Jurnal Kajian Ilmiah e-ISSN: 2597-792X. ISSN: 1410-9794 Vol. 25 No. 3 (September 2. Halaman: 241 Ae 248 Terakreditasi Peringkat 4 (SINTA . sesuai SK RISTEKDIKTI Nomor. 158/E/KPT/2021 Hubungan Antara Self-Efficacy Dengan Burnout Kerja Pada Guru PAUD Di Kecamatan Bekasi Selatan Okta Eliza Sinaga 1,*. Netty Merdiaty 1 Fakultas Psikologi. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. e-mail: 202110515124@mhs. id, netty. merdiaty@dsn. * Korespondensi: e-mail: 202110515124@mhs. Submitted: 30/05/2025. Revised: 27/07/2025. Accepted: 25/08/2025. Published: 30/09/2025 Abstract This study aims to examine the relationship between self-efficacy and job burnout among Early Childhood Education (PAUD) teachers in the South Bekasi District. Burnout is considered a critical issue as it directly affects the quality of teaching and the psychological well-being of The research employed a quantitative correlational approach involving 247 teachers selected using a saturated sampling technique. Data were collected using validated and reliable self-efficacy and job burnout scales. A one-tailed Spearman correlation analysis revealed a very strong and statistically significant relationship between self-efficacy and burnout . = 0. 916, p < Based on these results, the hypothesis stating that there is a relationship between the two variables is accepted. However, the direction of the relationship was positive, which contrasts with previous findings that generally indicate a negative correlation. These findings suggest that in certain contexts, high self-efficacy may be associated with increased levels of burnout, particularly when job demands are high and external support is limited. Keywords: Burnout. Early childhood teacher. Self efficacy Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara self-efficacy dan burnout kerja pada guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kecamatan Bekasi Selatan. Burnout dipandang sebagai isu penting karena berdampak langsung terhadap kualitas pengajaran dan kesejahteraan psikologis guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 247 guru yang dipilih melalui teknik sampel jenuh. Instrumen penelitian terdiri atas skala self-efficacy dan skala burnout kerja yang telah melalui uji validitas dan Analisis data menggunakan korelasi Spearman satu arah menunjukkan adanya hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara self-efficacy dan burnout . = 0,916, p < 0,. Berdasarkan hasil tersebut, hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara kedua variabel dinyatakan diterima. Namun, arah hubungan yang ditemukan bersifat positif, berbeda dengan temuan penelitian sebelumnya yang umumnya menunjukkan hubungan negatif. Hasil ini mengindikasikan bahwa dalam konteks tertentu, self-efficacy yang tinggi justru dapat beriringan dengan peningkatan burnout, khususnya pada kondisi kerja dengan tuntutan tinggi dan dukungan eksternal yang terbatas. Kata kunci: Burnout. Guru pendidikan anak usia dini. Efikasi diri Pendahuluan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan tahap awal yang sangat krusial dalam membentuk dasar perkembangan kognitif, sosial, emosional, dan moral anak. Masa usia dini dikenal sebagai masa emas . olden ag. , di mana pengalaman dan stimulasi yang diberikan Available Online at http://ejurnal. id/index. php/JKI Okta Eliza Sinaga. Netty Merdiaty akan berdampak jangka panjang terhadap kualitas individu di masa mendatang (Ariani, 2. Dalam konteks ini, guru PAUD memegang peranan yang strategis. Mereka bukan hanya pendidik, melainkan juga fasilitator utama dalam menyediakan lingkungan belajar yang aman, positif, dan menstimulasi (Basri, 2. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa guru PAUD seringkali menghadapi beban kerja yang tidak sebanding dengan dukungan yang diterima. Mereka harus menangani tekanan administratif, tuntutan emosional dalam membina hubungan dengan anak-anak, serta keterbatasan sarana dan penghargaan profesi. Tekanan yang terus-menerus ini dapat memicu munculnya burnout, yaitu kondisi kelelahan emosional, depersonalisasi, dan berkurangnya pencapaian pribadi akibat stres kerja kronis (Maslach & Leiter, 2. Masalah yang dihadapi guru PAUD meliputi tingginya beban administrasi yang mengurangi fokus pada kegiatan pembelajaran, kurangnya dukungan emosional dan sosial dari lingkungan kerja, serta tuntutan peran ganda baik sebagai pendidik maupun pengasuh yang seringkali melelahkan secara fisik dan mental. Selain itu, keterbatasan fasilitas belajar, rendahnya penghargaan terhadap profesi guru PAUD, serta ketidakstabilan pendapatan menambah kompleksitas permasalahan yang Kondisi tersebut membuat guru rentan mengalami stres berkepanjangan, sulit menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta merasa kurang kompeten dalam menjalankan perannya. Burnout dalam jangka panjang berpotensi pembelajaran, dan bahkan memicu keinginan untuk meninggalkan profesi (Palupi & Pandjaitan. Peck, 2. Dalam literatur psikologi pendidikan, burnout telah banyak dikaitkan dengan berbagai faktor seperti stres kerja, kurangnya dukungan sosial, dan lingkungan organisasi (Zhou dkk. Namun demikian, salah satu faktor internal yang potensial namun masih kurang mendapat sorotan adalah self-efficacy atau efikasi diri, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengatur dan melaksanakan tindakan untuk mencapai tujuan tertentu (Bandura, 1. Self-efficacy terbukti sebagai penyangga psikologis terhadap stres dan kelelahan kerja, serta memainkan peran penting dalam membentuk ketahanan mental dan motivasi kerja guru (Schwarzer & Hallum, 2008. Teng dkk. , 2. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa guru dengan tingkat self-efficacy yang tinggi cenderung lebih mampu mengelola tekanan pekerjaan dan mempertahankan kualitas pengajaran dalam situasi menantang. Meskipun demikian, kajian mengenai hubungan antara self-efficacy dan burnout pada guru PAUD di Indonesia masih terbatas, khususnya pada wilayah perkotaan seperti Bekasi Selatan yang memiliki kompleksitas tersendiri, termasuk kepadatan penduduk, beban kerja tinggi, dan minimnya pelatihan dukungan profesional (Shoji , 2016. Zhou et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dengan menyelidiki hubungan antara self-efficacy dan burnout pada guru PAUD di Bekasi Selatan. Fokus wilayah ini menjadi penting karena sebagian besar guru PAUD di daerah perkotaan menghadapi tantangan ganda. Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 241 - 248 (September 2. Hubungan Antara Self-Efficacy Dengan BurnoutA baik dari sisi tugas profesional maupun tekanan lingkungan sosial. Dengan menggunakan instrumen pengukuran yang telah tervalidasi secara empiris yakni General Self-Efficacy Scale Schwarzer & Jerusalem . dan Maslach Burnout Inventory Educator Survey Maslach & Leiter . penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil yang akurat dan relevan. Penelitian ini menawarkan kontribusi teoritis dan praktis. Secara teoritis, penelitian ini memperluas pemahaman ilmiah mengenai dinamika antara self-efficacy dan burnout dalam konteks guru PAUD di Indonesia. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi perancang kebijakan dan pengelola lembaga PAUD untuk mengembangkan program intervensi peningkatan efikasi diri guna menurunkan risiko burnout. Dengan demikian, penelitian ini berpotensi memperkuat kualitas tenaga pendidik PAUD dan pada akhirnya mendukung pencapaian tujuan pendidikan anak usia dini secara optimal. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel self-efficacy dan burnout pada guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kecamatan Bekasi Selatan. Desain korelasional digunakan karena fokus utama penelitian ini adalah mengkaji kekuatan dan arah hubungan antarvariabel, bukan sekadar mendeskripsikan atau membandingkan kelompok (Azwar, 2. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh guru PAUD di Kecamatan Bekasi Selatan, dengan jumlah sebanyak 247 orang berdasarkan data Dinas Pendidikan per Maret 2025. Penelitian ini dilaksanakan dengan teknik total sampling atau sampel jenuh, dimana artinya seluruh populasi dijadikan sampel karena jumlahnya masih memungkinkan untuk dijangkau secara keseluruhan (Sugiyono, 2. Adapun kriteria inklusi yang ditetapkan meliputi guru aktif, menggunakan kurikulum Montessori, serta memiliki pengalaman mengajar minimal satu Dari hasil penyebaran kuesioner tahun 2025, tercatat 53,8% responden memenuhi kriteria tersebut, sehingga data yang diperoleh dinilai representatif dengan fokus penelitian. Instrumen penelitian terdiri dari dua jenis kuesioner. Pertama, untuk mengukur tingkat burnout digunakan alat ukur Maslach Burnout Inventory Educator Survey (MBI-ES) yang dikembangkan oleh Maslach dan Jackson . , kemudian diadaptasi oleh Hanifah . Instrumen depersonalisasi, dan penurunan pencapaian pribadi. Kedua, untuk mengukur self-efficacy digunakan General Self-Efficacy Scale (GSES) yang dikembangkan oleh Schwarzer dan Jerusalem . dan telah diadaptasi oleh Novrianto dkk. , . dalam konteks pendidikan di Indonesia. Kedua instrumen ini disusun dalam skala Likert lima poin dengan pernyataan favorable dan unfavorable, mulai dari pilihan Ausangat tidak sesuaiAy hingga Ausangat sesuaiAy. Data yang didapat dari seluruh responden akan diolah dengan perangkat lunak JASP. Validitas instrumen diuji dengan korelasi item-total dengan kriteria r > 0,30 (Azwar, 2. , sedangkan reliabilitas diuji menggunakan koefisien CronbachAos Alpha. Analisis utama dilakukan dengan melakukan uji korelasi Pearson untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antara Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 241 - 248 (September 2. Okta Eliza Sinaga. Netty Merdiaty variabel self-efficacy dan burnout, dengan tingkat signifikansi p < 0,05 sebagai penentu signifikansi statistik (Sayoga dan Yudianto, 2. Hasil dan Pembahasan Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki selfefficacy tinggi . ,8%) dan burnout tinggi . ,13%). Uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara self-efficacy dan burnout (A = 0,916, p < 0,. Hasil ini bertolak belakang dari hipotesis awal yang menyatakan bahwa self-efficacy tinggi akan menurunkan burnout. Berdasarkan teori Bandura . , self-efficacy seharusnya menjadi pelindung terhadap stres. Namun, dalam konteks guru PAUD, self-efficacy tinggi justru dapat meningkatkan risiko burnout karena ekspektasi pribadi yang tinggi dan keterlibatan kerja yang intensif. Temuan ini selaras dengan penelitian Teng dkk. , . Schwarzer & Hallum . , dan Zhou dkk. , . yang menyatakan bahwa self-efficacy tinggi dapat menjadi beban psikologis dalam kondisi lingkungan kerja yang tidak mendukung. Dengan demikian, diperlukan intervensi untuk tidak hanya meningkatkan self-efficacy, tetapi juga memperkuat dukungan sosial dan organisasi di lingkungan PAUD. Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam metode uji . on-parametri. , potensi bias responden, dan cakupan wilayah yang sempit. Karakteristik Responden Tabel 1. Hasil Karakteristik Karakteristik Responden Lama Usia Burnout Mean Self-Efficacy Shapirowilk Mean 1-2 tahun 3-5 tahun >5 tahun 22-29 tahun 30-35 tahun 36-39 tahun Shapirowilk <0. Sumber: Hasil Pengolahan Data . Analisis data menunjukkan bahwa guru PAUD dengan pengalaman mengajar 1Ae2 tahun dan berusia 22Ae29 tahun memiliki skor burnout dan self-efficacy tertinggi dibandingkan kelompok usia dan pengalaman lainnya. Uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data burnout berdistribusi normal . > . , sementara self-efficacy berdasarkan usia tidak normal . < . , sehingga memerlukan uji non-parametrik. Temuan ini mengindikasikan bahwa guru yang lebih muda dan kurang berpengalaman cenderung mengalami tekanan kerja yang lebih tinggi meskipun memiliki kepercayaan diri yang besar, yang dalam kondisi tanpa dukungan organisasi justru dapat meningkatkan risiko burnout. Oleh karena itu, usia dan lama mengajar perlu dipertimbangkan dalam merancang intervensi psikologis dan pelatihan peningkatan selfefficacy secara kontekstual dan adaptif. Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 241 - 248 (September 2. Hubungan Antara Self-Efficacy Dengan BurnoutA Uji Validitas dan Reliabilitas Tabel 2. Hasil uji validitas dan reliabilitas Variabel Rentang validitas Reliabilitas Burnout 775 Ae 0. Self-Efficacy 818 Ae 0. Sumber: Hasil Pengolahan Data . Instrumen penelitian yang terdiri dari skala burnout dan self-efficacy telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa semua item pada skala burnout memiliki koefisien korelasi antara 0,775Ae0,839, dan pada skala self-efficacy antara 0,818Ae 0,874, yang berarti valid (Azwar, 2. Sementara itu, hasil uji reliabilitas menggunakan CronbachAos Alpha menunjukkan nilai 0,979 untuk burnout dan 0,973 untuk self-efficacy, yang menunjukkan konsistensi internal yang sangat tinggi (Hair dkk. , 2. Dengan demikian, kedua instrumen dinyatakan layak dan andal untuk digunakan dalam penelitian ini. Uji Asumsi (Normalita. Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Variabel Shapiro Wilk p-value Self-Efficacy Burnout Sumber: Hasil Pengolahan Data . Hasil uji normalitas menggunakan ShapiroAeWilk menunjukkan bahwa kedua variabel tidak berdistribusi normal. Nilai statistik ShapiroAeWilk untuk self-efficacy adalah W = 0,768 dengan p < . 001, sedangkan untuk burnout W = 0,759 dengan p < . Karena kedua p-value berada di bawah ambang signifikansi 0. 05, maka hipotesis nol tentang distribusi normal ditolak, dan data kedua variabel dianggap tidak memenuhi asumsi normalitas. Oleh karena itu, analisis korelasi selanjutnya menggunakan pendekatan nonparametrik. Uji Korelasi Tabel 4. Hasil Uji Korelasi Variabel Koefisien p p-value Self-Efficacy x Burnout Sumber: Hasil Pengolahan Data . Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman (Tabel . , ditemukan adanya hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan antara self-efficacy dan burnout pada guru PAUD di Bekasi Selatan, dengan koefisien korelasi A = 0,916 dan nilai signifikansi p < . Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat self-efficacy yang dimiliki guru, maka semakin tinggi pula tingkat burnout yang dialami. Meskipun hasil ini bertentangan dengan hipotesis awal yang mengasumsikan hubungan negatif, temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa self-efficacy yang tinggi dapat menjadi beban psikologis tambahan dalam Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 241 - 248 (September 2. Okta Eliza Sinaga. Netty Merdiaty konteks kerja yang penuh tuntutan dan minim dukungan (Schwarzer dan Hallum, 2008. (Teng , 2. Uji Kategorisasi Mengingat data self-efficacy dan burnout tidak berdistribusi normal, maka proses kategorisasi kedua variabel dilakukan menggunakan pendekatan rentang distribusi berdasarkan nilai t-student, agar klasifikasi tingkat skor tetap dapat dilakukan secara sistematis dan proporsional, akan dilampirkan pada tabel berikut: Tabel 5. Hasil Uji Kategorisasi Self-Efficacy Kategori Batas Nilai Persentase Rendah X < 23. Sedang 593 O X O 25. Tinggi X > 25. Total Sumber: Hasil Pengolahan Data . Tabel 6. Hasil Uji Kategorisasi Burnout Kategori Batas Nilai Persentase Rendah X < 33. Sedang 481 O X O 36. Tinggi X > 36. Total Sumber: Hasil Pengolahan Data . Berdasarkan hasil kategorisasi menggunakan distribusi t-student, sebagian besar responden memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi . ,8%), diikuti oleh kategori rendah . ,1%) dan sedang . ,0%). Sementara itu, kategori burnout tertinggi juga didominasi oleh kelompok dengan tingkat burnout tinggi . ,13%), disusul kategori rendah . ,96%) dan sedang . ,91%). Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun mayoritas guru PAUD memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap kemampuan profesionalnya, banyak di antara mereka tetap mengalami kelelahan emosional yang signifikan, yang mengindikasikan bahwa selfefficacy yang tinggi tidak serta-merta melindungi dari risiko burnout, khususnya dalam konteks kerja yang menuntut dan kurang mendapat dukungan organisasi (Teng et al. , 2020. Zhou dkk. Uji Hipotesis Tabel 7. Hasil Uji Hipotesis Variabel Koefisien Korelasi p-value Jumlah Responden Burnout x Self-Efficacy Sumber: Hasil Pengolahan Data . Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 241 - 248 (September 2. Hubungan Antara Self-Efficacy Dengan BurnoutA Berdasarkan hasil uji hipotesis (Tabel . , ditemukan adanya hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan antara self-efficacy dan burnout pada guru PAUD di Bekasi Selatan, dengan nilai koefisien korelasi Spearman sebesar A = 0,916 dan p < . 001 (N = . Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat self-efficacy yang dimiliki guru, semakin tinggi pula tingkat burnout yang mereka alami. Meskipun secara teoritis self-efficacy sering diposisikan sebagai pelindung terhadap stres kerja Bandura . , dalam konteks ini justru menjadi faktor risiko, terutama ketika tidak disertai dukungan organisasi atau mekanisme pengelolaan beban kerja yang memadai (Schwarzer dan Hallum, 2008. Teng dkk. , 2020. Zhou , 2. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dari pendahuluan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan antara self-efficacy dan burnout pada guru PAUD di Bekasi Selatan, yang menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan diri yang tinggi tidak serta-merta menurunkan risiko kelelahan emosional, melainkan justru dapat meningkatkannya dalam konteks kerja yang penuh tekanan dan minim dukungan. Temuan ini tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan awal yang mengasumsikan bahwa self-efficacy berfungsi sebagai pelindung terhadap burnout, namun justru memperkaya pemahaman bahwa peran self-efficacy sangat kontekstual dan dapat menjadi faktor risiko apabila tidak dibarengi oleh intervensi pendukung yang memadai. Penelitian ini membuka peluang untuk pengembangan program pelatihan guru yang tidak hanya menargetkan peningkatan efikasi diri, tetapi juga mengintegrasikan strategi manajemen stres dan sistem dukungan organisasi. Ke depan, penelitian lanjutan dapat mengadopsi pendekatan longitudinal serta memperluas cakupan wilayah dan variabel kontekstual lain seperti dukungan sosial, beban kerja aktual, dan kepuasan kerja, guna memperdalam pemahaman terhadap dinamika burnout dalam dunia pendidikan anak usia dini secara lebih Daftar Pustaka