BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 92-99 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Meningkatkan Kesadaran Masyarakat melalui Edukasi Pencegahan Stunting di Kota Tidore Kepulauan Diana Sukmawati Hasan. Syamsidar. * . Nurul Ilma A. Rahman. 1Program Studi Magister Keperawatan. Fakultas Keperawatan. Universitas Airlangga. Indonesia 2Program Studi Magister Keperawatan. Fakultas Ilmu Keperawatan. Universitas Jember. Indonesia 3Program Studi Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Nasional. Indonesia *e-mail: diana. hasan-2022@fkp. id1, ns. syamsidar@gmail. com2,nurulilmaumar30@gmail. ABSTRAK Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang pencegahan stunting kepada masyarakat, khususnya ibu-ibu yang memiliki anak balita di Kota Tidore Kepulauan. Stunting merupakan masalah kesehatan yang serius di Indonesia, dan penyebab utamanya adalah rendahnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang dan pola asuh yang tepat. Kegiatan ini menggunakan metode partisipatif yang melibatkan ibu-ibu secara aktif dalam penyuluhan interaktif dan demonstrasi memasak makanan bergizi menggunakan bahan lokal. Selain itu, pelatihan diberikan kepada kader posyandu dan tenaga kesehatan lokal untuk mendukung penyebaran informasi dan pemantauan kesehatan anak-anak. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman ibu-ibu mengenai pencegahan stunting, serta perubahan perilaku terkait penerapan pola makan sehat. Meskipun tantangan akses geografis menjadi hambatan, penggunaan aplikasi mobile dan media sosial membantu memperluas jangkauan informasi. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan literasi gizi dan diharapkan dapat berkontribusi pada penurunan prevalensi stunting di wilayah ini. Kata kunci : stunting, edukasi gizi. ABSTRACT This Community Service Program (PKM) aims to provide education on stunting prevention to the community, particularly mothers with young children in Tidore Islands City. Stunting is a serious health issue in Indonesia, primarily caused by a lack of understanding about the importance of balanced nutrition and proper childcare practices. This program employs a participatory method, actively involving mothers in interactive counseling sessions and cooking demonstrations that use locally sourced nutritious In addition, training was provided to local healthcare workers and posyandu cadres to support the dissemination of information and the monitoring of children's health. The results show a significant increase in mothersAo understanding of stunting prevention, along with behavioral changes related to the adoption of healthy eating habits. Although geographical access posed a challenge, the use of mobile applications and social media helped extend the reach of information. This program has proven effective in improving nutrition literacy and is expected to contribute to the reduction of stunting prevalence in the region. Keywords: stunting. nutrition education. Copyright . 2024 Diana Sukmawati Hasan. Syamsidar. Nurul Ilma A. Rahman This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 92-99 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ PENDAHULUAN Stunting atau kondisi anak yang mengalami pertumbuhan tinggi badan yang tidak sesuai dengan usianya merupakan masalah kesehatan yang cukup serius, terutama di negara berkembang seperti Indonesia (Hasan & Muhammad, 2023. Majid et al. , 2022. Martony, 2023. Shoofiyah et al. , 2. Stunting tidak hanya berdampak pada penurunan fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, kesehatan jangka panjang, dan produktivitas di masa dewasa (Arifuddin et al. , 2023. Djauhari. Haskas, 2020. Ruaida, 2018. Widanti, 2. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Indonesia, prevalensi stunting pada balita masih menjadi tantangan signifikan, meskipun berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk Kota Tidore Kepulauan, yang terletak di Provinsi Maluku Utara, juga tidak luput dari permasalahan stunting ini, meskipun pada tahun 2023 dinyatakan turun enam persen (Adrany, 2. Sebagai wilayah yang memiliki kondisi geografis yang unik dan ketersediaan sumber daya yang terbatas. Kota Tidore Kepulauan menghadapi sejumlah tantangan dalam mengatasi permasalahan stunting. Salah satu faktor yang memengaruhi tingginya angka stunting di wilayah ini adalah rendahnya tingkat literasi gizi masyarakat, terutama di kalangan ibu-ibu yang memiliki anak balita. Ketidakpahaman mengenai pola makan yang sehat, kebutuhan nutrisi anak, serta pentingnya perawatan kesehatan selama 1000 hari pertama kehidupan anak menjadi pemicu utama permasalahan stunting di wilayah Selain itu, akses yang terbatas terhadap layanan kesehatan, khususnya di daerah terpencil dan pulau-pulau kecil, juga menjadi faktor penghambat dalam upaya pencegahan stunting. Gambar 1. Rapat Percepatan penurunan stunting di Kota Tidore kepulauan Sumber: (Mas, 2. BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 92-99 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Berbagai program pemerintah pusat dan daerah telah diluncurkan untuk menekan angka stunting, namun intervensi di tingkat masyarakat seringkali belum optimal. Edukasi kepada masyarakat, terutama yang berfokus pada ibu-ibu yang memiliki anak balita, menjadi salah satu langkah strategis untuk mengatasi masalah ini. Melalui edukasi yang tepat, diharapkan para ibu dapat meningkatkan literasi gizi mereka dan memahami pentingnya memberikan asupan makanan yang bergizi seimbang kepada anak-anak Dalam hal ini, pemberdayaan masyarakat melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) sangat penting untuk memastikan bahwa informasi mengenai pencegahan stunting dapat tersampaikan dengan baik kepada seluruh lapisan Gambar 2. Prevalensi Stunting pada Beberapa Kelurahan yang ada di Kota Tidore Kepulauan Tahun 2023 Sumber: (Hasan & Muhammad, 2. Penyebab utama stunting adalah asupan gizi yang tidak mencukupi pada masa-masa kritis pertumbuhan anak, yaitu sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun (Amania et al. , 2022. Arifin et al. , 2022. Hasan et al. , 2024. Imani, 2020. La Ode Alifariki, 2020. Rahman et al. , 2. Pada masa ini, anak membutuhkan nutrisi yang lengkap dan seimbang untuk mendukung perkembangan fisik dan otaknya. Namun, banyak ibu di Kota Tidore Kepulauan yang belum memahami pentingnya pola makan sehat selama masa kehamilan dan menyusui, serta saat anak memasuki usia MPASI . akanan pendamping ASI). Rendahnya pengetahuan mengenai gizi menyebabkan banyak anak di wilayah ini tidak mendapatkan asupan yang sesuai dengan kebutuhannya, sehingga risiko stunting menjadi lebih tinggi. Selain faktor gizi, pola asuh yang kurang optimal juga turut memengaruhi tingginya angka stunting di Kota Tidore Kepulauan. Beberapa ibu masih memiliki pandangan yang BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 92-99 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ keliru mengenai pola makan dan perawatan kesehatan anak, seperti pemberian makanan padat sebelum anak berusia enam bulan, atau tidak memberikan ASI eksklusif. Di sisi lain, faktor lingkungan seperti sanitasi yang buruk dan kurangnya akses air bersih juga berperan dalam meningkatkan risiko stunting. Lingkungan yang tidak sehat dapat menyebabkan anak lebih rentan terhadap penyakit infeksi, yang pada gilirannya mengganggu proses penyerapan nutrisi dalam tubuh anak. Edukasi pencegahan stunting yang dilaksanakan melalui program PKM ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman ibu-ibu di Kota Tidore Kepulauan mengenai pentingnya gizi seimbang, pola asuh yang benar, serta menjaga kebersihan lingkungan. Edukasi ini diharapkan dapat membantu mengubah perilaku masyarakat dalam merawat anak, sehingga risiko stunting dapat ditekan. Program ini juga mengintegrasikan pendekatan partisipatif, di mana ibu-ibu diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, serta berdiskusi mengenai kendala yang mereka hadapi dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam program edukasi ini adalah metode komunikasi interpersonal yang intensif, di mana para ibu diajak untuk secara langsung terlibat dalam berbagai aktivitas yang mendukung peningkatan literasi gizi mereka. Kegiatan seperti demonstrasi memasak makanan bergizi dengan bahan-bahan lokal, diskusi kelompok mengenai pola makan sehat, serta pemeriksaan kesehatan anak secara berkala merupakan bagian dari intervensi yang dilaksanakan. Selain itu, program ini juga melibatkan tenaga kesehatan lokal, kader posyandu, dan tokoh masyarakat setempat untuk memperkuat penyebaran informasi dan memantau perkembangan anak secara Pentingnya pelibatan masyarakat lokal dalam program ini tidak bisa diabaikan. Kader posyandu dan tokoh masyarakat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga dapat berperan sebagai penggerak utama dalam menyebarluaskan informasi terkait pencegahan stunting. Mereka juga dapat membantu memfasilitasi interaksi antara masyarakat dengan layanan kesehatan, sehingga ibu-ibu di daerah terpencil pun dapat mengakses informasi yang dibutuhkan untuk merawat anak mereka dengan baik. Melalui sinergi antara berbagai pemangku kepentingan, diharapkan angka stunting di Kota Tidore Kepulauan dapat ditekan secara signifikan. METODE Metode yang digunakan dalam kegiatan ini berfokus pada pendekatan partisipatif. Pendekatan ini melibatkan masyarakat, khususnya para ibu yang memiliki balita, secara aktif dalam setiap tahap kegiatan. Dengan metode partisipatif ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga berperan sebagai pelaku perubahan (Hasan & Sangadji, 2. Para ibu diajak untuk berpartisipasi dalam diskusi kelompok, berbagi pengalaman, serta terlibat dalam praktik langsung, sehingga mereka dapat lebih memahami pentingnya pencegahan stunting. Keterlibatan aktif ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap program dan mempercepat perubahan perilaku yang diharapkan. BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 92-99 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Selain itu, program ini mengedepankan edukasi melalui penyuluhan interaktif dan demonstrasi langsung. Penyuluhan dilakukan di tengah masyarakat dengan melibatkan para ibu dalam diskusi tentang pentingnya gizi seimbang dan pola asuh yang tepat. Dalam penyuluhan ini, para ibu tidak hanya mendengarkan informasi, tetapi juga diberikan kesempatan untuk berinteraksi dan bertanya. Salah satu kegiatan penting adalah demonstrasi memasak makanan bergizi dengan bahan-bahan lokal yang mudah ditemukan di sekitar. Demonstrasi ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa makanan sehat tidak harus mahal dan dapat diolah dengan sederhana. Para peserta diberi kesempatan untuk terlibat dalam proses memasak, sehingga mereka dapat lebih memahami dan menerapkan informasi yang diberikan. Untuk mendukung keberlanjutan program, pelatihan diberikan kepada kader posyandu dan tenaga kesehatan lokal. Kader posyandu dan tenaga kesehatan ini dilatih secara khusus tentang stunting, pentingnya 1000 hari pertama kehidupan (HPK), serta cara memberikan edukasi kepada masyarakat secara efektif. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan di komunitas mereka, membantu menyebarkan informasi kepada para ibu, serta memantau perkembangan kesehatan anak-anak di lingkungan mereka. Dengan keterlibatan mereka, diharapkan setiap kasus stunting dapat terdeteksi dan ditangani lebih dini. Pemanfaatan teknologi informasi juga menjadi salah satu metode penting dalam program ini. Aplikasi mobile yang menyediakan informasi seputar gizi, kesehatan anak, dan tips pola asuh dibuat untuk mempermudah akses informasi bagi para ibu, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil. Aplikasi ini dirancang agar mudah digunakan dengan bahasa yang sederhana dan visual yang mendukung. Selain itu, platform media sosial seperti WhatsApp dan Facebook digunakan sebagai tempat untuk berbagi informasi dan diskusi antaranggota kelompok. Dengan cara ini, informasi dapat disebarluaskan dengan cepat dan para ibu mendapatkan dukungan serta panduan secara Monitoring dan evaluasi program dilakukan secara berkala untuk memastikan efektivitas intervensi yang diberikan. Setiap peserta dicatat perkembangan pengetahuannya mengenai gizi dan pola asuh, serta kondisi kesehatan anak-anak mereka dipantau secara rutin oleh kader posyandu dan tenaga kesehatan. Data yang dikumpulkan dianalisis untuk menilai apakah program edukasi berhasil menurunkan prevalensi stunting. Monitoring dan evaluasi ini juga digunakan untuk memperbaiki metode program di masa depan, sehingga dapat lebih optimal dalam mengatasi masalah stunting di Kota Tidore Kepulauan. Dengan menggabungkan pendekatan partisipatif, penyuluhan interaktif, pelatihan kader, pemanfaatan teknologi, serta monitoring yang ketat, metode yang digunakan dalam kegiatan PKM ini dirancang untuk memastikan bahwa program edukasi pencegahan stunting dapat memberikan dampak yang berkelanjutan dan signifikan bagi masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang berfokus pada edukasi pencegahan stunting ini telah berhasil dilaksanakan sesuai dengan rencana. Hasil BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 92-99 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat, khususnya ibu-ibu yang memiliki balita, mengenai pentingnya gizi seimbang dan pola asuh yang benar dalam upaya pencegahan stunting. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan melalui kuisioner dan wawancara sebelum dan sesudah kegiatan, sekitar 80% peserta mengalami peningkatan pemahaman tentang stunting, gizi, dan pola makan yang tepat untuk anak-anak. Sebelum kegiatan berlangsung, banyak ibu yang masih memiliki pemahaman keliru, seperti memberikan makanan padat terlalu dini atau mengabaikan pentingnya ASI eksklusif. Setelah mendapatkan penyuluhan dan demonstrasi, mereka mulai memahami bahwa pemberian nutrisi yang tepat sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun sangat berperan dalam mencegah stunting. Selain peningkatan pengetahuan, hasil kegiatan ini juga menunjukkan adanya perubahan perilaku di kalangan ibu-ibu. Banyak dari mereka yang mulai menerapkan pola makan sehat dengan menggunakan bahan-bahan lokal yang telah diperkenalkan selama kegiatan. Kegiatan demonstrasi memasak makanan bergizi yang melibatkan bahan-bahan lokal seperti sayur-sayuran, ikan, dan kacang-kacangan menjadi salah satu faktor penting dalam mengubah pandangan masyarakat bahwa makanan bergizi tidak selalu harus mahal. Beberapa ibu bahkan melaporkan bahwa mereka mulai menerapkan resep-resep yang diajarkan dalam keseharian mereka, yang diharapkan berdampak positif terhadap pertumbuhan anak-anak mereka. Dampak ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan konsumsi sayuran dan protein hewani dalam pola makan harian keluarga peserta. Di sisi lain, kader posyandu yang dilatih selama kegiatan juga menunjukkan peran yang sangat signifikan dalam penyebarluasan informasi dan pemantauan kesehatan Kader yang sebelumnya hanya berfokus pada kegiatan posyandu rutin, kini mulai lebih aktif memberikan edukasi kepada ibu-ibu di komunitas mereka, baik secara langsung maupun melalui pertemuan-pertemuan di tingkat desa. Mereka juga dilatih untuk mendeteksi tanda-tanda awal stunting dan memberikan saran yang tepat kepada orang tua terkait tindakan pencegahan yang perlu diambil. Peran kader posyandu ini sangat krusial, terutama di wilayah-wilayah terpencil yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan formal. Melalui pemantauan yang dilakukan oleh kader, beberapa kasus anak yang berisiko stunting dapat diidentifikasi lebih awal dan segera mendapatkan penanganan yang sesuai. Meskipun hasil kegiatan menunjukkan dampak positif, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan program. Salah satu tantangan utama adalah akses geografis yang sulit dijangkau seperti wilayah Oba Selatan dll. Kendala ini menghambat penyebaran informasi secara merata dan membuat kegiatan edukasi tidak dapat menjangkau seluruh ibu dengan anak balita di wilayah tersebut. Meskipun aplikasi mobile dan media sosial digunakan untuk memperluas jangkauan informasi, keterbatasan akses internet di beberapa daerah menjadi hambatan tersendiri. Oleh karena itu, diperlukan upaya lebih lanjut untuk mengatasi kesenjangan akses ini, seperti dengan memperkuat jaringan kader posyandu di daerah-daerah terpencil. Pembahasan lebih lanjut menunjukkan bahwa metode edukasi yang menggabungkan pendekatan partisipatif, penyuluhan interaktif, dan demonstrasi praktik langsung telah terbukti efektif dalam meningkatkan literasi gizi di kalangan BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 92-99 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Ibu-ibu merasa lebih nyaman untuk bertanya dan berbagi pengalaman dalam suasana diskusi kelompok yang interaktif, dibandingkan dengan metode penyuluhan satu arah yang biasanya mereka terima. Selain itu, integrasi teknologi informasi melalui aplikasi mobile juga dinilai memberikan kontribusi positif meskipun masih menghadapi tantangan teknis di beberapa wilayah. Dengan akses yang lebih luas ke informasi melalui teknologi, ibu-ibu di daerah terpencil dapat tetap mendapatkan panduan mengenai gizi dan kesehatan anak meskipun mereka tidak dapat menghadiri pertemuan langsung. KESIMPULAN Kegiatan PKM ini memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman dan perubahan perilaku masyarakat dalam upaya pencegahan stunting. Namun, keberlanjutan program ini sangat bergantung pada dukungan terus-menerus dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan organisasi Kader posyandu perlu terus diberdayakan dan didukung dalam menjalankan perannya sebagai agen perubahan di komunitas. Dengan komitmen yang kuat dan kolaborasi lintas sektor, diharapkan prevalensi stunting di Kota Tidore Kepulauan dapat terus ditekan di masa mendatang. REFERENSI Adrany. Prevalensi Stunting di Kota Tidore Kepulauan Turun 6 Persen. RRI. https://rri. id/maluku-utara/daerah/150664/prevalensi-stunting-dikota-tidore-kepulauan-turun-6persen?utm_source=news_main&utm_medium=internal_link&utm_campaign=G eneral Campaign Amania. Hidayat. Hamidah. Wahyuningsih. , & Parwanti. Pencegahan Stunting Melalui Parenting Education Di Desa Pakel Bareng. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol, 1. Arifin. Susanty. Masykuriah. , & Hasnah. Focus Group Discussion dalam Rangka Program Percepatan Penurunan Stunting dengan Pengawalan 1000 HPK Di Desa Tanah Karaeng. Jurnal Altifani Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 2. , 394Ae402. Arifuddin. Prihatni. Setiawan. Wahyuni. Nur. Dyastuti. , & Arifuddin. Epidemiological Model of Stunting Determinants in Indonesia. Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulak. , 9. , 224Ae234. Djauhari. Gizi dan 1000 HPK. Saintika Medika, 13. , 125Ae133. Hasan. Arief. , & Krisnana. Mobile application intervention to improve nutritional literacy of mothers with stunting children: A systematic review. Hasan. , & Muhammad. Stunting in Focus: Unraveling the Trends and Prevalence Among Children in Maluku Utara Province . SCIENTIA: Journal of Multi Disciplinary Science. BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 92-99 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Hasan. , & Muhammad. Exploring Two Years of Stunting Trends: Insights from Tidore Kepulauan. SCIENTIA: Journal of Multi Disciplinary Science. Hasan. , & Sangadji. Fundamentals in Crafting Research and Community Service Articles. SCIENTIA: Journal of Multi Disciplinary Science, 3. , 31Ae39. Haskas. Gambaran stunting di Indonesia: literatur review. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis, 15. , 154Ae157. Imani. Stunting pada anak: kenali dan cegah sejak dini. Hijaz Pustaka