SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. : 147-166 Copyright @ SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi pISSN: 20888236. eISSN: 27220079 DOI: 10. 46495/sdjt. Submitted: 1 October 2025 / Accepted: 3 December 2025 Orientasi Identitas Gereja di Tengah Transhumanisme: Analisis Technological Liturgies Frans Best Soma Marpaung Sekolah Tinggi Teologi HKBP. Pematangsiantar. Sumatera Utara. Indonesia fransbsmarpaung@stt-hkbp-ac. Evans Sagala Sekolah Tinggi Teologi HKBP. Pematangsiantar. Sumatera Utara. Indonesia evansagalaa@gmail. Abstract This article examines how transhumanism and digital technology reshape contemporary understandings of the human, as well as their implications for the identity of the church. The anthropological shifts driven by the logic of digital control indicate that the human person is increasingly perceived not as a creature grounded in relational rootedness, but as a technological project open to optimization. Employing a qualitative method, literaturebased methodology with a constructive approach, this study utilizes the concept of technological liturgies as an analytical lens to explore how digital culture shapes human affections and imagination. The findings highlight three orientations that assist the church in articulating its identity within an algorithmically mediated world: relational rootedness as the basis of communal life, a rhythm of presence that restores meaning, and a critical orientation toward technological configurations. Together, these orientations form a counter-liturgy that reorders the dispositions of the faithful and safeguards human dignity as GodAos creation. This study argues that the churchAos identity can be expressed creatively and contextually amid technocultural change without relinquishing its theological Keywords: Transhumanism. Digital Technology. Church Identity. Technological Liturgies. Relationality Abstrak Tulisan ini menelaah bagaimana transhumanisme dan teknologi digital membentuk ulang pemahaman manusia, serta implikasinya terhadap identitas gereja. Pergeseran antropologis yang digerakkan oleh logika kendali digital menunjukkan bahwa manusia semakin dipahami bukan sebagai ciptaan yang berakar pada relasionalitas, tetapi sebagai proyek teknologis yang dapat dioptimalisasi. Berangkat dari metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan konstruktif, penelitian ini memanfaatkan gagasan technological liturgies sebagai kerangka analitis untuk membaca dinamika pembentukan afeksi dan imajinasi manusia dalam budaya digital. Temuan penelitian mengemukakan tiga orientasi yang menolong gereja merumuskan identitasnya di tengah dunia yang dimediasi algoritma, yakni relasionalitas sebagai dasar kehidupan bersama, ritme kehadiran yang memulihkan makna, dan orientasi kritis terhadap konfigurasi teknologi. Ketiga orientasi ini membentuk suatu 148 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. liturgi tandingan yang menata ulang disposisi umat dan memelihara martabat manusia sebagai ciptaan. Penelitian ini menegaskan bahwa identitas gereja tetap dapat diartikulasikan secara kreatif dan kontekstual tanpa kehilangan akar teologisnya di tengah perubahan Kata Kunci: Transhumanisme. Teknologi Digital. Identitas Gereja. Liturgi Teknologi. Relasionalitas PENDAHULUAN masa depan. Tulisan ini berargumen bahwa Perkembangan teknologi mutakhir narasi kemajuan yang mengiringi euforia semakin menampilkan wajahnya yang sekaligus mencemaskan. Pada 6 Juli 2023. Perserikatan (PBB) Kecenderungan serupa tampak dalam mengadakan sebuah konferensi bertajuk eksperimen brain chip (Neuralin. oleh AI for Good Global Summit di Jenewa. Elon Musk yang berhasil menanamkan cip Swiss. Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah ketika salah satu robot memungkinkan kendali perangkat digital berkelakar AuIni adalah awal yang bagus dalam melancarkan rencanaku untuk 2 Demonstrasi Noland Arbaugh menguasai umat manusia. Ay Tidak kalah yang menggerakkan bidak catur online provokatif. Daniel M. Lofaro selaku lewat aktivitas otaknya memperlihatkan direktur operasional Hanson Robotics bahwa integrasi tubuh dan mesin tidak lagi menyatakan ambisinya menjadikan robot berada pada ranah fiksi ilmiah, melainkan Sophia sebagai AusuperstarAy pertama dari kenyataan yang sedang berlangsung. 3 Hal kalangan robot. 1 Hal ini menunjukkan ini menandai bahwa batas bagaimana teknologi semakin diarahkan manusia tengah dinegosiasikan ulang. Bangsa-Bangsa . rain-computer untuk memainkan peran kultural yang Perubahan ini beresonansi dengan membentuk imajinasi manusia tentang agenda transhumanisme, yakni suatu Transcript. AuAI for Good Summit: WorldAos First-Ever. Robot-Only Press Conference Takes Place at UN Conference,Ay CGTN (Beijin. , https://news. com/news/2023-0708/VHJhbnNjcmlwdDczMzc0/index. Mujiba Shaima et al. AuElon MuskAos Neuralink Brain Chip: A Review on "BrainReadingAo Device,Ay Journal of Computer Science and Technology Studies: Al-Kindi Center for Research and Development. July 17, 2019, 1Ae4. Reuters. AuElon MuskAos Neuralink Shows Brain-Chip Patient Playing Online Chess,Ay The Guardian (Londo. , https://w. com/technology/2024/m ar/20/elon-musk-neuralink-brain-chip-patientchess. Orientasi Identitas Gereja di Tengah Transhumanisme: Analisis T e c h n o l o g i c a l L i t u r g i e s | 149 proyek filosofis-teknologis yang berupaya praktik yang secara implisit mengarahkan manusia pada etos peningkatan diri yang melalui intervensi radikal. 4 Jan Hendrick Heinrichs Melalui transhumanisme beroperasi sebagai teori technological liturgies, ia menunjukkan etis yang berupaya mengatasi keterbatasan kodrati melalui rekayasa tubuh dan layaknya liturgi yang menata afeksi dan 5 Akar pemikiran ini dapat membentuk disposisi manusia melalui ditelusuri dalam pemikiran Friedrich pola penggunaan sehari-hari. 7 Kerentanan Nietzsche, khususnya ide will to power muncul ketika gereja menyerap logika . ehendak untuk berkuas. dan figur teknologi tanpa kesadaran kritis, sehingga identitas eklesial perlahan dibentuk oleh yubermensch Pelampauan . anusia ritme dan nilai teknokultural. ekspresi kehendak untuk berkuasa. Ketika Sejumlah penelitian teologis telah gagasan ini diterjemahkan ke dalam mencoba merespons perkembangan ini. King-Ho Leung, melalui pendekatan ketegangan teologis, yakni relasionalitas teologi sistematik dan meta-teologis, imago Dei tergeser oleh visi subjek otonom yang memandang diri sebagai peningkatan manusia menantang konsepsi proyek yang dapat direkayasa. klasik tentang kasih karunia. Dengan Pada membedakan kembali antara healing eklesiologis mulai tampak. Jacob Shatzer mengingatkan bahwa teknologi memiliki menunjukkan bahwa optimasi teknologis daya formatif yang bekerja secara halus, berpotensi memindahkan transformasi diri membentuk kebiasaan, imajinasi, dan dari ranah anugerah ke dalam logika orientasi hidup. Ia menegaskan bahwa teknologi digital membawa pola pikir dan Francesca Ferrando. AuPosthumanism. Transhumanism. Antihumanism. Metahumanism, and New Materialisms: Differences and Relations,Ay Existenz: An International Journal in Philosophy. Religion. Politics, and the Arts 8, no. : 27Ae28. Jan Hendrik Heinrichs. AuTrans-HumanIsm: Technophile Ethos or Ethics in a Technological Age?,Ay in From Humanism to Meta. Post- and Transhumanism?, ed. Irina Deretic and Stefan Lorenz Sorgner (Frankfurt: Peter Lang Edition, 2. , 243. Carl August Raschke. Force of God: Political Theology and the Crisis of Liberal Democracy (New York: Columbia University Press, 2. , 10Ae15. Jacob Shatzer. Transhumanism and the Image of God: TodayAos Technology and the Future of Christian Leadership (Illinois: Intervarsity Press, 2. , 7Ae11. 150 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. performatif manusia. 8 Pendekatan Leung menawarkan kritik doktrinal yang tajam, . echnological liturgie. memengaruhi tetapi ia belum menyinggung bagaimana cara gereja memahami dirinya. Pertanyaan agenda transhumanis berinteraksi dengan kunci yang membingkai tulisan ini ialah: bagaimana logika transhumanisme dan Sementara itu. Adrianus Yosia mengonfigurasi identitas gereja? Dengan mendialogkan transhumanisme, konsep konstruktif dengan mengusulkan gagasan technological liturgies, dan dinamika Cyber-Net Church sebagai cara membaca praksis gerejawi, tulisan ini bertujuan keberadaan gereja di era digital. 9 Fokus menyingkap bagaimana gereja dapat memahami kembali identitasnya di tengah ontologis dan konfigurasi struktural gereja tekanan teknokultural. dalam ruang siber. Walaupun penting, namun Yosia belum menyoroti bagaimana sehari-hari METODE PENELITIAN pemahaman umat tentang diri, dunia, dan Penelitian Masih terdapat celah antara kritik metode kualitatif berbasis studi pustaka teologis atas subjek manusia dalam dengan pendekatan konstruktif. Metode transhumanisme dan kajian eklesiologis kualitatif dipilih karena memungkinkan mengenai pembentukan identitas gereja analisis mendalam terhadap teks dan dalam praktik digital. argumen teologis serta membuka ruang Tulisan pendekatan teologi konstruktif dengan teknokultural secara kontekstual. John memadukan kajian literatur dan analisis Swinton dan Harriet Mowat mengatakan bahwa penelitian kualitatif dalam teologi diangkat bukan sekadar implikasi etis berfungsi menginterpretasi makna yang Medan antropologis mengenai otonomi manusia, menangkap dinamika pengalaman religius melainkan bagaimana logika peningkatan dalam konteks tertentu. King-Ho Leung. AuThe Technologisation of Grace and Theology: Meta-Theological Insights from Transhumanism,Ay SAGE Journals 33, no. : 479Ae95. Adrianus Yosia. AuGereja Cyber-Net: Sebuah Usulan Gagasan terhadap Natur Gereja pada Revolusi Industri 4. 0 dan Pascapandemi COVID-19,Ay Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan 21, no. 2 (December 2. : 211Ae24. John Swinton and Harriet Mowat. Practical Theology and Qualitative Research, 2nd (London: SCM Press, 2. , 27Ae31. Orientasi Identitas Gereja di Tengah Transhumanisme: Analisis T e c h n o l o g i c a l L i t u r g i e s | 151 Pendekatan konstruktif digunakan teologis, dan implikasi bagi pemahaman karena membuka ruang bagi proses Tahap ini mencakup proses teologis yang kritis dan kreatif. Menurut Marion konsistensi konseptual, serta pengujian Grau, beroperasi dengan menantang narasi- masing-masing wacana baru yang berakar pada konteks subjek manusia, dan kehidupan gereja. Pendekatan ini menekankan proses Ketiga, kreatif, yakni menggali, mengkritik, dan technological liturgies dari Jacob Shatzer sebagai kerangka analitis. Kerangka ini mampu menjawab tantangan zaman tanpa jatuh pada solusi tunggal yang menutup berfungsi sebagai pola pembentukan. Pendekatan konstruktif digunakan untuk misalnya melalui kebiasaan, ritme, dan struktur penggunaan, serta untuk menilai bersifat kritis, kreatif, dan terarah pada bagaimana pola tersebut berinteraksi perumusan identitas gereja dalam situasi dengan identitas gereja. Data konseptual dari tahap evaluasi kemudian disintesis Penelitian melalui kerangka Shatzer untuk menyusun Pertama, pemilihan literatur dilakukan melalui penelusuran karya transhumanisme, teknologi digital, dan HASIL DAN PEMBAHASAN eklesiologi kontemporer. Literatur dipilih berdasarkan relevansinya terhadap medan Transhumanisme sebagai Imajiner masalah penelitian serta kontribusinya Teknologis dalam memetakan relasi antara teknologi dan pembentukan identitas gereja. Kedua, imajiner teknologis yang menata ulang pembacaan tematik dan komparatif untuk cara manusia memahami diri. James mengidentifikasi pola argumen, asumsi Brusseau menilai bahwa proyek ini Transhumanisme hadir sebagai Marion Grau. AuMethodological Themes and Patterns in Constructive Theologies,Ay in What Constructive Theology? Histories. Methodologies. Perspectives, ed. Marion Grau and Jason Wyman (London: Bloomsbury Academic, 2. , 70Ae71. 152 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. sebagai harapan akan manusia yang dapat ditingkatkan melalui rekayasa biologis manusia, sebagaimana dibahas Sasha dan mekanis. Tubuh bukan lagi dipahami Dickel dan Andreas Frewer mengenai sebagai bagian konstitutif dari keberadaan kemungkinan whole brain emulation. manusia, tetapi sebagai media untuk Dengan mengimbangi ritme data dan kecepatan sebagai sesuatu yang dapat dipindahkan berpikir digital. 12 Ide transhumanisme ke medium digital, identitas manusia seolah ingin menawarkan bahwa tubuh direduksi menjadi informasi yang dapat bukan lagi given, melainkan platform yang dapat dimodifikasi. transhumanisme berharap proses mind Gerakan uploading benar-benar dapat terwujud. melalui pembacaan Stephen Goundrey- Tampak secara tersirat bagaimana narasi Smith yang membandingkan pandangan teknologi berpotensi mereduksi misteri Nick Bostrom dan Max More tentang eksistensi manusia. Menurutnya, optimisme Fred Gambaran Glennon bahwa transhumanisme berupaya bebas sekadar sebagai makhluk rasional yang dari segala keterbatasan biologis. Para Smith transhumanis menginginkan self-rule atas mengingatkan bahwa humanisme liberal biologi manusia, sehingga manusia dapat yang menopang transhumanisme, dengan bebas secara mutlak untuk menentukan peningkatan kemampuan, bertentangan rekayasa teknologi. Glennon mencatat dengan cara teologi Kristen memahami martabat manusia dalam kerangka imago individualisme radikal dan menggeser Dei. 13 Konsekuensinya, teknologi berubah dari sarana menjadi tolok ukur baru dalam embodiedness dan relasionalitas, dua menentukan nilai sebuah hidup. dimensi yang berada di pusat pengajaran Spekulasi Kristen melalui doktrin Inkarnasi dan James Brusseau. AuMapping AI AvantGardes in Time: Posthumanism. Transhumanism. Genhumanism. ,Ay Discover Artificial Intelligence 3, no. : 3Ae8. Stephen Goundrey-Smith. Transhumanism. Ethics, and the Therapeutic Revolution. Routledge New Critical Thinking in Religion. Theology and Biblical Studies 4 (London: Routledge, 2. , 33Ae36. Sasha Dickel and Andreas Frewer. AuLife Extension Eternal Debates on Immortality,Ay in Post- and Transhumanism: An Introduction, ed. Robert Ranisch and Stefan Lorenz Sorgner (Frankfurt: Peter Lang Edition, 2. , 119Ae28. Orientasi Identitas Gereja di Tengah Transhumanisme: Analisis T e c h n o l o g i c a l L i t u r g i e s | 153 Trinitas. Allah teologis bagi gereja, terutama karena ia membebaskan, gagasan ini menyimpan membuka jalan bagi teknologi lain, seperti kecerdasan buatan (AI), yang memperluas dijanjikan justru dapat berubah menjadi logika peningkatan diri manusia . uman keterikatan baru pada logika kontrol baru, enhancemen. dalam bentuk yang semakin karena bentuk manusia yang AudipilihAy Meski pada akhirnya dikondisikan oleh sesuatu yang ideal secara standar teknologis. Kecerdasan Buatan (AI) sebagai Jika dicermati secara keseluruhan. Perluasan Proyek Transhumanisme transhumanisme bukan hanya kumpulan Kecerdasan imajinasi transhumanis tentang manusia Dalam Christian Lexcellent mendefinisikan AI peningkatan diri dan rekayasa tubuh sebagai rekayasa mesin yang dirancang sebuah cara berpikir yang menjadikan (AI) Aukemanusiaan yang lebih baik,Ay gambaran tentang manusia sebagai ciptaan yang dilakukan oleh manusia. Ia mengutip hidup dalam relasi dengan Allah dan Marvin Lee Minsky yang menegaskan sesama mulai tergeser. Transhumanisme bahwa AI pada dasarnya adalah sebagai mengajukan kembali pertanyaan tentang ilmu yang mengembangkan mesin yang martabat, tujuan, dan identitas manusia, dapat melakukan hal-hal yang biasanya wilayah yang selama ini menjadi bagian memerlukan kecerdasan manusia. 16 Krisis dari pengajaran gereja. yang muncul bukan lagi soal Aumeretas Pada tahap ini terlihat bahwa mesin,Ay tetapi bagaimana mesin dapat manusia sedang menegosiasikan ulang Aumeretas manusiaAy dengan memahami makna keberadaannya sebagai ciptaan. dan memanipulasi emosi. 17 Ketika AI Pergeseran tersebut menuntut respons mampu mengakses lapisan terdalam dari Fred Glennon. AuEven Cyborgs Cast a Shadow: Christian Resources and Responsibilities in Response to Transhumanism. ,Ay in Christian Perspectives on Transhumanism and the Church: Chips in the Brain. Immortality, and the World of Tomorrow, ed. Steve Donaldson and Ronald ColeTurner (London: Palgrave Macmillan, 2. , 211Ae Christian Lexcellent. Artificial Intelligence Versus Human Intelligence: Are Humans Going to Be Hacked?. SpringerBriefs in Applied Sciences and Technology (Berlin: Springer, 2. , 5. Lexcellent. Artificial Intelligence 154 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. afeksi manusia, maka yang dipertaruhkan ialah orientasi hati dan kehendak. IA,Ay pascamanusia atau keabadian digital. Alexandre Erler dan Vincent C. Myller Karenanya. AI memperoleh peran ganda, menjelaskan bahwa AI dapat difungsikan yakni ia membantu mendefinisikan mana sebagai bentuk intellectual augmentation, batas manusia yang dapat dihapus dan yakni perluasan kemampuan kognitif melalui integrasi manusia-mesin. Mereka Dalam AuAI membedakan antara enhancement yang Tantangan cognitive offloading, yakni pemindahan kapasitas tanpa transformasi substantif. proses kognitif ke algoritma. Rynald Argumen Gesnot menekankan bahwa dampak AI kehadiran AI memaksa untuk meninjau terhadap pikiran manusia tidak bisa ulang makna AuberpikirAy dan Aumengambil dipetakan secara sederhana, sebab AI keputusanAy dalam dinamika digital masa pengikis kewaspadaan kognitif. Gesnot Tinjauan benar-benar mengubah fungsi kognitif dan memperlihatkan bahwa AI merupakan kemitraan manusiaAemesin yang selalu elemen kunci dalam sebagian besar Ismo pertimbangan manusia dipindahkan ke Rakkolainen menilai bahwa berbagai sistem komputasi, maka secara perlahan teknologi augmentasi manusia, mulai dari manusia mengalami pergeseran identitas, yakni dari makhluk yang mengolah makna hingga AI, membentuk infrastruktur yang menuju pengguna yang mengikuti pola memungkinkan munculnya manusia yang keputusan yang disusun oleh mesin. Auditingkatkan. Ay Ia menyoroti bahwa AI Ketika Melihat keseluruhan gambaran ini, kerap ditempatkan sebagai pemantik Versus Human Intelligence: Are Humans Going to Be Hacked?, 67Ae68. Alexandre Erler and Vincent C. Myller. AuAI as IA,Ay in The Routledge Handbook of the Ethics of Human Enhancement, by Fabrice Jotterand and Marcello Ienca (New York: Routledge, 2. , 187Ae96. Ismo Rakkolainen. AuAugmented Human and Transhuman: What Is the Difference?,Ay Augmented Human Research 11, no. 1 (November 2. : 5Ae6. Rynald Gesnot. AuThe Impact of Artificial Intelligence on Human Thought,Ay arXiv:2508. 16628, preprint, arXiv. August 15, 2025, 11Ae23. Orientasi Identitas Gereja di Tengah Transhumanisme: Analisis T e c h n o l o g i c a l L i t u r g i e s | 155 manusia sebagai subjek yang mandiri secara mutlak, suatu asumsi yang justru sebagai tujuan eksistensial. Ia menyiapkan menjadi inti dari imajinasi transhumanis. kondisi baru dalam mana manusia belajar Dari penegasan teologis muncul. Pertama, kemampuan teknis. AI sedang membentuk lanskap antropologis yang berbeda dan representasi Allah . , sehingga gereja tidak bisa mengabaikan perubahan otoritas yang dimiliki bersifat delegatif mendasar tersebut. dan berorientasi pemeliharaan, bukan Kedua. Dasar Antropologis Biblis bagi totalitas ketergantungan manusia kepada Pemahaman Identitas Gereja Allah: hidup manusia berada di antara kelahiran dan kematian, sehingga mustahil Perjanjian Lama dibayangkan sebagai keberadaan yang dapat memperluas dirinya tanpa batas. Perjanjian Lama menggambarkan Ketiga, ketergantungan itu terkait erat manusia sebagai Aoadam (A)aeyA, makhluk dengan tanggung jawab moral. Manusia yang dibentuk dari debu dan dihidupkan dipahami sebagai ebed atau hamba Allah, oleh nishmat chayyim, nafas Allah sendiri. suatu identitas yang melekat secara Kehadiran ruach Allah menegaskan relasi personal sekaligus komunal. 22 Artinya, jati diri manusia selalu bergerak dalam manusia dan Penciptanya (Kej. Nafas ruang relasional, dan ini kelak menjadi ilahi menjadikan manusia nepes hayya, fondasi bagi pemahaman gereja sebagai makhluk hidup yang bernilai karena berada dalam keterikatan eksistensial pengabdian kepada Allah. dengan Allah. 21 Identitas manusia sejak Hulman Sinaga eksistensi relasional yang sepenuhnya Allah. Karenanya, keberadaannya merupakan bagian integral dari kajian antropologi teologis. Kajian ini Johannes Botterweck and Helmer Ringgren, eds. Theological Dictionary of the Old Testament Volume I, trans. John T. Willis, with Helmer Ringgren (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1. , 75Ae78. Botterweck and Ringgren. Theological Dictionary of the Old Testament Volume I, 84Ae87. 156 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. berakar pada narasi penciptaan dalam sumber imam (Priesterschrif. , yang menjadi ruang di mana anugerah Allah disusun dalam konteks sejarah eksil menyingkapkan makna hidup. Babel. Ketika Israel harus meninggalkan tanah, status, dan tradisi mereka untuk Perjanjian Baru hidup di bawah kuasa asing, lahirlah kesadaran mendalam tentang eksistensi anthrspos untuk menegaskan kondisi manusiawi yang rapuh, terbatas, dan Allah. 23 Penciptaan tidak hanya berbicara rentan terhadap dosa. Istilah tersebut tentang awal mula kehidupan, tetapi juga menegaskan keterbatasan manusia dalam menjadi peneguhan bahwa dalam situasi kontras dengan kesempurnaan ilahi. paling rapuh sekalipun, manusia tetap Ketidakmampuan hidup dari dan bagi Allah. otonom menjadi pintu masuk pewartaan Allah Perjanjian Baru memakai istilah Sinaga tanpa nafas kehidupan dari Allah, manusia Yesus mengenai Kerajaan Allah. Brevard Childs hanyalah debu tak bernyawa (Kej. bahwa pewartaan Yesus dalam Injil melihat bahwa Perjanjian Lama menolak Sinoptik berpusat pada Kerajaan Allah, pandangan dikotomis atau trikotomis, dan dengan seruan pertobatan sebagai pintu Unsur Kemanusiaan Yesus yang utuh tampil dalam hidup-Nya sebagai Hamba yang menjelma. Karena itu. Kristus kefanaan manusia, sementara nafas Allah menghadirkan dimensi relasional yang kemanusiaan sejati. Manusia dipandang memberi makna (Mzm. Manusia sebagai pribadi utuh yang hidup dalam dipanggil untuk menjadi representasi relasi menyeluruh dengan Allah dan Allah di bumi, diiringi dengan mandat 26 Ini adalah kritik langsung bagi tanggung jawab pemeliharaan. 24 Dengan imajinasi transhumanis yang menjanjikan Hulman Sinaga. AuApakah Manusia Itu? Kejadian 2:7 Dan Antropologi Perjanjian Lama,Ay in Manusia Dan Kuasa Roh, ed. Riris Siagian (Pematangsiantar: L-Sapika, 2. , 54Ae58. Sinaga. AuApakah Manusia Itu? Kejadian 2:7 Dan Antropologi Perjanjian Lama,Ay 55Ae58. AuUAOAC (Anthropo. ,Ay Theological Dictionary Of The New Testament Volume I, ed. Gerhard Kittel and Gerhard Friedrich, with Joachim Jeremias (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1. , 345Ae46. Brevard Childs. Biblical Theology of the Old and New Testament (Minneapolis: Fortress Press, 1. , 585Ae88. Orientasi Identitas Gereja di Tengah Transhumanisme: Analisis T e c h n o l o g i c a l L i t u r g i e s | 157 pengembangan manusia tanpa batas. Injil sejati selalu bersumber pada Allah. Yesus Technological Liturgies: Kritik Teologis Jacob Shatzer digambarkan sebagai kemandirian mutlak. Kemanusiaan Yesus selalu ditampilkan Jacob Shatzer menolak anggapan dalam ketergantungan penuh kepada Bapa bahwa teknologi bersifat netral. Baginya, 5:. (Yoh. Paulus pemahaman ini dengan Kristologi: Kristus tertentu yang perlahan membentuk cara adalah gambar Allah . iksn tou Theou, manusia memandang dunia dan diri Kol. , satu-satunya wujud imago Dei mereka sendiri. Ia menyoroti ambiguitas Joas Adiprasetya menekankan dalam frasa human making: bukan hanya bahwa Kristus bukan sekadar teladan etis, pertanyaan mengenai teknologi apa yang tetapi dasar ontologis eksistensi manusia. diciptakan manusia, tetapi juga bagaimana Hidup manusia ialah perjalanan menuju pemulihan . dalam Kristus. Dalam proses ini, pengalaman Identitas manusia bukan dibangun dari hidup semakin ditata oleh konstruksi kapasitas teknologisnya, melainkan dari artifisial yang diterima sebagai kenyataan, keserupaannya dengan Kristus. sementara nilai-nilai yang tertanam dalam Gereja, sebagai komunitas yang AumembentukAy menghidupi relasi kasih tersebut, menjadi membelokkan orientasi dasar manusia. Karena itu. Shatzer menegaskan perlunya Kristus sikap Kristen yang kreatif dan kritis mengajarkan relasi timbal-balik . utual Karena itu. Perjanjian Baru tidak sekadar mendefinisikan manusia sebab ia meletakkan dasar bagi identitas 29 Bila pembentukan ini gereja sebagai komunitas yang merawat berjalan tanpa disadari, gereja dapat larut relasi, mengingkari otonomi absolut, dan dalam ritme digital tanpa koreksi teologis. menegaskan kembali bahwa eksistensi Dengan fondasi tersebut. Shatzer Donald Guthrie. Teologi Perjanjian Baru 1 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 159Ae Joas Adiprasetya. Berteologi Dalam Iman: Dasar-Dasar Teologi Sistematika- Konstruktif (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 101Ae6. Shatzer. Transhumanism and the Image of God: TodayAos Technology and the Future of Christian Leadership, 6Ae11. 158 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. memperluas kritiknya dengan menelaah Alih-alih hidup dalam respons arus ideologis yang menyertai teknologi kepada Allah, manusia modern menata hidupnya dengan menjadikan kuasa dan Shatzer kendali sebagai pusat harmoni baru. Pergeseran ini merusak relasi-relasi dasar pemikiran yang berkelindan dengan janji- karena hasrat pribadi diberi otoritas Baik Smith imajinasi, dan pola pikir, sedangkan Conyers posthumanisme diproyeksikan sebagai memperlihatkan bahwa inti persoalan tujuan akhirnya, yakni manusia yang berakar pada afeksi yang salah arah. Di era mengatasi keterbatasannya. Setiap alat digital, penyimpangan ini jauh lebih teknologi mengandung logika pengarah mudah terjadi karena struktur ruangnya memang mengundang distraksi. Hal inilah 30 Gereja ditantang untuk yang membuat technological liturgies peka terhadap Auliturgi tersembunyiAy yang penting untuk dianalisis dalam rangka tanpa sadar dapat menggeser kemurnian memaknai afeksi manusia. 33 Pergeseran Menurutnya, sama-sama Untuk membedah dinamika ini, dibiasakan untuk menginginkan hal-hal Shatzer meminjam gagasan James K. yang tidak lagi membangun keterikan Smith tentang manusia sebagai homo relasional maupun spiritual. liturgicus, yakni makhluk yang dibentuk Dari Shatzer oleh cinta dan hasrat, bukan oleh kemudian bergerak ke fondasi biblis keputusan rasional semata. Dari sudut tentang penataan arah hidup manusia. pandang ini, praktik teknologis sehari-hari Shatzer menanggapi human flourishing dapat dipahami sebagai ritme yang dengan bertumpu pada dua dasar Alkitab, yakni mandat budaya (Kej. 1Ae. dan 31 Shatzer juga mengangkat hukum kasih (Mat. 22:36Ae. Keduanya analisis A. Conyers mengenai hilangnya kesadaran panggilan dalam masyarakat hidup manusia terarah pada Allah dan Shatzer. Transhumanism and the Image of God: TodayAos Technology and the Future of Christian Leadership, 16Ae17. Shatzer. Transhumanism and the Image of God: TodayAos Technology and the Future of Christian Leadership, 25Ae27. Shatzer. Transhumanism and the Image of God: TodayAos Technology and the Future of Christian Leadership, 29Ae34. Shatzer. Transhumanism and the Image of God: TodayAos Technology and the Future of Christian Leadership, 34Ae36. Orientasi Identitas Gereja di Tengah Transhumanisme: Analisis T e c h n o l o g i c a l L i t u r g i e s | 159 sesama, bukan pada logika kendali atau linimasa digital daripada kebutuhan riil ekspansi diri. 34 Karena itu, kritik Shatzer orang di sekitarnya, sehingga menjauh terhadap gagasan morphological freedom dari kehadiran konkret. 36 Padahal iman bertumbuh dalam ruang nyata bersama Kebebasan transhumanis untuk membentuk diri justru sesama, bukan dalam isolasi digital. tidak menyediakan ruang bagi penolakan. Dengan Shatzer 35 Kebebasan yang terpisah dari transhumanisme sebagai liturgi kendali relasi dengan Allah kehilangan orientasi karena menolak batas-batas yang justru relasional manusia. Namun, dari kritik ini menjadi bagian dari martabat ciptaan. Dengan memiliki nilai sejati bila mendukung sebagai liturgi tandingan, menghadirkan Allah, ritme afektif yang memulihkan relasi dan sesama, dan ciptaan, bukan ketika berdiri meneguhkan identitas umat di tengah arus sebagai tujuan itu sendiri. teknologi yang makin intensif. Shatzer juga kemudian menyoroti dimensi tempat, sebuah kategori yang Modernitas Identitas Gereja di Tengah Transhumanisme-AI memperlakukan tempat sebagai wadah Perubahan yang dibawa teknologi, netral yang dapat dikelola semaunya. terutama dalam lanskap transhumanisme Padahal dalam perspektif teologis, tempat dan AI, kini membentuk tipe manusia adalah medium pembentukan manusia. yang sedang muncul. Melalui liturginya. Bagi Shatzer, gereja menjadi ekspresi teknologi menanamkan logika kuasa dan konkret dari pemaknaan ini: umat hadir secara nyata, mengikatkan diri pada komunitas, dan merawat ciptaan di dalam mengatakan bahwa gereja perlu menolak godaan pelarian digital dengan kembali Tarikan mendorong manusia lebih sibuk dengan Shatzer. Transhumanism and the Image of God: TodayAos Technology and the Future of Christian Leadership, 37Ae38. Shatzer. Transhumanism and the Image of God: TodayAos Technology and the Future of Christian Leadership, 64Ae66. Shatzer. Transhumanism and the Image of God: TodayAos Technology and the Future of Christian Leadership, 128Ae39. 160 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. menegaskan kembali diri dalam relasi dibingkai melalui fenomena partisipatif nyata bersama sesama. Kritik Jacob yang melibatkan perhatian, ritme hidup. Shatzer mengenai technological liturgies dan cara berelasi. AuKetaatan digitalAy ini menyatakan bahwa tanpa bentuk resistensi semacam ini, komunitas iman akan mudah terhadap tuntutan sistem. 40 Hal ini secara terseret menuju horizon pascamanusia perlahan mengikis kedalaman relasional yang menjadi dasar antropologi Kristen. Ketegangan ini menjadi titik awal bagi Tantangan ini memaksa gereja menantang pertanyaan fundamental: identitas seperti orientasinya yang mengukuhkan kembali apakah yang harus dihadirkan gereja di tengah dunia yang sedang diubah oleh identitasnya di tengah arus teknologi yang kian menentukan pengalaman manusia. Dinamika tersebut diperjelas oleh Untuk pengamatan mengenai perubahan situasi antara gereja dan teknologi di masa kini. Ebenhaezer L. Nuban Timo menegaskan Fangidae mengusulkan konsep Homo Dei bahwa meskipun Injil tetap teguh, namun sebagai rekonstruksi pemahaman imago Dei dalam konteks kontemporer. Homo Dei menolak reduksi manusia pada Hoffmann Jean-Paul Roald Malrieu Tony Wiyaret mengingatkan risiko laten dari setiap sebagaimana yang kerap dinormalkan menegaskan bahwa martabat manusia egoistik, yang pada gilirannya menggerus bersumber dari partisipasinya dalam karya relasi sosial dan nilai kemanusiaan. 39 Pada kreatif Allah yang dinamis, terbuka, dan titik ini, pengamatan Sahat P. Siburian memperjelas masalah tersebut. Proses itu ditentukan oleh performa, tetapi oleh Shatzer. Transhumanism and the Image of God: TodayAos Technology and the Future of Christian Leadership, 178. Ebenhaizer L. Nuban-Timo. MengHari-Ini-Kan Injil Di Bumi Pancasila (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 152Ae54. Roald Hofmann and Jean-Paul Malrieu. AuThe Best Numbers Are in Sight. But Understanding?,Ay in Convergence Artificial Identitas Intelligence and Quantum Computing: Social. Economic, and Policy Impacts, ed. Greg Viggiano (New Jersey: John Wiley & Sons Inc. , 2. , 129Ae Sahat P. Siburian. AuMembincangkan Respons Gereja Batak Terhadap Fenomena Infodemi Dalam Arus Budaya Digital: Sebuah Lensa Teologi Praksis,Ay Vocatio Dei 3, no. 2 (April 2. : 59Ae101. Orientasi Identitas Gereja di Tengah Transhumanisme: Analisis T e c h n o l o g i c a l L i t u r g i e s | 161 relasionalitas dan kerentanan yang Allah teologis belum cukup sehingga gereja sendiri pelihara. 41 Perspektif ini menolong perlu menata ulang cara kehadirannya. untuk melihat bahwa keberadaan manusia Frans Best Soma Marpaung menawarkan tidak terikat oleh ukuran rasionalitas, konsep CafyAodral, yakni sintesis antara melainkan oleh partisipasi dalam karya cathedral . akral dan hierarki. dan cafy Allah yang senantiasa kreatif. galiter, relasional, sehari-har. Konsep Upaya ini diperluas oleh Yohana Simanjuntak Best Soma Aurumah TuhanAy yang tidak terisolasi dari Marpaung melalui metafora Perichoresis kehidupan dunia, tetapi hadir di tengah Kristus, yang mereka gunakan untuk keseharian dan membuka ruang dialog memaknai relasi manusia-teknologi. Jika dua natur Kristus dapat saling mendiami 43 CafyAodral menjadi simbol bagaimana gereja dapat hadir sebagai Frans dalam integrasi biologis dan digital, tetap sekaligus egaliter, yang menawarkan dapat dilihat sebagai pribadi yang utuh di Teknologi manusia era transhumanisme, yang hidup Allah. perspektif ini bukan ancaman identitas. Dalam konteks transhumanisme tetapi ruang di mana manusia belajar dan AI, konsep CafyAodral menjadi model identitas gereja yang menampilkan dua Dengan antropologis bagi identitas gereja ialah mengakar pada tradisi dan keterbukaan menolak reduksi teknokratik, memulihkan yang merengkuh dunia digital. Di sini relasionalitas manusia, dan mengakui gereja menjadi ruang ketiga . hird spac. , keterbatasan sebagai bagian dari martabat Memahami diprioritaskan, dan manusia dibebaskan Tony Wiyaret Fangidae. AuFrom GodAos Image and Homo Sapiens to Homo Dei: Struggling with People with Intellectual Disabilities,Ay Journal of Disability & Religion 28, no. 3 (July 2. : 9Ae Yohana Sri Bintang Simanjuntak and Frans Best Soma Marpaung. AuManusia dan Tantangan Transhumanisme: Kajian Teologi Konstruktif terhadap Bionic Human dengan Konsep Perikhoresis Kristus,Ay Theologia in Loco 6, no. 2 (October 2. : 185Ae90. Frans Best Soma Marpaung. AuCafydral: Konstruksi Teologis Tentang Konsep Persekutuan Dan Perjamuan Umat Kristen Pasca Pandemi Covid-19,Ay Jurnal Teologi Vocatio Dei STT HKBP. Mempersiapkan Pelayan Gereja Batak Berkiprah di Aras Global, vol. 5, no. 2 (April 2. : 83Ae87. 162 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. dari alienasi digital. 44 Ketika teknologi AI. Identitas gereja menemukan dayanya mendorong manusia menjauh dari relasi ketika ia tidak serta-merta didikte secara mutlak oleh algoritma, tetapi lahir dari menghadirkan praktik yang memulihkan perjumpaan yang memulihkan. persekutuan, percakapan, dan solidaritas. Berdasarkan analisis sebelumnya. Gereja sebagai Ritme Kehadiran yang Menghidupkan Makna muncul tiga orientasi penting yang dapat menuntun pemahaman identitas gereja di transhumanismeAeAI. Digitalisasi membuat pengalaman Orientasi ini merupakan cara melihat kedalaman ke arah representasi yang serba ulang jati diri gereja pada saat teknologi Tulisan ini menemukan bahwa menjadi kekuatan pembentuk pengalaman identitas gereja bertumpu pada ritme manusia, yakni: kehadiran yang menghidupkan makna. Ritme ini menata ulang cara umat Gereja sebagai Komunitas yang memberi perhatian, memaknai ruang. Menghidupi Relasionalitas serta menyadari diri dalam hubungan dengan Allah dan sesama. Melalui ritme Ketika ini, gereja merawat kontinuitas antara mengarahkan afeksi manusia kepada tubuh, ruang, dan relasi, sehingga gereja percepatan, kontrol, dan efisiensi, gereja tidak larut tereduksi dalam dislokasi menampilkan pola hidup yang berbeda, digital yang memutus makna. yakni relasionalitas yang membentuk ruang saling menata kehidupan. Di bawah Gereja sebagai Orientasi Kritis terhadap tegangan antara logika kendali dan Konfigurasi Teknologi relasionalitas gereja menjadi struktur Konfigurasi kasih, dan keterbukaan sebagai disposisi Identitas gereja tampak dasar umat. Inilah arah eksistensial yang sebagai orientasi kritis yang menimbang membedakan gereja dari ritme afektif bagaimana teknologi mengarahkan ritme yang didiktekan oleh sistem digital dan hidup, yakni normalisasi logika efisiensi. Marpaung. AuCafydral: Konstruksi Teologis Tentang Konsep Persekutuan Dan eksistensial yang menjaga perhatian. Perjamuan Umat Kristen Pasca Pandemi Covid19,Ay 89Ae95. Orientasi Identitas Gereja di Tengah Transhumanisme: Analisis T e c h n o l o g i c a l L i t u r g i e s | 163 Orientasi kritis ini bukan oposisi terhadap dapat mengembangkan pemikiran tulisan teknologi, tetapi kesadaran teologis yang ini dengan menelaah bagaimana ritme membaca konsekuensi eksistensial dari komunitas, pola liturgi, dan bentuk AI. pendampingan pastoral dapat dirancang untuk menumbuhkan kesadaran digital dibentuk oleh ritme yang diciptakan yang lebih bijaksana serta mempertajam perangkat digital. Kehidupan pembentukan teknologi dalam kehidupan KESIMPULAN DAN SARAN Tulisan ini menegaskan bahwa transhumanismeAeAI dibentuk melalui tiga orientasi yang menata kembali ritme hidup, cara hadir, dan kepekaan terhadap Gereja menemukan bentuk dirinya ketika ia memelihara relasi yang memperdalam perjumpaan, menata ritme kehadiran yang mengonstruksi kepekaan kritis terhadap keinginan serta gambaran diri manusia. Ketiga orientasi ini menunjukkan bahwa DAFTAR PUSTAKA