Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 51-57 Available online at: http://e-jurnal. org/index. php/JSMI Jurnal Sistem dan Manajemen Industri ISSN (Prin. 2580-2887 ISSN (Onlin. 2580-2895 Usulan Penerapan Total Productive Maintenance pada Transfer Conveyor 17A Sahrupi Sahrupi*. Juriantoro Juriantoro Program Studi Teknik Industri. Fakultas Teknik. Universitas Serang Raya. Jalan Raya Serang. Cilegon KM. 5 Taman Drangong. Kota Serang. Banten 42116 Indonesia ARTICLE INFORMATION A B S T R A K Article history: Kuantitas dan kualitas batubara mempengaruhi efisiensi unit pembangkit, maka dari itu pemanfaatan Transfer Conveyor 17A sangat perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar . unit pembangkit PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Suralaya. Transfer conveyor adalah elemen tambahan dalam suatu rangkaian belt conveyor yang berfungsi untuk menyalurkan batubara dari unloading area sampai coal bunker . ower plan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai OEE Transfer Conveyor 17A yang digunakan sebagai dasar usulan perbaikan berdasarkan nilai terendah dari ketiga parameter dalam OEE. Konsep penelitian mengadopsi metode OEE dengan nilai quality diasumsikan 97,50 % dikarenakan peralatan yang menjadi objek penelitian tidak menghasilkan produk. Hasil dari perhitungan diperoleh nilai OEE sebesar 82,98 % dengan rasio Availibility 86,76% Performance Eficiency 98,09 % dan Rate of Quality sebesar 97,50%. Perlu diadakan tindakan perawatan yang terencana untuk menghindarkan kerusakan mesin yang tidak terprediksi seperti, operator melakukan pengecekan mesin sebelum mesin tersebut dioperasikan, memberikan pelatihan secara berkala kepada para operator dan maintenance untuk meningkatkan kemampuan mereka. Received: March 19, 2018 Revised: April 25, 2018 Accepted: July 27, 2018 Kata Kunci: Maintenance Overall Equipment Effectivenes Transfer Conveyor 17A A B S T R A C T Keywords: Maintenance Overall Equipment Effectivenes Transfer Conveyor 17A *Corresponding Author Sahrupi Sahrupi E-mail: sahrupi@gmail. The quantity and quality of coal affects the efficiency of the generating unit, therefore the utilization of Transfer Conveyor 17A is very necessary to fulfill the fuel requirement . of PT Indonesia Power Unit Generation Unit Suralaya. Transfer conveyor is an additional element in a conveyor belt circuit that serves to channel coal from unloading area until coal bunker . ower This study aims to find out the value of OEE Transfer Conveyor 17A which is used as the basis of proposed improvement based on the lowest value of the three parameters in OEE. The concept of research adopting OEE method with the value of quality is assumed 97,50% because the equipment that becomes the object of research does not produce the product. The result of calculation obtained by OEE value equal to 82,98% with ratio Availability 86,76% Performance Eficiency 98,09% and Rate of Quality 97,50%. planned maintenance action is required to avoid unpredictable engine damage such as the operator checking the machine before it is operated, providing periodic training to operators and maintenance to improve their A 2018 Penerbit UNSERA. All rights reserved PENDAHULUAN Sistem penanganan batubara (Coal Handling Syste. di PLTU Suralaya adalah suatu proses untuk menyalurkan Energi Primer . untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar Unit Pembangkit Belt Conveyor. Untuk menjaga ketersediaan bahan bakar PLTU, diperlukan kuantitas dan kualitas batubara pada proses penyaluran energi primer secara efektif dan efisien. Belt conveyor di dalam Coal handling system merupakan Sahrupi dan Juriantoro DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 51-57 peralatan yang sangat vital dan berfungsi untuk mentransmisikan batubara dari unloading area (Intake Hoppe. sampai Coal bunker . ower plan. , beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dengan Belt Conveyor yaitu meminimalisasi biaya dan waktu saat memindahkan batubara, meningkatkan efisiensi pemindahan material, dan meningkatkan kondisi lingkungan kerja. Kuantitas dan kualitas batubara mempengaruhi efisiensi pada Unit Pembangkit. Di PT. Indonesia Power pembongkaran dari Dermaga 2 & 3 hanya dapat disalurkan pengisian langsung ke Unit 1 s/d 7 serta stacking hanya melalui ST/RE 02. Bila kondisi level bunker dan stock ST/RE 02 penuh maka proses pembongkaran terhenti. Total Productive Maintenance (TPM) adalah pemeliharaan peralatan dari aspek pemeriksaan, perbaikan kecil sampai perbaikan yang terencana yang melibatkan semua personel yang . , . Pelaksanaan TPM membutuhkan kerjasama semua pihak yang terkait, terutama bagian produksi dan maintenance . Kegiatan TPM lebih menekankan peran operator dalam melakukan identifikasi dan perbaikan ringan sebelum terjadi kerusakan yang lebih fatal. TPM menggambarkan hubungan sinergis di antara semua fungsi organisasi, terutama bagian produksi, dan pemeliharaan untuk peningkatan operasional, produktivitas, dan keselamatan . TPM menfokuskan manajemen pemeliharaan dalam menghilangkan downtime peralatan. TPM membantu pemeliharaan peralatan dalam mencapai tingkat produktif yang maksimal melalui kerjasama dari semua bidang fungsional dari sebuah organisasi . Metode yang digunakan untuk mengukur kegiatan TPM adalah Overall Equipment Effectiveness (OEE). OEE adalah suatu alat ukur yang digunakan untuk mengevaluasi dan memperbaiki atau meningkatkan produktivitas peralatan . OEE dapat digunakan untuk mengukur kinerja peralatan secara berkala sehingga memudahkan dalam rencana perbaikan jika terjadi penurunan kinerja . OEE mempertimbangkan inisiatif peningkatan optimalisasi peralatan dalam proses produksi, menggabungkan alat dan teknik manajemen untuk mencapai keseimbangan ketersediaan DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. proses, kinerja dan kualitas . OEE berfokus pada waste . aktu yang terbuang ketika mesin tidak bekerj. , dan pada in-efisiensi dalam proses manufaktur . Selain itu. OEE dapat digunakan sebagai indikator peningkatan proses dan sebagai pendekatan untuk mencapainya seperti peningkatan proses di bidang manufaktur . OEE digunakan sebagai dasar penggerak kinerja bisnis perusahaan yang berkonsentrasi pada kualitas, produktivitas, dan masalah pemanfaatan mesin untuk mengurangi kegiatankegiatan yang tidak bernilai tambah dalam proses bisnis perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai OEE Transfer Conveyor 17A yang digunakan sebagai dasar usulan perbaikan berdasarkan nilai terendah dari ketiga parameter dalam OEE. Usulan perbaikan ini diharapkan sebagai dasar keputusan manajemen dalam mengoptimalkan Transfer Conveyor peningkatan nilai OEE di masa mendatang. METODE PENELITIAN Penelitian pengamatan objek penelitian di lapangan yaitu transfer conveyor 17A. Pengumpulan data dilakukan baik secara langsung maupun tidak Beberapa data yang dibutuhkan dalam proses analisis adalah : waktu operasi conveyor 17A, loading time, set up dan downtime. Data bersumber dari Laporan Harian pengoperasian Transfer Conveyor 17 A. Laporan Pembongkaran Batu Bara dari Dermaga 1. Dermaga 2, dan SPOJ selama bulan Agustus 2016. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan OEE yang terdiri dari faktor Availability. Performance, dan Quality. Tahap selanjutnya dilakukan analisis akar penyebab masalah dengan melakukan brainstorming terhadap permasalahan tersebut, kemudian dituangkan dalam fishbone diagram untuk dibuat usulan Usulan perbaikan untuk meningkatkan efektivitas Transfer Conveyor 17A dilakukan dengan melakukan sejumlah perbaikan terhadap beberapa akar penyebab masalah dengan menggunakan tabel 5W 1H serta usulan perbaikan untuk menjaga konsistensi dalam pemeliharaan Transfer Conveyor 17A melalui pendekatan TPM. Penelitian ini mengadopsi penelitian yang dilakukan tanpa memperhatikan nilai quality dengan asumsi peralatan yang diteliti tidak bisa menghasilkan produk . Dalam penelitian ini Sahrupi dan Juriantoro Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 51-57 kualitas produk diasumsikan 97,50% dengan asumsi ada batubara yang tidak keluar jalur karena vibrasi conveyor. Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah metrik kuantitatif yang digunakan dalam industri untuk mengontrol dan memantau produktivitas peralatan produksi serta sebagai indikator dan penggerak proses dan peningkatan kinerja . Metrik ini telah diterima secara luas sebagai alat kuantitatif yang penting untuk pengukuran produktivitas dalam operasi manufaktur . Dalam konsep ini. OEE dapat mengukur kinerja, mengidentifikasi peluang pengembangan, dan fokus dalam upaya peningkatan yang terkait dengan peralatan atau pemanfaatan proses . , tingkat operasional . dan kualitas . OEE memiliki standar 90 persen ketersediaan, 95 persen efisiensi kinerja, dan 99 persen tingkat kualitas . Secara keseluruhan, 85 persen benchmark OEE dianggap sebagai kinerja kelas dunia . Ukuran OEE memberikan dorongan kuat untuk meningkatkan nilai OEE pada program TPM Availability adalah perbandingan antara aktual waktu mesin memproduksi dengan jumlah waktu yang dijadwalkan untuk produksi . Faktor penting dalam elemen availability adalah loading Loading time dapat didefinisikan sebagai total loading time setelah pengurangan untuk downtime yang terjadi . Downtime yang terjadi dapat disebabkan oleh kegagalan peralatan, waktu tunggu, listrik padam, atau yang lainnya yang menyebabkan peralatan tidak . Performance adalah perbandingan antara kemampuan mesin aktual dengan kemampuan mesin yang ditetapkan. Performance akan dipengaruhi oleh umur peralatan, beban kerja peralatan, dan faktor lain yang dapat menurunkan performance peralatan. memonitoring masalah kualitas dalam proses Dalam penelitian ini, nilai quality dianggap 97,50% dengan asumsi bahan bakar yang keluar karena vibrasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Transfer conveyor adalah suatu elemen tambahan dalam suatu rangkaian belt conveyor. Di PLTU Suralaya ada salah satu transfer conveyor yang diberi nama Transfer conveyor 17 Mayoritas pembongkaran batubara mulai tahun 2015 dilakukan di Dermaga 2,dengan kapal yang memiliki kapasitas 30. 000 ton s/d 000 ton. Proses pembongkaran dari Dermaga 2 tidak bisa dilakukan stacking ke area Unit Coal Handling 1 Ae 4 yang melalui Telescopic Chute 07 / 08 dan ST/RE 01, dikarenakan tidak ada line Conveyor yang mengakomodir proses tersebut. Yang dapat dilakukan dari Dermaga 2 ke Unit 1 Ae 4 hanya melalui proses pengisian langsung ke Unit Power Plant. Dengan demikian maka ada opsi untuk melakukan Tapping Discharge Chute BC 17A ke BC 05 & BC 06. Oleh karena itu untuk melakukan Project agar efektif dan efisien maka dilakukan Tapping Conveyor dari BC 17A ke BC 05 dan BC 06 Coal Handling yang disebut dengan Transfer Transfer Conveyor BC 17A adalah tapping saluran discharge chute BC 17A yang diarahkan ke BC 05 dan BC 06. BC 17A adalah line conveyor pembongkaran dari Dermaga 2 & 3 yang hanya bisa disalurkan langsung ke pengisian bunker Unit 1-4. Belt Conveyor 05 & Belt Conveyor 06 adalah line conveyor pembongkaran dari Dermaga 1 & SPOJ yang bisa disalurkan ke pengisian langsung Unit 1-4. Stacking melalui ST/RE 01. Stacking melalui Telescopic Chute 08 (BC 07/. Quality merupakan kemampuan peralatan dalam menghasilkan produk, yaitu perbandingan antara jumlah produk yang memenuhi standar kualitas dengan jumlah produk yang diproduksi . Formula Sahrupi dan Juriantoro Gambar 2. Transfer Conveyor 17A DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 51-57 Overall Equipment Effectiveness (OEE) Berdasarkan data, diketahui pada tanggal 14 dan 16 Agustus terjadi downtime yang beroperasi sesuai dengan tabel 1. Perhitungan nilai OEE berdasarkan data operasi transfer conveyor selama bulan Agustus 2016. Tabel 1. Data Loading dan Downtime Transfer Conveyor 17A No. Tanggal Total Loading Time (Meni. Operation Time (Meni. Set Up (Meni. Breakdown (Meni. Tabel 2. Data Spesifikasi Transfer Conveyor 17A DATA SPESIFIKASI TRANSFER CONVEYOR 17 Lebar Belt Idlear Pitch Carrier . arak roll ata. Diameter Idlear Carier Panjang Idlear Carier Jumlah Idlear Carier . Buah Kemiringan Idlear Carier Idlear Pitch Return . arak roll bawa. Diameter Idlear Return Panjang Idlear Return Jumlah Idlear Return . Kemiringan Idlear return Kapasitas Belt ton/jam Kecepatan 3,14 Handling Distance . 105,19 Handling Distance . Diameter Pulley Driven Motor . Jumlah Putaran Pulley Permenit Putaran DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Sahrupi dan Juriantoro Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 51-57 Berdasarkan data di atas maka diperoleh nilai avaibility, performance dan quality. Nilai ini yang digunakan untuk menentukan Nilai OEE. Nilai availability untuk transfer conveyor pada periode bulan Agustus 2016 adalah tidak ideal, karena nilai availability . ,76 %) di bawah 90%. Rendahnya nilai availability diakibatkan tingginya nilai downtime karena adanya breakdown yaitu pada tanggal 14 dan 16 Agustus 2016. Secara keseluruhan di bulan Agustus diperoleh nilai OEE sebesar 82,99%. Perlu dilakukan perbaikan nilai OEE agar bisa mendekati atau sama dengan OEE dunia sebesar 85%. Dari ketiga parameter yang ada, nilai avaibilty yang perlu mendapat perhatian lebih dikarenakan adanya breakdown selama 2 hari yang menyebabkan transfer conveyor 17 A tidak Cause-and-Effect Diagram Metode Mesin Manusia Motor Vibrasi Belum Ada SOP Kurang Disiplin Impact Idlear Panas Sparepart Tidak Ada Material Break Air Hujan Lingkungan Gambar 2. Fishbone Diagram Penyebab Breakdown Tingkat quality untuk transfer conveyor pada periode bulan Agustus 2016 diasumsikan sebesar 97,50 %. 2,5% dianggap scrap sebagai batu bara yang tidak terangkut oleh transfer conveyor 17 A karena conveyor mengalami gangguan . Setelah nilai Availability. Performance dan Quality pada alat transfer conveyor diketahui, selanjutnya dilakukan perhitungan OEE (Overall Equipment Effectivenes. untuk mengtahui seberapa besar tingkat efektivitas dalam penggunaan alat transfer conveyor 17 A. Langkah selanjutnya adalah menganalisa penyebab breakdown dengan menggunakan diagram sebab akibat. Gambar 2 menunjukkan proses yang menghambat pengoperasian transfer conveyor 17A. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalkan permasalahan antara lain: Faktor lingkungan : cuaca alam seperti angin kencang tidak dapat dihindari karena faktor alam, akan tetapi untuk hujan deras bisa diatasi dengan penutupan dengan atap area belt conveyor. Faktor . mengakibatkan terjadinya vibrasi. Operator sebagai orang pertama yang mengontrol peralatan harus dibekali ilmu tentang vibrasi agar bisa mengetahui lebih dini tanda Ae tanda vibrasi,sehingga semakin parah atau besar tingkat nilai Untuk impact idlear yang panas karena anjlok, operator dibekali keahlian atau melaksanakan First Line Maintenance (FLM). Faktor manusia kurang teliti, maka diberikan peralatan,pencatatan parameter Ae parameter yang dibutuhkan dan pelatihan pengoperasian tentang transfer conveyor 17A. Sahrupi dan Juriantoro DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Tingkat Performance Efficiency untuk transfer conveyor 17A pada periode bulan Agustus 2016 adalah ideal,karena nilai Performance Efficiency . 09 %). Untuk nilai Performance Efficiency masih ideal karena transfer conveyor 17A merupakan peralatan baru di Penyaluran Energi Primer. Dalam pengambilan data hanya terdapat selisih satu putaran dalam satu menit. Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 51-57 Faktor metode kerja yang belum standar pengoperasian (SOP) sehingga aman untuk Faktor material seperti perbaikan motor vibrasi yang lama, karena sparepart motor tidak ada bisa diatasi dengan penyetokan sparepart,dalam hal ini divisi gudang atau pengadaan yang bertanggung jawab. proses perbaikan dapat dilakukan tepat Safety Health Environment, ketentuan dari perusahaan yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja, dimana setiap pegawai diwajibkan untuk mengenakan alat pelindung diri saat memasuki area kerja. Konsep delapan pilar TPM dapat diterapkan untuk meminimalkan kejadian breakdown. Penerapan pilar TPM dapat dilakukan seperti 5S dapat dilakukan pembersihan dan pelumasan komponen conveyor secara rutin dan terjadwal. Autonomous maintenance, merupakan proses pemeliharaan yang dilakukan secara mandiri oleh operator dengan tujuan agar operator permasalahanpermasalahan yang sifatnya sederhana dan engineering dalam proses perbaikannya. Kaizen, merupakan segala upaya perbaikan yang dilakukan agar kinerja conveyor 17 A dapat berjalan sesuai dengan harapan serta mencegah terjadinya masalah serupa. Adapun implementasi dari proses kaizen pengendalian pemeliharaan transfer conveyor baik secara manual maupun otomatis. Planned Maintenance, sebagai upaya yang dilakukan untuk menjaga agar transfer conveyor 17 A tidak mengalami masalah selama proses berlangsung, kegiatan ini juga dilakukan untuk mendeteksi potensi-potensi masalah pada peralatan conveyor 17 A. Beberapa tindakan Planned Maintenance diantaranya adalah pemeriksaan alat secara menyeluruh, melakukan pembersihan, dan pelumasan dan penggantian komponen . pare par. Quality Maintenance, tindakan yang dilakukan untuk memastikan kinerja alat masih sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan, seperti komponen dan menggantinya dan melakukan proses pemeriksaan secara rutin. Training . elatihan ruti. , dilakukan untuk meningkatkan skill operator dalam melakukan pemeliharaan transfer conveyor 17 A. Office, segala permasalahan yang ditemukan harus dicatat serta didokumentasikan agar KESIMPULAN DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Pengukuran tingkat efektivitas transfer conveyor 17A dengan menggunakan metode OEE selama periode Agustus 2016 diperoleh nilai OEE sebesar 82,93%. Langkah perbaikan yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya breakdown adalah operator melakukan pengecekan mesin sebelum mesin tersebut dioperasikan, sehingga dapat meminimalkan potensi kerusakan mesin. Memberikan pelatihan secara berkala kepada meningkatkan kemampuan mereka. Penelitian ini penjadwalan preventive maintenance dan optimalisasi autonomous maintenance untuk meminimalkan breakdown yang terjadi. DAFTAR PUSTAKA