SARGA: JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 19 NO 2 JULY 2025 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga ANALISIS SPASIAL VISUAL ARSITEKTUR RUANG IBADAH MASJID AL-FURQON: PENGALAMAN SPIRITUAL JAMAAH Spatial and Visual Analysis: Al-Furqon Mosque Worship Space and Spiritual Experience | Received Feb 19, 2025 | Accepted July 28, 2025 | Available online July 31, 2025 | | DOI 10. 56444/sarga. 2969 | Page 127 - 140 | Devina Andari Chairunissa1. Tri Seprianto2 devinaacrs@gmail. Program Studi Arsitektur. Universitas Lampung. Bandar Lampung1 triseprianto12@eng. Program Studi Arsitektur. Universitas Lampung. Bandar Lampung2 ABSTRAK Penelitian ini menganalisis hubungan spasial dan visual arsitektur Masjid Agung Al-Furqon Bandar Lampung terhadap pengalaman spiritual jamaah. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi kasus, data dikumpulkan via observasi lapangan, kuesioner, dan studi dokumentasi. Analisis karakteristik spasial menunjukkan organisasi ruang yang fungsional: lantai dasar terpusat untuk aktivitas non-ibadah, sementara lantai dua adalah ruang ibadah tunggal yang monumental. Namun, terdapat isu sirkulasi di area wudhu lantai 1 menuju tangga utama lantai 2, di mana percampuran jalur laki-laki dan perempuan menimbulkan ketidaknyamanan psikologis bagi sebagian Secara visual, interior masjid sangat baik dengan mihrab dan mimbar sebagai pusat penekanan spiritual. Penggunaan beragam material pintu dan jendela, plafon tinggi, serta pencahayaan yang disesuaikan menciptakan suasana sakral dan megah. Unsur artistik seperti kaligrafi dan mozaik lafaz "Allah" efektif memperkuat identitas keislaman. Dampaknya, mayoritas jamaah merasakan ketenangan, kekhusyukan, dan fokus ibadah yang tinggi, didukung skala ruang dan pencahayaan. Masjid ini juga berhasil menumbuhkan rasa keterikatan dan identitas yang kuat. Saran utama meliputi optimalisasi sirkulasi di area wudhu untuk memisahkan jalur jamaah. Kata kunci: Arsitektur Masjid. Hubungan Spasial. Hubungan Visual. Pengalaman Spiritual. ABSTRCT This study analyzes the spatial and visual relationships of Al-Furqon Grand Mosque's architecture in Bandar Lampung concerning the spiritual experience of its congregants. Employing a descriptive qualitative case study approach, data were collected via field observation, questionnaires, and documentation studies. Spatial analysis reveals a functional organization: the ground floor is centralized for non-worship activities, while the second floor is a monumental single worship space. However, a circulation issue was identified in the first-floor ablution area leading to the main secondfloor staircase, where mixed male and female paths cause psychological discomfort for some Visually, the mosque's interior is well-composed, with the mihrab and mimbar as spiritual focal points. Varied door and window materials, high ceilings, and tailored lighting create a sacred, majestic atmosphere. Artistic elements like calligraphy and "Allah" mosaic inscriptions effectively reinforce Islamic identity. Consequently, most congregantsAo experience tranquility, solemnity, and heightened worship focus, supported by the spatial scale and lighting. The mosque also fosters a strong sense of attachment and identity. Key recommendations include optimizing ablution area circulation to separate congregant paths. Keywords: Mosque Architecture. Spatial Relationship. Visual Relationship. Spiritual Experience. Devina Andari Chairunissa. Tri Seprianto PENDAHULUAN Masjid merupakan tempat ibadah umat Islam. Kata masjid berasal dari bahasa Arab, yaitu sajda, yasjudu, dan sujudan yang bermakna Aotaat, patuh, serta tunduk dengan penuh hormat dan Ao Itulah mengapa kata masjid digunakan untuk menyebut tempat/ ruang/bangunan yang digunakan untuk menunjukkan kepatuhan, ketaatan, dan ketundukan manusia pada Tuhan, yaitu tempat untuk menyembah Tuhan YME (Saefu Zaman, 2. Selain dari peran utamanya sebagai tempat shalat, masjid juga memiliki berbagai peran dan fungsi lain yang mencakup kegiatan berdzikir, pelaksanaan iktikaf, pemenuhan kebutuhan sosial, sebagai ruang berkumpul, sarana pendidikan agama dan pertukaran pengetahuan, pusat penyiaran dakwah, serta tempat wisata yang memiliki nilai spiritual dan religi. Dalam keseluruhan aspek ini, masjid memiliki kedudukan sentral dalam menghubungkan aspek keagamaan, pendidikan, sosial, dan budaya dalam kehidupan umat Muslim serta masyarakat luas (Utama & Diwangkoro, 2. Dalam konteks arsitektur, masjid memiliki karakteristik unik yang tidak hanya mengedepankan fungsi ritual, tetapi juga menekankan pada penciptaan atmosfer ruang yang mampu membangkitkan perasaan tenang, khusyuk, dan kedekatan spiritual dengan Tuhan. Rumah ibadah merupakan objek arsitektur yang memiliki pemaknaan tersendiri sebagai tempat yang sakral untuk melakukan ritual keagaman bagi umatnya. Oleh karena itu, kualitas desain spasial dan visual dalam masjid menjadi aspek krusial yang mempengaruhi pengalaman spiritual jamaah. Salah satu aspek utama dalam arsitektur masjid adalah hubungan spasial, yang berkaitan dengan keteraturan tata ruang, sirkulasi, dan hierarki antara ruang sakral. Di sisi lain, hubungan visual, seperti pencahayaan alami, arah pandang ke mihrab, serta pemilihan elemen visual seperti bentuk, warna, dan tekstur, juga turut mempengaruhi persepsi ruang serta kesadaran spiritual pengguna Keduanya, spasial dan visual tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dalam membentuk pengalaman spiritual yang menyeluruh. Selain menjadi masjid raya yang terletak di pusat kota, bangunan ini juga menjadi ikon religius dan arsitektural yang mencerminkan identitas Islam di tengah masyarakat urban. Keberadaannya menarik untuk diteliti dari aspek desain arsitektur, terutama bagaimana tata ruang dan elemen visual yang dihadirkan berkontribusi terhadap suasana spiritual jemaah saat beribadah, sebagaimana dikemukakan oleh Ching . bahwa elemen visual seperti cahaya, bayangan, tekstur, dan keheningan dapat membentuk pengalaman emosional dan spiritual dalam ruang. Hal ini diperkuat oleh Balo et al. yang menyatakan bahwa kualitas spasial dan atmosferik dalam ruang ibadah mampu membangkitkan ketenangan, kekhusyukan, serta memperkuat kedekatan manusia dengan Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menganalisis sejauh mana hubungan spasial dan visual dalam arsitektur Masjid Al-Furqon dapat memengaruhi pengalaman spiritual jemaah. Pengalaman spiritual merupakan aspek penting dalam ruang ibadah karena berkaitan langsung dengan kedalaman makna ibadah, perasaan khusyuk, dan keterhubungan batin antara individu dengan Tuhan (Balo et al. , 2. Ketika ruang dirancang dengan kualitas spasial dan visual yang mendukung, jemaah tidak hanya merasa nyaman secara fisik, tetapi juga dapat mengalami ketenangan batin yang memperkuat kualitas ibadah mereka (Ching, 2. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman desain masjid secara lebih mendalam, serta menjadi referensi bagi arsitek dan perancang ruang ibadah dalam menciptakan ruang yang tidak hanya memenuhi aspek fungsional, tetapi juga mendukung pencapaian spiritual dan emosional yang lebih bermakna. Dalam penelitian ini. Masjid Al-Furqon Bandar Lampung akan dianalisis untuk melihat bagaimana elemen-elemen ruangnya mampu mendukung pengalaman spiritual jemaah. Fokus kajian meliputi tata cahaya, kualitas akustik, keterbukaan visual, serta suasana keseluruhan yang dirasakan saat berada di dalam ruang ibadah. Masjid ini dipilih karena merupakan masjid raya terbesar dan paling representatif di Kota Bandar Lampung, yang tidak hanya aktif digunakan untuk ibadah rutin, tetapi juga untuk berbagai kegiatan keagamaan berskala besar seperti tabligh akbar. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Analisis Spasial Visual Arsitektur Ruang Ibadah Masjid Al-Furqon peringatan hari besar Islam, hingga kegiatan sosial. Secara arsitektural, masjid ini menampilkan perpaduan gaya modern dan tradisional dengan penggunaan elemen-elemen visual yang ekspresif dan ruang ibadah yang lapang, sehingga menarik untuk dikaji dari segi pengalaman ruang dan pengaruhnya terhadap dimensi spiritual jemaah. Keberadaan masjid ini di pusat kota menjadikannya landmark keagamaan dan budaya, yang memiliki nilai simbolis bagi warga Bandar Lampung. Oleh karena itu, studi terhadap Masjid Al-Furqon diharapkan dapat memberikan kontribusi yang relevan, tidak hanya secara akademis, tetapi juga sebagai referensi desain masjid-masjid lain yang ingin mengedepankan kualitas spiritual melalui pendekatan arsitektural. REVIEW LITERATUR Konsep Arsitektur Masjid Arsitektur sebagai salah satu keanekaragaman khasanah keilmuan, sejak lama merupakan suatu pengetahuan yang menyatu dengan peradaban manusia. Selain sebuah sebuah karya seni tentunya obyek arsitektural hendaknya selalu berpijak pada nilai-nilai Islam yang bersumber pada Al-QurAoan. Arsitektur Islam tidak hanya berkutat pada bentuk-bentuk tradisional atau ornamen khas, melainkan lebih dalam lagi, menyangkut bagaimana ruang dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, menumbuhkan kesadaran spiritual, serta membentuk tatanan sosial yang Maka dari itu, membangun arsitektur yang berpijak pada nilai-nilai Islam adalah bagian dari upaya menciptakan lingkungan hidup yang tidak hanya nyaman secara fisik, tetapi juga membawa ketenangan jiwa dan mendekatkan manusia kepada Tuhannya. Dalam konteks arsitektur, masjid memiliki karakteristik unik yang tidak hanya menitikberatkan fungsi ritual, tetapi juga berupaya menciptakan atmosfer yang membangkitkan perasaan tenang, khusyuk, dan kedekatan spiritual dengan Tuhan. Rumah ibadah merupakan objek arsitektur yang memiliki pemaknaan tersendiri sebagai tempat yang sakral untuk melakukan ritual keagamaan bagi umatnya (Zaman, 2. Oleh karena itu, kualitas desain spasial dan visual dalam masjid menjadi aspek krusial yang mempengaruhi pengalaman spiritual jemaah (Balo et al. , 2. Arsitektur masjid umumnya memiliki elemen-elemen khas, seperti mihrab . enanda arah kibla. , mimbar . empat khatib berkhutba. , kubah, dan menara. Elemen-elemen ini tidak hanya berfungsi secara praktis, tetapi juga memiliki makna simbolik yang mendalam (Jamaludin et al. , 2. Selain itu, masjid biasanya mengutamakan sirkulasi udara yang baik, pencahayaan alami, dan ruang terbuka agar jemaah merasa nyaman dan tenang saat beribadah (Zahran et al. , 2. Arsitektur masjid juga merupakan sebagai ruang ibadah yang berfungsi untuk pertemuan umat atau silahturahmi, yang memungkinkan terjadinya kebersamaan, hubungan sosial dan menguatkan hubungan antara manusia di dalam masyarakat (Irsyadah & Intami, 2. Pemahaman ini menjadi dasar penting dalam penelitian ini untuk melihat bagaimana ruang dan visual dalam Masjid Al-Furqon Bandar Lampung memengaruhi pengalaman spiritual penggunanya. Hubungan Spasial dalam Arsitektur Hubungan spasial dalam arsitektur mengacu pada bagaimana ruang-ruang diatur dan saling terhubung, baik secara fisik maupun fungsional, untuk menciptakan orientasi, alur gerak, dan pengalaman ruang yang bermakna. Ching . menyebutkan beberapa pola hubungan spasial, seperti ruang berdampingan . , bertumpang tindih . , dan ruang di dalam ruang . pace within a spac. , yang memengaruhi persepsi keterbacaan dan hierarki ruang. Sementara itu. Zeisel . menekankan pentingnya persepsi kognitif pengguna terhadap ruang, termasuk kemampuan bernavigasi, mengenali fungsi ruang, dan memahami orientasi. Dalam konteks masjid, hubungan spasial tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan dan efisiensi, tetapi juga mendukung suasana spiritual. Alur sirkulasi yang jelas dari ruang luar menuju area shalat utama, keterkaitan antara tempat wudu, ruang transisi, dan ruang ibadah, serta orientasi arah kiblat merupakan bagian penting dalam menciptakan ketenangan dan kekhusyukan jemaah (Kusumah & Darmawan, 2. Oleh karena itu, dalam studi ini, hubungan spasial Masjid Al-Furqon SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Devina Andari Chairunissa. Tri Seprianto dianalisis untuk melihat bagaimana susunan dan konektivitas ruang mendukung pengalaman spiritual melalui pergerakan yang intuitif dan keterbacaan ruang yang baik. Hubungan Visual dalam Arsitektur Hubungan visual dalam arsitektur merujuk pada bagaimana pandangan seseorang terhadap suatu ruang dibentuk oleh susunan elemen-elemen arsitektural, seperti bukaan, batas ruang, pencahayaan, warna, dan bentuk. Hubungan ini tidak hanya memengaruhi cara pengguna memahami ruang, tetapi juga memengaruhi pengalaman emosional dan spiritual mereka. Menurut Ching . , "Visual connections between spaces are important in establishing continuity, hierarchy, and spatial relationships", artinya keterkaitan visual antarruang dapat menciptakan kesinambungan dan memperkuat pemahaman terhadap susunan ruang secara keseluruhan. Penempatan elemen bangunan seperti pintu utama akan memiliki penjelasan tentang fungsinya ketika bentuk, ukuran, dan penempatannya sesuai (Bintari, 2. Hubungan visual juga membantu pengguna masjid mengorientasikan diri, meresapi fungsi ruang, dan memahami arah pergerakan dengan lebih intuitif. Dalam konteks arsitektur masjid, hubungan visual menjadi aspek penting dalam menciptakan suasana spiritual yang mendalam. Elemen seperti mihrab, mimbar, dan arah kiblat perlu ditampilkan secara jelas sebagai pusat visual, agar fokus jamaah saat beribadah tetap terjaga dengan baik sebagaimana mestinya. Pengalaman Spiritual dalam Ruang Ibadah Pengalaman spiritual dalam ruang ibadah merupakan respons batiniah yang dirasakan oleh seseorang saat berada dalam suasana yang mendukung ketenangan, kekhusyukan, dan kedekatan dengan Tuhan. Komponen spiritual atau rohaniah merupakan salah satu komponen manusia yang bersama dengan komponen fisik atau jasmani dan mental membentuk pengertian manusia secara utuh atau kafah (Balo et al. , 2. Dalam konteks arsitektur, ruang ibadah tidak hanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi juga untuk menghadirkan atmosfer yang mampu menyentuh aspek emosional dan spiritual penggunanya. Dalam arsitektur masjid, suasana spiritual biasanya dibentuk melalui elemen-elemen seperti: C Pencahayaan alami yang masuk, memberi kesan ilahi dan menenangkan. C Keterarahan ruang menuju kiblat yang memperkuat fokus dalam beribadah. C Kesederhanaan bentuk dan material, yang mendukung suasana khusyuk dan tidak mengalihkan perhatian. C Skala dan proporsi ruang yang menciptakan rasa keterhubungan antara manusia dan Yang Maha Besar. Ching . juga menekankan pentingnya kualitas atmosferik dalam ruang arsitektur. menyebutkan bahwa ruang bisa membangkitkan pengalaman emosional melalui Aulight, shadow, texture, and silence,Ay yang semuanya dapat dimanfaatkan untuk memperdalam pengalaman spiritual dalam ibadah. Pada ruang ibadah seperti masjid, unsur simbolik juga turut memperkuat dimensi Ornamen kaligrafi, elemen geometris, serta kesan keterbukaan pada langit atau alam menjadi pengingat akan kebesaran Tuhan. Semua elemen ini dapat menghadirkan pengalaman ruang yang lebih dari sekadar tempat shalat, tetapi sebagai wadah perenungan dan penyucian diri. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memahami secara mendalam hubungan antara elemen spasial dan visual arsitektur Masjid Al-Furqon Bandar Lampung terhadap pengalaman spiritual jamaah. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi makna, persepsi, dan pengalaman jamaah secara subjektif dalam konteks ruang Jenis penelitian ini bersifat studi kasus, dengan Masjid Al-Furqon sebagai objek utama, untuk menganalisis fenomena secara kontekstual dan holistik. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Analisis Spasial Visual Arsitektur Ruang Ibadah Masjid Al-Furqon Lokasi dan Objek Penelitian Gambar 1. Masjid Agung Al-Furqon . Lokasi Masjid Agung Al-Furqon . Sumber: Google Maps 2025 Objek penelitian ini adalah Masjid Al-Furqon yang terletak di pusat kota Bandar Lampung. Masjid ini dipilih karena merupakan salah satu masjid agung yang memiliki skala besar, intensitas kunjungan yang tinggi, serta desain arsitektur yang cukup representatif dalam konteks urban dan simbolik keagamaan. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui triangulasi beberapa metode guna memastikan validitas dan kedalaman informasi. Observasi lapangan dilakukan secara langsung untuk mengamati kondisi fisik masjid, termasuk tata ruang, sirkulasi, pencahayaan, arah pandang, dan interaksi jamaah dengan ruang. Observasi ini bersifat tidak terstruktur namun terarah, dengan pencatatan sistematis yang didukung dokumentasi visual. Selain itu, kuesioner semi-terstruktur disebarkan kepada jamaah Masjid Al-Furqon guna menggali persepsi mereka terhadap pengalaman spasial dan visual, serta kaitannya dengan pengalaman spiritual saat beribadah. Studi dokumentasi juga dilakukan dengan mengumpulkan denah bangunan, referensi desain, dan literatur terkait sebagai pelengkap dalam analisis data. Sumber Data Data dalam penelitian ini diperoleh dari dua jenis sumber, yaitu data primer dan data Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan, dokumentasi visual . oto dan skets. , serta wawancara semi-terstruktur dengan beberapa jemaah Masjid Al-Furqon. Teknik wawancara semi-terstruktur dipilih karena memungkinkan fleksibilitas dalam menggali pengalaman subjektif jemaah sambil tetap mengacu pada pedoman pertanyaan yang telah disusun sebelumnya (Creswell, 2. Wawancara ini bertujuan untuk memahami persepsi mereka terhadap kualitas ruang, atmosfer ibadah, dan elemen arsitektur yang dirasakan mendukung kekhusyukan spiritual. Adapun kisi-kisi pertanyaan dalam wawancara mencakup: . persepsi terhadap kenyamanan ruang shalat, . efek pencahayaan dan suara terhadap kekhusyukan, . alur sirkulasi dari luar ke dalam masjid, dan . kesan umum terhadap suasana spiritual yang dirasakan saat beribadah. Sementara itu, data sekunder mencakup dokumen arsitektural seperti denah, potongan, tampak, serta literatur dan artikel ilmiah mengenai arsitektur masjid, yang digunakan untuk memperkuat analisis terhadap elemen-elemen fisik dan visual. Kombinasi kedua jenis data ini memberikan landasan triangulasi yang memperkuat validitas hasil temuan dalam studi ini. Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan menggambarkan dan menginterpretasikan data yang diperoleh melalui observasi, kuesioner semi-terstruktur, dan dokumentasi lapangan. Analisis difokuskan pada hubungan antara elemen SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Devina Andari Chairunissa. Tri Seprianto spasial dan visual Masjid Al-Furqon terhadap pengalaman spiritual jamaah. Proses analisis meliputi pengumpulan dan penyaringan data berdasarkan relevansi terhadap fokus penelitian, kemudian dikategorikan ke dalam aspek-aspek seperti tata ruang, hubungan antar ruang, kualitas visual, dan respon jamaah. Selanjutnya, data dianalisis dengan membandingkan kondisi fisik bangunan dan persepsi pengguna untuk menarik kesimpulan mengenai peran elemen arsitektural dalam membentuk pengalaman spiritual. KARAKTERISTIK SPASIAL Karakteristik spasial Masjid Agung Al-Furqon mencakup beberapa aspek penting, yaitu fungsi ruang, pola hubungan antar ruang, organisasi ruang, sistem sirkulasi, serta orientasi bangunan. Sistem spasial selalu berkaitan dengan unsur organisasi ruang lainnya, yang terdiri atas pola ruang, alur sirkulasi, dan orientasi bangunan (Wibawa et al. , 2. Kelima aspek ini saling terkait dan membentuk struktur ruang yang tidak hanya mendukung aktivitas ibadah secara fungsional, tetapi juga memperkuat makna simbolik dan spiritual yang dihadirkan melalui pengalaman ruang di dalam Gambar 2. Denah dan Sirkulasi Lantai 1 Sumber: Ilustrasi Penulis, 2025 Masjid Al-Furqon menunjukkan organisasi ruang yang jelas dan fungsional. Lantai 1 menerapkan organisasi terpusat . dengan aula serbaguna sebagai inti, dikelilingi oleh ruang sekunder seperti kantor, area wudhu, dan perpustakaan, menciptakan hierarki spasial yang efektif untuk aktivitas non-ibadah. Sirkulasi di lantai ini dirancang untuk efisiensi akses, dengan dua titik masuk utama, meskipun jalur kanan lebih dominan digunakan. Gambar 3. Denah dan Sirkulasi Lantai 2 Sumber: Ilustrasi Penulis, 2025 Lantai 2 didedikasikan sebagai ruang ibadah utama dengan organisasi ruang tunggal . ingle space organizatio. Akses ke lantai 2 difasilitasi oleh tiga tangga vertikal, di mana tangga pojok kanan adalah yang paling sering digunakan, terutama setelah berwudhu. Namun, teridentifikasi isu sirkulasi di jalur dari area wudhu menuju tangga pojok kanan, di mana percampuran jalur laki-laki dan perempuan cenderung tidak memiliki pemisah yang tegas, berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu sense of purity jamaah. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Analisis Spasial Visual Arsitektur Ruang Ibadah Masjid Al-Furqon Gambar 4. Plafon dan Kolom Masjid Agung Al-Furqan Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2025 Skala arsitektur ruang ibadah utama di lantai 2 bersifat monumental, ditandai oleh dimensi ruang yang lapang dan ketinggian plafon yang menjulang, menciptakan volume spasial yang agung. Kolom-kolom di ruang shalat menambah kemegahan tanpa menghalangi pandangan, berkontribusi pada suasana yang kokoh namun lega dan terbuka. Masjid ini juga menunjukkan fleksibilitas dan adaptabilitas yang baik, memungkinkan perluasan saf shalat dan penggunaan area serambi untuk berbagai kegiatan komunal. Analisis Karakteristik Visual Komposisi Visual Interior Ruang Ibadah Mihrab, tempat imam memimpin shalat, lokasinya berada di depan tengah ruang shalat jamaah, dapat berupa ceruk di dinding ke arah kiblat di Mekah . rah shala. (Jamaludin et al. , 2. Area ini merupakan bagian utama dari ruang ibadah dan memiliki tingkat kesakralan tertinggi dalam zona shalat. Ditempatkan di bagian tengah depan ruang shalat dan didesain dalam skala besar, menjadikannya titik penekanan visual utama . lihat Gambar 5. Gambar 5. Mihrab dan Mimbar Masjid Agung Al-Furqan (A) dan Pencahayaan Area Mihrab (B) Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2025 Mimbar, yang terletak di samping mihrab, juga mendukung aktivitas ibadah, khususnya dalam penyampaian khutbah. Penggunaan material kayu kokoh berwarna coklat alami pada mimbar memperkuat karakter estetika ruang dan kekhusyukan, sekaligus menegaskan posisinya sebagai elemen penting dalam komposisi visual ruang shalat. Selain itu, sebuah lampu gantung . berukuran besar di tengah area mihrab tidak hanya berfungsi sebagai sumber cahaya, tetapi juga memancarkan kesan megah dan agung. Pencahayaan hangat kekuningan di area mihrab semakin memperkuat atmosfer spiritual dan menciptakan nuansa kehangatan. Pintu-pintu di lantai dua, yang merupakan area ibadah utama, sebagian besar menggunakan material aluminium dan kaca. Kombinasi material ini memungkinkan masuknya cahaya alami secara maksimal, menciptakan kesan visual yang ringan dan bersih, serta menghubungkan interior dengan eksterior bangunan. Dimensi pintu dengan tinggi 2-2,5 meter dan lebar sekitar 1 meter memberikan SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Devina Andari Chairunissa. Tri Seprianto proporsi yang ideal untuk ruang publik berskala besar. Pemilihan material dan dimensi pintu ini menunjukkan perhatian pada kualitas desain arsitektur secara keseluruhan, mendukung suasana terang, terbuka, dan kontributif terhadap pengalaman spasial dan emosional jamaah. Gambar 8. Denah dan Jenis Pintu Area Ibadah Sumber: Dokumen Pribadi Elemen jendela di Masjid Al-Furqon bervariasi dalam jenis, material, dan ukuran, disesuaikan dengan fungsi ruang serta kebutuhan cahaya dan sirkulasi udara alami. Pada lantai dua . rea ibadah utam. , jendela menggunakan bahan aluminium dan kaca, dipasang pada dinding ruang shalat dan area selasar. Penggunaan material ini memaksimalkan masuknya cahaya alami dan memberikan tampilan modern yang ringan, sekaligus menciptakan hubungan visual antara bagian dalam dan luar Ukuran jendela yang bervariasi . inggi 1-2 meter, lebar sekitar 1 mete. disesuaikan untuk kebutuhan pencahayaan optimal. Beberapa jendela juga berfungsi sebagai bingkai pandangan ke arah luar, menciptakan suasana tenang dan mendukung kekhusyukan. Secara keseluruhan, jendela tidak hanya berfungsi teknis, tetapi juga mendukung pengalaman spiritual jamaah melalui pencahayaan, udara, dan keterbukaan ruang. Gambar 9. Denah dan Jenis Jendela Area Ibadah Sumber: Dokumen Pribadi Bentuk atap perisai Masjid Al-Furqon menghasilkan ruang plafon yang sangat tinggi dan luas, mengikuti kemiringan struktur atap yang mengerucut ke atas. Konfigurasi ini menciptakan kesan ruang vertikal yang agung dan mendukung rasa spiritualitas dalam ibadah. Plafon dilengkapi dengan banyak titik pencah ayaan buatan yang merata, memastikan ruang tetap terang dan nyaman digunakan pada malam hari tanpa mengurangi kesan sakral. Dominasi warna putih pada plafon menciptakan kesan bersih dan lapang, sementara aksen vertikal berwarna emas menambah kesan megah dan elegan, mempertegas karakter visual ruang sebagai tempat yang sakral dan SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Analisis Spasial Visual Arsitektur Ruang Ibadah Masjid Al-Furqon Gambar 10. Plafon Area Ibadah Masjid Agung Al-Furqan Sumber: Dokumen Pribadi Fasilitas penyejuk udara di ruang shalat sangat memadai, terdiri dari 7 unit AC, 6 blower, 18 kipas angin dinding, serta 5 unit lampu kipas yang tersebar di berbagai titik. Sistem sirkulasi dan pendingin udara ini menjaga kesejukan dan kenyamanan termal secara optimal, bahkan saat masjid Suhu ruang yang terjaga memungkinkan jamaah melaksanakan ibadah dengan lebih tenang, fokus, dan khusyuk, tanpa terganggu oleh rasa gerah. Gambar 11. Fasilitas Penyejuk Masjid Agung Al-Furqan Sumber: Dokumen Pribadi Pencahayaan dan Atmosfer Ruang Pencahayaan di Masjid Al-Furqon dirancang untuk menciptakan kenyamanan visual dan mendukung suasana ibadah yang tenang, baik pada siang maupun malam hari. Pada siang hari, pencahayaan alami menjadi sumber utama penerangan ruang utama salat. Cahaya alami ini masuk melalui berbagai bukaan yang tersebar pada dinding dan atap bangunan. Karakter bukaan di masjid ini cukup variatif, terdiri dari jendela-jendela berukuran besar dengan bentuk lengkung khas arsitektur Islam pada bagian dinding sisi samping dan belakang ruang utama, serta deretan ventilasi tinggi di atas pintu masuk utama. Selain itu, terdapat elemen skylight pada bagian atap tengah masjid yang memungkinkan cahaya masuk secara vertikal dan menyebar ke seluruh ruang. Gambar 12. Pencahayaan Area Ibadah Masjid Agung Al-Furqan Sumber: Dokumen Pribadi SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Devina Andari Chairunissa. Tri Seprianto Bukaan-bukaan ini umumnya menghadap ke arah utara dan selatan, sehingga menghindari paparan langsung sinar matahari dari arah barat yang cenderung menyilaukan dan meningkatkan Letak dan orientasi bukaan yang strategis ini tidak hanya memberikan intensitas cahaya yang cukup, tetapi juga mendistribusikannya secara merata ke seluruh ruangan tanpa menimbulkan bayangan tajam atau kontras tinggi yang dapat mengganggu kenyamanan visual (Vidiyanti et al. Desain bukaan ini sekaligus menciptakan kesan keterhubungan antara ruang dalam dan luar, serta memperkuat nuansa spiritual dalam ruang ibadah. Mayoritas ruang ibadah menggunakan pencahayaan buatan berwarna putih terang, yang memberikan kesan bersih, terang, dan jelas, membantu jamaah tetap fokus dan nyaman. Namun, di area mihrab, digunakan pencahayaan hangat . , yang menciptakan suasana lebih khusyuk, hangat, dan sakral, menjadikan area mihrab menonjol secara visual dan emosional. Kombinasi dua jenis cahaya ini berhasil membentuk suasana ruang yang fungsional sekaligus mendukung pengalaman spiritual jamaah. Unsur Artistik dan Simbolik Unsur artistik dan simbolik di Masjid Al-Furqon sangat efektif dalam memperkuat nuansa religius dan spiritual. Pada dinding interior ruang shalat, terdapat lukisan kaligrafi Arab yang mengutip ayat-ayat suci Al-Qur'an, berfungsi sebagai ornamen visual sekaligus penguat nilai Gambar 13. Kaligrafi dan Mozaik Kolom Masjid Agung Al-Furqan Sumber: Dokumen Pribadi Di bagian eksterior, beberapa elemen kaca mozaik dengan lafaz "Allah" terpasang pada bukaan atau elemen dekoratif fasad. Kehadiran unsur ini memberikan identitas keislaman yang kuat dan mempertegas nilai simbolik bangunan sebagai tempat ibadah. Perpaduan kaligrafi di interior dan mozaik lafaz Allah di eksterior menciptakan suasana ruang yang sakral dan mendalam, mendukung jamaah dalam melaksanakan ibadah. Pengalaman Spiritual Jamaah dalam Ruang Ibadah Pengalaman spiritual jemaah Masjid Al-Furqon secara umum tergolong sangat positif. Mayoritas responden . ,4%) menyatakan mengalami kekaguman terhadap kemegahan ruang, disusul oleh ketenangan batin . ,4%) dan kedamaian mendalam . ,1%). Berdasarkan data tabe di atas. Kekaguman ini muncul karena skala monumental ruang utama salat, ketinggian plafon yang menjulang, serta desain interior yang terbuka dan lapang. Elemen arsitektural seperti kubah besar, kolom tinggi, dan bukaan yang luas menciptakan suasana agung dan megah, yang membangkitkan rasa takzim dan kesadaran akan kehadiran Tuhan. Rasa ini diperkuat oleh komposisi ruang yang simetris dan pencahayaan alami yang masuk dari berbagai arah secara merata, mempertegas kemegahan dan kesakralan ruang. Sementara itu, ketenangan batin muncul dari atmosfer yang hening dan nyaman, didukung oleh pencahayaan yang lembut, sirkulasi udara yang baik, serta kualitas akustik yang menghindari gema berlebih. Keheningan ini memudahkan konsentrasi dalam beribadah dan menciptakan suasana SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Analisis Spasial Visual Arsitektur Ruang Ibadah Masjid Al-Furqon Adapun kedamaian mendalam dirasakan sebagai efek keseluruhan dari harmonisasi spasial, visual, dan simbolik ruang. Arah kiblat yang jelas, posisi mihrab yang tegas, serta keberadaan kaligrafi di dinding menghadirkan ruang kontemplatif yang mendorong perenungan dan keheningan Elemen-elemen tersebut berkontribusi penting dalam memperkuat kualitas spiritual selama berada di dalam masjid. Tabel 1. Perasaan Dominan Jamaah Perasaan Dominan Jamaah Kekaguman terhadap kemegahan ruang Ketenangan batin Kedamaian mendalam Persentase Sumber: Analisa Penulis, 2025 Desain arsitektur masjid, khususnya posisi mihrab . 2% efekti. , sangat mendukung fokus ibadah, mengarahkan perhatian ke arah kiblat dengan efektif. Ornamen dan kaligrafi . erutama pada mihrab dan dindin. juga berkontribusi positif terhadap suasana spiritual. Tabel 2. Efektifitas Fokus Ibadah Efektifitas Fokus Ibadah Desain arsitektur masjid Posisi mihrab Pencahayaan Persentase Sumber: Analisa Penulis, 2025 Kenyamanan fisik dan psikologis jamaah secara umum baik, terutama terkait suhu, sirkulasi udara . 9%), dan material lantai . 1%). Meskipun demikian, 27. 3% responden merasakan ketidaknyamanan psikologis akibat percampuran jalur laki-laki dan perempuan di area wudhu menuju tangga pojok kanan, yang mengganggu sense of purity sebelum ibadah. Tabel 3. Kenyamanan Fisik dan Psikologis Jamaah Kenyamanan Fisik dan Psikologis Jamaah Kenyamanan suhu dan sirkulasi udara Kenyamanan material lantai Kenyamanan sirkulasi Persentase Sumber: Analisa Penulis, 2025 Berdasarkan hasil observasi dan tanggapan responden, kenyamanan fisik dan psikologis jemaah di Masjid Al-Furqon didukung oleh tiga aspek utama, yaitu: suhu dan sirkulasi udara . ,9%), kenyamanan material lantai . ,1%), dan kenyamanan sirkulasi ruang . ,8%). Pada siang hari, suhu dalam ruang utama salat berkisar antara 26Ae28AC, tergolong dalam rentang suhu nyaman untuk iklim tropis lembap menurut standar kenyamanan termal tropis (ASHRAE, 2. Hal ini dicapai melalui bukaan alami di bagian atas dan samping bangunan yang memungkinkan pertukaran udara silang . ross ventilatio. , serta penggunaan kipas angin plafon tambahan untuk sirkulasi udara Material lantai yang digunakan adalah ubin keramik bertekstur halus, berwarna netral . utih keabua. , yang terasa sejuk saat bersentuhan langsung dengan kulitAiterutama ketika jemaah salat tanpa alas kaki. Permukaan ubin juga rata dan tidak licin, mendukung kenyamanan gerak sekaligus keamanan selama ibadah. Sementara itu, sirkulasi dinilai nyaman karena ruang memiliki alur pergerakan yang jelas dan tidak terputus dari area luar menuju tempat wudu, ruang transisi, dan ruang utama. Koridor yang lebar dan tidak sempit, serta minimnya hambatan fisik, memungkinkan jemaah bergerak dengan tenang tanpa kebingungan arah atau tumpang tindih arus pergerakan. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Devina Andari Chairunissa. Tri Seprianto Tabel 4. Karakteristik Paling Menonjol Karakteristik Paling Menonjol Desain menara masjid Bentuk keseluruhan bangunan Bentuk kubah Fasad . ampilan depa. masjid Warna eksterior Material eksterior Persentase Sumber: Analisa Penulis, 2025 Dari keseluruhan karakter visual Masjid Al-Furqon, desain menara dan bentuk bangunan secara keseluruhan merupakan dua elemen arsitektural yang paling dominan dan mudah dikenali oleh jemaah. Desain menara masjid menggunakan bentuk silinder ramping dengan puncak kerucut berhiaskan ornamen bulan sabit khas Islam. Menara ini menjulang setinggi A35 meter, dengan permukaan luar yang berpola geometris dan berwarna terang, sehingga terlihat mencolok dari kejauhan dan menjadi orientasi visual yang kuat di kawasan sekitarnya. Adapun bentuk keseluruhan bangunan masjid mengadopsi komposisi simetris dengan massa utama berbentuk persegi, ditutupi oleh kubah besar di tengah dan empat kubah kecil di keempat Tata letak bangunan terlihat monumental dengan skala ruang yang luas, menciptakan kesan agung dan terbuka. Kombinasi antara bentuk dasar yang sederhana namun masif, serta penggunaan lengkung pada fasad dan bukaan, menghasilkan identitas arsitektural yang kuat dan mendukung fungsi simbolik masjid sebagai pusat spiritual dan sosial masyarakat. Kedua elemen ini menjadi daya tarik utama yang membangun kesan visual sekaligus memperkuat ikatan emosional dan spiritual jemaah terhadap bangunan. KESIMPULAN Penelitian ini menganalisis secara komprehensif hubungan antara karakteristik spasial dan visual arsitektur Masjid Al-Furqon Bandar Lampung dengan pengalaman spiritual jamaahnya. Ditemukan bahwa secara spasial, masjid ini mengadopsi organisasi ruang terpusat pada lantai dasar untuk fungsi komunal dan organisasi ruang tunggal yang monumental di lantai dua sebagai area ibadah utama, yang secara efektif menciptakan volume spasial yang agung dan lapang, mendukung kekhusyukan beribadah. Fleksibilitas dan adaptabilitas ruang juga memungkinkan penyesuaian terhadap dinamika jumlah jamaah dan berbagai kegiatan komunitas. Dari perspektif visual, interior ruang ibadah utama menempatkan mihrab dan mimbar sebagai pusat penekanan spiritual dan estetika, didukung oleh pencahayaan hangat dari chandelier yang megah dan material kayu kokoh pada mimbar yang menambah kekhusyukan. Penggunaan pintu aluminium-kaca di lantai dua memberikan kesan modern dan mendukung pencahayaan alami. Plafon yang tinggi dan luas dengan dominasi warna putih dan aksen emas turut menciptakan suasana bersih, lapang, megah, dan sakral. Fasilitas penyejuk udara yang memadai menjamin kenyamanan termal jamaah, sementara kombinasi pencahayaan alami dan buatan yang dominan putih terang dengan aksen hangat di mihrab membentuk atmosfer fungsional dan spiritual. Unsur artistik berupa kaligrafi Arab di interior dan mozaik lafaz "Allah" di eksterior secara efektif memperkuat identitas keislaman dan nuansa religius. Meskipun dampak keseluruhan terhadap pengalaman spiritual jamaah sangat positif, dengan mayoritas merasakan ketenangan, kekhusyukan, dan kekaguman yang diperkuat oleh skala monumental dan pencahayaan alami, penelitian ini mengidentifikasi tantangan signifikan pada aspek Percampuran jalur jamaah laki-laki dan perempuan di area wudhu lantai satu menuju tangga utama sering kali menimbulkan ketidaknyamanan psikologis dan mengganggu sense of purity sebelum beribadah bagi sebagian responden. Selain itu, gema suara yang kuat dan penggunaan warna interior yang mencolok di beberapa titik juga sedikit mengganggu kekhusyukan. Terlepas dari SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Analisis Spasial Visual Arsitektur Ruang Ibadah Masjid Al-Furqon tantangan tersebut. Masjid Al-Furqon berhasil menumbuhkan rasa keterikatan emosional dan identitas kuat di kalangan jamaah melalui desain arsitekturnya yang ikonik. Berdasarkan temuan ini, disarankan beberapa langkah strategis untuk mengoptimalkan pengalaman spiritual jamaah Masjid Al-Furqon. Prioritas utama adalah mengatasi isu sirkulasi dari area wudhu di lantai satu menuju tangga kanan, mengingat ini adalah akses utama ke ruang shalat di lantai dua, di mana percampuran jalur antara laki-laki dan perempuan menimbulkan ketidaknyamanan psikologis. Rekomendasi konkret meliputi pemasangan penanda lantai yang jelas dan permanen . isalnya, garis kontras, simbol jejak kaki, atau marka ara. untuk memisahkan jalur secara tegas dari area wudhu hingga tangga, penerapan pembatas visual/fisik semi-permanen yang tidak mengganggu estetika namun efektif, serta penempatan papan informasi atau himbauan kecil namun jelas di titik-titik strategis yang menghimbau jamaah untuk mengikuti jalur yang ditentukan, terutama saat masjid padat. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengukur secara lebih kuantitatif dampak spesifik dari setiap elemen spasial dan visual terhadap pengalaman spiritual. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk menyusun pedoman desain arsitektur masjid yang tidak hanya berfokus pada fungsionalitas dan estetika, tetapi juga secara aktif mendukung dan meningkatkan pengalaman spiritual jamaah, menjadi referensi berharga bagi arsitek dan pengembang masjid di masa mendatang. DAFTAR PUSTAKA Amin. Ghozali. SudjaAoi. Darmawan. Abdul Majid. Wibowo. , & Khayru. Peran masjid sebagai pusat kegiatan sosial dan keagamaan. ARDHI: Jurnal Pengabdian Dalam Negeri, 2. , 57Ae67. https://doi. org/10. 61132/ardhi. Balo. Liando S. Eng. , & Lombok S. Eng. Desembe. PERANCANGAN SPIRITUAL CENTER DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR SYMBOLIC DI KOTA TOMOHON. Jurnal Ilmiah DeSciArs, 3, 125-137. Bintari. Jun. INFORMASI VISUAL DALAM ARSITEKTUR RUPA RUANG KOTA. Jurnal Arsitektur Universitas Bandar Lampung, 59-69. Ching. Architecture: Form. Space, and Order . rd ed. New York: John Wiley & Sons. Ching. Arsitektur: Bentuk. Ruang, dan Tatanan. (L. Simarmata. Ed. , & H. Situmorang. Trans. Jakarta: Penerbit Erlangga. Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches . th ed. Thousand Oaks. CA: SAGE Publications. Irsyadah. , & Intami. Kritik Terhadap Interaksi Antar Ruang DDN Pengguna di Masjid Istiqlal Jakarta. Misterius : Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual, 1, 128-143. https://doi. org/10. 62383/misterius. Jamaludin. TF. , & Utami. Kajian Estetika Simbolik Mihrab Masjid Raya Al Jabbar Bandung. Jurnal Panggung, 34, 215-222. https://doi. org/10. 26742/panggung. Kusumah. , & Darmawan. Analisis Desain Spasial pada Bangunan Prefabrikasi: Arsifab V. Waca Cipta Ruang Jurnal Ilmiah Desain Interior, https://doi. org/10. 34010/wcr. Masdar. Nuradillah. Sagara. Ardinata. , & Wismanto. Masjid Sebagai Ruang Kontemplasi: Menemukan Kedamaian di Tengah Kesibukan. Moral: Jurnal kajian Pendidikan Islam, 1. , 189-197. https://doi. org/10. 61132/moral. Mubaraq. Efendi. Murnika. Putri. , & Wismanto. Mesjid Tempat Ibadah yang Menyucikan Jiwa dan Menguatkan Spiritual. Moral: Jurnal kajian Pendidikan Islam, 1. , 42-50. https://doi. org/10. 61132/moral. Nasar. Book review: Inquiry by Design: Environment/Behavior/Neuroscience in Architecture. Interiors. Landscape and Planning. John Zeisel. Norton & Co. New York . , $34. ISBN: 0-393-73184-7. Rahman. Rizky Nur, and Tito Bisma May Willis. "Pendampingan Perbaikan Interior Masjid An Nihayah Samarinda Sebagai Upaya Peningkatan Estetika Ruang Ibadah. " Jurnal Abdi Insani 12, no. : 1094-1101. https://doi. org/10. 29303/abdiinsani. Rohmah. Safitri. , & Pratama. Transformasi Desain Mihrab dalam Arsitektur Masjid Kontemporer di Era Modern: Kajian Literatur. Realisasi: Ilmu Pendidikan. Seni Rupa dan Desain, 2. , https://doi. org/10. 62383/realisasi. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Devina Andari Chairunissa. Tri Seprianto Utama. , & Diwangkoro. Perbandingan filosofi Islam pada perencanaan Masjid Bulan Sabit dengan Masjid Raya Banyumas. Jurnal Arsitektur Pendapa, 7, 60-76. Vidiyanti. Siswanto. , & Ramadhan. Februar. Pengaruh Bukaan Terhadap Pencahayaan Alami Dan Penghawaan Alami Pada Masjid Al Ahdhar Bekasi. Jurnal Arsitektur ZONASI, 3, 20-33. https://doi. org/10. 17509/jaz. Wibawa. Antariksa, & Ridjal. Karakter Spasial Dan Visual Pada Bangunan Gedung Juang 45 Bekasi Jawa Barat. Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya, 5. Zahran. Salsabila. Ramadhan. , & Maknun. Johar. Analisis Kenyamanan Termal Bangunan Jurnal Tesa Arsitektur. Masjid SMA Kota Bandung. https://doi. org/10. 24167/tesa. Zaman. Pemaknaan Ruang pada Masjid Kubah Emas: Kajian Semiotik. Paradigma Jurnal Kajian Budaya Vol. 7 No. 2, 7, 171-181. https://doi. org/10. 24167/tesa. UCAPAN TERIMAKASIH