Jurnal AGRIFOR Volume 25. No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 SERAPAN TEMBAGA (C. DAN HASIL TANAMAN TOMAT SEBAGAI RESPONS TERHADAP PEMUPUKAN N. K DAN PUPUK MAJEMUK MIKRO PADA INCEPTISOLS JATINANGOR Emma Trinurani Sofyan1*). Eso Solihin2. Ania Citraresmini3. Fitri Widiantini4. Rahma Dyah Utami5 1,2,3 Program Studi Agroteknologi. Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Indonesia. Program Studi Agroteknologi. Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Mahasiswa Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. Jatinangor E-Mail: emma. trinurani@unpad. id (*Corresponding autho. Submit: 25-02-2026 Revisi: 27-02-2026 Diterima: 04-03-2026 ABSTRAK Serapan Tembaga (C. Dan Hasil Tanaman Tomat Sebagai Respons Terhadap Pemupukan N. K Dan Pupuk Majemuk Mikro Pada Inceptisols Jatinangor. Secara umum. Inceptisols merupakan jenis tanah dengan kondisi kesuburan yang masih terbatas terutama terkait ketersediaan unsur hara mikro, sehingga dapat membatasi pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Praktik pemupukan yang hanya mengandalkan unsur hara makro sering kali belum mampu mencapai produktivitas optimal apabila tidak didukung oleh pupuk majemuk mikro, khususnya tembaga (C. Penelitian ini dirancang untuk mengevaluasi pengaruh pupuk N. K yang dikombinasikan dengan pupuk majemuk mikro melalui aplikasi foliar terhadap penyerapan Cu dan hasil tanaman tomat (Solanum lycopersicum L. ) pada Inceptisols di Jatinangor, serta menentukan kombinasi pupuk yang paling efektif. Percobaan dilaksanakan pada bulan September hingga Desember 2025 di Lahan Percobaan Cileles. Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan dan empat ulangan, yaitu tanpa pupuk . 1 dosis rekomendasi N. P, 1 N. K A majemuk mikro. 1 N. K 1 majemuk mikro. 1 N. K 1A majemuk mikro. serta A N. K 1 majemuk mikro. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa pemberian kombinasi pupuk N. K dan pupuk majemuk mikro memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan serapan Cu serta hasil tanaman Perlakuan berupa A dosis N. K yang dikombinasikan dengan 1 dosis pupuk majemuk mikro menghasilkan penyerapan Cu tertinggi sebesar 25,71 mg tanamanAA serta komponen hasil terbaik, meliputi bobot buah per petak 10,42 g, bobot buah rata-rata 58,75 g, dan diameter buah 45,6 mm. Kata kunci : Foliar. Inceptisols. Pupuk majemuk mikro. Pupuk NPK. Tomat. ABSTRACT Absorption of copper (C. and tomato plant yield in response to N. K fertilization and micro-compound fertilizers in Jatinangor inceptisols. Inceptisols generally have low fertility levels, particularly in terms of micronutrient availability, which can limit the growth and yield of tomato plants. Fertilization practices that rely solely on macronutrients often fail to achieve optimal productivity if not supported by micronutrient compound fertilizers, especially copper (C. This study aimed to evaluate the effect of N. P, and K fertilizers combined with micronutrient compound fertilizers through foliar application on Cu uptake and yield of tomato plants (Solanum lycopersicum L. ) grown on Inceptisols in Jatinangor, as well as to determine the most effective fertilizer combination. The experiment was conducted from September to December 2025 at the Cileles Experimental Field. Faculty of Agriculture. Padjadjaran University. The study was arranged using a randomized block design with six treatments and four replications, consisting of a control without fertilizer, recommended doses of N. P, and K, 1 dose of N. K combined with A dose of micronutrient compound fertilizer, 1 dose of N. K combined with 1 dose of micronutrient compound fertilizer, 1 dose of N. K This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Serapan Tembaga (C. dan Hasil A Sofyan et al. combined with 1A doses of micronutrient compound fertilizer, and A dose of N. K combined with 1 dose of micronutrient compound fertilizer. The results showed that the combination of N. P, and K fertilizers with micronutrient compound fertilizers significantly increased Cu uptake and yield of tomato plants. The application of A dose of N. K combined with 1 dose of micronutrient compound fertilizer resulted in the highest Cu uptake of 25. 71 mg plantAA and produced the best yield components, including fruit weight per plot 42 g, average fruit weight of 58. 75 g, and fruit diameter of 45. 6 mm. Keywords : Foliar. Inceptisols. Micro-compound fertilizers. NPK fertilizers. Tomato. PENDAHULUAN Tomat (Solanum lycopersicum L. merupakan komoditas hortikultura yang bernilai strategis dalam sistem pertanian di Indonesia, khususnya di wilayah tropis, karena perannya sebagai sumber pangan bergizi dan bahan baku industri pangan (Heriani dkk. , 2. Kandungan vitamin C, vitamin A, kalium, serta senyawa antioksidan menjadikan tomat bernilai tinggi dari aspek gizi dan kesehatan (Saputro, 2. Selain dikonsumsi sebagai buah segar, tomat juga banyak dimanfaatkan dalam produk olahan seperti permintaannya terus meningkat seiring perkembangan industri makanan dan minuman (Heriani dkk. , 2. Menurut publikasi resmi Badan Pusat Statistik . menggambarkan bahwa produksi tomat nasional periode 2020Ae2024 bersifat fluktuatif, dengan kisaran 1,08Ae1,17 juta ton per tahun. Luas panen dan produktivitas juga berfluktuasi, dengan produktivitas berkisar antara 18,44Ae19,54 t ha. Kondisi yang perlu mendapat perhatian lebih terjadi di Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu wilayah sentra produksi utama. Selama periode yang sama, produksi tomat di Jawa Barat menunjukkan tren penurunan 267 ton pada tahun 2020 menjadi 710 ton pada tahun 2024, disertai penurunan produktivitas dari 30,67 menjadi 27,07 t ha (BPS, 2. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga terhadap tomat terus meningkat dari tahun ke tahun, ketidakseimbangan pasokan di masa mendatang apabila tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas. Fluktuasi produksi dan penurunan produktivitas tersebut mengindikasikan bahwa pengelolaan faktor budidaya tomat belum sepenuhnya optimal. Peningkatan produksi dapat ditempuh melalui penggunaan varietas unggul, pengelolaan pemupukan yang tepat, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta Varietas Gustavi F1 termasuk dalam kelompok varietas unggul yang dikenal memiliki tingkat toleransi tinggi terhadap serangan virus gemini serta penyakit layu bakteri, mampu beradaptasi pada musim hujan dan kemarau, serta berpotensi menghasilkan hingga 60 t ha dengan rasa buah yang manis agak asam (Wahyurini & Suryawati, 2. Meskipun demikian, keberhasilan varietas unggul tetap sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tumbuh, terutama sifat tanah sebagai media perakaran. Indonesia memiliki berbagai jenis tanah yang digunakan untuk budidaya tanaman, salah satunya adalah Inceptisols. Tanah ini mencakup sekitar 37,5% dari total luas daratan Indonesia atau sekitar 70,5 juta ha (Puslittanak, 2. Luas lahan Inceptisols di Jawa Barat mencapai sekitar 2,12 juta ha (Puslittanak, 2. , termasuk wilayah Jatinangor yang menjadi lokasi percobaan ini. Jenis tanah yang mendominasi wilayah Jatinangor termasuk dalam ordo Inceptisols. Keberadaan Inceptisols di wilayah tersebut telah dikonfirmasi melalui penelitian Arifin dkk. yang menyatakan bahwa tanah di Jatinangor This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 25. No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. tergolong ke dalam ordo Inceptisols. Secara morfologi, ordo Inceptisols dicirikan dengan horizon kambik, yaitu horizon bawah permukaan yang dicirikan oleh adanya perkembangan struktur tanah dan perubahan warna, namun belum menunjukkan akumulasi iluviasi yang nyata dengan batas atas yang terletak pada kedalaman kurang dari 100 cm dari permukaan tanah mineral, sedangkan batas bawahnya berada pada kedalaman 25 cm atau lebih dari permukaan tanah mineral (Soil Survey Staff, 2. Pemupukan menjadi salah satu Inceptisols. Tomat membutuhkan unsur hara makro N. P, dan K dalam jumlah relatif tinggi untuk perkembangan akar, serta pembentukan dan mutu hasil (Siahaan, 2. Namun, pemupukan yang hanya berfokus pada unsur hara makro belum cukup untuk menjamin produktivitas optimal apabila tidak diimbangi dengan ketersediaan unsur hara mikro. Unsur mikro seperti Cu dibutuhkan dalam jumlah kecil, tetapi berperan esensial sebagai aktivator enzim, pembentukan klorofil dan vitamin A (Wiryanta, 2002. Yulianingsih, 2. Pemenuhan kebutuhan unsur mikro Cu umumnya dilakukan melalui aplikasi foliar pada daun, mengingat kebutuhan tanaman terhadap unsur ini relatif rendah namun esensial. Aplikasi secara foliar memungkinkan unsur hara diserap lebih cepat melalui stomata daun serta dapat mengurangi kehilangan hara akibat penguapan dibandingkan dengan aplikasi melalui tanah. Metode ini dinilai lebih efisien dalam mendukung pertumbuhan tanaman tanpa menimbulkan degradasi sifat tanah (Alimuddin dkk. , 2023. Mustamu, 2. Pupuk majemuk mikro yang digunakan dalam penelitian ini mengandung boron (B), cuprum (C. , mangan (M. , molibdenum (M. , besi ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 (F. , dan zinc (Z. , sehingga mampu menyediakan unsur hara mikro secara lengkap dan seimbang. Dalam percobaan ini, unsur Cu pada tanaman tomat menjadi fokus pengamatan karena berperan signifikan dalam metabolisme dinding sel serta regulasi biosintesis dan sinyal etilen, yang penting bagi pertumbuhan dan respons perkembangan tanaman (Furqoni. Beberapa penelitian melaporkan bahwa kombinasi pupuk N. K dengan pupuk mikro mampu meningkatkan pertumbuhan, hasil, dan kualitas tomat melalui peningkatan efisiensi serapan hara (Handayati dkk. , 2016. Singh et al. , 2. Namun demikian, kajian yang secara spesifik mengevaluasi pengaruh unsur mikro Cu terhadap serapan Cu tanaman dan hasil tomat pada tanah Inceptisol masih terbatas, khususnya di wilayah Jatinangor. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji efektivitas kombinasi pupuk tunggal N. K dan unsur mikro Cu terhadap serapan Cu tanaman dan hasil tomat di tanah berordo Inceptisol. METODA PENELITIAN Tempat dan Waktu Kegiatan penelitian dijalankan di Lahan Percobaan Cileles. Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran, yang berlokasi di Jatinangor. Kabupaten Sumedang. Kegiatan analisis tanah awal serta pengujian tanah dan jaringan tanaman pada fase selama periode percobaan pada Laboratorium Kimia Tanah dan Nutrisi Tanaman. Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran, yang berlokasi di Jatinangor. Kabupaten Sumedang. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Serapan Tembaga (C. dan Hasil A Sofyan et al. Penelitian ini dilaksanakan pada rentang waktu September sampai Desember 2025. Bahan dan Alat Bahan yang dimanfaatkan dalam pelaksanaan percobaan ini mencakup tanah Inceptisol yang berasal dari wilayah Jatinangor, benih tomat varietas Gustavi F1, pupuk majemuk mikro, serta pupuk anorganik berupa Urea. SP-36, dan KCl yang diaplikasikan dalam berbagai taraf dosis sesuai dengan perlakuan Peralatan percobaan mencakup perangkat yang digunakan di lapangan maupun di laboratorium, pelaksanaan analisis. Alat penelitian yang digunakan meliputi peralatan laboratorium dan Alat-alat laboratorium meliputi. Absorption Spectrophotometer (AAS), neraca analitik, oven, blender, saringan 2 mm, tabung reaksi, labu kjeldahl, botol kocok, mesin shaker, pipet, alat-alat laboratorium lainnya. Sedangkan alat-alat lapangan meliputi, mulsa hitam perak, bambu, cangkul, jangka sorong, meteran, penggaris, ember, plang perlakuan, dan alat-alat lapangan lainnya. Metode Penelitian Percobaan ini disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan enam perlakuan, yang meliputi satu perlakuan kontrol . anpa pemupukan N. P, dan K pada dosis rekomendasi . kg ha Urea, 150 kg ha SP-36, 100 kg ha KC. , dan empat perlakuan kombinasi N. K dan majemuk mikro. Pada masingmasing perlakuan, dilakukan ulangan sebanyak empat kali, yang terdiri dari 20 tanaman tomat dalam satu petak sehingga total plot percobaan berjumlah 24 petak dengan ukuran petak 500 x 100 cm. Berikut merupakan susunan perlakuan yang diberikan meliputi: Tabel 1. Susunan Perlakuan. Kode Takaran Pupuk . g ha-. Perlakuan Urea SP-36 KCl Majemuk Mikro Kontrol N. K Rekomendasi 1 Dosis N. K A Dosis Majemuk Mikro 1 Dosis N. K 1 Dosis Majemuk Mikro 1 Dosis N. K 1A Dosis Majemuk Mikro A Dosis N. K 1 Dosis Majemuk Mikro This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 25. No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Keterangan: Kontrol merupakan perlakuan tanpa pupuk N. K dan Majemuk Mikro. Perlakuan dosis Pupuk N. K rekomendasi adalah dosis anjuran untuk tanaman tomat yaitu 200 kg ha Urea, 150 kg ha SP-36, 100 kg ha KCl (BPTP, 2. Pupuk majemuk mikro yang digunakan mengandung salah satu hara, yaitu Tembaga (C. Perlakuan dosis untuk pupuk mikro rekomendasi adalah 6 kg ha -1 (Balittanah, 2. Pengamatan yang dilakukan dalam percobaan ini meliputi: penetapan serapan Cu pada saat vegetatif maksimum dengan metode pengabuan basah, serta komponen hasil tanaman tomat, berupa bobot buah per petak, bobot per buah, dan diameter Analisis data percobaan dilakukan secara statistik menggunakan uji Fisher pada tingkat signifikansi 5% melalui HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN Hasil Analisis Tanah Awal Hasil karakterisasi tanah Inceptisol yang berasal dari Lahan Percobaan Cileles. Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. Jatinangor, menunjukkan bahwa tanah yang digunakan dalam penelitian ini memiliki reaksi tanah agak masam, dengan nilai pH HCCO sebesar 6,05 dan pH KCl sebesar 5,04. Kandungan C-organik dan N-total masing-masing sebesar 1,76% dan 0,15%, yang termasuk ke dalam kategori Nilai P-potensial tercatat sebesar 82,02 mg 100 gAA tanah dan P-tersedia sebesar 21,56 ppm P, keduanya tergolong sangat tinggi. Kandungan Kpotensial mencapai 29,82 mg 100 gAA tanah dan diklasifikasikan dalam Kation dipertukarkan terdiri atas K-dd sebesar software SmartstatXL V. hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan yang nyata, maka pengujian dilanjutkan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan (Duncan Multiple Range Tes. dengan tingkat kepercayaan 0,47 cmol kgAA. Ca-dd sebesar 3,28 cmol kgAA, dan Mg-dd sebesar 0,50 cmol kgAA yang seluruhnya tergolong rendah, serta Na-dd sebesar 0,06 cmol kgAA yang termasuk sangat rendah. Kapasitas Tukar Kation (KTK) sebesar 18,70 cmol kgAA menunjukkan kemampuan tanah dalam menjerap dan mempertukarkan kation berada pada kategori sedang. Nilai kejenuhan basa sebesar 40,50% tergolong rendah, sedangkan kejenuhan Al sebesar 4,58% termasuk sangat Secara dengan fraksi pasir 36%, debu 42%, dan liat 22%. Kandungan Cu total yang menjadi fokus penelitian tercatat sebesar 61,24 ppm dan termasuk dalam kategori Berdasarkan keseluruhan sifat kimia dan fisika tersebut, tanah Inceptisol pada lokasi penelitian kesuburan tanah rendah hingga sedang. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Serapan Tembaga (C. dan Hasil A Sofyan et al. Tabel 2. Hasil Analisis Sifat Kimiawi dan Fisik Tanah pada Kondisi Awal. Parameter pH : H2O pH : KCl 1 N Moisture content Organic - c Total - N C/N P2O2 HCl 25% P2O5 (Olse. KCCO HCI 25% Basic Cations: K-dd Na-dd Mg-dd Cation exchange capacity (CEC) Base Saturation (KB) Al-dd H-dd Al-saturation Texture: Sand Silt Clay Satuan Hasil (%) (%) (%) g 100 g-. pm P) . g 100 g-. 6,05 5,04 7,78 1,76 0,15 11,65 82,02 21,56 29,82 . mol kg-. mol kg-. mol kg-. mol kg-. (%) . mol kg-. mol kg-. (%) 0,47 0,06 3,28 0,50 24,51 0,227 0,274 4,58 (%) (%) (%) 61,24 Serapan Cu Tanaman Tomat Berdasarkan hasil analisis serapan Cu yang disajikan pada Tabel 3, aplikasi pupuk N. K yang dipadukan dengan pupuk majemuk mikro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap serapan Cu. Data pada Tabel 3 memperlihatkan bahwa perlakuan A dosis N. K 1 dosis majemuk mikro menghasilkan nilai serapan Cu tertinggi, yaitu sebesar 25,71 mg tanamanAA, sedangkan perlakuan tanpa pemupukan . menunjukkan serapan Cu paling rendah, yaitu sebesar 5,75 mg tanamanAA. Tabel 3. Serapan Cu sebagai Respons terhadap Pemupukan N. K dan Pupuk Majemuk Mikro pada Inceptisols Jatinangor. Kode Perlakuan Serapan Cu . g tanaman-. 5,75 a Kontrol N. K Rekomendasi 8,85 b 1 Dosis N. K A Dosis Majemuk Mikro 14,62 c 1 Dosis N. K 1 Dosis Majemuk Mikro 17,60 d 1 Dosis N. K 1A Dosis Majemuk Mikro 16,67 d A Dosis N. K 1 Dosis Majemuk Mikro 25,71 e Keterangan: Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf signifikansi 5%. Perlakuan . menghasilkan serapan Cu terendah, yaitu 5,75 mg tanamanAA. Rendahnya serapan Cu pada perlakuan ini tersedia di dalam tanah serta rendahnya efisiensi penyerapan hara oleh tanaman akibat tidak adanya penambahan pupuk. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 25. No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Inceptisols kandungan bahan organik yang rendah hingga sedang serta kapasitas jerapan hara mikro yang terbatas, sehingga Cu mudah berada dalam bentuk tidak tersedia bagi tanaman (Broadley et al. Kondisi ini menyebabkan serapan Cu tanaman menjadi rendah apabila tidak diikuti dengan pengelolaan hara yang tepat. Pemberian pupuk N. K sesuai dosis rekomendasi . erlakuan B) mampu meningkatkan serapan Cu secara nyata dibandingkan kontrol. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pemupukan makro tidak hanya berperan dalam menunjang pertumbuhan tanaman, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan serapan hara mikro melalui perbaikan sistem perakaran dan peningkatan aktivitas metabolisme tanaman (Rietra et , 2. Unsur nitrogen, fosfor, dan kalium diketahui dapat meningkatkan pertumbuhan akar dan luas permukaan tanaman menyerap Cu secara lebih Serapan Cu meningkat lebih tajam pada perlakuan yang mengombinasikan N. K dengan majemuk mikro . erlakuan C. E, dan F). Penambahan meningkatkan ketersediaan Cu di zona keseimbangan hara dalam jaringan Unsur mikro berfungsi sebagai kofaktor enzim dan pengatur reaksi fisiologis yang berhubungan langsung dengan proses serapan dan translokasi hara mikro, termasuk Cu (Broadley et , 2. Hal ini menjelaskan mengapa kombinasi pupuk makro dan mikro memberikan respon serapan Cu yang lebih tinggi dibandingkan pemberian N. K saja. Perlakuan F (A dosis N. K 1 menghasilkan serapan Cu tertinggi, yaitu 25,71 mg tanamanAA, serta menunjukkan ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan seluruh perlakuan lainnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa efisiensi serapan Cu dapat ditingkatkan melalui pengurangan dosis pupuk makro yang diimbangi dengan pemberian pupuk majemuk mikro yang memadai. Strategi mendukung konsep pemupukan berimbang, di mana keseimbangan antar unsur hara lebih dibandingkan peningkatan dosis pupuk makro semata (Rietra et al. , 2. Secara fisiologis. Cu berperan penting dalam proses fotosintesis, respirasi, serta aktivitas enzim oksidatif pada tanaman. Peningkatan serapan Cu pada perlakuan kombinasi menunjukkan bahwa ketersediaan Cu yang cukup tanaman tomat secara optimal, yang peningkatan pertumbuhan serta potensi hasil tanaman (Alloway, 2. Oleh karena itu, pengelolaan Cu tidak dapat dipisahkan dari strategi pemupukan makro dan mikro secara terpadu. Secara penelitian ini menegaskan bahwa kombinasi pupuk N. K dan pupuk majemuk mikro efektif meningkatkan serapan Cu tanaman tomat pada tanah Inceptisol. Keseimbangan dosis pupuk, terutama antara unsur makro dan mikro, meningkatkan efisiensi serapan Cu serta kesuburan tanah yang terbatas. Komponen Hasil Tanaman Tomat Komponen hasil tanaman tomat yang diamati dalam Percobaan ini meliputi bobot buah per petak, bobot rata-rata per buah, serta diameter buah. Berdasarkan data pada Tabel 4, perlakuan pemupukan menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan seluruh komponen hasil tanaman This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Serapan Tembaga (C. dan Hasil A Sofyan et al. tomat tersebut, yaitu jumlah buah per petak, bobot buah per petak, bobot per buah, dan diameter buah. Hasil analisis uji DMRT pada taraf signifikansi 5% memperlihatkan bahwa perlakuan yang memiliki notasi huruf berbeda tergolong ke dalam kelompok yang berbeda secara Tabel 4. Hasil Tomat sebagai Respons terhadap Pemupukan N. K dan Pupuk Majemuk Mikro pada Inceptisols Jatinangor. Kode Perlakuan Kontrol N. K Rekomendasi 1 Dosis N. K A Dosis Majemuk Mikro 1 Dosis N. K 1 Dosis Majemuk Mikro 1 Dosis N. K 1A Dosis Majemuk Mikro A Dosis N. K 1 Dosis Majemuk Mikro Bobot Buah per Petak . 6,16 a 7,07 b 7,88 bc 9,50 d 8,68 cd d Bobot per Buah . 29,25 a 49,35 b 50,58 b 55,95 c 55,28 c Diameter Buah . 29,9 a 40,9 b 43,4 c 45,4 e 44,6 d 10, 42 e 58,75 c 45,6 e Keterangan: Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf signifikansi 5%. Perlakuan . menghasilkan nilai panen paling rendah pada seluruh parameter yang diamati, meliputi bobot buah per petak sebesar 6,16 kg, bobot per buah 29,25 g, dan diameter buah 29,9 mm. Seluruh menunjukkan perbedaan nyata yang lebih rendah dibandingkan dengan Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan unsur hara alami pada tanah Inceptisol belum mencukupi untuk mendukung kebutuhan nutrisi tanaman tomat secara optimal. Tanah Inceptisol umumnya dicirikan oleh tingkat kesuburan yang rendah serta mudah mengalami kehilangan hara, sehingga tanpa penambahan pupuk, pertumbuhan dan hasil tanaman menjadi kurang maksimal (Sudirja dkk. , 2. Pemberian pupuk N. K sesuai dosis rekomendasi . erlakuan B) secara nyata meningkatkan seluruh komponen hasil dibandingkan kontrol. Nitrogen berperan dalam pembentukan jaringan vegetatif dan sintesis asimilat yang menunjang pembesaran buah. Fosfor pembungaan dan pembentukan buah, sedangkan kalium berfungsi dalam translokasi hasil fotosintesis dan peningkatan kualitas buah (Jing et al. Kombinasi ketiga unsur tersebut memberikan kondisi nutrisi yang lebih meningkatkan bobot dan ukuran buah Peningkatan hasil yang lebih nyata mengombinasikan pupuk N. K dengan pupuk majemuk mikro . erlakuan C. E, dan F). Unsur mikro berperan sebagai kofaktor enzim dan pengatur berbagai proses metabolisme tanaman yang pembentukan jaringan buah (Alloway. Penambahan pupuk mikro diketahui dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan unsur makro sehingga berdampak positif terhadap peningkatan hasil tanaman tomat (Yadav et al. , 2. Perlakuan D dan F menunjukkan hasil tertinggi, yang mengindikasikan bahwa keseimbangan antara unsur makro dan mikro menjadi faktor kunci dalam meningkatkan produktivitas tomat pada tanah Inceptisols. Perlakuan F (A dosis N. K 1 dosis pupuk majemuk mikr. menghasilkan bobot buah per petak tertinggi, yaitu 10,42 kg, serta bobot per buah dan diameter buah yang This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 25. No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. termasuk dalam kelompok tertinggi berdasarkan uji DMRT 5%. Hasil ini pemupukan dapat dicapai dengan mengurangi dosis pupuk makro apabila diimbangi dengan pemberian unsur mikro yang memadai. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pemupukan optimalisasi hasil melalui keseimbangan hara tanpa meningkatkan dosis pupuk secara berlebihan (Alloway, 2. Secara penelitian ini menegaskan bahwa kombinasi pupuk N. K dan pupuk majemuk mikro mampu meningkatkan komponen hasil tanaman tomat secara signifikan pada tanah Inceptisols. Keseimbangan dosis pupuk, terutama antara unsur makro dan mikro, merupakan faktor penentu dalam mencapai hasil tomat yang optimal dan berkelanjutan pada lahan dengan tingkat kesuburan tanah yang relatif rendah. KESIMPULAN Perlakuan kombinasi N. K dan majemuk mikro berpengaruh terhadap serapan Cu dan hasil tomat (Solanum lycopersium L. ) meliputi bobot buah per petak, bobot per buah, dan diameter buah pada Inceptisols asal Jatinangor. Kombinasi A dosis pupuk N. K Rekomendasi . kg ha Urea, 150 kg ha SP-36, 100 kg ha KC. 1 dosis pupuk majemuk mikro 6 kg ha Cu memberikan hasil tanaman tomat (Solanum lycopersicum L. ) terbaik yang ditanam pada Inceptisols asal Jatinangor. DAFTAR PUSTAKA