Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Implementation of the Tahfidz Al-Qur'an Program Using the Bil Qolam Method at MTs Hasyim Asy'ari in Batu City Ety Galbina El MazayaA. Ahmad MaAoruf A Universitas Yudharta Pasuruan. East Java. Indonesia Article History: Received: 11/4/2025 Revised: 16/5/2025 Accepted: 7/6/2025 Published: 21/6/2025 Keywords: Tahfidz Al-Qur'an Bil Qolam Method Program Implementation Kata Kunci: Tahfidz Al-Qur'an Metode Bil Qolam Implementasi Program. Correspondence Address: galbielmazaya@gmail. Abstract: This study aims to describeetheoimplementation. of theeAl-QurAoan tahfidz program at MTs Hasyim AsyAoari in Batu City using the Bil Qolam method, as well as to identify its supportinghandlinhibitinglfactors. The research employs a qualitativeeapproachpwith a casepstudy. Data were collecteddthroughpdocumentation, observation, and in-depth interviews with students, supervising teachers, and tahfidz coordinators. The results show that the program implementation consists of the stages of PPQ. Bin Nadzor, and tahfidz. The main supporting factors include a systematic method, teachers with sanad . hain of transmissio. , student motivation, and a classical learning model. The primary challenges involve student consistency, academic workload, and fluctuations in memorization during holidays. Abstrak Abstrak: Penelitiannini bertujuanpmendeskripsikanpimplementasi program. Al-QurAoan di MTs Hasyim AsyAoari Kota Batu menggunakan metode Bil Qolam, serta mengidentifikasipfaktor Penelitian ini menggunakan pendekatannkualitatif. dengan metode Data dikumpulkan. melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara mendalam dengan siswa,gguru pembimbing, dan koordinator tahfidz. Hasil penelitianmmenunjukkan. pelaksanaan program terdiri dari tahapan PPQ. Bin Nadzor, dan tahfidz. Faktor pendukung utama meliputi metode yang sistematis, guru bersanad, motivasi siswa, dan model pembelajaran klasikal. Kendala utama mencakup konsistensi siswa, beban akademik, dan fluktuasi hafalan selama liburan. PENDAHULUAN Pendidikan Islam bertujuan membantu individu mengoptimalkan potensi fisik dan spiritual agar menjadi Muslim yang taat sepenuhnya (Sahfitri et al. Al-Ghazali menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah menciptakan manusia ideal, berfaedah di duniapmaupun dioakhirat, yang dicapai melalui pengetahuan dan penerapan kebajikan (Romansah et al. , 2. Al-QurAoan sebagai pegangan hidup utama menjadi fokus pendidikan Islam, khususnya dalam Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 mempererat hubungan siswa dengan kitab suci tersebut. Dalam menghadapi tantangan global dan modernitas, menjaga nilai agama dan moral generasi penerus menjadi semakin krusial. Di era teknologi maju, pembelajaran Al-QurAoan berperan penting dalam membantu individu tetap berpegang pada prinsip spiritual dan moral. Kurikulum tahfidz Al-QurAoan melambangkan salahllsatu bentuk pendidikan yang populer di sekolah Islam, termasuk di MTs Hasyim AsyAoari Kota Batu. Program ini berhasil menanamkan nilai keimanan, disiplin, dan ketekunan melalui hafalan Al-QurAoan serta memperkuat karakter religius siswa (Maskur, 2. Namun, pelaksanaan program tahfidz menghadapi kendala seperti menjaga motivasi dan konsistensi siswa yang juga memiliki beban akademik lain. Diperlukan strategi pembelajaran yang sistematis, menarik, dan berfokus pada kebutuhan siswa agar kendala tersebut dapat diatasi. MTs Hasyim AsyAoari menerapkan metode Bil Qolam, yang menekankan pelafalan tepat, hafalan konsisten, dan pengawasan ketat dari pengajar (Dessi Fitria Ningsih, 2. Meskipun metode ini tidak menggunakan penulisan mushaf secara manual seperti di tempat lain, pendekatan yang digunakan tetap menitikberatkan pada proses menghafal secara bertahap dan teratur demi hasil yang optimal. Selain aspek teknis hafalan, madrasah juga berupaya menciptakan suasana pembelajaran yang mendorong siswa memahami makna dan menghayati nilai-nilai Al-QurAoan dalam sikap dan pebuatan sehari-hari. Keberhasilan program tahfidz tidakkhanya. ada metode yang diterapkan, tetapi. uga dipengaruhi oleh pembinaan spiritual dan ketulusan niat siswa dalam menghafal. Namun, efektivitas penerapan metode Bil Qolam, tanggapan siswa terhadap program tahfidz, serta faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya belum diteliti secara utuh. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menggambarkan pelaksanaan program tahfidz Al-QurAoan di MTs Hasyim AsyAoari Kota Batu menggunakan Bil Qolam serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi Hasil penelitian diharapkan menjadi bahan evaluasi dan acuan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 pengembangan bagi madrasah maupun lembaga pendidikan lain yang menyelenggarakan program tahfidz serupa. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Qamar ayat 17 (QS. Al-Qamar: :sAaOEaCa e Oa ecaIa eECa eIa aEE ac eE a Aa aN eE aI eI caIca aEA Wa laqad yassarnal qurAoAna lildzikri fahal min muddakir AuDannsungguh. Kami. telah memudahkan[Al-QurAoan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil=pelajaran?Ay (M. Quraish Shihab, 2. Dengan niat tulus dari dalam hati, kitab suci yang diturunkan Allah mudah dihafal dan dibaca, sebagaimanapdijelaskanpdalam. Tafsir Al-Azharrkarya Buya Hamka (Cindhy Yuliarnis Putri, 2. Oleh karena itu, setiap pelajar dapat menyelesaikan kurikulum tahfidz dengan baik apabila disertai komitmen kuat, metode pembelajaran yang tepat, serta lingkungan yang kondusif. METODE Penelitiannini. fenomenaayang dialami partisipan, seperti perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakannya (Anwar & Firdaus, 2. Tujuan riset kualitatif adalah memperoleh pemahaman mendalam dan menyeluruh mengenai pengalaman tersebut (Sahfitri et al. , 2. Metode yang digunakan adalah studi kasus, yaitu analisis rinci terhadap suatu peristiwa atau fenomena selama periode penelitian (Sugiyono. Fokus penelitian adalah program tahfidz Bil Qolam di MTs Hasyim AsyAoari Kota Batu. Informan penelitian berjumlah 7 orang yang dipilih secara purposive, terdiri dari 1 koordinator tahfidz, 3 guru pembimbing, dan 3 siswa yang aktif mengikuti program tahfidz. Pemilihan informan didasarkan pada keterlibatan langsung mereka dalam pelaksanaan program. Pengumpulan data dilakukan selama tiga minggu, tepatnya dari tanggal 22 April 2025 hingga 13 Mei 2025. Observasi partisipatif dilakukan pada 3 kelas tahfidz untuk memantau aktivitas hafalan siswa secara langsung, dengan frekuensi Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 pengamatan tiga kali seminggu. Selain itu, dilakukan wawancara mendalam dengan seluruh informan dan pengumpulan dokumentasi terkait program tahfidz. Instrumen utama penelitian adalah peneliti sendiri, yang dibantu dengan pedoman observasi dan wawancara yang telah disiapkan sebelumnya. Validasi data dilakukan melalui triangulasi sumber dan teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari koordinator tahfidz, guru pembimbing, dan siswa untuk memastikan konsistensi informasi. Triangulasi teknik melibatkan penggunaan beberapa metode pengumpulan data, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi, guna memperkuat keakuratan dan kredibilitas temuan penelitian. Selain itu, peneliti melakukan member check dengan mengonfirmasi hasil wawancara dan interpretasi data kepada informan untuk memastikan kesesuaian pemahaman dan menghindari kesalahan interpretasi (Fita Istikarini & Astina, 2. Analisis data mengikuti model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi empat tahap: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengelola dan memahami data secara sistematis dan mendalam. HASIL DAN PEMBAHASAN Latar Belakang Implementasi Metode Bil Qolam Sebagaimana wawancara peneliti dengan Bapak Ahmad Murtafiq M. Pd, programmtahfidz Al-QurAoan di MTs Hasyim AsyAoari menyatakan bahwa AuProgram tahfidz di madrasah ini telah dilaksanakan sejak lama, namun pada awalnya berjalan secara informal dan tanpa metode yang Baru pada tahun 2018, madrasah mulai menerapkan metode Bil Qolam sebagai pendekatan resmi dalam program tahfidz. Tujuan penerapan metode tersebut adalah untuk menciptakan sistem pembelajaran yang lebih terarah dan memudahkan proses menghafal Al-QurAoan. Ay Menurut penanggung jawab program, metode Bil Qolam dipilih karena dianggap mudah dipahami oleh para siswa serta memiliki sanad yang jelas dan dapat dipercaya, sehingga dapat menjamin keaslian serta ketepatan dalam pengajaran Al-QurAoan. Kejelasan sanad Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 ini memberikan jaminan bahwa metode yang diterapkan sesuai dengan tuntunan ulama dan standar pembelajaran Al-QurAoan yang sahih. Metode ini juga dinilai praktis karena tidak memerlukan pendekatan yang kompleks atau Auneko-nekoAy, tetapi fokus pada penguatan dasar-dasar membaca Al-QurAoan sebelum masuk ke tahap tahfidz. Hal ini memudahkan gurupdalam siswaidalamemahami'setiap Di samping kelebihan dalam aspek pembelajaran, ketersediaan kitab Bil Qolam yang mudah didapat serta harganya yang terjangkau menjadi pertimbangan penting dalam pemilihan metode ini. Lembaga melihat bahwa penggunaan metode ini memungkinkan seluruh siswa untuk terlibat aktif tanpa memberikan beban finansial berlebih kepada orang tua. Harapannya, melalui metode yang praktis dan sistematis ini, siswa dapat lebih siap secara emosional dan akademik untuk melanjutkan proses hafalan Al-QurAoan secara optimal. Metode Bil Qolam dikenal karena kesederhanaannya yang memudahkan siswa dalam belajaromembacapdan menghafal Al-QurAoan. Dengan pendekatan yang tidak membingungkan, siswa lebih mudah memahami materi, merasa nyaman dalam belajar, dan tetap termotivasi untuk mengikuti program tahfidz secara konsisten. Tahapan Penerapan Program Tahfidz Sebagaimana wawancara peneliti dengan Bapak Ahmad Murtafiq M. Pd, selaku koordinator program tahfidz Al-QurAoan di MTs Hasyim AsyAoari menyatakan bahwa AuPada awal penerapannya, program tahfidz di MTs Hasyim AsyAoari dijalankan dengan pembagian kelas khusus yang lebih fokus pada tahfidz. Namun, seiring berjalannya waktu, kelas-kelas tersebut digabung menjadi kelas Model klasikal ini memungkinkan interaksi yang lebih intens antar siswa, seperti saling menyimak dan mengoreksi hafalan teman, sehingga proses belajar menjadi lebih dinamis dan motivasi belajar siswa meningkat. Ay Penerapan model klasikal ini sesuai dengan Teori Pembelajaran Sosial Bandura, di mana siswa belajar melalui observasi, interaksi, dan koreksi antar teman. Pendekatan ini meningkatkan motivasi dan memperkuat hafalan sekaligus membangun kebersamaan dan tanggung jawab dalam lingkungan belajar. (Manik et al. , 2. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Pendekatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat hafalan tetapi juga membangun semangat kebersamaan dan rasa tanggung jawab dalam lingkungan Dengan demikian, program ini berjalan secara menyeluruh dan kontekstual sesuai kebutuhan dan karakteristik siswa di MTs Hasyim AsyAoari. Dalam penerapan model klasikal ini, setiap kelas terdiri dari beberapa tingkatan sesuai dengan capaian hafalan siswa. Hal ini memungkinkan guru untuk memberikan materi dan bimbingan yang sesuai dengan fase kesanggupan masingmasing siswa, serta memudahkan dalam evaluasi dan monitoring perkembangan hafalan mereka. Pembagian tingkatan berdasarkan capaian hafalan ini juga mendorong siswa untuk lebih termotivasi dalam meningkatkan hafalannya agar dapat naik ke tingkatan yang lebih tinggi. Selain itu, pendekatan ini membantu menciptakan lingkungan belajar yang kompetitif namun tetap suportif, di mana siswa salinggmendorong. an0membantupsatu=sama=lain dalam mencapai target hafalan yang ditetapkan. Dengan struktur kelas yang disesuaikan berdasarkan capaian hafalan, program tahfidz di MTs Hasyim AsyAoari dapat berjalan lebih efektif dan efisien, serta mampu memenuhi kebutuhan individual siswa dalam proses menghafal Al-QurAoan. Adapun pelaksanaan kegiatan tahfidz dilakukan pada pagi hari sera har Selasa sampa hari JumAoat, mulai pukul 06. 00 hingga 09. 00 WIB khusus bagi siswa yang telah memasuki jenjang tahfidz. Sementara itu, siswa yang belum lancar membaca Al-QurAoan mengikuti tahap Pendalaman Pemahaman QurAoan (PPQ) terlebih dahulu hingga pukul 08. 00 WIB, sebelum melanjutkan pembelajaran lainnya sesuai jadwal madrasah. Tahap PPQ ini menggunakan metode Bil Qolam yang terdiri dari empat jilid, dirancang untuk memberikan dasar yang kuat dalam membaca huruf hijaiyah dan memahami Al-QurAoan secara bertahap. Metode ini mempercepat proses belajar agar siswa dapat segera naik ke jenjang berikutnya. Menurut penanggung jawab program, tahap ini juga dikenal dengan istilah Baca Tulis QurAoan (BTQ) dalam praktik sehari-hari. Setelah dinyatakan lulus dari PPQ, siswa akan melanjutkan ke kelas Al-QurAoan dengan tahap Bin Nadzor, yaitu melafalkan Al- Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 QurAoan sambil melihat teks. Apabila bacaan mereka dinilai lancar dan tartil, maka siswa dapat melanjutkan ke jenjang tahfidz. Pada tahap tahfidz, siswa menjalani kegiatan rutin seperti murojaah bersama untuk memperkuat hafalan secara kolektif, serta setoran hafalan kepada guru sebagai bentuk evaluasi dan pembinaan berkala. Murojaah yaitu mengulang atau mengingat kembali mengenai hafalannya atau disebut juga pengulangan (Ilmiah et al. , 2. Kegiatan murajaAoah melahirkan salah satu teknik untuk tetap merawat hafalan agar tetap terawat. (Atmi, 2. Program tahfidz dimulai dengan pembiasaan membaca surah Al-Fatihah hingga lancar. Kegiatan ini dilakukan secara berulang untuk memastikan pelafalan dan makhraj huruf yang tepat. Setelah itu, dilanjutkan dengan kegiatan klasikal, di mana seluruh siswa membaca bersama-sama satu halaman dari Juz 29 atau Juz 30, serta beberapa surah pendek dari Juz 30 secara bergantian. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kelancaran bacaan dan kekompakan siswa dalam membaca Al-QurAoan. Selanjutnya, siswa diberi waktu sekitar 15 menit untuk menambah hafalan baru sebanyak setengah halaman. Bagi siswa yang telah siap, disediakan waktu khusus untuk menyetorkan hafalan tambahan kepada guru pembimbing. Setelah semua hafalan tersetorkan, kegiatan ditutup dengan murojaah . engulang hafala. sebanyak 1/4 juz dari bagian yang telah dihafal atau disetorkan sebelumnya. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin untuk menjaga hafalan siswa agar tetap kuat dan lancar. Seluruh siswa kelas 9 diharapkan sudah memasuki program tahfidz sebagai bagian dari kesinambungan pembelajaran Al-QurAoan yang dimulai sejak mereka mengikuti PPQ. Siswa yang sudah berhasil menyelesaikan hafalan satu juz dapat mengikuti kegiatan tasmiAo, yaitu proses evaluasi di mana siswa membaca kembali hafalannya di hadapan guru dan beberapa siswa lain sebagai Tasmi' Al-Qur'an menitikberatkan pada pembacaan ayat secara berulang-ulang. Karena pengucapan huruf dan harakat sering terlupa, metode ini membantu penghafal mengenali kekurangan dalam bacaan mereka (Sulfa Afiyah, 2. Razak et al. , . menyatakan bahwa tasmi' efektif dalam memajukan kemampuan siswa dalam Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 mengingat Al-Qur'an. Selain memperbaiki ketepatan dan mutu hafalan, cara ini juga menumbuhkan semangat berkelanjutan serta memperkuat kepercayaan diri Kegiatan ini dilakukan secara terbuka dengan guru dan siswa dari berbagai kelas sebagai pendengar, sehingga tidak hanya membangun rasa percaya diri peserta, tetapi juga menciptakan suasana kompetisi yang sehat dan saling mendukung antar siswa. Selain sebagai evaluasi, tasmi' menjadi momen penting bagi siswa untuk menunjukkan hasil kerja keras mereka di depan teman dan guru, memacu semangat dan komitmen dalam menjaga hafalan. Penggunaan sistem reward yang diberikan berupa pujian langsung, sertifikat, maupun hadiah sederhana terbukti efektif sebagai motivasi strategi. Penghargaan ini memberikan dorongan positif yang meningkatkan kualitas hafalan dan kedisiplinan belajar, sekaligus menumbuhkan rasa bangga dan tanggung jawab terhadap proses tahfidz. Secara keseluruhan, kegiatan ini berperan penting dalam menjaga konsistensi dan semangat belajar siswa di MTs Hasyim Asy'ari. Program ini juga menjadi bagian dari jalur prestasi di MTs Hasyim AsyAoari, di mana capaian hafalan siswa dijadikan sebagai salah satu indikator dalam seleksi masuk jenjang pendidikan lanjutan, baik di tingkat MA maupun pondok pesantren tahfidz. Dengan demikian, program tahfidz ini tidak hanya memperkencang aspek religius siswa, tetapi juga membagikan peluang akademik dan pengembangan diri secara lebih luas. Dukungan penuh dari pihak sekolah, guru pembimbing, dan lingkungan yang kondusif menjadi faktor utama dalam keberhasilan implementasi program ini secara konsisten dan berkelanjutan. Faktor Pendukung Mencapai hasil akademis yang gemilang memerlukan kondisi mendukung, walau hambatan dan tantangan pasti muncul. Program tahfidz bertujuan membentuk karakter anak-anak agar lebih disiplin dan berkomitmen pada hafalan Namun, tujuan utamanya bukan semata menghafal saja. Metode Bil Qolam membantu membentuk rutinitas yang terarah melalui target harian, setoran hafalan, serta bimbingan intensif dari guru tahfidz. Selain itu, dukungan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 lingkungan yang kondusif dan keterlibatan aktif guru dalam memantau perkembangan setiap siswa turut memperkuat keberhasilan program ini. Dengan demikian, program tahfidz di MTs Hasyim AsyAoari tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan akademik, tetapi juga sebagai upaya pembentukan akhlak dan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari siswa. Keberhasilan program ini juga berdampak pada lingkungan sekolah secara Suasana religius semakin terasa, karena siswa terbiasa membaca dan menyimak Al-QurAoan di luar jam pelajaran. Sementara itu, siswa yang mengikuti program sejak kelas VII menyampaikan bahwa metode Bil Qolam sangat membantu mereka dalam proses menghafal, terutama karena pendekatannya sistematis dan mudah dipahami. Mereka merasa lebih percaya diri dan terbantu dalam memahami makna serta urutan ayat, yang memperkuat daya ingat mereka. Lebih dari itu, banyak dari mereka yang menunjukkan keinginan kuat untuk melanjutkan tahfidz ke jenjang berikutnya, khususnya di pondok pesantren. Hal ini menunjukkan bahwa program tidak hanya berhasil dalam jangka pendek, tetapi juga menumbuhkan motivasi spiritual dan komitmen jangka panjang terhadap AlQurAoan. Tantangan Dari hasil wawancara dengan Ibu Sudayati selaku guru tahfidz, menyatakan bahwa Autantangan utama dalam pelaksanaan program adalah saat periode libur sekolah, di mana aktivitas tahfidz juga berhenti sehingga hafalan siswa tidak terjaga dengan baik. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kontrol dan lingkungan belajar yang kondusif selama liburan, serta tidak semua siswa memiliki dukungan dari rumah untuk menjaga hafalan secara mandiri. Akibatnya, banyak siswa mengalami penurunan kemampuan dalam murojaah ketika kembali ke sekolah. AuKondisi ini dapat dijelaskan melalui Teori Pembelajaran Sosial Bandura, yang menekankan pentingnya interaksi sosial dan lingkungan dalam proses belajar. Ketika dukungan sosial dan pengawasan berkurang selama liburan, motivasi dan penguatan perilaku belajar, seperti murojaah, menjadi menurun, sehingga kemampuan hafalan siswa juga terdampak negatif (Bandura, 2. Untuk mengatasi hal ini, pihak sekolah mendorong siswa agar tetap melanjutkan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 hafalan di rumah melalui jadwal murojaah mandiri yang dibagikan sebelum libur, meskipun efektivitasnya sangat bergantung pada kedisiplinan masing-masing Selain itu, gangguan konsentrasi seperti siswa yang berbicara saat kelas berlangsung menjadi kendala yang mempengaruhi kualitas pembelajaran. Suasana kelas yang kurang tenang membuat siswa sulit fokus, terutama saat menyimak atau menyetorkan hafalan. Kondisi ini tidak hanya menghambat proses pembelajaran secara individual, tetapi juga mengganggu siswa lain yang sedang berusaha menghafal. Untuk mengatasi hal ini, guru menerapkan pendekatan disiplin yang bersifat edukatif, seperti meminta siswa melakukan murojaah ulang sebanyak tiga kali pada halaman yang sama sebagai bentuk tanggung jawab atas ketidak fokusan Dalam beberapa kasus, siswa juga diminta menyetorkan satu lembar hafalan tambahan sebagai bentuk penguatan penguasaan materi. Strategi ini tidak hanya bertujuan memberikan efek jera, tetapi juga memperkuat hafalan siswa dan membentuk kebiasaan belajar yang lebih serius dan bertanggung jawab. Dengan pendekatan yang fleksibel namun tetap tegas, guru berusaha menciptakan suasana kelas yang kondusif dan mendukung pencapaian target hafalan. Meskipun tantangan tersebut tidak dapat dihindari sepenuhnya, pengelolaan yang tepat mampu meminimalkan dampaknya terhadap keberlangsungan program tahfidz. Rasa percaya diri dan suasana hati yang positif dapat meningkatkan kemampuan mengingat, sementara stres dan kecemasan justru dapat menghambat daya ingat. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan mendukung sangat penting agar peserta didik dapat menghafal dengan (Hasibuan et al. , 2. Pengaruh Metode Bil Qolam Terhadap Pembentukan Karakter Siswa Dampak positif dari program ini tidak hanya terlihat dari peningkatan kemampuan hafalan siswa, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kedisiplinan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Melalui rutinitas murojaah, setoran hafalan, serta keterlibatan dalam kegiatan tasmiAo, siswa dibiasakan untuk konsisten, bertanggung jawab, dan mampu mengatur waktu dengan baik. Guru Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 menyatakan bahwa kebiasaan rajin mengaji dan berinteraksi dengan Al-QurAoan secara rutin menjadi kunci tumbuhnya sikap positif dan prestasi siswa secara umum, baik dalam pelajaran agama maupun pelajaran umum. Kebiasaan ini secara tidak langsung menanamkan nilai ketekunan, rasa hormat terhadap waktu, serta kesadaran spiritual yang tinggi. Keberhasilan program ini juga berdampak pada lingkungan sekolah secara Suasana religius semakin terasa, karena siswa terbiasa membaca dan menyimak Al-QurAoan di luar jam pelajaran. Selain itu, keterlibatan guru sebagai pendamping yang aktif dan suportif menjadikan hubungan antara siswa dan guru lebih dekat dan penuh makna. Dengan demikian, program tahfidz ini tidak hanya berperan sebagai sarana akademik, tetapi juga menjadi wahana pembinaan karakter Islami yang menyeluruh dan berkelanjutan. KESIMPULAN Program tahfidz Al-QurAoan di MTs Hasyim AsyAoari dengan metode Bil Qolam menunjukkan efektivitas dalam peningkatan hafalan siswa dan pembentukan karakter religius. Keberhasilan ditunjang oleh guru bersanad, metode yang sistematis, serta dukungan lingkungan madrasah. Namun, tantangan seperti ketidakkonsistenan hafalan dan minimnya dukungan orang tua perlu Penelitian mengeksplorasi perbandingan efektivitas metode Bil Qolam dengan metode tahfidz lainnya. REFERENSI