Jurnal Lintas Keperawatan e-ISSN : 2807-9280 Volume 6 Nomor 2 . Hubungan Self Efficacy dan Self Care Pasien ACS di RSUD Dr. Moewardi Husnul Khotimah Universitas AoAisyiyah Surakarta husnulkhotimah1996@aiska-university. ABSTRAK Acute Coronary Syndrome (ACS) merupakan kondisi kegawatdaruratan jantung yang tidak hanya memerlukan penanganan medis, tetapi juga keterlibatan aktif pasien dalam perawatan mandiri. Salah satu faktor psikologis yang berperan penting dalam mendukung self care adalah self efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dan self care pada pasien ACS di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel berjumlah 37 responden yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner self efficacy manajemen PJK dan kuesioner SC CHDI. Analisis data dilakukan menggunakan uji Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara self efficacy dan self care pada pasien ACS . = 0,463. p = 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat self efficacy pasien dalam mengelola penyakitnya, maka semakin baik pula self care yang dijalankan. Penelitian ini menegaskan pentingnya intervensi edukatif yang berfokus pada peningkatan self efficacy agar pasien mampu menjalankan self care secara optimal. Penelitian selanjutnya disarankan mengeksplorasi efektivitas intervensi jangka panjang yang dapat mendukung self efficacy dan self care secara menyeluruh. Kata Kunci: Self Efficacy. Self Care. ACS Copyright @20xx. JLK, https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK Jurnal Lintas Keperawatan e-ISSN : 2807-9280 Volume 6 Nomor 2 . ABSTRACT Acute Coronary Syndrome (ACS) is a cardiac emergency condition that requires not only medical treatment but also active patient involvement in self-care. One of the psychological factors that plays an important role in supporting self-care behavior is self-efficacy. This study aimed to determine the relationship between self-efficacy and self-care among ACS patients at Dr. Moewardi Regional Public Hospital. Surakarta. This research employed a quantitative method with a cross-sectional design. A total of 37 respondents were selected using consecutive sampling. The instruments used were the self-efficacy questionnaire for coronary heart disease management and the Self-Care of Coronary Heart Disease Inventory (SC-CHDI). Data were analyzed using the Pearson correlation test. The results showed a significant relationship between self-efficacy and self-care in ACS patients . = 0. p = 0. These findings indicate that the higher the level of self-efficacy a patient has in managing their illness, the better their self-care behavior. This study highlights the importance of educational interventions focused on enhancing patientsAo self-efficacy to improve optimal self-care. Future research is recommended to explore the long-term effectiveness of interventions that support both self-efficacy and self-care comprehensively. Keyword : Self Efficacy. Self Care. ACS Copyright @20xx. JLK, https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK Jurnal Lintas Keperawatan e-ISSN : 2807-9280 Volume 6 Nomor 2 . Pendahuluan Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang berkontribusi signifikan terhadap 74% angka (World Health Organization, 2. Berdasarkan laporan terbaru (American Heart Association, 2. , tercatat 506 kematian akibat PJK di Amerika Serikat pada tahun 2022. Selain itu, diperkirakan terjadi sekitar 805. 000 kasus serangan jantung setiap tahun, yang terdiri dari 605. 000 kasus baru 000 kasus berulang. Data (RISKESDAS, 2. , prevalensi PJK di Indonesia berdasarkan wawancara terdiagnosis dokter mencapai 0,5% dari total penyakit tidak menular. Provinsi dengan prevalensi tertinggi adalah Sulawesi Tengah . ,8%), diikuti DKI Jakarta. Sulawesi Utara, dan Aceh . ,7%), serta Sumatera Barat. Bangka Belitung. DIY, dan Sulawesi Selatan . ,6%). Jawa Tengah memiliki prevalensi sebesar 0,5%, dengan kasus angina pektoris tertinggi di Jepara sebanyak 643 kasus dan Surakarta berada di posisi kedua 597 kasus (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2. Acute Coronary Syndrome (ACS) merupakan kondisi yang terjadi ketika aliran darah ke jantung berkurang secara tiba-tiba yang menyebabkan kerusakan pada otot jantung. Penyumbatan ini disebabkan oleh pecahnya plak aterosklerotik di arteri koroner, yang terdiri dari lemak, kolesterol, dan zat lain. Pecahnya plak ini memicu pembekuan darah yang menghalangi aliran darah ke jantung. ACS meliputi tiga kondisi utama yaitu ST elevation myocardial infarction (STEMI), non-ST elevation myocardial infarction (NSTEMI) dan unstable angina pectoris (UAP). Ketiga kondisi ini disebabkan oleh penyumbatan pada arteri koroner dan memerlukan penanganan medis segera (Tsao, , 2. Kasus ACS secara global diperkirakan mencapai sekitar 7,1 juta kasus setiap tahunnya, dengan 30% merupakan STEMI, yang dikenal sebagai bentuk paling berat dari ACS (Nabovati dkk. , 2. Amerika Serikat, data tahun 2019 menunjukkan terdapat sekitar 673. 000 pasien yang keluar dari rumah sakit dengan diagnosis utama ACS, terdiri 000 kasus Myocardial Infarction (MI) dan 000 kasus UAP (Tsao dkk. , 2. Sementara itu, di Indonesia periode Juli 2018 hingga Juni 2019, 634 pasien dengan diagnosis ACS yang dirawat di 14 rumah sakit, sekitar 48,8% pasien terdiagnosis STEMI (Soesanto, 2. Selain itu, sebuah studi di RSUD Dr. Soetomo Surabaya tahun 2019 mencatat 623 kasus ACS, dengan distribusi 132 kasus STEMI, 43 kasus N-STEMI, dan 19 kasus UAP (Ikhsanuddin Qothi dkk. , 2. Keberhasilan jangka panjang pengelolaan ACS tidak hanya ditentukan oleh intervensi medis, tetapi juga sangat bergantung pada keterlibatan aktif pasien dalam perawatan diri secara mandiri (Didier Romain & Gilard Martine, 2. Salah satu faktor psikologis yang berperan penting dalam proses ini adalah self efficacy, yakni keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk melaksanakan tindakan guna mencapai hasil yang diinginkan dalam situasi tertentu (Bandura, 1. Temuan ini diperkuat oleh penelitian (Kerari et al. , 2. , yang menunjukkan bahwa partisipan Chronic Disease Self Management Program (CDSMP) mengalami peningkatan signifikan dalam tingkat self efficacy (F = 9. 80, p < 0. dan perilaku self management (F = 11. 17, p < 0. Menandakan bahwa intervensi berbasis peningkatan self efficacy mampu berkelanjutan dan efektif dalam pengelolaan penyakit kronis. Seiring dengan meningkatnya self efficacy, kemampuan individu untuk melakukan self care juga cenderung lebih baik. Self care merujuk pada kemampuan seseorang untuk merawat dirinya secara mandiri guna menjaga kesehatan, mengenali gejala, dan mengambil tindakan saat terjadi perubahan kondisi. Perilaku ini berperan penting dalam mengendalikan penyakit, meningkatkan kualitas hidup, menurunkan angka rawat inap dan kematian pasien (Riegel dkk. , 2. Studi yang dilakukan di Amerika Serikat. Italia, dan Swedia recognition terhadap pengambilan keputusan perawatan diri signifikan dengan nilai koefisien sebesar 0,098 di Amerika Serikat, 0,122 di Italia, dan 0,081 di Swedia . <0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin baik pasien menyadari gejala yang dialami, semakin tinggi pula kemampuannya untuk bertindak cepat dan tepat dalam mengelola kondisi kesehatannya (Riegel , 2. Penelitian ini berangkat dari hasil observasi dan studi awal yang dilakukan di Poli Jantung RSUD dr. Moewardi Surakarta, rumah sakit rujukan sekaligus pusat layanan jantung regional di Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan data rekam medis, pada Oktober 2023 tercatat sebanyak 125 pasien ACS. Copyright @20xx. JLK, https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK Jurnal Lintas Keperawatan e-ISSN : 2807-9280 Volume 6 Nomor 2 . Studi pendahuluan terhadap enam pasien ACS menunjukkan bahwa sebagian besar merasa kurang percaya diri terhadap proses penyembuhan dan belum sepenuhnya memahami langkah-langkah perawatan diri secara mandiri. Temuan ini menunjukkan adanya indikasi rendahnya keyakinan diri . elf efficac. dan perilaku perawatan diri . elf car. pada pasien ACS. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana hubungan antara self efficacy dan self care pada pasien ACS, sebagai dasar perencanaan intervensi keperawatan yang lebih efektif. dilakukan melalui pengisian kuesioner self efficacy dan self care oleh responden. Analisis data menggunakan SPSS. Uji normalitas Shapiro Wilk menunjukkan data berdistribusi normal, sehingga analisis hubungan antara self efficacy dan self care menggunakan uji Pearson. Hasil uji menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara kedua variabel, dengan nilai korelasi Pearson sebesar r = 0,463 dan nilai signifikansi p=0,04 . <0. Menunjukkan bahwa semakin tinggi self efficacy yang dimiliki pasien, maka semakin baik pula perilaku self care yang dilakukan. Metode Hasil Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self efficacy dan self care pada pasien dengan ACS. Data penelitian ini menggunakan data sekunder hasil penelitian sebelumnya yang telah dilaksanakan April hingga Mei 2024 di Poliklinik Jantung RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien ACS yang menjalani rawat jalan di Poliklinik Jantung RSUD Dr. Moewardi. Sampel terdiri dari 37 Teknik menggunakan consecutive sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien dengan diagnosis ACS, dengan atau tanpa komorbiditas seperti DM, hipertensi, dislipidemia, atau penyakit ginjal kronis, yang menjalani rawat jalan di Poliklinik Jantung RSUD Dr. Moewardi. Pasien dalam keadaan sadar, mampu berkomunikasi, melihat, mendengar, membaca, dan menulis, berusia di atas 19 tahun, serta didampingi keluarga. Sementara itu, kriteria eksklusi meliputi pasien dengan kondisi klinis yang memburuk atau tidak stabil, serta pasien yang datang tanpa pendamping Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua kuesioner utama. Variabel self efficacy diukur menggunakan kuesioner self efficacy Manajemen PJK yang dikembangkan oleh (Utami et al. , 2. , dengan nilai reliabilitas berkisar antara 0,73 hingga 0,95. Sementara itu, variabel self care diukur menggunakan kuesioner Self Care of Coronary Heart Disease Inventory (SC CHDI) yang dikembangkan oleh (QurAoRohman. , dengan validitas dan nilai CronbachAos alpha sebesar 0,926. Penyajian menggunakan tabel. Prosedur pengumpulan data Penelitian ini melibatkan 37 responden dengan ACS. Hasil penelitian menyajikan data mengenai karakteristik responden, tingkat self efficacy, self care pasien ACS, serta hubungan antara keduanya. Karakteristik responden berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan keberadaan penyakit penyerta. Distribusi data karakteristik responden disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik Responden Pasien ACS di RSUD dr. Moewardi Kategori Frekuensi Persentase (%) . Usia Dewasa . Pra lansia . Lansia (>. Laki laki Perempuan SD/SMP SMA Ada Tidak ada Jenis Kelamin Pendidikan Penyakit Penyerta Copyright @20xx. JLK, https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK Jurnal Lintas Keperawatan e-ISSN : 2807-9280 Volume 6 Nomor 2 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kelompok usia lansia (>60 tahu. sebanyak 54,1%. Sejalan dengan penelitian oleh (Wahyuni et al. , 2. yang menyatakan bahwa prevalensi kejadian ACS meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada usia di atas 60 Proses aterosklerosis menjadikan lansia kelompok yang rentan terhadap ACS. Sebagian besar responden berjenis kelamin lakilaki 73%. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Sulastri dkk, 2. yang menyatakan bahwa lakilaki memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung koroner dibandingkan perempuan dikaitkan dengan faktor hormonal, gaya hidup, serta tingginya prevalensi merokok dan stres kerja pada laki-laki yang dapat menjadi faktor risiko ACS. Berdasarkan tingkat pendidikan, responden dengan pendidikan terakhir SMA mendominasi 45,9%. Pendidikan mempengaruhi pemahaman individu terhadap pencegahan dan pengelolaan penyakit, termasuk dalam pengambilan keputusan Kesehatan. Individu dengan pendidikan rendah cenderung memiliki keterbatasan dalam memahami informasi medis. Dukungan edukatif menjadi sangat penting dilakukan. Menurut (Sulastri dkk. intervensi edukasi kesehatan terbukti dapat meningkatkan self-efficacy dan kemampuan self care pada pasien ACS, sehingga sangat membantu terutama bagi pasien dengan latar belakang pendidikan menengah ke bawah. Sebanyak 37,8% responden dalam penelitian ini memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, dislipidemia dan diabetes. Penyakit penyerta dapat mempersulit pengelolaan mandiri, menurunkan self efficacy, dan berdampak negatif pada perilaku self care pasien ACS. (Sugiharto et al. , 2. menyatakan bahwa semakin banyak penyakit yang diderita, semakin rendah keyakinan dan kemampuan pasien dalam merawat dirinya secara Tabel 2. Gambaran Self Efficacy Pasien ACS di RSUD dr. Moewardi Gambaran Self Frekuensi Persentase Efficacy . (%) mencerminkan bahwa hampir separuh pasien belum sepenuhnya memiliki kepercayaan diri dalam mengelola kondisi kardiovaskular secara mandiri. Menurut (Bandura 1. , tingkatan self efficacy dipengaruhi beberapa faktor seperti pendidikan, dukungan emosional, pengalaman sebelumnya dalam menghadapi penyakit, serta akses terhadap informasi kesehatan. Keterbatasan pada salah satu faktor tersebut dapat menyebabkan pasien merasa kurang mampu dan ragu dalam mengambil keputusan terkait pengobatan dan perubahan gaya Sejalan dengan penelitian (Wu dkk. , 2. yang melibatkan 389 pasien penyakit jantung, menunjukkan bahwa pengetahuan tentang penyakit signifikan berpengaruh terhadap tingkat self efficacy pasien, dengan nilai = 0,081 dan p < 0,001. Menunjukkan bahwa semakin tinggi pemahaman pasien mengenai penyakit yang dideritanya, maka semakin besar pula keyakinan mereka dalam menjalankan self care secara optimal. Studi tersebut juga menegaskan hubungan kuat akses informasi kesehatan, dukungan sosial . ukungan emosiona. , dan self efficacy, di mana dukungan emosional dapat memediasi pengetahuan dan perawatan diri. Pasien memiliki akses informasi yang baik dan dukungan emosional dari keluarga atau lingkungan sosial, lebih percaya diri mengelola kesehatannya secara mandiri. Temuan tersebut memperkuat faktor eksternal berperan penting meningkatkan self efficacy pasien ACS. Tabel 3. Gambaran Self Care Pasien ACS di RSUD dr. Moewardi Gambaran Self Frekuensi Persentase Care . (%) Baik Kurang Baik Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien ACS di RSUD Dr. Moewardi memiliki gambaran self care yang baik, yaitu sebesar 62,1%. Sementara itu, sebanyak 37,9% responden masih memiliki self care yang kurang baik. Temuan ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh pasien sudah memiliki kemampuan cukup baik dalam merawat diri, termasuk dalam mengatur pola Baik makan, mengonsumsi obat secara teratur, menghindari faktor risiko, dan memantau kondisi Kurang Baik kesehatannya secara mandiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien Proporsi pasien self care kurang baik masih ACS memiliki tingkat self efficacy yang baik 54%, cukup signifikan, menunjukkan terdapat kelompok sementara 45,9% kurang baik. Kondisi ini pasien yang membutuhkan pendampingan lebih Copyright @20xx. JLK, https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK Jurnal Lintas Keperawatan e-ISSN : 2807-9280 Volume 6 Nomor 2 . Menurut teori Self-Care Deficit Dorothea Orem, ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor utama yaitu keterbatasan pengetahuan, rendahnya motivasi, keterbatasan fisik, masalah kognitif/mental, ketergantungan pada orang lain, kurangnya dukungan sosial/emosional dan lingkungan tidak mendukung dalam menjalankan perawatan kesehatan. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian (Zahra dkk. , 2. , yang menunjukkan pengaruh signifikan antara motivasi dan manajemen perawatan diri pada pasien leukemia . = 0. Semakin tinggi tingkat motivasi pasien, maka semakin baik pula kemampuan mereka dalam melakukan self care. Menurut perspektif Orem, motivasi merupakan komponen penting dalam mendukung individu untuk secara aktif terlibat dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar, menjaga Selain itu, penelitian oleh (Hellqvist. , 2. juga menegaskan pentingnya dukungan sosial, terutama dari pasangan atau keluarga, dalam mendukung perawatan diri pasien dengan penyakit kronis seperti Parkinson. Partisipasi dalam program self management yang melibatkan pasien dan pendamping meningkatkan kemampuan self care, yang ditunjukkan dengan peningkatan skor self management dan perubahan pola pikir pasien agar tidak dikendalikan oleh penyakit. Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara intervensi dukungan dan peningkatan strategi manajemen diri dengan nilai p < 0. Temuan ini sejalan dengan konsep supportive-educative system dalam teori Orem, yang menekankan pentingnya peran lingkungan sosial dalam meningkatkan kapasitas perawatan diri pasien. Tabel 4. Hubungan Self Efficacy dan Self Care Pasien ACS di RSUD dr. Moewardi Variabel Koefisien Korelasi Self Efficacy Self Care Hasil hubungan yang bermakna antara Self Efficacy dan Self Care pasien ACS di RSUD Dr. Moewardi ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,463 dan nilai p = 0,04. Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat self efficacy pasien, maka semakin baik pula perilaku self care nya. Pembahasan Pasien ACS yang memiliki tingkat self efficacy yang tinggi cenderung memiliki motivasi dan kepercayaan diri yang lebih besar untuk menjalani pola hidup sehat, mengelola gejala secara mandiri, mematuhi regimen pengobatan, serta mengatasi tantangan fisik maupun psikologis yang berkaitan dengan penyakit jantung. Self efficacy tidak hanya berdiri sebagai faktor psikologis, tetapi merupakan indikator kunci yang dapat memengaruhi keberhasilan pasien dalam menjalankan perawatan Peningkatan self efficacy dapat menjadi fokus utama dalam intervensi edukatif untuk mendukung penguatan perilaku self care. Temuan ini sejalan dengan studi (Wahyuni & Ramayani. , 2. yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara self efficacy dan self care pasien DM tipe 2 dengan nilai r = 0. 713 dan p = 0. Penelitian ini menegaskan bahwa pasien yang memiliki tingkat self efficacy yang lebih tinggi cenderung mampu menjalankan self care dengan lebih baik, seperti menjaga pola makan, melakukan aktivitas fisik, mengontrol kadar gula darah, merawat kaki, dan minum obat secara teratur. Sejalan dengan penelitian oleh (Tharek et al. di Malaysia juga memperkuat bukti adanya hubungan signifikan antara self efficacy dan self care behaviour pada pasien dengan DM tipe 2. Studi ini menggunakan pendekatan crosectional dengan melibatkan 340 pasien dan menemukan bahwa self efficacy memiliki korelasi positif sedang dengan perilaku self care . = 0. 538, p < 0. Menunjukkan bahwa pasien yang memiliki tingkat keyakinan diri yang lebih tinggi dalam mengelola penyakitnya cenderung lebih konsisten dalam melakukan self care mandiri, seperti menjaga pola makan, berolahraga, dan mengontrol gula darah. Hubungan antara self efficacy dan self care pada pasien ACS dapat dipahami sebagai proses psikologis dan perilaku yang saling mendukung. Self efficacy, sebagai keyakinan pasien atas kemampuannya sendiri, membantu mereka menjadi lebih proaktif, mandiri, dan disiplin dalam merawat Pasien dengan self efficacy tinggi tidak hanya lebih bersemangat mematuhi regimen pengobatan, tetapi juga lebih berani menghadapi kecemasan akan kekambuhan, aktif mencari informasi kesehatan, dan lebih teratur menjaga pola makan serta aktivitas fisik sesuai anjuran. Self efficacy juga memampukan pasien untuk melampaui hambatan internal seperti rasa takut Copyright @20xx. JLK, https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK Jurnal Lintas Keperawatan e-ISSN : 2807-9280 Volume 6 Nomor 2 . gagal atau keraguan terhadap kemampuan tubuh Keyakinan ini menumbuhkan sikap optimis dan tanggung jawab, sehingga perilaku self care dipandang bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan diri. Sebaliknya, pasien dengan self efficacy rendah cenderung merasa cepat menyerah, kurang percaya diri, dan berpikir bahwa upaya perawatan diri tidak akan banyak membantu kondisi mereka. Akibatnya, perilaku self care seperti kontrol rutin, pengaturan pola makan, pengendalian stres, dan kepatuhan minum obat pun menjadi kurang optimal. Menyadari peran penting self efficacy tersebut, maka self efficacy perlu menjadi fokus utama dalam intervensi keperawatan. Perawat dan tenaga kesehatan lainnya dapat merancang program edukatif dan suportif yang tidak hanya memberikan informasi medis, tetapi juga membangun kepercayaan diri pasien, memotivasi mereka untuk merawat diri, serta membekali pasien dengan keterampilan mengatasi gejala dan stres. Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan perilaku self care, tetapi juga menurunkan angka komplikasi, mengurangi angka kekambuhan, dan pada akhirnya memperbaiki kualitas hidup pasien ACS secara Simpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara self efficacy dan self care pasien ACS di RSUD Dr. Moewardi. Semakin tinggi tingkat self efficacy pasien dalam mengelola penyakitnya, maka semakin baik pula perilaku self care yang dijalankan. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi efektivitas intervensi berbasis peningkatan self efficacy dan self care dalam jangka panjang, serta mempertimbangkan berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi keberhasilan self efficacy dan self care secara menyeluruh. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan terima kasih kepada RSUD Dr. Moewardi Surakarta atas perizinan yang telah diberikan selama proses pengumpulan data. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh responden yang telah bersedia meluangkan waktu untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Penulis turut mengucapkan terima kasih kepada Universitas AoAisyiyah Surakarta atas dukungan yang diberikan dalam pelaksanaan penelitian. Referensi