EFEKTIVITAS MEDIA TANAM DARI LIMBAH AMPAS TAHU DAN BLOTONG KERING TERHADAP PRODUKSI JAMUR TIRAM PUTIH (PLEUROTUS OSTREATUS) Ias Marroha Doli Siregar. Christian Yosua Salomo Aritonang. Program Studi Teknologi Tanaman Perkebunan. Jurusan Teknik Sipil. Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang. Indonesia email: ias. doli@polsri. Abstrak Media tanam merupakan faktor penting dalam proses budidaya jamur tiram. Keberhasilan produksi jamur tiram salah satunya ditentukan oleh jenis media yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media tanam dari blotong kering dan ampas tahu terhadap panjang buah, diameter payung, panen kumulatif dan berat basah jamur tiram. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan petak utama ampas tahu terdiri atas kontrol. A1 . g/baglo. A2 . g/baglo. A3 . g/baglo. , serta anak petak blotong kering terdiri atas kontrol. B1 . g/baglo. B2 . g/baglo. B3 . g/baglo. dengan berat 1000 g/baglog dan setiap perlakuan diulangi tiga kali. Adapun parameter yang diamati dalam penelitian ini antara lain panjang badan buah, diameter payung, berat basah dan panen kumulatif. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan anova dua arah. Perlakuan yang berpengaruh dilakukan uji lanjut dengan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Perlakuan penambahan ampas tahu pada media tanam jamur tiram berpengaruh nyata terhadap diameter payung, berat basah, dan panen kumulatif. Akan tetapi tidak berpenmgaruh nyata terhadap panjang badan buah. Perlakuan penambahan blotong kering berpengaruh nyata terhadap panen kumulatif dan berat basah jamur tiram, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap panjang bandan dan diameter buah jamur tiram. Interaksi perlakuan ampas tahu dan blotong kering berpengaruh nyata terhadap diameter payung buah dan berat basah. Perlakuan terbaik untuk pertumbuhan dan produksi jamur tiram yaitu A1 B3 . mpas tahu100 g/baglog dan blotong kering 30 g/baglo. Kata kunci: Diameter Buah. Panjang Buah. Panen Kumulatif Abstract Planting media is an important factor in the process of cultivating oyster mushrooms. The success of oyster mushroom production is determined by the type of media used. This research aims to determine the effect of planting media from dried filter cake and tofu dregs on fruit length, umbrella diameter, cumulative harvest and wet weight of oyster mushrooms. This research used a Divided Plot Design (RPT) with the main plot of tofu dregs consisting of control. A1 . g/baglo. A2 . g/baglo. A3 . g/baglo. , and a subplot of dried filter cake consisting of control . B1 . g/baglo. B2 . g/baglo. B3 . g/baglo. with a weight of 1000 g/baglog and each treatment was repeated three times. The parameters observed in this research include fruit body length, umbrella diameter, wet weight and cumulative harvest. The data obtained were analyzed using two-way ANOVA. Treatments that had an effect were further tested using the Duncan Multiple Range Test (DMRT). The treatment of adding tofu dregs to the oyster mushroom growing medium had a significant effect on umbrella diameter, wet weight and cumulative harvest. However, it does not have a real effect on the length of the fruit body. The treatment of adding dry filter cake had a significant effect on the cumulative harvest and wet weight of oyster mushrooms, but had no significant effect on bandan length and diameter of oyster mushroom fruit. The interaction between tofu dregs and dried filter cake had a significant effect on fruit umbrella diameter and wet weight. The best treatment for the growth and production of oyster mushrooms is A1 B3 . ofu dregs 100 g/baglog and dried filter cake 30 g/baglo. Keywords: Fruit Diameter. Fruit Length. Cumulative Harvest PENDAHULUAN P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. No. 1, 2024 Siregar, 2024 Jamur tiram (Pleurotus ostreatu. merupakan organisme multiseluler yang berbentuk pipih, berwarna putih dan dapat dikonsumsi oleh semua masyarakat di berbagai dunia. Jamur tiram menjadi salah satu sumber bahan makanan yang cukup baik bagi kesehatan karena memiliki nutrisi yang lengkap. Kandungan gizi jamur tiram antara lain protein, lemak, mineral, karbohidrat, vitamin serta mengandung kurang lebih 100 senyawa bioaktif yang berpotensi menjadi sumber serat pangan (Hoa et al. , 2. Jamur tiram juga mengandung asam amino esensial dan non esensial antara lain alanin, arginin, aspartat, glisin, glutamat, prolin, serin, fenilalanin, histidin, isoleusin, leusin, lisin, thereonin dan valin (Siregar et al. ,s 2. Kandungan gizi yang lengkap pada jamur tiram memberikan manfaat bagi kesehatan yaitu meningkatkan sirkulasi darah, menurunkan resiko anemia, penyakit jantung, anti-tumor, antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, hipoglikemik, hiperlipidemia, sifat hipotensi dan diabetes (Boadu et al. , 2. (Kristensen and Jensen, 2. (Heng et al. , 2. , (Rybia et al. , 2. , (Wang et al. , 2. Kesadaran masyarakat mengkonsumsi makanan yang bergizi dan sehat meningkat dari tahun ke tahun, sehingga berpengaruh terhadap peningkatan permintaan terhadap jamur tiram. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen terhadap jamur tiram, maka banyak pembudidaya meningkatkan jumlah produksi jamur tersebut. Jamur tiram telah dibudidayakan dalam skala besar dengan memanfaatkan media tanam dari limbah industri pertanian, teknik produksi sederhana serta biaya yang relatif murah (Lakshmanan et al. , 2. Secara global, jumlah limbah yang dihasilkan dari sektor pertanian mencapai 998 juta ton setiap tahunnya, limbah tersebut antara lain jerami padi, gandum dan sereal (Raman et al. , 2. Selain itu, limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai media tanam budidaya jamur yaitu ampas tebu, serbuk gergaji, tongkol jagung, dan sekam Beberapa penelitian yang telah memanfaatakan limbah pertanian untuk media budidaya jamur tiram antara lain limbah serbuk gergaji (Boadu et al. , 2. (Hultberg et al. , 2. limbah kapas (Fozia et al. , 2. sabut kelapa (Purnomo et al. , 2. , jerami gandum dan jerami padi (Yang et al. , 2. limbah daun pohon kurma (Alananbeh et al. , 2. , limbah cair pabrik gula (Kazankaya, 2. , limbah daun zaitun dan daun the hijau (Fayssal, 2. , kompos ampas tahu dan serbuk gergaji kayu sengon (Erlinda et al. , 2. , ampas tebu dan sabut kelapa (Restuani and Setyo, 2. , kombinasi limbah daun Euclea racemosa dan Cordia africana serta serbuk gergaji (Argaw et al. , 2. kombinasi kokopet dan serbuk gergaji (Rambey et al. , 2. Secara umum bahan utama yang paling banyak digunakan untuk media budidaya jamur tiram putih di Indonesia adalah serbuk gergaji dan bahan tambahan lainnya. Penggunaan bahan tambahan lainnya dalam media tanam jamur tiram berperan sebagai nutrisi pelengkap serta untuk memudahkan pembentukan baglog. Bahan tambahan media yang dapat digunakan antara lain blotong kering dan ampas tahu. Blotong atau filter cake merupakan limbah yang berasal dari industri pengolahan gula. Komposisi kandungan unsur hara blotong yaitu abu. SiO2. CaO. P2O5 dan MgO yang sangat baik untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman (Kasmadi et al, 2. Selain blotong kering, media tanam untuk budidaya jamur tiram juga dapat berasal dari limbah ampas tahu. Ampas tahu merupakan limbah dari proses pembuatan tahu yang berbentuk padatan. Limbah ampas tahu sangat mudah diperoleh dengan harga yang sangat relatif murah karena sampai saat ini ampas tahu tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Ampas tahu mengandung nitrogen (N), fosforus (P), kalium (K), magnesium (M. , kalsium (C. , besi (F. dan karbon (C) organik (Pertiwi and Sembiring, 2. P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. No. 1, 2024 Siregar, 2024 Penelitian kombinasi dari limbah ampas tahu dan blotong kering sebagai media tanam jamur tiram masih sangat terbatas, sehingga penelitian ini penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media tanam dari blotong kering dan ampas tahu terhadap panjang buah, diameter payung, panen kumulatif dan berat basah jamur tiram. BAHAN DAN METODE 1 Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain cangkul, terpal, ayakan pasir, timbangan, skop, pinset, kumbung, dan alat sterilisasi. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain bibit jamur tiram putih F2, blotong kering, ampas tahu, serbuk gergaji, alkohol 96%, plastik polipropilen, dan 2 Metode Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan petak utama ampas tahu terdiri atas kontrol. A1 . g/baglo. A2 . g/baglo. A3 . g/baglo. , serta anak petak blotong kering terdiri atas kontrol. B1 . g/baglo. B2 . g/baglo. B3 . g/baglo. dengan berat 1000 g/baglog dan setiap perlakuan diulangi tiga kali. Prosedur Kerja Pencampuran serbuk kayu gergaji dengan ampas tahu, blotong kering, kapur dan gips sesuai perlakuan yang sudah ditentukan untuk mendapatkan komposisi media yang merata dengan kadar air berkisar 60% difermentasikan selama satu malam kemudian di cetak dalam bentuk baglog dan Selanjutnya proses inokulasi di ruangan steril dengan bibit F2 lanjut tahap inkubasi kemudian dipindahkan ke kumbung. Parameter Pengamatan Adapun parameter yang diamati dalam penelitia ini antara lain panjang badan buah, diameter payung, berat basah dan panen kumulatif. Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan anova dua arah. Perlakuan yang berpengaruh dilakukan uji lanjut dengan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). HASIL DAN PEMBAHASAN Panjang Badan Buah Pengukuran panjang badan buah dilakukan dari pangkal batang tempat keluarnya tangkai sampai ujung payung dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran dilakukan pada saat jamur di Hasil pengukuran panjang badan buah jamur tiram putih pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1. Pada Tabel. 1 menunjukkan bahwa perlakuan penambahan ampas tahu berpengaruh tidak nyata terhadap panjang badan buah jamur tiram. Panjang badan buah jamur tiram terpanjang diperoleh pada perlakuan A1 yaitu 4. 71 cm. Sedangkan panjang badan buah terpendek diperoleh pada perlakuan A3 yaitu 4. 54 cm. Perlakuan penambahan blotong kering berpengaruh tidak nyata terhadap panjang badan buah jamur tiram. Panjang badan buah paling pendek diperoleh pada perlakuan B3 yaitu 4. 56 cm, sedangkan panjang badan terpanjang diperoleh pada perlakuan B1 68 cm. Interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap panjang badan buah P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. No. 1, 2024 Siregar, 2024 jamur tiram. Interaksi panjang badan buah terpanjang diperoleh pada perlakuan A1B1 . mpas tahu 100g/beklok dan blotong kering 10 g/beklo. 88 cm, sedangkan panjang badan buah terpendek diperoleh pada perlakuan A2B2 . mpas tahu 200g/beklok dan blotong kering 20g/beklo. 53 cm. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Sulistyowati and Wibowo . menyatakan bahwa perlakuan penambahan ampas tahu sebesar 0%, 10%, 20%, 30% dan 40% tidak berpengaruh nyata terhadap panjang badan jamur tiram. Diameter Payung Jamur Tiram Pengukuran diameter payung dilakukan menggunakan jangka sorong dengan cara mengukur kedua belah sisi yang berlawanan kemudian hasilnya dirata-ratakan. Pengukuran dilakukan pada saat jamur di panen. Hasil pengukuran diameter payung jamur tiram dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan analisis statistik ternyata perlakuan ampas tahu dan interaksi berpengaruh sangat nyata terhadap diameter jamur tiram, namun pada perlakuan blotong kering tidak berpengaruh Pada Tabel 2 menunjukkan bahwa diameter jamur tiram putih terpanjang pada perlakuan ampas tahu diperoleh pada perlakuan A1 . g/beklo. yaitu 8,61 cm, sedangkan diameter jamur tiram terendah diperoleh pada perlakuan A0 . g/beklo. yaitu 8,04 cm. Pengaruh perlakuan blotong kering terhadap diameter jamur tiram diperoleh rataan paling rendah pada perlakuan B3 . g/beklo. 29 cm. Sedangkan rataan paling tinggi B1 . g/beklo. yaitu 8,39 cm. Interaksi kedua perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap diameter jamur tiram putih. Interaksi diameter jamur tiram putih terpendek diperoleh pada perlakuan A0B0 . mpas tahu 0g/beklok dan blotong kering 0 g/beklo. 85 cm. Sedangkan diameter jamur tiram putih terpanjang diperoleh pada perlakuan A1B1 . mpas tahu 100g/beklok dan blotong kering 10g/beklo. yaitu 8,88 cm. Hal ini diduga bahwa blotong kering mampu menyediakan nutrient yang cukup namun pada takaran yang tinggi terjadi penurunan hasil. Selain itu pemberian blotong sampai tingkat tertentu akan dapat mensuplai nutrien. Hal ini didukung oleh Rati Riyati dan Sri Sumarsih . yang menyatakan bahwa pemberian blotong kering semakin meningkat mengakibatkan turunnya kandungan total lignoselulosa yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jamur, secara fisiologis lignoselulosa dibutuhkan jamur tiram sebagai sumber karbon gunanya sebagai penyusun sel pada jamur tersebut. Panen Komulatif Jamur Tiram Putih Pengukuran frekuensi panen dilakukan dengan cara menghitung berapa kali kemampuan panen yang dapat dilakukan kombinasi perlakuan dan komulatif hasil panen pertama sampai panen keempat, pengamatan dilakukan pada seluruh beklok dengan menggunakan satuan gram. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan ampas, blotong kering dan interaksi berpengaruh sangat nyata terhadap panen komulatif jamur tiram putih. Pada Tabel 3. menunjukkan bahwa panen komulatif jamur tiram putih tertinggi pada perlakuan ampas tahu diperoleh pada perlakuan A1 . g/beklo. 29g, sedangkan diameter jamur tiram terendah diperoleh pada perlakuan A0 . g/beklo. Untuk perlakuan blotong kering terhadap panen komulatif jamur tiram putih diperoleh rataan paling rendah pada perlakuan B0 . g/beklo. 26 g sedangkan rataan paling tinggi B2 . g/beklo. 19 g. Interaksi paling tinggi terdapat pada A1B3. mpas tahu 100g/beklok dan blotong kering 30g/beklo. dengan nilai 149. 55 g. sedangkan untuk yang paling rendah terdapat pada kombinasi perlakuan A0B0 . mpas tahu 0g/beklok dan blotong kering 0g/beklo. yaitu 106,92 g. 4 Berat Basah P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. No. 1, 2024 Siregar, 2024 Pengukuran berat basah dilakukan pada waktu penen dengan menimbang setiap hasil panen/beklok, pengamatan dilakukan pada waktu panen 1-5. Dari hasil pengamatan dan analisis statistik semua data dari penen 1-5 representatif untuk disajikan namun disini data panen 5 yang di sajikan disebabkan karena ini merupakan data terakhir. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan ampas, blotong kering dan interaksi berpengaruh sangat nyata terhadap berat basah jamur tiram putih. Pada Tabel 4. menunjukkan bahwa berat basah jamur tiram putih tertinggi pada perlakuan ampas tahu diperoleh pada perlakuan A1 . g/beklo. 97 g, sedangkan diameter jamur tiram terendah diperoleh pada perlakuan A0 . g/beklo. Untuk perlakuan blotong kering terhadap diameter jamur tiram putih diperoleh rataan paling rendah pada perlakuan B0 . g/beklo. 26 g sedangkan rataan paling tinggi B2 . g/beklo. Interaksi paling tinggi terdapat pada A1B3 dengan nilai 136. 94 g, sedangkan untuk yang paling rendah terdapat pada kombinasi perlakuan A0B0 yaitu 100. 14 g. SIMPULAN Perlakuan penambahan ampas tahu pada media tanam jamur tiram berpengaruh nyata terhadap diameter payung, berat basah, dan panen kumulatif. Akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap panjang badan buah. Perlakuan penambahan blotong kering berpengaruh nyata terhadap panen kumulatif dan berat basah jamur tiram, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap panjang badan dan diameter buah jamur tiram. Interaksi perlakuan ampas tahu dan blotong kering berpengaruh nyata terhadap diameter payung buah dan berat basah. Perlakuan terbaik untuk pertumbuhan dan produksi jamur tiram yaitu A1 B3 . mpas tahu100 g/beklok dan blotong kering 30 g/beklo. DAFTAR PUSTAKA