IDEOLOGI PENDIDIKAN ISLAM PESANTREN DI INDONESIA PERSPEKTIF MUHAMMAD JAWWAD RIDLA DAN WILLIAM F. OAoNEAL Usman Institut Agama Islam Negeri Madura ualadipni@gmail. Jamiluddin Usman Institut Agama Islam Negeri Madura Jamielsoedin@gmail. Abstrak Ideologi merupakan sesuatu yang hidup dalam masyarakat sosial Indonesia. Di dalam masyarakat terdapat pendidikan Islam sebagai salah satu sarana penyebaran dan pemantapan ideologi yang sesuai dengan negara mempunyai peran strategis dalam kehidupan masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk memahami pondok pesantren yang ada merupakan entitas pendidikan tertua di Indonesia, menarik untuk dilihat: Bagaimanakah pendidikan Islam di pondok pesantren yang ada di Indonesia dalam perspektif ideologi pendidikan Muhammad Jawwad Ridla dan William F. OAoneal? Metode penelitian kualitatif dengan library research, mengambil data dari buku, artikel dan hasil penelitian. Adapun pendidikan Islam di pondok pesantren yang ada di Indonesia mempunyai kesamaan dengan perspektif agamis-konservatif . l-Muhafid. sedangkan dalam perspektif William F. OAoneal pendidikan pondok pesantren ideologi konservatisme pendidikan. Kata kunci: Ideologi, pendidikan Islam, pondok pesantren. Abstract Ideology is something living in social society in Indonesia. In society there is Islamic education as a means of spreading and stabilizing ideology suits to the nation which has a strategic role in peopleAos lives. The purpose of this research is to gives understanding that the existing Islamic Boarding School is the oldest entity of education in Indonesia. It is interesting to see how Islamic education in Islamic Boarding School in Indonesia from Muhammad Jawwad Ridla and William F. OAonealAos ideological educationAos The method used is qualitative with library research as technique. It takes data from books, articles and research results. It is found that Islamic education in Islamic Boarding School in Indonesia is similar to the Conservative-Religion (Al-Muhafid. while in Wiliam F. OAonealAos perspective that Islamic education is the Ideology of Educational Conservatism. Keyword: Ideology. Islamic education. Islamic boarding school. Pendahuluan Indonesia sebagai salah satu Negara yang besar di dunia, mempunyai peradaban dan sejarah yang panjang. Peradaban masyarakatnya yang selalu melahirkan berbagai macam akulturasi budaya yang tetap bertahan hingga saat Akulturasi budaya di Indonesia di pengaruhi barat dan timur sesuai dengan situasi kondisi politik dan penguasa masa lampau hingga saat ini. Salah satu akulturasi budaya yang bertahan hingga saat ini antara Islam dan tradisi Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Usman. Jamiluddin Usman masyarakat Indonesia baik yang di pesisir maupun di pedalaman. Salah satu manifestasi dari akulturasi Islam dan tradisi masyarakat adalah lembaga pendidikan Islam yang bernama pondok pesantren. Lahirnya pondok pesantren yang menyesuaikan dengan kondisi masyarakat pada saat lampau, agar Islam dapat di terima dengan baik serta tidak terjadi konflik yang berlebihan di tengah masyarakat Indonesia yang sangat memegang teguh adat istiadat serta tradisi nenek Kelahiran dan keberadaan Pondok pesantren jika di bandingan dengan lembaga pendidikan lainnya yang pernah ada di Indonesia, merupakan lembaga dan sistem pendidikan yang tertua serta merupakan produk budaya bangsa Indonesia yang indigenous. Karena proses dan endurance inilah pondok pesantren, seperti ungkapan selama gunung kokoh tegak menjulang, selama itulah pondok pesantren tetap akan bertahan tak lapuk oleh hujan dan tak akan lekang oleh panas. Pada perkembangannya pondok pesantren yang ada di Indonesia tentu tidak lepas dari ideologi dan ajarannya. Hal ini di karenakan pemimpinan pondok pesantren dan organisasi yang di ikuti oleh pemimpin pondok pesantren memberikan pengaruh dan warna terhadap ideologi atau ajarannya yang berimplikasi pada kurikulum pendidikan agama Islam lembaga pondok pesantren. Secara umum, motivasi religius yang sudah mengakar erat dalam jiwa setiap generasi Muslim menjadi sebuah ideologi yang cukup kuat dan menyatu dalam setiap fase sejarah kehidupan Nurcholis Madjid. Bilik-bilik Pesantren sebuah potret perjalanan (Jakarta: Paramadina, 1. , 3 umat Islam. Penguatan ideologi-ideologi tersebut kepada generasi Muslim selanjutnya ditransformasikan secara sistematis lewat lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan Islam yang secara berkesimbungan dan setia menjaga serta memelihara nilai-nilai ideologi pendidikan Islam adalah lembaga pendidikan pesantren di Indonesia. Untuk itulah penting melihat seperti apakah tipologi ideologi dan pendidikan agama Islam di pondok pesantren yang ada di Indonesia, maka penulis mencoba menggunakan pemikiran aliran dan ideologi dalam perspektif Muhammad Jawwad Ridla dengan William OAoNeal sebagai alat Ideologi. Pendidikan Islam dan Pondok Pesantren Ideologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah paham, teori, dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik. 3 Istilah Ideologi pertama kali muncul ketika terjadi revolusi Prancis yang konsep ini di munculkan oleh Antoine Destutt De Tracy pada tahun 1797, salah seorang anggota kelompok filosof yang diberi tanggung jawab oleh konvensi revolusi menjalankan Institute de France yang baru berdiri, khusus untuk menyebarkan gagasan-gagasan pencerahan. Sedangkan menurut Althusser. Ideologi adalah sistem gagasan dan berbagai representasi yang mendominasi Al Husaini M. Daud. Ideologi Pendidikan Pesantren Kontemporer: Pendekatan Strukturalisme (Jurnal MIQOT: Vol. xVI, 2. , 334. http://kamusbahasaindonesia. org/ideologi. KamusBahasaIndonesia. diakses pada tanggal 20 juni 2019. David McLellan. Ideologi Tanpa Akhir (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2. , 9. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Ideologi Pendidikan Islam Pesantren Di Indonesia Perspektif Muhammad Jawwad Ridla Dan William F. OAoneal benak manusia atau kelompok sosial. Yang pada konteks sosial didominasi oleh institusi sekolah dan keluarga. Harus ada orang yang mengartikulasi sebuah sistem ide-ide atau ideologi sebagai jembatan untuk menyusun identitas inti sebuah komunitas. Ideologi dimaksudkan sebagai pengartikulasi dan perhimpunan kepentingan yang nyata agar tidak ada kelompok pertentangan atau menyebabkan muncul kelompok yang bertentangan. Ideologi adalah sebagai variabel perantara. Konsep ideologi mencerminkan suatu penemuan yang timbul dari konflik politis, yakni bahwa kelompokkelompok yang berkuasa dalam pikiran mereka menjadi sedemikian intensif terbelenggu pada kepentingan suatu situasi sehingga mereka tak dapat dengan mudah lagi melihat fakta-fakta tertentu yang akan menghancurkan rasa penguasaan mereka. Di dalam kata AoideologiAo implisit terdapat penerangan dalam situasi-situasi tertentu ketidaksadaran kolektif kelompok-kelompok tertentu menggelapkan kondisi real dari suatu masyarakat baik bagi diri mereka kelompokkelompok lain dan dengan jalan itu menstabilkan kondisi masyarakat. Hal yang biasa terjadi dalam masyarakat ketika orang tua memiliki terhadap anak akan menjadi penerus cita-cita dan menjadikan sang anak gambaran terbaik dalam hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat memberikan kerangka-kerangka yang membatasi ruang pandang individu Dunia manusia sejak semula adalah dunia terbingkai struktur yang tertanam dalam Tumbuhlah ia menjadi manusia yang digerakkan oleh struktur, makin jauh dari dirinya, tak disadari dan tak Dalam status-quo ekonomi, dan rumah ibadah. Bahkan sebelum lahir, seorang anak sudah dipersiapkan untuk menjadi pelengkap struktur keluarga, berperan sebagai anak yang menyandang nama Hingga akhir hayat belitan struktur terus mengatur gerak gerik individu dari hal kecil hingga tujuan yang besar, bahkan tujuan yang mulia pun sudah ditata oleh struktur. Ideologi yang membentang sebagai jalinan struktur telah memetakan subjek-subjek dalam perannya masing-masing, bekerja reproduksi dari produksi dan relasi Implikasi dari konsep ideologi Althusser ini, mejadikan manusia tidak terlepas dari ideologi. Pandang para intelektual diatas khususnya Althuser tentang ideologi tentu berkaitan dalam kehidupan sosial Louis Althusser. Tentang Ideologi: Marxisme Strukturalis. Psikoanalisis. Cultural (Yogyakarta: Jalasutra, 2. , 34-35. 6 Ralf Dahrendorf. Konflik dan Konflik dalam Kelas Masyarakat Industri. Sebuah Analisa Kritik (Jakarta: CV. Rajawali, 1. ,228-229. 7 Karl Mannheim. Ideologi dan Utopia. Menyingkap Kaitan Pikiran dan Politik (Yogyakarta: Kanisius, 1. , 42. 8 Bagus Takwin. Membaca Althusser dari Beberapa Sisi: Sebuah Pengantar Esai-esai Ideologi Althusser. Pengantar dalam Buku tentang Ideologi (Yogyakarta: Jalasutra, 2. Pengantar xvi. 9 Peter Beilharz. Teori-Teori Sosial: Observasi Kritis Terhadap Para Filosof Terkemuka (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 5. 10 Bagus Takwin. Membaca Althusser dari Beberapa Sisi:. Pengantar xvi-xix. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Usman. Jamiluddin Usman masyarakat di Indonesia yang tidak mungkin lepas dengan pendidikan Islam dan pondok pesantren. Apalagi lagi pondok pesantren yang merupakan salah satu urat nadi pendidikan Islam di Indonesia. Oleh karena masyarakat, pendidikan Islam dan pondok pesantren tidak akan lepas dari ideologi. Untuk itu mengapa penting melihat tipologi ideology pendidikan Islam di pondok pesantren yang akan mencetak kader bangsa Indonesia yang ramah dan Pendidikan Islam Pada dasarnya penggunaan istilah pendidikan Islam terdiri yang terdiri dari dua kata, yakni pendidikan dan Islam. Dalam pandangan Ahmad Tafsir bahwa pendidikan adalah berbagai usaha yang . terhadap seseorang murid . nak didi. agar tercapai perkembangan maksimal yang lebih maju. Usaha itu banyak macamnya, salah satu diantaranya adalah dengan cara mengajar anak didik, yakni mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya. Hasan Basri memberikan pandangannya bahwa pendidikan diartikan sebagai pembinaan, pembentukan, pengarahan, pencerdasan, pelatihan yang ditujukan kepada semua anak didik secara formal maupun nonformal dengan tujuan membentuk anak didik yang cerdas, berkepribadian, memiliki keterampilan atau keahlian tertentu sebagai bekal dalam kehidupannya di masyarakat. Dalam berbagai literatur istilah Bahasa Arab diantaranya, ada tiga istilah yang dipakai untuk menyebut pendidikan, yaitu tarbiyyah, taAolim, dan taAodib. 13 Pertama, tarbiyah berarti berkembang, tumbuh dan menjadi besar atau dewasa, memperbaiki, mengasuh, mengatur dan menjaga kelestariannya dan eksistensinya. Dengan kata lain, tarbiyyah memiliki definisi sebagai upaya mempersiapkan individu untuk mencapai kehidupan yang bahagia dan sempurna. Kedua taAolim, yaitu suatu proses belajar yang hanya sebatas transfer of knowledge bagaimana peserta didik dapat menguasai nilai yang telah ditransfer secara kognitif. Ketiga taAodib, yaitu proses mendidik yang lebih pembinaan serta penyempurnaan akhlak atau budi pekerti bagi peserta didik. Dari ketiga istilah pendidikan dalam konteks Islam di atas yang paling cocok untuk diterapkan dalam kegiatan pendidikan keagamaan atau pendidikan Islam yaitu pada tipe ketiga yakni taAodib, pembentukan dan pembinaan serta penyempurnaan akhlak atau budi pekerti bagi peserta didik, berbeda dengan tarbiyah yang merupakan tipe pendidikan yang masih secara umum, sedangkan taAolim yang lebih pada transfer ilmu pengetahuan dalam proses Pendidikan dalam konteks ini terkait dengan gerak dinamis, positif dan kontinu setiap individu menuju idealitas kehidupan manusia agar mendapatkan nilai terpuji. Aktivitas individu tersebut meliputi pengembangan kecerdasan pikir . asio, kogniti. , dzikir . fektif, rasa, 13 Siswanto. Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam 11 Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan Islam(Bandung: RemajaRosdakarya, 2. , 38. 12 Hasan Basri. Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2. , 53. (Surabaya: Pena Salsabila, 2. , 11. 14 Jalaluddin. Teologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2. , 73. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Ideologi Pendidikan Islam Pesantren Di Indonesia Perspektif Muhammad Jawwad Ridla Dan William F. OAoneal hati, spiritua. dan keterampilan fisik . Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam Kajian tentang pondok pesantren telah banyak di kaji oleh kalangan Kajian yang di tinjau dalam berbagai konteks, baik dalam konteks kepemimpinan kyai, sistem pendidikan pondok pesantren, kyai dan politik, pesantren dan masyarakat dan lainnya. Pesantren merupakan sebuah asrama pendidikan Islam tradisional tempat para santrinya tinggal bersama dan belajar di bawah pengajaran kiai. Asrama bagi santri disebut pondok, sehingga menurut Zamakhsyari Dhofier disebut pondok pesantren jika telah memenuhi unsurunsur dasar yaitu pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, dan kiai. 16 Sedangkan pondok pesantren mempunyai tujuan pokok untuk mencetak ulama, yaitu orang yang mutafaqqih fi al-din atau mendalam ilmu Pondok Pesantren pernah menjadi satu-satunya institusi pendidikan milik masyarakat pribumi yang memberikan membentuk masyarakat melek huruf . dan melek budaya . ultural 18 Ini terjadi pada masa wali Moh. Roqib. Ilmu Pendidikan Islam: Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah. Keluarga dan Masyarakat (Yogyakarta: LKiS, 2. Lihat juga. Usman. Pendidikan Islam dalam Perspektif Masyarakat Petani Madura (Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol 6: 2. , 254. 16 Zamakhsyari Dhofier. Pesantren. Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3ES, 1. , 18. 17 M. Dian NafiAo, dkk. Praksis Pembelajaran Pesantren, (Jogjakarta: Instite For Triningand Development (ITD) Amhers MA. Forum Pesantren Yayasan Salasih, 2. , 5. 18 Mujamil Qomar. Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Insitusi(Jakarta: songo, kerajaan Islam di nusantara hingga sebelum masa kemerdekaan. Pada masa ini, pondok pesantren tetap menjaga marwahnya sebagai penjaga dan pencetak intelektual Islam yang beraliran ahl al-sunnah wa al-jamaAoah serta bersaing dengan lembaga pendidikan Ajaran Islam yang merupakan asas ideologi pendidikan pesantren sebagai satu-satunya institusi pendidikan islam yang tertua di Indonesia, di mana kaitan erat antara aktivitas belajar dan motivasi utamanya cukup kentara. Pesantren sebagai sub-kultur masyarakat saat ini sedang diuji untuk mampu memberikan solusi jernih terhadap pendidikan masa kini yang cenderung mengarah kepada proses dehumanisasi dan Kapitalisme, dan nyaris tidak lagi berpijak pada hakikat pendidikan itu sendiri yakni untuk memanusiakan dan memuliakan manusia. Qadry Abdillah Azizy membagi pesantren atas dasar kelembagaannya pengajarannya pada lima kategori. Pertama, pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal dengan menerapkan kurikulum nasional, baik yang hanya memiliki sekolah keagamaan maupun yang juga memiliki sekolah Kedua, keagamaan dalam bentuk madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu umum meski tidak menerapkan kurikulum nasional. Ketiga. Erlangga, tt. ), hlm. Xi. Lihat juga. Mohammad Hasan. Perkembangan Pendidikan Pesantren Di Indonesia ( Tadrys: Volume 10 ,2. , 57. Al-Husain M. Daud. Ideologi Pendidikan Pesantren Kontemporer (MIQOT. xVI: 2. , 343 20 Ibid Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Usman. Jamiluddin Usman mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam bentuk madrasah diniyah. Keempat, pesantren yang hanya sekedar menjadi tempat pengajian . ajlis taAoly. , dan kelima, pesantren untuk asrama anakanak belajar sekolah umum dan Ada pula yang membuat kategori keilmuan, sehingga menjadi pesantren alat, pesantren fiqh, pesantren qiryAoah dan pesantren tasawuf. Seperti, pondok pesantren Pesantren alat penguasaan gramatika bahasa Arab seperti Pesantren Lirboyo Kediri. Bendo Jampes. Lasem. Nglirap (Banyuma. dan Tremas Pacitan. Pesantren fiqh adalah penguassan materi fiqh seperti pesantren Tebuireng. Tambak Beras. Denanyar. Termas sekarang. Lasem dan pesantren di pesisir utara Jawa tengah dan jawa Timur. Pesantren qiraAoah Krapyak. Tasikmalaya. Pesantren Tasawuf seperti pesantren Jampes di kediri pada masa sebelum perang dunia II. Karakter mempunyai kemiripan seperti pada masa klasik dimana pada masa alGhazali menjadi pengajar di madrasah nizamiyah bahkan menjadi pimpinan di lembaga pendidikan nizamiyah di Ahmad Qadry Abdillah Azizy. AiPengantar: Memberdayakan Pesantren dan MadrasahAn dalam Ismail SM. Nurul Huda dan Abd Kholiq. Dinamika Pesantren dan Madrasah (Yogyakarta: Kerjasama IAIN Walisongo Semarang dengan Pustaka Pelajar, 2. , vi. 22 Abdurrahman Wahid. Bunga Rampai Pesantren (Jakarta: CV. Dharma Bakti,t. , 25. Lihat juga. Mohammad Hasan. Perkembangan Pendidikan Pesantren Di Indonesia ( Tadrys: Volume 10 ,2. , buatlah kebijakan yang berorientasi pada pendidikan agama atau lebih cenderung syariAoah mengajarkan ilmu-ilmu hikmah dan Sehingga pada zaman ini di kenal juga sebagai zaman kemunduran ilmu-ilmu hikmah atau filsafat. 23 Tetapi pada zaman ini lebih cenderung berfokus pendidikan umum. Ideologi Pendidikan Perspektif Muhammad Jawwad Ridla dan William OAoneal Pendidikan Islam merupakan salah satu pembahasan utama yang dilakukan oleh para intelektual muslim mulai dari zaman klasik hingga modern. Para intelektual muslim klasik hingga modern sejatinya mempunyai kesamaan orientasi perspektif dalam konteks pendidikan, yakni menjadikan Islam sebagai cara pandangnya. Rasa tanggung jawab yang tinggi dari kalangan intelektual muslim tentang pendidikan di satu sisi memang telah membelenggu pemikiran pendidikan mereka, namun di sisi yang lain telah mengukuhkan rasa tanggung jawab moral-etik pendidikan dimasa sekarang dan yang akan datang. Penting memaparkan tentang beberapa macam ideologi pendidikan Islam dan barat yang pernah ada, sebagai upaya Djunaidi Ghoni. Pendidikan Menurut Pemikiran al-Ghazali, dalam Pendidikan Islam dari Paradigma Klasik Hingga Kontemporer, (Malang. UIN-Malang Press, 2. , 164-165. 24 Busyairi Madjidi. Konsep Pendidikan Para Filosof Muslim (Yogyakarta: al-Amin Press, 1. , 83. 25 Muhammad Jawwad Ridla, al-Fikri al-Tarbawiy al-Islamiyu Muqaddimat fi al_Ushuli al-IjtimaAoiyyati wa al-Aqlaniyyah, ter. Mahmud Arif (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 2. ,59. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Ideologi Pendidikan Islam Pesantren Di Indonesia Perspektif Muhammad Jawwad Ridla Dan William F. OAoneal memahami dan membandingkan dengan apa yang sedang diteliti oleh penulis. Dalam konteks ideologi pendidikan barat terdapat beberapa macam kategori dan tipologi ideologi pendidikan sebagai alat untuk menganalisis tipologi ideologi pendidikan Islam yang ada di pondok pesantren di Indonesia. Diantara salah satu pemikir muslim modern yang mengkaji berbagai pemikiran pendidikan Islam klasik adalah Muhammad Jawwad Ridla. Kajiannya tentang intelektual muslim klasik seperti. Ibnu Sina. Al-Ghazali. Ibnu Khaldun. Ibnu Maskawih dan menghasilkan sebuah tesis brilian. Dimana Muhammad Jawwad Ridla intelektual muslim klasik menjadi aliran atau ideologi pendidikan Islam menjadi tiga, diantara al-Muhafidz, al-Dini alAoAqlaniy dan al-DzaraiAoiy. Selanjutnya pembahasan tentang intelektual barat yang membahas tentang ideology pendidikan, salah satunya William OAoneal. Dimana pemikirannya juga mengkaji tipologi para intelektual pendidikan klasik hingga modern. Pemikirannya yang mampu mengklasifikasi atau mentipologikan pemikiran intelektual barat menjadi beberapa bagian diantaranya adalah Ideologi Pendidikan Konservatif. Pendidikan Liberal. Liberasionisme Pendidikan, dan Anarkisme Pendidikan. Ideologi Pendidikan Islam Perspektif Muhammad Jawwad Ridla Muhammad Jawwad Ridla adalah seorang intelaktua modern yang berasal dari Mesir. Pemikiran tentang aliran atau ideologi pendidikan Islam adalah merupakan hasil dari tesis ketika menempuh pendidikan strata dua . di Universitas al-Azhar Kairo Mesir. Sekian dirumuskan oleh kalangan pendidikan barat yang telah dijelaskan diatas, penulis memberikan hantaran pemikiran intelektual Islam tentang ideologi Islam. Para Islam terdapat tiga aliran atau ideologi utama pendidikan Islam diantaranya adalah ideologi Agamis-Konservatif. ReligiousRasional, dan Pragmatisme-Instrumental. Pertama. Agamis-Konservatif . lMuhafid. Aliran ini berpendapat bahwa Para tokohnya berpendapat bahwa pendidikan hanya mencakup ilmu-ilmu sekarang . idup di duni. yang jelasjelas akan membawa manfaat kelak di Para berkeharusan mengawali belajarnya dengan kitabullah al-QurAoan. Setiap orang menuntut ilmu atau siswa berusaha menghafal dan mampu menafsirkan alQurAoan, lalu dilanjutkan dengan hadith dan ulum al-hadith, ushul, nahwu dan 27 Adapun para tokoh aliran pendidikan ini diantaranya adalah alGhazali. Nashiruddin al-Thusi,28 Ibnu 26 Muhammad Jawwad Ridla, al-Fikr al-Tarbawi al- Islamiy. Muqaddimah fi Ushulih al-IjtimaAoiyyati wa al-AoAqliyyat, ter. Mahmud Arif (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2. Pengantar ii 27 Muhammad Jawwad Ridla, al-Fikr al-Tarbawi alIslamiy. Muqaddimah fi Ushulih al-IjtimaAoiyyati wa al-AoAqliyyat, ter. Mahmud Arif (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2. , 74. 28 Nama lengkap beliau adalah Abu JaAofar Muuammad ibn Muuammad ibn al-asan al-Ts (A )II I II I EI EOUALahir pada 18 Februari 1201 M/597 H di s, al-KAimiyyah dekat Baghdad sebuah tempat yang berada di atas sebuah bukit, di samping lembah sungai Kasyaf. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Usman. Jamiluddin Usman JamaAoah,29 Sahnun,30 Ibnu Hajar alHaitami,31 dan al-Qabisi. Menurut aliran ini, ilmu itu terbagi menjadi dua macam. ilmu yang wajib di pelajari oleh setiap individu, yaitu ilmu tentang tata cara melakukan kewajiban yang sudah tiba ilmu-ilmu kewajiban agama. kedua, ilmu yang wajib dekat ke kota Masyad di Timur Laut Persia, yang menjadi kota pendidikan terkenal pada masa itu. Saat ini s masuk dalam wilayah Khorasan di Iran. Abu JaAofar Muuammad ibn Muuammad ibn al-asan al-Ts lebih dikenal dengan nama Nar al-Dn al-s . i Barat dikenal dengan Tus. Seorang Persia dari Ismailiyah yang di kemudian hari memiliki keyakinan Islam AuTwelver ShAoahAy (Twelver ShAoah Islamic belie. Al-Tusi wafat pada 26 Juni 672 H/1272-4 M di Kazhmain dekat Baghdad. Ia dimakamkan sesuai dengan permintaan terakhirnya di samping makam Musa ibn JaAofar Imam ketujuh dari aliran Twelver ShAoah, di Kazimayn di luar Baghdad. Lihat, https://srimulyaninasution. com/isla mic-education/khawajah-nasiruddin-al-tusinair-al-din-al-usikhaje-nasir/ Nama lengkap Ibnu jamaAoah Badrudin Muhammad ibn Ibrahim ibn SaAodullah ibn jamaAoah ibnu Hazim ibn Shakhr ibn Abdullah alKinani al-Hamwa al-SyafiAoi. Beliau di lahirkan pada malam sabtu, 4 RabiAoul Akhir 639 H. bertepatan dengan bulan Oktober 1421 M di Hamah. Wafat pada hari senin, 21 Jumadil Ula 733 H/ 1333 M. dalam usian 94 tahun, satu bulan, beberapa hari. Beliau di shalatkan di masjid alNashiri kemudian di makamkan di Qirafah. Ahmad Yusam Thabrani, etika belajar dalam perspektif Ibn JamaAoah dalam Jurnal Pendidikan Agama Islam . ol 02 nomer 02 November 2. , 30 Nama lengkap Sahnun adalah Muhammad Ibn Abdissalam ibn Said ibn Habib al-Tanukhi Syihabuddin Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ali ibn Hajar alHaitami. lahir di wilayah barat Mesir pada tahun 909 H. dan meninggal dunia di Mekah pada tahun 947 H. 32 Abu al-Hasan Ali ibn Muhammad ibn Khalaf yang dikenal dengan al-Qabis karena berasal dari daerah Qaeruwan. kifayah untuk dipelajari, yaitu ilmu yang dibutuhkan demi tegaknya urusan kehidupan dunia, seperti kedokteran, ilmu hitung atau matematika. Di pahami yang dimaksud kifayah adalah apabila sebagian warga dalam suatu masyarakat telah mempelajari ilmu tersebut maka gugurlah kewajiban mempelajarinya bagi warga yang lain. Kedua. Religious-Rasional . l-Dini al-AoAqlani. Aliran ini sebenarnya tidak jauh beda dengan aliran tradisionalistekstualis (Naqliyyu. yang berpendapat bahwa pendidikan juga bertujuan keagamaan atau yang berorientasi pada Ikhwan al-Shafa beranggapan bahwa semua ilmu dan sastra yang tidak concern terhadap akhirat dan tidak memberikan makna sebagai bekal di akhirat, maka ilmu tersebut akan menjadi bumerang bagi pemiliknya di akhirat nanti. Namun, kalangan relegiusrasionalis AumenggumuliAy pendidikan, karena cenderung rasionalisfilosofis. Ikhawan al-Shafa representasi aliran ini memberikan rumusannya yang menyatakan bahwa, ilmu adalah gambaran tentang sesuatu yang diketahui pada benak . orang yang mengetahui. Lawan dari ilmu adalah kebodohan, yaitu tiadanya gambaran yang diketahui pada jiwanya. Jiwa para intelektual secara riil-aktual berilmu, sedangkan jiwa pelajar itu, berilmu secara potensial. Belajar dan mengajar adalah mengaktualisasikan halhal potensial, melahirkan hal-hal yang terpendam dalam jiwa. Jiwa pelajar adalah berilmu . secara potensial, artinya Proses pendidikan adalah usaha transformatif Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Ideologi Pendidikan Islam Pesantren Di Indonesia Perspektif Muhammad Jawwad Ridla Dan William F. OAoneal terhadap kesiapan-ajar agar menjadi riil atau upaya transformatif terhadap jiwa . secara potensial agar menjadi berilmu secara riil-aktual. Dengan demikian, inti proses pendidikan adalah pada kiat transformasi potensipotensi kemampuan Aupsiko-motorikAy. Konsep ini jelas jauh dari konsep pengetahuan intuitif yang cenderung diapresiasi oleh kalangan aliran konservatif dalam pemikiran pendidikannya. Diantara tokoh-tokoh aliran ini adalah al-Farabi. Ibnu Sina. Gerakan Ikhawan al-Shafa, dan Ibnu Maskawih. Ketiga. Pragmatisme-Instrumental . l-DzaraiAoi. Ibnu Khaldun adalah satusatunya Pemikirannya, konprehensif dibandingkan kalangan rasionalis, dilihat dari sudut pandang tujuan pendidikan yang lebih banyak bersifat pragmatis dan lebih berorientasi pada aplikatif-praksis. Ibnu Khaldun mengklasifikasikan ilmu pengetahuan bukan berdasar nilai substansinya. Oleh karena itu. Ibnu Khaldun membagi ragam ilmu yang dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan menjadi dua bagian: pertama, ilmu-ilmu yang bernilai intrinsik, seperti ilmu-ilmu kegamaan . yarAoiyya. : Tafsir. Hadith. Fiqh. Kalam dan teologi dari cabang filsafat. ilmu-ilmu yang bersifat ekstrinsikinstrumental bagi ilmu-ilmu jenis pertama, seperti ilmu bahasa Arab, ilmu hitung dan sejenisnya. Berangkat kepraktisannya. Ibnu Khaldun membolehkan pendalaman ilmu-ilmu yang Ibnu membolehkan berbincang, berdiskusi, dan berargumentasi secara analitikrasional tentang ilmu-ilmu tersebut. Sedangkan ilmu-ilmu yang bernilai ekstrinsik-instrumental seperti bahasa Arab dan logika dilarang memperluas diskursus rasional tentang ilmu ini, kecuali bila diletakkan dalam rangka kegunaan bagi ilmu yang bernilai Dari pemaparaan beberapa aliran dalam perspektif Muhammad Jawwad Ridla ini yang di kumpulkan dari berbagai hasil pemikiran intelektual muslim terkemuka pada zamannya yang mashur hingga saat ini. Setelah melalui beberapa analisis penulis berkesimpulan bahwa ideologi pendidikan Islam Indonesia mempunyai kesamaan dengan aliran Agamis-Konservatif . l-Muhafid. Aliran ini berpendapat bahwa pendidikan hanya mencakup ilmu-ilmu yang dibutuhkan saat sekarang . idup di duni. yang jelas-jelas akan membawa manfaat kelak di akhirat. Para penuntut ilmu berkeharusan mengawali belajarnya dengan kitabullah al-QurAoan. Setiap orang menuntut ilmu atau siswa berusaha menghafal dan mampu menafsirkan alQurAoan, lalu dilanjutkan dengan hadith dan ulum al-hadith, ushul, nahwu dan Ideologi Pendidikan William OAoneal Perspektif 33 Muhammad Jawwad Ridla, al-Fikr al-Tarbawi al- Islamiy. Muqaddimah fi Ushulih al-IjtimaAoiyyati wa al-AoAqliyyat, ter. Mahmud Arif (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2. , 77-79. 34 Muhammad Jawwad Ridla, al-Fikr al-Tarbawi al- Islamiy. Muqaddimah fi Ushulih al-IjtimaAoiyyati wa al-AoAqliyyat, ter. Mahmud Arif (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2. , 104-106. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Usman. Jamiluddin Usman Sebelum panjang lebar tentang hubungan ideologi dan pendidikan, ada baiknya penulis menjelaskan definisi dari beberapa pemikiran tokoh yang sangat interest terhadap ideologi. Definisi ideologi menurut Sargent adalah sebuah sistem nilai atau keyakinan yang diterima sebagai fakta atau kebenaran oleh kelompok tertentu. Istilah ideologi dipakai karena berbagai konsep yang terkait misalnya Pada umumnya konotasi William OAoneil. Ideologi-Ideologi Pendidikan(Yogyakarta: pustaka pelajar, 2. , 3233. Progresivisme mempunyai konsep yang didasari pada pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuankemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta menagtasi masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam manusia itu sendiri. Menurut kaum progresif, pendidikan yang bercorak otoriter sulit untuk mencapai tujuantujuan pendidikan yang baik, karena kurang menghargai dan memberikan tempat semestinya kepada potensi dan kemampuan manusia pada Padahal mengalami kemajuan atau progress, sehingga semua hal mempunyai sifat fleksibel dan nilainilai itu mengalami perubahan dan berkembang Essensialisme mempunyai konsep bahwa pendidikan harus bersendikan atas nilai-nilai yang dapat mendatangkan kestabilan, agar terpenuhi maksud tersebut nilai-nilai itu perlu dipilih yang mempunyai tata yang jelas dan yang telah teruji. Nilai-nilai tersebut berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad sebelumnya, dengan perhitungan zaman renaisans sebagai pangkal timbulnya pandangan-pandangan essensial awal yang akhirnya nanti melahirkan aliran filsafat idealism Perenialisme memandang bahwa situasi sekarang sebagai zamia yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, ideologi berkonotasi stagnasi atau kemapanan sehingga mensugestikan sebuah kecendrungan pengamanan dan Dikatakan stagnan atau mapan karena mempunyai sistem keyakinan yang mendasar dan dijadikan pedoman perilaku serta mempunya tolak ukur penilaian tersendiri. Ideologi pendidikan ini dibangun dari enam sistem etika sosial dasar yang ditarik dari filosofi-filosofi politik. Tiga ideologi konservatif yang terdiri dari fundamentalisme pendidikan, intelektualisme pendidikan, dan konservatime Kemudian tiga idelogi dipayungi oleh ideologi liberal yang terdiri dari liberalisme pendidikan, anarkisme pendidika. Berbagai Ideologi Pendidikan Konservatif Ideologi konservatif cenderung memandang perwujudan diri sebagai, sebuah tujuan untuk dicapai hanya secara tidak langsung melalui dedikasi kebingungan dan kesimpangsiuran. Hal ini membutuhkan usaha untuk mengamankan moral, intelektual dan lingkungan sosial kultural. Perennial mengambil jalan regresif, artinya tidak ada jalan lain kecuali kembali pada prinsipprinsip umum yang telah menjadi dasar tingkah laku dan perbuatan pada zaman klasik dan abad Adapun yang dimaksud adalah kepercayaan-kepercayaan aksiomatis mengenai pengetahuan, realitas dan nilai-nilai pada zaman Motif dari perenialisme dengan mengambil jalan regresif bukan hanya nostalgia atau rindu akan nilai-nilai lama untuk diingat atau dipuja, melainkan berpendapat bahwa nilainilai tersebut mempunyai kedudukan vital bagi pembangunan kebudayaan abad ke dua puluh. Prinsip-prinsip aksiomatis yang tidak terikat oleh waktu itulah terkandung dalam semua sejarah. Lihat. Imam Barnadib. Filsafat Pendidikan. Sistem dan Metode (Yogyakarta: Andi Offset, 1. , 28-59. 37 William F. OAoneil. Ideologi-Ideologi Pendidikan (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2. , 89-99. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Ideologi Pendidikan Islam Pesantren Di Indonesia Perspektif Muhammad Jawwad Ridla Dan William F. OAoneal penuh terhadap kenyataan mutlak atau absolut Tuhan, hukum alam, tradisi atau sejenisnya yang melampaui pengalaman personal yang biasa. Artinya, konservatif memandang sebuah humanism tidak perwujudan diri sebagai hasil dari ketaatan terhadap perintah-perintah kenyataan suprapersonal. Terdiri dari tiga tradisi pokok yakni fundamentalisme pendidikan. Ketiga ideologi pendidikan ini mempunyai persepsi dan tokoh-tokoh yang samasama mempunyai konstruksi berfikir Penulis menjelaskan secara utuh ketiga ideologi Fundamentalisme Pendidikan Meliputi semua corak konservatisme politik yang pada dasarnya antiintelektual meminimalkan pertimbangan filosofis atau intelektual, konstruksi pemikiran ideologi ini mempunyai kecenderungan penerimaan terhadap kebenaran yang diwahyukan atau konsesus sosial yang sudah mapan. Penjelasannya bahwa gagasannya untuk kembali kepada kebijaksanaan silam yang pernah benerbenar ada atau sekedar hanya tafsiran atau imajinasi. Ideologi pendidikan ini selalu menyandarkan segala sesuatunya pada kitab suci. Fundamentalisme terbagi menjadi dua bagian. Pertama, fundamentalisme pendidikan relegius yang memiliki pandangan atas kenyataan yang cukup kaku sesuai dengan apa yang ada dalam William F. OAoneil. Ideologi-Ideologi Pendidikan (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2. , 96-97. otoritas agama. Kedua, fundamentalisme pendidikan sekular lebih mengembangkan komitmen yang ada dalam pandangan relegius terhadap cara pandang dunia melalui akal sehat yang Intelektualisme Pendidikan Intelektualisme ini berawal dari pemikiran konservatisme politik yang sistem-sistem pemikiran filosofis atau relegius yang pada dasarnya otoritarian. Secara umum konservatisme filosofis ingin mengubah praktek-praktek dalamnya terdapat pendidikan, demi sempurna dengan cita-cita intelektual atau rohaniah yang sudah mapan. Misalnya konservatisme intelektualisme yang terpantul dalam tulisan Fundamentalisme Pendidikan berawal dari gerakan yang dilakukan oleh fundamentalisme kristen dan tradisi-tradisi terkait seperti gereja baptis kritus wilayah selatan, gereja-gereja evangeklis independen, gereja-gereja pantekosta. Tradisi-tradisi dilakukan oleh kelompok gereja orang-orang kudus zaman akhir. Gereja Advent hari ketujuh, dan saksi Yehovah. Edgar Bundy. Billy James Hargis. Carl McIntire, the Moral Mojority yang tergabung gerakan kesalehan warga Negara. Sedangkan Fundamentalisme Pendidikan Sekuler berawal dari gerakan totaliterianisme teologis yang dibangun oleh fasisme benito Mussolini. Giovanni Gentile. Nazisme. Dolf Hitler. Ernest Hubert. Gerakan nasionalisme relegius seperti Robert welc, dan smoot. Clarence manion. Kelompok populisme Auakal sehatAy max rafferty dan George Wallace. Gerakan restorasionisme eropa yang digalang oleh joseph de maisetre. Louis de Bonald dan francois de Chateaubriand. Lihat. William F. OAoneil. Ideologi-Ideologi Pendidikan(Yogyakarta: pustaka pelajar, 2. Lihat juga Karti Soeharto. Perdebatan Ideologi Pendidikan. Jurnal Cakrawala Pendidikan edisi Juni 2010 th. XXIX No 2 (Yogyakarta: Lembaga penjamin mutu Pendidikan UNY, 2. , 137-139. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Usman. Jamiluddin Usman Plato dan Aristoteles yang pada sentralnya pada Santo Thomas Aquinas yang memberikan dasar filosofis pada sudut pandang Katolik Roma yang Dalam pendidikan kontemporer konservatisme filosofis mengungkapkan diri terutama sebagai mempunyai dua bagian dasar. Pertama. Intelektualisme Pendidikan yang secara substansi lebih bersifat sekuler. Adapun tokohnya Robert Maynard dan Mortimer Adler. Kedua. Intelektualisme Teologis yang lebih bersifat lebih kaku dalam cara pandang realitas dan lebih cenderung tekstualis seperti yang termaktub dalam kita suci. Adapun tokohnya adalah William McGucken dan John Donahue. Konservatisme Pendidikan Pada dasarnya konservatisme lebih pada mendukung posisi ketaatan pada lembaga-lembaga dan proses budaya didampingi oleh rasa hormat yang mendalam terhadap hukum dan tatanan Adapun tokoh dan organisasi yang menjadi motor gerakan intelektualisme teologis ini adalah St. Thomas Aquinas. St. Ignatius Loyola. Moses Maimonides. John Henry Newman, katolikisme Roma kontemporer, tradisi dominan agamaagama yang paling natural seperti Unitarianisme dan Universalisme. Sedangkan intelektualisme Plato. Aristoteles. Rene Descartes. Matthew Arnold, tradisi dominan dalam orientasi seni liberal barat sepertiRobert Hutchins. Mortimer Adler. Jacques Barzun. The great book program, st. johnAos collage Annapolis, sekolah-sekolah persiapan kemapanan utama, tradisi akademik utama di Jerman, sekolah-sekolah yang ada di Britania Raya. Lihat. William F. oAoneil. Ideologi-ideologi pendidikan (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2. Lihat juga Karti Soeharto. Perdebatan Ideologi Pendidikan. Jurnal Cakrawala Pendidikan edisi Juni 2010 th. XXIX No 2 (Yogyakarta: Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan UNY, 2. , 137-139. sebagai landasan perubahan sosial yang Konservatisme utama sekolah adalah pelestarian dan penerusan pola-pola sosial serta tradisi yang sudah mapan. Konservatisme pendidikan terbagi menjadi dua bagian. Pertama, konservatisme pendidikan relegius yaitu, penekanan peran sentral pelatihan rohaniah sebagai landasan pembangunan karakter moral. Kedua, konservatisme pendidikan sekuler yaitu, memusatkan perhatian pada perlunya keyakinan-keyakinan praktekpraktek yang sudah ada sebagai cara menjamin pertahanan hidup secara sosial dan mempunyai efektifitas yang kuat pada orientasi pendidikan yang bersifat kitab suci dan evangelis. Tokohnya James Koerner dan Hayman rickover. Konservatisme Religius berawal dari tradisitradisi protestan utama yang berdasarkan reformasi yang diawali pemikiran tokoh-tokoh Lutherianisme. Gerakan-gerakan Kristen Evangelis NonSektarian, adapaun tokohnya seperti Billy Graham. Campus Crusade for Christ. Intervarsity Cristian Fellowship. Agustianis Teologis tokohnys John Duns Scotus. Tertullian. Soren Kierkegaard. Nasionalisme Konservatisme Sekulermempunyai kelompok dan tokoh-tokohnya yang saling berberkaitan seperti. Konservatisme Mapan . emocrasi tor. adapun para tokoh Edmund Burke. Ruusel Kirk. William Buckley. Konservatif Pasar Bebas, tokohnya Adam Smith. Thomas Malthus. Davis Ricardo. Milton Friedman. Agustian Sekuler, realisme politis (Hans Morgentha. Naturalis Hedonis (Thomas Hobbe. Teori-Teori PolitisAyKonflik KepentinganAy tokohnya Thomas Harrington. John Adams. James Madison. John C. Calhoun. Machievelli dan Neo-Machievellian. Darwinis Sosial . onservatif spenceria. Herbert Spencer. William Graham Sumner. Lester Ward. Nasional Teleologis . onservatif Hegelia. Tokohnya Georg W. F Hegel. Auguste Comte. Emile Durkheim. Friedich Nietzsche. Berbagai Kritikus Terhadap Pendekatan41 Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Ideologi Pendidikan Islam Pesantren Di Indonesia Perspektif Muhammad Jawwad Ridla Dan William F. OAoneal Tokoh-tokohnya menurut penjelasan OAoneil adalah St. Thomas Aquinas. St. Ignatius Loyola. John Henry Newman. Ideologi-Ideologi Pendidikan Liberal Ideologi-ideologi liberal semunya kehidupan yang baik dengan perilaku yang disesuaikan dengan perkiraanperkiraan empiris dan naturalis untuk mengenai AotahuAo dan Aoyang diketahuiAo. Jadi, liberalisme menganggap bahwa moralitas sebagai sesuatu yang sejajar dengan kecerdasan fungsional manusia. Artinya, orang yang cerdas adalah orang yang bermoral. Ideologi pendidikan liberal ini mempunyai tiga cabang pemikiran dan dibangun dari tiga tradisi yaitu, liberalism pendidikan, libersionisme pendidikan dan anarkisme pendidikan. Selanjutnya penulis jelaskan pemaknaan terhadap tiga cabang pemikiran tersebut sebagai berikut. Liberalisme Pendidikan Liberalisme melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada dengan cara mengajar setiap siswa bagaimana cara menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupannya secara efektif. Ada beberapa cabang liberalisme pendidikan diantaranya. Pertama, liberalisme metodis adalah bersifat non ideologis dan memusatkan diri pada cara-cara baru dan cara-cara yang telah diperbaiki untuk melancarkan pencapaian sasaran-sasaran pendidikan yang ada sekarang. Penganut kaum liberalisme metodis, mengambil sikap bahwa metode-metode pengajaran . aracara belajar-mengaja. harus disesuaikan dengan zaman supaya mencakup renungan-renungan psikologis baru dan hakikat belajar manusia. Kedua, liberalisme direktif . iberalisme terstruktu. , pada dasarnya kaum liberal direktif menginginkan pembaharuan mendasar dalam tujuan sekaligus dalam sekolah-sekolah sebagaimana ada sekarang. Mereka menganggap bahwa wajib belajar adalah Kemudian juga diperlukan kepiawaian memilih beberapa keperluan mendasar tertentu serta mengajukan penetapan lebih dulu tentang isi pelajaran-pelajaran yang akan diberikan pada siswa. Ketiga, liberalisme non-direktif adalah liberalisme tanpa pengarahan. Kaum liberalisme non-direktif sepakat dengan pandangan bahwa tujuan dan cara-cara pelaksanaan pendidikan perlu diarahkan kembali secara radikal dari orientasi orotiratian tradisional ke arah sasaran pendidikan yang mengajar siswa untuk memecahkan masalah-masalah sendiri secara efektif. Ideologi Liberasionisme Pendidikan Liberasionisme adalah sebuah sudut pandang yang menganggap bahwa kita harus segera melakukan perombakan berlingkup besar terhadap tatanan politik yang ada sekarang, sebagaimana cara untuk memajukan kebebasan-kebebasan mempromosikan perwujudan potensipotensi diri semaksimal mungkin dalam bahasa yang berbeda dapat juga dikatakan perubahan-perubahan yang Pendekatan Liberal Ke Pendidikan seperti Hyman cepat dan berskala besar dalam hakikat Rickover. James koerner dan Arthur Bestor. mendasar tatanan sosial yang mapan. 42 William F. OAoneil. Ideologi-Ideologi Pendidikan Bagi kaum liberasionisme sekolah harus (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 95-96. asional-ilmia. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Usman. Jamiluddin Usman Sekolah mempunyai fungsi ideologis maksudnya adalah membantu siswa tertinggi yang ada dalam pemecahanpemecahan masalah secara intelek yang Liberasionisme dilandasi oleh sebuah sistem kebenaran komitmen tertentu terhadap rangkaian tindakan apapun yang didukung oleh pengetahuan dan bersifat obyektif dalam sebuah komunitas intelektual pada saat Liberasionisme pendidikan terbagi menjadi 3 . Pertama, liberasionisme pendidikan reformatif menginginkan kesetaraan gender, etnis, ras, penghapusan diskriminasi dalam segala hal. Gerakan ini dilakukan oleh organisasi mahasiswa dan masyarakat seperti black student union, united Mexican-American koordinasi mahasiswa anti kekerasan dan gerakan-gerakan hak perempuan. Kedua, liberasionisme pendidikan radikal adalah gerakan yang menggunakan sekolah-sekolah. Anarkisme Pendidikan Seorang pendidik anarki pada . embuktian melalui nalar ilmia. , atau menerima prakiraan-prakiraan selaras dengan sistem pendidikan semacam itu. Seorang pendidik anarkis pembatasan-pembatasan terhadap perilaku personal, pendidik juga harus sejauh mungkin melakukan men-deinstitusionalisasi-kan masyarakat Dapat pendekatan terbaik terhadap pendidikan adalah pendekatan yang mengupayakan berskala besar yang mendesak dalam masyarakat, dengan cara menghapuskan sistem persekolahan yang ada. Konstrusi pemikiran ini dapat dilihat dari tokohnya seperti Ivan Illich dan Paul Goodman. Dari berbagai macam hasil pendidikan barat yang di kategorsasikan oleh William O,neal. Memberikan gambaran yang terang bagi penulis seperti apakah tipologi pendidikan Islam yang ada di pondok pesantren yang ada di Indonesia secara umum perspektif William O,neal. Setelah melakukan analisis mendalam akhirnya penulis mempunyai kesimpulan bahwa Ideologi pendidikan Islam pondok pesantren di Indonesia lebih dekat dan mempunyai kesamaan dengan ideologi Pendidikan Konservatif Ideologi cenderung memandang perwujudan diri sebagai, sebuah tujuan untuk dicapai hanya secara tidak langsung melalui dedikasi penuh terhadap kenyataan mutlak atau absolut Tuhan, hukum alam, tradisi atau sejenisnya yang melampaui pengalaman personal yang biasa. Artinya, konservatif memandang sebuah humanism tidak langsung menganggap bahwa perwujudan diri sebagai hasil dari ketaatan terhadap perintah-perintah kenyataan suprapersonal. Secara substansial di dalam pendidikan relegius yaitu, penekanan peran sentral pelatihan rohaniah sebagai landasan pembangunan karakter moral. Pada hal inilah, pondok pesantren menyandarkan diri, bahwa etika dan Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Ideologi Pendidikan Islam Pesantren Di Indonesia Perspektif Muhammad Jawwad Ridla Dan William F. OAoneal ketaan terhadap Tuhan menjadi mutlak untuk diikuti dan dilakukan. Kesimpulan Pertama. Dari Muhammad Jawwad Ridla ini yang di pemikiran intelektual muslim terkemuka pada zamannya yang mashur hingga saat ini. Setelah melalui beberapa analisis penulis berkesimpulan bahwa ideologi pendidikan Islam pondok pesantren di Indonesia mempunyai kesamaan dengan aliran Agamis-Konservatif . l-Muhafid. Dimana AgamisKonservatif ini berpendapat bahwa aliran berpendapat bahwa pendidikan hanya mencakup ilmu-ilmu yang dibutuhkan saat sekarang . idup di duni. yang jelas-jelas akan membawa manfaat kelak di akhirat. Para penuntut ilmu berkeharusan mengawali belajarnya dengan kitabullah al-QurAoan. Setiap orang menuntut ilmu atau siswa berusaha menghafal dan mampu menafsirkan alQurAoan, lalu dilanjutkan dengan hadith dan ulum al-hadith, ushul, nahwu dan Kedua. Dari berbagai macam hasil pendidikan barat yang di kategorsasikan oleh William O,neal. Memberikan gambaran yang terang bagi penulis seperti apakah tipologi pendidikan Islam yang ada di pondok pesantren yang ada di Indonesia secara umum perspektif William O,neal. Setelah melakukan analisis mendalam akhirnya penulis mempunyai kesimpulan bahwa Ideologi pendidikan Islam pondok pesantren di Indonesia lebih dekat dan mempunyai kesamaan dengan ideologi Pendidikan Konservatif. Dimana Ideologi konservatif cenderung memandang perwujudan diri sebagai, sebuah tujuan untuk dicapai hanya secara tidak langsung melalui dedikasi penuh terhadap kenyataan mutlak atau absolut Tuhan, hukum alam, tradisi atau sejenisnya yang melampaui pengalaman personal yang biasa. Artinya, konservatif memandang sebuah humanism tidak langsung menganggap bahwa perwujudan diri sebagai hasil dari ketaatan terhadap perintah-perintah kenyataan suprapersonal. Secara pendidikan religius yaitu, penekanan peran sentral pelatihan rohaniah sebagai landasan pembangunan karakter moral. Pada hal inilah, pondok pesantren menyandarkan diri, bahwa etika dan ketaan terhadap Tuhan menjadi mutlak untuk diikuti dan dilakukan. Daftar Pustaka Althusser. Louis. Tentang Ideologi: Marxisme Strukturalis. Psikoanalisis. Cultural Studies. Yogyakarta: Jalasutra, 2008 Azizy. Ahmad Qadry Abdillah. Pengantar: Memberdayakan Pesantren dan Madrasah, dalam Ismail SM. Nurul Huda dan Abd Kholiq, ed. Dinamika Pesantren Madrasah. Yogyakarta: Kerjasama IAIN Walisongo Semarang Pustaka