JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 65-73 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 Hubungan Kualitas Tidur dengan Tingkat Kecemasan Dokter Muda di Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta The Relationship Between Sleep Quality With Anxiety Level Clinical Clerkship Students of The Medical Faculty Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Abdul Wahid Adnan A1. Mila Citrawati2 1 Medical Faculty. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Indonesia 2 Department of Physiology. Medical Faculty. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Indonesia Corresponding author : w. adnan28@gmail. KATA KUNCI kualitas tidur, mahasiswa kepaniteraan klinik, tingkat kecemasan KEYWORDS anxiety level, clinical clerkship students, sleep quality ABSTRAK Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi lingkungan, kondisi tubuh, aktivitas fisik, dan gaya hidup. Mahasiswa kedokteran lebih cenderung menderita kualitas tidur yang buruk dibandingkan dengan mahasiswa lainnya. Kualitas tidur yang buruk dapat dikaitkan dengan masalah emosional seperti kecemasan. Mahasiswa kepaniteraan klinik merupakan saah satu populasi yang rentan terhadap kualitas tidur yang buruk dan terjadinya kecemasan. Namun, penelitian terkait masih minim ditemukan. Desain penelitian ini berupa deskriptif anaitik dengan pendekatan cross sectiona. Kualitas tidur pada responden akan dinilai menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sedangkan tingkat kecemasan pada responden dinilai menggunakan kuesioner Beck Anxiety Inventory (BAI). Partisipan daam penelitian ini sebanyak 10 orang dengan usia rata-rata 22,63 tahun. Mayoritas responden adaah perempuan, atau 78 . %). Kualitas tidur sebagian besar responden adaah baik yaitu sebanyak 61 . ,7%) orang. Tingkat kecemasan yang dialami mayoritas responden berada daam kategori rendah yaitu sebanyak 94 . ,4%) Terdapat hubungan yang signifikan . = 0,. antara kualitas tidur dan tingkat kecemasan dengan kekuatan korelasi lemah dan arah korelasi positif . = 0,. ABSTRACT Sleep quality can be influenced by various factors such as environmental conditions, body conditions, physical activity, and lifestyle. Medica students are more likely to suffer from poor sleep quality than other JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 65-73 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 Poor sleep quality can be linked to emotional problems such as Clinical clerkship students are one of the populations that are vulnerable to poor sleep quality and the occurrence of anxiety. However, related research is still lacking. The design of this study is a descriptive analysis with a cross-cutting approach. Respondents' sleep quality is assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire, and respondentAos anxiety levels are assessed using the Beck Anxiety Scale (BAI) questionnaire. Respondents in this study amounted to 104 people with an average age of 22. 63 years. The majority of respondents are female, as many as 78 . %) people. The sleep quality of most of the respondents was good, as many as 61 . 7%) people. The level of anxiety experienced by the majority of respondents was in the low category as many as 94 . 4%) people. There was a significant relationship . = 0. between sleep quality and anxiety level with a weak correlation strength and a positive correlation direction . = 0. PENDAHULUAN Tidur Kebutuhan fisiologis manusia bersifat alamiah dan keadaan kesadaran. Hal tersebut ditandai dengan gangguan kognisi dan respon terhadap stimulus. Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi lingkungan, kondisi tubuh, aktivitas fisik, dan gaya Kualitas tidur mencakup aspek kuantitatif dan kualitatif termasuk aspek subjektif seperti waktu tidur, waktu onset tidur, frekuensi bangun, dan kedalaman dan kedalaman (Fitri, 2. Kualitas tidur yang berkonsentrasi, membuat keputusan, dan aktivitas sehari-hari. Selain itu, proses belajar, gangguan memori, dan terpengaruh (Ghawa, 2. Mahasiswa kedokteran lebih cenderung menderita kualitas tidur yang buruk dibandingkan dengan mahasiswa lainnya. Kualitas tidur yang buruk sering terjadi di kalangan mahasiswa kedokteran, terutama Di Eropa dan Amerika bisa berdampak negatif pada kemampuan akademik, kesehatan fisik dan mental, serta kualitas kehidupan mahasiswa. Kualitas tidur yang buruk dapat dikaitkan dengan masalah emosional seperti stres, depresi, dan kecemasan, beban kerja studi berat seperti jadwal yang padat, silabus yang luas, berbagai pelatihan klinis, dan beban akademik yang berat, serta tekanan ekonomi (Rao et al. , 2. Sebuah penelitian menunjukkan terjadinya perubahan pola tidur dan penggunaan perangkat elektronik yang meningkat pada malam hari sebelum Masyarakat yang menghabiskan banyak waktu di tempat tidur cenderung mempunyai kualitas tidur Orang dengan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi menunjukkan lebih banyak masalah tidur, seperti kualitas tidur yang buruk (Marelli et al. , 2. Kecemasan adalah respons total Setiap JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 65-73 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 pengalaman dari kecemasan melibatkan persepsi bahaya, pikiran tentang bahaya, dan proses alarm fisiologis. Perilaku menunjukkan upaya darurat menuju Aufight or flightAy. Orang dengan gangguan kecemasan biasanya memiliki pikiran dan kekhawatiran mengganggu yang mengganggu berulang yang dapat menghindari situasi tertentu. Gejala umum termasuk berkeringat, tremor, pusing atau peningkatan detak jantung (Perrotta, 2. Sekitar 264 juta orang di seluruh dunia menderita gangguan kecemasan, dengan prevalensi sebesar 3,6% menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2015. Sementara itu, prevalensi gangguan kecemasan di Indonesia adalah sebesar 3,3% (WHO. Suatu penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan Sebesar 93,1% mahasiwa kedokteran memiliki kualitas tidur yang Sementara itu, terdapat 80,2% mahasiwa kedokteran Universitas Nusa Cendana yang mengalami kecemasan (Ghawa, 2. Beberapa penelitian lain juga menunjukkan hasil yang serupa. Penelitian Wina . menyatakan terdapat hubungan bermakna . =0,. antara kualitas tidur dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang. Berdasarkan hasil penelitian Fitriansyah . diperoleh bahwa 43,48% mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani memiliki kualitas tidur yang buruk. Kualitas tidur dengan tingkat kecemasan mahasiswa memiliki hubungan yang bermakna . <0,. Frekuensi ditemukan pada 76 mahasiswa . ,7%). Terdapat hubungan signifikan . =0,. antara kualitas tidur dan tingkat kecemasan mahasiswa ujian CBT pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Umum Universitas Malahayati (Lestari et. , 2. Kecemasan hiperarousal yang disebabkan oleh disregulasi sistem neurotransmitter termasuk kolinergik dan mekanisme erik gamma-aminobutyric acid (GABA). Hiperarousal gangguan reaktivitas afektif dan Studi tindih antara pengaruh genetik pada insomnia, depresi, dan kecemasan (Oh et al. , 2. Mahasiwa kepaniteraan klinik merupakan salah satu populasi yang rentan terhadap kualitas tidur yang buruk dan terjadinya kecemasan. Berdasarkan disebutkan bahwa 65,32% mahasiswa kepaniteraan klinik mengalami kualitas tidur yang buruk. Hal ini tentu dapat berdampak pada tingkat kecemasan yang dialami mahasiswa (Fitri, 2. Namun, penelitian terkait masih minim Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan tingkat kecemasan pada medical trainees Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. METODE Penelitian ini merupakan jenis observasional dan desain cross-sectional untuk mengetahui hubungan antara JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 65-73 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 kecemasan yang dilakukan pada satu waktu yang sama untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa kepaniteraan klinik FK Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta di RSPAD Gatot Subroto periode Maret 2022 yang berjumlah 117 orang. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode probabilistic sampling yang menggunakan metode simple random Ini pengambilan sampel di mana sampel dipilih secara acak untuk mewakili populasi yang ada. Sampel minimal didapatkan sebanyak 82 orang. Dengan mempertimbangan kemungkinan drop out . cu 10%) sampel penelitian sehingga tidak mengurangi jumlah sampel minimal, maka jumlah sampel yang diperlukan menjadi total 90 orang. Pengolahan data terjadi setelah pengumpulan data. Selain itu, data yang dikumpulkan akan diproses oleh program statistik untuk pemrosesan dan anaisis data. Pemrosesan data melibatkan empat langkah termasuk pengeditan, enkripsi, entri data, dan Setelah melaui keempat langkah tersebut, data akan dianalisis menggunakan teknik komputerisasi. Analisis univariat dilakukan masing-masing digunakan dalam penelitian ini. , yaitu karakteristik responden, variabel bebas berupa kualitas tidur, dan variabel terikat berupa tingkat kecemasan. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat, yaitu kecemasan responden. Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji korelasi Spearman. HASIL Responden dalam penelitian ini berjumlah 104 orang. Rata-rata usia responden adalah 22,63 tahun. Usia minimal adalah 21 tahun sedangkan usia maksimal adalah 26 tahun. Usia 22 tahun merupakan mayoritas responden yaitu sebanyak 52 . ,0%) orang. Mayoritas perempuan, atau 78 . %). Tingkat kecemasan sebagian besar responden adalah 94 . ,4%) dalam kategori Kualitas tidur sebagian besar responden adalah baik yaitu sebanyak 61 . ,7%) orang. Hasil karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. 1 Karakteristik responden Variabel Usia . in-mak. 21 tahun 22 tahun 23 tahun 24 tahun 25 tahun 26 tahun Jenis Kelamin Laki-laki n (%) 22,63 . JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 65-73 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 Perempuan Tingkat Kecemasan Rendah Sedang Berat Kualitas Tidur Baik Buruk Mayoritas responden dalam penelitian ini memiliki kualitas tidur yang baik dengan tingkat kecemasan yang rendah. Analisis bivariat dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman pada Tabel 4. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan . = 0,. antara kualitas tidur dan tingkat kecemasan dengan kekuatan korelasi lemah dan arah korelasi positif . = 0,. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin baik kualitas tidur maka semakin rendah tingkat kecemasan yang dialami. Tabel 4. 2 Hasil analisis bivariat Tingkat Kecemasan Total Rendah Sedang Berat Kualitas Tidur Baik PEMBAHASAN Salah satu kelompok yang rentan terhadap kualitas tidur yang buruk dan kepaniteraan klinik. Suatu penelitian sekitar 65% mahasiswa kepaniteraan klinik mengalami kualitas tidur yang buruk yang dapat berdampak pada tingkat kecemasan yang dialami oleh (Fitri. Jumlah populasi penelitian ini adalah 117, sebanyak 117 kepaniteraan klinis di RSPAD Gatot Subroto Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Pada penelitian ini didapatkan Buruk Total 0,009 0,254 rata-rata usia responden adalah 22,63 Sebagian besar responden dalam Hal ini serupa dengan studi sebelumnya yang sebagian besar respondennya juga berjenis kelamin perempuan dengan jumlah keseluruhan mencapai sekitar enam belas ribu orang (Shen et al. , 2020. Penelitian lainnya juga menyebutkan hal yang serupa, yaitu sebagian besar responden dalam penelitian tersebut berjenis kelamin perempuan sebanyak 57,8% (Gould et , 2018. Salah satu kebutuhan fisiologis manusia yang terjadi secara alami dan JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 65-73 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 keadaan kesadaran adalah tidur, yang ditandai dengan kesadaran dan respon terhadap stimulus yang mengalami Terdapat berbagai faktor yang memengaruhi kualitas tidur yang meliputi kondisi lingkungan, kondisi tubuh, aktivitas fisik, dan gaya hidup (Fitri, 2. Ada dua aspek kualitas tidur meliputi aspek kuantitatif dan kualitatif tidur seperti durasi tidur, waktu untuk tertidur, frekuensi bangun, dan aspek subjektif seperti kedalaman dan kedalaman tidur. (Fitri, 2. Buruknya kualitas tidur seseorang memiliki berkonsentrasi, membuat keputusan, dan aktivitas sehari-hari yang menurun. Proses belajar, gangguan memori, dan dipengaruhi oleh kualitas tidur (Ghawa. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa pada mahasiswa kedokteran ditemukan kecenderungan memiliki kualitas tidur yang buruk mahasiswa lainnya. Buruknya kualitas kedokteran seringkali terjadi khususnya di benua Eropa dan Amerika. Kualitas tidur yang buruk tersebut dapat memberikan dampak yang negatif pada kemampuan akademik, kesehatan fisik dan mental, serta kualitas kehidupan Selain itu, permasalahan tersebut juga dihubungkan dengan masalah emosional, seperti stres, diakibatkan oleh adanya beban kerja studi berat yang meliputi jadwal yang padat, silabus yang luas, berbagai pelatihan klinis, dan beban akademik yang berat, serta tekanan ekonomi (Rao et al. , 2. Kecemasan merupakan respons secara keseluruhan seseorang terhadap Kecemasan melibatkan persepsi bahaya, pikiran tentang bahaya, dan proses alarm fisiologis. Kecemasan disertai perilaku yang menunjukkan upaya darurat yang mengarah pada Aufight or flightAy. Pada umumnya, seseorang yang memiliki pemikiran atau kekhawatiran yang mengganggu secara berulang dan dapat menghindari situasi tertentu akibat pemikiran dan kekhawatiran tersebut (Perrotta, 2. Gejala-gejala yang umum terjadi pada seseorang dengan gangguan gemetar, pusing atau detak jantung yang cepat (Perrotta, 2. Dua ratus enam puluh empat juta orang di seluruh Prevalensinya adalah 3,6 % menurut data World Health Organization (WHO) Di Indonesia, prevalensi gangguan kecemasan diperkirakan mencapai 3,3%. (WHO, 2. Hubungan antara kualitas tidur melibatkan mekanisme kualitas tidur yang buruk terhadap inhibisi korteks prefrontal media yang merupakan area fungsional amigdala dalam mengatur emosi, salah satunya kecemasan Hipersomnia merupakan gangguan tidur yang mempengaruhi kualitas tidur mahasiswa kedokteran, menurut penelitian sebelumnya. Selain itu, insomnia menyebabkan sejumlah mempengaruhi sebagian besar siswa. Penurunan kualitas tidur dikaitkan kecemasan, yang dapat disebabkan oleh JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 65-73 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 berbagai penyebab termasuk faktor sosial, ekonomi, dan sosiodemografi. Ketika IPK mahasiswa menurun, dengan setidaknya satu masalah tidur dilaporkan meningkat secara signifikan (Yassin et al. , 2. Model mediasi mengungkapkan bahwa efek gabungan kecemasan dan depresi pada keparahan insomnia dimediasi oleh perilaku tidur yang Menimbang bahwa ciri esensial dikondisikan yang dipengaruhi oleh upaya disfungsional untuk tidur dan insomnia menjadi cemas dan frustrasi karena gejala insomnia menetap. Mediator PSQI mencakup masalah tidur umum termasuk latensi tidur. dan efisiensi tidur. dan faktor-faktor yang mengganggu tidur, seperti nokturia, masalah pernapasan malam hari, nyeri, merasa terlalu panas atau dingin, penggunaan obat tidur, dan disfungsi siang hari. Bahkan tanpa insomnia, hampir semua komponen ini terkait dengan gejala somatik depresi, dan lebih dari separuh pasien dengan keluhan somatik tersebut. Pengamatan ini sesuai dengan temuan analisis mediasi kami: depresi dan kecemasan memiliki hubungan tidak langsung dengan tingkat keparahan insomnia dan gejala somatik terkait tidur yang buruk, yang pada gilirannya memperburuk keparahan insomnia (Crawley et al. Proses di balik keterkaitan kualitas tidur dan kecemasan masih belum diketahui. Selain itu, kurang tidur dapat membawa berbagai hasil neurobehavioral yang merugikan dan perubahan fisiologis, seperti kurangnya perhatian, depresi, gangguan toleransi glukosa, dan aktivasi sistem saraf Perubahan kualitas tidur ini dapat bermanifestasi sebagai timbulnya penyakit mental, termasuk kecemasan. Namun cross-sectional, hubungan sebab akibat antara kualitas tidur dan kecemasan, dan mekanisme yang tepat perlu dipelajari (Gould et al. Shen et al. , 2020. KESIMPULAN Terdapat signifikan antara kualitas tidur dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa kepaniteraan klinik FK Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Diperlukan penelitian lanjutan dengan meningkatkan jumlah sampel penelitian atau melibatkan variabel lain sehingga didapatkan hasil yang lebih komprehensif untuk menunjang data sehingga dapat dirumuskan kebijakan penurunan tingkat kecemasan di KEPUSTAKAAN