Jurnal Anggapa Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya Jurnal Anggapa Volume 5. Nomor 1. April 2026 Website Jurnal : ojs. id/index. php/anggapa Penerapan Teori Bigness dan Programmatic Architecture pada Bangunan Seattle Central Library Moh Rizal1. Josephine Roosandriantini2 Prodi Arsitektur. Universitas Widya Kartika. Surabaya. Indonesia, muhamadrizal6576@gmail. Prodi Arsitektur. Universitas Katolik Darma Cendika. Surabaya. Indonesia, joseproo. psy@gmail. STATUS ARTIKEL ABSTRAK Dikirim 10 Februari 2026 Direvisi 4 Mei 2026 Diterima 13 Mei 2026 Perkembangan teknologi digital dan kompleksitas fungsi dalam arsitektur kontemporer menuntut pendekatan desain yang revolusioner. Jurnal ini membahas penerapan dua konsep arsitektural yang saling terkait, yaitu Teori Bigness yang diperkenalkan oleh Rem Koolhaas/OMA dan Arsitektur Programmatik (Programmatic Architectur. , pada studi kasus Perpustakaan Pusat Seattle (Seattle Central Librar. Melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, penelitian ini mengkaji bagaimana bangunan tersebut mewujudkan prinsip-prinsip inti Teori Bigness, seperti otonomi elemen, disintegrasi skala, dan ketidakterikatan antar bagian untuk menampung program yang sangat kompleks dan Selanjutnya, jurnal ini menganalisis bagaimana kurasi dan organisasi programprogram yang beragam . eperti ruang baca, koleksi, area publik, parkir, dan fasilitas administrati. tidak hanya memengaruhi bentuk dan sirkulasi, tetapi juga menciptakan pengalaman spasial yang baru dan tak terduga bagi pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Seattle Central Library merupakan manifestasi fisik dari sintesis antara teori dan pemrograman fungsional, di mana "bigness" memungkinkan terciptanya suatu "mesin sosial" yang efisien, fleksibel, dan ikonik. Kesimpulannya, penerapan kedua konsep ini berhasil mengangkat perpustakaan dari sekadar wadah buku menjadi sebuah landmark urban yang responsif terhadap tuntutan abad ke-21, sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap wacana arsitektur terkini mengenai bangunan berskala besar dan berfungsi kompleks. Kata Kunci: Bigness. Programmatic Architecture. Rem Koolhaas. Seattle Central Library. Arsitektur Kontemporer PENDAHULUAN Arsitektur abad ke-21 dihadapkan pada tantangan untuk merespons ledakan informasi, perubahan perilaku sosial, dan kompleksitas program yang tak terduga. Bangunan publik, khususnya perpustakaan, tidak lagi sekadar menjadi repositori statis untuk buku, tetapi dituntut untuk bertransformasi menjadi pusat dinamika komunitas yang multifungsi, adaptif, dan Dalam konteks ini, paradigma desain konvensional yang mengutamakan kesatuan bentuk dan fungsi monolitik dinilai semakin tidak memadai. Munculnya gagasan-gagasan arsitektural yang radikal menjadi keniscayaan, di antaranya adalah Teori Bigness yang digagas oleh Rem Koolhaas dan Office for Metropolitan Architecture (OMA), serta pendekatan Arsitektur Programmatik (Programmatic Architectur. Teori Bigness, yang pertama kali dipublikasikan dalam esai seminal "Bigness, or the Problem of Large" (Koolhaas & Mau, 1. dalam buku S,M,L,XL, menawarkan kerangka berpikir untuk skala dan kompleksitas yang melampaui kemampuan bahasa arsitektur Koolhaas berargumen bahwa setelah melewati ambang batas skala tertentu ("Bigness"), bangunan mencapai otonomi dari konteks urban, logika internalnya sendiri menjadi penentu, dan hubungan antar bagian-bagiannya menjadi lebih penting daripada Jurnal Anggapa Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya kesatuan bentuk secara keseluruhan. Konsep ini mengarah pada disintegrasi, pertukangan, dan munculnya "kejutan" arsitektural (Koolhaas & Mau, 1. Sementara itu. Arsitektur Programmatik menekankan pada pendefinisian, pengorganisasian, dan artikulasi spasial dari sekumpulan aktivitas atau "program" sebagai generator utama bentuk. Bukan hanya soal fungsi, melainkan bagaimana program-program tersebut saling berinteraksi, bertentangan, atau bersintesis untuk menciptakan pengalaman dan kinerja bangunan yang baru (Vidler, 2002. Somol & Whiting, 2. Koolhaas sendiri menyatakan bahwa program adalah "senjata" untuk melawan konvensi (Koolhaas, 1. Perpustakaan Pusat Seattle (Seattle Central Librar. , yang dibuka pada 2004 hasil desain OMA bersama LMN Architects, muncul sebagai prototipe nyata yang mengkristalkan kedua teori ini. Bangunan ini tidak hanya merespons kebutuhan teknis penyimpanan buku dan akses informasi, tetapi juga menampung labirin program yang beragam: ruang baca, area perbelanjaan . , forum publik, ruang pertemuan, fasilitas parkir, dan administrasiAisemua dalam satu envelope yang kontroversial dan ikonik. Desainnya lahir dari analisis mendalam terhadap potensi konflik dan sinergi antarkegiatan, yang kemudian dimanifestasikan dalam susunan vertikal "platform-platform" yang berbeda-beda karakternya (Balmond & OMA. Formulasi ini merupakan terjemahan langsung dari prinsip-prinsip Bigness, di mana setiap platform beroperasi secara otonom namun terhubung dalam satu sistem yang lebih besar, menciptakan "perkotaan dalam bangunan" (Zaera-Polo, 2. Penelitian terhadap bangunan ini menjadi signifikan karena ia menawarkan studi kasus yang utuh tentang bagaimana teori arsitektur avant-garde diimplementasikan dalam proyek skala besar dengan dampak urban yang nyata. Sejumlah sarjana telah menganalisis berbagai aspeknya, mulai dari struktural dan formal (Balmond, 2. , hingga dampak sosialnya sebagai ruang publik (Mattern, 2. Namun, masih terdapat celah untuk sebuah analisis yang secara khusus menyelaraskan dan mendalami dialektika antara Teori Bigness sebagai kerangka filosofis dan Arsitektur Programmatik sebagai metodologi operasional dalam wujud bangunan Penelitian ini bertujuan mengisi celah tersebut dengan menunjukkan bahwa kesuksesan Seattle Central Library sebagai ikon arsitektur dan mesin sosial tidak dapat dipisahkan dari sintesis kedua konsep tersebut. Dengan demikian, jurnal ini berargumen bahwa perpustakaan ini bukan hanya sebuah bangunan besar, melainkan perwujudan dari "Bigness" yang didorong oleh program yang kompleks dan cerdas, menawarkan model baru bagi arsitektur institusi publik di era kontemporer. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, yang berfokus pada analisis penerapan Teori Bigness dan Programmatic Architecture pada bangunan Seattle Central Library karya Rem Koolhaas dan OMA. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggali makna konseptual, struktur spasial, serta hubungan programatik dalam konteks arsitektur kontemporer . Jurnal Anggapa Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya 1 Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian ini bersifat kualitatif interpretatif, di mana peneliti berusaha memahami makna di balik keputusan desain arsitektural melalui interpretasi visual, tekstual, dan konseptual. Teori Bigness digunakan sebagai lensa utama untuk menafsirkan bagaimana skala besar bangunan memengaruhi organisasi ruang dan interaksi antar program. Sementara itu. Programmatic Architecture digunakan untuk menilai sejauh mana struktur fungsi dan aktivitas diatur berdasarkan prinsip fleksibilitas dan integrasi programatik. 2 Objek Penelitian Objek penelitian adalah Seattle Central Library, yang berlokasi di pusat kota Seattle. Amerika Serikat. Gedung ini terdiri atas 11 lantai dengan sistem program bertingkat yang memisahkan zona publik dan privat. Pemilihan objek ini didasarkan pada karakteristiknya sebagai bangunan publik berskala besar yang merepresentasikan konsep arsitektur informasi dan kompleksitas fungsi ruang. 3 Teknik Pengumpulan Data Data penelitian diperoleh melalui: Studi literatur, yaitu pengumpulan informasi dari buku, jurnal ilmiah, artikel daring, dan laporan proyek yang berkaitan dengan teori Bigness. Programmatic Architecture, serta dokumentasi Seattle Central Library . Analisis dokumentasi visual, meliputi denah, diagram, potongan bangunan, dan foto interior-eksterior yang tersedia pada sumber arsitektur daring seperti ArchDaily dan SPL Official Website (The Seattle Public Library, n. Analisis konten konseptual, untuk menafsirkan hubungan antara teori dan penerapan desain berdasarkan data tekstual dan visual. 4 Teknik Analisis Data Analisis dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif-analitik. Tahapan analisis mencakup: Identifikasi teori dasar: meninjau prinsip utama Bigness dan Programmatic Architecture dari sumber teori . Pemetaan program ruang: mengidentifikasi dan mengklasifikasi zona fungsi berdasarkan programmatic diagram Seattle Central Library. Interpretasi relasi ruang: menganalisis bagaimana fungsi yang berbeda terhubung dalam satu sistem struktur besar. Evaluasi kesesuaian teori dan praktik: menilai sejauh mana konsep teori tersebut diterapkan dalam desain fisik dan pengalaman ruang. Metode ini memungkinkan peneliti untuk menelusuri keterkaitan antara teori arsitektur dan implementasinya dalam proyek nyata, serta menafsirkan nilai-nilai konseptual yang muncul dari hasil desain Seattle Central Library. Jurnal Anggapa Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya HASIL DAN PEMBAHASAN Konteks Arsitektural dan Filosofi Desain Dalam penerapan Seattle Central Library karya Rem Koolhaas bersama Office for Metropolitan Architecture (OMA) dan LMN Architects merupakan contoh penerapan Teori Bigness yang paling ikonik di abad ke-21 (Nurdoan & entyrer, 2. Teori Bigness yang diperkenalkan Koolhaas menekankan bahwa bangunan dengan skala besar memiliki logika internalnya sendiri dan tidak lagi tunduk pada komposisi klasik seperti simetri, skala manusia, atau batas formal tradisional. Dalam konteks ini. Koolhaas melihat Bigness bukan sekadar ukuran fisik, melainkan kompleksitas program yang diatur dalam sistem ruang besar yang saling bergantung namun otonom satu sama lain. Bangunan tidak lagi dipahami sebagai satu bentuk homogen, tetapi sebagai ekosistem spasial yang terbentuk dari interaksi antar program, pengguna, dan Seattle Central Library kemudian dirancang bukan hanya sebagai tempat penyimpanan buku, melainkan Aumesin informasi urbanAy yang mengakomodasi perubahan fungsi di era digital (The Seattle Public Library, 2. Pendekatan ini merepresentasikan gagasan Koolhaas bahwa arsitektur besar harus mampu memanifestasikan dinamika sosial, bukan sekadar menampung fungsi statis. Gambar 3. 1 Seattle Central Library pada sore hari Sumber: https://w. com/11651/seattle-central-library-oma-lmn (ArchDail. Organisasi Program dan Struktur Ruang sebagai Manifestasi Bigness Penerapan Bigness dalam Seattle Central Library diwujudkan melalui strategi pengorganisasian program dan massa bangunan berbasis platform. Koolhaas membagi fungsi bangunan ke dalam dua kategori: program stabil dan program tidak stabil, yang masing-masing ditempatkan pada lapisan . Program stabil mencakup ruang seperti area arsip, parkir, kantor staf, dan Book Spiral, yang memiliki fungsi tetap dan jangka panjang (Lehmann, 2. Sementara itu, program tidak stabil terdiri dari Mixing Chamber. Living Room, ruang baca umum, dan area anak-anak, yang Jurnal Anggapa Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya lebih fleksibel dan dapat berubah mengikuti aktivitas publik (The Seattle Public Library, 2. Setiap kelompok program ditempatkan pada volume terpisah yang saling tumpang tindih. Volume-volume tersebut kemudian digabung melalui sirkulasi vertikal, tangga diagonal, dan jalur spiral yang menyatukan ruang besar menjadi sistem ruang terpadu . Pendekatan ini menunjukkan prinsip Bigness, yaitu bahwa ruang-ruang besar dapat saling berinteraksi tanpa harus kehilangan identitas fungsi masing-masing . Gambar 3. 2 Program ruang Seattle Central Library Sumber: https://w. com/11651/seattle-central-library-oma-lmn (ArchDail. Hubungan antara Struktur. Ruang, dan Bentuk Secara visual. Seattle Central Library menampilkan ekspresi struktur grid diagonal dari baja dan kaca yang menjadi elemen utama penyusun bentuk bangunan. Fasad ini bukan sekadar selubung estetis, tetapi juga bagian dari sistem struktural yang menyatukan seluruh platform dalam satu kesatuan besar. Bentuk geometris yang dinamis dan tumpang-tindih merepresentasikan hubungan antara massa dan fungsi, sejalan dengan gagasan bahwa dalam Bigness. Aubentuk mengikuti logika programAy bukan logika formal. Struktur besar ini juga menegaskan bahwa arsitektur tidak lagi harus AuberdialogAy dengan lingkungannya secara halus, tetapi dapat berdiri sebagai objek otonom yang merepresentasikan kompleksitas zaman. Selain itu, setiap volume dihubungkan dengan void atau ruang antar lapisan yang berfungsi sebagai zona transisi, menciptakan pengalaman ruang yang berlapis-lapis. Fenomena ini mencerminkan konsep interstitial space dalam teori Bigness, di mana ruang antarprogram menjadi area interaksi sosial sekaligus penghubung antaraktivitas. Jurnal Anggapa Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya Gambar 3. 3 Interior ruang Seattle Central Library Sumber: https://w. com/project/seattle-central-library/ 4 Sirkulasi dan Pengalaman Ruang Besar Salah satu contoh penerapan Bigness yang paling jelas terdapat pada elemen Book Spiral dan Mixing Chamber. Book Spiral merupakan jalur spiral kontinu yang menghubungkan koleksi non-fiksi dari lantai 6 hingga lantai 10, memungkinkan pengguna berpindah tanpa kehilangan urutan sistem klasifikasi Dewey Decimal. Hal ini menunjukkan hubungan langsung antara struktur informasi dan bentuk ruang, sesuai prinsip bahwa arsitektur dapat menjadi manifestasi sistem pengetahuan . Mixing Chamber berfungsi sebagai Auruang pusat komunikasiAy antara staf dan pengunjung, menggantikan konsep meja layanan tradisional dengan ruang besar yang mendorong interaksi sosial. Elemen ini menghidupkan gagasan bahwa bangunan besar harus memiliki public core yang memfasilitasi pertukaran ide dan data. Kedua elemen tersebut memperlihatkan bahwa Bigness tidak hanya diterapkan dalam skala fisik bangunan, tetapi juga dalam skala pengalaman ruang, di mana pengguna merasakan kelapangan, keterbukaan, dan keterhubungan program yang luas. Gambar 3. 4 Interior ruang Seattle Central Library Sumber: https://archinect. com/marcelogardinetti/rem-koolhaas-seattle-central-library Jurnal Anggapa Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya 5 Implikasi Bigness terhadap Pengalaman Arsitektur dan Sosial Konsep Bigness dalam Seattle Central Library berdampak langsung pada cara masyarakat berinteraksi dengan ruang publik . Tidak ada fasad utama yang menjadi orientasi tunggal, karena seluruh sisi bangunan berfungsi sebagai titik akses dan pencahayaan alami. Hal ini memperkuat gagasan keterbukaan dan demokratisasi pengetahuan, di mana seluruh ruang bersifat publik dan inklusif. Struktur besar dan transparan memungkinkan cahaya alami masuk ke dalam seluruh bagian bangunan, menciptakan hubungan visual langsung antara ruang dalam dan lingkungan kota (The Seattle Public Library, 2. Pengalaman pengguna menjadi multidimensional Ai mereka tidak hanya membaca atau belajar, tetapi juga berinteraksi, berdiskusi, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial urban. Dengan demikian. Bigness bukan hanya konsep formal, melainkan strategi spasial yang menciptakan arsitektur yang fleksibel, informatif, dan sosial, sesuai tuntutan masyarakat informasi masa kini. 6 Kritik dan Refleksi Meski berhasil menghadirkan pengalaman ruang yang monumental, beberapa kritikus menilai bahwa penerapan Bigness terkadang membuat bangunan terasa terlalu kompleks untuk navigasi sehari-hari. Beberapa pengguna menganggap sistem sirkulasinya tidak intuitif, sementara pengelompokan fungsi yang besar kadang menimbulkan jarak emosional antara pengguna dan ruang. Namun demikian, hal ini justru memperlihatkan kekuatan utama Bigness: kemampuannya menantang cara tradisional memahami arsitektur publik, mengubah perpustakaan dari institusi formal menjadi ruang interaksi sosial yang terbuka dan dinamis. Gambar 3. 5 Interior ruang Seattle Central Library Sumber: https://archinect. com/marcelogardinetti/rem-koolhaas-seattle-central-library Jurnal Anggapa Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis terhadap desain dan organisasi ruang Seattle Central Library, dapat disimpulkan bahwa bangunan ini merupakan representasi nyata dari integrasi antara Teori Bigness dan Programmatic Architecture dalam arsitektur kontemporer. Pertama, penerapan Teori Bigness terlihat melalui skala besar dan otonomi ruang yang membentuk sistem arsitektur kompleks namun terintegrasi. Bangunan ini tidak lagi dipahami sebagai satu kesatuan komposisi tunggal, melainkan sebagai tumpukan platform program yang saling berinteraksi. Setiap zona atau lantai bekerja secara independen, dengan fungsi spesifik namun tetap terhubung melalui sistem sirkulasi vertikal dan diagonal. Hal ini sejalan dengan gagasan Koolhaas bahwa arsitektur skala besar memiliki logika internalnya sendiri yang menolak kontrol formal tradisional. Kedua, konsep Programmatic Architecture diwujudkan melalui pengorganisasian fungsi yang dinamis dan fleksibel. Pengelompokan program stabil . eperti arsip, kantor, dan area tekni. dan program tidak stabil . eperti Mixing Chamber. Living Room, dan Book Spira. menunjukkan bagaimana fungsi ruang disusun berdasarkan kebutuhan aktivitas pengguna, bukan sekadar urutan struktural. Pendekatan ini menjadikan bangunan adaptif terhadap perubahan fungsi di era digital dan menempatkan pengalaman pengguna sebagai pusat desain. Ketiga, integrasi kedua teori tersebut menciptakan tipologi baru bangunan publik perpustakaan yang tidak hanya menjadi tempat penyimpanan pengetahuan, tetapi juga ruang sosial, digital, dan urban. Skala bangunan yang besar (Bignes. memungkinkan fleksibilitas fungsi (Programmatic Architectur. untuk hidup berdampingan secara harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur kontemporer tidak lagi menekankan bentuk estetis semata, tetapi juga struktur konseptual dan performatif dalam merespons kebutuhan masyarakat informasi modern. Secara keseluruhan. Seattle Central Library menjadi simbol perubahan paradigma arsitektur publik abad ke-21: dari bangunan institusional yang kaku menjadi ekosistem ruang yang adaptif, informatif, dan interaktif. Integrasi teori Bigness dan pendekatan Programmatic Architecture menjadikan proyek ini sebagai tonggak penting dalam evolusi desain arsitektur kontemporer, yang menempatkan manusia, informasi, dan ruang dalam kesatuan sistem yang saling memengaruhi. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan bimbinganNya sehingga jurnal ini dapat diselesaikan dengan baik. Terima kasih disampaikan kepada dosen pembimbing serta seluruh pihak yang telah memberikan arahan, dukungan, dan masukan selama proses penyusunan jurnal berjudul AuPenerapan Teori Bigness dan Programmatic Architecture pada Bangunan Seattle Central Library. DAFTAR PUSTAKA