan air bersi. yang sistem dan organ tubuh manusia. Periode baik yang mengindikasikan baiknya sosial ini sangat sensistif karena dampak yang ekonomi keluarga, pengetahuan gizi ibu ditimbulkan dapat bersifat permanen dan dan perilaku gizi ibu. Status gizi balita tidak dapat dikoreksi (Direktorat Jendral juga dipengaruhi oleh lingkungan. Adanya Bina Gizi, 2. perbedaan lokasi . ingkungan ekosiste. Masalah yang ada dimana mereka tinggal dan berkembang sekarang ini antara lain adalah disebabkan akan menghasilkan perilaku yang berbeda. karena konsumsi yang tidak adekuat Situasi ini dapat memberikan konsekuensi dipandang sebagai suatu permasalahan dan meluasnya permasalahan malnutrisi, ekologis yang tidak saja disebabkan oleh berikut implikasinya pada perkembangan ketidakcukupan ketersediaan pangan dan dan kualitas hidup anak (Manongga 2. zat-zat gizi tertentu tetapi juga dipengaruhi Kejadian balita pendek atau biasa oleh kemiskinan, sanitasi lingkungan yang disebut dengan stunting merupakan salah kurang baik dan ketidaktahuan tentang satu masalah gizi yang dialami oleh balita Tingkat di dunia saat ini. Pada tahun 2017 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia untuk mencukupi kebutuhan zat gizi balita, mengalami stunting. Namun angka ini disamping itu keadaan sosial ekonomi juga Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 80 Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 dibandingkan dengan angka stunting pada karena faktor kemiskinan dan lingkungan tahun 2000 yaitu 32,6%. Pada tahun 2017, yang tidak sehat. (Nusantara. Medcom. lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia . %) sedangkan lebih Berdasarkan dari sepertiganya . %) tinggal di Afrika. Kabupaten Dari 83,6 juta balita stunting di Asia, beberapa status gizi bermasalah yang proporsi terbanyak berasal dari Asia penting untuk dipantau antara lain adalah Selatan . ,7%) dan proporsi paling BBLR. Kurang Energi Protein (KEP)/ sedikit di Asia Tengah . ,9%). Data Underweight, (Wastin. Kurang Gizi Kronis (Stuntin. dikumpulkan World Health Organization Dari data tersebut Kabupaten Banyuasin (WHO). Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi tertinggi menangani kasus stunting, sehingga hal ini di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR). Rata-rata prevalensi penelitian dari aspek kesehatan lingkungan balita stunting di Indonesia tahun 2005- tentang hubungan hygiene dan sanitasi 2017 adalah 36,4%. (Kemekes RI. lingkungan dengan kejadian stunting pada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan mencatat penderita stunting di Banyuasin Kesehatan Kurang Gizi Kecamatan Akut Banyuasin Kabupaten Banyuasin. wilayahnya bertambah selama dua tahun Data pada 2016 lalu Sumatera METODE PENELITIAN Rancangan Selatan tercatat sebagai provinsi kedua terendah jumlah penderita stunting yakni 19,2 persen. Namun pada 2017, penderita 22,8%. Dengan demikian peringkat sebelumnya terendah menjadi bertambah. Stunting hal Kepala Dinas Keesehatan Provinsi Sumatera Selatan pada 12 Maret 2018. Adapun beberapa daerah yang tercatat banyak ditemukan stunting di antaranya Banyuasin. Empat Lawang, dan Musi Rawas Utara. Adapun penyebab banyaknya ditemukan stunting Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan kasus-kontrol dengan metode retrospective membandingkan antara sekelompok orang yang menderita penyakit . dengan sekelompok lainnya yang tidak menderita penyakit . , kemudian dicari faktor penyebab timbulnya penyakit tersebut. Penelitian penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kejadian sakit. Aspek | 81 Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 meminta kesediaan orangtua responden kelamin, berat badan saat dilakukan pengukuran, kejadian penyakit infeksi wawancara dan peneliti tidak melakukan intervensi apapun terhadap responden. Waktu diare dan kecacingan. Puskesmas selama 2 bulan mulai dari proses perizinan Maryana banyuasin I kabupaten Banyuasin. yang memliki tinggi badan dan berat pengambilan data selama 1 minggu mulai badan yang sesuai usianya berdasaran tanggal 10 - 15 Juli 2017. pengukuran langsung. Juli-Agustus Bertempat tinggal di wilayah kerja Kriteria eksklusinya adalah balita Populasi dalam penelitian ini adalah Data yang diperoleh dari penelitian seluruh anak balita yang berumur 1 sampai ngan 5 tahun yang dinyatakan mengalami univariat dan bivariat menggunakan uji stunting oleh dokter/petugas paramedis. statistik chi square untuk mengetahui Populasi Kontrol adalah balita tetangga hubungan faktor hygiene dan sanitasi kasus yang bertempat tinggal di dekat lingkungan terhadap kejadian stunting rumah kasus, dinyatakan tidak menderita pada balita. stunting oleh tenaga kesehatan yang sudah terlatih . okter, bidan, perawa. Jumlah HASIL PENELITIAN kontrol diambil sesuai dengan jumlah Penelitian ini dilaksanakan pada Besar sampel penelitian sebanyak bulan Juni 2017. Data responden untuk 30 kasus dan 30 kontrol. Jumlah kasus kasus dan kontrol yang diambil adalah yang diperoleh berdasarkan catataan pada responden yang berjenis kelamin laki-laki buku KMS responden dengan mengukur dan perempuan dengan usia antara 1-5 tinggi badan dibandingkan dengan usia tahun bertempat tinggal di wilayah kerja data dikumpulkan lalu dikonversi ke dalam Puskesmas Maryana kecamatan banyuasin berat badan ideal anak usia 1-5 tahun. I kabupaten Banyuasin. Analisis Univariat Analisa univariat merupakan analisa Kementerian Kesehatan RI. data yang menyajikan distribusi frekuensi Adapun kriteria inklusi sampel kasus tiap-tiap variable, yang dapat dilihat pada Balita yang berumur 0-59 bulan dengan kelengkapan data umur, jenis Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 82 Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur Jumlah Umur Stunting Normal (Tahu. 2,1 Ae 2,9 3,33 3,2 Ae 3,9 4 Ae 4,5 13,33 5,1 Ae 5,4 23,33 3,33 Jumlah Tabel diatas menunjukkan bahwa Tingkat Pendidikan Orang Tua penghasilan orang tua pada kelompok Distribusi kasus lebih banyak rugi kurang dari 1 juta tingkat pendidikan orang tua, dapat dilihat orang sedangkan pada kelompok kontrol pada tabel berikut. penghasilan orang tua ada pada kisaran 1 juta sampai 2,5 juta. Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Orang Tua Stunting Normal Jumlah Tua Tidak Sekolah Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA 3,33 Tamat Perguruan Tinggi Tingkat Pendidikan Orang Jumlah Untuk pendidikan orang tua pada kelompok kasus adalah lebih banyak tidak Kepemilikan Jenis Jamban Distribusi tamat SD sebanyak 16 orang, sedangkan kepemilikan jenis jamban, dapat dilihat pada kelompok kontrol orang tua yang pada tabel berikut. balita lebih banyak tamat SMA sebanyak 21 orang. Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 83 Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 Tabel. Distribusi Responden Berdasarkan Kepemilikan Jenis Jamban Tingkat Pendidikan Orang Tua Stunting Normal Jumlah WC duduk Cemplung Jumlah Jenis jamban yang dimiliki pada kelompok kasus ditemukan 18 Sumber Air Bersih Distribusi sumber air bersih, dapat dilihat pada tabel cemplun sebagai sarana pembuangan tinja. Tabel. Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Air Bersih Dari Jumlah Tingkat Pendidikan Orang Tua PAM Stunting Normal Sumur Jumlah Kejadian Kecacingan bahwa sumber air bersih yang digunakan Distribusi responden mayoritas memanfaatkan air kejadian kecacingan, dapat dilihat pada tanah/sumur sebagai sumber air bersih tabel berikut. yaitu 23 responden . %). Tabel. Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian Kecacingan Jumlah Tingkat Pendidikan Orang Tua Stunting Normal Tidak 3,33 Jumlah Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 84 Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 Dari Hasil analisa bivariate antara variable bahwa angka kejadian kecacingan sebesar hubungan jenis jamban dengan kejadian 2 kasus . ,7%). stunting pada balita, dapat dilihat pada Analisis Bivariat tabel berikut. Hubungan Jenis Jamban Kejadian Stunting Pada Balita Tabel. Hubungan Jenis Jamban dengan Kejadian Stunting Pada Balita Stunting Jenis Jamban Normal Jumlah Nilai p WC duduk Cemplung Jumlah 0,000 OR = 0,286. 95% CI . ,177 Ae 0,. Berdasarkan uji statistik Chi Square jamban yang tidak memenuhi syarat ternyata ada hubungan antara jenis jamban dengan kejadian stunting pada balita . = stunting 0,3 kali lebih besar dibandingkan 0,000 . OR = 0,286. CI 95% 0,177 Ae balita yang tinggal dengan jenis jamban 0,. Proporsi yang memenuhi syarat. Hubungan Sumber Air Bersih dengan Kejadian Stunting pada Balita Hasil analisa bivariate anatra variable . %), sementara pada kelompok kontrol tidak kejadian stunting pada balita, dapat dilihat Dengan nilai OR 0,286 artinya pada tabel berikut. balita yang tinggal di rumah dengan jenis Tabel 7. Hubungan Sumber Air Bersih dengan Kejadian Stunting pada Balita Sumber Air Bersih PAM Sumur Jumlah Stunting Normal Jumlah Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan Nilai p 0,001 | 85 Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 OR = 0,130. 95% CI . ,041 Ae 0,. Berdasarkan uji statistik Chi Square pengolahan . ir sumu. mempunyai risiko ternyata ada hubungan antara sumber air terjadinya untuk mengalami stunting 0,13 bersih dengan kejadian stunting pada balita kali lebih besar dibandingkan balita yang . = 0,001 . OR = 0,130. CI 95% 0,041 - tinggal dengan sumber air bersih yang 0,. Proporsi sumber air bersih dari sudah diolah. PAM pada kelompok kasus ada 7 rumah Hubungan Kejadian Kecacingan dengan Kejadian Stunting pada Balita Hasil analisa bivariate anatra variable . ,2%), sementara pada kelompok kontrol ada 21 rumah yang sudah menggunakan hubungan Kejadian Kecacingan dengan sumber air bersih dari PAM. Dengan nilai kejadian stunting pada balita, dapat dilihat OR 0,130 artinya balita yang tinggal di pada tabel berikut. rumah dengan sumber air bersih tanpa Tabel 8. Hubungan Kejadian Kecacingan dengan Kejadian Stunting pada Balita Stunting Kejadian Kecacingan Normal Jumlah Tidak 3,33 Jumlah Nilai p 0,492 OR = 0,483. 95% CI . ,370 Ae 0,. Berdasarkan uji statistik Chi Square stunting pada balita . = 0492 . OR = 0,483. CI 95% 0,370 Ae 0,. Proporsi Hubungan Kejadian Diare dengan Kejadian Stunting pada Balita Hasil analisa bivariate anatra variable hubungan Kejadian Diare dengan kejadian stunting pada balita, dapat dilihat pada tabel berikut. hanya ada 2 balita . ,7%), sementara pada kelompok kontrol tidak ada balita yang mengalami kecacingan. Tabel 9. Hubungan Kejadian Diare dengan Kejadian Stunting pada Balita Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 86 Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 Stunting Kejadian Diare Normal Jumlah Nilai p Tidak Jumlah 0,000 OR = 0,061. 95% CI . ,017 Ae 0,. Berdasarkan uji statistik Chi Square didapatkan nilai A sebesar 0,001 (< 0,. ternyata ada hubungan antara kejadian sehingga dapat disimpulkan ada hubungan kecacingan dengan kejadian stunting pada antara kejadian stunting balita dengan balita . = 0492 . OR = 0,483. CI 95% sumber air bersih. 0,370 - 0,. Dengan nilai OR 0,061 Hubungan Jenis Jamban dengan artinya balita yang terkena diare memiliki Kejadian Stunting Pada Balita risiko untuk mengalami stunting sebesar Pada 0,016 kali lebih besar dibandingkan balita berdasarkan hasil analisis diperoleh adanya yang tidak mengalami diare. hubungan yang bermakna antara jenis jamban yang digunakan dan sumber air Jenis jamban yang tidak layak PEMBAHASAN Berdasarkan data pada tabel 6 dapat kecenderungan untuk menderita stunting mengalami stunting yang menggunakan 0,3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan WC duduk leher angsa sebesar 40% balita yang mempunyai jamban yang . ukan cemplung sebesar 60%. Hasil analisa Keberadaan statistik didapatkan nilai A sebesar 0,000 memenuhi standar secara teori berpotensi (< 0,. sehingga dapat disimpulkan ada memicu timbulnya penyakit infeksi yang hubungan antara kejadian stunting balita karena higiene dan sanitasi yang buruk dengan jenis jamban. Pada tabel. 7 dapat . isalnya diare dan kecacinga. yang dapat menganggu penyerapan nutrisi pada mengalami stunting yang menggunakan proses pencernaan. Beberapa penyakit sumber air bersihnya dari PAM sebesar 23% sedangkan yang menggunakan sumur menyebabkan berat badan bayi turun. Jika sebesar 70%. Hasil analisa kondisi ini terjadi dalam waktu yang Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 87 Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 cukup lama dan tidak disertai dengan . ,85%), sedangkan persentase terendah pemberian asupan yang cukup untuk adalah Bengkulu . ,83%). Masih terdapat 20 provinsi yang di bawah persentase (Buletin. Sumber air minum layak yang mengakibatkan stunting. Kemekes RI. Hasil terlindung meliputi air ledeng . , keran umum, hydrant umum, terminal air, pembuangan air limbah dengan kejadian penampungan air hujan (PAH) atau mata air dan sumur terlindung, sumur bor atau Puskesmas Tasikmadu (Dikky, dkk. pompa, yang jaraknya minimal 10 meter hal ini jika dikaji lebih jauh bahwa dari pembuangan kotoran, penampungan munculnya diare pada balita memiliki limbah, dan pembuangan sampah. Tidak kecendrungan untuk terjadi termasuk air kemasan, air dari penjual pertumbuhan anak akibat makanan yang keliling, air yang dijual melalui tangki, air sulit terserap, sehingga faktor sarana sumur dan mata air tidak terlindung. pembuangan limbah . sangat penting (Buletin. Kemekes RI. dari data diperhatikan walaupun hubungan yang diatas terlihat bahwa masih ada 28% akses terjadi secara tidak langsung berdampak terhadap air minum yang belum terpenuhi. pada balita. Hal ini juga memiliki kaitannya dengan Hubungan Sumber Air Bersih dengan kejadian diare. Sarana air bersih termasuk Kejadian Stunting pada Balita Sumber air yang menggunakan air Untuk sumur meningkatkan resiko balita untuk mencegah terjadinya diare maka air bersih 0,13 dibandingkan dengan dengan sumber air yang sudah diolah (PAM). Dari analisa di terlindungi/tidak terkontaminasi. Menurut hasil penelitian Ardiyanti. Besral . menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga dengan sumber mengindikasikan ada pengaruh sanitasi air yang tidak terlindung dan jenis jamban lingkungan dengan kejadian stunting. yang tidak layak mempunyai resiko untuk Pada tahun 2017, 72,04% rumah Indonesia menderita stunting 1,3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang berasal terhadap sumber air minum layak. Provinsi dari keluarga dengan sumber air terlindung dengan persentase tertinggi adalah Bali dan jenis jamban yang layak. Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 88 Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 Hubungan Kejadian Kecacingan dengan Kejadian Stunting pada Balita Riwayat mengalami stunting yang tidak mengalami kecacingan sebesar 93% sedangkan yang pernah mengalami kecacingan sebesar 6,7%. Hasil analisa statistik didapatkan nilai A sebesar 0,492 (>0,. sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara kejadian stunting balita dengan kejadian kecacingan. Hal ini jelas terlihat bahwa proporsi balita yang tidak terkena sama-sama untuk terkena mental anak. Inilah yang akhirnya jadi penyebab stunting. sebagaimana terdapat pada data tabel. dapat dilihat bahwa dirumah balita yang Beberapa penelitian tentang infeksi cacing ternyata menunjukkan bahwa anak usia sekolah merupakan golongan yang sering terkena infeksi cacing karena sering berhubungan dengan tanah. Infeksi cacing dapat menimbulkan kerugian zat gizi berupa kalori dan protein serta kehilangan Selain produktifitas kerja, dapat juga menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya. (Depkes dalam Renanti determinan terjadinya stunting pada balita. Hubungan Kejadian Diare dengan Kejadian Stunting pada Balita Sanitasi dan perilaku kebersihan Menurut Public Library of Science, yang buruk serta air minum yang tidak ada dua macam dampak yang ditimbulkan dari kecacingan yang menyerang anak- kematian anak akibat diare di seluruh anak, yakni anemia dan stunting. Penyebab Angka diare lebih tinggi sebesar anemia di antaranya karena kekurangan zat 66% pada anak-anak dari keluarga yang melakukan buang air besar di sungai atau riboflavin, vitamin A, dan vitamin B12. Selain itu, infeksi cacing juga bisa selokan dibandingkan mereka pada rumah tangga dengan fasilitas toilet pribadi dan penyebab stunting. Mulanya, septik tank. Angka diare juga tercatat 34% cacing yang menyerap nutrisi pada tubuh lebih tinggi pada anak-anak dari rumah anak akan yang menyebabkan nafsu tangga yang menggunakan sumur terbuka makan anak menurun sehingga lama untuk air minum dibandingkan dengan kelamaan anak akan mengalami masalah anak-anak kekurangan gizi. Jika masalah gizi ini menggunakan air ledeng. tidak ditangani dengan segera, maka bisa Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 89 Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Anak yang menderita stunting di menggunakan jamban dalam buang Kabupaten Banyuasin Tahun 2017 air besar, karena daerah yang sebesar 43, 3% berada pada rentang kondisi sanitasinya buruk, ditandai umur 3,2 Ae 3,9 tahun, 73,3% memiliki dengan rendahnya akses rumah berat badan 9-15 kg, berada pada tangga ke jamban sehat, umumnya keluarga yang memilki pendapatan punya prevalensi stunting yang Kecamatan . urang Banyuasin juta/bula. sebesar 97%, orang tua yang tidak 43,3%. Bagi ibu balita yang mengalami stunting agar diberikan pemahanan tamat SD, mengalami penyakit infeksi diare sebesar 76,7% sementara angka terjadinya penyakit infeksi yaitu kejadian kecacingan relatif kecil yaitu diare karena akan berdampak pada 6,7% . pengurangan nafsu makan dan Ada hubungan antara jenis jamban muntah-muntah sehingga asupan dengan kejadian stunting pada balita. makan balita kurang terpenuhi Ada hubungan sumber air bersih Ada stunting (Pvalue Diharapkan agar lebih memperluas mengetahui faktor determinan lain Bagi peneliti selanjutnya 0,001 . <0,. dengan kejadian pendidikan orang tua 53,3% hanya (Pvalue 0,000 . <0,. (Pvalue 0,001 yang mempengaruhi kejadian diare. Perlu . <0,. Tidak ada hubungan antara kejadian mengamati pengaruh langsung dari kecacingan dengan kejadian. (Pvalue kejadian stunting. 0,492 . >0,. Saran Bagi Puskesmas Diharapkan Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 90 Zairinayati1. Rio Purnama2 Volume 10. Juni 2019. Nomor 1 DAFTAR PUSTAKA