Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Optimalisasi Pembelajaran IPAS melalui Pendekatan Saintifik untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Sains pada Siswa MI Al-Hasanah Dista Ariyani1. Anggi Revita Rimadhany2 1 MI Al-Hasanah 2 MI Al-Azhar Correspondence: ariyani. dista@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. IPAS. Scientific Approach. Student Engagement. MI AlHasanah. Science Education. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to enhance students' understanding of Integrated Science (IPAS) at MI Al-Hasanah by implementing a scientific approach to learning. The research addresses challenges faced by students in comprehending scientific concepts, particularly in connecting theoretical knowledge with real-world The scientific approach, which encourages inquiry, experimentation, and critical thinking, is expected to improve students' engagement and understanding of IPAS. The study was conducted in two cycles, each consisting of planning, implementation, observation, and Data were collected through classroom observations, student assessments, and interviews. The findings indicate that the scientific approach significantly improved students' motivation and comprehension of IPAS. Students became more involved in the learning process and were able to apply scientific concepts to everyday situations. This research demonstrates the effectiveness of integrating a scientific approach in teaching IPAS, as it fosters a deeper understanding of science and develops students' critical thinking and problem-solving skills. The study provides valuable insights for educators seeking to enhance the quality of science education in elementary schools. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan sains di tingkat dasar merupakan fondasi penting bagi perkembangan pemahaman siswa terhadap dunia sekitar mereka. Di MI Al-Hasanah, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman ilmiah dan keterampilan berpikir kritis siswa. Namun, meskipun memiliki peran yang vital, proses pembelajaran IPAS di banyak sekolah, termasuk MI Al-Hasanah, masih mengalami berbagai tantangan. Salah satunya adalah kurangnya keterhubungan antara materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari siswa (Sulaiman. Hal ini menyebabkan siswa merasa kesulitan dan kurang termotivasi untuk mendalami materi IPAS. Selain itu, metode pembelajaran yang masih terfokus pada pendekatan konvensional seperti ceramah dan tugas rumah juga menjadi hambatan utama dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang didominasi ceramah cenderung membuat siswa pasif dan kurang terlibat dalam proses belajar (Fadillah & Achadi, 2. Pembelajaran yang lebih aktif dan interaktif, seperti pendekatan berbasis masalah atau inquiry, dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih terlibat dalam pembelajaran dan lebih memahami konsep-konsep sains secara lebih Sebagian besar siswa di MI Al-Hasanah masih merasa kesulitan dalam memahami konsepkonsep dasar sains, terutama yang berkaitan dengan fenomena alam. Penelitian menunjukkan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 bahwa siswa sering kesulitan untuk mengaitkan teori yang diajarkan dengan pengamatan atau pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari (Budi, 2. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan berbasis pengalaman nyata agar siswa dapat lebih mudah memahami konsep-konsep yang diajarkan. Meskipun terdapat kesulitan-kesulitan tersebut, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pembelajaran yang mengaitkan teori dengan praktik dan kehidupan nyata dapat meningkatkan pemahaman siswa. Salah satu pendekatan yang terbukti efektif adalah pembelajaran berbasis inquiry atau penemuan. Dalam pendekatan ini, siswa diberikan kesempatan untuk melakukan eksperimen, berdiskusi, dan menyelidiki fenomena alam secara langsung (Syahrial & Fadillah. Pendekatan seperti ini dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa dan membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir kritis serta kemampuan untuk menerapkan konsepkonsep yang telah dipelajari. Namun, penerapan model inquiry atau pendekatan berbasis eksperimen di MI Al-Hasanah masih terbatas. Salah satu faktor penyebabnya adalah keterbatasan fasilitas dan media pembelajaran yang mendukung pembelajaran berbasis eksperimen (Putra, 2. Meskipun demikian, penelitian juga menunjukkan bahwa dengan pemanfaatan media sederhana dan sumber daya yang ada, pembelajaran berbasis inquiry tetap dapat dilaksanakan secara efektif. Guru perlu lebih kreatif dalam menggunakan media yang ada di sekitar mereka untuk mendukung pembelajaran sains yang lebih kontekstual dan berbasis pengalaman. Salah satu tantangan utama dalam pembelajaran IPAS adalah bagaimana menghubungkan materi yang diajarkan dengan pengalaman sehari-hari siswa. Kurangnya relevansi antara materi pelajaran dan kehidupan nyata membuat siswa merasa bahwa pembelajaran IPAS tidak berguna dan tidak menyenangkan. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual yang mengaitkan materi dengan pengalaman hidup siswa dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan pemahaman mereka terhadap materi (Fachrudin, 2. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan dalam pendekatan pembelajaran agar materi IPAS dapat lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Selain itu, peningkatan penggunaan teknologi dalam pembelajaran juga menjadi faktor penting dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa dalam memahami materi IPAS. Penggunaan aplikasi pendidikan atau video pembelajaran dapat membantu siswa untuk melihat penerapan konsep-konsep sains dalam kehidupan sehari-hari mereka (Syurgawi & Yusuf, 2. Teknologi juga dapat mempermudah siswa dalam memahami konsep-konsep yang lebih kompleks melalui visualisasi atau simulasi yang lebih menarik dan mudah dipahami. Siswa di MI Al-Hasanah juga memiliki beragam gaya belajar yang berbeda. Beberapa siswa mungkin lebih memahami konsep-konsep sains melalui pengalaman langsung, sementara yang lainnya lebih mudah memahami materi melalui penjelasan verbal atau visual. Oleh karena itu, pembelajaran yang mengakomodasi berbagai gaya belajar siswa sangat diperlukan. Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan yang memperhatikan gaya belajar siswa dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan (Lail & Ali, 2. Dalam hal ini, pendekatan berbasis eksperimen yang mengutamakan keterlibatan langsung siswa menjadi sangat relevan. Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak juga berperan penting dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran IPAS. Penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi antara sekolah dan orang tua dapat memperkuat proses belajar siswa di rumah, terutama dalam mendalami materi yang memerlukan percakapan dan pengamatan lebih lanjut (Sulaiman. Oleh karena itu, penting bagi guru dan orang tua untuk bekerja sama dalam mendukung pembelajaran IPAS agar dapat lebih mengoptimalkan pemahaman siswa. Keterbatasan fasilitas dan waktu juga menjadi tantangan dalam implementasi pembelajaran berbasis eksperimen di MI Al-Hasanah. Sumber daya yang terbatas mempengaruhi kemampuan guru untuk melakukan eksperimen yang lebih kompleks atau menggunakan alat Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 peraga yang lebih beragam. Namun, penelitian menunjukkan bahwa eksperimen dengan menggunakan bahan sederhana dan mudah ditemukan di sekitar siswa tetap dapat dilakukan secara efektif untuk mengajarkan konsep-konsep dasar sains (Rahman, 2. Oleh karena itu, kreatifitas guru dalam memanfaatkan media dan bahan yang ada sangat diperlukan. Pentingnya pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa dalam pembelajaran IPAS juga tidak dapat diabaikan. Pembelajaran yang mengedepankan keterampilan berpikir kritis dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah sains yang lebih kompleks, serta membuat mereka lebih siap menghadapi tantangan di dunia nyata (Fadillah & Achadi. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang diajarkan untuk berpikir kritis cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Evaluasi terhadap hasil pembelajaran IPAS juga perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mengetahui efektivitas pendekatan yang diterapkan. Dalam hal ini, penilaian tidak hanya dilihat dari segi nilai ujian, tetapi juga dari sejauh mana siswa dapat mengaitkan konsep-konsep sains dengan kehidupan mereka sehari-hari. Penilaian yang lebih holistik ini akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pemahaman siswa terhadap materi IPAS (Budi, 2. Oleh karena itu, evaluasi yang melibatkan berbagai aspek sangat penting dalam mengukur keberhasilan pembelajaran. Melihat berbagai tantangan yang ada, pembaruan dalam pendekatan pembelajaran IPAS di MI Al-Hasanah menjadi suatu keharusan. Pembelajaran yang berbasis pada pengalaman nyata dan kontekstual, serta penerapan teknologi yang lebih maksimal, dapat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep sains dengan lebih baik. Selain itu, peningkatan kerja sama antara guru, orang tua, dan masyarakat juga akan memperkuat proses pembelajaran (Suryadi, 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pendekatan-pendekatan yang lebih efektif dalam pembelajaran IPAS di MI Al-Hasanah. Sebagai kesimpulan, pembaruan dalam pendekatan pembelajaran IPAS di MI Al-Hasanah sangat diperlukan untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam belajar sains. Pendekatan kontekstual, eksperimen berbasis masalah, dan pemanfaatan teknologi dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di sekolah ini (Rohman et al. Penelitian ini memberikan gambaran tentang bagaimana pembelajaran IPAS dapat ditingkatkan dengan pendekatan yang lebih inovatif dan relevan dengan kehidupan siswa. RESEARCH METHODS Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di MI Al-Hasanah. Penelitian Tindakan Kelas dipilih karena memungkinkan peneliti untuk secara langsung mengidentifikasi masalah dalam pembelajaran, menerapkan tindakan perbaikan, dan mengevaluasi hasil tindakan tersebut melalui siklus yang berulang. Setiap siklus dalam PTK terdiri dari empat tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Metode ini memberikan kesempatan bagi peneliti untuk terus melakukan perbaikan terhadap kualitas pembelajaran yang diterapkan, sehingga diharapkan dapat memberikan dampak positif pada hasil belajar siswa (Kemmis & McTaggart, 2. Tahap pertama dalam penelitian ini adalah perencanaan, di mana peneliti bekerja sama dengan guru untuk merancang pembelajaran yang lebih kontekstual dan berbasis masalah. Pada tahap ini, peneliti merancang aktivitas pembelajaran yang menghubungkan materi IPAS dengan pengalaman sehari-hari siswa, serta menyediakan media pembelajaran yang mendukung. Pembelajaran berbasis masalah dipilih karena dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis, mencari solusi, dan mengaitkan konsep sains dengan kehidupan nyata (Syahrial & Fadillah. Selain itu, peneliti juga mempersiapkan alat peraga dan sumber belajar lain yang relevan untuk memperkaya pengalaman belajar siswa. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Setelah perencanaan, tahap selanjutnya adalah pelaksanaan, di mana guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah disusun. Pada tahap ini, peneliti mengamati secara langsung proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. Pembelajaran dilakukan dengan melibatkan siswa dalam kegiatan eksperimen, diskusi kelompok, dan pemecahan masalah yang berhubungan dengan fenomena alam yang ada di sekitar mereka. Peneliti mencatat interaksi antara guru dan siswa, serta observasi terhadap keterlibatan siswa dalam diskusi dan eksperimen. Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pendekatan kontekstual berbasis masalah dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa terhadap materi IPAS (Fadillah & Achadi, 2. Selanjutnya, pada tahap observasi, peneliti mencatat perkembangan siswa selama pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilakukan untuk memantau partisipasi siswa, bagaimana mereka menghubungkan materi dengan kehidupan nyata, serta bagaimana mereka menerapkan konsep-konsep IPAS dalam diskusi kelompok dan eksperimen. Selain itu, peneliti juga mengamati sikap siswa, apakah mereka lebih tertarik, aktif, dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran setelah penerapan metode baru ini. Hasil observasi digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana pembelajaran yang diterapkan dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa terhadap materi IPAS (Sulaiman, 2. Hasil observasi ini menjadi bahan refleksi untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Tahap terakhir adalah refleksi, di mana peneliti dan guru bersama-sama menganalisis hasil yang diperoleh dari siklus yang telah dilaksanakan. Analisis dilakukan berdasarkan data dari observasi, hasil tes siswa, dan umpan balik dari siswa mengenai proses pembelajaran. Refleksi ini bertujuan untuk menilai sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai dan apakah metode yang diterapkan berhasil meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS. Berdasarkan hasil refleksi, peneliti melakukan perbaikan pada perencanaan dan pelaksanaan untuk siklus Dengan cara ini, siklus berulang yang dilakukan memungkinkan pembelajaran untuk terus berkembang dan semakin efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa (Putra. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di MI Al-Hasanah melalui penerapan pembelajaran berbasis masalah dan kontekstual. Temuan utama dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah yang mengaitkan teori dengan pengalaman sehari-hari siswa dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa. Sebelum penerapan model ini, siswa menunjukkan kecenderungan pasif dan kesulitan dalam memahami konsep-konsep sains. Namun, setelah penerapan pembelajaran berbasis masalah, siswa menjadi lebih aktif, lebih tertarik, dan dapat menghubungkan materi yang diajarkan dengan pengalaman mereka di kehidupan nyata (Sulaiman, 2. Penerapan model ini membantu siswa tidak hanya memahami teori tetapi juga mengaplikasikannya dalam situasi yang relevan dengan kehidupan Pada siklus pertama, meskipun terlihat peningkatan dalam partisipasi siswa, masih ada beberapa tantangan yang dihadapi. Salah satunya adalah keterbatasan waktu yang tersedia untuk mendalami topik tertentu dengan lebih detail. Beberapa siswa juga masih merasa kesulitan dalam menghubungkan konsep sains dengan masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kesulitan ini umumnya terjadi karena kurangnya pemahaman dasar terhadap konsep-konsep sains yang lebih abstrak, seperti pengaruh gaya terhadap gerak atau perubahan energi dalam suatu sistem (Fitriani & Widiastuti, 2. Oleh karena itu, pada siklus kedua, waktu untuk diskusi kelompok dan eksperimen diberikan lebih banyak untuk memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi lebih dalam. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pada siklus kedua, peningkatan signifikan terlihat dalam pemahaman siswa. Peneliti dan guru memperbaiki durasi pembelajaran, memberikan waktu lebih untuk diskusi kelompok dan eksperimen, serta memperkenalkan lebih banyak alat peraga dan media pembelajaran Hasilnya, siswa dapat lebih mudah mengaitkan konsep-konsep IPAS dengan kehidupan mereka dan mampu menjelaskan dengan lebih baik bagaimana konsep-konsep tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Budi, 2. Siswa tidak hanya lebih percaya diri, tetapi juga lebih aktif berpartisipasi dalam percakapan kelas, memberikan pendapat, dan mengajukan pertanyaan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep sains dengan cara yang lebih aplikatif. Siswa juga menunjukkan peningkatan dalam keterampilan berpikir kritis dan problem-solving Dalam pembelajaran berbasis masalah, siswa diajak untuk berpikir tentang solusi terhadap masalah yang diberikan dengan menggunakan konsep-konsep yang telah dipelajari. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan praktis lainnya, seperti kemampuan untuk bekerja sama dalam kelompok dan berkomunikasi secara efektif (Syahrial & Fadillah, 2. Dalam penelitian ini, siswa terlihat lebih terlibat dalam diskusi kelompok, saling memberikan pendapat, dan berusaha untuk mencari solusi yang kreatif terhadap masalah yang diajukan. Peningkatan keterampilan sosial siswa juga menjadi salah satu temuan penting dalam penelitian ini. Siswa yang sebelumnya cenderung bekerja secara individual dan jarang berinteraksi dengan teman sekelasnya, mulai menunjukkan sikap lebih kooperatif dan terbuka dalam berdiskusi dan bekerja sama. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa, karena mereka sering bekerja dalam kelompok dan belajar untuk menghargai pendapat orang lain (Putra, 2. Selain itu, melalui diskusi kelompok, siswa belajar untuk mendengarkan, menghargai, dan menyarankan solusi secara konstruktif, yang merupakan keterampilan penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun, meskipun terdapat banyak peningkatan, beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam menerapkan konsep-konsep yang lebih abstrak, seperti konsep-konsep fisika dasar atau perhitungan matematika yang mendalam. Hal ini terutama terjadi pada siswa yang belum sepenuhnya menguasai dasar-dasar IPAS, yang merupakan landasan penting dalam pemahaman konsep-konsep yang lebih kompleks (Fadillah & Achadi, 2. Untuk itu, guru perlu memberikan penguatan lebih lanjut terhadap konsep-konsep dasar melalui latihan yang lebih banyak, penjelasan yang lebih rinci, serta pembelajaran yang berulang untuk memastikan pemahaman yang mendalam. Selain itu, penggunaan media teknologi dalam pembelajaran juga memberikan dampak positif yang signifikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi pendidikan dan alat peraga digital dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan membantu mereka lebih memahami konsep-konsep yang sulit. Teknologi membantu visualisasi fenomena sains, seperti perubahan energi, gaya, atau pergerakan benda, yang sebelumnya sulit dipahami secara Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan mempercepat pemahaman mereka terhadap materi yang sulit (Syurgawi & Yusuf, 2. Salah satu hasil yang menarik dari penelitian ini adalah perubahan sikap siswa terhadap pembelajaran IPAS. Sebelumnya, banyak siswa yang merasa kesulitan dan kurang tertarik terhadap mata pelajaran ini. Namun, setelah penerapan pembelajaran berbasis masalah, siswa mulai menunjukkan sikap yang lebih positif terhadap pelajaran sains. Mereka merasa bahwa apa yang mereka pelajari memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan mereka, dan mereka dapat melihat penerapan ilmu sains dalam kehidupan sehari-hari (Rani, 2. Perubahan sikap ini merupakan indikator bahwa pembelajaran berbasis masalah tidak hanya Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 meningkatkan pemahaman siswa, tetapi juga memotivasi mereka untuk lebih tertarik dan aktif dalam belajar. Penerapan eksperimen sederhana yang melibatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar siswa juga menunjukkan hasil yang positif. Siswa menjadi lebih tertarik untuk melakukan eksperimen karena mereka merasa bahwa eksperimen tersebut nyata dan relevan dengan kehidupan mereka. Selain itu, eksperimen yang sederhana namun menarik dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa eksperimen langsung dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap fenomena alam dan konsep-konsep sains secara lebih efektif (Sulaiman, 2. Namun, tantangan utama dalam pembelajaran ini adalah keterbatasan waktu yang tersedia untuk melakukan eksperimen dan diskusi kelompok yang lebih mendalam. Hal ini menyebabkan beberapa materi yang kompleks tidak dapat dipelajari dengan detail dan Peneliti menyarankan agar waktu untuk pembelajaran sains dapat diperpanjang agar siswa memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi lebih banyak konsep dan menerapkan pengetahuan mereka dalam eksperimen yang lebih kompleks (Budi, 2. Waktu yang lebih banyak juga memungkinkan guru untuk lebih fokus pada penguatan pemahaman konsepkonsep yang belum dikuasai siswa. Dalam hal evaluasi, hasil tes menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman siswa terhadap materi IPAS. Sebelum penerapan model pembelajaran berbasis masalah, hasil ujian siswa seringkali tidak memenuhi standar yang diharapkan. Namun, setelah dua siklus pembelajaran, sebagian besar siswa menunjukkan peningkatan yang jelas dalam nilai ujian mereka, terutama dalam kemampuan mereka untuk menjelaskan konsep-konsep yang telah dipelajari dan mengaitkannya dengan situasi kehidupan nyata (Suryadi, 2. Peningkatan hasil ujian ini membuktikan bahwa pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis masalah dapat mempercepat pemahaman siswa. Secara keseluruhan, penerapan model pembelajaran berbasis masalah di MI Al-Hasanah terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS. Pembelajaran yang mengaitkan konsep-konsep sains dengan kehidupan nyata tidak hanya membantu siswa untuk lebih memahami materi, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan berpikir kritis mereka. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, siswa dapat lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih termotivasi untuk belajar (Fachrudin, 2. Pada akhirnya, pembelajaran berbasis masalah ini dapat dijadikan model yang lebih luas untuk diterapkan di sekolah-sekolah lain yang menghadapi tantangan serupa dalam pembelajaran Dengan pendekatan yang lebih kontekstual, relevan, dan aplikatif, pembelajaran IPAS dapat dilakukan secara lebih menyenangkan dan efektif, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dasar (Rohman et al. , 2. CONCLUSION Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan di MI Al-Hasanah, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) telah terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Pembelajaran berbasis masalah yang mengaitkan teori dengan kehidupan sehari-hari siswa dapat meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep sains. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami materi secara konseptual, tetapi juga mampu mengaplikasikan pengetahuan yang mereka peroleh dalam situasi nyata. Penerapan eksperimen sederhana dan diskusi kelompok yang melibatkan pengalaman nyata siswa juga terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan berpikir kritis Siswa menjadi lebih aktif, lebih percaya diri, dan lebih termotivasi untuk belajar, terutama karena mereka dapat melihat relevansi antara teori yang dipelajari dan situasi Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 kehidupan sehari-hari mereka. Hasil tes menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa terhadap materi IPAS, yang tercermin dari hasil ujian yang lebih baik dan kemampuan mereka dalam menjelaskan konsep-konsep sains dengan lebih jelas. Namun, tantangan dalam penelitian ini adalah keterbatasan waktu yang tersedia untuk pembelajaran dan eksperimen yang lebih mendalam. Untuk itu, diperlukan alokasi waktu yang lebih fleksibel agar siswa memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengeksplorasi materi dengan lebih mendalam dan mengembangkan keterampilan praktis mereka. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat menjadi model yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di sekolah dasar. Model ini tidak hanya memperkuat pemahaman konsep sains tetapi juga membangun keterampilan sosial, berpikir kritis, dan meningkatkan minat belajar siswa. REFERENCES