Volume 5 No. Tahun 2025 Halaman 99 Ae 108 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Habitus Campus party pada Mahasiswa Kampus Negeri di Kota Surabaya dan Relevansinya dalam Pembelajaran IPS Muhammad Asrorun NiAoam . Katon Galih Setyawan . Niswatin . , dan Ali Imron . 1 ,2,3,. Pendidikan IPS,Universitas Negeri Surabaya. Indonesia Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana budaya Campus party membentuk pola pikir dan perilaku mahasiswa, khususnya dalam konteks moral dan etika. Fenomena ini menjadi perhatian karena banyak mahasiswa yang terlibat dalam aktivitas party kampus cenderung mengalami perubahan dalam cara memandang nilai tanggung jawab, kejujuran, dan kedisiplinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, untuk memahami pengalaman subjektif mahasiswa yang pernah mengikuti Campus party. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya ini telah membentuk habitus atau kebiasaan sosial yang memungkinkan mahasiswa menormalisasi perilaku yang secara etis dipertanyakan. Mahasiswa sering mengalami dilema antara keinginan untuk diterima dalam pergaulan dan dorongan moral yang mereka miliki. Akibatnya, banyak dari mereka yang mengubah cara pandang terhadap etika demi menyesuaikan diri dengan lingkungan. Budaya permisif ini, jika tidak dikawal secara aktif oleh institusi pendidikan, dapat merusak kesadaran moral mahasiswa secara perlahan. Temuan ini menekankan pentingnya pendampingan dan pembinaan karakter secara berkelanjutan di lingkungan kampus, agar mahasiswa tidak hanya tumbuh sebagai insan akademik, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat. Pendidikan tinggi harus menjadi ruang pembentukan kepribadian, bukan sekadar tempat mengejar prestasi akademik. Kata Kunci: Campus party. Moral Mahasiswa, dan Etika Akademik Abstract This study aims to examine in depth how Campus party culture shapes the mindset and behavior of students, especially in the context of morals and ethics. This phenomenon is a concern because many students involved in Campus party activities tend to experience changes in the way they view the values of responsibility, honesty, and discipline. This research uses a qualitative approach with phenomenological methods, to understand the subjective experiences of students who have participated in campus parties. Data were collected through in-depth interviews and analyzed thematically. The results showed that this culture has formed a habitus or social habit that allows students to normalize ethically questionable behavior. Students often experience a dilemma between the desire to be accepted in the society and their moral impulses. As a result, many of them change their perspective on ethics in order to fit in with the environment. This permissive culture, if not actively guarded by educational institutions, can slowly damage students' moral awareness. This finding emphasizes the importance of continuous mentoring and character building on campus, so that students not only grow as academic people, but also have strong moral Higher education should be a space for personality formation, not just a place to pursue academic achievement. Keywords: Campus party. Student Morals, and Academic Ethics This is an open access article under the CCAeBY-SA Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 99-108 How to Cite: NiAoam. Setyawan. Niswatin. , & Imron. Habitus Campus party pada Mahasiswa Kampus Negeri di Kota Surabaya dan Relevansinya dalam Pembelajaran IPS. Dialektika Pendidikan IPS. Vol 5 (No . : halaman 99- 108 PENDAHULUAN Pendidikan adalah hal yang paling penting dalam kehidupan manusia karena setiap orang berhak atas pendidikan yang layak dan merata. Sistem pendidikan di Indonesia tidak jauh berbeda dengan sistem di negara lain, sistem pendidikan di Indonesia dianggap kaku dan tidak efektif. Sistem pendidikan di Indonesia terdapat perbedaan kualitasnya dengan negara-negara lain, hal yang membedakan adalah kesalahan yang terjadi selama praktek di lapangannya. Banyak kesalahan mendasar yang membedakan tujuan sistem pendidikan dari pelaksanaannya di lapangan, yang pada akhirnya menyebabkan semua tujuan itu tidak dapat dicapai dan diselesaikan dengan baik (Amalia, 2. Pendidikan merupakan wahana penting dan alat yang efektif untuk menanamkan nilai kerja, norma, dan etika di masyarakat. Pendidikan juga dapat berfungsi sebagai alat untuk membangun dan memupuk kepribadian bangsa, memperkuat identitas nasional, dan memantapkan jati diri bangsa. Pendidikan dapat berfungsi sebagai wahana strategis untuk membangun kesadaran kolektif sebagai warga dengan mengukuhkan ikatan sosial, menghargai keragaman budaya, ras, suku, dan agama, sehingga dapat memantapkan keutuhan bangsa (Harahap et al. , 2. Universitas adalah komunitas yang memiliki tujuan, tempat di mana kehidupan intelektual adalah pusatnya, dan tempat pengajar dan mahasiswa bekerja sama untuk memperkuat pengajaran dan pembelajaran di kampus (Hadi, 2. Bidang akademis dan non akademik tidak dapat dipisahkan, dan jika siswa tidak terlibat secara intelektual dan tidak menganggap serius misi pendidikan, maka semua pembicaraan tentang komunitas hanya akan menjadi pengalih perhatian. Permasalahannya adalah di banyak kampus, terdapat kesenjangan yang besar antara intelektual dan sosial. Jika berharap untuk meningkatkan kualitas kehidupan kampus, pembelajaran harus menjadi fokus utama. Mahasiswa saat ini berbeda dengan mahasiswa zaman dahulu dalam hal gaya hidup mereka. Gaya hidup siswa saat ini lebih mengikuti perkembangan zaman dan didorong oleh fasilitas yang baik. Masa transisi dari SMA ke kuliah berdampak besar pada perubahan gaya hidup seseorang, baik gaya hidup, penampilan, bahkan karakter secara signifikan. Selain itu, mengunjungi mall, menghabiskan waktu di kafe, menghabiskan waktu di tempat hiburan, atau menjelajah kota di malam hari menjadi hal yang lumrah dilakukan dan menjadi aktivitas favorit mahasiswa terutama yang berada di kotakota besar di Indonesia. Kotler menjelaskan bahwa gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seorang yang berinteraksi dengan lingkungannya (Kana et al. , 2. Perkembangan budaya mahasiswa saat ini memperlihatkan adanya pergeseran nilai yang cukup signifikan, terutama dalam praktik sosial mereka di lingkungan kampus. Salah satu fenomena yang mengemuka adalah maraknya budaya Campus party yang mulai menjadi bagian dari identitas sosial sebagian mahasiswa. Campus party tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan relasi sosial, eksistensi diri, dan bahkan aktualisasi simbolik. Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari konstruksi sosial yang membentuk habitus mahasiswa, seperti dikemukakan oleh Bourdieu, yang memandang habitus sebagai struktur kognitif yang mengarahkan tindakan individu dalam ruang sosial tertentu. Sosok remaja yang penuh dengan rasa keingintahuan sepertinya membuat mereka ingin mencoba semua tantangan baru . Tidak mengherankan bahwa para anak muda ini juga menjadi bagian dari pesta malam di beberapa kafe yang menjadi perhatian (Zulkhairi et al. , 2. Jarang sekali mereka melewatkan waktu "bersenang-senang" dengan menari di lantai disko pada malam-malam clubbing, yang biasanya terjadi pada hari Rabu. Jumat, dan Sabtu. Bahkan tiga dari mereka tidak segan-segan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 99-108 minum bir LongIsland atau minuman dingin. Sangat penting untuk dicatat bahwa para remaja muda yang setia memadati sejumlah kafe pada malam-malam gaul terdiri dari laki-laki dan wanita. Salah satu gaya hidup yang menjadi fenomena tersendiri adalah kegiatan clubbing. Kegiatan yang awalnya berkembang dalam kehidupan masyarakat kalangan eksekutif sebagai ajang untuk melepas kepenatan rutinitas pekerjaan, kini mengalami pergeseran nilai dan mulai menjadi kegiatan yang dilakukan oleh semua lapisan Masyarakat. Hedonistik Kampus menggambarkan kecenderungan mahasiswa untuk memanfaatkan kegiatan kampus, seperti Campus party, sebagai ajang hiburan yang berlebihan, fokus pada kesenangan sementara, dan mengabaikan nilai-nilai akademik. Sebuah istilah yang sering digunakan untuk merujuk pada acara kampus yang tidak terkontrol, melibatkan alkohol, musik keras, dan perilaku destruktif lainnya (Febriani, 2. Perilaku seseorang dalam menghabiskan waktunya . dan hasratnya . terhadap hal-hal yang dianggap penting, dan persepsinya terhadap dirinya dan lingkungannya disebut gaya hidup. Kotler menjelaskan bahwa gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seorang yang berinteraksi dengan lingkungannya (Kana et al. , 2. Clubbing adalah salah satu gaya hidup hedonis yang diikuti oleh remaja saat ini, menurut para peneliti. Clubbing bukan hanya budaya yang sedang populer, tetapi juga dapat membuat anak-anak muda merasa penasaran dan ingin tahu. Kaum intelektual, yaitu Mahasiswa yang seharusnya menyadari bahwa clubbing atau dugem selalu dikaitkan dengan hal-hal negatif, lambat laun melakukannya. Media, yang menyebarkan kebudayaan massal dan membuat aktivitas clubbing semakin berkembang pesat di kalangan Mahasiswa, adalah salah satu alasan mengapa clubbing sangat diminati oleh Mahasiswa. Mahasiswa menghadiri Pesta di luar Kampus untuk alasan sosial, kebijakan ketat di kampus tampaknya tidak mendorong pesta ke lingkungan di luar kampus (Jakeman et al. , 2. Banyak Mahasiswa utamanya dalam Kampus Negeri di Kota Surabaya dengan banyak Variabel dan motif mahasiswa untuk mengikuti kegiatan Campus party di wilayah Club sekitaran kota Surabaya. Contohnya di Club Shalter Surabaya setiap senin dan kamis akan mengadakan event Campus party di setiap malamnya dengan syaratnya yang memberitahukan KTM (Kartu Tanda Mahasisw. di setiap instansi kampusnya. Dengan memberitahukan KTM (Kartu Tanda Mahasisw. tersebut maka akan di berikan diskon 50% di setiap merk di minuman yang di suguhkan. Alih dalih mahasiswa mengikuti kegiatan tersebut adalah untuk ajang Flexing dengan berbagai di setiap kalangannya, kebanyakan mahasiswa yang turut dalam acara Campus party adalah untuk menghilangkan rasa suntuknya karena di desak tugas akademik dan non akademik kampus dan lain sebagainya. Menurut Pierre Bourdieu, hubungan sosial yang terjalin dalam suatu kelompok tidak hanya bersifat spontan, tetapi juga mencerminkan habitus, modal, dan arena . yang membentuk pola interaksi. Dalam konteks Campus party, habitus mahasiswa tercermin dari cara mereka memilih untuk terlibat dalam acara tersebut, seperti apa yang mereka anggap penting, dan bagaimana mereka memposisikan diri dalam lingkup pergaulan. Seperti yang dijelaskan oleh Richard Harker dalam bukunya "(Habitus x Moda. Ranah = Praktik", struktur sosial memainkan peran besar dalam membentuk praktik Dengan kata lain, partisipasi mahasiswa dalam Campus party tidak lepas dari pengaruh habitus dan modal yang mereka miliki (Harker et al. , 2. Hal ini berarti bahwa partisipasi mahasiswa dalam Campus party dipengaruhi oleh pengalaman, latar belakang sosial, dan tujuan personal mereka. Menurut Harker . pendidikan merupakan arena di mana modal sosial dan budaya diproduksi dan direproduksi. Dengan menggunakan fenomena Campus party sebagai bagian dari pembelajaran IPS, mahasiswa diajak untuk tidak hanya memahami konsep-konsep teoretis, tetapi juga menganalisis bagaimana konsep tersebut berlaku dalam kehidupan nyata mereka. Pantalogi sosial menjadi penting Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 99-108 dalam pengembangan kesadaran sosial mahasiswa terhadap isu-isu di sekitarnya. Fenomena Campus party mencerminkan bagaimana struktur sosial kampus, seperti stratifikasi sosial antar kelompok mahasiswa, diinternalisasi dan diwujudkan dalam praktik sehari-hari. Namun, budaya ini menyisakan banyak pertanyaan moral, terutama terkait tanggung jawab, kedewasaan, dan etika mahasiswa sebagai bagian dari komunitas akademik. Berbagai perilaku yang muncul dalam Campus party seperti konsumsi alkohol, seks bebas, hingga tindakan kekerasan verbal maupun fisik, menjadi tantangan serius bagi nilai-nilai moralitas mahasiswa. Penelitian-penelitian sebelumnya telah menyoroti penurunan etika akademik sebagai konsekuensi dari budaya permisif Pendekatan fenomena sosial dalam pembelajaran IPS dapat menjadi strategi efektif untuk menjembatani konsep teoretis dengan praktik nyata. Salah satu fenomena sosial yang relevan adalah dinamika kehidupan mahasiswa di kampus, termasuk Campus party. Campus party, yang kerap dianggap sebagai hal yan masih belum wajar di lingkungan kampus. Fenomena ini dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan konsep-konsep IPS secara kontekstual dan aplikatif. Pemanfaatan fenomena seperti ini dalam pembelajaran IPS di perguruan tinggi berpotensi memunculkan pantalogi sosial, yaitu kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan merefleksikan realitas sosial secara kritis. Pantalogi sosial menjadi penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kesadaran sosial dan empati yang lebih mendalam terhadap masalah-masalah sosial yang ada di sekitar mereka. Hal ini dapat membantu mahasiswa memahami bagaimana ketimpangan sosial tercipta dan bagaimana mereka dapat berperan dalam mendorong perubahan positif. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini penting untuk mengkaji lebih jauh bagaimana habitus Campus party berdampak terhadap konstruksi moral mahasiswa, serta bagaimana mereka menegosiasi nilai-nilai etis dalam kehidupan sosial kampus. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh budaya Campus party terhadap moral dan etika mahasiswa di kampus negeri di Kota Surabaya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi untuk memahami Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi. Pendekatan ini dipilih karena peneliti ingin memahami pengalaman mahasiswa secara langsung dan mendalam, terutama dalam memaknai budaya Campus party yang mereka ikuti, serta bagaimana mereka melihat nilai moral dan etika di dalamnya. Informan dalam penelitian ini adalah enam orang mahasiswa dari tiga perguruan tinggi negeri di Surabaya. Mereka dipilih secara Snowbal karena memiliki pengalaman langsung dalam kegiatan Campus party. Peneliti memilih informan dari latar belakang yang berbedabeda agar mendapatkan pandangan yang lebih beragam. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi. Wawancara dilakukan dengan pertanyaan terbuka agar informan bisa bercerita secara bebas. Peneliti juga mengamati pola pergaulan mahasiswa, baik secara langsung maupun melalui media sosial, untuk melengkapi hasil wawancara. Setelah data terkumpul, peneliti menganalisisnya dengan cara menyederhanakan informasi yang ada, mengelompokkan sesuai tema, lalu menarik kesimpulan. Untuk memastikan data yang diperoleh benar dan dapat dipercaya, peneliti melakukan pengecekan silang dengan berbagai sumber, berdiskusi dengan teman sejawat, serta meminta konfirmasi kembali kepada informan terkait hasil wawancara. Dengan cara ini, peneliti berharap bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana budaya Campus party memengaruhi cara mahasiswa berpikir dan bersikap terhadap nilai moral dan etika dalam kehidupan kampus. HASIL DAN PEMBAHASAN Budaya campus party yang terjadi di kalangan mahasiswa kampus negeri di Kota Surabaya adalah fenomena sosial yang menunjukkan perubahan dalam gaya hidup dan nilai-nilai yang dianut Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa yang pernah mengikuti Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 99-108 kegiatan ini, diketahui bahwa mereka sering mengikuti campus party karena ingin diterima dalam pergaulan, mencari hiburan dari tekanan kuliah, dan sebagai bentuk ekspresi diri. Di balik kegiatan yang terlihat menyenangkan ini, ternyata ada masalah moral dan etika yang cukup serius. Mahasiswa seringkali berada dalam kebingungan antara menjalankan tanggung jawab sebagai pelajar dan keinginan untuk bersenang-senang bersama teman-temannya. Kegiatan campus party memang memberikan kebebasan, tapi kebebasan itu seringkali tidak disertai dengan kesadaran akan tanggung Misalnya, nilai-nilai seperti kedisiplinan, kejujuran, dan komitmen terhadap tugas akademik jadi sering terabaikan. Ada mahasiswa yang memilih pergi ke acara party di malam hari meskipun tahu besok ada kuliah atau tugas yang harus dikumpulkan. Penelitian yang dilakukan oleh (Sari, 2. , menemukan bahwa tekanan sosial dan kebutuhan akan rekreasi merupakan faktor utama yang mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam budaya pesta. Dalam lingkungan kampus, mahasiswa sering kali menghadapi ekspektasi akademik yang tinggi, tuntutan tugas yang menumpuk, serta tekanan dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Dalam situasi seperti ini, pesta menjadi salah satu cara bagi mereka untuk melepaskan stres dan mencari keseimbangan antara kehidupan akademik dan sosial. Beberapa mahasiswa juga mulai memaklumi perilaku yang sebenarnya bertentangan dengan nilai Kejujuran, misalnya, tidak lagi berarti mengatakan kebenaran, tapi berubah menjadi kemampuan untuk menyembunyikan kegiatan mereka dari dosen atau keluarga. Banyak dari mereka yang tahu bahwa kegiatan seperti konsumsi alkohol atau pulang larut malam bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan, tapi tetap melakukannya karena merasa semua orang juga begitu. Penelitian yang dilakukan oleh (Wulandari & Kumalasari, 2. menggunakan pendekatan dramaturgi untuk menganalisis bagaimana mahasiswa yang bekerja sebagai sexy dancer di dunia clubbing membangun serta menampilkan identitas sosial mereka. Pendekatan ini melihat kehidupan sosial sebagai sebuah panggung di mana individu memainkan peran yang berbeda sesuai dengan konteks dan audiens yang Dalam hal ini, penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang terlibat dalam budaya pesta kampus sering kali menampilkan citra diri yang beragam, bergantung pada lingkungan sosial tempat mereka berada. Dalam konteks norma sosial. Campus party mencerminkan bagaimana aturan tidak tertulis dalam suatu komunitas dapat membentuk perilaku individu. Norma sosial dalam budaya pesta kampus berkembang melalui interaksi antar mahasiswa, di mana partisipasi dalam pesta sering kali dipandang sebagai bagian dari kehidupan sosial yang normal. Mahasiswa yang baru memasuki lingkungan ini mungkin merasa terdorong untuk berpartisipasi agar dapat diterima dalam kelompoknya. Dalam banyak kasus, mereka mengalami proses sosialisasi di mana mereka belajar memahami dan menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku dalam budaya pesta kampus. Studi yang dilakukan oleh (Ismail, 2. , menunjukkan bahwa gaya hidup hiburan malam tidak hanya memengaruhi perilaku individu tetapi juga berkontribusi dalam pembentukan norma sosial dalam komunitas Penelitian ini dapat dikaitkan dengan Campus party sebagai ruang sosial di mana norma dan ekspektasi terhadap interaksi sosial mahasiswa terbentuk dan dipertahankan. Ini memberikan pemahaman lebih dalam tentang bagaimana budaya mahasiswa berkembang dalam konteks yang lebih luas. Pesta di lingkungan kampus tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang membentuk identitas individu dan kelompok. Mahasiswa yang terlibat dalam budaya Campus party mengalami perubahan dalam cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, baik dalam lingkup akademik maupun pergaulan sehari-hari. Penelitian yang dilakukan oleh (Setiawan et al. , 2. , menemukan bahwa kebiasaan menghadiri pesta kampus berhubungan dengan keterlambatan penyelesaian studi mahasiswa. Mahasiswa mengalami perubahan dalam pola pikir dan perilaku setelah terpapar dengan budaya pesta kampus, mahasiswa yang kurang mampu mengontrol Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 99-108 keterlibatan mereka dalam budaya pesta berisiko mengalami penurunan prestasi akademik. Kemudian penelitian yang dilakukan (Febriani, 2. menemukan bahwa faktor seperti motivasi individu, tekanan sosial, dan kebutuhan rekreasi berperan dalam mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam dunia pesta malam. Menurut teori Pierre Bourdieu, perilaku ini disebut sebagai habitus, yaitu kebiasaan yang terbentuk dari lingkungan sosial. Mahasiswa yang terbiasa hidup di lingkungan yang permisif atau membebaskan, akan menganggap kegiatan seperti campus party sebagai hal yang biasa saja (Harker et , 2. Mereka tidak merasa bersalah, karena itu sudah menjadi bagian dari kebiasaan sosial yang diterima oleh lingkungannya. Habitus dalam budaya Campus party terbentuk melalui berbagai faktor, termasuk pengaruh lingkungan sosial, tekanan kelompok, serta modal sosial dan budaya yang dimiliki oleh mahasiswa. Dalam lingkungan kampus, interaksi sosial yang intens mendorong mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan norma dan kebiasaan yang berlaku, termasuk keterlibatan dalam budaya pesta. Tekanan kelompok sering kali berperan dalam membentuk keputusan mahasiswa untuk berpartisipasi, di mana keinginan untuk diterima dalam suatu komunitas membuat mereka lebih terbuka terhadap aktivitas sosial tertentu, termasuk pesta kampus. Selain itu, modal sosial dan budaya juga turut berkontribusi dalam membentuk habitus ini. Namun, tidak semua mahasiswa merespons lingkungan sosial kampus dengan cara yang sama. Mereka yang berasal dari latar belakang keluarga dengan penanaman nilai moral yang kuat, atau yang memiliki orientasi akademik yang jelas dan tujuan hidup yang terarah, cenderung lebih berhati-hati dalam memilih kegiatan sosial yang akan mereka ikuti. Nilai moral yang telah tertanam sejak dini menjadi semacam kompas etika yang membimbing mereka dalam mengambil keputusan, termasuk dalam menolak ajakan teman yang dianggap bertentangan dengan prinsip hidup yang mereka pegang. Hal ini sejalan dengan temuan (Pantu et al. , 2. yang menunjukkan bahwa tekanan teman sebaya berpengaruh signifikan terhadap perilaku ketidakjujuran akademik, namun mahasiswa dengan pegangan nilai moral yang kuat cenderung mampu menolak tekanan tersebut. Sebaliknya, mahasiswa yang belum memiliki pegangan nilai yang kuat atau yang merasa kurang memiliki tempat bernaung secara sosial, sering kali lebih rentan untuk mengikuti arus pergaulan hanya demi mendapatkan pengakuan, penerimaan, atau rasa memiliki dalam kelompok. Menurut (Jumaisa & Aras, 2. , kesadaran moral dan spiritual mahasiswa sangat berperan dalam membentuk kesadaran sosial dan kematangan etis mereka, sehingga ketidakhadiran penguatan nilai ini dapat membuat mahasiswa lebih mudah terpengaruh norma sosial negatif yang berkembang dalam lingkungan seperti Campus Dalam konteks ini, norma dan nilai yang berkembang dalam lingkungan Campus party berpotensi membentuk ekspektasi sosial yang baru, memengaruhi gaya hidup, cara berpakaian, pola interaksi, bahkan sistem nilai yang mereka internalisasi. Etika moral sangat berperan dalam pembentukan karakter mahasiswa, dan tanpa pembinaan yang baik, nilai-nilai tersebut dapat melemah dan berakibat pada keputusan yang kurang bijak (Zebua et al. , 2. Oleh karena itu, keterlibatan mahasiswa dalam budaya pesta kampus tidak hanya berdampak pada aspek sosial semata, tetapi juga berpengaruh terhadap pembentukan kesadaran etis dan pengambilan keputusan moral mereka, baik di dalam maupun di luar lingkungan akademik. Fenomena ini menunjukkan pentingnya pendidikan moral dan etika di perguruan tinggi yang tidak hanya teoritis, tetapi mampu membantu mahasiswa mengenali tantangan nyata yang mereka hadapi, serta memperkuat daya tahan nilai ketika dihadapkan pada tekanan sosial yang kuat. Di sinilah muncul ketegangan yang kompleks antara moral pribadi dan tekanan sosial yang dihadapi Seringkali, mahasiswa menyadari apa yang secara moral dan etis benar untuk dilakukan, namun mereka tetap memilih untuk mengikuti perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 99-108 karena takut merasa terasing, berbeda, atau kehilangan rasa diterima dalam kelompok sosialnya. (Apriyana & Puspita, 2. menemukan bahwa sensitivitas etis mahasiswa sangat menentukan bagaimana mereka mempertimbangkan dilema moral dalam kehidupan nyata, namun ketidakmampuan mengelola tekanan sosial dapat membuat mereka terjebak pada keputusan yang tidak sesuai nilai moral. Beberapa mahasiswa bahkan mengalami kecemasan sosial yang mendalam karena khawatir dikucilkan jika tidak ikut serta dalam Campus party. Mereka takut dicap tidak gaul, kurang dewasa, atau tidak mampu beradaptasi dengan norma sosial yang berlaku di lingkungan kampus mereka. Dalam konteks budaya kampus, mahasiswa sering kali menciptakan istilah-istilah khas dan stereotip yang menjadi representasi lingkungan sosial serta kebiasaan yang berkembang di fakultas masing-masing, yang kadang justru memperkuat tekanan untuk menyesuaikan diri. Lebih memprihatinkan lagi, nilai-nilai fundamental yang seharusnya dijaga dan dikembangkan dalam kehidupan kampus seperti tanggung jawab, integritas, kejujuran, dan kedisiplinan dapat tergeser atau Hal ini terjadi karena kampus cenderung hanya fokus pada pencapaian akademik tanpa memberikan perhatian yang cukup pada pembinaan karakter dan pendidikan moral yang Pentingnya kesadaran mahasiswa dalam membina karakter dan etika di lingkungan kampus untuk menghadapi realitas sosial yang kompleks yang memengaruhi perilaku dan keputusan mereka secara nyata (Sipayung et al. , 2. Oleh karena itu, penting bagi institusi pendidikan tinggi untuk menghadirkan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan pengembangan etika dan moral agar mahasiswa mampu berdiri teguh pada prinsipnya sekaligus mampu bersikap bijak dalam menghadapi tekanan sosial. Habitus Campus party memiliki relevansi yang signifikan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), terutama dalam memahami fenomena sosial yang berkembang di masyarakat. Dalam IPS, mahasiswa diajak untuk menganalisis bagaimana norma, nilai, dan struktur sosial terbentuk serta bagaimana individu berinteraksi dalam suatu lingkungan sosial tertentu. Dalam konteks ini. Campus party mencerminkan bagaimana individu menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku dalam suatu komunitas tertentu, termasuk norma-norma tidak tertulis yang membentuk perilaku kolektif. Mahasiswa yang sebelumnya tidak terbiasa dengan budaya pesta dapat mengalami perubahan dalam cara berpikir dan bertindak setelah terpapar dengan lingkungan sosial yang baru. Hal ini sejalan dengan teori habitus Bourdieu, yang menjelaskan bahwa kebiasaan dan cara hidup seseorang terbentuk berdasarkan pengalaman sosial yang terus-menerus (Harker et al. , 2. Namun, pembahasan habitus ini tidak dapat dilepaskan dari dimensi moral dan etika, terutama ketika mahasiswa dihadapkan pada dilema antara menyesuaikan diri dengan lingkungan atau mempertahankan prinsip pribadi. Fenomena ini membuka ruang diskusi dalam IPS mengenai bagaimana individu menimbang tindakan mereka berdasarkan pertimbangan etis, serta bagaimana nilai moral pribadi dapat berbenturan atau berkompromi dengan norma sosial kelompok. Dengan demikian, mempelajari fenomena Campus party tidak hanya membantu mahasiswa memahami pembentukan identitas sosial, tetapi juga menjadi sarana refleksi kritis terhadap nilai moral yang mereka anut dalam menghadapi tekanan sosial di lingkungan kampus. Sayangnya, sampai saat ini pendidikan moral dan etika di perguruan tinggi masih bersifat teoritis dan cenderung terbatas pada penyampaian konsep-konsep abstrak dalam ruang kelas tanpa keterhubungan langsung dengan kehidupan nyata mahasiswa. Dalam praktiknya, mahasiswa tidak diajak untuk berdialog secara mendalam ataupun merenungkan nilai-nilai moral yang berkaitan dengan tantangan dan dilema yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kampus maupun dalam interaksi sosial yang lebih luas. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 99-108 Proses internalisasi nilai moral tidak dapat terjadi secara efektif hanya melalui ceramah satu arah atau pembelajaran berbasis teks semata. Maka dari itu, sangat penting untuk menghadirkan pendekatan yang lebih kontekstual dan aplikatif dalam menanamkan nilai-nilai etika, yakni dengan melibatkan mahasiswa secara aktif dalam diskusi reflektif, studi kasus nyata, serta forum berbagi pengalaman. Mahasiswa perlu diberi kesempatan untuk mengutarakan pandangan mereka, berbicara mengenai pengalaman pribadi yang mereka alami, serta diberikan ruang untuk secara kritis menilai dan mempertimbangkan mana tindakan yang dapat dikatakan benar dan mana yang keliru, berdasarkan konteks dan situasi nyata yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Habitus campus party membentuk pola pikir dan kebiasaan mahasiswa yang kadang bertentangan dengan nilai moral yang seharusnya dijunjung tinggi di lingkungan kampus. Jika pihak kampus tidak hadir secara aktif dalam mendampingi dan membina mahasiswanya, maka budaya permisif ini akan terus berkembang tanpa kontrol. Mahasiswa membutuhkan bimbingan, bukan hanya untuk sukses akademik, tapi juga untuk tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kesadaran moral dan tanggung jawab sosial. Pentingnya memandang mahasiswa bukan hanya sebagai pelajar, tetapi juga sebagai individu yang tengah membentuk jati diri. Oleh karena itu, pendekatan dalam pembinaan moral tidak boleh bersifat menggurui, tetapi justru membuka ruang interaksi yang manusiawi dan mendalam. Hanya dengan cara inilah, kampus dapat menjadi tempat tumbuhnya generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara etis dan berdaya secara sosial. KESIMPULAN Budaya campus party yang berkembang di kalangan mahasiswa perguruan tinggi negeri di Surabaya bukan sekadar bentuk aktivitas sosial yang bersifat rekreatif, melainkan telah membentuk suatu pola kebiasaan atau habitus yang membawa pengaruh besar terhadap cara berpikir, bertindak, dan memaknai nilai-nilai moral mahasiswa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan dalam budaya ini bukan hanya didorong oleh kebutuhan untuk bersenang-senang, tetapi lebih jauh merupakan manifestasi dari tekanan sosial, pencarian identitas, serta bentuk adaptasi terhadap norma-norma tidak tertulis yang berkembang dalam lingkungan pergaulan mahasiswa. Mahasiswa yang mengikuti campus party seringkali berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, mereka memiliki nilai-nilai moral dan etika yang dibentuk melalui pendidikan dan pengalaman hidup sebelumnya. sisi lain, mereka juga menghadapi tekanan dari kelompok sebaya yang mendorong mereka untuk menyesuaikan diri, meskipun harus mengabaikan prinsip moral yang mereka yakini. Dalam kondisi seperti ini, terjadilah kompromi etika yang berulang dan pada akhirnya membentuk cara pandang baru yang permisif terhadap perilaku menyimpang. Budaya campus party memunculkan kondisi di mana nilai tanggung jawab, kejujuran, dan integritas sebagai mahasiswa cenderung direlativisasi. Mahasiswa mulai melihat etika sebagai sesuatu yang fleksibel dan situasional, tergantung pada konteks sosial di mana mereka berada. Hal ini menciptakan ruang abu-abu dalam pengambilan keputusan moral, yang berisiko mengikis keteguhan karakter jika tidak ada pendampingan dari pihak kampus maupun lingkungan sekitarnya. Lebih dari itu, temuan ini menegaskan bahwa pembinaan moral tidak dapat hanya diserahkan pada proses pendidikan formal semata. Kampus perlu hadir sebagai institusi yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran karakter yang hidup. Pendidikan moral harus diterapkan secara kontekstual, melalui ruang dialog, pembimbingan, dan keteladanan nyata dari dosen dan tenaga pendidik. Mahasiswa perlu diberikan ruang aman untuk merefleksikan nilai-nilai yang mereka anut, membandingkannya dengan kenyataan sosial yang mereka hadapi, serta didorong untuk mengambil keputusan secara sadar dan bertanggung jawab. DAFTAR PUSTAKA