JUKMAS Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. No. 2 Oktober 2019 Faktor Resiko Kejadian Tb Paru Bta Positif Di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur Suci Ayaturrahmi. Dini Indah Lestari Universitas Respati Indonesia email : diniindah. ariefbowo@gmail. ABSTRAK TB paru atau tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular langsung yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tubeculosis. Kuman ini paling sering menyerang organ paru dengan sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Hingga saat ini , penyakit TB merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat karena merupakan salah satu penyakit dari sepuluh penyakit yang memiliki angka kematian tertinggi di dunia. Pada tahun 2017 di Jakarta timur kasus dengan beban TB paru terbanyak di temukan di Puskesmas Kecamatan kramat jati sebanyak 2. 639 orang (Min 51 orang MDR ) , jumlah perkiraan kasus MDR 2% dari kasus TB paru kasus baru dan ditambah 12% kasus TB paru yang kasus kambuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor resiko pada kejadian TB Paru BTA positif di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain case control. Sampel berjumlah 80 orang yang terbagi untuk kasus dan control dengan perbandingan 1:1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor resiko yang berhubungan signifikan dengan kejadian TB paru antara lain Pendidikan . value 0,. , pekerjaan . value 0,. , pengetahuan . value 0,. , pencahayaan rumah . value 0,. , dan kepadatan hunian . value 0, . Saran yang dapat diberikan adalah memberikan pelatihan dan mengaktifkan peran kader TB untuk berpartisipasi dalam penanggulangan TB paru, serta meningkatkan edukasi terhadap masyarakat dan keluarga pasien TB terkait pencegahan dan penanggulangan TB paru. Kata Kunci : faktor resiko, kejadian TB paru. BTA positif ABSTRACT Pulmonary TB or tuberculosis is a direct infectious disease caused by the bacterium mycobacterium tubeculosis. These bacteria most often attack the pulmonary organs with a source of transmission are smear positive TB patients. Until now. TB is one of the public health problems because it is one of the ten diseases that have the highest mortality rate in the world. In 2017 in East Jakarta cases with the highest burden of pulmonary TB were found in the Community Health Center of Kramat Teak District of 2,639 people (Min. 51 MDR peopl. , the estimated number of MDR cases was 2% of new cases of pulmonary TB cases and added by 12% of cases of pulmonary TB cases This study aims to determine the risk factors for the incidence of positive pulmonary TB in the District Health Center Kramat Jati. East Jakarta. The method used is quantitative research with case control design. A sample of 80 people was divided into cases and controls with a ratio of 1: 1. The results showed that the risk factors significantly related to the incidence of pulmonary TB include education . , employment . , knowledge . , home lighting . , and occupancy density . value 0, . Suggestions that can be given are to provide training and activate the role of TB cadres to participate in the prevention of pulmonary TB, as well http://ejournal. id/index. php/jukmas JUKMAS : Jurnal Kesehatan Masyarakat as improve education to the community and families of TB patients regarding the prevention and control of pulmonary TB Keywords: risk factors, the incidence of pulmonary TB, smear positive PENDAHULUAN 516 kasus di antaranya di Provinsi DKI TB paru atau tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular langsung yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium Kuman menyerang organ paru dengan sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Seseorang dikatakan menderita penyakit Tb terkonfirmasi . asil uji sputum positi. atau secara diagnosis klinis kasus melibatkan parenkim paru atau pohon trakeobronkial yang biasa nya di tunjukan dengan adanya . lesi pada paru-paru . Dari 30 negara dengan Jakarta. Pada tahun 2017 di Jakarta timur kasus dengan beban TB paru terbanyak di temukan di Puskesmas Kecamatan kramat jati sebanyak 2. 639 orang (Min 51 orang MDR ) , jumlah perkiraan kasus MDR 2% dari kasus TB paru kasus baru dan ditambah 12% kasus TB paru yang kasus kambuh Masih Indonesia di pengaruhi oleh beberapa faktor penghasilan, tingkat kepadatan penduduk , pengetahuan kesehatan pada masyarakat . beban MDR-TB tertinggi di dunia. Indonesia Derajat kesehatan di pengaruhi oleh merupakan salah satu dari 14 negara yang beberapa faktor yaitu lingkungan, perilaku, pada kelompok negara yang pelayanan kesehatan dan keturunan. Faktor beban penderita TB. Multidrug-resistant lingkungan meliputi keadaan pemukiman Tuberculosis /perumahan, tempat (MDR-TB), dan Tuberculosis kerja , sekolah dan with human immunodeficiency virus (TB/HIV) tempat umum ,air dan udara bersih , paling tinggi di dunia dengan estemasi teknologi ,pendidikan ,sosial, dan ekonomi . insiden tertinggi kedua setelah India yaitu Sedangkan kebiasaan sehari-hari seperti pola makan, 391/100. Laporan kebersihan perorangan ,gaya hidup dan Kementrian mengatakan bahwa jumlah kasus baru TB BTA di Indonesia 723 kasus, yang sejumlah perilaku terhadap upaya kesehatan . Hasil penelitian lain dengan data Riset Kesehatan Dasar ( Riskesda. tahun 2013 menyatakan bahwa faktor resiko terjadi nya tuberkulosis http://ejournal. id/index. php/jukmas JUKMAS : Jurnal Kesehatan Masyarakat Seseorang dengan tingkat bahwa pencahayaan ,ventilasi yang buruk pendidikan yang rendah memiliki resiko 1,3 kali lebih besar terkena TB dibanding dengan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi yang berpendidikan tinggi . Pendidikan kejadian penyakit TB paru . nantinya akan berhubungan dengan upaya pencarian pengobatan . Selain itu ,perokok aktif memiliki kerentanan lebih terkena TB 1,01 lebih tinggi dibanding perokok pasif atau bukan perokok. Faktor-faktor Penelitian mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TB paru BTA positif di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur. Faktor risiko yang diteliti antara lain adalah faktor demografi, tingkat Pendidikan. TB, penyebaran penyakit TB paru tidak hanya faktor medis saja tetapi dipengaruhi juga pencahayaan rumah, kepadatan hunian, oleh non medis seperti urbanisasi ,kepadatan serta lantai rumah. penduduk ,dan ekonomi. Insiden TB paru tidak hanya di jumpai di daerah pedesaan tetapi juga dijumpai didaerah perkotaan. METODE Penelitian faktor yang berkontribusi terjadinya insiden penelitian kuantitatif dengan desain penelitian TB paru yang tinggi di daerah perkotaan case control. Adapun kriteria inklusi dari antara lain faktor gizi, anemia, kemiskinan kelompok kasus antara lain pasien TB paru ,dan masalah sanitasi. Kualitas lingkungan BTA positif yang sudah didiagnosa oleh fisik rumah dapat mempengaruhi kesehatan dokter, berusia lebih dari sama dengan 15 penghuni seperti ventilasi dan pencahayaan tahun, dapat berkomunikasi dengan baik dan yang buruk. Seorang pasien TB paru yang bersedia diwawancara. Jumlah kelompok belum berobat ke puskesmas diperkirakan kasus adalah sebanyak 40 orang responden. dapat menularkan kepada anggota keluarga Sedangkan sebanyak 33,3% lebih besar. Bangunan responden dengan kriteria bukan pasien TB, perumahan juga mempengaruhi penularan berusia lebih dari sama dengan 15 tahun, seperti TB paru dan batuk rejan. Begitu juga bersedia diwawancara. Jumlah kelompok hal nya dengan penelitian dahlan A . kontrol sama dengan kelompok kasus, yakni http://ejournal. id/index. php/jukmas JUKMAS : Jurnal Kesehatan Masyarakat 40 orang. Pengumpulan sampel dilakukan transparan dan akuntabel, meningkatkan dengan cara accidental sampling dimana peran serta lintas sektoral dan masyarakat dalam pengumpulan sampel didasarkan pada serta melakukan perbaikan kinerja yang kunjungan pasien di Poli paru Puskesmas Puskesmas Kecamatan Kecamatan Karamat Jati saat pertama kali Kramat Jati bertekad melaksanakan pelayanan peneliti melakukan penelitian hingga sampel prima sesuai dengan standart internasional, yang diambil terpenuhi sesuai dengan besaran penerapan sistem pelayanan yang bermutu, sampel yang diharapkan Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data Penerapan Data primer yaitu data yang diambil dari sumbernya langsung yang dirumuskan penanganan setiap keluhan pelanggan, serta melalui kuisioner dan diisi langsung oleh perbaikan terus menerus untuk meningkatkan responden yang menyangkut tentang faktor- efektifitas sistem manajemen mutu. faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TB paru positif di Puskesmas kecamatan Kramat jati tahun 2019 Dari total 80 orang responden dalam penelitian ini, sebanyak 25 orang pada kelompok kasus dan 20 orang pada kelompok kontrol berada pada rentang usia produktif HASIL dengan distribusi berdasarkan jenis kelamin Puskesmas Kecamatan Kramat jati sebagai berikut. Sebesar 52,5% kelompok ialah Puskesmas pembina tingkat kecamatan kasus adalah laki-laki dan sebesar 35% Kramat jati dan merupakan unit pelaksana responden pada kelompok kontrol yang teknis kesehatan dibawah dibawah supervisi berjenis kelamin laki-laki. Sehingga dapat Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur . dilihat bahwa distribusi laki-laki lebih banyak Puskesmas Kecamatan Kramat Jati ini terletak pada kelompok kasus dibandingkan dengan di kelurahan Kramat jati didirikan pada tahun kelompok kontrol yang didominasi oleh 1980 dibangun pertama kali pada lahan seluas responden perempuan yakni sebesar 65%. dengan luas bangunan bertingkat Tingkat Pendidikan untuk kelompok kasus sekitar 505 m . Visi dari puskesmas ini adalah didominasi oleh responden dengan tingkat Kramat Jati sehat paripurna, dengan misinya Pendidikan rendah yaitu hanya sampai tingkat SMP, sedangkan pada kelompok kontrol SDM, http://ejournal. id/index. php/jukmas JUKMAS : Jurnal Kesehatan Masyarakat didominasi oleh responden dengan tingkat tidak memenuhi syarat, dan 45% responden Pendidikan tinggi sebesar 70%. memiliki ventilasi yang juga tidak memenuhi Variabel selanjutnya yang diteliti adalah Variabel dikategorikan menjadi dua, yakni pendapatan rendah (<3,6 juta/bula. dan pendapatan tinggi (>3,6 juta/bula. Sebanyak 17 orang . ,5%) kelompok kontrol sebesar 27,5%. Untuk responden yang memiliki pendapatan tinggi di kelompok kasus sebanyak 57,5% dan 72,5% pada kelompok Berlanjut kebiasaan merokok, dari hasil penelitian 57,5% responden pada kelompok kasus dan 40% responden kelompok kontrol adalah perokok aktif, sisanya tidak merokok. Pada kelompok Sedangkan pada kelompok kontrol hanya 12,5% responden yang lantai rumahnya tidak memenuhi syarat, 15,5% responden memiliki pencahayaan rumah yang kurang, dan 35% responden memiliki ventilasi yang tidak memenuhi syarat. Sehingga dapat responden kelompok kasus memiliki hunian yang tidak memenuhi syarat kesehatan . Tingkat kepadatan hunian pada kelompok kasus juga lebih besar, yakni sebayak 45% responden memiliki hunian yang tingkat kepadatannya melebihi kapasitas, sedangkan sebesar 20% saja pada kelompok kontrol yang memenuhi syarat. kasus, tingkat pengetahuan seimbang, yakni Dari keseluruhan faktor risiko yang diteliti 50% memiliki tingkat pengetahuan rendah dan selanjutnya diuji untuk melihat hubungan dan sisanya memiliki tingkat pengetahuan tinggi, besarnya tingkat risiko. Faktor yang memiliki sedangkan pada kelompok kontrol hanya 25% hubungan signifikan dengan kejadian TB paru responden yang memiliki tingkat pengetahuan antara lain Pendidikan . value 0,. , pekerjaan . value 0,. , pengetahuan . Faktor lingkungan yang fokus kepada hunian juga menjadi faktor yang diteliti dalam penelitian ini. Antara lain lantai rumah, pencahayaan, dan ventilasi rumah. Pada kelompok kasus, sebanyak 25% responden memiliki lantai rumah yang tidak memenuhi syarat, 40% responden pencahayaan rumah value 0,. , pencahayaan rumah . value 0,. , dan kepadatan hunian . value 0, . Sedangkan faktor lain terbukti tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian TB PEMBAHASAN http://ejournal. id/index. php/jukmas JUKMAS : Jurnal Kesehatan Masyarakat Berdasarkan hasil penelitian, sebagian analisis uji Chi Square menunjukan ada nya besar responden pada kelompok kasus berada hubungan yang signifikan antara pendidikan pada rentang usia produktif sebanyak 25 dengan kejadian TB paru BTA positif dengan orang . ,5%), sedangkan pada kelompok nilai p = 0,038 . Dari hasil analisis diperoleh kontrol dengan usia produktif sebanyak 20 orang . %) . Hasil uji Chi Square menunjukan tidak ada hubungan yang signifikan antara berisiko 2,852 untuk menderita TB paru BTA usia dengan kejadian TB Paru BTA positif dengan nilai p = 0,367 . Sekitar 75 % pasien TB berpendidikan tinggi . Menurut WHO ,tingkat masyarat miskin berkontribusi lebih lanjut Mycobacterium Tuberculosis lebih usia produktif OR=2,852 ,137-7,. kurangnya kesadaran selain itu reaktifan endrogen ( aktif kembali kurangnya kesadaran akan pentingnya deteksi yang telah ) dapat terjadi dalam usia non dini dan pengobatan TB . produktif ada dalam tubuh (Paramani,2013 ) , selain itu lingkungan kerja yang padat serta berhubungan dengan banyak orang juga dapat meningkatkan risiko terjadinya TB paru BTA Kondisi kerja yang demikian ini produktif lebih muda dan lebih banyak yang Hubungan kejadian TB paru BTA positif disebabkan jika rendah nya pendidikan seseorang maka tingkat pengetahuan nya untuk mengetahui memahami bahaya dan penyakit tentang tb menderita TB paru . paru dan juga jika seseorang berpendidikan Dalam tinggi mereka bisa untuk mendapatkan dikelompokan menjadi pendidikan rendah ( pekerjaan dan penghidupan yang layak SD-SMP) dan berpendidikan tinggi (SMA- Perguruan Hal ini dikarenakan faktor pengetahuan juga merupakan faktor yang responden berpendidikan rendah sebanyak 22 memiliki hubungan yang signifikan dengan TB orang ( 55%). Sedangkan pada kelompok Berdasarkan kontrol yang memiliki tingkat pendidikan rendah sebanyak 12 orang ( 30,0%) . Hasil Faktor risiko lainnya yaitu pekerjaan yang http://ejournal. id/index. php/jukmas JUKMAS : Jurnal Kesehatan Masyarakat kejadian TB paru. Menurut Jhon Crofton jenis penghuni nya padat dapat memungkinkan terjadinya penularan penyakit dari satu manusia ke manusia lainnya yang dapat penghasilan yang didapat . Penderita TB paru yang bekerja dan memiliki sosial ekonomi yang baik akan berupaya untuk segera mencari pengobatan dan asupan gizi yang untuk mendapatkan pengobatan dan asupan gizi yang cukup . menjadi faktor terakhir yang diteliti. Hanya pencahayaan, dan ventilasi rumah yang memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian tb paru. Pencahayaan yang cukup Faktor signifikan dengan kejadian TB paru di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur antara lain pendidikan . value 0,. , pekerjaan . value 0,. , pengetahuan . Lingkungan yang meliputi kondisi rumah SIMPULAN value 0,. , pencahayaan rumah . value 0,. , dan kepadatan hunian . value 0, . Untuk menurunkan resiko terjadinya kasus tersebut, dapat dilakukan dengan cara : Melaksanakan puskesmas kecamatan dan kelurahan kesehatan orang-orang yang ada didalam nya Idealnya ,cahaya Masuk luasnya minimal 15- mengaktifkan peran kepala kelurahan , 20% dari luas lantai yang terdapat di dalam perangkat kelurahan , kader TB untuk ikut ruangan rumah . Pencahayaan alami dapat diperoleh dari sinar matahari secara langsung program penanggulangan TB paru kedalam ruangan melalui jendela, celah-celah Meningkatkan dan bagian bangunan yang terbuka lainnya . Keberadaan matahari dalam rumah sangat program TB paru baik di puskesmas penting karena sinar matahari mencegah dan menghambat pertumbuhan Micobacterium Tuberculosis dalam waktu dua jam Kepadatan hunian juga dapat mempengaruhi ,karena mengambil kebijakan Diadakan nya pelatihan khusus untuk PMO ( pemantau minum obat ) di http://ejournal. id/index. php/jukmas JUKMAS : Jurnal Kesehatan Masyarakat Puskesmas secara rutin mengenai peran ,tugas serta keterampilan yang perlu PMO miliki Puskesmas pemberantasan TB paru secara kelompok Cahdiah D. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadi TB Paru Di kepada pasien dan masyarakat . Puskesmas Kembangan Jakarta Barat DAFTAR PUSTAKA