Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 214 - 221 LAMBANGAN MENYALA: DESA TANI KREATIF DENGAN UMKM DAN KARYA DAUR ULANG Sumiati. Siti Mujanah. , . Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya e-mail: sumiati@untag-sby. id, . sitimujanah@untag-sby. ABSTRACT Lambangan Village has great potential in the development of innovative villages based on MSMEs, creative economy, and recycling. This article aims to explore community service outcomes that integrate local potential with digital technology and community empowerment. The method used is descriptive qualitative research with a participatory approach, through interviews, observations, and FGDs. The results show a significant increase in MSME digital skills, citizen participation, and the emergence of village icons based on recycled works. This research contributes to the development of a sustainable village model based on local assets. The findings also show the importance of cross-sector collaboration in building a creative village ecosystem. Further research is recommended to expand the scope of the area and use the triangulative method. Keywords: Village MSMEs, creative economy, digitalization, community service, community ABSTRAK Desa Lambangan memiliki potensi besar dalam pengembangan desa inovatif berbasis UMKM, ekonomi kreatif, dan daur ulang. Artikel ini bertujuan mengeksplorasi hasil pengabdian masyarakat yang mengintegrasikan potensi lokal dengan teknologi digital dan pemberdayaan komunitas. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan partisipatif, melalui wawancara, observasi, dan FGD. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada keterampilan digital UMKM, partisipasi warga, dan munculnya ikon desa berbasis karya daur ulang. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model desa berkelanjutan yang berbasis aset lokal. Temuan juga menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem desa kreatif. Penelitian selanjutnya disarankan memperluas cakupan wilayah dan menggunakan metode triangulatif. Kata kunci: UMKM desa, ekonomi kreatif, digitalisasi, pengabdian masyarakat, pemberdayaan PENDAHULUAN Desa Lambangan yang terletak di Kecamatan Undaan. Kabupaten Kudus dikenal luas sebagai wilayah agraris dengan komoditas unggulan berupa bawang merah. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan sangat bergantung pada hasil pertanian tersebut. Produktivitas yang cukup tinggi mendorong instansi terkait seperti Dinas Pertanian dan Pangan setempat untuk mengarahkan pengembangan desa ini menuju desa hortikultura mandiri, guna memperkuat ketahanan pangan dan taraf hidup masyarakat (Ferianto, 2. Namun, pertanian bukan satu-satunya kekuatan yang dimiliki Desa Lambangan. Di balik geliat sektor pertanian, desa ini juga menunjukkan potensi besar dalam pengembangan Usaha Mikro. Kecil. Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 214 - 221 dan Menengah (UMKM). Fenomena ini sejalan dengan data nasional, di mana UMKM diketahui berkontribusi sebesar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan nilai mencapai Rp9. 580 triliun dan menyerap 97% tenaga kerja nasional. Kondisi ini memperlihatkan bahwa memperkuat UMKM di desa merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. (Indonesia, 2. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi telah berkontribusi secara aktif dalam pelaksanaan program pengabdian masyarakat, salah satunya melalui kegiatan pelatihan pengelolaan sampah plastik yang diselenggarakan di Desa Sukapura. Kegiatan tersebut mencakup sejumlah tahapan, mulai dari sosialisasi kepada warga mengenai pentingnya pengelolaan limbah, pemasangan dan pengoperasian mesin pencacah plastik, hingga pelatihan teknis terkait identifikasi jenis-jenis plastik serta tahapan proses daur ulangnya. Seluruh rangkaian kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah plastik secara mandiri, sekaligus mendorong terciptanya produk daur ulang yang memiliki nilai ekonomis dan dapat menunjang kesejahteraan warga (University, 2. Permasalahan utama yang dihadapi Desa Lambangan meliputi keterbatasan akses terhadap teknologi ramah lingkungan, minimnya pengetahuan tentang pengelolaan limbah, dan kurangnya diversifikasi produk UMKM. Hal ini menyebabkan potensi ekonomi desa belum termanfaatkan secara optimal dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Kesenjangan antara potensi sumber daya desa dan pemanfaatannya yang belum maksimal menjadi tantangan yang perlu diatasi melalui pendekatan holistik yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, akademisi, pelaku UMKM, dan masyarakat setempat. Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk mengkaji secara mendalam strategi yang tepat dalam mengembangkan Desa Lambangan menjadi desa tani yang kreatif, inovatif, dan berkelanjutan. Fokus kajian diarahkan pada pemberdayaan pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) serta optimalisasi pemanfaatan karya daur ulang sebagai bagian dari ekonomi kreatif desa. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah yang signifikan terhadap produk-produk lokal, sekaligus berkontribusi dalam upaya pengurangan limbah dan dampak negatif terhadap lingkungan. Selain itu, strategi ini juga ditujukan untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian ekonomi masyarakat desa secara menyeluruh. Desa Lambangan pemanfaatan barang bekas sebagai ikon desa oleh mahasiswa menunjukkan potensi besar dalam mengembangkan identitas desa yang unik dan menarik, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah. Penerapan prinsip ekonomi sirkular di desa dapat meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, mengurangi limbah, dan menciptakan lapangan kerja baru. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Pendidikan dan pelatihan bagi pelaku UMKM tentang pengelolaan bisnis dan pemasaran digital juga penting untuk meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas. Kegiatan penyuluhan seperti yang dilakukan di Desa Kalikidang. Banyumas, menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas pelaku UMKM dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang branding dan Pengembangan desa yang inovatif dan berkelanjutan memerlukan pendekatan yang terintegrasi, melibatkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan desa yang mandiri dan berdaya saing. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan inspirasi bagi desa-desa lain dalam mengembangkan potensi lokal mereka secara kreatif dan berkelanjutan, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan desa. Dengan demikian, pengembangan Desa Lambangan sebagai desa tani kreatif dengan UMKM dan karya daur ulang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan secara nasional. Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 214 - 221 TEORI 1 Definisi dan Prinsip Dasar Desa Berkelanjutan Desa berkelanjutan merupakan konsep pembangunan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup guna memastikan kesejahteraan generasi sekarang tanpa mengorbankan masa depan. Prinsip dasar pembangunan desa berkelanjutan mencakup pemanfaatan sumber daya alam secara efisien, inklusi sosial, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan kelembagaan lokal (Firmansyah et al. , 2. Pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan ini mencakup penguatan kapasitas masyarakat desa dalam merencanakan, mengelola, dan mengevaluasi pembangunan di wilayahnya secara partisipatif dan mandiri. 2 Peran UMKM dalam Pembangunan Desa dan Ekonomi Nasional UMKM merupakan pilar utama ekonomi nasional dan juga memainkan peran vital dalam pembangunan desa. Di tingkat desa. UMKM berperan sebagai penggerak ekonomi lokal, penyerap tenaga kerja, dan pemicu inovasi produk berbasis potensi lokal. UMKM juga mempercepat pertumbuhan ekonomi mikro melalui optimalisasi sumber daya lokal seperti hasil pertanian, perikanan, kerajinan, dan kuliner tradisional (Purnamasari & MaAoruf, 2. 3 Faktor-faktor Keberhasilan UMKM Desa Keberhasilan UMKM di desa ditentukan oleh sejumlah faktor kunci, antara lain: akses terhadap modal usaha, pelatihan kewirausahaan dan manajemen, jaringan pemasaran, dan kemampuan adaptasi teknologi digital. Literasi keuangan dan dukungan dari lembaga pemerintah atau BUMDes turut memperkuat daya tahan UMKM (Aurellia & Wediawati, 2. Penguatan peran perempuan dan pemuda sebagai pelaku UMKM juga menjadi indikator keberhasilan pemberdayaan masyarakat desa. 4 Tantangan dan Hambatan Pengembangan UMKM di Pedesaan Meski potensial. UMKM di desa kerap menghadapi berbagai kendala, seperti terbatasnya infrastruktur fisik dan digital, rendahnya keterampilan manajerial, dan lemahnya akses pasar. Selain itu, banyak UMKM belum memahami pentingnya legalitas usaha, standarisasi produk, dan pemasaran digital sebagai bagian dari rantai nilai usaha yang berkelanjutan (Rival Pahrijal, 2. 5 Strategi Peningkatan Kapasitas dan Daya Saing UMKM Strategi untuk meningkatkan daya saing UMKM desa antara lain meliputi pelatihan manajemen bisnis, penguatan jaringan distribusi, pengembangan branding lokal, serta pemanfaatan teknologi Kolaborasi dengan perguruan tinggi juga berperan penting dalam mendampingi proses inovasi dan akselerasi transformasi digital (Nugraha et al. , 2. 5 Konsep Inovasi Sosial dan Ekonomi Kreatif Inovasi sosial adalah pendekatan yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam menciptakan solusi atas masalah sosial yang ada, sementara ekonomi kreatif berfokus pada penciptaan nilai ekonomi melalui kreativitas, budaya, dan teknologi. Kombinasi keduanya memberikan peluang bagi desa untuk mengembangkan produk unik berbasis identitas lokal (Alhada et al. , 2. 7 Transformasi Digital dalam Ekonomi Desa Transformasi digital dalam konteks desa meliputi digitalisasi proses bisnis UMKM, pemanfaatan platform e-commerce, penggunaan media sosial untuk pemasaran, dan penerapan sistem informasi desa. Hal ini sejalan dengan tren smart village yang menekankan pengelolaan desa berbasis data dan teknologi (AsAoad Sonief et al. , 2. Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 214 - 221 8 Definisi dan Prinsip Ekonomi Sirkular Ekonomi sirkular adalah pendekatan ekonomi yang mengedepankan prinsip penggunaan kembali, perbaikan, dan daur ulang guna memperpanjang siklus hidup produk. Pendekatan ini mengurangi limbah, menghemat sumber daya, dan menciptakan peluang ekonomi baru di desa (Ovi Juati et al, 2. 9 Dampak Positif Daur Ulang terhadap Lingkungan dan Ekonomi Kegiatan daur ulang dan pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat menurunkan tingkat pencemaran, sekaligus menambah nilai ekonomi bagi masyarakat melalui produksi kompos, kerajinan daur ulang, atau biogas dari limbah organik (Firmansyah et al. , 2. 10 Konseptual Pengembangan Desa Lambangan Sumber : Peneliti . Gambar 1 Diagram Alur Model Konseptual Pengembangan Desa Lambangan Langkah-langkah strategis dalam pengembangan desa melalui pendekatan inovasi yang berfokus pada pemanfaatan sumber daya lokal, penguatan kapasitas masyarakat, penerapan teknologi, dan implementasi yang berdampak positif. Melalui empat tahap yang terstruktur, diharapkan desa dapat berkembang secara berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tahap 1: Identifikasi Aset Sumber daya alam & budaya: Mengidentifikasi potensi sumber daya alam dan budaya yang ada di desa untuk dijadikan sebagai daya tarik dan nilai jual. UMKM yang ada: Melakukan pemetaan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sudah ada untuk memahami kekuatan dan kelemahan mereka. Potensi limbah & ikon desa: Menganalisis limbah yang dihasilkan dan mencari ikon desa yang dapat dijadikan sebagai branding untuk pengembangan lebih lanjut. Tahap 2: Penguatan Kapasitas Pelatihan kewirausahaan: Menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan kewirausahaan masyarakat agar mampu mengelola usaha dengan baik. Inkubasi UMKM & kemitraan: Membangun program inkubasi untuk UMKM dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memperluas jaringan dan akses pasar. Pemberdayaan komunitas: Melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan dan pemberdayaan agar mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap pengembangan desa. Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 214 - 221 Tahap 3: Inovasi & Teknologi Produk kreatif & daur ulang: Mendorong penciptaan produk kreatif yang memanfaatkan bahan daur ulang untuk mengurangi limbah dan meningkatkan nilai tambah. Teknologi tepat guna: Mengimplementasikan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Digitalisasi & e-commerce: Memperkenalkan platform digital dan e-commerce untuk memasarkan produk lokal secara lebih luas dan efektif. Tahap 4: Implementasi & Dampak Ekosistem desa inovatif: Membangun ekosistem yang mendukung inovasi di desa, termasuk kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Peningkatan pendapatan: Mengukur dampak dari program-program yang telah dilaksanakan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Kesadaran lingkungan: Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan melalui praktik-praktik berkelanjutan. METODE Pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang menekankan pada pemahaman mendalam terhadap konteks sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Desa Lambangan. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk menggali potensi lokal, mengidentifikasi permasalahan riil yang dihadapi warga, dan merancang solusi berbasis partisipatif. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan secara kolaboratif oleh tim akademisi dan mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T), yang mengedepankan transformasi sosial melalui pemberdayaan dan inovasi desa (Creswell. , & Creswell, 2. Data dalam kegiatan ini diperoleh dari dua jenis sumber: data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan pelaku UMKM dan tokoh desa, serta diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion/FGD) dengan pemuda dan Sementara itu, data sekunder diperoleh dari dokumentasi pemerintah desa, laporan UMKM lokal, serta literatur relevan terkait pemberdayaan dan ekonomi kreatif pedesaan. Proses pengumpulan data dilakukan secara triangulatif untuk memastikan validitas dan reliabilitas informasi yang diperoleh (Sugiyono. , 2. Subjek pengabdian terdiri atas pelaku UMKM lokal, perangkat desa, pemuda karang taruna, dan mahasiswa KKN. Pemilihan subjek dilakukan menggunakan teknik purposive sampling, yakni pemilihan secara sengaja terhadap individu atau kelompok yang dinilai relevan dan memiliki peran penting dalam pengembangan desa. Kriteria subjek meliputi: keterlibatan dalam kegiatan UMKM atau daur ulang, pengetahuan tentang potensi lokal, dan kemauan untuk berpartisipasi aktif dalam program desa berkelanjutan. Pemilihan ini memungkinkan pendekatan berbasis partisipatif yang lebih optimal Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif dengan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyaring informasi relevan dari hasil wawancara, observasi, dan FGD. Penyajian data menggunakan narasi dan visualisasi tematik dalam bentuk tabel dan bagan. Kemudian, simpulan ditarik berdasarkan pola, hubungan, serta makna yang muncul dari data lapangan. Teknik ini dianggap relevan untuk konteks pengabdian yang dinamis dan berbasis sosial (Miles, 2. Secara keseluruhan, metode ini dirancang agar selaras dengan tujuan utama pengabdian masyarakat, yakni menciptakan ekosistem desa yang inovatif dan berkelanjutan melalui pemberdayaan UMKM, ekonomi kreatif, dan pemanfaatan teknologi tepat guna. Pendekatan kualitatif memberi keleluasaan dalam menggali nilai-nilai lokal serta merancang intervensi yang kontekstual dan aplikatif. Diharapkan metode ini tidak hanya menghasilkan dampak praktis, tetapi juga kontribusi konseptual terhadap model pengembangan desa partisipatif. Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 214 - 221 Tabel 1. Ringkasan Metode Pengabdian Masyarakat Komponen Jenis Penelitian Pendekatan Sumber Data Teknik Pengumpulan Data Subjek dan Sampling Teknik Analisis Uraian Kualitatif Deskriptif Partisipatif. Kolaboratif. Kontekstual Primer . awancara, observasi. FGD). Sekunder . okumen, literatu. Observasi lapangan. Wawancara mendalam. FGD Pelaku UMKM. Perangkat Desa. Karang Taruna. Mahasiswa (Purposive Samplin. Analisis Interaktif (Miles & Huberma. : Reduksi. Penyajian. Simpulan Sumber: Peneliti . Gambar 2. Alur Metodologi Pengabdian Masyarakat HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengabdian masyarakat di Desa Lambangan menunjukkan adanya potensi besar dalam pengembangan desa berbasis UMKM, ekonomi kreatif, dan pemanfaatan barang daur ulang. Dari hasil observasi dan wawancara dengan 12 pelaku UMKM, diketahui bahwa sebagian besar pelaku belum memiliki akses terhadap teknologi produksi sederhana maupun pemahaman pemasaran digital. UMKM yang ada mayoritas bergerak di sektor makanan olahan, kerajinan rumah tangga, dan pertanian. Melalui pelatihan, terjadi peningkatan pemahaman pelaku UMKM terhadap branding produk lokal dan penggunaan media sosial sebagai sarana promosi. Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 214 - 221 Pada aspek ekonomi kreatif, kegiatan daur ulang yang dilakukan oleh mahasiswa dan warga berhasil menghasilkan ikon-ikon visual desa yang memanfaatkan limbah plastik dan organik. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri dan memperkuat citra desa sebagai kawasan kreatif. Selama proses berlangsung, partisipasi warga, khususnya pemuda karang taruna, meningkat signifikan. Berdasarkan FGD, ditemukan bahwa 87% responden merasa kegiatan ini membangkitkan semangat berwirausaha dan kolaborasi antargenerasi. Secara digital, pelatihan pemasaran melalui media sosial seperti Instagram dan WhatsApp Business meningkatkan jangkauan promosi UMKM lokal sebesar 65% dibandingkan sebelumnya. Beberapa pelaku usaha mulai mendapatkan pesanan dari luar desa. Selain itu, tim pengabdian juga membantu pembuatan katalog digital produk yang dapat diakses secara daring oleh konsumen luar wilayah. Berikut adalah ringkasan temuan utama: Tabel 2 Sebelum dan Sesudah Intervensi Aspek Keterampilan UMKM Sebelum Intervensi Setelah Intervensi Digital Rendah . anya 2 dari 12 pelaku Tinggi . dari 12 pelaku menggunakan digita. menggunakan media sosia. Produksi Daur Ulang Tidak terorganisir Tercipta 5 produk daur ulang sebagai ikon desa Partisipasi Warga Rendah Tinggi . % warga muda ikut aktif Promosi Produk Lokal dan manual Digital dan menjangkau luar desa Sumber : Peneliti . Hasil ini mendukung studi sebelumnya yang menyatakan bahwa pendekatan berbasis partisipasi komunitas dan penguatan kapasitas UMKM efektif dalam mendorong pembangunan desa berkelanjutan (Wibowo, 2020. Nuraini & Kurniawan, 2. Dibandingkan penelitian serupa di desa lain, program di Lambangan berhasil mengintegrasikan kegiatan ekonomi kreatif dan digitalisasi secara bersamaan. Faktor keberhasilan utama terletak pada kolaborasi lintas aktor . ahasiswa, perangkat desa, warg. serta pendekatan yang kontekstual terhadap potensi lokal. Namun, terdapat beberapa tantangan seperti keterbatasan infrastruktur internet, kurangnya modal pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha lebih lanjut, serta keberlanjutan kegiatan pasca program selesai. Faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan dalam replikasi program ke desa lain. Keterbatasan lainnya adalah cakupan responden yang masih terbatas serta belum dilakukannya analisis kuantitatif terhadap peningkatan pendapatan pelaku UMKM secara detail. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi potensi lokal, pemberdayaan UMKM, dan digitalisasi melalui pengabdian masyarakat berbasis partisipatif dapat membangun ekosistem desa yang inovatif dan berkelanjutan. Temuan ini memberikan pemahaman mendalam bahwa desa dapat menjadi pusat kreativitas dan ekonomi baru dengan dukungan sinergis antaraktor. Secara teoritis, penelitian ini memperkuat konsep pengembangan desa berbasis aset lokal, sementara secara praktis menawarkan model yang dapat direplikasi. Keterbatasan yang ada membuka ruang eksplorasi lebih lanjut dalam mengembangkan sistem yang berkelanjutan dan mandiri. Bagi praktisi dan pemerintah desa, disarankan untuk membentuk unit khusus pengelola UMKM dan kegiatan kreatif agar program dapat berjalan berkesinambungan. Akademisi perlu memperluas kajian ke dimensi sosial-budaya yang lebih dalam, serta mengintegrasikan metode kuantitatif untuk mengukur dampak ekonomi secara lebih akurat. Penelitian selanjutnya sebaiknya melibatkan lebih banyak desa sebagai sampel dan menggunakan pendekatan triangulasi untuk memperkuat validitas temuan. REFERENSI