Available online through http://ejournal. id/index. php/modul ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X tiga faktor penentu preferensi penghuni rumah tinggal di indonesia terhadap kamar mandi pribadi TIGA FAKTOR PENENTU PREFERENSI PENGHUNI RUMAH TINGGAL DI INDONESIA TERHADAP KAMAR MANDI PRIBADI Mahya Fiddini Kaffah*) Hanson E. Kusuma. Ratna Amanati *) Corresponding author email : mahyafiddini@gmail. Sekolah Arsitektur. Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Institut Teknologi Bandung Article info MODUL vol 22 no 2, issues period 2022 Doi : 10. 14710/mdl. Received : 27 june 2022 Revised : 26 july 2022 Accepted : 8 november 2022 Abstrak Sebelumnya, kamar mandi biasanya ditempatkan di bagian belakang rumah tinggal. Namun dewasa ini banyak penghuni rumah yang memiliki kamar mandi di dalam kamar tidurnya. Kamar mandi tersebut dikhususkan untuk pengguna kamar tidur dan sifatnya sangat personal sehingga dalam penelitian ini disebut dengan kamar mandi pribadi. Penelitian ini bertujuan melatarbelakangi preferensi terhadap kamar mandi Untuk mencapai tujuan penelitian, dilakukan penyelidikan terhadap persepsi dan faktor internal penghuni rumah terkait penggunaan kamar mandi Penelitian dilakukan secara bertahap menggunakan metode kualitatif-kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan untuk melakukan eksplorasi terhadap persepsi dan faktor internal penghuni rumah tinggal terkait penggunaan kamar mandi pribadi. Sedangkan penelitian kuantitatif bertujuan untuk mengkonfirmasi data-data hasil penelitian kualitatif serta mengungkap hubungan sebab-akibat antara persepsi, faktor internal, dan preferensi terhadap kamar mandi pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi preferensi terhadap kamar mandi pribadi, antara lain familiarity, affordability, dan bedroom usage frequency. Keywords: kamar mandi pribadi. PENDAHULUAN Pada zaman dahulu, mandi menjadi bagian dari budaya kolektif. Bangsa Romawi kuno memanfaatkan komplek pemandian sebagai tempat bersosialisasi. Mahya Fiddini Kaffah. Hanson E. Kusuma. Ratna Amanati seperti berdiskusi atau mengobrol sambil menikmati makanan (Zytka, 2. Pada awal tahun 1990-an, sebuah tren baru dimulai, selain difungsikan untuk kebutuhan kebersihan dan utilitas, kamar mandi juga menjadi ruangan untuk relaksasi (Quitzau & Rypke dalam Sivertsen & Berg, 2. Kamar mandi dapat menjadi wadah untuk bersantai, merenung, bahkan mencari inspirasi (Akmal, 2. Dalam penelitian sebelumnya ditemukan bahwa kamar mandi yang ideal dipersepsikan sebagai relaxation room, wellness room, fun room, dan unique room. Kamar mandi sebagai relaxation room berarti kamar mandi sebagai ruang yang aman dan tenang untuk berlindung dari hiruk-pikuk dunia yang sibuk. Kamar mandi sebagai wellness room bermakna bahwa kamar mandi merupakan tempat dimana seseorang bisa menghabiskan waktu untuk quality time serta menyeimbangkan tubuh dan pikiran. Kamar mandi dikatakan sebagai fun room karena di kamar mandi seseorang dapat menikmati kegiatan mandi dan merawat tubuh dengan cara yang menyenangkan. Adapun kamar mandi sebagai unique room yaitu kamar mandi dapat menjadi ruang yang memiliki sifat tersendiri, seperti canggih, eksklusif, unik, dan/atau eksotis (Reisinger, 2. Pergeseran fungsi mandi tersebut membuat kegiatan mandi dianggap sebagai rutinitas yang paling personal sehingga kamar mandi menjadi ruang yang paling pribadi di rumah (Penner. Di Indonesia, dahulu masyarakat mandi, mencuci pakaian, hingga buang air di mata air atau sungai-sungai Hal ini dimungkinkan karena dahulu pola pertumbuhan permukiman berada di sepanjang mata air. Setelah mendapat pengaruh budaya kolonial Belanda, terjadi lah perubahan besar pada tata cara mandi dan konsep kamar mandi masyarakat Indonesia (Akmal. Umumnya kamar mandi di Indonesia terletak di luar atau terpisah dengan rumah induk. Hal ini dikarenakan secara awam kamar mandi identik dengan area basah, lembab, bau, bahkan kotor (Pramudya. Kalau pun di dalam rumah, kamar mandi ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X biasanya diletakkan di bagian belakang berdekatan dengan ruang dapur (Forshee, 2. Kemudian pada abad ke-20, masyarakat dengan tingkat ekonomi ekspektasinya dalam hal privasi melalui perletakan kamar mandi. Kamar mandi diletakkan jauh dari penglihatan tamu, seperti di dekat kamar tidur dan lantai Kamar mandi hanya digunakan bersama pasangan, saudara kandung, atau tidak dengan siapa pun. Pada saat itu, kamar mandi yang tidak berbagi dengan siapa pun adalah sebuah kemewahan yang tidak banyak orang bisa jangkau (Hoagland, 2. Perkembangan tersebut terus berlanjut hingga dewasa ini sebagian rumah memiliki kamar mandi di dalam kamar tidur yang dalam penelitian ini disebut dengan kamar mandi pribadi. Kamar mandi pribadi menawarkan beberapa kelebihan, seperti efisiensi dan perlindungan privasi. Kamar mandi pribadi dikatakan efisien karena letaknya yang mudah dicapai oleh pengguna kamar tidur. Ruangan yang efisien dicirikan dengan jaraknya yang dekat dan sebisa mungkin tidak memiliki hambatan fisik yang harus dilalui untuk mencapai ruangan tersebut (Mustafa, 2. Posisi kamar mandi yang terhubung langsung dengan kamar tidur membuat kualitas privasinya menjadi lebih tinggi, terutama bagi wanita atau pasangan suami-istri (Rahmadhani, 2. Rasa privasi dan bahkan kesendirian menjadi hal yang Untuk memberikan rasa privasi pada individu dalam hunian dapat dilakukan dengan menyediakan ruangan yang memungkinkan ia dapat merasa terisolasi dari anggota keluarga lain (Nowakowski, 2. Selain itu, kamar mandi pribadi lebih mudah dalam hal perawatan jika dibandingkan dengan kamar mandi Hal ini dikarenakan kamar mandi pribadi hanya digunakan oleh pemilik kamar tidur sehingga intensitas penggunaannya tidak sesering kamar mandi Ruangan yang digunakan oleh banyak anggota keluarga dan intensitas penggunaannya tinggi cenderung akan lebih cepat kotor sehingga perlu sering dibersihkan (Asharhani & Sari, 2. Kamar mandi pribadi umumnya dikhususkan untuk pengguna kamar tidur. Tujuannya agar lebih mudah menjangkau fasilitas kamar mandi tanpa harus keluar kamar. Desain kamar mandi pribadi sebaiknya berbasis user-centered agar dapat mengakomodasi kebutuhan masing-masing penggunanya. Hal ini dikarenakan setiap pengguna tentunya memiliki perbedaan kebutuhan yang dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, dan kemampuan fisik (Penner, 2. Berbagai aspek tersebut perlu dipertimbangkan oleh arsitek agar kamar mandi pribadi dapat secara efektif memenuhi kebutuhan pengguna. Di samping itu, aspek keamanan juga perlu diperhatikan. Kamar mandi pribadi harus dibangun dengan konstruksi lantai yang baik agar terhindar dari rembesan air dan mencegah munculnya MODUL vol 22 no 2,issues period 2022 binatang-binatang tanah yang akan membahayakan pengguna kamar tidur (Sary, 2. Berdasarkan penelitian sebelumnya, kelebihan kamar mandi pribadi dinilai lebih banyak jika dibanding kamar mandi bersama. Namun pada kenyataannya tidak semua rumah tinggal memiliki kamar mandi pribadi. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan diselidiki persepsi dan faktor internal penghuni rumah tinggal terkait penggunaan kamar mandi pribadi. Selain itu, akan diungkap juga hubungan sebab-akibatnya dengan preferensi terhadap kamar mandi pribadi. Hasilnya akan dianalisis untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi preferensi terhadap kamar mandi pribadi. Penelitian-penelitian sebelumnya hanya membahas kamar mandi secara umum tanpa membedakan kamar mandi bersama dan kamar mandi pribadi. Oleh karena itu, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menentukan strategi yang tepat dalam merencanakan dan merancang kamar mandi pribadi agar pengguna pengguna kamar tidur dapat merasa aman dan METODOLOGI PENELITIAN Penelitian dilakukan dengan mix methods yang mecakup metode kualitatif dan kuantitatif. Penelitian mix methods adalah penelitian yang melibatkan mengintegrasikan kedua jenis data tersebut, dan memiliki desain penelitian yang berbeda yang mungkin melibatkan asumsi filosofis dan kerangka teoritis (Creswell, 2. Metode kualitatif bertujuan untuk melakukan eksplorasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan preferensi terhadap kamar mandi pribadi. Sedangkan metode kuantitatif digunakan untuk mengkonfirmasi data-data hasil penelitian kualitatif serta mengungkap hubungan sebab-akibat antara persepsi, faktor internal, dan preferensi terhadap kamar mandi pribadi. Penelitian Kualitatif Pada tahap awal, penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan grounded theory. Pendekatan grounded theory yaitu strategi kualitatif di mana peneliti memperoleh gambaran umum, teori abstrak dari suatu proses, tindakan, atau interaksi yang didasarkan pada pandangan para partisipan dalam sebuah penelitian (Creswell. Grounded mengidentifikasi teori yang muncul dari sebuah proses analitis (Groat & Wang, 2. Kelebihan grounded theory terletak pada metodenya yang jelas dalam mengkodekan data kualitatif, mengkategorikan kodekode tersebut, merefleksikan kode dan kategori, dan mengembangkan posisi teoritis dari proses analisis berulang (Bollo & Collins, 2. Pendekatan ini ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X menghasilkan kategori informasi . pen codin. , memilih salah satu kategori dan memposisikannya dalam model teoretis . xial codin. , dan menjelaskan cerita dari interkoneksi kategori . elective codin. (Creswell, 2. Data penelitian diperoleh melalui kuesioner daring yang dibagikan secara non-random sampling dengan teknik accidental sampling. Accidental sampling didasarkan pada kemudahan peneliti dalam mengakses populasi sampel dan karakteristik orang yang menjadi sampel tidak terlihat jelas. Pengumpulan data berhenti ketika jumlah responden sudah mencapai jumlah yang diperlukan peneliti (Kumar, 2. Responden terdiri dari berbagai kelompok usia, profesi, jenis kelamin, dan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Proses pengumpulan data melalui kuesioner daring dilakukan sebanyak dua kali. Kuesioner daring pertama digunakan pada tahap kualitatif, sedangkan kuesioner daring kedua digunakan pada tahap kuantitatif. Kuesioner daring tahap pertama disebarkan melalui media sosial pada tanggal 5 September 2021 selama 9 hari. Kuesioner tersebut berisi pertanyaan terbuka . pen-ende. dan disebarkan melalui media sosial pada tanggal 5 September 2021 selama 9 hari. Jumlah responden yang diperoleh sebanyak 157 orang dengan responden laki-laki sebanyak 59 orang . %) dan responden perempuan sebanyak 98 orang . %). Responden didominasi oleh kelompok usia remaja akhir yaitu usia 17-25 tahun. Responden berdomisili di berbagai wilayah di Indonesia, yaitu Pekanbaru. Medan. Tanjung Pinang. Bukittinggi. Bandung. Jakarta. Yogyakarta. Surabaya, dan lainnya. Data yang terkumpul dari kuesioner daring pada tahap kualitatif dianalisis menggunakan metode analisis Metode tersebut terdiri dari tiga tahapan yaitu open coding, axial coding, dan selective coding (Creswell. Proses open coding dilakukan dengan mengidentifikasi segmen makna dan kata kunci dari pernyataan responden, serta mengetahui hubungan antar kata kunci yang memiliki makna mirip ke dalam Selanjutnya dilakukan axial coding untuk mengungkap hubungan antar kategori. Kategori-kategori tersebut kemudian digunakan pada tahap selective coding untuk melakukan penyusunan model hipotesis. Pada analisis isi, tahap awal yang dilakukan yaitu open coding. Contoh pengidentifikasian kata kunci dalam tahap open coding dapat diamati pada kutipan AuUntuk privasi dan menjaga kebersihan pribadi. Ay (Responden yang butuh kamar mandi pribad. Dari pernyataan di atas, ditemukan kata kunci yaitu AoprivasiAo dan AokebersihanAo. Kedua kata kunci tersebut dinyatakan secara eksplisit oleh responden sehingga mudah untuk dipahami. MODUL vol 22 no 2,issues period 2022 AuSaya tidak butuh kamar mandi pribadi di dalam kamar tidur karena kamar mandi bersama keluarga sudah ada. Ay (Responden yang tidak butuh kamar mandi Sedangkan pada pernyataan di atas, untuk menemukan kata kunci, kalimat perlu ditelaah lebih dalam karena mengandung makna implisit. Dari pernyataan tersebut dipahami bahwa responden tidak butuh kamar mandi pribadi karena sudah terbiasa menggunakan kamar mandi bersama. Beberapa kata kunci yang memiliki makna mirip kemudian dikelompokkan ke dalam satu kategori sehingga dihasilkan beberapa kategori seperti yang terlihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil open coding persepsi terhadap kamar mandi pribadi (Penulis, 2. Kata Kunci Kategori Privasi Terjaga Penggunaan Barang Pribadi Aman Mudah Menjangkau Dekat Hemat Waktu Praktis Efisiensi Efektivitas Hemat Air Hemat Ruang Sering di luar kamar Nyaman 22 Kenyamanan 23 Sudah Cukup Tidak Masalah Sudah Terbiasa Lebih Suka Tidak Penting Tradisi Bersih Privasi Aksesibilitas Efektivitas Efisiensi Keterbiasaan Kebersihan ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X Repot Membersihkan 1 Tidak Cukup Ruang Bebas Menggunakan Bisa Berlama-Lama Kebersihan Tergantung Pemilik Kerapian Tergantung Pemilik Jumlah Penghuni Sedikit Tidak Nyaman Ketidakteraturan Keterbatasan Ruang Keleluasaan Jumlah Penghuni Sedikit Ketidaknyamanan Keterangan: F = Frekuensi Penelitian Kuantitatif Untuk mengonfirmasi data yang dihasilkan pada penelitian kualitatif, dilakukan penelitian kuantitatif yang diawali dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner daring. Pembagian kuesioner daring dilakukan pada tanggal 1 November 2021 selama 10 hari. Responden berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti Jawa Barat. Jakarta. Riau. Kepulauan Riau. Kalimantan Barat, dan lain-lain. Responden yang diperoleh berjumlah 133 orang dengan responden lakilaki sebanyak 56 orang . %) dan perempuan sebanyak 78 orang . %). Kuesioner pada tahap ini berisi pernyataan-pernyataan yang diukur dengan Skala Likert (Tabel . Dalam teknik skala Likert, biasanya menggunakan lima titik skala yang terdiri dari 1 . , 2 . end to disagre. , 3 . annot sa. , 4 . end to agre. , dan 5 . (Singh, 2. Tabel 2. Contoh pernyataan yang diajukan pada kuesioner daring penelitian kuantitatif (Penulis, 2. Variabel Skala Kamar mandi pribadi lebih bersih Persepsi Sangat Sangat Tidak 1 2 3 4 5 Setuju Setuju Jarang keluar kamar tidur Faktor Internal Sangat Tidak Sangat 1 2 3 4 5 Setuju Setuju Variabel pernyataan diperoleh dari kata kunci yang dihasilkan oleh penelitian kualitatif. Pernyataan dalam kuesioner dibagi menjadi dua kategori, yaitu HASIL DAN DISKUSI Persepsi Dari proses analisis PCA dan FA pada kategori persepsi, dihasilkan beberapa dimensi, antara lain Aokemudahan privasiAo. AoketidaknyamananAo. AopemborosanAo, dan AopenghematanAo (Tabel . Tabel 3. Dimensi pada Kategori Persepsi (Penulis, 2. Penghematan kategori persepsi dan kategori faktor internal. Kategori persepsi berisi pernyataan yang mengandung persepsi mengenai karakteristik fisik kamar mandi pribadi. Adapun kategori faktor internal merupakan pernyataan yang berisi tentang faktor internal responden terkait kebutuhan terhadap kamar mandi pribadi. Responden diminta untuk memberikan penilaian dengan skala 1 . angat tidak setuj. sampai 5 . angat setuj. pada setiap pernyataan. Data numerik yang dihasilkan dari kuesioner daring tahap kuantitatif dianalisis menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA). Factor Analysis (FA), dan analisis regresi multivariat. PCA digunakan untuk menemukan komponen prinsip yang dapat mewakili beberapa variabel terukur. Selanjutnya, sejumlah komponen prinsip dengan eigenvector yang nilainya lebih dari satu dan dirotasi menggunakan varimax rotation pada FA. Hasil FA berupa variabel laten diberi nama sesuai dengan makna dari variabel terukur yang diwakilinya. Pada penelitian ini variabel laten selanjutnya dapat disebut juga sebagai dimensi. Terakhir, analisis regresi multivariat digunakan untuk mencari hubungan sebab-akibat antara setiap dimensi dengan preferensi terhadap kamar mandi pribadi. Pemborosan Ketidaknyamanan Kotor Kemudahan dan Privasi MODUL vol 22 no 2,issues period 2022 Mean Standar deviasi Alpha cronbach Eigen value/ Variance Percentage of Cum percent Factor Loading Variabel Terukur Mudah menjangkau Keleluasaan Jarak lebih dekat Bebas Penggunaan barang dalam ruang tidur Privasi terjaga Tenang Minimal Aman Praktis Nyaman Bisa berlama-lama Teratur Sehat Bersih Efektivitas Tempat relaksasi Hemat tenaga Intensitas Berada di Kamar Tidur MODUL vol 22 no 2,issues period 2022 Keterbiasaan Menggunakan Kamar Mandi Bersama ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X Hemat waktu Ruang tidur menjadi Ruang tidur menjadi Menyebabkan banyak nyamuk Lantai ruang tidur menjadi basah Mean Standar deviasi Perawatannya sulit Repot itu, perawatan kamar mandi pribadi dinilai sulit dan repot dalam membersihkannya. Kamar mandi pribadi juga dianggap sebagai pemborosan, baik dalam hal penggunaan air, biaya, maupun ruangan. Faktor Internal Dalam kategori faktor internal, dihasilkan dua dimensi, yaitu keterbiasaan menggunakan kamar mandi luar dan intensitas berada di dalam kamar tidur (Tabel Tabel 4. Dimensi pada kategori Faktor Internal (Penulis, 2. Alpha cronbach eigen value/Variance Percentage of Cum percent Variabel Terukur Factor Loading Boros air Sudah terbiasa Boros biaya Sudah cukup Boros ruangan Hemat ruang Hemat air Membuat privasi Tidak masalah Malas keluar kamar Jarang keluar kamar Dari analisis faktor, diketahui bahwa kategori persepsi memiliki tiga dimensi, antara lain kemudahan Penghematan tidak termasuk karena memiliki aplhaAos cronbach di bawah 0,6 . sehingga nilai reliabilitasnya rendah. Kemudahan dan privasi memiliki nilai rata-rata yang paling tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa responden cenderung menganggap kamar mandi pribadi lebih mudah digunakan dan lebih mampu melindungi privasi dibanding kamar mandi Di samping itu, responden juga memiliki persepsi negatif terhadap kamar mandi pribadi, yaitu ketidaknyamanan dan pemborosan. Keberadaan kamar mandi dalam kamar tidur dirasa akan memberikan rasa tidak nyaman karena dapat menyebabkan kamar tidur menjadi lembab, bau, banyak nyamuk, dan basah. Selain Beberapa dari responden merasa sudah terbiasa menggunakan kamar mandi bersama sehingga merasa sudah cukup jika hanya memiliki kamar mandi bersama. Responden juga beranggapan bahwa adanya kamar mandi pribadi akan menyebabkan mereka menjadi malas dan jarang keluar kamar tidur. Pengaruh Dimensi pada Kategori Persepsi dan Faktor Internal terhadap Preferensi Kamar Mandi Pribadi Dimensi-dimensi dalam kategori persepsi dan motivasi kemudian dicari hubungan sebab-akibatnya dengan preferensi terhadap kamar mandi pribadi menggunakan analisis regresi multivariat. Hasilnya menunjukkan bahwa dimensi yang memiliki hubungan signifikan dengan preferensi terhadap kamar mandi AopemborosanAo . Aoketerbiasaan menggunakan ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X kamar mandi bersamaAo ( Aointensitas berada di kamar tidurAo ( (Tabel . MODUL vol 22 no 2,issues period 2022 , dan Tabel 5. Hasil analisis regresi multivariat (Penulis, 2. Kemudahan dan Privasi Preferensi terhadap Kamar Mandi Pribadi Ketidaknyamanan Pemborosan Keterbiasaan Menggunakan Kamar Mandi Bersama Intensitas Menggunakan Kamar Tidur 35*** Keterangan: *p<0. **p<0. ***p<0. Koefisien regresi pada dimensi pemborosan dan keterbiasaan dalam kamar mandi bersama bernilai Hal itu menunjukkan bahwa responden yang menganggap bahwa kamar mandi pribadi merupakan suatu pemborosan dan sudah terbiasa dengan kamar mandi bersama cenderung merasa tidak membutuhkan kamar mandi pribadi. Dimensi intensitas berada di kamar tidur bernilai positif karena responden yang lebih sering berada di dalam kamar tidur cenderung merasa butuh kamar mandi pribadi. Tiga Faktor yang Mempengaruhi Preferensi Kamar Mandi Pribadi Dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan tiga faktor yang berpengaruh terhadap preferensi kamar mandi pribadi, antara lain familiarity, affordability, dan bedroom usage frequency (Gambar . Gambar 1. Tiga faktor yang mempengaruhi preferensi terhadap kamar mandi pribadi (Penulis, 2. Keterbiasaan Menggunakan Kamar Mandi Bersama: Familiarity Dari analisis regresi diketahui bahwa dimensi yang memiliki hubungan paling signifikan dengan preferensi terhadap kamar mandi pribadi yaitu Aoketerbiasaan menggunakan kamar mandi bersamaAo. Dimensi ini bermakna bahwa faktor yang paling menentukan butuh atau tidak butuhnya seseorang terhadap kamar mandi pribadi yaitu keterbiasaan penghuni dalam menggunakan kamar mandi bersama. Bagi orang yang sudah terbiasa menggunakan kamar mandi bersama maka orang tersebut cenderung tidak membutuhkan kamar mandi pribadi. Hal ini dibuktikan oleh analisis regresi yang menunjukkan bahwa dimensi tersebut memiliki pengaruh negatif pada preferensi terhadap kamar mandi pribadi. Keterbiasaan seseorang pada sesuatu akan membuatnya merasa familier terhadap sesuatu tersebut. Kondisi ini disebut sebagai familiarity. Familiarity merupakan sebuah konsep tentang sesuatu yang seseorang ketahui secara intim dan ia kenal dari apa yang pernah ia lihat sebelumnya (Felder, 2. Tingkat rasa familier atau keakraban seseorang dengan sesuatu dapat mempengaruhi persepsi mereka terhadap sesuatu Semakin tinggi familiarity seseorang terhadap sesuatu maka semakin mudah ia melakukan prediksi (Imamoglu, 2. Familiarity dapat dihasilkan dari adanya perulangan berupa rutinitas dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam hal penggunaan kamar Orang yang sudah biasa menggunakan kamar mandi bersama cenderung akan sulit memprediksi tentang penggunaan kamar mandi pribadi dan merasa tidak membutuhkan kamar mandi pribadi. Namun disamping itu, ada sebagian kecil responden yang terbiasa menggunakan kamar mandi bersama merasa membutuhkan kamar mandi pribadi. Hal mempengaruhi preferensi dengan cara yang berlawanan. Preferensi terkadang cenderung kepada sesuatu yang belum pernah dialami sebelumnya (Liao, 2. Pemborosan: Affordability Dimensi ke-dua yaitu AopemborosanAo. Dimensi ini juga memiliki pengaruh yang negatif terhadap preferensi kamar mandi pribadi. Memiliki kamar mandi dianggap pemborosan karena dirasa akan meningkatkan Kamar mandi termasuk bagian dalam rumah yang secara proporsional paling mahal dalam hal ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X pembangunan dan pemasangannya (Penner, 2. Kamar mandi memiliki tingkat biaya yang tinggi terkait spesifikasi mekanikal, elektrikal, dan arsitektural. Kamar mandi juga memerlukan tingkat mnajemen dan perencanaan yang jauh lebih tinggi dibanding elemen bangunan lainnya (Taylor et al, 2. Oleh karena itu, untuk membangun kamar mandi dalam setiap kamar tidur tentunya membutuhkan dana yang lebih banyak dibanding hanya membangun satu kamar mandi bersama, baik dana untuk lahan, material, pemasangan utilitas, dan lain-lain. Disamping itu, dana pemeliharaan juga harus dipertimbangkan. Pemeliharaan kamar mandi meliputi kegiatan merawat kamar mandi beserta berbagai perangkat saniternya agar selalu bersih dan berfungsi dengan baik. Selain itu, memiliki kamar mandi pribadi juga berpotensi menghabiskan lebih banyak air. Bagi rumah yang pompa airnya membutuhkan energi listrik, hal ini tentu akan menambah biaya listrik yang harus dikeluarkan. Dengan demikian, preferensi terhadap kamar mandi pribadi ditentukan oleh kemampuan finansial responden untuk menjangkau biaya pembangunan, pemeliharaan, dan penggunaan kamar mandi. Keterjangkauan finansial seseorang terhadap suatu harga disebut juga affordability. Affordability dipengaruhi oleh faktor harga dan pendapatan (Wong et al, 2. Semakin tinggi harga yang dibutuhkan untuk sebuah kamar mandi, semakin banyak pula biaya yang harus Kemampuan untuk membayar tersebut juga tergantung pendapatan yang dimiliki oleh seorang Oleh karena itu, dalam merencanakan kamar mandi dalam sebuah rumah tinggal, baik kamar mandi pribadi ataupun kamar mandi bersama, dianjurkan untuk menerapkan sistem sanitasi yang sederhana, dapat diterima, dan ekonomis, baik dalam pembuatan, pemeliharaan, dan pemindahan atau penggantiannya (Soeparman & Suparmin, 2. Intensitas Menggunakan Kamar Tidur: Bedroom Usage Frequency Dimensi ke-tiga yaitu Aointensitas menggunakan kamar tidurAo. Penghuni yang lebih sering berada di kamar tidur cenderung akan membutuhkan kamar mandi Sedangkan penghuni yang lebih sering di luar kamar tidur akan merasa cukup jika hanya memiliki kamar mandi bersama. Tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk tidur, kamar tidur juga dapat mewadahi berbagai kegiatan MODUL vol 22 no 2,issues period 2022 Kegiatan yang biasa dilakukan di kamar tidur, antara lain berpakaian, membersihkan tempat tidur, mengerjakan tugas tertentu, mendengarkan radio, membaca buku, merias diri, dan lain-lain (Nowakowski. Terlebih lagi pada saat pandemi covid-19 kamar tidur sering dijadikan ruang untuk bekerja atau sekolah daring (Yuanditasari et al, 2. Dengan demikian, keberadaan kamar mandi pribadi bagi orang yang lebih sering beraktivitas di kamar tidur tentunya menjadi hal yang penting untuk memudahkan orang tersebut dalam menjangkau fasilitas kamar mandi. Dari uraian di atas, disimpulkan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi preferensi terhadap kamar mandi pribadi, antara lain AofamiliarityAo. AoaffordabilityAo, dan Aobedroom usage frequencyAo. Ketiganya menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan ketika merencanakan pembangunan rumah tinggal yang kamar tidurnya dilengkapi dengan kamar mandi pribadi. Tujuannya agar rumah yang direncanakan mampu mengakomodasi kebutuhan penghuni dengan baik, khususnya kebutuhan terkait kamar mandi. KESIMPULAN Penelitian ini menemukan bahwa kategori persepsi terhadap kamar mandi pribadi memiliki tiga dimensi, antara lain kemudahan dan privasi, ketidaknyamanan, dan pemborosan. Selain itu, ditemukan juga dua dimensi dalam kategori faktor internal, yaitu keterbiasaan menggunakan kamar mandi bersama, dan intensitas menggunakan kamar tidur. Adapun dimensi yang memiliki pengaruh signifikan terhadap preferensi kamar mandi pribadi, yakni keterbiasaan menggunakan kamar mandi bersama, pemborosan, dan intensitas menggunakan kamar tidur. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa dimensi yang secara signifikan mempengaruhi preferensi terhadap kamar mandi pribadi yaitu keterbiasaan menggunakan kamar mandi bersama, pemborosan, dan intensitas menggunakan kamar tidur. Sehingga disimpulkan bahwa preferensi terhadap kamar mandi pribadi dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni AofamiliarityAo. AoaffordabilityAo, dan Aobedroom usage frequencyAo. Penelitian ini sudah cukup berhasil menjawab pertanyaan penelitian dan mengungkap berbagai hal terkait kamar mandi pribadi yang belum banyak dibahas Namun akan lebih baik jika penelitian dilakukan dengan random sampling agar golongan ISSN (P)0853-2877 (E) 2598-327X responden lebih beragam sehingga tingkat generalisasi data dapat lebih tinggi. Selain itu, pengumpulan data menggunakan kuesioner daring memiliki kelemahan, yaitu besarnya kemungkinan untuk terjadi perbedaan antara pemahaman responden dan pemahaman peneliti terhadap jawaban responden. Terlebih lagi jika jawaban yang diungkap responden mengandung makna implisit. Oleh karena itu, diharapkan pada penelitian selanjutnya dilakukan pengambilan data secara luring agar validitas dan reabilitas penelitian dapat lebih tinggi. DAFTAR PUSTAKA