p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920 Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Intonasi Tuturan Bahasa Jawa Logat Korea Shafira Dinda Chairina1*. Novika Stri Wrihatni2 Universitas Indonesia Email: shafira. diinda@gmail. com*, novika. stri@ui. Kata kunci: bahasa Jawa berlogat Korea. Keywords: Javanese with a Korean ABSTRAK Ditemukan tuturan bahasa Jawa berlogat Korea pada media sosial TikTok yang menunjukkan pola intonasi berbeda dari bahasa Jawa Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perbedaan pola intonasi tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif dalam bahasa Jawa berlogat Korea dibandingkan dengan bahasa Jawa standar, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut. Metode kualitatif dengan pendekatan fonetik akustik digunakan dalam penelitian ini. Data bersumber dari tiga akun TikTok (@artiyanangeliza_, @awingaljamal, dan @bukanoppa_ne. yang berisi video parodi bahasa Jawa berlogat Korea. Analisis dilakukan menggunakan aplikasi PRAAT untuk mengukur kontur nada pada suku kata ultima dan penultima, dengan merujuk pada temuan Horne . Wedhawati et al. , dan Rahyono . sebagai pembanding. Uji persepsi melibatkan 30 penutur jati bahasa Jawa untuk memvalidasi perbedaan intonasi yang teridentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan pada tuturan deklaratif dan interogatif. Tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea memiliki pola naik-turun-naik besar . erbeda dari pola naik-turun pada bahasa Jawa standa. , sedangkan tuturan interogatif menunjukkan pola turun-naik . erbeda dari pola turun-turun pada bahasa Jawa standa. Pada tuturan imperatif, perbedaan tidak signifikan secara pola, namun terdapat perbedaan mencolok pada besaran kenaikan nada akhir . 4 Hz pada bahasa Jawa berlogat Korea versus 43. 5 Hz pada bahasa Jawa standa. Temuan ini melengkapi kajian intonasi bahasa Jawa dengan menambahkan variasi baru yang dipengaruhi logat asing, khususnya dalam konteks perkembangan media sosial dan kreativitas linguistik masyarakat Jawa ABSTRACT Javanese utterances with a Korean accent were found on the TikTok platform, displaying intonation patterns different from standard Javanese. This research aims to describe the differences in intonation patterns of declarative, interrogative, and imperative utterances between Korean-accented Javanese and standard Javanese, as well as to identify factors causing these differences. A qualitative method with an acoustic phonetic approach was employed. Data were collected from three TikTok accounts (@artiyanangeliza_, @awingaljamal, and @bukanoppa_ne. containing Korean-accented Javanese parody Analysis was conducted using PRAAT software to measure pitch contours on the ultima and penultima syllables, referring to findings by Horne . Wedhawati et al. , and Rahyono . as comparison points. A perception test involving 30 native Javanese speakers was conducted to validate the identified intonation differences. Results show significant differences in declarative and interrogative Korean-accented Javanese declarative utterances exhibit a rise-fall-rise pattern with large final rise . ifferent from the rise-fall pattern in standard Javanes. , while interrogative utterances show a fall-rise pattern . ifferent from the fall-fall pattern in standard Javanes. In imperative utterances, the pattern difference is not significant, but there is a notable difference in the magnitude of the final pitch rise . 4 Hz in Korean-accented Javanese versus 43. 5 Hz in Shafira Dinda Chairina1*. Novika Stri Wrihatni2 standard Javanes. These findings complement Javanese intonation studies by adding a new variation influenced by foreign accent, particularly in the context of social media development and contemporary Javanese linguistic creativity. PENDAHULUAN Arus Drama Korea membuat masyarakat memberikan perhatian lebih terhadap segala hal yang Auberbau KoreaAy, hal ini juga terjadi dalam masyarakat Jawa. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Korea menjadi perhatian, khususnya bahasa Korea (Suryani & Darmayanti, 1970. Wijaya, 2. Salah satu hal yang menonjol dari Drama Korea merupakan logat berbicara dari orang-orang Korea. Hal tersebut menimbulkan kreativitas pada masyarakat Jawa, sehingga ditemukan tuturan bahasa Jawa berlogat Korea pada media sosial Tiktok. Intonasi yang digunakan dalam turan-tuturan bahasa Jawa berlogat Korea tersebut tidak terdengar seperti intonasi bahasa Jawa pada umumnya (Jun & Jiang, 2019. Laksman-Huntley & Mubin, 2021. Mubin & Laksman-Huntley, 2. Menurut Crystal . 8, p. , logat adalah ciri-ciri pelafalan yang menunjukkan asal-usul seseorang, baik secara regional maupun sosial. Dalam hal ini, logat yang digunakan pada tuturan dalam video parodi merupakan logat bahasa Korea. Ciri dalam sebuah logat tidak hanya berupa kelantangan suara, tetapi juga berupa nada atau intonasi dan durasi, utamanya merupakan nada atau intonasi. Intonasi dalam sebuah logat saat menuturkan sebuah kalimat sangat penting, karena dapat mempengaruhi penerimaan, makna, atau praduga dari sebuah kalimat (Crystal, 2008, p. Tuturan bahasa Jawa berlogat Korea yang dituturkan oleh penutur Jawa tersebut dapat mempengaruhi makna atau persepsi penutur jati bahasa Jawa jika intonasi yang digunakan tidak sesuai dengan intonasi bahasa Jawa pada umumnya, sebagaimana dengan pernyataan Crystal . Oleh sebab itu, intonasi dalam sebuah logat merupakan hal yang penting untuk dibahas dalam penelitian ini. Sebuah tuturan dalam bahasa memiliki dua aspek utama: segmental dan suprasegmental. Penelitian ini fokus pada aspek suprasegmental, yang mencakup pola intonasi, tona, aksen, tekanan, tempo, intensitas, dan durasi (Irawan & Dinakaramani, 2. Aspek suprasegmental menganalisis fitur-fitur yang melibatkan lebih dari satu segmen, seperti kontur intonasi (Crystal, 2. Dalam penelitian ini, intonasi menjadi fokus utama. Menurut Kridalaksana . , intonasi adalah pola perubahan tinggi rendah nada yang digunakan oleh penutur dalam sebuah ujaran. Aot Hart. Collier, dan Cohen . dalam Rahyono . menyatakan bahwa intonasi adalah kumpulan variasi nada dalam sebuah tuturan, yang membentuk kontur nada. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis kontur nada yang terbentuk dari variasi nada dalam Penelitian sebelumnya mengenai intonasi tuturan bahasa telah dilakukan oleh Afriani . , yang membahas intonasi penutur bahasa Jepang dalam tuturan kalimat perintah bahasa Indonesia. Afriani menemukan bahwa nada akhir pada tuturan imperatif cenderung menurun . , sementara nada pada predikat cenderung naik . Yanita & Sekarwati . membahas perbedaan intonasi pada tuturan deklaratif dan interogatif dalam bahasa Bima, menemukan adanya perbedaan pada alir nada subjek dan predikat. Mubin & LaksmanHuntley . meneliti intonasi pemelajar Korea dalam kalimat deklaratif dan interogatif bahasa Indonesia, dan menemukan bahwa pada tingkatan pemula dan menengah, intonasi Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Intonasi Tuturan Bahasa Jawa Logat Korea masih cenderung mengikuti pola bahasa Korea, sementara pada tingkat lanjut sudah lebih mirip dengan bahasa Indonesia meskipun masih ada perbedaan dalam pola intonasinya. Penelitian mengenai intonasi tuturan dalam bahasa Jawa masih terbatas. Rahyono . dalam disertasinya membahas struktur intonasi modus kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif dalam bahasa Jawa Keraton Yogyakarta, serta ciri kontras ketiga modus kalimat Rahyono . menemukan bahwa kalimat deklaratif dan imperatif memiliki gerakan nada akhir yang serupa dan dapat dipertukarkan, sedangkan kalimat interogatif memiliki nada akhir yang sangat berbeda. Berdasarkan temuan tersebut. Rahyono menyimpulkan bahwa kalimat deklaratif dan imperatif dapat diidentifikasi pola intonasinya berdasarkan nada akhir dan garis dasar, sementara kalimat interogatif hanya dapat diidentifikasi berdasarkan nada akhirnya. Garis dasar kalimat deklaratif cenderung menurun, sementara pada kalimat imperatif cenderung datar atau sedikit meningkat. Prihartono . mengkaji perbedaan pola intonasi dalam tuturan modus deklaratif antara penutur bahasa Jawa di Medan dan Solo. Hasil penelitian Prihartono mengidentifikasi adanya perbedaan rata-rata struktur melodik intonasi bahasa Jawa antara penutur di kedua kota tersebut. Keunikan penelitian ini terletak pada penggunaan logat tiruan bahasa Korea dalam tuturan bahasa Jawa. Penelitian ini mengkaji bahasa Jawa berlogat Korea, yang merupakan variasi baru dalam bahasa Jawa, berbeda dengan penelitian sebelumnya yang hanya mengkaji bahasa Jawa tanpa pengaruh logat asing. Setiap bahasa memiliki pola intonasi yang khas, khususnya dalam menandai jenis modus kalimatnya (Mubin & Laksman-Huntley, 2. Bahasa Jawa salah satunya juga memiliki ciri intonasi untuk menandai suatu kalimat. Horne . telah menyebutkan ciri pola intonasi pada kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif berdasarkan nada akhirnya. Selain Horne . Wedhawati, et al. juga menyebutkan ciri pola intonasi pada kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif berdasarkan nada akhirnya. Rahyono . dalam disertasinya menandai ciri pola intonasi kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif berdasarkan garis dasar serta nada akhirnya seperti yang sudah diuraikan sebelumnya. Perbandingan pola intonasi nada akhir milik Horne . Wedhawati, et al. , dan Rahyono . terhadap kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif dapat dilihat dalam Tabel 1 sebagai berikut. Kalimat Deklaratif Interogatif Imperatif Tabel 1. Pola Intonasi Tuturan dalam Bahasa Jawa Horne . Wedhawati, et al. Rahyono . naik-turun naik-turun naik-turun kecil naik-turun sedang naik-turun sedang naik-turun-naik naik-turun naik-naik naik-turun sedang-naik naik-naik naik-turun besar Perbedaan temuan Horne . Wedhawati, et al. , dan Rahyono . dipengaruhi oleh sumber data yang digunakan. Pada penelitiannya. Horne . dan Wedhawati, et al. menggunakan data berupa kalimat bahasa Jawa dalam ragam ngoko. Sementara itu, pada penelitian Rahyono . menggunakan data lisan dalam ragam krama. Oleh sebab itu perbedaan yang signifikan dapat ditemukan pada temuan pola intonasi modus kalimat dalam penelitian Rahyono . dengan penelitian Horne . dan Wedhawati, et . Berdasarkan temuan-temuan pola intonasi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Shafira Dinda Chairina1*. Novika Stri Wrihatni2 melengkapi penelitian tentang intonasi bahasa Jawa. Penelitian ini menggunakan data bahasa Jawa berlogat Korea yang dituturkan oleh penutur bahasa Jawa. Menurut Rahyono . , prosodi setiap bahasa dapat bervariasi, yang berarti intonasi dalam suatu bahasa memiliki keteraturan yang dipahami oleh penuturnya. Perubahan intonasi dalam sebuah tuturan dapat mempengaruhi makna, dan variasi intonasi yang tidak sesuai dengan keteraturan yang telah dipahami bisa menimbulkan ketaksaan. Yustanto. Djatmika, & Sugiyono . juga menyatakan bahwa perbedaan pola prosodi dapat menyebabkan perbedaan makna atau persepsi pada tuturan yang serupa. Temuan tentang bahasa Jawa berlogat Korea di media sosial TikTok menjadi permasalahan karena intonasinya terdengar asing dan berbeda dari bahasa Jawa pada umumnya, yang menandakan adanya perbedaan Berdasarkan hal ini, rumusan masalah penelitian ini adalah AuBagaimana pola intonasi tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif bahasa Jawa berlogat Korea?Ay. Peneliti berhipotesis bahwa tuturan bahasa Jawa berlogat Korea memiliki pola intonasi yang berbeda dibandingkan dengan bahasa Jawa standar. Untuk mengkaji perbedaan ini, peneliti melakukan uji persepsi untuk melihat apakah penutur jati bahasa Jawa mengalami ambiguitas dalam mengidentifikasi jenis kalimat pada tuturan bahasa Jawa berlogat Korea. Uji persepsi ini penting untuk menentukan apakah perbedaan prosodi, khususnya intonasi, terdapat pada tuturan bahasa Jawa berlogat Korea dibandingkan dengan bahasa Jawa standar. Hasil uji persepsi menjadi dasar untuk analisis lebih lanjut tentang pola intonasi menggunakan aplikasi PRAAT. Dengan demikian, intonasi menjadi objek utama dalam penelitian ini, dengan uji persepsi sebagai langkah awal untuk memperkuat hipotesis bahwa tuturan bahasa Jawa berlogat Korea memiliki intonasi yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pola intonasi tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif dalam bahasa Jawa berlogat Korea, serta melihat perbedaan pola intonasi antara bahasa Jawa berlogat Korea dan bahasa Jawa standar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru mengenai variasi intonasi dalam tuturan bahasa Jawa. METODE PENELITIAN Jenis metode yang digunakan dalan penelitian ini adalah metode kualitatif. Bogdan dan Taylor . dalam Pahleviannur, et al. 2, p. mendefinisikan metode kualitatif sebagai suatu prosedur yang menghasilkan data deskriptif yaitu berupa kata-kata, baik yang tertulis maupun lisan, yang berasal dari informan, serta perilaku yang diamati. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data lisan berupa tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif dalam bahasa Jawa berlogat Korea. Sumber data yang diperoleh untuk penelitian ini berasal dari media sosial Tiktok yang merupakan video-video parodi bahasa Jawa berlogat Korea. Video-video berupa parodi bahasa Jawa berlogat Korea diperoleh melalui akun Tiktok milik @artiyanangeliza_, @awingaljamal, dan @bukanoppa_new. Akun-akun Tiktok tersebut dijadikan sebagai sumber data karena akun-akun tersebut berisikan video-video parodi bahasa Jawa berlogat Korea. Berikut merupakan tabel berisikan sumber data video yang ditemukan. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Intonasi Tuturan Bahasa Jawa Logat Korea Username @awingaljamal @artiyanangeliza @artiyanangeliza @awingaljamal @awingaljamal @awingaljamal @awingaljamal @awingaljamal @awingaljamal @bukanoppa_new @bukanoppa_new Tabel 2. Sumber Data Tanggal Diunggah Tanggal Link Video Diunduh 6 Juni 2022 1 Oktober 2023 https://vt. com/ZShNGuQHp/ 28 Juli 2023 1 Oktober 2023 https://vt. com/ZShNGfWnC/ 31 Juli 2023 1 Oktober 2023 https://vt. com/ZShNGbJnn/ 1 April 2024 16 Februari 2025 https://vt. com/ZShNGyvVF/ 20 Juli 2022 16 Februari 2025 https://vt. com/ZShNG9TJT/ 23 Juni 2023 16 Februari 2025 https://vt. com/ZShNG7Juh/ 21 April 2024 16 Februari 2025 https://vt. com/ZShNtXFLf/ 28 Oktober 2024 16 Februari 2025 https://vt. com/ZShNtb1M3/ 11 November 2024 16 Februari 2025 https://vt. com/ZShNt4JKu/ 23 Oktober 2024 16 Februari 2025 https://vt. com/ZShNtfCfH/ 26 Februari 2025 26 Februari 2025 https://vt. com/ZShNtqT36/ Kode JK1 JK2 JK3 JK4 JK5 JK6 JK7 JK8 JK9 JK10 JK11 Tahapan pertama pengolahan data adalah pemotongan video-video tersebut per kalimat untuk memudahkan analisis, pada tahapan ini pemotongan video dilakukan menggunakan aplikasi Capcut. Setelah pemotongan video, tahapan selanjutnya adalah digitalisasi, yaitu mengubah video-video berformat MP4 menjadi format audio digital sound wave . , tahapan ini dilakukan agar data dapat terbaca dalam aplikasi PRAAT. Setelah tahapan digitalisasi, data-data tersebut kemudian di transkripsi dan disegmentasikan ke dalam segmen kalimat, kata, dan suku kata menggunakan aplikasi PRAAT. Berikut contoh proses transkripsi dan segmentasi bunyi tuturan. Gambar 1. Transkripsi dan Segmentasi Tuturan dalam PRAAT Melalui tahapan transkripsi dan segmentasi kalimat tuturan dalam data tersebut, ditemukan 34 kalimat tuturan deklaratif, 27 kalimat tuturan interogatif, dan 27 kalimat tuturan Analisis intonasi terhadap 88 kalimat tuturan tersebut dilakukan dengan menggunakan aplikasi PRAAT. Dari keseluruhan kalimat-kalimat dengan modus yang berbeda-beda dalam tuturan tersebut, peneliti memilih satu kalimat untuk masing-masing modus untuk digunakan dalam uji persepsi. Kalimat yang dipilih merupakan kalimat yang memperlihatkan adanya perbedaan, serta memiliki padanannya dalam bahasa Jawa. Kalimatkalimat tersebut, antara lain : Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Shafira Dinda Chairina1*. Novika Stri Wrihatni2 . tak tuku sik ya (Kalimat Tuturan Deklaratif. JK 1, 0. 5 Ae 0. Aoaku beli dulu yaAo . mbok kula tumbaske honda Abeoji, aso mboten? (Kalimat Tuturan Interogatif. JK 5, 0. 5 Ae 0. Aoayah belikan aku honda, boleh gak?Ao . isa ra isa, halusu isa ya! (Kalimat Tuturan Imperatif. JK 5, 0. 37 Ae 0. Aobisa gak bisa, harus bisa ya!Ao Ketiga tuturan yang dipilih digunakan dalam uji persepsi untuk melihat apakah penutur jati bahasa Jawa mengalami ambiguitas dalam memahami jenis kalimat pada tuturan bahasa Jawa berlogat Korea. Uji persepsi dilakukan dengan kuesioner Google Form, melibatkan 30 penutur jati bahasa Jawa berusia 18-55 tahun dengan indra pendengaran yang baik. Responden mendengarkan tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif dalam bahasa Jawa dan Jawa berlogat Korea, yang disematkan dalam bentuk link YouTube. Audio tuturan bahasa Jawa berasal dari penutur jati bahasa Jawa ragam dialek Yogyakarta. Pertanyaan dalam uji persepsi bertujuan untuk mengetahui persepsi penutur terhadap jenis kalimat. Hasil uji persepsi menunjukkan adanya perbedaan intonasi antara bahasa Jawa standar dan bahasa Jawa berlogat Korea. Setelah uji persepsi, dilakukan analisis intonasi dan tahapan stilisasi untuk menghilangkan alir nada yang tidak relevan pada tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif. Berikut merupakan salah satu contoh gambar perbedaan kontur nada dalam bahasa Jawa dan bahasa Jawa berlogat Korea sebelum dan sesudah distilisasi : Gambar 2. Kontur nada tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea tak tuku se yo sebelum distilisasi Gambar 3. Kontur nada tuturan bahasa Jawa berlogat Korea deklaratif tak tuku se yo setelah distilisasi Proses stilisasi dalam penelitian ini menganalisis intonasi dan pola kalimat dalam bahasa Jawa serta bahasa Jawa berlogat Korea menggunakan aplikasi PRAAT versi 6. Fokus analisis adalah pada nada suku kata ultima dan penultima. Pola intonasi bahasa Jawa standar dibandingkan dengan pola intonasi bahasa Jawa berlogat Korea, merujuk pada temuan Horne . Wedhawati et al. , dan Rahyono . sebagai acuan. Penyajian data menggunakan metode informal (M. , 2. , termasuk tabel hasil uji persepsi dari 30 penutur jati bahasa Jawa dan gambar akustik intonasi tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif dalam kedua varian bahasa tersebut. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Intonasi Tuturan Bahasa Jawa Logat Korea HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil uji persepsi terhadap 30 penutur jati bahasa Jawa, ditemukan beberapa penutur yang tidak dapat mengidentifikasi jenis kalimat dalam tuturan bahasa Jawa berlogat Korea, hal tersebut mengindikasikan adanya perbedaan pola intonasi. Pada tuturan deklaratif, sebanyak 26 penutur dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan, sementara itu 1 penutur mempersepsi sebagai interogatif, dan 3 penutur tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan deklaratif. Pada tuturan interogatif, sebanyak 23 penutur dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan, sementara itu terdapat 2 penutur mempersepsi sebagai deklaratif, 2 penutur mempersepsi sebagai imperatif, dan 3 penutur tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan interogatif. Pada tuturan imperatif, sebanyak 22 penutur dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan, sementara itu terdapat 7 penutur mempersepsi sebagai deklaratif, dan 1 penutur tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan imperatif. Berdasarkan hasil uji persepsi tersebut, dilakukan analisis pola intonasi untuk melihat perbedaan pola intonasi antara bahasa Jawa berlogat Korea dengan bahasa Jawa. Analisis dilakukan dengan melihat perubahan nada pada suku kata penultima dan ultima. Hasil analisis pola intonasi menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara pola intonasi tuturan bahasa Jawa dengan bahasa Jawa berlogat Korea, terutama pada tuturan deklaratif dan interogatif. Hasil Uji Persepsi : Penutur dapat dan tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea Berikut merupakan hasil Uji Persepsi Bahasa terhadap tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa dan bahasa Jawa berlogat Korea. Tabel 3. Hasil Jawaban Penutur terhadap Tuturan Deklaratif Tuturan Bahasa Jawa tak tuku sik ya Jenis kalimat apa? Jenis kalimat apa? Deklaratif Interogatif Imperatif Tuturan Bahasa Jawa berlogat Korea tak tuku se yo Deklaratif Interogatif Imperatif Tidak Tahu Tidak Tahu Tabel hasil jawaban 30 responden penutur jati bahasa Jawa terhadap jenis kalimat yang digunakan dalam tuturan deklaratif bahasa Jawa, menunjukkan bahwa seluruh responden dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan deklaratif bahasa Jawa dengan benar. Sebanyak 30 responden mempersepsi kalimat tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa sebagai jenis kalimat Hal ini menunjukkan bahwa ketika tuturan dituturkan dalam logat bahasa Jawa tanpa adanya perubahan intonasi yang signifikan, penutur jati bahasa Jawa dapat mengidentifikasi jenis kalimat yang digunakan dalam tuturan deklaratif bahasa Jawa tersebut. Hal ini sejalan dengan pernyataan Rahyono . , bahwa intonasi yang digunakan dalam suatu bahasa memiliki keteraturan yang dipahami oleh para penutur bahasa. Hasil jawaban 30 responden penutur jati bahasa Jawa terhadap jenis kalimat yang digunakan dalam tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea, menunjukkan bahwa terdapat beberapa responden yang tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan bahasa Jawa Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Shafira Dinda Chairina1*. Novika Stri Wrihatni2 berlogat Korea. Ketika kalimat deklaratif bahasa Jawa dituturkan dengan logat Korea, ditemukan variasi dalam persepsi responden. Dari total 30 responden, sebanyak 26 responden mempersepsi kalimat tuturan deklaratif sebagai jenis kalimat deklaratif, sebanyak 1 responden mempersepsi kalimat tuturan deklaratif sebagai jenis kalimat interogatif, dan sebanyak 3 responden tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea. Hal ini menunjukkan adanya ambiguitas responden saat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea. Hasil tersebut mengindikasikan adanya perubahan pola intonasi pada tuturan deklaratif bahasa Jawa ketika dituturkan dengan logat Korea. Setiap bahasa memiliki pola intonasi untuk menandai jenis modus kalimatnya, sehingga ketika terjadi perubahan intonasi maka makna dalam sebuah tuturan dapat mengalami perubahan (Rahyono, 2. Para responden yang merupakan penutur jati bahasa Jawa, dapat mengalami kebingungan ketika mencoba mengidentifikasi jenis kalimat yang dituturkan dalam bahasa Jawa berlogat Korea akibat perubahan pola intonasi. Makna dari hasil uji persepsi ini menunjukkan bahwa meskipun jenis kalimat yang dituturkan sama, jika unsur suprasegmental khususnya berupa intonasi mengalami perubahan, maka dapat menyebabkan ambiguitas atau tidak dapat dipersepsi oleh para penutur jati bahasa Jawa. Hal ini sejalan dengan pernyataan Yustanto. Djatmika, dan Sugiyono . , bahwa sebuah tuturan yang serupa jika diucapkan dengan pola prosodi yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan makna atau persepsi. Pola Intonasi Naik-Turun-Naik Besar pada Tuturan Deklaratif Bahasa Jawa Berlogat Korea Berikut merupakan pola intonasi tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa dan bahasa Jawa berlogat Korea. Gambar 4. Pola Intonasi Tuturan Deklaratif bahasa Jawa Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Intonasi Tuturan Bahasa Jawa Logat Korea Gambar 5. Pola Intonasi Tuturan Deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea Tabel 4. Pola perubahan nada pada suku kata ultima dan penultima dalam tuturan deklaratif bahasa Jawa dan bahasa Jawa berlogat Korea Tuturan Suku Kata Titik Awal Titik Tengah Titik Akhir Bahasa Jawa 6 Hz 229 Hz 126 Hz Bahasa Jawa berlogat Korea Bahasa Jawa Bahasa Jawa berlogat Korea 155 Hz 161 Hz 5 Hz 126 Hz 170 Hz 147 Hz 5 Hz 96 Hz 6 Hz Pola intonasi tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa tersebut dilihat pada alir nada Dalam kalimat tak tuku sik ya, alir nada akhir terdapat pada suku kata sik dan ya. Pada suku kata sik terdapat kenaikan nada yaitu dari 153. 6 Hz ke 229 Hz, kemudian terjadi penurunan nada dari 229 Hz ke 126 Hz. Pada suku kata ya terdapat kenaikan nada yaitu dari 126 Hz ke 170 Hz, kemudian terjadi penurunan nada dari 170 Hz ke 147 Hz. Berdasarkan perubahan nada yang terjadi pada suku kata ultima dan penultima tersebut, ditemukan pola intonasi tuturan deklaratif bahasa Jawa. Ciri pola intonasi nada akhir dalam tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea pada kedua suku kata tersebut adalah naik-turun-naik-turun. Pola ini menunjukkan bahwa tuturan deklaratif bahasa Jawa cenderung memiliki intonasi akhir yang menurun, hal ini sesuai dengan karakteristik pola intonasi bahasa Jawa menurut Horne . Wedhawati, et al. , dan Rahyono . Sebaliknya, pada tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa berlogat Korea ditemukan pola intonasi yang berbeda. Pola intonasi tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa berlogat Korea tersebut dilihat pada alir nada akhirnya. Dalam kalimat tak tuku se yo, alir nada akhir terdapat pada suku kata se dan yo. Pada suku kata se terdapat kenaikan nada yaitu dari 155 Hz ke 161 Hz, kemudian terjadi penurunan nada dari 161 Hz ke 145. 5 Hz. Pada suku kata yo terdapat penurunan nada yaitu dari 145. 5 Hz ke 96 Hz, kemudian terjadi kenaikan nada yang besar dari 96 Hz ke 525. 6 Hz. Pola ini menunjukkan kontur nada akhir yang naik secara tajam. Berdasarkan perubahan nada yang terjadi pada suku kata ultima dan penultima tersebut, ditemukan pola intonasi tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea. Ciri pola intonasi nada akhir dalam tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea pada kedua suku kata tersebut adalah naik-turun-naik besar. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Shafira Dinda Chairina1*. Novika Stri Wrihatni2 Temuan analisis pola intonasi tersebut menunjukkan bahwa tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa berlogat Korea memiliki pola yang berbeda dengan tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa standar. Dalam bahasa Jawa, pola intonasi akhir naik biasanya merupakan karakteristik yang dapat ditemukan pada tuturan imperatif dan interogatif. Oleh karena itu, pola naik-turun-naik besar yang ditemukan pada tuturan bahasa Jawa berlogat Korea dapat menimbulkan ambiguitas penutur jati bahasa Jawa ketika mempersepsi jenis kalimat. Sebagaimana terbuktikan pada hasil uji persepsi sebelumnya, sebagian responden tidak dapat mempersepsi saat mengidentifikasi jenis kalimat dalam tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea. Disebutkan pada hasil uji persepsi sebelumnya, terdapat responden yang mempersepsi tuturan kalimat deklaratif sebagai tuturan kalimat interogatif, bahkan ditemukan pula responden yang tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan bahasa Jawa berlogat Korea tersebut. Sebaliknya, pada tuturan deklaratif bahasa Jawa, seluruh responden dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan dengan benar. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa perubahan pola intonasi yang terjadi dalam sebuah tuturan dapat mempengaruhi persepsi seorang penutur, terutama dalam hal persepsi jenis kalimat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan pola intonasi tuturan deklaratif antara bahasa Jawa dengan bahasa Jawa berlogat Korea ini menjadi faktor penyebab ambiguitas responden ketika mempersepsi tuturan. Kontras Pola Intonasi Tuturan Deklaratif Nada Turun pada Bahasa Jawa dan Nada Naik pada Bahasa Jawa Berlogat Korea Hasil analisis pola intonasi sebelumnya menunjukkan bahwa pola intonasi tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa dan dalam bahasa Jawa berlogat Korea memiliki perbedaan yang signifikan pada kontur nada akhirnya. Pola intonasi yang ditemukan pada tuturan deklaratif bahasa Jawa yaitu naik-turun. Pola itu sesuai dengan temuan pola intonasi tuturan deklaratif pada penelitian sebelumnya. Ciri pola intonasi tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa menurut Horne . adalah naik-turun, sedangkan Wedhawati, et al. naik-turun, dan Rahyono . naik-turun kecil. Baik Horne. Wedhawati, et al. , maupun Rahyono, ciri pola intonasi tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa yaitu berakhiran turun, sedangkan pada tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea ditemukan pola naik-turun-naik besar. Jika dibandingkan, pola tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea tidak memiliki kesamaan dengan pola tuturan deklaratif bahasa Jawa. Intonasi pada tuturan bahasa Jawa berlogat Korea berakhiran naik, sedangkan pada tuturan bahasa Jawa berakhiran turun. Namun jika dibandingkan dengan pola intonasi modus kalimat bahasa Jawa lainnya, pola intonasi tuturan deklaratif berlogat Korea justru menunjukkan kesamaan dengan pola intonasi tuturan imperatif menurut Horne dan tuturan interogatif menurut Rahyono. Ciri pola intonasi tuturan imperatif Horne . adalah naik-turun sedang-naik, dan ciri pola intonasi tuturan interogatif Rahyono . adalah naik-turun-naik. Temuan kesamaan pola intonasi tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea dengan pola intonasi tuturan interogatif Rahyono . , sejalan dengan ditemukannya seorang responden yang mempersepsi jenis kalimat deklaratif sebagai kalimat interogatif dalam hasil uji persepsi sebelumnya. Pola intonasi tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa berlogat Korea ini merupakan temuan pola tuturan deklaratif variasi baru, karena pola intonasi tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa sebelumnya tidak ditemukan pola naik-turun-naik besar dalam tuturannya. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Intonasi Tuturan Bahasa Jawa Logat Korea Hasil Uji Persepsi : Penutur dapat dan tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan interogatif bahasa Jawa berlogat Korea Berikut merupakan hasil Uji Persepsi Bahasa terhadap tuturan interogatif dalam bahasa Jawa dan bahasa Jawa berlogat Korea. Tabel 5. Hasil Jawaban Penutur terhadap Tuturan Interogatif Tuturan Bahasa Jawa mbok kula tumbaske honda Pak, isa mboten? Deklaratif Interogatif Imperatif Tidak Tahu Deklaratif Interogatif Imperatif Tidak Tahu Jenis kalimat Tuturan Bahasa Jawa berlogat Korea mbok kula tumbaske honda Abeoji, aso mboten? Jenis kalimat Tabel hasil jawaban 30 responden penutur jati bahasa Jawa terhadap jenis kalimat yang digunakan dalam tuturan interogatif bahasa Jawa, menunjukkan bahwa seluruh responden dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan interogatif bahasa Jawa dengan benar. Sebanyak 30 responden mempersepsi kalimat tuturan interogatif dalam bahasa Jawa sebagai jenis kalimat interogatif. Hal itu sama seperti hasil uji persepsi tuturan deklaratif dalam bahasa Jawa sebelumnya, yaitu ketika tuturan dituturkan dalam logat bahasa Jawa tanpa adanya perubahan intonasi yang signifikan, penutur jati bahasa Jawa dapat mengidentifikasi jenis kalimat yang digunakan dalam tuturan deklaratif bahasa Jawa tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rahyono . , bahwa intonasi yang digunakan dalam suatu bahasa memiliki keteraturan yang dipahami oleh para penutur bahasa. Hasil jawaban 30 responden penutur jati bahasa Jawa terhadap jenis kalimat yang digunakan dalam tuturan interogatif bahasa Jawa berlogat Korea, menunjukkan bahwa terdapat beberapa responden yang tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan bahasa Jawa berlogat Korea. Ketika kalimat interogatif bahasa Jawa dituturkan dengan logat Korea, ditemukan variasi dalam persepsi responden. Dari total 30 responden, sebanyak 23 penutur mempersepsi kalimat tuturan interogatif sebagai jenis kalimat interogatif, sebanyak 2 penutur mempersepsi kalimat tuturan interogatif sebagai jenis kalimat deklaratif, sebanyak 2 penutur mempersepsi kalimat tuturan interogatif sebagai jenis kalimat imperatif, dan sebanyak 3 penutur tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan interogatif bahasa Jawa berlogat Korea. Hal ini menunjukkan adanya ambiguitas responden saat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan interogatif bahasa Jawa berlogat Korea. Hasil tersebut mengindikasikan adanya perubahan pola intonasi pada tuturan interogatif bahasa Jawa ketika dituturkan dengan logat Korea. Setiap bahasa memiliki pola intonasi untuk menandai jenis modus kalimatnya, sehingga ketika terjadi perubahan intonasi maka makna dalam sebuah tuturan dapat mengalami perubahan (Rahyono, 2. Para responden yang merupakan penutur jati bahasa Jawa, dapat mengalami kebingungan ketika mencoba mengidentifikasi jenis kalimat yang dituturkan dalam bahasa Jawa berlogat Korea akibat perubahan pola intonasi. Makna dari hasil uji persepsi ini menunjukkan bahwa meskipun jenis kalimat yang dituturkan sama, jika unsur suprasegmental khususnya berupa intonasi Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Shafira Dinda Chairina1*. Novika Stri Wrihatni2 mengalami perubahan, maka dapat menyebabkan ambiguitas atau tidak dapat dipersepsi oleh para penutur jati bahasa Jawa. Hal itu sejalan pula dengan pernyataan Yustanto. Djatmika, dan Sugiyono . , yaitu sebuah tuturan yang serupa jika diucapkan dengan pola prosodi yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan makna atau persepsi. Pola Intonasi Turun-Naik pada Tuturan Interogatif Bahasa Jawa Berlogat Korea Berikut merupakan pola intonasi tuturan interogatif dalam bahasa Jawa dan bahasa Jawa berlogat Korea. Gambar 6. Pola Intonasi Tuturan Interogatif bahasa Jawa Gambar 7. Pola Intonasi Tuturan Interogatif bahasa Jawa berlogat Korea Tabel 6. Pola perubahan nada pada suku kata ultima dan penultima dalam tuturan interogatif bahasa Jawa dan bahasa Jawa berlogat Korea Tuturan Suku Kata Titik Awal Titik Tengah Titik Akhir Bahasa Jawa 170 Hz 6 Hz 135 Hz Bahasa Jawa berlogat Korea Bahasa Jawa 2 Hz 138 Hz 3 Hz 135 Hz 115 Hz 96 Hz Bahasa Jawa berlogat Korea 3 Hz 173 Hz 7 Hz Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Intonasi Tuturan Bahasa Jawa Logat Korea Pola intonasi tuturan interogatif dalam bahasa Jawa tersebut dilihat pada alir nada Dalam kalimat mbok kula tumbaske honda Pak, isa mboten?, alir nada akhir terdapat pada suku kata mbo dan ten. Pada suku kata mbo terdapat penurunan nada, yaitu dari 170 Hz ke 135 Hz. Pada suku kata ten terdapat penurunan nada, yaitu dari 135 Hz ke 96 Hz. Berdasarkan perubahan nada yang terjadi pada suku kata ultima dan penultima tersebut, ditemukan pola intonasi tuturan interogatif bahasa Jawa. Ciri pola intonasi nada akhir dalam tuturan interogatif bahasa Jawa pada kedua suku kata tersebut adalah turun-turun. Pola ini menunjukkan bahwa tuturan interogatif bahasa Jawa cenderung memiliki intonasi akhir yang menurun, hal ini sesuai dengan karakteristik pola intonasi bahasa Jawa menurut Horne . dan Wedhawati, et al. Pada tuturan interogatif dalam bahasa Jawa berlogat Korea, ditemukan pola intonasi yang berbeda dibandingkan dengan tuturan imperatif. Pola intonasi tuturan interogatif ini dapat dilihat pada alir nada akhirnya. Dalam kalimat mbok kula tumbaske honda Abeoji, aso mboten?, alir nada akhir terdapat pada suku kata mbo dan ten. Pada suku kata mbo, terjadi penurunan nada dari 146. 2 Hz ke 131. 3 Hz, sedangkan pada suku kata ten terjadi kenaikan nada dari 131. 3 Hz ke 211. 7 Hz. Pola kontur nada akhir pada tuturan interogatif ini tidak naik tajam seperti pada tuturan deklaratif sebelumnya. Berdasarkan perubahan nada yang terjadi pada suku kata ultima dan penultima, ditemukan pola intonasi tuturan interogatif bahasa Jawa berlogat Korea, yaitu ciri pola intonasi nada akhir turun-naik. Temuan analisis pola intonasi tersebut menunjukkan bahwa tuturan interogatif dalam bahasa Jawa berlogat Korea memiliki pola yang berbeda dengan tuturan interogatif dalam bahasa Jawa standar. Dalam bahasa Jawa, pola intonasi akhir naik biasanya merupakan karakteristik yang dapat ditemukan pada tuturan imperatif dan interogatif. Karakteristik akhiran naik pada tuturan interogatif ditemukan pada temuan Wedhawati, et al. dan Rahyono . Meskipun demikian, pola intonasi turun-naik dalam tuturan interogatif bahasa Jawa berlogat Korea tetap tidak memiliki kesamaan dengan Wedhawati, et al. dan Rahyono . Oleh karena itu, pola turun-naik yang ditemukan pada tuturan interogatif bahasa Jawa berlogat Korea dapat menimbulkan ambiguitas penutur jati bahasa Jawa ketika mempersepsi jenis kalimat. Sebagaimana terbuktikan pada hasil uji persepsi sebelumnya, sebagian responden mengalami kebingungan saat mengidentifikasi jenis kalimat dalam tuturan interogatif bahasa Jawa berlogat Korea. Disebutkan pada hasil uji persepsi sebelumnya, terdapat responden yang mempersepsi tuturan kalimat interogatif sebagai tuturan kalimat deklaratif, kemudian terdapat juga responden yang mempersepsi tuturan kalimat interogatif sebagai tuturan kalimat imperatif, bahkan ditemukan pula responden yang tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan bahasa Jawa berlogat Korea tersebut. Sebaliknya, pada tuturan interogatif bahasa Jawa, seluruh responden dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan dengan benar. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa perubahan pola intonasi yang terjadi dalam sebuah tuturan dapat mempengaruhi persepsi seorang penutur, terutama dalam hal persepsi jenis kalimat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan pola intonasi tuturan interogatif antara bahasa Jawa dengan bahasa Jawa berlogat Korea ini menjadi faktor penyebab ambiguitas responden ketika mempersepsi tuturan. Sejalan dengan pernyataan Rahyono mengenai intonasi, yaitu perubahan intonasi dalam sebuah tuturan dapat menyebabkan perubahan makna, variasi nada intonasi dalam sebuah tuturan dapat Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Shafira Dinda Chairina1*. Novika Stri Wrihatni2 menimbulkan ketaksaan jika tidak sesuai dengan keteraturan nada yang telah dihayati oleh para penuturnya (Rahyono, 2. Kontras Pola Intonasi Tuturan Interogatif Nada Turun pada Bahasa Jawa dan Nada Naik pada Bahasa Jawa Berlogat Korea Hasil analisis pola intonasi sebelumnya menunjukkan bahwa pola intonasi tuturan interogatif dalam bahasa Jawa dan dalam bahasa Jawa berlogat Korea memiliki perbedaan yang signifikan pada kontur nada akhirnya. Pola intonasi yang ditemukan pada tuturan interogatif bahasa Jawa yaitu turun-turun. Pola ini sesuai dengan temuan pola intonasi tuturan deklaratif pada penelitian sebelumnya. Ciri pola intonasi tuturan interogatif dalam bahasa Jawa standar menurut Horne . naik-turun sedang, dan menurut Rahyono . naik-turun-naik. lain pihak. Wedhawati, et al. mengemukakan tuturan interogatif dapat memiliki pola naik-turun sedang, naik-turun, atau naik-naik. Terjadinya perdebatan mengenai ciri pola Intonasi tuturan interogatif antara Horne. Wedhawati, et al. , dan Rahyono disebabkan oleh penggunaan data yang berbeda. Dalam penelitiannya. Rahyono . menggunakan tuturan bahasa Jawa dengan ragam krama, sedangkan Horne . dan Wedhawati, et al. menggunakan tuturan bahasa Jawa dengan ragam ngoko. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, pola intonasi tuturan interogatif bahasa Jawa memiliki ciri akhir yang sama dengan temuan Horne . dan Wedhawati, et al. , yaitu sama-sama berakhiran turun. Sementara itu, pada tuturan interogatif bahasa Jawa berlogat Korea ditemukan pola turun-naik. Jika dibandingkan, pola tuturan interogatif bahasa Jawa berlogat Korea tidak memiliki kesamaan dengan pola tuturan interogatif bahasa Jawa. Intonasi pada tuturan interogatif bahasa Jawa berlogat Korea berakhiran naik, sedangkan pada tuturan bahasa Jawa berakhiran turun. Jika dibandingkan dengan pola intonasi modus kalimat lainnya dalam bahasa Jawa, pola turun-naik dalam tuturan interogatif bahasa Jawa berlogat Korea ini juga tidak memiliki kesamaan dengan pola intonasi pada modus tuturan lainnya dalam bahasa Jawa, berbeda dengan pola intonasi tuturan deklaratif sebelumnya yang memiliki kesamaan dengan pola intonasi tuturan imperatif dan interogatif. Ciri pola intonasi tuturan interogatif bahasa Jawa berlogat Korea tersebut menjadi temuan dalam penelitian ini dan menjadi pola tuturan interogatif variasi baru, karena pola intonasi tuturan interogatif dalam bahasa Jawa sebelumnya tidak menemukan pola turun-naik dalam tuturannya. Hasil Uji Persepsi : Penutur dapat dan tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan imperatif bahasa Jawa berlogat Korea Berikut merupakan hasil Uji Persepsi Bahasa terhadap tuturan imperatif dalam bahasa Jawa dan bahasa Jawa berlogat Korea. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Intonasi Tuturan Bahasa Jawa Logat Korea Tabel 7. Tuturan Imperatif Bahasa Jawa isa ra isa, kudu isa ya! Tuturan Imperatif Bahasa Jawa isa ra isa, kudu isa ya! Jenis kalimat Deklaratif Interogatif Imperatif Tidak Tahu Tuturan Bahasa Jawa berlogat Korea isa ra isa, halusu isa ya! Jenis kalimat Deklaratif Interogatif Imperatif Tidak Tahu Tabel hasil jawaban 30 responden penutur jati bahasa Jawa terhadap jenis kalimat yang digunakan dalam tuturan imperatif bahasa Jawa, menunjukkan bahwa terdapat beberapa responden penutur Jawa yang salah mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan imperatif bahasa Jawa. Sebanyak 24 responden mempersepsi kalimat tuturan imperatif bahasa Jawa sebagai kalimat imperatif, dan sebanyak 6 responden mempersepsi kalimat tuturan imperatif sebagai kalimat deklaratif. Meskipun sebagian besar responden mampu mempersepsi jenis kalimat dengan benar, masih terjadi ambiguitas dalam persepsi beberapa penutur terhadap tuturan imperatif bahasa Jawa berlogat Korea. Ambiguitas penutur saat mempersepsi tuturan imperatif dalam bahasa Jawa ini sesuai dengan pernyataan Rahyono. Rahyono . dalam penelitiannya menyatakan bahwa tuturan imperatif dan deklaratif dapat dipertukarkan karena cenderung memiliki nada akhir yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sebuah tuturan dituturkan dalam logat bahasa Jawa, ambiguitas penutur saat mempersepsi jenis kalimat tetap dapat terjadi, dalam hal ini dapat disebabkan oleh kemiripan karakteristik pola intonasi antara tuturan deklaratif dengan tuturan imperatif dalam bahasa Jawa. Sementara itu, hasil jawaban 30 responden penutur jati bahasa Jawa terhadap jenis kalimat yang digunakan dalam tuturan imperatif bahasa Jawa berlogat Korea, juga menunjukkan bahwa terdapat beberapa responden yang salah mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan imperatif bahasa Jawa berlogat Korea. Sebanyak 22 penutur mempersepsi kalimat tuturan imperatif sebagai jenis kalimat imperatif, sebanyak 7 penutur mempersepsi kalimat tuturan imperatif sebagai jenis kalimat deklaratif, dan sebanyak 1 penutur tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan imperatif bahasa Jawa berlogat Korea. Jumlah penutur Jawa yang tidak dapat mempersepsi tuturan imperatif bahasa Jawa berlogat Korea ini lebih banyak dibandingkan dengan tuturan imperatif bahasa Jawa standar. Hasil persepsi penutur terhadap tuturan imperatif baik dalam bahasa Jawa maupun bahasa Jawa berlogat Korea sama-sama terdapat penutur Jawa yang tidak dapat mempersepsi jenis kalimat dalam tuturan. Ambiguitas responden terhadap tuturan imperatif dalam bahasa Jawa mengindikasikan kemungkinan adanya kemiripan pola intonasi antara tuturan imperatif dengan tuturan deklaratif. Sementara itu, ambiguitas responden ketika mempersepsi tuturan imperatif bahasa Jawa berlogat Korea dapat mengindikasikan adanya perubahan pola intonasi pada tuturan imperatif bahasa Jawa ketika dituturkan dengan logat Korea. Setiap bahasa memiliki pola intonasi untuk menandai jenis modus kalimatnya, sehingga ketika terjadi perubahan intonasi maka makna dalam sebuah tuturan dapat mengalami perubahan Rahyono . Para responden yang merupakan penutur jati bahasa Jawa, dapat mengalami kebingungan ketika mencoba mengidentifikasi jenis kalimat yang dituturkan dalam bahasa Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Shafira Dinda Chairina1*. Novika Stri Wrihatni2 Jawa berlogat Korea akibat perubahan pola intonasi. Makna dari hasil uji persepsi ini adalah intonasi memiliki peran penting dalam memaknai sebuah tuturan, tuturan yang sama jika unsur suprasegmental khususnya berupa intonasi mengalami perubahan, maka dapat menyebabkan ambiguitas atau tidak dapat dipersepsi oleh para penutur jati bahasa Jawa. Hal ini sejalan dengan pernyataan Yustanto. Djatmika, dan Sugiyono . , yaitu sebuah tuturan yang serupa jika diucapkan dengan pola prosodi yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan makna atau Pola Intonasi Naik-Turun-Naik Besar pada Tuturan Imperatif Bahasa Jawa Berlogat Korea Berikut merupakan pola intonasi tuturan imperatif dalam bahasa Jawa dan bahasa Jawa berlogat Korea. Gambar 8. Pola Intonasi Tuturan Imperatif bahasa Jawa isa ra isa, kudu isa ya! Gambar 9. Pola Intonasi Tuturan Imperatif bahasa Jawa berlogat Korea iso ra isa, kudu iso yo Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Intonasi Tuturan Bahasa Jawa Logat Korea Tabel 8. Pola perubahan nada pada suku kata ultima dan penultima dalam tuturan imperatif bahasa Jawa dan bahasa Jawa berlogat Korea Tuturan Suku Kata Titik Awal Titik Tengah Titik Akhir Bahasa Jawa 5 Hz 4 Hz 6 Hz Bahasa Jawa 5 Hz 208 Hz 5 Hz berlogat Korea Bahasa Jawa 6 Hz 5 Hz 169 Hz Bahasa Jawa 5 Hz 2 Hz 6 Hz berlogat Korea Pola intonasi tuturan imperatif dalam bahasa Jawa tersebut dilihat pada alir nada Dalam kalimat isa ra isa, kudu isa ya!, alir nada akhir terdapat pada suku kata sa dan Pada suku kata sa terdapat kenaikan nada yaitu dari 130. 5 Hz ke 195. 6 Hz. Pada suku kata ya terdapat penurunan nada yaitu dari 195. 6 Hz ke 125. 5 Hz, kemudian terjadi kenaikan nada 5 Hz ke 169 Hz. Berdasarkan perubahan nada yang terjadi pada suku kata ultima dan penultima tersebut, ditemukan pola intonasi tuturan imperatif bahasa Jawa. Ciri pola intonasi nada akhir dalam tuturan imperatif bahasa Jawa pada kedua suku kata tersebut adalah naikturun-naik. Pola itu menunjukkan bahwa tuturan imperatif bahasa Jawa cenderung memiliki akhiran nada naik, hal ini sesuai dengan karakteristik pola intonasi tuturan imperatif bahasa Jawa menurut Horne . dan Wedhawati, et al. Pada tuturan imperatif dalam bahasa Jawa berlogat Korea, ditemukan kemiripan pola intonasi, terutama pada alir nada akhirnya. Dalam kalimat iso ra isa, halusu iso yo!, alir nada akhir terlihat pada suku kata so dan yo. Pada suku kata so, terdapat kenaikan nada dari 185. Hz ke 208 Hz, diikuti penurunan dari 208 Hz ke 192. 5 Hz. Pada suku kata yo, terjadi penurunan nada dari 192. 5 Hz ke 150. 2 Hz, kemudian kenaikan besar dari 150. 2 Hz ke 323. 6 Hz. Pola ini menunjukkan kontur nada akhir yang naik tajam, menghasilkan pola intonasi naik-turun-naik Dalam bahasa Jawa, pola intonasi akhir naik biasanya ditemukan pada tuturan imperatif dan interogatif. Temuan ini menunjukkan bahwa tuturan imperatif dalam bahasa Jawa berlogat Korea memiliki kemiripan dengan pola intonasi tuturan imperatif bahasa Jawa. Namun, ada perbedaan signifikan dalam besaran kenaikan nada akhir. Pada tuturan imperatif bahasa Jawa, kenaikan akhir adalah 43. 5 Hz, sementara pada bahasa Jawa berlogat Korea, kenaikan akhir jauh lebih tajam, yaitu 173. 4 Hz. Perbedaan besar ini menyebabkan tuturan imperatif bahasa Jawa berlogat Korea terdengar asing bagi penutur Jawa dan dapat menimbulkan ambiguitas dalam identifikasi jenis kalimat. Hasil uji persepsi sebelumnya menunjukkan sebagian responden kebingungan dalam mengidentifikasi jenis kalimat pada tuturan imperatif bahasa Jawa berlogat Korea. Beberapa responden mempersepsi tuturan tersebut sebagai kalimat deklaratif, dan ada yang tidak dapat menentukan jenis kalimatnya. Ini mengindikasikan bahwa perubahan pola intonasi dalam tuturan dapat mempengaruhi persepsi penutur, khususnya dalam hal pengidentifikasian jenis Oleh karena itu, perbedaan pola intonasi antara bahasa Jawa dan bahasa Jawa berlogat Korea dapat menjadi faktor penyebab ambiguitas dalam persepsi tuturan. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Shafira Dinda Chairina1*. Novika Stri Wrihatni2 Kontras Kenaikan Nada Akhir pada Tuturan Imperatif Bahasa Jawa dan Bahasa Jawa Berlogat Korea Hasil analisis pola intonasi menunjukkan bahwa pola intonasi tuturan imperatif dalam bahasa Jawa dan bahasa Jawa berlogat Korea memiliki kesamaan, meskipun ada perbedaan dalam besar kenaikan nada akhirnya. Pola intonasi tuturan imperatif dalam bahasa Jawa adalah naik-turun-naik, sedangkan dalam bahasa Jawa berlogat Korea adalah naik-turun-naik besar. Pola intonasi ini serupa dengan temuan Horne . , yang menyatakan pola intonasi tuturan imperatif bahasa Jawa adalah naik-turun sedang-naik, sementara Wedhawati et al. menemukan pola naik-naik, dan Rahyono . mendapati pola naik-turun besar. Perbedaan ini disebabkan oleh variasi ragam yang digunakan dalam tuturan bahasa Jawa. Tidak ada kesamaan antara pola intonasi tuturan imperatif bahasa Jawa berlogat Korea dengan temuan Wedhawati et al. dan Rahyono . , tetapi ada kesamaan dengan temuan Horne . Pola intonasi tuturan imperatif bahasa Jawa berlogat Korea juga memiliki kesamaan dengan pola intonasi tuturan interogatif milik Rahyono . , yaitu naikturun-naik. Rahyono . menyebutkan bahwa pola intonasi deklaratif dan imperatif dapat dipertukarkan karena memiliki gerakan nada akhir yang serupa, yaitu naik-turun kecil pada deklaratif dan naik-turun besar pada imperatif. Hal yang serupa terjadi pada tuturan bahasa Jawa berlogat Korea, di mana pola intonasi tuturan deklaratif dan imperatif keduanya adalah naik-turun-naik besar. Meskipun demikian, terdapat perbedaan dengan pola intonasi tuturan imperatif bahasa Jawa menurut Rahyono . , yang cenderung turun, sedangkan pada bahasa Jawa berlogat Korea cenderung naik. Temuan ini juga konsisten dengan hasil uji persepsi, di mana tujuh responden mempersepsikan kalimat imperatif dalam bahasa Jawa berlogat Korea sebagai kalimat deklaratif. KESIMPULAN Penelitian ini mendeskripsikan perbedaan pola intonasi tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif pada bahasa Jawa berlogat Korea dan bahasa Jawa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pola intonasi dalam bahasa Jawa berlogat Korea memiliki ciri pola intonasi berakhiran naik, baik pada kalimat deklaratif, interogatif, maupun imperatif. Perbedaan signifikan ditemukan pada tuturan deklaratif dan interogatif, dengan pola intonasi naik-turun-naik pada tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea, dan pola naikturun pada bahasa Jawa. Pada tuturan interogatif, pola turun-naik ditemukan pada bahasa Jawa berlogat Korea, sedangkan bahasa Jawa memiliki pola turun-turun. Pola intonasi pada tuturan imperatif tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Penelitian ini memperluas kajian intonasi bahasa Jawa dengan fenomena baru, yaitu pengaruh logat asing, khususnya logat Korea, dalam penggunaan bahasa Jawa di media sosial, serta memberikan kontribusi penting dalam pengembangan kajian intonasi bahasa Jawa. REFERENSI