Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 e-ISSN: 2621-7104 Received: 23 October 2023 Accepted: 26 December 2023 https://doi. org/10. 28932/jis. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance Excavator Menggunakan Pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Analisis Sensitivitas Analysis Of Excavator Preventive Maintenance Strategy Using Analytical Hierarchy Process (AHP) Approach and Sensitivity Analysis Futry Rejeky Sitinjak1. Fitriani Tupa R. Silalahi1* Program Studi Manajemen Rekayasa. Institut Teknologi Del. Toba Samosir. Indonesia Penulis korespondensi: Fitriani Tupa R. Silalahi, fitrianitupa@gmail. Abstrak PT Toba Pulp Lestari. Tbk adalah produsen pulp industri yang berkembang pesat pada beberapa tahun terakhir ini. Excavator merupakan salah satu alat produksi yang penting bagi PT TPL untuk digunakan untuk kegiatan pre bunching, extraction, pengupasan kayu dan pemuatan. Perusahaan membutuhkan perawatan yang tepat pada excavator untuk meningkatkan kinerja dan menghindari terjadinya kerusakan karena eskavator masih mengalami kerusakan sebanyak 3 Ae 4 kali dalam sebulan. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk dapat menentukan pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator yang tepat sasaran supaya dapat meminimalisir kerusakan, dapat mempertahankan keandalan dari excavator, serta dapat memberikan pemeliharaan yang optimal. Metode penelitian yang digunakan adalah Analytical hierarchy process (AHP) dan Analisis Sensitivitas. Hasil yang diperoleh dari metode AHP adalah kriteria safety memiliki bobot prioritas paling besar yaitu 0,317 dan alternatif yang memiliki bobot prioritas paling besar yaitu perawatan berkala . eriodic maintenanc. dengan bobot sebesar 0,577. Kemudian diikuti dengan perawatan berbasis kondisi . ondition base maintenanc. sebesar 0,212 dan yang terakhir adalah perawatan perbaikan . chedule overhau. sebesar 0,211. Selanjutnya pada metode Analisis Sensitivitas terdapat dua kriteria yang sensitif terhadap perubahan bobot yaitu kriteria Safety dan kriteria Kualitas. Strategi pemeliharaan perawatan berkala . eriodic maintenanc. memiliki bobot terbesar, maka dipilih sebagai strategi yang paling tepat digunakan sebagai pemeliharaanyang optimal serta diharapkan mampu menjadi solusi yang efektif sehingga berhasil mengurangi kerusakan dan dapat mempertahankan keandalan dari excavator. Kata kunci: analisis sensitivitas, analytical hierarchy process (AHP), pemeliharaan, strategi pemeliharaan How to Cite: Sitinjak. and Silalahi. AoAnalisis strategi pemeliharaan preventive maintenance excavator menggunakan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Analisis SensitivitasAo. Journal of Integrated System, 6. , pp. 226Ae242. Available at: https://doi. org/10. 28932/jis. A 2023 Journal of Integrated System. This work is licensed under a Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance Abstract PT Toba Pulp Lestari. Tbk is an industrial pulp producer that has developed rapidly in recent years. This means that the use of production equipment is also increasing. Excavators are one of the important production tools for PT TPL to be used for prebunching, extraction, wood stripping and loading activities. Companies need proper maintenance on excavators to improve performance and avoid damage because excavators still experience damage 3 Ae 4 times a month. Therefore, this research aims to be able to determine the selection of preventive maintenance strategies for excavators that are right on target so that they can minimize damage, maintain the reliability of the excavator, and provide optimal maintenance. The research methods used are Analytical Hierarchy Process (AHP) and Sensitivity Analysis. The results obtained from the AHP method are that the safety criterion has the greatest priority weight, namely 0. 317, and the alternative that has the greatest priority weight is periodic maintenance with a weight This is followed by condition-based maintenance of 0. 212 and finally repair maintenance . cheduled overhau. Furthermore, in the Sensitivity Analysis method, there are two criteria that are sensitive to changes in weight, namely Safety criteria and Quality criteria. The periodic maintenance strategy has the greatest weight, so it was chosen as the most appropriate strategy to use for optimal maintenance and is expected to be an effective solution so as to successfully reduce damage and maintain the reliability of the excavator. Keywords: analytical hierarchy process (AHP), maintenance, maintenance strategy, sensitivity analysis Pendahuluan Di era persaingan yang tinggi, perusahaan memutuskan untuk bersaing di pasar berdasarkan berbagai prioritas seperti biaya, kualitas, fleksibilitas, dan lain-lain. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan keberhasilan suatu industri yaitu kelancaran proses produksi. Apabila proses produksi lancar, maka diharapkan mampu menghasilkan produk yang berkualitas dan dengan waktu yang sesuai. Proses tersebut tergantung dari kondisi sumber daya yang dimiliki seperti manusia, mesin, alat berat ataupun sarana penunjang lainnya. Kondisi siap pakai dari mesin dan alat berat dapat dijaga dan ditingkatkandengan diterapkannya pemeliharaan yang tepat (Dewi dan Rinawati, 2. Pemeliharaan . merupakan seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mejaga sistem dan semua komponennya bekerja sesuai dengan yang seharusnya (Stephens. Tujuan dari pemeliharagaan adalah untuk mengatur kapabilitas dari sistem sembali mengontrol biaya (Stephens, 2. Pemeliharaan memiliki pengertian secara umum, yaitu menjaga, mempertahankan, dan melindungi. Pemeliharaan dimaksudkan untuk memastikan agar suatu sistem atau peralatan dapat kembalidalam kondisi atau fungsi semula. Selain itu, pemeliharaan memainkan peran penting dalam menjaga ketersediaan dan keandalan pada tingkat yang diminta, menjaga kualitas produk, danmematuhi persyaratan keselamatan. Oleh karena itu, banyak perusahaan mengembangkan atau menerapkan berbagai macam strategi pemeliharaan tergantung pada jenis industri yang mereka geluti, output produk atau peralatan yang digunakan, proses yang terlibat, kondisi operasional dan lain-lain. PT. Toba Pulp Lestari. Tbk (PT TPL) adalah perusahaan produsen bubur kertas . serta melaksanakan dan mengembangkan konsesi industri kehutanan sebagai bahan baku bubur kertas (TPL, 2. Salah satu alat berat yang memiliki kegunaan yang sangat penting bagi perusahaan adalah Excavator. Excavator merupakan salah satu alat produksi yang penting bagi PT TPL untuk digunakan untuk kegiatan pre bunching yaitu pengumpulan pohon-pohon yang telah ditebang dikumpulkan menjadi beberapa tumpukan, extraction yaitu kegiatan yang dilakukan untuk mengangkut kayu dari jalur tebangan yang telah dikumpulkan menuju ke tempat pengumpulan kayu, pengupasan kayu dan pemuatan. Tujuan penggunaan excavator selain untuk meringankan pekerjaan yang sulitdan dapat meminimalkan waktu pengerjaan sehingga dapat Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance menghemat waktu. Alat berat ini memiliki tingkat keandalan dimana semua komponen atau sistem akan berfungsi secara efektifsesuai tujuannya dalam jangka waktu tertentu. Strategi pemeliharaan yang dilakukan oleh PT Toba Pulp Lestari saat ini adalah preventive maintenance, yaitu kegiatan prematur yang mengganti komponen atau peralatan sebelum cacat terjadi untuk menghindari kegagalan yang tidak terjadwal. Namun seringkali perawatan tersebut tidak dijalankan sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Kerusakan pada excavator masih sering terjadi. Menurut karyawan dari divisi operasional bagian alat berat, kerusakan pada excavator dapat terjadi 3 sampai 4 kali dalam sebulan. Kerusakan yang terjadi berbedabeda sesuai dengan jenisnya atau bagian dari mesin excavator, misalnya hose hydraulic atau engine overheat, radiator bocor. Kerusakan tersebut dapat terjadi dikarenakan excavator digunakan pada medan dan beban yang berat serta waktu pemakaian yang tidak sesuai dengan pemeliharaannya, pemeliharaan yang tidak dilakukan secara rutin dan konsisten sesuai dengan jadwalnya serta kerusakan yang terjadi juga disebabkan oleh operator atau mekanik yang tidak serius atau kurang memperhatikan kondisi excavator dalam melakukan pemeliharaan. Akibat dari kerusakan itu, excavator menjadi tidak dapat digunakan, sehingga dapat menghambat pekerjaan yang akan dilakukan dan juga dapat mengulur waktu pengerjaan. Tentunya hal tersebut akan berdampak negatif bagi perusahaan baik dari segi waktu atau punbiaya yang harus dikeluarkan. Adapun mesin pada excavator yang sering terjadi kerusakan adalah pada bagian Hose hydraulic dimana kerusakan tersebut disebabkan oleh pemakaian nya yang lama, kemudian pada bagian engine yaitu engine overheat dimana kerusakan tersebut disebabkan oleh kehabisan air pendingin dan juga karena kehabisan oil engine. Masalah kehabisan air pendingin dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu radiator yang bocor, selang radiator yang rusak, dan dapat terjadi karena kelalaian operator yang melakukan pengecekan air Masalah kehabisan oil engine dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu gasket carts dan oil pump yang bocor dan juga cooling system yang rusakatau abnormal. Oleh karena itu, perencanaan pemeliharaan mesin haruslah tepat sasaran agar tercapainya hasil yang Selain itu, kemampuan untuk menerapkan kebijakan perawatan juga dapat mempengaruhi kegiatan yang dilaksanakan sebagai bagian dari strategi pemeliharaan mesin sehinggasuatu pendekatan yang dapat mengidentifikasi permasalahan dan menemukan solusi yang sesuai untuk mengatasinya sangatlah penting. Penelitian terdahulu yang menggunakan metode AHP dan Analisis Sensitivitas sudah Chang et al. menggunakan metode AHP dan analisis sensitifitas untuk menentukan alat pengiris. Berikutnya. Maletis et al. menggunakan metode AHP dan analisis sensitivitas untuk menentukan kebijakan perawatan mesin. Namun mesin yang dianalisis pada penelitian ini adalah mesin kertas. Sejauh pengamatan penulis, penelitian untuk melakukan pemilihan pemeliharaan yang sesuai untuk pemeliharaan excavator dengan menggunakan metode AHP dan analisis sensitivitas masih terbatas. Hal ini menjadi kebaharuan dari penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dilanjutkan dengan Analisis Sensitivitas. Analytical Hierarchy Proces. dilakukan dalam rangka pemilihan strategi perawatan mesin yang sesuai. Pemilihan dilakukan berdasarkan kriteria tertentu. Analisis sensitifitas dilakukan untuk melihat seberapa sensitif bobot dari setiap indikator mempengaruhi hasil penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan meliputi penentuan tujuan dan ruang lingkup penelitian, menentukan kriteria, subkriteria dan membuat alternatif keputusan, melakukan perbandinganberpasangan dengan menghitung bobot prioritas, menghitung nilai consistency ratio, dan menghitung bobot alternatif untuk pengambilan keputusan. Setelah itu, metode Analisis Sensitivitas, digunakan untuk memperkuat keakuratan hasil pembobotan yang telah diolah menggunakan metode AHP. Analisis sensitivitas bertujuan untuk mengetahui perubahan pada setiap kriteria yang mempengaruhi alternatif jika dilakukan perubahan pada bobotnya. Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance Tinjauan Pustaka 1 Manajemen Pemeliharaan Manajemen pemeliharaan didefinisikan sebagai suatu sistem memiliki beberapa elemen seperti fasilitas, penggantian komponen atau material, biaya pemeliharaan, perencanaan kegiatan pemeliharaan, dan eksekutor pemeliharaan. Elemen tersebut saling terkait dan saling berinteraksi dalam kegiatan pemeliharaan di industri (Ansori dan Mustajib, 2. Manajemen pemeliharaan mencakup berbagai kegiatan manajemen yang meliputi penetapan tujuan, prioritas, strategi, tanggung jawab, serta implementasi dalam bentuk perencanaan pemeliharaan, pengawasan, dan peningkatan metode, termasuk aspek ekonomis dalam organisasi (Corder, 1. Lebih lanjut. Al-Najjar dan Alsyouf . mengatakan bahwa strategi pemeliharaan terdiri dari identifikasi, penelitian, dan pelaksanaan berbagai macam keputusanyang terkait dengan perbaikan, penggantian, maupun inspeksi kondisi peralatan atau 2 Pemeliharaan Pemeliharaan dapat diartikan sebagai tindakan ataupun upaya yang dilakukan dalam menjaga performa mesin tetap sama seperti performa pada saat masih baru. Pemeliharaan juga diartikan sebagai kegiatan kegiatan yang dilakukan dalam mencegah timbulnya kerusakan tidak normal, mempertahankan kondisi mesin atau mengembalikannya ke dalam kondisi tertentu. Ada 2 macam pemeliharaan yaitu pemeliharaan pencegahan dan pemeliharaan kerusakan (Duffuaa et al. , 1. Pemeliharaan pencegahan merupakan pelaksanaan inspeksi rutin, perbaikan dan penjagaan tempat fasilitas dengan cara melaksanakan perawatan yang tepat, sedangkan pemeliharaan kerusakan merupakan pemeliharaan yang dilakukan ketika terjadi kegagalan atau kerusakan dan diperbaiki berdasarkan keadaan darurat atau yang 3 Pemeliharaan Excavator Excavator atau biasa disebut dengan backhoe merupakan alat berat yang sangat efektif dalam melakukan pekerjaan seperti penggalian, pembongkaran, atau pengangkatan material seperti tanah, batu, kerikil, kayu, atau material lainnya dengan bentuk seperti yang terlihat pada Gambar 1. Excavator bekerja dengan menggunakan tenaga hidrolik yang sangat kuat dan efisien, sehingga dapat mengangkat dan memindahkan material yang berat dan besar dengan Alat ini juga memiliki kemampuan untuk bergerak ke berbagai arah . (KEMENPERIN, 2. , sehingga sangat fleksibel dalam menangani berbagai jenis pekerjaan seperti pekerjaan penggalian di bawah permukaan, penggalian material keras dan pemotongan Gambar 1. Excavator Sedang Perbaikan Sumber: PT Toba Pulp Lestari. Tbk Deskripsi excavator terdiri dari beberapa bagian utama, diantaranya: Undercarriage: merupakan bagian bawah excavator yang terdiri dari roda atau track. Undercarriage ini berfungsi sebagai penopang berat excavator dan membantu alat ini bergerak ke berbagai arah. Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance Upper Structure: merupakan bagian atas excavator yang berisi mesin, penggerak hidrolik, kabin operator, dan bucket arm. Upper Structure ini berfungsi sebagai pusatpengendalian dan menggerakkan seluruh bagian dari excavator. Bucket Arm: merupakan lengan bergerak yang terdapat pada excavator. Bucket arm ini berfungsi sebagai alat untuk menggali, mengangkat, atau memindahkan material dari satu tempat ke tempat lainnya. Bucket: merupakan alat gali yang terdapat pada ujung bucket arm. Bucket ini berfungsiuntuk menggali material dan mengangkat material yang telah digali. Operator Cab: operator cab dilengkapi dengan berbagai kontrol dan alat bantu yang memungkinkan operator untuk menggerakkan dan mengendalikan excavator. 4 Perawatan Pencegahan (Preventive Maintenanc. Preventive maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukansecara terjadwal untuk menjaga peralatan tetap berfungsi sebelum peralatan menjadi rusak (Smith dan Hinchcliffe, 2. Tujuan dari preventive maintenance adalah untuk mengurangi frekuensi kerusakan dari barang yang dipelihara. Strategi ini berkontribusi untuk meminimalkan biaya kerusakan mesin dan meningkatkan kualitas produksi (Ahmad dan Kamaruddin, 2. Dengan demikian, fasilitas produksi yang mendapatkan perawatan preventif akan terjamin kelancaran kerja serta kondisi yang siap digunakan pada proses produksi. 1 Perawatan Berkala (Periodic Maintenanc. Perawatan berkala . eriodic maintenanc. atau yang disebut juga sebagai time-based maintenance adalah teknik pemeliharaan tradisional (Ahmad dan Kamaruddin, 2. Perawatan berkala adalah jenis perawatan atau pemeliharaan yang dilakukan secara terjadwal atau berkala pada suatu objek atau sistem untuk menjaga kinerja suatu objek atau sistem agar tetap dalam kondisi yang baik dan mencegah kerusakan serta dan agar dapat berfungsi secara Perawatan berkala juga dapat diartikan sebagai proses pemeliharaan dengan selang waktu tertentu setelah alat digunakan untuk operasi. Perawatan berkala mengasumsikan bahwa perilaku kerusakan dari peralatan adalah dapat diprediksi (Ahmad dan Kamaruddin, 2. 2 Perawatan Perbaikan (Schedule Overhau. Perawatan perbaikan adalah perawatan yang dilakukan dengan jangka waktu tertentu yang menyesuaikan dengan standar dari overhaul setiap komponen pada alat. Perawatan perbaikan juga dapat diartikan sebagai jenis perawatan yang dilakukan pada suatu objek atau sistem dengan cara melakukan pemeliharaan yang lebih menyeluruh atau bahkan melakukan penggantian komponen atau bagian-bagian tertentu secara terjadwal atau berkala (Purwono. Schedule Overhaul dilaksanakan untuk merekondisikan unit atau komponen agar kembali pada kondisi standar factory. Jeda waktu yang ditentukan akan dipengaruhi oleh kondisi yang bermacam- macam seperti kondisi operasi alat, ketepatan pelaksanaan perawatan secara berkala, keahlianoperator dan lain-lain. Overhaul dilakukan dengan penjadwalan tanpa perlu menunggu alat atau komponen tersebut timbul gejala kerusakan atau sampai tidak dapat digunakan sama sekali (Pranowo, 2. Jenis perawatan ini biasanya dilakukan setelah suatu objek atau sistem telah digunakanuntuk jangka waktu tertentu. Perawatan perbaikan dilakukan oleh teknisi yang ahli dan berpengalaman, yang akan melakukan pemeriksaan menyeluruh pada objek atau sistem yangakan diperbaiki. Teknisi ini akan memeriksa semua komponen atau bagian yang ada pada objek atau sistem tersebut, dan melakukan penggantian jika Tujuan dari perawatanperbaikan ini adalah untuk memastikan bahwa objek atau sistem tersebut tetap berfungsi dengan baik, mengurangi risiko kerusakan atau kegagalan, serta memperpanjang masa pakai dari objek atau sistem tersebut. Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance 3 Perawatan Berbasis Kondisi (Condition-Based Maintenanc. Condition-based maintenance, atau disebut juga sebagai predictive maintenance adalah teknik pemeliharaan yang modern dan populer (Ahmad dan Kamaruddin, 2. CBM adalah perawatan yang merekomendasikan pemeliharaan berdasarkan informasi yang dikumpulkan melalui proses monitoring. Beberapa sistem pemeliharaan yang dilakukan adalah vibration monitoring, sound or acoustic monitoring dan oil-analysis or lubricant monitoring. Vibration monitoring adalah pemeliharaan yangs ering dipakai khususnya pada peralatan yang berotasi (Carnero, 2. Pada vibration monitoring dilakukan pemeriksaan kesehatan peralatan dengan bantuan alas khusus seperti sensor getaran untuk mengidentifikasi perubahan yang mungkin mengindikasikan kerusakan atau gradasi. Berikutnya, sound or acoustic monitoring adalah perawatan yang dilakukan dengan menggunakan sensor untuk mendengar kerusakan yang ada pada peralatan. Lubricant monitoring adalah pemeriksaan oli dengan cara mengevaluasi kondisi oli untuk menentukan apakah oli tersebut masih dapat digunakan untuk selanjutnya (Ahmad dan Kamaruddin, 2. Pada saat yang sama, hasil dari analisis lubricant monitoring dapat menunjukkan kondisi dari komponen internal, seperti engine shafts. Contohnya untuk minyak pelumas yang diambil akan dianalisa di laboratorium untuk mengetahui jenis serta kadar logam yang terdapat didalam minyak pelumas tersebut, sehingga dapat diketahui kemungkinan kerusakan yang akan terjadi seperti keausan yang tidak wajar pada bearing, sleeve, piston, crankshaft, hydraulic pump atau valve. Selain itu, masih ada teknik perawatan berbasis kondisi lainnya termasuk monitoring listrik, temperatur dan kondisi fisik peralatan. 5 Analytical Hierarchy Process (AHP) Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan suatu model pendukung keputusan dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Model ini akan menguraikan masalah multi kriteria yang kompleks menjadi struktur hierarki (Saaty, 2. dengan hierarki adalah representasi dari permasalahan yang kompleks ke dalam struktur multi-level. Hirarki merupakan representasi dari masalah yang kompleks dengan beberapa level, dengan level pertama adalah tujuan, kemudian level faktor, kriteria, subkriteria dan level terakhir yaitu alternatif. Dengan demikian dapat diperoleh tingkat kepentingan dari setiap elemen di setiap tingkat. Berikut adalah beberapa kelebihan penggunaan metode AHP dalam pengambilan keputusan (Saaty dan Vargas, 2. - Membantu memecahkan masalah kompleks yang strukturnya tidak beraturan - Proses pengambilan keputusan tidak terpengaruh data kuantitatif yang kurang lengkap dikarenakan penilaian adalah hasil pemikiran sudut pandang responden - Penilaian dan pengukuran elemen lebih mudah karena metode ini disesuaikan dengan kemampuan dasar manusia dalam menilai suatu hal Pada metode Analytical Hierarchy Process (AHP), setiap alternatif diukur berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditentukan. Kriteria dapat berupa kualitas, biaya dan sebagainya yang tergantung pada konteks dan tujuan dari pengambilan keputusan. Setiap kriteria diberi bobot relatif yang menunjukkan pentingnya kriteria tersebut dalam pengambilan keputusan. Metode ini sering digunakan dalam berbagai aplikasi, termasuk manajemen bisnis, pengembangan produk, perencanaan strategis, dan kebijakan publik. Langkah-langkah dalam AHP mengikuti prosedur yang ada pada Mu dan Pereyra-Rojas . Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: Bentuk model keputusan dengan membuat masalah keputusan dalam struktur hierarki yang terdiri dari tujuan, kriteria, subkriteria dan alternatif Lakukan pengambilan data perbandingan berpasangan dari responden, untuk membandingkan tingkat kepentingan antar kriteria, tingkat kepentingan antar subkriteria dalam suatu kriteria, dan tingkat kepentingan setiap alternatif dalam setiap subkriteria. Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance Pemberian bobot dilakukan dengan mengikuti skala perbandingan berpasangan dari Saaty seperti pada Tabel 1. Tabel 1. Skala perbandingan berpasangan Saaty Tentukan bobot prioritas untuk kriteria dan subkriteria dengan menggunakan perbandingan berpasangan mengikuti skala perbandingan berpasangan Saaty. Lalu dilakukan pemeriksaan konsistensi dari judgement yang diberikan oleh responden untuk menjamin kekonsistenan dalam memberikan bobot. Rumus yang dapat digunakan untuk menguji konsistensi sebagai berikut: yaya = ycoycaycoycOeycu ycuOe1 Tabel 2 menunjukkan nilai random index (RI). Tabel 2. Nilai Ketetapan RI (Random Inde. 0,58 1,12 1,24 1,34 1,41 1,45 1,49 1,51 1,48 Tentukan prioritas lokal dan prioritas global dari alternatif. Alternatif dengan prioritas tertinggi menjadi pilihan yang terbaik Lakukan analisis sensitivitas untuk mengetahui bagaimana perubahan pada bobot kriteria akan mempengaruhi hasil akhir unruk memahami rasional dari keputusan yang diambil. 6 Analisis Sensitivitas Setelah melalui proses perhitungan AHP, tahap terakhir dalam pengolahan data penelitian ini adalah melakukan analisis sensitivitas. Tujuan dari analisis ini adalah untuk memastikan sejauh mana model yang digunakan bergantung pada faktor inputnya (Dogan, 2021. Borgonovo, 2. Dalam kasus ini, faktor input yang coba diubah adalah bobot dari kriteria sehingga dapat dilihat seberapa besar perubahannya pada hasil urutan alternatif terbaik berdasarkan perhitungan AHP. Metode analisis sensitivitas mengacu pada perubahan bobot, dimana bobotberubah berdasarkan nilai unitary variation ratio sehingga ketika nilai satu bobot kriteria berubah maka bobot kriteria yang lainnya akan menyesuaikan sehingga tetap Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut. kOekvk ya = 1Oekvk Dalam Li et al. membuat 14 parameter skema untuk penilaiannya yaitu = 0. 01, 0. 05, 0. 1, 0. 2, 0. 5, 1, 1. 5, 2, 2. 5, 3, 3. 5, 4, dan 4. Setelah itu langkah selanjutnya menghitung kembali bobot prioritas dari perhitungan AHP. Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance Hasil dan Pembahasan 1 Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) 1 Identifikasi Kriteria dan Subkriteria Dalam melakukan pemilihan pemeliharaan, diperlukan kriteria yang dapat mencerminkan strategi pemeliharaan yang baik bagi perusahaan. (Justin, 2. telah mengidentifikasi kriteria-kriteria yang digunakan untuk memilih pemeliharaan seperti yang tercantum pada Tabel 3. Tabel 3. Kriteria pemeliharaan Kriteria Safety Implementation cost Added Value Implantation capability Maintenance performance Stock and material management Support system integration Sumber: (Justin, 2. Setelah melakukan diskusi terhadap pihak perusahaan yaitu kepada responden, kriteria implementation cost, safety, added value, stock and material management yang merupakan kriteria yang dianggap penting untuk dapat dipertimbangkan oleh perusahaan dalam pemilihan strategi pemeliharaan preventivemaintenance pada excavator. Untuk kriteria implementation cost responden menyarankan menjadi kriteria biaya dan stock and material management menjadi warehouse backup. Dan ada kriteria tambahan yang menurut perusahaan dipertimbangkan saat pemilihan strategi pemeliharaan yaitu kriteria kualitas, durasi troubleshooting dan penerapan prosedur pemeliharaan. Sehingga setelah melakukan identifikasi kriteria dan subkriteria yang dianggap penting oleh perusahaan dalam menentukan strategi pemeliharaan, penulis dan responden yaitu pihak perusahaan sepakat untuk menetapkan kriteria biaya, safety, kualitas, added value, durasi troubleshooting, warehouse backup dan penerapan prosedur pemeliharaan sebagai kriteria dalam pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator. Untuk subkriteria merupakan hasil diskusi bersama responden. Kriteria dan subkriteria pemeliharaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 4 berikut. Oleh karena itu, struktur hierarki dalam masalah pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator di PT. TPL ditampilkan pada Gambar Tabel 4. Kriteria dan subkriteria pemeliharaan Subkriteria Kriteria Subkriteria Kecocokan biaya sparepart Safety Jaminan keselamatan Kecocokan biaya pekerja Minimum risiko bahaya Kualitas Kesesuaian hasil Warehouse Backup Kemudahan mendapat Kemampuan memberikan Manajemen sparepart perbaikan yang konsisten Added Value Minimum frekuensi Penerapan prosedur Kemudahan penerapan prosedur pemeliharaan Minimum durasi Kompleksitas prosedur penghentian mesin Durasi Kemudahan memperbaiki TroubleKecepatan waktu perbaikan Kriteria Biaya Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance Gambar 2. Struktur hirarki pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator 2 Pengolahan Data Kriteria Dalam penelitian yang dilakukan serta menetapkan tujuh kriteria yang digunakan dalam penelitian ini, maka berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang telah dilakukan kepada 5 responden departemen woodyard didapat hasil sebagai berikut serta didapatkan consistency ratio nya. Jika nilai consistency ratio (CR) < 0,1, maka perbandingan tersebut di anggap Namun, jika nilai CR melebihi 0,1, maka perbandingan berpasangan harus diulang. Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh bobot untuk setiap kriteria dan nilai consistensy ratio seperti yang ditampilkan pada Tabel 5. Tabel 5. Bobot prioritas kriteria Bobot Kriteria Prioritas Biaya 0,099 Safety 0,317 Added Value 0,064 Kualitas 0,188 Durasi Trouble Shooting Warehouse Backup Penerapan Prosedur Pemeliharaan 0,092 0,113 0,050 0,128 Berdasarkan data pada Tabel 5 dapat dilihat bahwaa kriteria yang paling mempengaruhi dalam pemilihan pemeliharaan preventive maintenance pada excavator adalah kriteria safety dengan bobot tertinggi sebesar 0,317. Selanjutnya terdapat kriteria kualitas yang menjadi urutan kedua dalam mempengaruhi pemilihan pemeliharaan preventive maintenance pada excavator yaitu dengan bobot sebesar 0,188. Dalam perhitungan bobot kriteria tersebut juga didapatkan nilai CR . onsistency rati. yaitu sebesar 0,050. Dengan demikian, data tersebut telah konsisten atau valid karena nilai CR > 0,1. 3 Pengolahan Data Subkriteria Analisis subkriteria secara keseluruhan dapat diperoleh melalui hasil pengolahan data subkriteria dari masing-masing kriteria. Dengan demikian. Tabel 6 menunjukkan rincian subkriteria secara keseluruhan. Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, maka dapat diketahui bahwa dari 14 subkriteria yang diperoleh dari masing-masing kriteria, terdapat bahwa yang mempengaruhi responden dalam memilih pemeliharaan excavator yaitu subkriteria jaminan keselamatan dengan bobot sebesar 0,857. Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance Tabel 6. Bobot prioritas subkriteria Subkriteria Jaminan keselamatan Minimum frekuensi kerusakan Manajemen sparepart terorganisir Kemampuan memberikan perbaikan yang konsisten Kemudahan memperbaiki Kemudahan penerapan prosedur Pemeliharaan Kecocokan biaya sparepart Kecocokan biaya pekerja Kompleksitas prosedur Pemeliharaan Kecepatan waktu perbaikan Kesesuaian hasil pemeliharaan Kemudahan mendapat sparepart Minimum durasi penghentian mesin Minimum risiko bahaya Bobot 0,857 0,796 0,727 0,682 0,622 0,616 0,580 0,420 0,384 0,378 0,318 0,273 0,204 0,143 4 Pengolahan Data Alternatif Selanjutnya, didapatkan urutan prioritas alternatif pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator yang dapat dilihat pada Tabel 7 dan Gambar 3. Berdasarkan Gambar 3, dapat diketahui urutan prioritas alternatif pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator dari yang tertinggi hingga terendah secara berturutturut yaitu dengan urutan pertama adalah Perawatan Berkala (Periodic Maintenanc. sebesar 0,577, lalu diikuti dengan Perawatan Berbasis Kondisi (Condition Based Maintenanc. sebesar 0,212 dan yang terakhir adalah Perawatan Perbaikan (Schedule Overhau. sebesar 0,211. Sehingga dengan adanya pemeliharaan yang diprioritaskan, maka dapat mengurangi tingkat kerusakan pada excavator dan diharapkan mampu meningkatkan performa mesin yang sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan oleh perusahaan serta dapat memberikan pemeliharaan yang optimal pada excavator. Tabel 7. Bobot prioritas alternatif AlterPrioriP1 P9 P10 P11 P12 P13 P14 0,031 0,022 0,132 0,026 0,036 0,009 0,039 0,066 0,041 0,024 0,021 0,054 0,049 0,028 0,577 0,012 0,009 0,067 0,010 0,008 0,002 0,009 0,038 0,010 0,004 0,005 0,010 0,018 0,009 0,211 0,015 0,011 0,072 0,009 0,006 0,002 0,012 0,024 0,007 0,007 0,005 0,017 0,012 0,013 0,212 Gambar 3. Grafik prioritas alternatif Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance 2 Analisis Sensitivitas Setelah melakukan perhitungan AHP, langkah berikutnya adalah melakukan analisis sensitivitas dengan mengubah bobot pada setiap kriteria. Dalam penelitian ini, faktor input yang akan diubah adalah nilai bobot dari masing-masing kriteria yang digunakan, sehingga dapat dilihat seberapa besar dampak atau perubahannya pada hasil urutan alternatif terbaik yang didapat melalui perhitungan AHP. Metode analisis sensitivitas yang dilakukan merujuk pada analisis sensitivitas oleh Li et al. dimana perubahan bobot berdasarkan unitary variation ratio sehingga ketika satu nilai bobot kriteria berubah maka nilai bobot kriteria yang lainnya akan menyesuaikan atas perubahan nilai bobot kriteria tersebut. Penelitian ini menggunakan nilai () 0,01, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, 0,5, 1, 1,5, 2, dan 2,5. Tabel 9 menunjukkan contoh perhitungan analisis sensitivitas pengubahan bobot pada kriteria biaya. Tabel 8 memaparkan bahwa terjadinya perubahan bobot pada kriteria biaya ketikad ilakukan analisis sensitivitas. Bobot awal kriteria biaya diolah menggunakan 10 parameter scema untuk penilaianya, yaitu dengan = 0. 01, 0. 02, 0. 05, 0. 1, 0. 2, 0. 5, 1, 1. 5, 2, 2. Bobot awal kriteria biaya adalah 0,099 dan pada saat menggunakan 0,01 bobot kriteria mengalami perubahan yaitu menjadi 0,001. Pada saat menggunakan 0,02 bobot kriteria mengalami perubahan yaitu menjadi 0,002, pada saat menggunakan 0,05 bobot kriteria mengalami perubahan yaitu menjadi 0,005, dan pada saat menggunakan 0,1, 0,2, 0,5, 1, 1,5, 2, 2,5 juga mengalami perubahan secara berturut-turut menjadi 0,010, 0,020, 0,049, 0,099, 0,148, 0,198, 0,247. Setelah mengubah semua nilai kriteria, langkah selanjutnya adalah mencari tahu apakah ada perubahan yang signifikan ketika nilai kriterianya berbeda. Jika terdapat perubahan yang signifikan pada urutan alternatif, maka kriteria tersebut dapat dianggap sensitif. Perhitungan alternatif menggunakan analisis sensitivitas yang setiap bobot kriteria dan setiap bobot subkriteria sudah dimodifikasi dengan nilai yaitu 0,01, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, 0,5, 1, 1,5, 2, 2,5. Tabel 8 menunjukkan contoh perhitungan alternatif menggunakan analisis sensitivitas kriteria biaya 0,01. Tabel 9 menunjukkan alternatif prioritas tertinggi dalam pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator dengan kriteria biaya 0,01 adalah perawatan berkala dengan bobot sebesar 0,094. Kemudian untuk alternatif perawatan perbaikan dan perawatan berbasis kondisi memiliki nilai yang sama yaitu sebesar 0,043. Tabel 8. Perhitungan analisis sensitivitas kriteria biaya 0,01 0,02 0,05 Kriteria Biaya Safety added value durasi trouble Bobot 0,009 0,018 0,045 0,091 0,184 0,474 1,000 1,587 2,247 2,993 0,099 0,001 0,002 0,005 0,010 0,020 0,049 0,099 0,148 0,198 0,247 0,317 0,351 0,351 0,350 0,348 0,345 0,334 0,317 0,300 0,282 0,265 0,064 0,071 0,070 0,070 0,070 0,069 0,067 0,064 0,060 0,057 0,053 0,188 0,208 0,208 0,207 0,206 0,204 0,198 0,188 0,177 0,167 0,157 0,092 0,102 0,102 0,102 0,101 0,100 0,097 0,092 0,087 0,082 0,077 0,113 0,125 0,125 0,124 0,124 0,122 0,119 0,113 0,106 0,100 0,094 0,128 0,142 0,142 0,142 0,141 0,140 0,135 0,128 0,121 0,114 0,107 Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance Gambar 4 menunjukkan alternatif prioritas tertinggi dalam pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator dengan kriteria biaya menggunakan 0,01, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, 0,5, 1, 1,5, 2, 2,5 adalah perawatan berkala. Kemudian untuk alternatif perawatan perbaikan dan perawatan berbasis kondisi memiliki nilai yang sama. Gambar 5 menunjukkan alternatif prioritas tertinggi dalam pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator dengan kriteria safety menggunakan 0,01, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, 0,5, 1, 1,5, 2, adalah perawatan berkala. Selanjutnya prioritas yang memiliki nilai tertinggi setelah perawatan berkala pada 0,01, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, 0,5, 1, 1,5 adalah perawatan perbaikan. Dan prioritas yang memiliki nilai tertinggi setelah perawatan berkala pada 1,5, 2, 2,5 adalah perawatan berbasis kondisi. Sehingga dapat disimpulkan bahwasannya pada saat 0,01, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, 0,5, 1, 1,5, kriteria safety mengalami perubahan urutan alternatif. Untuk itu, kriteria safety harus lebih diprioritaskan karena kriteriasafety termasuk kriteria yang sensitif. Tabel 9. Analisis sensitivitas kriteria biaya 0,01 Atribute Weight Biaya Safety Added 0,001 0,351 0,071 Kualitas 0,208 Durasi 0,102 0,643 0,466 1,251 0,208 0,849 0,218 0,391 0,837 0,684 Alternatif Penerapan Alt. pemeliharaan Weight Evalu0,125 0,142 W1 W2 P1 Warehouse 0,412 0,307 0,819 0,706 0,440 Perawatan 0,031 0,022 0,132 0,026 0,036 0,009 0,039 0,066 0,041 0,024 0,021 0,054 0,049 0,028 0,094 Perawatan 0,012 0,009 0,067 0,010 0,008 0,002 0,009 0,038 0,010 0,004 0,005 0,010 0,018 0,009 0,043 Perawatan berbasis 0,015 0,011 0,072 0,009 0,006 0,002 0,012 0,025 0,007 0,007 0,005 0,017 0,012 0,013 0,043 Gambar 4. Grafik analisis sensitivitas kriteria biaya Gambar 5. Grafik analisis sensitivitas kriteria safety Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance Gambar 6 menunjukkan alternatif prioritas tertinggi dalam pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator dengan kriteria added value menggunakan 0,01, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, 0,5, 1, 1,5, 2, 2,5 adalah perawatan berkala. Selanjutnya prioritas yang memiliki nilai tertinggi setelah perawatan berkala pada 0,05, 0,2, 0,5, 1 adalah perawatan berbasis kondisi. Dan prioritas yang memiliki nilai tertinggi setelah perawatan berkala pada 2,5 adalah perawatan perbaikan. Namun, pada 0,01, 0,02, 0,1, 1,5, 2 memiliki nilai yang Sehingga dapat disimpulkan bahwasannya kriteria added value harus dijaga pada 2,5, karena akan mengalami perubahan urutan alternatif. Gambar 7 menunjukkan alternatif prioritas tertinggi dalam pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator dengan kriteria kualitas menggunakan 0,01, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, 0,5, 1, 1,5, 2, 2,5 adalah perawatan berkala. Selanjutnya prioritas yang memiliki nilai tertinggi setelah perawatan berkala pada 0,01, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, 0,5 adalah perawatan berbasis kondisi. Dan prioritas yang memiliki nilai tertinggi setelah perawatan berkala pada 1,5, 2, 2,5 adalah perawatan perbaikan. Namun, pada 1 memiliki nilai yang sama. Sehingga dapat disimpulkan bahwasannya kriteria kualitas harus dijaga pada 1,5, 2, 2,5, karena akan mengalami perubahan urutan alternatif. Gambar 8 menunjukkan alternatif prioritas tertinggi dalam pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator dengan kriteria durasi troubleshooting menggunakan 0,01, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, 0,5, 1, 1,5, 2, 2,5 adalah perawatan berkala. Selanjutnya prioritas yang memiliki nilai tertinggi setelah perawatan berkala pada 0,01, 0,05, 0,1 adalah perawatan berbasis kondisi. Dan prioritas yang memiliki nilai tertinggi setelah perawatan berkala pada 2 adalah perawatan perbaikan. Namun, pada 0,02, 0,2, 0,5, 1, 1,5, 2,5 memiliki nilai yang Sehingga dapat disimpulkan bahwasannya kriteria durasi troubleshooting harus dijaga pada 0,02, 0,2, 0,5, 1, 1,5, 2,5, karena akan mengalami perubahan urutan alternatif. Gambar 6. Grafik analisis sensitivitas kriteria added value Gambar 7. Grafik analisis sensitivitas kriteria kualitas Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance Gambar 9 menunjukkan alternatif prioritas tertinggi dalam pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator dengan kriteria warehouse backup menggunakan 0,01, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, 0,5, 1, 1,5, 2, 2,5 adalah perawatan berkala. Selanjutnya prioritas yang memiliki nilai tertinggi setelah perawatan berkala pada 0,1, 2, 2,5 adalah perawatan berbasis kondisi. Dan prioritas yang memiliki nilai tertinggi setelah perawatan berkala pada 0,05 adalah perawatan perbaikan. Namun, pada 0,01, 0,02, 0,1, 0,2, 0,5, 1, 1,5 memiliki nilai yang sama. Sehingga dapat disimpulkan bahwasannya kriteria warehouse backup harus dijaga pada 0,02, 0,2, 0,5, 1, 1,5, 2,5, karena akan mengalami perubahan urutan alternatif. Gambar 10 menunjukkan alternatif prioritas tertinggi dalam pemilihan strategi pemeliharaan preventive maintenance pada excavator dengan kriteria penerapan prosedur pemeliharaan menggunakan 0,01, 0,02, 0,05, 0,1, 0,2, 0,5, 1, 1,5, 2, 2,5 adalah perawatan berkala. Selanjutnya prioritas yang memiliki nilai tertinggi setelah perawatan berkala pada 0,01, 0,02, 0,05, 0,2 adalah perawatan berbasis kondisi. Dan prioritas yang memiliki nilai tertinggi setelah perawatan berkala pada 2, 2,5 adalah perawatan perbaikan. Namun, pada 0,1, 0,2, 1, 1,5 memiliki nilai yang sama. Sehingga dapat disimpulkan bahwasannya kriteria penerapan prosedur pemeliharaan harus dijaga pada 2, 2,5, karena akan mengalami perubahan urutan alternatif (Setiawan et al. , 2. Gambar 8. Grafik analisis sensitivitas kriteria durasi troubleshooting Gambar 9. Grafik analisis sensitivitas kriteria warehouse Gambar 10. Grafik analisis sensitivitas kriteria penerapan prosedur pemeliharaan Journal of Integrated System (JIS) Vol. 6 No. 2 December 2023: 226-242 Sitinjak. and Silalahi. Analisis Strategi Pemeliharaan Preventive Maintenance Kesimpulan Berdasarkan tujuan penelitian serta hasil penelitian diatas, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Tterdapat tujuh kriteria dalam penelitian ini yaitu Biaya. Safety. Added Value. Kualitas. Durasi Troubleshooting. Warehouse Backup, dan Penerapan Prosedur Pemeliharaan. Berdasarkan perhitungan AHP terdapat nilai bobot prioritas dari setiap kriteria. Nilai bobotprioritas tertinggi menandakan kriteria tersebut memiliki tingkat kepentingan yang lebih besar. Dari perhitungan AHP nilai bobot prioritas dapat menentukan urutan kriteria dengan nilai kepentingan tertinggi dan terendah. Berikut merupakan urutan kriteria dari nilai yang tertinggi hingga yang terendah yaitu Safety dengan bobot sebesar 0,317. Kualitas sebesar 0,188. Penerapan Prosedur Pemeliharaan sebesar 0,128. Warehouse Backup sebesar 0,113. Biaya sebesar 0,099. Durasi Troubleshooting sebesar 0,092, dan Added Value sebesar 0,064. Pada penelitian ini terdapat tiga alternatif yang menjadi strategi pemeliharaan yang akan digunakan oleh perusahaan PT Toba Pulp Lestari. Tbk. Berdasarkan hasil perhitungan AHP maka dapat ditentukan alternatif yang paling tepat dan dapat digunakan sebagai alternatif dalam pemeliharaan excavator yaitu pemeliharaan Perawatan Berkala (Periodic Maintenanc. dengan persentase tertinggi sebesar 58,70%, kemudian urutan kedua yaitu pemeliharaan perawatan berbasis kondisi (Condition Base Maintenanc. dengan persentase sebesar 21,16%, dan urutan yang terakhir adalah pemeliharaan perawatan perbaikan (Schedule Overhau. dengan persentase sebesar 21,14%. Dari nilai bobot yang didapat, maka dapat diketahui bahwasannya pemeliharaan perawatan berkala (Periodic Maintenanc. adalah alternatif yang paling sesuai untuk dilakukan pemeliharaan pada excavator. Pada analisis sensitivitas didapatkan 2 kriteria yang dianggap sensitif terhadap perubahan bobot yang menyebabkan terjadinya perubahan urutan alternatif yaitu kriteria Safety dan kriteria Kualitas. Setelah diolah menggunakan metode Analisis Sensitivitas didapatkan urutan alternatif tertinggi yaitu alternatif Perawatan Berkala. Namun didapatkan 2 kriteria yang berpengaruh terhadap perubahan urutan alternatif yaitu kriteria Safety dan kriteria kualitas. Kriteria Safety dan kriteria kualitas apabila terjadi perubahan pada bobotnya maka alternatifnya berubah menjadi urutan pertama yaitu Perawatan Berkala (Periodic Maintenanc. , urutan kedua Perawatan Perbaikan (Schedule Overhau. dan urutan ketiga Perawatan Berbasis Kondisi (Condition Base Maintenanc. Untuk penelitian berikutnya, disarankan untuk melakukan analisis mendalam terkait implementasi perawatan berkala di PT. TPL serta melakukan model penilaian MCDM lainnya yang tidak hanya menggunakan judgement, tetapi juga kombinasi dengan perbandingan nilai kuantitatif. Daftar Pustaka