. Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal Volume 6. , 2024, 124-135 ________________________________________________________________ Pemantauan Kadar Obat Antiepilepsi dalam Darah terhadap Clinical Outcome pada Pasien Epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto dengan Pendekatan Farmakokinetika Dini Permata Sari*. Winda Septyani Sianipar 1Fakultas Farmasi. Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta. Jakarta Utara. Indonesia 14350 *Corresponding author:dini. sari@uta45jakarta. Received: 20 May 2024. Accepted: 21 October 2024 The use of antiepileptic drugs requires monitoring of blood drug levels because antiepileptics are drugs with a narrow therapeutic index. This study was conducted to determine the relationship between the accuracy of blood antiepileptic drug levels and clinical outcomes in epilepsy patients at RSPAD Gatot Soebroto using a pharmacokinetic approach. This study is an analytical observational study with a retrospective cross-sectional study of epilepsy patients using antiepileptic drugs from January 2023 to January 2024 at RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. The results of this study showed that the most antiepileptic drug was valproic acid . 55%). Of the 32 patients using valproic acid, there were 22 uses of valproic acid below the therapeutic range (<50 mg/L), 10 uses of valproic acid within the therapeutic range . Ae100 mg/L). Of the 22 uses of phenytoin, there were 4 uses of phenytoin below the therapeutic range (<10 mg/L), 17 uses of phenytoin within the therapeutic range . Ae20 mg/L), and 1 use of phenytoin above the therapeutic range (>20 mg/L). Of the 10 uses of carbamazepine, 1 use of carbamazepine was below the therapeutic range (<4 mg/L), and 9 uses of carbamazepine were within the therapeutic range . -12 mg/L). Of the 4 uses of levetiracetam, there were 4 uses of levetiracetam below the therapeutic range . -46 mg/L), and 1 use of oxcarbazepine had a therapeutic range below the therapeutic range . -35 mg/L). In clinical outcomes within 6 months, 07% of patients experienced seizures after receiving antiepileptic drug therapy, and 81. 93% of patients experienced seizurefree for up to 6 months. The conclusion of this study is that a p-value of >0. 05 is obtained, which means that there is no relationship between clinical outcomes and the accuracy of antiepileptic drug levels in the blood of epilepsy patients. This is because there are other pharmacokinetic parameters that cannot be predicted, so it is necessary to monitor antiepileptic drug levels directly on patients to improve the desired clinical outcomes. Keywords: Antiepileptic. Pharmacokinetic. Clinical outcome. Drug level monitoring Abstrak: Penggunaan obat antiepilepsi memerlukan pemantauan kadar obat dalam darah karena antiepilepsi merupakan obat dengan indeks terapeutik sempit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan ketepatan kadar obat antiepilepsi dalam darah terhadap outcome klinis pada pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto dengan menggunakan pendekatan Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan studi potong lintang secara retrospektif pada pasien epilepsi yang menggunakan obat antiepilepsi periode Januari 2023 Ae Januari 2024 di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Hasil penelitian ini memperlihatkan obat antiepilepsi terbanyak adalah asam valproat . ,55%). Dari 32 pasien yang menggunakan asam valproat, terdapat 22 penggunaan asam valproat di bawah rentang terapi ( <50 mg/L), 10 penggunaan asam valproat sesuai rentang terapi . Ae100 mg/L). Dari 22 penggunaan fenitoin, terdapat 4 penggunaan fenitoin dibawah rentang terapi (<10 mg/L), 17 penggunaan fenitoin sesuai rentang terapi . Ae20 mg/L) , dan 1 penggunaan fenitoin diatas rentang terapi (>20 mg/L). Dari 10 penggunaan karbamazepin, 1 penggunaan karbamazepin dibawah rentang terapi (<4 mg/L), dan 9 penggunaan karbamazepin sesuai dengan rentang terapi . -12 mg/L). Dari 4 penggunaan levetiracetam, terdapat 4 penggunaan levetiracetam berada dibawah rentang terapi . -46 mg/L), dan 1 penggunaan oxkarbazepin dibawah rentang terapi . -35 mg/L). Pada luaran klinis dalam waktu 6 bulan terdapat 18,07% pasien mengalami kejang setelah mendapat terapi obat antiepilepsi, dan 81,93% pasien mengalami bebas kejang hingga 6 bulan. Kesimpulan pada penelitian ini adalah diperoleh p-value >0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan outcome klinis dengan ketepatan kadar obat antiepilepsi dalam darah pasien epilepsi. Hal ini disebabkan karena adanya parameter farmakokinetika lain yang belum dapat diramalkan sehingga perlu dilakukan pemantauan kadar obat antiepilepsi secara langsung terhadap pasien untuk meningkatkan outcome klinis yang Kata kunci: Antiepilepsi Farmakokinetik. Hasil klinis. Monitoring kadar obat DOI: 10. 15408/pbsj. 125 Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2024. Vol. PENDAHULUAN Epilepsi merupakan penyakit otak yang sangat umum terjadi dengan serangkaian gejala berulang yang sebagian atau seluruhnya disebabkan oleh kelainan Sari et al. epilepsi yang belum mendapatkan terapi pengobatan yang tepat dan juga berbagai penelitian dan pengembangan obat antiepilepsi semakin meningkat (Khairani & Sejahtera, 2. sementara akibat pelepasan listrik yang berlebihan Penggunaan pada jaringan otak pada neuron yang tereksitasi yang pemantauan konsentrasi obat dalam darah karena dapat menyebabkan kelainan motorik, otonom, atau psikologis yang tidak terduga (Aswir & Misbah. Penggunaan obat dengan indeks terapeutik sempit Gangguan kejang dapat terjadi pada usia berapa saja, dari bayi baru lahir hingga masa usia lanjut. penyerapan, distribusi, pembuangan . kskresi dan Rentang usia penderita epilepsi kurang lebih 20-70 metabolism. obat dalam tubuh serta meningkatkan tahun dan prevalensinya 4-10 orang per 1000 orang risiko terjadinya efek toksik yang mengancam (Behr et al. , 2. keselamatan pasien (Suryoputri et al. , 2. WHO menyatakan dari 50 juta penduduk di seluruh Pemantauan kadar obat dalam darah terhadap pasien dunia yang menderita epilepsi, terdapat 80% orang epilepsi dapat berguna dalam manajemen kejang yang terdiagnosa epilepsi pada negara-negara berkembang (WHO, 2. Indonesia memiliki sekitar 220 juta penyesuaian dari bentuk farmakokinetik nonlinear, penduduk dan diperkirakan terjadi sekitar 250. penyesuaian terhadap terapi individu, dan koreksi kasus baru epilepsi setiap tahun. Menurut banyak dosis dalam kasus- kasus tertentu seperti kehamilan penelitian yang telah dilakukan, diperkirakan bahwa dan pasien anak (Jacob & Nair, 2. tingkat kejadian epilepsi berbeda-beda antara 0,5% hingga 4%, dengan jumlah rata-rata sekitar 8,2 kasus Pemantauan kadar obat dalam darah merupakan salah per 1000 orang. Angka insiden epilepsi tinggi pada satu aspek dalam kegiatan farmasi klinik yang harus bayi dan balita, turun pada usia remaja dan dewasa dijalankan sebagaimana yang telah diatur didalam muda, dan mungkin naik kembali pada usia lanjut standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit oleh (Apsari et al. , 2. kementrian kesehatan. Di Indonesia, pemantauan kadar obat dalam darah belum terlalu banyak Pengobatan penyakit epilepsi terus berkembang dan prinsip politerapi Obat Anti Epilepsi (OAE) sudah diterapkan pada penanganan epilepsi, sehingga banyak OAE dalam bentuk kombinasi diproduksi oleh pabrik Beberapa penelitian terdahulu membandingkan antara pengobatan politerapi dengan monoterapi pada pasien epilepsi yang mendapatkan terapi OAE, dan disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan dalam bangkitan kejang pada kedua jenis terapi. Prinsip terapi kombinasi OAE pada pasien epilepsi terus dikembangkan sebagai strategi pengobatan pada kasus Hal tersebut dilakukan karena banyak pasien dilakukan secara langsung dikarenakan biaya yang dibutuhkan relatif mahal serta membutuhkan tenaga ahli yang mampuni. Oleh karena itu, pemantauan kadar obat di dalam darah dapat diakomodir dengan pendekatan farmakokinetik dengan menghitung kadar obat menggunakan rumus farmakokinetik berdasarkan dosis terapi yang diberikan pada pasien, sehingga didapatkan perkiraan kadar obat dalam darah, lalu dihubungkan dengan hasil terapi yang diperoleh yaitu ada atau tidak adanya kejang dalam kurun waktu minimal 6 bulan. 126 Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2024. Vol. Berdasarkan uraian diatas, obat antiepilepsi temasuk Pasien epilepsi dengan durasi pengobatan dengan obat dengan range terapi sempit, maka perlu dilakukannya pemantauan kadar obat antiepilepsi dengan pendekatan farmakokinetika terhadap hasil OAE minimal 6 bulan. Kriteria eksklusi : Pasien epilepsi yang menderita gangguan saraf klinis pasien epilepsi yaitu timbul atau tidaknya kejang selama minimal 6 bulan. Oleh sebab itu peneliti Pasien epilepsi dengan durasi pengobatan dengan merasa penting melakukan penelitian ini untuk melihat hubungan ketepatan kadar obat antiepilepsi dengan OAE kurang dari 6 bulan Pasien mendapatkan obat antiepilepsi dengan dosis meramalkan kadar obat secara farmakokinetika terhadap outcome klinis pasien epilepsi di RSPAD tidak tetap dalam 6 bulan Pasien epilepsi dengan data rekam medis yang tidak Gatot Soebroto. Sari et al. METODE 3 Pengumpulan Data 1 Desain Penelitian Data yang diperoleh diinput kedalam formulir Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan studi potong lintang, dengan pengumpulan data. Data pasien yang diambil meliputi nama obat, dosis obat, frekuensi penggunaan obat, pengambilan data secara retrospektif. Desain keluhan pasien, dan durasi bebas kejang selama 6 penelitian studi potong lintang digunakan untuk mempelajari hubungan faktor penyebab . ariable Sumber data penelitian adalah rekam medis pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto periode Januari 2023 Ae Januari 2024. Rumus Winter menghitung kadar asam valproat, karbamazepin, gabapentin, levetiracetam, oxkarbazepin, fenobarbital, clobazam, dan topiramate dalam darah secara farmakokinetika yakni menggunakan data: dosis obat, 2 Sampel Penelitian Sampel diambil dengan metode total sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan jumlah populasi. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien epilepsi rawat jalan di RSPAD Gatot Soebroto periode Januari 2023-Januari 2024 yang memenuhi kriteria inklusi. Adapun kriteria inkusi dan ekslusi dapat dalam penelitian ini dapat dilihat dibawah ini: Kriteria inklusi frekuensi penggunaan obat, serta data dari literatur berupa F yaitu fraksi bioavailabilitas. Vd adalah volume distribusi L/kg BB, dan Cl adalah klirens mL/kg BB/jam. Rumus persamaan Bauer untuk menghitung kadar fenitoin dalam darah yakni menggunakan data: pemberian dosis, frekuensi penggunaan obat, serta data literatur S yaitu faktor garam fenitoin. Vmaks, dan Km. Analisis Data Analisa univariat Pasien yang didiagnosa epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto yang sedang berobat jalan Analisa univariat adalah analisis untuk mengetahui Pasien epilepsi yang sedang menggunakan OAE gambaran dari tiap variabel bebas . adar obat Pasien epilepsi dengan usia > 6 tahun antiepileps. dan variabel terikat (Clinical outcom. Pengolahan data dengan menggunakan Microsoft Excel. 127 Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2024. Vol. pengumpulan data disajikan dalam bentuk tabel. Keterangan: Analisa ini juga digunakan untuk menyederhanakan kadar rata-rata obat di dalam darah dalam keadan tunak kadar maksimal obat di dalam darah dalam keadan tunak kadar minimal obat di dalam darah dalam keadan tunak = fraksi bioavailabilitas atau meringkas kumpulan data dari hasil pengukuran, sehingga kumpulan data tersebut menjadi informasi yang berguna (Umami, 2. Analisa bivariat Analisis Sari et al. DM = dosis sediaan obat yang diberikan . hubungan antara dua variabel. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software statistik SPSS v25. Normalitas distribusi variabel dinilai interval pemberian obat . Vd = volume distribusi ( volume di mana obat tersebut terlarut di dalam tubu. mengetahui hubungan kadar obat epilepsi dalam darah Cl = klirens . arameter farmakokinetika yang merupakan jumlah volume cairan yang mengandung obat yang dibersihkan dari kompartemen tubuh setiap waktu tertent. dengan hasil klinis pada pasien epilepsi pada = 5% . Bila nilai p > maka tidak terdapat hubungan S = faktor garam dari obat dengan uji Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk. Pada penelitian ini uji Chi-Square dilakukan untuk = kecepatan eliminasi (/ja. antara kadar obat dalam darah dengan clinical outcome pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto. Sebaliknya Perhitungan perkiraan kadar fenitoin dalam darah bila nilai p < maka terdapat hubungan antara kadar menggunakan rumus : obat dalam darah dengan clinical outcome pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto. 5 Perhitungan Kadar Obat ycaycyce yaycyc yayco . ycOyco . Keterangan : Dalam penelitian ini, perhitungan kadar obat dalam Vm = laju metabolisme maksimum dalam mg/L darah secara farmakokinetika diperlukan untuk Km = konsentrasi substrat dalam mg/L memastikan kadar obat dalam darah mencapai kadar kisaran terapi yang dibutuhkan pasien. Perhitungan HASIL DAN PEMBAHASAN kadar obat antiepilepsi dalam darah (Cs. secara Penelitian ini dilakukan setelah mendapatkan Surat farmakokinetika dilakukan dengan menggunakan rumus Persetujuan persamaan Winter berikut (Beringer, 2. Kesehatan Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta ycaycyce yaycyc ya . yua yayco Etik Komisi Etik Penelitian 70/KEPK- UTA45JKT/EC/EXP/2023. 1 Karakteristik Sosiodemografi ycoycaycu yaycyc ycI y ya y yayco ycOycc . Oe yce Oeyco. yua ) Berdasarkan data yang didapatkan melalui rekam medis pasien epilepsy yang berobat di poli rawat jalan ycoycnycu yaycyc ycI y ya y yayco ycOycc Oeyco. Oe yce Oeyco. yua ) Icyce RSPAD Gatot Soebroto periode Januari 2023-Januari 2024, terdapat 83 pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto yang memenuhi kriteri inklusi, sebanyak 38 128 Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2024. Vol. Sari et al. pasien masuk kriteria ekslusi. Pasien yang masuk Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hu et al 2021 menyimpulkan bahwa pada periode yang sama, risiko mendapatkan obat antiepilepsi dengan dosis tidak epilepsi pada laki-laki ternyata lebih tinggi daripada tetap selama 6 bulan yaitu sebanyak 17 . ,74%) Terlebih lagi, peningkatan risiko tersebut lebih signifikan di negara-negara dengan tingkat sosial antiepilepsi kurang dari 6 bulan yaitu sebanyak 21 ekonomi yang rendah. Risiko epilepsi yang lebih . ,26%) pasien. tinggi pada laki-laki disebabkan oleh fakta bahwa laki- laki lebih rentan terhadap faktor risiko yang umum. Terdapat data sosiodemografi pasien di RSPAD seperti kerusakan otak. Di negara-negara yang Gatoto soebroto berupa data jenis kelamin dan usia memiliki status sosial ekonomi rendah, perempuan pada pasien. Data tersebut dapat dilihat pada tabel dapat mengalami tingkat konsultasi medis yang lebih rendah daripada laki-laki. Hal ini disebabkan oleh Tabel 1: Gambaran sosiodemografi pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto Variabel Usia (Tahu. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan kesehatan antara laki-laki dan perempuan. Penelitian Jumlah Persentase ini juga menemukan bahwa hormon steroid dapat 13,25 % 7,23 % 26,51% 6,02 % 15,66 % 22,89 % 8,43 % menjadi faktor yang berkontribusi pada perbedaan 71,08% gender dalam kasus epilepsi. Ditemukan juga bahwa pria lebih mudah mengalami kejang akibat cedera dibandingkan wanita. Risiko terjadinya epilepsi sepanjang hayat cenderung lebih tinggi pada pria, kemungkinan karena pekerjaan yang mereka geluti Tabel diatas menunjukkan bahwa pasien epilepsi yang dan terpapar faktor risiko tertentu seperti trauma paling banyak adalah laki-laki, dengan total pasien kepala dan konsumsi alkohol. Namun, masih belum yaitu 59 pasien . ,08%) dari rekam medis pasien ada penemuan asal-usul biologis yang spesifik terkait yang didapatkan. Hasil ini sejalan dengan penelitian perbedaan jenis kelamin dalam kasus epilepsi pada sebelumnya oleh Agustina et al . di Rumah Sakit literatur sebelumnya. Oleh karena itu, diperlukan Tingkat i Brawijaya Surabaya dengan total pasien penelitian lebih lanjut untuk mengungkap hal ini (Hu laki-laki yaitu 60,7% (Agustina et al. , 2. Hal ini et al. , 2. juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nughraha et al . pasien terbanyak dengan diagnosa epilepsi juga laki-laki dengan total 51,43% (Nugraha et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi . di poliklinik neurologi anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar, dapat disimpulkan bahwa laki-laki lebih banyak didiagnosis epilepsi dengan total 56,67% dari seluruh sampel yang diteliti (N. Dewi, 2. Berdasarkan kategori usia, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa golongan usia yang paling banyak didiagnosis epilepsi yaitu golongan usia remaja akhir yaitu 17-25 tahun dengan total 22 pasien . ,51 %) dari seluruh pasien yang memenuhi kriteria. Kemudian pasien dengan golongan usia 46-55 merupakan golongan usia terbanyak kedua dengan total 19 pasien . ,89 %). Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Hasibuan et al . di RSUP Prof. Dr. Kandou Manado mendukung hasil penelitian ini, dimana sebanyak 129 Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2024. Vol. Sari et al. 33,7% dari total sampel yang diteliti adalah golongan Pada penelitian yang dilakukan oleh Nugraha et al usia dewasa muda dengan usia 18-25 tahun (Hasibuan . di RSUD Al-Ihsan Bandung, didapatkan hasil et al. , 2. Hal ini juga didukung dengan penelitian yang sama bahwa asam valproat merupakan terapi yang dilakukan oleh Lestari et al . di Poliklinik yang paling banyak digunakan pada pasien epilepsi Neurologi RSUDZA, yaitu usia remaja akhir adalah yaitu sebanyak 32,38% dari seluruh total sampel yang usia terbanyak didiagnosis epilepsi dengan total 47,6 diteliti (Nugraha et al. , 2. Berdasarkan penelitian % dari seluruh total sampel yang diteliti (Lestari et al. Agustina et al . di Rumah Sakit Tingkat i Brawijaya Surabaya, penggunaan asam valproat pada terapi pasien epilepsi merupakan penggunaan terapi Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Khansa et terbanyak dibandingkan golongan OAE lainnya. Hasil al . di Poliklinik Saraf RSUD dr. Soedarso penelitian ini memperoleh sebanyak 51,8% pasien Pontianak, usia yang paling banyak didiagnosis menggunakan terapi asam valproat. Penggunaan asam epilepsi adalah adalah usia 18-25 tahun dengan 30,5% valproat pada pasien epilepsi banyak diberikan dari total sampel yang diteliti. Tetapi korelasi antara dikarenakan asam bangkitan kejang dengan usia belum ditemukan, antikonvulsan lini pertama yang sehingga perlu dipelajari lebih lanjut (Khansa et al. antiepilepsi luas. Efikasinya fokal dan umum serta sindrom epilepsi, terutama pada populasi anak-anak, telah divalidasi secara luas 2 Gambaran Penggunaan Obat Antiepilepsi pada Pasien Epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto dan akurat baik dengan berbagai uji coba acak terkontrol dan studi observasional (Agustina et al. Gambaran penggunaan obat antiepilepsi pada pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto periode Januari Asam valproat merupakan obat antiepilepsi spektrum 2023-Januari 2024 dapat dilihat pada tabel berikut : luas (OAE) yang efektif dan relatif lebih aman dibandingkan fenitoin pada pasien anak. Asam Tabel 2: Gambaran penggunaan obat antiepilepsi pada pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto valproat memiliki indeks terapeutik yang sempit dan profil farmakokinetika non-linier seperti fenitoin Nama Obat Asam valproat Fenitoin Karbamazepin Gabapentin Levetiracetam Oxkarbazepin Fenobarbital Klobazam Topiramate Jumlah Persentase 38,55% 26,50% 12,05% 8,43% 4,82% 1,20% 1,20% 1,20% 6,02% (Nani. , 2. Berdasarkan penelitian Khairani et al . , dipertimbangkan ketika memilih terapi OAE. Dalam memilih obat, ada beberapa aspek yang harus Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa diperhatikan, seperti usia, jenis kelamin, berat badan, mekanisme kerja obat, efek samping, jenis serangan menggunakan terapi asam valproat yaitu sebanyak 32 . ,55%). Kemudian fenitoin merupakan OAE kesehatan jiwa, penyakit lain, obat yang dikonsumsi, terbanyak kedua yang digunakan sebagai pilihan terapi dan gaya hidup pasien. Hal ini dilakukan dengan dengan jumlah 22 . ,50%). harapan pasien tidak mengalami kejang tanpa toksisitas dan efek samping jangka panjan (Khairani & Sejahtera, 2. 130 Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2024. Vol. Sari et al. Penggunaan obat pada pasien yang tercatat dalam rekam medis pasien, dilakukan perhitungan kadar obat Berdasarkan perhitungan kadar obat, didapatkan dalam darah dengan pendekatan farmakokinetika pada sejumlah 32 penggunaan . ,56%) yang mendapat pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto untuk obat anti epilepsi dibawah rentang kisaran kadar obat mengetahui gambaran kadar obat dalam darah pasien dalam darah, sejumlah 50 . ,24%) pemberian dosis Setelah dilakukan perhitungan kadar obat obat pada pasien sesuai kisaran kadar obat dalam dalam darah secara farmakokinetika, maka dapat darah, dan sejumlah 1 . ,20%) pemberian dosis obat diketahui jumlah pasien yang mendapatkan kadar obat pada pasien diatas kisaran kadar obat dalam darah. yang sesuai kisaran terapi, dibawah kisaran terapi, dan diatas kisaran terapi dari masing-masing obat yang digunakan pada pasien epilepsi. Dari perhitungan kadar obat kemudian akan dilihat hubungannya dengan outcome klinis pasien epilepsi. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Amelia et al . di RSUD Sekayu, didapatkan bahwa estimasi kadar fenitoin di dalam darah yang berada di bawah rentang terapi sejumlah 40 pasien Tabel 3: Gambaran kadar obat dalam darah secara farmakokinetika pada pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto Gambaran kadar dalam darah Jumlah Persentase (%) Asam valproat . Dibawah kisaran terapi (<50 mg/L) Sesuai kisaran terapi . -100 mg/L) Diatas kisaran terapi (>100 mg/L) 68,75 31,25 0,00 Fenitoin . Dibawah kisaran terapi (<10 mg/L) Sesuai kisaran terapi . -20 mg/L) Diatas kisaran terapi (>20 mg/L) 18,18 77,27 4,55 Karbamazepin . Dibawah kisaran terapi (<4 mg/L) Sesuai kisaran terapi (<4 -12 mg/L) Diatas kisaran terapi (>12 mg/L) 18,18 77,27 4,55 Gabapentin . Dibawah kisaran terapi (>2 mg/L) Sesuai kisaran terapi . -20 mg/L) Diatas kisaran terapi (<20 mg/L) 0,00 100,00 0,00 Levetiracetam . Dibawah kisaran terapi . mg/L) Sesuai kisaran terapi . -46 mg/L) Diatas kisaran terapi (>46 mg/L) 100,00 0,00 0,00 Oxkarbazepin . Dibawah kisaran terapi (<3 mg/L) Sesuai kisaran terapi . -35 mg/L) Diatas kisaran terapi (>35 mg/L) 100,00 0,00 0,00 Fenobarbital . Dibawah kisaran terapi (<15 mg/L) Sesuai kisaran terapi . -40 mg/L Diatas kisaran terapi (>40 mg/L) 0,00 100,00 0,00 Klobazam . Dibawah kisaran terapi (<0,03 mg/L) Sesuai kisaran terapi . ,03-0,3 mg/L) Diatas kisaran terapi (>0,3 mg/L) 0,00 100,00 0,00 Topiramate . Dibawah kisaran terapi (<5 mg/L) Sesuai kisaran terapi . -20 mg/L) Diatas kisaran terapi (>20 mg/L) 0,00 100,00 0,00 131 Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2024. Vol. Sari et al. ,66%) dan sejumlah 20 pasien . berada sesuai kisaran terapi (Amelia et al. , 2. Penelitian karbamazepin, dan asam valproat, yang memiliki tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang variabilitas antar individu dalam farmakokinetikanya dilakukan oleh Suryoputri et al . di RSUD Prof dan rentang terapi yang sempit (Johannessen & Dr. Margono Soekardjo Purwokerto, dengan hasil Tomson, 2. bahwa beberapa pemakaian obat antiepilepsi pada pasien epilepsi juga masih banyak diluar rentang terapi Adapun 3 Hubungan Kadar Obat dalam Darah dengan Clinical Outcome pada Pasien Epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto sebelumnya dapat disimpulkan bahwa pasien yang berada di dalam rentang terapi adalah 25 pasien . ,7%) dan pasien yang berada di bawah rentang terapi adalah 62 pasien . ,3%) (Suryoputri et al. Gambaran kadar obat antiepilepsi dengan clinical outcome pada pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto dapat dilihat pada Tabel 4. Dari Tabel 4 dapat disimpulkan bahwa dalam jangka waktu <6 bulan terdapat 15 pasien epilepsi . ,07%) yang Obat antikonvulsan memiliki indeks terapeutik yang menggunakan OAE yang mengalami bangkitan kejang sempit, individualisasi dosis yang cermat diperlukan setelah mendapatkan terapi obat antiepilepsi, dan 68 untuk mengoptimalkan respons, dan variabilitas sampel lainnya . ,93%) mengalami bebas kejang hingga >6 bulan. intra-individu diartikan menjadi perbedaan dalam persyaratan dosis. Hubungan antara konsentrasi serum dan responsnya Pemantauan kadar obat dalam darah telah menjadi sangat bervariasi dari satu pasien ke pasien lainnya. Pasien dengan epilepsi berat mungkin memerlukan mengoptimalkan pengobatan epilepsi. Kebutuhan konsentrasi antikonvulsan yang jauh melebihi batas untuk pemantauan kadar obat dalam darah terutama atas rentang terapeutik. Pengukuran konsentrasi obat terkait dengan variabilitas farmakokinetika obat darah mungkin berguna pada pasien tertentu, terutama anetiepilepsi, tetapi juga terkait dengan sifat epilepsi pasien yang diduga memiliki kepatuhan yang buruk dan pengobatannya. Karena pengobatan epilepsi dan pasien yang diantisipasi mengalami perubahan bersifat profilaksis, dimana tujuannya adalah untuk farmakokinetika yang disebabkan oleh penyakit atau mencegah kejang tanpa efek obat yang merugikan, dan pemberian obat bersamaan. Bahkan dengan adanya variabilitas farmakodinamik antarindividu yang nyata, konsekuensi serius bagi pasien, penyesuaian dosis atas sering kali memungkinkan untuk secara empiris dasar klinis saja sulit dilakukan. Pemantauan kadar menentukan konsentrasi di mana setiap pasien obat dalam darah mungkin berguna meskipun ada menunjukkan respons terbaik, dan menerapkan kekurangan dari rentang terapi yang ada. Strategi ini informasi itu dalam manajemen selanjutnya (Perucca, bergantung pada perbandingan intra-individu dari konsentrasi serum obat. Konsentrasi obat di mana pasien memiliki efek pengobatan yang optimal Obat . elbamate, gabapentin, lamotrigin, levetiracetam, oxcarbazepine, pregabalin, tiagabine, topiramate, vigabatrin dan zonisamid. secara umum memiliki farmakokinetika yang lebih dapat diprediksi dibandingkan obat ditentukan dan akan berfungsi sebagai referensi individu untuk perbandingan jika terjadi kegagalan pengobatan di masa mendatang. Pendekatan ini akan membantu dalam mengungkap penyebab perubahan yang terjadi (Johannessen & Tomson, 2. 132 Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2024. Vol. Sari et al. Tabel 4: Gabaran Clinical Outcome Pasien Epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto Kadar Obat Anti Epilepsi dalam Darah Clinical Outcome (Terjadi Kejan. Total <6 Bulan >6 Bulan Asam valproat Sesuai kisaran terapi Tidak sesuai kisaran terapi Total asam valproat Fenitoin Sesuai kisaran terapi Tidak sesuai kisaran terapi Total fenitoin Karbamazepin Sesuai kisaran terapi Tidak sesuai kisaran terapi Total karbamazepin Gabapentin Sesuai kisaran terapi Tidak sesuai kisaran terapi Total gabapentin Levetiracetam Sesuai kisaran terapi Tidak sesuai kisaran terapi Total levetiracetam Oxkarbazepin Sesuai kisaran terapi Tidak sesuai kisaran terapi Total oxkarbamazepin Fenobarbital Sesuai kisaran terapi Tidak sesuai kisaran terapi Total fenobarbital Klobazam Sesuai kisaran terapi Tidak sesuai kisaran terapi Total klobazam Topiramate Sesuai kisaran terapi Tidak sesuai kisaran terapi Total topiramate Total Persentase clinical outcome 18,07 % 81,93 % 4 Hubungan Clinical Outcome dengan Kadar diolah dengan SPSS. Hasil analisis statistik uji chi- Obat dalam Darah pada pasien epilepsi di RSPAD quare dapat dilihat pada tabel 5. Gatot Soebroto Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang dianggap berhubungan atau berkorelasi. Uji bivariat Tabel 5: Hubungan clinical outcome dengan kadar obat antiepilepsi pada pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto Kategori Clinical Outcome . erjadi kejan. Nilai P Kejang <6 bulan Kejang >6 bulan hubungan antara kadar obat antiepilepsi dalam darah Kadar obat dalam darah terhadap clinical outcome yaitu berupa bebas kejang Dari tabel diatas, dapat dilihat nilai signifikansi dari lebih dari 6 bulan pada pasien epilepsi yang kemudian hubungan kadar obat antiepilepsi dalam darah dengan uji chi-square untuk 18,07 % 81,93 % 0,143 133 Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2024. Vol. Sari et al. clinical outcome pada pasien epilepsi di RSPAD Gatot yang sangat bervariasi, hal ini dapat diakibatan karena Soebroto adalah 0,143. Dengan nilai uji statistik > kepatuhan yang buruk, dan konsentrasi yang rendah 0,05, maka H0 dari penelitian ini ditolak, yang artinya karena penyerapan yang tidak menentu, metabolisme tidak ada hubungan yang signifikan antara clinical yang cepat, atau interaksi obat. Polifarmasi juga dapat outcome dengan kadar obat dalam darah pada pasien menyebabkan perubahan penilaian klinis meskipun epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto. (Johannessen & Tomson, 2. Hal ini sejalan dengan penelititan Lingga et al . di RSUD Sleman Yogyakarta yang menyatakan bahwa Interaksi antar obat dapat mempengaruhi tingkat obat tidak ada hubungan yang signifikan antara kadar obat dalam tubuh dan hasil klinis pasien, hal ini terjadi antiepilepsi dalam darah dengan clinical outcome ketika efek obat dimodifikasi oleh obat lain, absorpsi, dikarenakan hasil yang didapatkan yaitu kadar terapi distribusi, metabolisme, dan eliminasi obat (ADME), mengalami perbedaan yang signifikan dengan durasi serta interaksi dengan makanan atau minuman. Ada bebas kejang (Lingga & Pramantara, 2. Temuan beberapa komplikasi yang mungkin terjadi akibat hal yang serupa ditemukan dalam studi yang dilakukan tersebut, seperti menurunnya efektivitas pengobatan, oleh Rahmatullah et al . , bahwa tidak ada peningkatan risiko toksisitas, atau timbulnya efek hubungan yang signifikan antara tingkat perkiraan samping yang tidak diinginkan secara farmakologis kadar fenitoin dengan hasil pengobatan pasien epilepsi (Agustin & Fitrianingsih, 2. yang menerima terapi fenitoin (Satrio Wibowo Keterbatasan dalam penelitian ini adalah adanya Rahmatullah. Lukman Hakim, 2. parameter farmakokinetika lain yang belum dapat Tujuan pemantauan kadar obat dalam darah adalah diramalkan sehingga hasil estimasi kadar obat dalam untuk memberikan rentang konsentrasi referensi yang darah belum dapat dipastikan merupakan kadar obat dapat digunakan oleh dokter sebagai tolak ukur. dalam darah yang sesungguhnya, sehingga perlu Rentang konsentrasi terapi dari pasien adalah rentang dilakukan pemantauan kadar obat antiepilepsi dengan yang menghasilkan respons terbaik yang mungkin dan mengambil sampel darah pasien secara langsung untuk harus dipilih berdasarkan gejala dan risiko terkait. meningkatkan outcome klinis yang diinginkan. Kelemahan dari strategi ini adalah, pada beberapa pasien, manfaat optimal hanya akan tercapai di atas konsentrasi toksik minimum, dengan risiko terkait reaksi yang merugikan. Konsentrasi obat dalam darah yang dicapai selama berbulan-bulan atau bertahuntahun dapat memberikan informasi yang penting mengenai gambaran klinis pada setiap pasien untuk (Perucca, 2. KESIMPULAN Berdasarkan data yang didapatkan melalui rekam medis pasien, pada penelitian ini total keseluruhan pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto adalah 83 Dimana dilakukan perhitungan kadar obat dalam darah dengan pendekatan farmakokinetika, didapatkan sebanyak 32 . ,56%) obat antiepilepsi diperoleh kadar obat dibawah rentang kisaran kadar Penilaian klinis tidak hanya didasarkan pada kadar obat dalam darah, 50 . ,24%) obat antiepilepsi yang obat dalam serum, karena reaksi obat yang merugikan diterima pasien epilepsi sesuai rentang kisaran kadar dapat terjadi bahkan pada konsentrasi rendah. Kadar obat dalam darah, dan 1 . ,20%) obat antiepilepsi obat dalam darah dapat menghasilkan konsentrasi diatas rentang kisaran kadar obat dalam darah. Dalam 134 Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2024. Vol. jangka waktu <6 bulan terdapat 15 . ,07%) pengguna obat antiepilepsi yang mengalami bangkitan kejang setelah mendapatkan terapi obat antiepilepsi, dan 68 Sari et al. Hasibuan. Mahama. , & Tumewah. Profil penyandang epilepsi di Poliklinik Saraf RSUP Prof. Dr. Kandou Manado periode Juli 2015 Ae Juni E-CliniC,4. ,472Ae476. https://doi. org/10. 35790/ecl. ,93%) pengguna obat antiepilepsi mengalami bebas kejang hingga >6 bulan. Dari hasi uji statistik tidak ada hubungan yang signifikan antara clinical outcome . ejadian kejan. dengan ketepatan kadar obat antiepilepsi dalam darah pada pasien epilepsi di RSPAD Gatot Soebroto. DAFTAR PUSTAKA