JURNAL FLYWHEEL. September 2023. Vol 14 . , 1-10 E-ISSN: 2745-7435 P-ISSN: 1979-5858 Analisis Mesin Mixer Pakan Ternak Dengan Metode Six Big Losses. FMEA dan LTA (Studi Kasus pada Koperasi Agro Niaga Jabung Syariah Unit Sarana Produksi Pakan Ternak - SAPRONAK) 1,2,3 Andy Hardianto1*. Yudha Alvianto 2. Silviana 3 Fakultas Teknik. Jurusan Teknik Industri. Universitas Widyagama Malang Jl. Borobudur No. 35 Malang. Jawa Timur Email: andy@widyagama. ABSTRAK Koperasi Agro Niaga Jabung Syariah pada unit Sarana Produksi Pakan Ternak (SAPRONAK) adalah sebuah perusahaan dibidang manufaktur yang memproduksi pakan ternak sapi perah dan sapi potong. Mesin produksi yang digunakan yaitu mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer dengan kapastias 2. 000 kg per batch serta memiliki 6 buah paddle. Perusahaan mengalami downtime tepatnya 1 tahun terakhir, yang mana pada bulan Januari 2022 Ae Januari 2023 sebesar 3. 420 menit. Dengan adanya latar belakang permasalahan tersebut, penulis ingin melakukan analisis penyebab permasalahan yang menyebabkan downtime dengan menggunakan fishbone diagram. Dari hasil analisis, faktor yang dominan yang menyebabkan paddle mixer patah disebabkan oleh faktor mesin. Berdasarkan perhitungan nilai Overall Equipment Effectiveness mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer di Koperasi Agro Niaga Jabung Syariah pada unit Sarana Produksi Pakan Ternak (SAPRONAK) yaitu sebesar 72. 39% dengan availability 40%, performance sebesar 74. 90% dan quality rate sebesar 99. Hasil perhitungan nilai Six Big Losses masing-masing yaitu Reduced Speed Losses sebesar 23. Idling and Minor Stoppages 5. Breakdown Losses 30%. Setup and Adjustment sebesar 0. Reject Losses sebesar 0. Dari nilai ini dapat dilihat bahwa faktor Reduced Speed Losses dan Idling and Minor Stoppages Losses merupakan faktor losses dengan nilai tertinggi. Untuk mengidentifikasi failure mode menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Dari hasil analisis FMEA diperoleh 4 failure mode yang terdiri dari patah pada paddle mixer, tombol panel listrik rusak dan kabel panel putus, rotor coil terbakar, motor housing pecah, roller bearing rusak dan kipas/fan rotor rusak, rumah gear box pecah, bearing macet, oli habis dan roda gigi aus. Untuk menentukan konsekuensi kegagalan yang ditimbulkan dari failure mode dan menentukan kebijakan preventive maintenance yang efektif untuk setiap mesin disesuaikan dengan klasifikasi LTA. Failure mode kategori A dilakukan dengan pengoperasian mesin sesuai SOP, kategori B dilakukan pemeriksaan mesin dan persiapan spare part dan kategori C dilakukan pemasangan yang tepat, pelumasan dan Kata Kunci : Mesin Mixer. Six Big Losses. FMEA. LTA PENDAHULUAN Perkembangan teknologi yang ada di Indonesia saat ini berjalan dengan cepat dan semakin canggih. Perubahan teknologi yang digunakan dapat menimbulkan perubahan dari input serta output yang dihasilkan perusahaan. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan produktivitas dan penggunaan teknologi yang tinggi berupa mesin serta fasilitas produksi maka kebutuhan akan fungsi perawatan semakin bertambah besar. Dalam menggunakan fasilitas produksi agar kontinuitas produksi dapat terjamin, maka perlu direncanakan kegiatan perawatan yang dapat mendukung keandalan suatu mesin. Keandalan mesin merupakan salah satu aspek yang sangat penting sehingga dapat mempengaruhi kelancaran proses produksi serta produk yang dihasilkan. Keandalan ini dapat membantu memperkirakan peluang suatu komponen mesin untuk dapat bekerja sesuai dengan tujuan yang diinginkan pada jangka waktu tertentu. Koperasi Agro Niaga Jabung Syariah pada unit Sarana Produksi Pakan Ternak (SAPRONAK) adalah sebuah perusahaan dibidang manufaktur yang memproduksi pakan ternak sapi perah dan sapi potong. Mesin produksi yang digunakan yaitu mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer dengan kapastias 2. 000 kg per batch serta memiliki 6 buah paddle. Berdasarkan data operasional yang didapat dari hasil wawancara terhadap head departemen produksi dan teknisi bahwa mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer mulai running pada bulan Februari 2021, dibuat oleh vendor yang bergerak dibidang konsultan dan produsen mesin feed mill. Pada bulan Januari 2022 perusahaan sempat mengalami ketidakstabilan dalam produksi yang terjadi karena paddle mixer patah, sehingga terjadi downtime pada proses produksi. Perusahaan mengalami downtime tepatnya 1 tahun terakhir, yang mana pada bulan Januari 2022 Ae Januari 2023 sebesar 3. 420 menit. Berdasarkan data historis yang diperoleh, jumlah kerusakan mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer sebagai berikut : Yudha Alvianto1. Andy Hardianto2. Silviana 3 Tanggal Tabel 1 Data Kerusakan Mesin (Bulan Januari 2022 Ae Januari 2. Downtime Produksi Target Komponen (Meni. Produksi 28 Januari 2022 Paddle nomer 2 patah 288,000 1,738,000 08 Februari 2022 Poros penahan bombdoor jebol 48,000 1,390,500 09 Maret 2022 Paddle nomer 2 patah 216,000 1,525,000 19 April 2022 Baut silinder bombdoor longgar 24,000 2,081,900 09 Juni 2022 Paddle nomer 1 patah 192,000 1,481,000 15 Agustus 2022 Paddle nomer 6 patah 168,000 1,333,500 12 Oktober 2022 Paddle nomer 6 patah 144,000 1,228,000 04 November 2022 Paddle nomer 4 patah 168,000 1,291,000 03 Januari 2023 Paddle nomer 3 patah 120,000 1,322,000 1,368. 13,390. Total Pada tabel 1. 1 diketahui bahwa mesin yang sering mengalami downtime yaitu pada komponen paddle mixer. Paddle mixer tersebut merupakan komponen utama untuk proses pencampuran semua bahan baku agar tercampur atau homogen. Sesuai dengan permasalahan yang terjadi pada paddle mixer, peneliti ingin meninjau lebih lanjut untuk mengidentifikasi enam kerugian besar dengan menggunakan metode six big losses. Mitigasi resiko komponen yang menyebabkan kemungkinan kegagalan, penyebab potensial dan dampak kegagalan dengan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA). Selanjutnya untuk menentukan klasifikasi kategori dari tiap kegagalan dari komponen prioritas menggunakan Logic Tree Analysis (LTA). METODOLOGI PENELITIAN Dalam penelitian ini, uraian prosedur penelitian dapat digambarkan berupa diagram alir seperti gambar dibawah ini: Studi Lapangan Identifikasi Masalah Rumusan Masalah Tahap Pendahuluan Studi Literatur Tujuan Penelitian Pengumpulan Data Tahap Pengumpulan Data Data Primer Data Sekunder - Wawancara dengan Head Production dan Teknisi - Spesifikasi mesin Tahap Pengolahan Data Tahap Analisis Dan Pembahasan Tahap Simpulan Dan Saran - Data kerusakan mesin dari bulan Januari 2022 Ae Januari 2023 Pengolahan Data : O Identifikasi permasalahan dengan menggunakan Fishbone Diagram O Perhitungan OEE O Identifikasi kerugian dengan menggunakan Six Big Losses O Memberikan penilaian resiko menggunakan FMEA O Identifikasi kekritisan menggunakan LTA Analisis dan Pembahasan : O Fishbone Diagram O OEE O Six Big Losses O Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) O Logic Tree Analysis (LTA) Simpulan dan Saran Gambar 1. Diagram Alir Analisis Mesin Mixer Pakan Ternak Dengan Metode Six Big Losses. FMEA DAN LTA ANALISIS DAN PEMBAHASAN 1 Analisis Perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Analisis terhadap nilai OEE dilakukan untuk melihat tingkat efektivitas penggunaan mesin mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer selama bulan Januari 2022 sampai Januari 2023. Dengan melihat hasil perhitungan OEE dapat dilihat adanya ketidakstabilan kinerja mesin. Nilai OEE memiliki beberapa kategori tertentu, hal ini untuk mengetahui apa hasil dari nilai OEE itu sendiri dan apa yang harus dilakukan jika nilai OEE kurang baik. Japan Institute of Plant Maintenance (JIPM) telah menetapkan standar benchmark untuk nilai OEE. Berikut adalah kategori nilai OEE untuk standart yang sudah ditentukan. Nilai OEE 40% masuk dalam kategori RENDAH, tetapi dalam beberapa kasus yang terjadi dapat dengan mudah melakukan improvement melalui pengukuran langsung dengan menelusuri alasan-alasan downtime dan menanggulangi sumber-sumber penyebab dari downtime. Nilai OEE 60% masuk dalam kategori SEDANG tetap diperlukan adanya perbaikan pada sistem agar nilai OEE naik menjadi di atas 85% sehingga perusahaan akan bergerak menuju kelas dunia. Kategori ini dapat menimbulkan sedikit kerugian ekonomi dan daya saing sedikit rendah. Nilai OEE 85% masuk dalam kategori KELAS DUNIA, kategori ini masuk ke dalam efek kelas dunia dan baik dalam daya saing, setiap perusahaan menjadikan kategori ini menjadi tujuan jangka panjang yang Nilai OEE 100% masuk dalam kategori SEMPURNA, hanya memproduksi produk tanpa cacat, bekerja dalam performance yang cepat, dan tidak ada downtime. Nilai OEE dari hasil perhitungan pada mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer dalam memproduksi Pakan Ternak di Koperasi Agro Niaga Jabung Syariah pada unit Sarana Produksi Pakan Ternak (SAPRONAK) dari bulan Januari 2022 sampai Januari 2023 sebagai berikut: Tabel 2. Persentase nilai OEE mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer Bulan Availability (%) Quality (%) Nilai OEE Januari 2022 Performance (%) Februari 2022 Maret 2022 April 2022 Mei 2022 Juni 2022 Juli 2022 Agustus 2022 September 2022 Oktober 2022 November 2022 Desember 2022 Januari 2023 Rata-Rata OEE Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan pada tabel di atas, maka dapat diketahui nilai dari overall equipment effectiveness keseluruhan mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer dalam memproduksi pakan ternak di Koperasi Agro Niaga Jabung Syariah pada unit Sarana Produksi Pakan Ternak (SAPRONAK) dari bulan Januari 2022 sampai Januari 2023 adalah 72. 39% yang berarti bahwa efektifnya keseluruhan mesin atau perlatan berkerja. Menurut standar nilai OEE yang sudah ditentukan, nilai OEE mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer masuk dalam kategori sedang, dimana nilainya berkisaran pada persentase 60% sampai 84%. Pada kategori ini nilai mesin dalam kerja produksi dianggap wajar dan masih memiliki ruang untuk dilakukannya improvement untuk menjadikan proses produksi bisa mencapai kelas dunia. Nilai OEE dengan standar dunia memiliki persentase nilai 85%. Perbandingan nilai overall equipment effectiveness pada keseluruhan mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer dalam memproduksi pakan ternak di Koperasi Agro Niaga Jabung Syariah pada unit Sarana Produksi Pakan Ternak (SAPRONAK) dari bulan Januari 2022 sampai Januari 2023 dengan nilai overall equipment effectiveness standar Internasional. Maka dapat dilihat bahwa nilai OEE pada mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer dalam memproduksi pakan ternak di Koperasi Agro Niaga Jabung Syariah pada unit Sarana Produksi Pakan Ternak Yudha Alvianto1. Andy Hardianto2. Silviana 3 (SAPRONAK) berada dibawah OEE standar internasional yaitu berada dibawah 85,40% yang berarti harus dilakukan suatu perbaikan diseluruh nilai dari overall equipment effectiveness sehingga keefektifan mesin berkerja dapat berjalan secara optimal. Tabel 3. Data perbandingan OEE Current dan OEE World Class OEE Factor World Class Our Current OEE Action Availability Good Performance Quality Improve Improve Overall OEE Improve 2 ANALISIS PERHITUNGAN SIX BIG LOSSES Analisis six big losses ini agar perusahaan mengetahui faktor apa dari keenam losses yang memberikan kontribusi terbesar yang mengakibatkan rendahnya efektifitas mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer. Dari hasil ini yang akan menjadi prioritas utama untuk diperbaiki. Adapun perhitungan rata-rata setiap losses dari bulan Januari 2022 sampai Januari 2023 dapat dilihat seperti pada tabel di bawah ini: Tabel 4. Persentase rata-rata losses mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer Six Big losses Rata-rata losses (%) Reduced Speed Losses Idling and Minor Stoppages Breakdown Losses Setup and Adjustment Reject Losses Total Persentase (%) Persentase Kumulatif (%) Dari hasil persentase rata-rata losses diatas dapat dilihat bahwa total rata-rata losses yang didapat dari lima losses yang ada sebesar 32. Dari hal diatas dapat dilihat bahwa adalah Reduced Speed Losses dan Idling and Minor Stoppages Losses merupakan losses yang paling tinggi, hal ini berdampak besar karena dengan kurangnya performa mesin dalam bekerja mengakibatkan target yang sudah ditentukan tidak bisa tercapai. Persentase losses pada tabel diatas menjelaskan bahwa berapa persentase losses yang disumbangkan dari masing-masing losses dengan total losses 32. Kumulatif persentase merupakan penjumlahan persentase losses yang didapat. Berdasarkan tabel di atas rata-rata persentase losses mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer dapat ditunjukan dalam bentuk diagram pareto seperti dibawah ini: Gambar 2. grafik pareto Pada grafik pareto dapat kita lihat bahwa kontribusi losses paling besar dan paling berpengaruh pada mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer dari bulan Januari 2022 sampai Januari 2023 adalah Reduced Speed Losses Analisis Mesin Mixer Pakan Ternak Dengan Metode Six Big Losses. FMEA DAN LTA 90% dengan menyumbang losses terhadap losses lain sebanyak 72. 95% dan Idling and Minor Stoppages Losses sebanyak 5. 27% dengan menyumbang losses terhadap losses lain sebanyak 89. Prioritas yang diambil untuk dilakukannya tindakan minimasi adalah dua losses tersebut. Diambil dua losses terbesar karena pada grafik dapat terlihat jelas bahwa dua losses ini memiliki nilai persentase yang tinggi dan juga losses ini saling berhubungan karena dua losses ini masuk dalam kategori Speed Losses. 3 ANALISIS PERHITUNGAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYZE (FMEA) Metode Failure Mode and Effect Analyze (FMEA) bertujuan untuk mengidentifikasi seluruh modus kegagalan dalam system untuk menentukan prioritas kegagalan pada mesin, baik yang sudah terjadi maupun belum terjadi tetapi memiliki potensi untuk terjadi. Prioritas kegagalan mesin tersebut diperoleh setelah dilakukan perhitungan Risk Priority Number (RPN) untuk mengetahui kuantitas kegagalan dari mesin produksi dan komponennya. Berikut hasil perhitungan nilai RPN yang diambil dari mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer. Tabel 5. Failure Mode and Effect Analyze Pada Mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer. Curren Potential Potential Potential RPN Part Function Failure Effect Of Cause Of S O D Control Mode Failure Failure Tidak Debu Berfungs dapat i sebagai menghid pada panel Mengo kontroler mesin listrik, serta ntrol Mesin Panel mengope Tombol han dan Listrik menyebabka usia panel kompo memerint rusak, listrik tidak nen Kabel bergerak listrik Mengo Berfungs Rumah Kotoran i sebagai Rumah Korosif Mixer pada rumah menem mixer akan pel Korosif. Pengec Poros Berfungs paddle 10 4 10 i sebagai patah Overload n As paddle Paddle k untuk Mixer Pengec Penyambung ekan Paddle paddle pada 10 4 10 patah tidak setiap Berfungs Putaran Pengantian Pengec i sebagai Bearing menahan longgar Bearing atau kurang tepat berkala Usia Peluma Bearing Tidak ng suatu bearing telah secara Yudha Alvianto1. Andy Hardianto2. Silviana 3 Part Function Potential Failure Mode Potential Effect Of Failure Gear Box Motor Listrik Pneum Boomd Berfungs i sebagai n putar aikan fun gsi dan Berfungs i sebagai pada saat Berfungs i sebagai aikan dan Berfungs i sebagai Potential Cause Of Failure Korosif, n rumah gear box pecah Beban kerja n yang sudah Waktu tidak sesuai Curren Control RPN Rumah gear box Mesin Bearing Suara gear box Oli habis Gear box Roda gigi aus Mesin Adanya benda asing Kompon en mesin Umur pakai over heating overload dan panas karena Mengo han dan Korosif Debu Pengec Korosif. Adanya benda asing Mengo Rotor Motor Roller Kipas/fa n rotor Pneumati c macet r jebol Mengo Mengo Mengo Mengo han di Analisis Mesin Mixer Pakan Ternak Dengan Metode Six Big Losses. FMEA DAN LTA Curren RPN Part Function S O D Control Pengec Baut Usia pakai Suara baut sudah Material Pengec Open/clo Sensor tidak bisa ke ekan Dapat diketahui dari tabel Failure Mode and Effect Analyze (FMEA) bahwa nilai total RPN yang tertinggi terdapat pada empat komponen yaitu Paddle mixer dengan nilai RPN sebesar 400. Panel listrik dengan RPN sebesar 200. Motor listrik dengan RPN sebesar 30 dan Gear box dengan nilai RPN sebesar 21. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai metode Failure Mode and Effect Analyze (FMEA) pada tiap komponen mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer: Paddle Mixer Paddle mixer memiliki fungsi sebagai pengaduk untuk pencampuran material. Penyebab kegagalan yang sering terjadi pada paddle mixer yaitu terjadinya patah pada paddle mixer, hal ini terjadi karena material ada yang bisa menyebabkan korosif serta tidak memperhitungkan berat jenis pada saat desain pembuatan mesin dan penyambungan paddle mixer saat terjadi patah tidak tepat. Akibatnya paddle mixer terjadi overload pada saat pencampuran material sehingga tidak dapat beroperasi dan produksi terhenti. Pada perhitungan nilai RPN dihasilkan nilai sebesar 400 yaitu perkalian dari severity dengan score 10, occurency dengan score 4, dan detection dengan score 10. Dan paddle mixer termasuk dalam urutan pertama dari empat komponen yang mempunyai nilai RPN terbesar. Panel Listrik Panel listrik memiliki fungsi sebagai tombol kontroler untuk mengoperasikan atau memerintahkan mesin bergerak. Penyebab kegagalan panel listrik yaitu tombol panel listrik rusak dan kabel panel putus, sehingga tidak dapet menghidupkan mesin. Hal ini terjadi karena adanya debu dan kotoran yang menempel pada panel listrik, serta kurangnya Akibatnya panel listrik tidak bisa memerintahkan mesin berjalan sehingga tidak dapat beroperasi. Pada perhitungan nilai RPN dihasilkan nilai sebesar 200 yaitu perkalian dari severity dengan score 10, occurency dengan score 4, dan detection dengan score 5. Dan panel listrik termasuk dalam urutan kedua dari empat komponen yang mempunyai nilai RPN terbesar. Motor Listrik Motor listrik mempunyai fungsi sebagai pengerak poros paddle mixer pada saat proses mixing berlangsung. Penyebab kegagalan motor listrik yaitu rotor coil terbakar, motor housing pecah, roller bearing rusak dan kipas/fan rotor Hal ini terjadi karena umur pakai sudah maksimal, over heating karena overload dan panas karena ruangan kurang Akibatnya mesin tidak dapat dinyalakan sehingga produksi terhenti. Pada perhitungan nilai RPN dihasilkan nilai sebesar 30 yaitu perkalian dari severity dengan score 3, occurency dengan score 2, dan detection dengan score 5. Dan motor listrik termasuk dalam urutan ketiga dari empat komponen yang mempunyai nilai RPN terbesar. Gear Box Gear box mempunyai fungsi sebagai mengatur kecepatan putar daya yang tersedia menyesuaikan fungsi dan tujuan dari mesin. Penyebab kegagalan gear box yaitu rumah gear box pecah, bearing macet, oli habis dan roda gigi aus. Hal ini terjadi karena material ada yang bisa menyebabkan korosif, adanya getaran menyebabkan rumah gear box pecah, beban kerja serta beroperasi sudah lama, waktu pelumasan yang tidak sesuai jadwal dan adanya benda asing yang menganjal. Akibatnya mesin beroperasi sedikit lambat. Pada perhitungan nilai RPN dihasilkan nilai sebesar 21 yaitu perkalian dari severity dengan score 7, occurency dengan score 1, dan detection dengan score 3. Dan gear box termasuk dalam urutan keempat dari empat komponen yang mempunyai nilai RPN terbesar. Potential Failure Mode Potential Effect Of Failure Potential Cause Of Failure 4 ANALISIS Logic Tree Analysis (LTA) Untuk mengetahui kategori failure mode terhadap langkah perbaikan yang harus segera dilakukan serta arah tindakan yang harus dipilih untuk mengatasi failure mode menggunakan Logic Tree Analysis (LTA). Berikut ini analisis Logic Tree Analysis (LTA) yang didapatkan, dimana keterangan tersebut di breakdown kedalam masing-masing jenis kerusakan pada mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer: Yudha Alvianto1. Andy Hardianto2. Silviana 3 Komponen Tabel 6. Hasil Analisis Menggunakan Logic Tree Analysis (LTA) Critically Analysis Failure Function Mode Evidents Safety Outage Category Panel Listrik Berfungsi sebagai tombol kontroler untuk mesin bergerak Tidak dapat kan mesin Tombol panel listrik Kabel panel listrik putus Paddle Mixer Berfungsi pengaduk untuk Poros paddle Paddle patah Tidak Gear Box Berfungsi kecepatan putar menyesuaikan fu ngsi dan tujuan dari mesin Rumah gear box pecah Bearing Oli Roda Tidak Tidak Berfungsi sebagai motor pengerak poros paddle pada saat Rotor Motor Roller Kipas/fan rotor rusak Tidak Motor Listrik Berdasarkan hasil analisis menggunakan Logic Tree Analysis (LTA) pada tabel di atas, diperoleh kategori dari masing-masing failure mode pada mesin. Failure mode yang termasuk kategori A yaitu safety problem. Dalam kondisi normal saat mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer beroperasi, operator mengetahui kerusakan yang terjadi didalam mesin. Kerusakan dalam kategori ini dapat mengancam keselamatan operator dan lingkungan kerja. Failure mode yang termasuk kategori ini yaitu tombol panel listrik rusak dan kabel panel listrik putus sehingga tidak dapat menghidupkan mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer. Jika kerusakan ini tidak segera diperbaiki akan menyebabkan terjadinya konslet/hubungan arus pendek. Tombol panel listrik rusak dan kabel panel listrik putus terjadi karena debu dan kotoran menempel pada panel listrik, serta kurangnya ventilasi. Failure mode yang termasuk kategori ini juga yaitu rotor coil terbakar, motor housing pecah, roller bearing rusak dan kipas/fan rotor rusak. Hal ini terjadi karena umur pakai sudah maksimal, over heating karena overload dan panas karena ruangan kurang ventilasi. Jika kerusakan ini tidak segera diperbaiki akan menyebabkan terjadinya mesin tidak dapat dinyalakan sehingga produksi Failure mode yang termasuk kategori B yaitu outage problem. Dalam kondisi normal saat mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer beroperasi, operator mengetahui kerusakan yang terjadi didalam mesin. Kerusakan dalam kategori ini menyebabkan mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer tidak dapat beroperasi dan produksi Failure mode yang termasuk kategori ini yaitu poros dan paddle mixer patah. Hal ini terjadi karena material ada Analisis Mesin Mixer Pakan Ternak Dengan Metode Six Big Losses. FMEA DAN LTA yang bisa menyebabkan korosif serta tidak mempertimbangkan berat jenis material pada saat desain pembuatan mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer dan penyambungan paddle mixer saat terjadi patah tidak tepat. Mesin berhenti beroperasi total jika kerusakan terjadi, perbaikan paddle mixer ini hanya bisa dilakukan oleh pihak exsternal/vendor dengan melakukan penyambungan, karena tidak memiliki alat yang memadahi serta kurangnya pengalaman pada bidang tersebut. Failure mode yang termasuk kategori C yaitu economic problem. Dalam kondisi normal saat mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer beroperasi operator mengetahui kerusakan yang terjadi didalam mesin. Failure mode yang termasuk kategori ini yaitu rumah gear box pecah, bearing macet, oli habis dan roda gigi aus. Saat kerusakan terjadi tidak menyebabkan mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer berhenti, karena perbaikan dapat dilakukan dalam kondisi mesin beroperasi sehingga tidak menganggu proses produksi pakan ternak. Akan tetapi kerusakan ini tetap menimbulkan kerugian yang relatif kecil dalam melakukan perbaikan. KESIMPULAN DAN SARAN 1 KESIMPULAN Berikut ini merupakan kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan di Koperasi Agro Niaga Jabung Syariah pada unit Sarana Produksi Pakan Ternak (SAPRONAK): Berdasarkan hasil analisa perhitungan overall equipment effectiveness (OEE) yang menjadi fokus perbaikan diantara availability, performance, dan rate of quality adalah performance dikarenakan nilai dari performance lebih rendah dibandingkan dengan availability, dan rate of quality product dengan nilai dari performance efficiency adalah 74. %, availability adalah 96. 40 %, dan rate of quality product adalah 99. 98 %, dengan nilai total overall equipment effectiveness adalah 72. 39 %. Berdasarkan hasil analisa perhitungan six big losses, prioritas yang diambil untuk dilakukannya tindakan minimasi adalah Reduced Speed Losses dan Idling and Minor Stoppages Losses. Reduced Speed Losses sebanyak 23. dengan menyumbang losses terhadap losses lain sebanyak 72. 95% dan Idling and Minor Stoppages Losses sebanyak 27% dengan menyumbang losses terhadap losses lain sebanyak 89. Diambil dua losses terbesar karena dua losses ini memiliki nilai persentase yang tinggi dan juga losses ini saling berhubungan karena kedua losses ini masuk dalam kategori Speed Losses, yang diakibatkan mesin tidak dapat bekerja optimal . enurunan kecepatan operas. terjadi jika kecepatan actual operasi mesin/peralatan lebih kecil dari kecepatan optimal atau kecepatan mesin yang Identifikasi resiko kegagalan pada mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer di Koperasi Agro Niaga Jabung Syariah pada unit Sarana Produksi Pakan Ternak (SAPRONAK) menggunakan Failure Mode and Effect Analyze (FMEA), diperoleh nilai Risk Priority Number (RPN) dari tertinggi ke terendah yaitu Paddle mixer dengan nilai RPN sebesar 400. Panel listrik dengan RPN sebesar 200. Motor listrik dengan RPN sebesar 30 dan Gear box dengan nilai RPN sebesar 21. Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan metode logic tree analysis (LTA) diperoleh klasifikasi failure mode pada mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer di Koperasi Agro Niaga Jabung Syariah pada unit Sarana Produksi Pakan Ternak (SAPRONAK) didapatkan failure mode kategori A . afety proble. yaitu tombol panel listrik rusak, kabel panel listrik putus, rotor coil terbakar, motor housing pecah, roller bearing rusak dan kipas/fan rotor rusak, failure mode kategori B . utage proble. yaitu poros dan paddle mixer patah, failure mode kategori C . conomic proble. yaitu rumah gear box pecah, bearing macet, oli habis dan roda gigi aus. Rekomendasi perbaikan yang di usulkan berupa management pada operator, manusaia, metode, material, mesin, lingkungan. SOP (Standar Operational Procedur. perawatan mesin dengan menggunakan checklist harian dalam upaya meningkatkan produktivitas mesin yang sebelumnya belum optimal atau maksimal pada saat mesin beroperasi, sehingga dapat meminimalkan terjadinya kegagalan pada mesin horizontal mixer tipe pengaduk paddle mixer yang kemudian dapat meningkatkan keandalan mesin untuk memaksimalkan produktivitas dari mesin tersebut. 2 SARAN Berikut adalah saran dari peneliti untuk Koperasi Agro Niaga Jabung Syariah pada unit Sarana Produksi Pakan Ternak (SAPRONAK): Perusahaan lebih selektif dalam memilih vendor dalam pembuatan mesin agar dalam pembuatan mesin memiliki bahan dengan kualitas terbaik serta mempunyai hasil uji material sehingga mencegah kerusakan komponen pada saat proses produksi. Perusahaan dapat menerapkan rekomendasi perbaikan yang telah diusulkan sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan menjadi seoptimal mungkin. Perlu adanya koordinasi antar operator atau teknisi dalam bidang perencanaan perawatan agar sejalan apa yang direncanakan dengan kondisi dilapangan. Diharapkan perusahaan mampu meningkatkan pengawasan kinerja karyawan pada seluruh kegiatan produksi dan perbaikan kerusakan mesin secara intensif untuk menekan resiko kegagalan yang bisa terjadi. Untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menggunakan metode analisa perawatan dengan menggunakan Reliability Centered Maintenance (RCM). Yudha Alvianto1. Andy Hardianto2. Silviana 3 DAFTAR PUSTAKA