Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 DOI http://dx. org/10. 36722/sh. Tasybih sebagai Retorika Representasi Imajinatif pada Diwan Qaalat Lii As-Samra karya Nizar Qabbani: Kajian Ilmu Bayan Arinal Faiz Al-Fadhil1*. Akmaliyah1. Resa Restu Pauji1 Bahasa dan Sastra Arab. Fakultas Adab dan Humaniora. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Jalan A. H Nasution No 105. Cipadung. Kec. Cibiru. Kota Bandung. Prov. Jawa Barat, 40614. Penulis untuk Korespondensi/E-mail: arinalf212@gmail. Abstract - Tasybih, as one of the central rhetorical devices in Arabic balaghah, plays an important role in creating linguistic beauty and clarifying meaning in Arabic literary works, especially poetry. This diwan was selected as the object of study because it is one of QabbaniAos early poetry collections that contains many figurative expressions, yet it has not been widely examined from the perspective of Tasybih through an Ilm al-Bayan approach. This study aims to analyze the types and functions of Tasybih in Diwan Qaalat Lii as-SamraAo by Nizar Qabbani based on the framework of Ilm al-Bayan. This research employs a descriptive qualitative method with a rhetorical . The data consist of poetic verses containing Tasybih found in the diwan. Data were collected through observation and note-taking techniques, while analysis was conducted using immediate constituent analysis, translational techniques, and deletion techniques to identify the structure, types, and functions of Tasybih more precisely. The findings show that several types appear, including Tasybih mursal, muAoakkad, mufashshal, baligh, and shimni. Their functions include explaining possibility, describing the state of the Musyabbah, strengthening or weakening its image, and clarifying poetic imagery in the text. This study contributes to Ilm al-Bayan scholarship and Arabic poetry. Abstrak - Tasybih sebagai salah satu perangkat retorika utama dalam balaghah Arab memiliki peran penting dalam menciptakan keindahan bahasa serta memperjelas makna dalam karya sastra Arab, khususnya puisi. Diwan ini dipilih sebagai objek penelitian karena merupakan salah satu kumpulan puisi awal karya Qabbani yang kaya akan ungkapan figuratif, namun belum banyak dikaji secara khusus dari perspektif tasybih dengan pendekatan Ilm al-Bayan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenisjenis dan fungsi tasybih dalam Diwan Qaalat Lii as-SamraAo karya Nizar Qabbani berdasarkan kerangka Ilm al-Bayan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan retorika . Data penelitian berupa bait-bait puisi yang mengandung tasybih dalam diwan tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi dan pencatatan, sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis unsur langsung, teknik translasi, dan teknik delesi untuk mengidentifikasi struktur, jenis, serta fungsi tasybih secara lebih mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa jenis tasybih, yaitu tasybih mursal, muAoakkad, mufashshal, baligh, dan shimni. Fungsi tasybih dalam diwan ini meliputi menjelaskan kemungkinan, menggambarkan keadaan Musyabbah, memperkuat atau melemahkan citraannya, serta memperjelas gambaran puitis dalam teks. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian Ilm al-Bayan dan kajian puisi Arab. Keywords - Balaghah. Ilm al-Bayan. Nizar Qabbani. Qaalat Lii as-Samr. Tasybih. PENDAHULUAN ahasa Arab sebagai bahasa asing di Indonesia menempati posisi yang strategis, terutama bagi umat muslim di Indonesia. Hal ini bukan saja karena Bahasa Arab digunakan dalam ritual keagamaan seperti sholat, khutbah jumAoat, doAoa dan lain sebagainya, namun juga sebagai bahasa ilmu Received: 30 January 2026. Accepted: 12 March 2026. Published: 31 March 2026 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 pengetahuan serta bahasa pergaulan internasional (Hanun & Herizal, 2. Bahasa memiliki peran yang sangat penting karena menjadi sarana utama bagi pengarang untuk mengekspresikan ide dan emosi secara kreatif. Keindahan karya sastra banyak ditentukan oleh kemampuan pengarang dalam memilih dan mengolah Bahasa (Septyastawa & Widiasih, 2. Keistimewaan bahasa Arab dengan struktur yang kokoh dan ungkapan yang indah tercermin dalam karya-karya sastranya yang memukau, menghadirkan keindahan bahasa yang memadukan kekuatan makna dan kehalusan rasa (Kasmiati, 2. Karya sastra merupakan hasil kreativitas dan cipta manusia yang dituangkan melalui bahasa sebagai media utama untuk mengungkapkan gagasan, perasaan, pengalaman, serta pandangan hidup. Pengarang dapat merefleksikan gagasan, perasaan dan pandangannya tentang kehidupan melalui bahasa yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan karya yang indah, bermakna dan bernilai (Salwa et al. , 2. Melalui bahasa, dapat digali makna, maksud, ataupun tujuan yang terdapat dalam karya sastra. Karena bahasa merupakan sarana ekspresi yang digunakan seseorang untuk menyampaikan maksud yang ada dalam pikirannya (Ilmi, 2. Syair adalah bentuk karya sastra yang memiliki posisi penting dalam khazanah kesusastraan, baik di dunia maupun dalam tradisi sastra Arab. Puisi identik dengan penggunaan kata-kata dan pemilihan kata yang indah, dalam tatanan bentuk penulisannya yang disertai dengan gaya bahasa yang bervariasi seperti penggunaan kiasan, majas, dan lain-lain dalam menyampaikan pesan di dalamnya (Karim. Dalam kesusasteraan Arab, syaAoir memiliki suatu keindahan yang khas ditunjukkan para penulis syairnya, tidak hanya terletak pada pemilihan kata, diksi dan kalimat, namun juga pada gaya bahasa bahkan unsur-unsur ekstrinsik yang menjadikan puisi Arab memiliki daya tarik yang kuat (Munfarida et al. , 2. Syair merupakan bentuk karya sastra yang identik dengan penggunaan bahasa yang indah dan pilihan kata yang bernilai estetis tinggi. Dalam menyampaikan pesan, penyair sering memanfaatkan berbagai macam gaya bahasa seperti Tasybih . , untuk memperkuat keindahan dan kedalaman makna. Keindahan bahasa serta kepadatan makna yang terkandung di dalam syair sering kali menimbulkan tantangan tersendiri bagi pembaca dalam memahami pesan yang ingin disampaikan penyair (Nurbayan & Zaenuddin. Dalam tradisi keilmuan Arab, pembahasan mengenai gaya bahasa terhimpun dalam disiplin yang disebut Aoilm al-balaghah, yaitu ilmu yang mengkaji keindahan pengungkapan bahasa dari berbagai aspek. Ilmu balaghah sendiri terbagi menjadi tiga cabang utama, yakni Aoilm al-maAoani yang membahas struktur dan konteks kalimat. Aoilm al-bayan yang mengkaji kejelasan makna melalui gaya bahasa figuratif seperti tasybih, majaz dan kinayah yang menyoroti keindahan retoris baik dari segi bunyi maupun makna (Zahidah et al. , 2025. 1994 ,A)ENIOA. Ketiga cabang ini membentuk dasar pemahaman terhadap keindahan bahasa Arab dan menjadi kunci dalam menganalisis karya sastra, terutama puisi atau syair yang sarat dengan ekspresi artistik dan simbolik (Sagala, 2. Secara etimologis, balaghah (A )EEAberasal dari U A)EAeOEAeEOA kata balaghaAeyablughuAebulghan (AA yang berarti mencapai atau sampai kepada sesuatu (A( )EOAOE O EINANuha, 2021. 2011 ,A)EIOA. Makna ini menunjukkan kemampuan seseorang dalam menyampaikan pesan hingga sampai kepada lawan bicaranya secara utuh dan efektif. Sementara itu, secara terminologis, balaghah diartikan sebagai kemampuan menggunakan bahasa secara tepat, indah, dan efektif oleh mutakallim . untuk menyampaikan maksudnya kepada mukhatab . endengar atau lawan bicar. sesuai dengan konteks situasi, tempat dan kondisi psikologisnya (Hafidz, 2. Definisi yang lainnya, bahwa Ilmu balaghah adalah ilmu yang mengkaji bagaimana memanfaatkan bahasa sedemikian rupa sehingga komunikasi orang pertama . dapat dipahami oleh pihak kedua . , tidak menimbulkan kesalahpahaman atau menyakiti hati, tetapi sebaliknya tampak santun dan menarik serta dapat menghasilkan keindahan (Hafidah, 2. Ilmu bayan secara etimologi berarti al-kasyf . , al-ydlyh . dan al-zhuhr . Sedang menurut istilah ialah pokok dan kaidah untuk mengetahui cara mengemukakan satu pengertian dengan ungkapan yang berbeda dengan yang lain . esuai dengan muqtadla al-ha. , karena kejelasan dalalah aqliyah . etunjuk berdasarkan akal dar. pengertian itu sendiri (Khamim & Subakir, 2002 ,A)ECOOIOA. Definisi yang lain menyebutkan bahwa Ilmu al- Bayan adalah ilmu yang mempelajari tentang teknik mengungkapkan maksud perasaan isi hati dengan menggunakan susunan kalimat beragam yang indah, sesuai dengan Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 kaidah serta ketentuan-ketentuan uslub bahasa Arab yang jelas, mudah dipahami serta sesuai dengan situasi dan kondisi (Yamani, 2. Objek bahasan Ilmu Bayan adalah kata-kata arab, baik dalam bentuk tasybih, majaz atau kinayah (Khamim & Subakir. Tasybih merupakan bagian dari cabang Ilmu Bayan. Secara etimologi, tasybih berarti tamtsil . (Khamim & Subakir, 2. , sedangkan menurut istilah tasybih adalah ilmu yang menjelaskan tentang satu atau banyak hal yang berkaitan dengan penyerupaan. Musyabbah . atu perkar. kepada Musyabbah bih . erkara lai. , baik dari aspek sifat maupun aspek-aspek lainnya dengan menggunakan adat tasybyh, misal dengan huruf kaf A EAdan atau selainnya (Yamani, 2023. 1993 ,A)EIOA. Rukun tasybih terbagi menjadi empat macam. Pertama Musyabbah . esuatu yang diserupakan dengan yang lai. , kedua Musyabbah bih . esuatu yang menjadi sasaran penyerupaan Musyabba. , ketiga wajh syibhu . isi kesamaan atau dasar penyerupaan antara dua hal yang dibandingkan. Musyabbah dan Musyabbah bi. dan keempat adat . artikel menunjukkan adanya hubungan penyerupaan antara dua ha. (Al-Batawiy, 2. Nizar Qabbani adalah salah satu penyair Arab modern paling terkenal yang dikenal dengan gaya puisinya yang lembut, romantis, dan berani dalam mengekspresikan perasaan cinta serta pandangan Lahir di Damaskus. Suriah, pada tahun 1923. Qabbani memulai kariernya sebagai diplomat, namun namanya melambung tinggi melalui karyakarya sastra yang menyentuh hati banyak pembaca Arab dan dunia. Salah satu karyanya yang menonjol adalah Diwan Qaalatt Lii as-Samra, yang memuat kumpulan puisi bertema cinta, keindahan dan kerinduan dengan gaya bahasa yang khas dan penuh simbolisme (AAoyuni, 2. Dalam Diwan Qaalat Lii as-Samra terdapat berbagai data tentang tasybih. Sebagai contoh, pada e AO aac a aA penggalan bait A E aO e a AaOA a aA aI eCaaNa aE aOA a A a a aOA "A" ea aI eIaIaNaA. Pada bait ini yang menjadi Musyabbah e A( aac a aAseorang perempuan duduk nya adalah A aI eCaaNaA ditempatnya/di kurs. Musyabbah bih nya adalah A( aOa a E aO e aAwadah bunga atau vas bung. , adat tasybih nya A EAdan wajh syibhu nya A( AaO ea aI eIaIaNaAdalam Tasybih ini disebut dengan Tasybih mursal karena rukun tasybihnya lengkap (Musyabbah. Musyabbah bih, adat Tasybih dan wajh syibh. Penelitian tentang tasybih dalam karya sastra Arab telah dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu. antaranya oleh Rina Fauziah Jufri. Zuhriah, dan Syamsul Bahri pada tahun 2024 yang berjudul Analisis Tasybih dalam Diwan al-AAomAl al-lA karya Mahmoud Darwish, diterbitkan dalam Jurnal Sarjana Ilmu Budaya Volume 05 No 01 Januari 2025. Rini Cahyani. Zuhriah, dan Ilham Ramadhan pada tahun 2025 yang berjudul Analisis Tasybih dalam Diwan Fi Ainaiki Unwani karya Faruq Juwaidah, diterbitkan dalam Jurnal Sarjana Ilmu Budaya Volume 05 No 01 Januari 2025, serta Analisis Tasybih dalam Surah An-NabaAo. AnNaziAoat, dan Al-Muthaffifin . , oleh Irmasani Daulay diterbitkan dalam Kaisa: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Salah satu alasan peneliti dan permasalahan mendasar dalam kajian tasybih adalah kompleksitas struktur dan variasi bentuknya yang dapat menimbulkan kerancuan dalam proses identifikasi. Contoh diatas menampilkan unsur-unsur tasybih seperti Musyabbah. Musyabbah bih, wajh syibhu, dan adAt tasybh . , tetapi pada jenis tasybih yang lain bisa tidak tampak . alam hal ini, bisa adat atau wajhu syibhunya yang hilang, atau bahkan keduany. , lebih jauh, bahkan sama sekali tidak menampilkan unsur-unsur tasybih tetapi bermakna tasybih sehingga pembaca maupun peneliti sering menghadapi kesulitan dalam menentukan apakah sebuah ungkapan benar-benar merupakan tasybih atau justru termasuk majaz, kinayah, atau bentuk lainnya. Permasalahan ini semakin sulit ketika penyair menggunakan konstruksi yang padat dan bersifat implisit, sehingga batas antara tasybih dengan perangkat retorika lain menjadi kabur. Selain itu setiap tasybih memiliki tujuan tertentu, tetapi tidak selalu mudah diidentifikasi karena bentuk perbandingannya beragam dan muncul konteks yang berbeda-beda. Penelitian ini memiliki kebaruan pada pemilihan objek, fokus kajian dan landasan teoretis yang Berbeda dari penelitian terdahulu yang umumnya mengkaji tasybih pada diwan penyair lain atau karya Nizar Qabbani yang berbeda serta terbatas pada pengelompokan jenis, penelitian ini secara khusus dan menyeluruh mengkaji tasybih dalam Diwan Qaalat Lii as-Samra, salah satu karya awal Qabbani yang belum banyak dikaji dari perspektif Ilmu Bayan. Kebaruan juga terletak pada penggunaan teori tasybih Abdul Aziz bin Ali alHarbiy yang relatif jarang diaplikasikan dalam penelitian sejenis, sehingga memungkinkan pengungkapan variasi tasybih yang lebih luas dan Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 mendalam, termasuk bentuk-bentuk implisit yang sering terabaikan. Selain mengidentifikasi jenisjenis tasybih, penelitian ini menautkannya dengan fungsi retoris dan estetik dalam konteks syair, sehingga tidak hanya bersifat klasifikatif, tetapi juga interpretatif dalam mengungkap karakter stilistika Nizar Qabbani dalam puisi Arab modern. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti memilih kajian berjudul AuTasybih sebagai Retorika Representasi Imajinatif pada Diwan Qaalat Lii asSamra: Kajian Ilmu Bayan. Ay Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian ilmu balaghah, khususnya pada pembahasan tasybih. Melalui penelitian ini, peneliti berupaya mengkaji jenis-jenis tasybih serta fungsi penggunaannya dalam Diwan Qaalat Lii asSamraAo karya Nizar Qabbani, sehingga dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai penggunaan gaya bahasa perbandingan dalam membangun makna, citraan dan keindahan ekspresi dalam puisi. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif. Metode ini bertujuan untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena kebahasaan secara sistematis dan mendalam tanpa menggunakan perhitungan statistik. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada angka, serta lebih mengutamakan pemahaman terhadap konteks dan interpretasi data (Rohanda WS, 2. Silalahi menyebutkan bahwa data adalah hasil pengamatan empiris yang mengungkapkan fakta tentang karakteristik dari suatu gejala tertentu (Sunarsi et al. , 2. Data pada penelitian ini adalah Tasybih yang terdapat dalam Diwan Qaalat Li asSamra karya Nizar Qabbani. Sumber data adalah tempat data diperoleh dengan menggunakan metode tertentu baik berupa manusia, artefak, ataupun dokumen-dokumen (Sutopo, 2. Data dalam penelitian ini berupa syair Diwan Qaalat Li asSamra karya Nizar Qabbani yang terbit pada tahun Kumpulan syair ini dijadikan bahan utama analisis karena mengandung berbagai bentuk ungkapan bahasa yang kaya dan indah. Seluruh teks diwan diperoleh dari versi terbitan resmi dan disalin secara utuh sebagai objek penelitian. Diwan Qolat Li as-Samra http://w. com/pdf/amis-8-7. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik simak bebas libat cakap serta teknik catat. Teknik simak merupakan metode memperoleh data melalui kegiatan menyimak penggunaan bahasa, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Adapun yang dimaksud dengan teknik bebas libat cakap adalah bahwa peneliti tidak terlibat langsung dalam peristiwa tutur, melainkan hanya bertindak sebagai pengamat terhadap penggunaan bahasa yang terjadi. Dalam konteks penelitian ini, peneliti mengumpulkan data dengan menyimak bahasa yang digunakan dalam diwan Teknik catat digunakan sebagai pelengkap dari teknik simak, yaitu dengan mencatat berbagai data yang berkaitan dengan fokus penelitian berdasarkan penggunaan bahasa secara tertulis (Mahsun, 2. Teknik bagi unsur langsung digunakan untuk mengurai struktur bahasa sumber ke dalam satuansatuan kecil . ata, frasa, atau klaus. agar hubungan makna dan fungsi sintaktisnya terlihat jelas sebelum dialihkan ke bahasa sasaran. Teknik ini membantu penerjemah menilai kesepadanan bentuk dan makna secara rinci. Teknik translasional adalah teknik analisis yang alat bantunya bahasa lain. Dalam teknik ini, peneliti Aumenerjemahkan data ke dalam bahasa lain untuk menentukan bentuk, fungsi, atau Peneliti menerjemahkan teks diwan AuQaalat Lii as-SamraAy karya Nizar Qabbani yang berbahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia agar menemukan persamaan atau perbedaan makna, fungsi, atau struktur antara unsur bahasa sumber dan bahasa pembanding acuan Sementara teknik delesi adalah teknik analisis yang dilakukan dengan menghilangkan bagian tertentu dari data untuk melihat unsur mana yang menjadi inti, penting, atau menentukan makna. Penghapusan ini membantu peneliti memahami struktur dan fungsi unsur tertentu, karena ketika bagian itu dihapus, terlihat perubahan makna atau keutuhan data tersebut. Dalam penelitian sastra atau stilistika, teknik delesi dapat digunakan untuk menilai apakah suatu elemen bahasa misalnya adat tasybih. Musyabbah, atau Musyabbah bihmemiliki fungsi makna yang signifikan dalam sebuah bait. Jika setelah elemen itu dihilangkan makna menjadi kabur, berubah, atau berkurang, berarti unsur tersebut memiliki peran penting (Zaim, 2. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 HASIL & PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis terhadap teks-teks puisi dalam Diwan Qaalat Lii as-Samra, peneliti menemukan sejumlah data yang mengandung unsur Data-data tersebut diperoleh melalui proses pembacaan dan penerjemahan secara menyeluruh berdasarkan keberadaan unsur-unsur tasybih yang meliputi Musyabbah. Musyabbah bih, adat tasybih dan wajh syibh. Setiap ungkapan yang mengandung penyerupaan kemudian diklasifikasikan dan dianalisis untuk mengetahui bentuk serta karakteristik tasybih yang digunakan oleh penyair dalam puisinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam diwan tersebut terdapat beberapa variasi unsur tasybih yang digunakan penyair, antara lain tasybih mursal, tasybih muakkad, tasybih mufashshal, tasybih baligh dan tasybih dlimni. Unsur Musyabbah yang ditemukan dalam data penelitian umumnya berkaitan dengan diri penyair, tokoh yang diajak berbicara, maupun perasaan dan keadaan batin yang Sementara itu Musyabbah bih yang digunakan sebagai unsur pembanding sering berupa objek-objek yang bersifat simbolik seperti unsur alam, suara, serta gambaran-gambaran yang memiliki nilai estetis dalam puisi. Dalam data yang dianalisis, umumnya adat tasybih yang paling sering digunakan adalah huruf A EAyang menunjukkan penyerupaan secara langsung antara dua unsur yang dibandingkan. Selain itu, terdapat pula beberapa bentuk tasybih yang menyebutkan unsur-unsurnya secara lengkap, sementara pada beberapa data lainnya unsur wajh syibh tidak disebutkan secara eksplisit sehingga makna keseluruhan bait puisi. Temuan lain dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan tasybih dalam Diwan Qaalat Lii as-Samra tidak hanya berfungsi sebagai unsur keindahan bahasa, tetapi juga memiliki beberapa tujuan retoris dalam membangun makna puisi. Berdasarkan hasil analisis data, tasybih yang digunakan oleh penyair memperlihatkan beberapa fungsi, antara lain menjelaskan kemungkinan terjadinya suatu keadaan (A)u cI EOI uIEINA, menjelaskan keadaan Musyabbah (A)u cI EOI ENA, memperindah Musyabbah (A)u cI EOOINA, memperburuk atau Musyabbah (A)ECONA, memperjelas gambaran Musyabbah (A)EOO AONA. Dalam beberapa data, tasybih digunakan untuk menunjukkan kemungkinan terjadinya suatu keadaan melalui bentuk tasybih dlimni yaitu tasybih yang tidak disebutkan secara langsung tetapi maknanya tersirat dalam struktur kalimat sehingga menghadirkan bukti implisit bahwa suatu keadaan dapat terjadi karena memiliki kemiripan dengan keadaan lain yang telah dikenal. Selain itu, tasybih juga berfungsi untuk menjelaskan keadaan Musyabbah pembanding yang lebih konkret, memperindah ungkapan melalui citraan yang memiliki nilai estetis, merendahkan Musyabbah dengan menyerupakannya pada sesuatu yang berkonotasi negatif, serta memperjelas gambaran makna sehingga citraan yang dibangun dalam puisi menjadi lebih hidup, ekspresif dan mudah dipahami oleh pembaca. Dalam memudahkan penyajian data serta memberikan gambaran yang lebih sistematis mengenai temuan penelitian, data yang mengandung unsur tasybih disajikan dalam bentuk tabel. Tabel 1 memuat kutipan teks puisi yang mengandung tasybih yang ditemukan dalam Diwan Qaalat Lii asSamra. Tabel 1. Data Tasybih dalam Diwan Qaalat Lii AsSamra Nama Lafadz Halaman Terjemah Data AuDan seperti tangis aOIaeEa a aEA menara-menara A AeE aI aaIA masjid, aku pun aA eaA melangkahAy. AuHuruf-hurufku. U Aa aOAaOA kawanan burung AIaOIaOA ca Aa aIOa EA layang-layang/walet ca A a aIAU yang menghamparkan AEaO EAace aOA mantel hitam di atas a AIa eA a aN Ea aeOaA kejernihanAy. AuAku adalah dua bibir, ca AaIa EA AaIA a a engkau adalah aOA ca AaO a eIa EA gemaAy. AuIa berjalan . akni jalan kit. tanpa s AOa eIaO a aE aO eOA AaO aE aOa sA kesadaran dan tanpa A4 a A Oa aI e aN aIAU aAIaeEaEA tujuan, seperti dirimu, e AeE aIA wahai engkau yang a aAEA kabur kehendaknyaAy AuLembaran-lembaran yang tertulis itu aE a eA a aIaO eaEEA aAeE aO aOCaA e Aa a aA sebagaimana mainan aAE eAEA a AA a AaE aI a eA aA AaOA dan permen a AE aEA AaO eE a eE aOOA seorang anak kecilAy. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Nama Data Lafadz a a a acI au aEO eEA AaOA a AeE aIEA AaO a eCa sA a a AOa aA a AEaEIace aIA Aae a aN EIac e aOOA aA a eOA a AaO a eIA s A aA aAOa aIOa CaeEA AOEA a AEOA a a aAOEA AA IA AEIO eIA AO eIA AOOIa NOIA ACO eIA AO eIA e aA A. Aa AO UEA AAOEA AEIEA AEEOIA Ua aOA a AIA AE eaEA AE aeA A10 AI IOI EOA ACA a AEEa eO aA UAE IC IOA A11 AauIacIaOA AE aOA ca aOA A aA a AaEE a eA ACA a AE aIA a AOA A12 UAaOEaEac aI Ca eEIaA AaO aI Ea eI IaCa eEA AaO a eO aIa AaOA A eE aI eICa aEA a aIA a aACA e AA a a AO aEaOA a AA eA Aa saIA UaA EaEEac eIaAUAEaEEacO aeEA AE eaEIa eI a aEA A13 U A aOa AaOA A eN aOaOA a AaOA AeE aI eE a aI eNA a a AaE Oa e aA ca AEOAaIa AaOA Aa eAa aNA Halaman Terjemah AuAku merindu pada tulisan yang halus, dan pada selembar kertas, yang huruf-hurufnya beterbangan seperti bintang-bintang, dalam kemabukan BahagiaAy AuDan engkau adalah seutas benang fatamorgana yang mati sebelum sampai . Ay AuAku Aku tahu bahwa aku menginginkan bintangbintang, aku namun di hadapan cinta kita berdiri batas-batas, panjangA sangat panjang, seperti warna kemustahilan, seperti gema nyanyian yang berbalik di antara gunung-gunung AuDua bibirku bagaikan ladang-ladang yang hijauAu. AuAku adalah rindu harum kepada rindu yang tak terputus Ay AuAku adalah laparnya bukit-bukit terhadap hijau yang rimbun. Ay AuDan segala yang telah kami ucapkan, dan yang tak sempat terucap, dan pengakuan rahasia kami di sisi perapian, semuanya jatuh tersungkur di atas sebuah cincin, seperti malam, seperti kutukan, seperti sabit. Ay AuPerasaanku dan hasratku yang terkekang tak mengenal banjir besar dalam terjangan arusnyaAy. Berdasarkan data tasybih Diwan Qaalat Lii AsSamra karya Nizar Qabbani pada tabel 1, ditemukan bahwa penyair secara konsisten memanfaatkan gaya bahasa tasybih sebagai sarana untuk memperkuat ekspresi puitik dalam puisinya. Tasybih yang digunakan muncul dalam berbagai bentuk, seperti tasybih mursal, tasybih mufashshal, tasybih muAoakkad, tasybih baligh dan tasybih dlimni yang masing-masing memiliki fungsi stilistika yang berbeda sesuai dengan konteks makna yang ingin Penggunaan berbagai jenis tasybih Qabbani memanfaatkan penyerupaan tidak hanya sebagai unsur estetika bahasa, tetapi juga sebagai alat untuk memperjelas makna, serta menggambarkan pengalaman emosional yang berkaitan dengan tema cinta, kerinduan dan kekecewaan yang sering muncul dalam puisinya. Pada data (A. a eE aI aaI A a eA a AAu aO aIe aE aEADan seperti tangis menara-menara masjid, aku pun melangkahAy. Penyair menggambarkan gerak dirinya Auaku melangkahAy bukan sebagai langkah fisik biasa, melainkan sebagai perjalanan batin yang sarat getaran spiritual. Dalam data ini Musyabbahnya AA. Musyabbah bihnya Aa eE aI aaIA a AaEA, adat tasybihnya AIEA, sementara wajh syibhunya dihilangkan ( ,AEOA Langkah itu diserupakan dengan tangis menara-menara masjid, sebuah citraan yang mengandung kesedihan suci, panggilan ilahiah dan kerinduan yang dalam kepada Tuhan. Menara masjid AumenangisAy bukan secara harfiah, tetapi melalui azan yang menggema, menggetarkan ruang dan jiwa. Qabbani secara sadar membuka perbandingan antara perjalanannya dan tangis sakral menara masjid, akan tetapi ia tidak menjelaskan secara jelas dari sisi keserupaannya. Wajh syibh dibiarkan samar dan terbuka, entah apakah itu kesyahduan, kepedihan, kerinduan, atau kepasrahan semuanya diserahkan pada kepekaan Lebih jauh lagi, penghilangan wajh syibh dalam tasybih ini memberikan ruang interpretasi yang lebih luas bagi pembaca. Ketidakjelasan sisi keserupaan tersebut menjadikan citraan yang dibangun oleh penyair bersifat terbuka dan sugestif, sehingga pembaca dapat merasakan sendiri kedalaman emosi yang tersirat dalam ungkapan Sejalan dengan pembagian tasybih Abdul Aziz AlHarbiy . 1 ,A )EOAmaka tasybih ini termasuk tasybih mufashshal, yang mana wajh syibhunya itu Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Data (A. tasybih digunakan dengan tujuan menjelaskan keadaan Musyabbah (A)u cI EOI ENA . 1 ,A)EOA. Temuan ini sama halnya dengan penelitian terdahulu (Iman et al. , 2. yang menginterpretasikan bahwa tasybih tidak hanya sekedar penyerupaan, tetapi juga memiliki tujuantujuan tertentu. Tasybih yang terdapat pada data (A. tidak hanya berfungsi untuk menjelaskan keadaan Musyabbah, yaitu tindakan A( Aaku berjala. , tetapi juga memperkuat makna batin yang terkandung di Melalui perbandingan dengan tangis menara-menara mentransformasikan tindakan berjalan yang bersifat fisik menjadi simbol perjalanan spiritual yang penuh Data (A. A aI ac EO EAace aO aI eANAU AIaOIaOA a A a aIOAU Aa aOAaOA ca A EA A O A e A EAdapat diterjemahkan sebagai AuHuruf-hurufku, kawanan burung layang-layang/walet yang menghamparkan mantel hitam di atas kejernihanAy. Penyair menyampaikan penyerupaan tanpa adat tasybh dan tanpa menyebutkan wajh syibh, dengan langsung meleburkan Musyabbah . uruf-hurufk. dan Musyabbah bih . awanan burung layanglayan. Citra kawanan burung yang menutupi kejernihan langit menggambarkan huruf-huruf yang menyebar, mendominasi dan bahkan menggelapkan ruang batin penyair. Menurut Al-Maraghi, apabila dasar keserupaan tidak diungkapkan secara langsung dan tanpa ada adat tasybih, penyerupaan ini tergolong pada tasybih baligh yang artinya memperkuat kesan bahkan memperburuk suasana batin dengan menampilkan huruf-huruf sebagai kekuatan yang menguasai kesadaran secara total . 3 ,A)EIOA. Penggambaran huruf-huruf sebagai kawanan burung yang menghamparkan mantel hitam menunjukkan bahwa kata-kata yang dimiliki penyair justru menutupi kejernihan batinnya. Huruf-huruf tersebut tidak lagi sekadar alat ekspresi, tetapi menjadi simbol kegelisahan dan tekanan batin yang menguasai kesadaran penyair. Data (A. , tasybih yang digunakan berfungsi sebagai A( ECONAmemperburuk atau merendahkan Musyabba. 1 ,A)EOA. Penyair tidak bermaksud memperindah huruf-hurufnya, tetapi menampilkan huruf-hurufnya itu sebagai sesuatu yang menutup, menggelapkan dan mengaburkan A( EAace OAkejerniha. Data (A. Dalam ungkapan A O eI EAacOA. AIA a AI EacAA. AuAku adalah dua bibir, dan engkau adalah gemaAy. Penyair membangun relasi langsung antara dirinya dan pihak lain melalui penyerupaan yang ringkas. Qabbani memosisikan diri sebagai Audua bibirAy sebagai sumber suara, sementara pihak lain atau pembaca atau kekasihnya sebagai AugemaAy yang hanya hadir setelah suara itu diucapkan. Relasi ini menegaskan ketergantungan makna: gema tidak ada tanpa suara, sebagaimana puisi tidak hidup tanpa Penyerupaan antara penyair sebagai Audua bibirAy dan pihak lain sebagai AugemaAy mengandung makna bahwa suara atau ungkapan penyair akan memperoleh maknanya melalui pantulan dari pihak yang mendengarnya. Bibir berfungsi sebagai sumber suara, sedangkan gema hadir sebagai respons yang memantulkan kembali suara tersebut. Gambaran ini mengisyaratkan adanya hubungan yang saling berkaitan antara penyair sebagai pengucap dan pihak lain sebagai penerima atau penafsir makna. Melalui citraan tersebut, penyair menampilkan bahwa katakata yang diucapkan tidak berdiri sendiri, melainkan memperoleh kehidupan dan kedalamannya melalui proses penerimaan, pemahaman dan penafsiran oleh pihak yang mendengarnya. Data (A. ini sama halnya seperti pada data sebelumnya dan termasuk pada tasybih baligh karena hanya menampilkan )A IA,A (IAdan Musyabbah bih )A EAOA,A (EAIAtanpa adat tasybih dan wajhu syibhu . 4 ,A)ENIOA. Secara maknawi, tasybih ini menegaskan hubungan dialogis antara penyair sebagai pengucap dan pembaca sebagai pemantul makna, sehingga puisi penerimaan dan penafsiran. e A Oa aI e aN aI a eE aIAUAAu Oa eIaO a aE aO eO s aO aE aOa s aIeEa aEAIa Data (A. AA a aAEA berjalan . akni jalan kit. tanpa kesadaran dan tanpa tujuan, seperti dirimu, wahai engkau yang kabur kehendaknyaAy, mengandung tasybih mursal, karena penyerupaan dinyatakan secara jelas melalui adat tasybih AIEA, sejalan dengan teori daripada . 4 ,A )ENIOAyang menyebutkan bahwa tasybih mursal adalah tasybih yang dimana unsur-unsur taysbihnya lengkap atau sempurna. Musyabbah dalam tasybih ini adalah A( IAjalan kit. yang telah disebutkan pada bait sebelumnya dan menjadi subjek implisit dari kata AOIOA. Musyabbah bih adalah sosok perempuan yang digambarkan sebagai AINIA AEIEA, yakni figur yang tidak memiliki kejelasan tujuan atau kehendak. Wajh syibhu terletak pada Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 kondisi berjalan tanpa kesadaran dan tanpa orientasi yang pasti. Qabbani tidak hanya menggambarkan kebingungan dalam relasi personal, tetapi juga menegaskan kritik eksistensial terhadap perjalanan Jalan hidup yang seharusnya menjadi ruang arah dan tujuan justru bergerak secara buta, diserupakan dengan sosok kekasih yang sendiri tidak mengetahui apa yang ia cari. Data (A. tergolong tasybih mursal dan berfungsi sebagai memperjelas keadaan Musyabbah (A)OI ENA serta menyingkap kegamangan arah hidup yang menjadi kegelisahan utama penyair . 1 ,A)EOA. e AaE a eA a aIaO a ea eE aO aOCaa a a aA Data (A. AE eA aEA a A aE aI a eA a aA AO aO eE a eE aOOA AEA AEA AuLembaran-lembaran yang tertulis a a sebagaimana mainan dan permen membahagiakan seorang anak kecilAy. 1 ,A )EOAmengatakan apabila Musyabbah. Musyabbah bih, adat dan wajh syibhunya ada . maka termasuk tasybih Unsur tasybih pada data ini Musyabbahnya e Musyabbah bihnya AO aO eE a eE aOOA aAE aO aOCaA, a AE a aE aA, adat tasybih AEIA, dan wajhu syibhu AEA aEA a a a aA, maka tasybih adalah tasybih mursal. Qabbani mengungkapkan bahwa surat-surat yang ia terima bukan sekadar tulisan, melainkan sumber kegembiraan yang sangat Kebahagiaan itu datang secara alami, tanpa rekayasa dan tanpa kepentingan lain selain rasa senang itu sendiri. Dalam menggambarkan kedalaman rasa itu, penyair menyamakan kebahagiaannya dengan kegembiraan seorang anak kecil ketika memperoleh mainan dan Anak kecil adalah simbol kepolosan dan ketulusan rasa. ia bergembira tanpa motif tersembunyi, tanpa pertanyaan dan tanpa jarak batin. Penggunaan tasybih yang membandingkan kebahagiaan penyair dengan kegembiraan seorang anak kecil menunjukkan adanya makna simbolis di Anak kecil melambangkan kepolosan, ketulusan dan kebahagiaan yang murni. Sementara itu, surat yang diterima penyair dapat dimaknai sebagai sumber kebahagiaan batin yang memberikan kegembiraan mendalam. Melalui penyerupaan tersebut, penyair ingin menunjukkan kedekatan emosionalnya terhadap tulisan atau pesan yang diterimanya, sehingga surat tersebut tidak hanya dipandang sebagai media komunikasi, tetapi juga sebagai sesuatu yang memiliki nilai perasaan yang sangat berarti bagi dirinya. Data (A. tasybih ini berfungsi memperjelas keadaan Musyabbah (A)OI ENA, yaitu rasa bahagia sekaligus memberi nuansa emosional yang lembut dan humanis . 1 ,A)EOA. a a AO aO a eCa s A Data (A. A ae a aNA a AOa a EaEIace aIA a A a a acI uaEaO eEA a Aa eE aI aEA ca AAu EI aOOAAku merindu pada tulisan yang halus, dan yang huruf-hurufnya beterbangan seperti bintangbintang, dalam kemabukan bahagiaAy. Data ini termasuk tasybih mursal. Unsur tasybih pada data ini Musyabbahnya Aae a aNA. Musyabbah bihnya AA a AEIace aIA, adat tasybih AEA, dan wajhu syibhu AaOa aA, termasuk tasybih mursal karena unsur-unsur daripada tasybihnya lengkap . 1 ,A)EOA. Qabbani mengungkapkan kerinduannya yang mendalam terhadap tulisan tangan yang lembut dan indah, serta terhadap secarik kertas yang menjadi medium kehadiran sang kekasih. Tulisan itu tidak dipandang sebagai rangkaian huruf mati, melainkan sebagai sesuatu yang hidup, bergerak dan bernyawa. Dalam pandangan penyair, huruf-huruf pada surat tersebut seolah terlepas dari kertasnya, melayang bebas dan memancarkan cahaya emosional. Penyerupaan huruf dengan bintang menunjukkan bahwa surat tersebut memiliki nilai emosional yang tinggi bagi penyair, karena tulisan itu menjadi sumber kebahagiaan dan kedekatan batin dengan sang kekasih. Data (A. tasybih ini berfungsi sebagai A( EOOINAyang memperindah Musyabba. , yakni A ANAsehingga huruf-huruf dalam surat digambarkan secara lebih indah dan hidup melalui penyerupaan dengan bintang-bintang . 1 ,A)EOA. a A a eOA Data (A. AOEA a AAu aO a eIADan s A aA a AEOA a AA a a a A Oa aIOa Ca e aEA engkau adalah seutas benang fatamorgana yang mati sebelum sampai . Ay Qabbani membandingkan kekasihnya dengan benang a Aa eOA a A a eIAadalah Musyabbah, sedangkan AA s A aA a menjadi Musyabbah bihnya. Wajh syibhunya adalah AOEA a AEOA a a a AOa aIOa Ca e aEA. Penyerupaan kekasih dengan Aubenang fatamorganaAy mengandung makna bahwa hubungan yang digambarkan penyair bersifat semu dan tidak memiliki kepastian. Fatamorgana merupakan sesuatu yang tampak nyata dari kejauhan, tetapi pada kenyataannya tidak dapat disentuh atau dicapai. Melalui citra ini, penyair mengekspresikan perasaan kekecewaan terhadap harapan yang tidak pernah terwujud, karena benang fatamorgana akan lenyap sebelum sempat disentuh, persis seperti kehadiran atau janji yang rapuh. Jika dilihat dari segi jenisnya, sesuai dengan pendapat Ali Jarim dalam (Aryanto et al. , 2. Tasybih ini termasuk tasybih muAoakkad, karena tidak Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 menggunakan kata penghubung atau adat tasybih seperti "A "EIAatau "A"IEA. Data (A. tasybih ini berfungsi untuk AECONA . emperburuk Musyabba. , yaitu A( IAIman et al. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Aryanto et al. , 2. yang menyatakan bahwa penggunaan tasybih dalam puisi Arab modern sering dimanfaatkan untuk memperkuat gambaran emosional dan memperjelas makna melalui citra yang bersifat imajinatif. Data (A. AA I EIO eI O eI OO aI NOI CO eI O eIA AOEA AEEA AEIoE OIA AEIE Ee aA AEEOIA AAOEA AEA AAOA AuAku menginginkanmu. Aku tahu bahwa aku menginginkan bintang-bintang, aku menggapainya, namun di hadapan cinta kita berdiri batas-batas, panjangA sangat panjang, seperti warna kemustahilan, seperti gema nyanyian yang berbalik di antara gunung-gunung. Ay Dalam data ini. Qabbani sedang berbicara tentang hasrat cinta yang amat tinggi, setinggi keinginannya meraih bintangbintang. Hasrat tersebut tidak berjalan bebas. terhalang oleh takhm . atas-bata. yang berdiri Audi hadapan cinta kitaAy. Batas-batas ini bukan batas fisik semata, melainkan batas eksistensial: keadaan, realitas, jarak, atau kemustahilan yang memisahkan penyair dari yang diinginkan. Qabbani menyerupakan batas-batas tersebut dengan dua hal: warna kemustahilan dan gema nyanyian di antara gunung-gunung. Kedua pembanding ini sama-sama menghadirkan kesan sesuatu yang sulit digapai, berulang tanpa ujung dan melelahkan usaha Warna kemustahilan menggambarkan sesuatu yang secara kodrati tak dapat dicapai, sementara gema di antara gunung melukiskan suara yang terus kembali, berputar, tanpa pernah sampai ke tujuan akhir. Dalam struktur balaghahnya, adat tasybih hadir secara jelas melalui huruf A EApada ungkapan AEEOIA A EIEAdan AE EIoE OI EEA. Akan tetapi, wajh syibhu tidak disebutkan secara gamblang ( ,AEOA Penyair tidak mengatakan secara langsung bahwa kesamaannya terletak pada jauhnya jarak, beratnya usaha, atau mustahilnya pencapaian. Berdasarkan hasil data (A. , tasybih ini termasuk tasybih mufashshal, karena adat tasybih disebutkan sementara wajh syibh dibuang dan tasybih ini berfungsi sebagai memperjelas keadaan Musyabbah (A)OI ENA, yakni A( O eI aAO UEAbatas-batas panjan. 1 ,A)EOA. e ca a Data (A. Pada ungkapan A E a aeA a AuDua a A EaE aIa aAUAOA bibirku bagaikan ladang-ladang yang hijauAu. Qabbani menyamakan dua bibirnya dengan ladang-ladang Struktur perbandingan ini jelas menampilkan Musyabbah AOA a dan Musyabbah bih A E a aeA ca a a a AE aIa aA, serta menghadirkan adat tasybih berupa huruf AEA, namun sengaja membuang wajhu syibhu. Maka tasybih ini termasuk tasybih mufashshal ( ,AEOA Bibir sebagai sumber suara, kata dan pengakuan disandingkan dengan ladang hijau yang secara kultural melambangkan kesuburan, kehidupan dan potensi pertumbuhan. Tanpa menyebutkan secara eksplisit sifat apa yang diserupakan, penyair membiarkan pembaca menangkap makna melalui asosiasi imajinatif: bibir yang subur oleh kata, segar oleh pengucapan dan produktif melahirkan makna sebagaimana ladang melahirkan tanaman. Data (A. tasybih ini berfungsi sebagai A( EOOINAyang memperindah Musyabba. , yakni AOA a yang sama ca a a halnya dengan penelitian (Aryanto et al. , 2. yang mengemukakan bahwa salah satu fungsi atau tujuan taysbih ialah untuk memperindah. c a AI aIOIa EA. AuAku Data (A. A aE eIC a a aIOA/ ACA a AOA a A aEE eacOA rindu harum rindu yang tak terputus kembali. Ay Setelah rangkaian citra perjalanan panjang, kelelahan dan pelayaran yang tak berlabuh, penyair sampai pada pengakuan bahwa seluruh geraknya digerakkan oleh kerinduan kepada sang kekasih. Ia menyamakan dirinya dengan kerinduan parfum kepada botolnya, sebuah relasi yang menunjukkan ketergantungan total, parfum tidak memiliki makna tanpa wadah, sebagaimana AuakuAy tidak menemukan keutuhan tanpa kehadiran kekasih. Frasa AaE IC IOA memperkuat bahwa kerinduan ini bukan perasaan sementara, melainkan kondisi cinta yang terus berlangsung, menjadi pusat dan tujuan dari seluruh perjalanan batin penyair Parfum tidak memiliki makna tanpa botol yang menampungnya, sebagaimana AuakuAy tidak dapat dipahami tanpa yang Tambahan frasa laa tanqaiAou tsaaniyatan semakin menegaskan bahwa kerinduan ini bersifat terus-menerus dan tidak mengenal putus. Abdul Aziz Ali Al-Harbiy mengatakan jika hanya adat tasybihnya yang hilang, maka data (A. ini merupakan tasybih muAoakkad . 1 ,A)EOA. Musyabbahnya adalah A( IAak. , sedangkan Musyabbah bihnya A(IOI EO EEOCAkerinduan parfum kepada botolny. Wajhu syibhu hadir secara Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 jelas melalui kata UA (IOI) E IC IOAyang mengandung makna kelekatan, kebutuhan dan ketergantungan yang mendalam. Fungsi tasybih ini adalah Aac aNA a AE eE aIA a AI aA a aA aEaOA, yaitu menjelaskan keadaan batin (Iman et al. , 2. AuakuAy sebagai sosok yang sepenuhnya terikat dan tidak mampu terpisah dari yang dicintainya. Data (A. ACA a A auIac aIO aOA. AuAku adalah ca AA a AE aO aE eE a eA a A a eE aIA a AOA laparnya bukit-bukit terhadap hijau yang rimbun. Ay Data ini merupakan kelanjutan data sebelumnya. Qabbani menegaskan keadaan cintanya kepada kekasih melalui penyerupaan yang padat dan Musyabbahnya adalah A( auIacIaOAak. Musyabbah bihnya AEaOA a A( aOAlaparnya perbukita. , ca AA tidak terdapat adat tasybih, sementara wajh syibhunya ACA a A( aE eE a eAterhadap hijau yang a A a eE aIA a AOA rimbu. , yakni keadaan kekurangan yang hanya dapat terpulihkan oleh kehadiran yang dirindukan. Dengan struktur seperti ini, sesuai dengan pendapat Al-Harbiy, penyerupaan tersebut termasuk tasybih muAoakkad . 1 ,A)EOA. Fungsi tasybih ini adalah Aac aNA a AE eE aIA a AI aA a aA aEaOA, yaitu menjelaskan keadaan batin penyair dalam relasinya dengan kekasih (Iman et al. , 2. Cinta digambarkan bukan sebagai perasaan tambahan, sebagaimana perbukitan yang gersang hanya dapat hidup melalui kehijauan yang rimbun. Data (A. A eE aI eICa aEA a aA aO aI Ea eI IaCa eE aOa eO aIa AaO aIAUAaO aE acE aI Ca eEIaA a a A CA e AA A E eaE aI eI a aEAUA EaEEac eIa aAUAEaO a saI EaEEacO aeEA a AOA a AA eA a a AAu ADan a AA segala yang telah kami ucapkan, dan yang tak sempat terucap, dan pengakuan rahasia kami di sisi perapian, semuanya jatuh tersungkur di atas sebuah cincin, seperti malam, seperti kutukan, seperti Ay Qabbani menggambarkan nasib seluruh kata dan pengakuan cinta, baik yang telah diucapkan maupun yang dipendam, sebagai sesuatu yang tidak sampai pada pemenuhan makna. Segala ungkapan itu, yang lahir di ruang intim Audi sisi perapianAy, justru jatuh tersungkur dan mati di atas sebuah cincin, simbol ikatan dan janji. Kejatuhan ini kemudian diserupakan dengan malam, kutukan dan sabit, sehingga pengakuan cinta tidak tampil sebagai sesuatu yang hangat atau menyelamatkan, melainkan sebagai beban yang gelap, menyakitkan dan memutus. Musyabbah pada data ini A aO aI Ea eI IaCa eE aOa eO aIaAUA aI Ca eEIaAsesuatu yang runtuh dan kehilangan daya hidupnya. Kejatuhan pengakuan itu kemudian diserupakan dengan A eE aI eI a aEAUA EEac eIa aAUA EEacO aeEAsebagai Musyabbah bih, adat tasybih aA EAyang menandai hubungan penyerupaan secara jelas, wajh syibh tidak disebutkan secara eksplisit, sehingga pembaca diarahkan untuk menangkap sendiri dasar keserupaannya dari rangkaian citra yang keras dan gelap tersebut dan karena dasar keserupaannya tidak disebutkan, maka tasybih ini disebut tasybih mufashshal yang berfungsi untuk Aac aNA a AO eE aIA a AaE a eC aA . emperburuk Musyabba. 1 ,A)EOA pengakuan cinta tidak digambarkan sebagai sesuatu yang menghangatkan atau menyelamatkan, melainkan sebagai sesuatu yang jatuh dan mati gelap seperti malam, menyakitkan seperti kutukan dan memutus seperti sabit. ca a Data (A. AEOAaIa aAOA a A aOAU A aAOA a A aOA a A eN aO aO eE aI eE a aI eN aE Oa e aA AAu a eAa aNAPerasaanku dan hasratku yang terkekang tak mengenal banjir besar dalam terjangan arusnyaAy. Qabbani ingin menjelaskan kuat dan berbahayanya emosi serta syahwat manusia. Ia menyebut perasaan dan nafsunya sebagai sesuatu yang tampak terikat dan dikendalikan, akan tetapi kemudian ia menghadirkan gambaran banjir besar yang menyapu apa saja tanpa mengenal batas atau pertimbangan. Qabbani tidak mengatakan secara langsung bahwa perasaan itu seperti banjir, tetapi dengan menyebut sifat banjir yang tidak mengenal apa pun dalam sapuannya, ia mengarahkan pembaca untuk memahami bahwa emosi dan syahwat memiliki daya yang sama, bila bergerak, ia sulit dikendalikan dan bisa menghancurkan. Penyerupaan ini tidak dinyatakan dengan kata AusepertiAy, melainkan tersirat di balik makna kalimat, sehingga pembaca menyimpulkannya sendiri. Penyerupaan hadir secara tidak langsung, tanpa adat tasybih dan tanpa pernyataan eksplisit antara dua unsur sesuai pendapat Al-Harbiy, data (A. ini termasuk tasybih dhimni dan tasybih ini berfungsi sebagai menjelaskan kemungkinan terjadinya ( AuIA A EI AO EON EIIOAUA( )EOI uIEINA2011 ,A)EOA. KESIMPULAN Diwan Qaalat Lii As-Samra karya Nizar Qabbani menunjukkan pemanfaatan gaya bahasa tasybih secara intens dan sadar sebagai sarana pengungkapan makna. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui ditemukannya berbagai bentuk tasybih yang variatif, baik dari segi struktur maupun fungsinya. Jenis tasybih yang digunakan meliputi tasybih mursal, tasybih mufashshal, tasybih muAoakkad, tasybih baligh dan tasybih dhimni. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Tujuan penggunaan tasybih dalam diwan tersebut tidak terbatas pada aspek estetis semata, melainkan berfungsi untuk menjelaskan keadaan Musyabbah (A)OI ENA, menegaskan intensitas makna atau menjelaskan kemungkinan terjadinya ( UAuI EOI uIEINA A)EI AO EON EIIOA. , serta memperindah atau memperburuk Musyabbah (A )EOOIN O ECONAsesuai diungkapkan Qabbani. Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya memfokuskan pada analisis tasybih dalam Diwan Qaalat Lii as-Samra karya Nizar Qabbani dan terbatas pada pendekatan balaghah tanpa mengkaji unsur gaya bahasa lain seperti istiAoarah atau kinayah yang juga berpotensi memperkaya makna puisi. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kajian balaghah dan sastra Arab, khususnya dalam memahami fungsi stilistika atau gaya bahasa dalam puisi Arab modern. REFERENSI AAoyuni. Puisi dan Perlawanan Atas Budaya Patriarki Arab (Studi Semiotika dalam Antologi Puisi Hakadha Aktubu Tarikh an-NisaAo Karya Nizar Qabban. Penerbit Kampus. https://repository. id/dspace/handle/123 456789/65828. Al-Batawiy. Ilmu Balaghah Untuk Pemula. Pustaka BISA.