Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 KANDUNGAN FRAKSI SERAT PELEPAH KELAPA SAWIT HASIL DEGRADASI BAHAN ADITIF EKSTRAK CAIRAN ASAM LAKTAT PRODUK FERMENTASI ANAEROB BATANG PISANG 1 Andre Prasetyo1, Jiyanto2 dan Pajri Anwar2 Mahasiswa Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian UNIKS 2 Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian UNIKS ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan ADF, NDF, Selulosa, Hemiselulosa, dan Lignin pelepah sawit pada Berbagai Taraf Penambahan Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Pisang. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan dimulai bulan juni sampai dengan juli 2019, penelitian dilakukan di Kampus Universitas Andalas Padang Falkutas Pertanian dan Perternakan Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan dan Farm Fakultas Pertanian Program Studi Peternakan Universitas Islam Kuantan singingi. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan menghitung rata-rata dan standar meliputi data, analisis. Perlakuan yang diberikan Faktor A Subtrat dengan ECAL Kombinasi Molases. A1. Pelepah sawit + (0 % ECAL + 100 % molase) A2. Pelepah sawit + (50% ECAL + 50 % molase) A3. Pelepah sawit + (100% ECAL + 0 % molase) Faktor B. 28 hari Penyimpanan, Parameter yang diamati adalah NDF,ADF, Hemiselulosa, Lignin dan Selulosa. Hasil penelitian menunjukan penambahan Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Pisang dengan daun sawit dengan lama fermentasi 28 hari menghasilkan penurunan kandungan NDF sebesar 72,38%, ADF sebesar 49,42%, hemiselulosa sebesar 3,04%, lignin sebesar 29,44%, dan selulosa sebesar 13,28%. Kata Kunci : Fraksi Serat, Degradasi Bahan Aditif, Fermentasi Anaerob CONTENT OF PALM OIL MIDDLE FIBER FRACTION RESULTS OF DEGRADATION OF ADDITIONAL MATERIALS OF LIQUID EXTRACT LACTIC ACID ANAEROBIC FERMENTATION PRODUCT OF BANANA STE ABSTRACT This study aims to determine the content of ADF, NDF, Cellulose, Hemicellulose, and Lignin of palm fronds at various stages of adding additives to Lactic Acid Liquid Extract of Banana Stem Anaerobic Fermentation Products. This research was conducted for 2 months starting from June to July 2019, the research was conducted at the Andalas University Campus, Padang Falkutas Agriculture and Livestock, Laboratory of Feed and Farm Nutrition and Technology, Faculty of Agriculture, Animal Husbandry Study Program, Kuantan Singi Islamic University. This research was conducted descriptively by calculating the mean and standard including data and analysis. Treatment given Factor A Substrate with ECAL Combination of Molasses. A1. Palm frond + (0% ECAL + 100% molasses) A2. Palm frond + (50% ECAL + 50% molasses) A3. Palm frond + (100% ECAL + 0% molasses) B. Factor 28 days of storage, the parameters observed were NDF, ADF, Hemicellulose, Lignin and Cellulose. The results showed that the addition of Lactic Acid Liquid Extract Additives Products of Anaerobic Fermentation of Banana Stems with palm leaves with a fermentation time of 28 days resulted in a decrease in NDF content of 72.38%, ADF of 49.42%, hemicellulose of 3.04%, lignin of 29 , 44%, and cellulose 13.28%. Keywords: Fiber Fraction, Additive Degradation, Anaerobic Fermentation PENDAHULUAN Salah satu bahan pakan alternatif non konvensional yang potensial dimanfaatkan sebagai pakan berasal dari limbah perkebunan kelapa sawit. Pakan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan ternak baik untuk hiduppokok, pertumbuhan, reproduksi dan produksi. Tiga faktor penting dalam kaitan penyediaan hijauan bagi ternak ruminansia adalah ketersediaan pakan harus dalam jumlah yang cukup, mengandung nutrisi yang 543 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 baik dan berkesinambungan sepanjang tahun. Ketersediaan hijauan umumnya berfluktuasi mengikuti polamusim, dimana produksi hijauan melimpah dimusim hujan dan sebaliknya terbatas pada musim kemarau (Lado, 2007). Dengan demikian, perlu dicarikan alternatif agar ketersediaan pakan hijauan dapat tetap dipertahankan.Salah satu alternatif penyediaan pakan hijauan ternak ruminansia adalahdengan memanfaatkanProduk Samping Tanaman Kelapa Sawit. Pemanfaatan Produk Samping anaman Kelapa Sawitsebagai pakan untuk ternakruminansiatelah dikenal luas,karenakemampuan ternak ruminansia mengkonversi bahanpakan yang mengandung serat kasar menjadi produk-produk yang bermanfaat untuk pertumbuhan dan reproduksi ternak ruminansia. Salah satu Produk Samping Tanaman Kelapa Sawit yang cukup potensial untuk dijadikan pakanuntuk ternak ruminansia adalah pelepah kelapa sawit (Simanihuruk et al., 2007). Pelepah sawit merupakan salah satu limbah perkebunan kelapa sawit sangat potensial dimanfaatkan sebagai pakan alternatif pengganti rumput. Limbah yang dihasilkan dari perkebunan sawit produksinya melimpah, tidak bersaing denga kebutuhan manusia, serta pemanfaatannya yang belum optimal.(Azmi dan Gunawan, 2005). Setiap batang kelapa sawit dapat dipanen 22 buah pelepah/tahun. Pelepahkelapa sawit yang dihasilkan setiap kali panen sebanyak1-3 pelepah perpohon, merupakan potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia, pelepah kelapa sawit yang telah berproduksidapat mencapai 40–50 pelepah/pohon/tahun dengan bobot pelepah sebesar4,5 kg berat kering per pelepah. Satu hektar kelapa sawit diperkirakan dapatmenghasilkan pelepah kelapa sawit 6400– 7500 pelepah per tahun (Hanafi, 2004). Hasil penelitian terdahulu melaporkan bahwa pelepah sawit dapat menggantikan hijauan maksimum 43% dari kemampuan konsumsi bahan kering pada ternak sapi, namun penggunaannya dalam ransum komplit disarankan pada kisaran 30%–35% dari total ransum yang dikonsumsi (Wan Zahari et al., 2003). Hasil analisa laboratorium menunjukkan kandungan gizi pelepah sawit adalah BK 46,2 %., BO 87,95%., PK 5,75%., NDF 73,25%., ADF 54,62%., hemiselulosa 18,63%., selulosa 25,75%., lignin 28,87%., kecernaan BK 35,37% dan kecernaan BO 36,54% (Labor Nutrisi Ruminansia Fakultas Peternakan Universitas Jambi, 2014). Pemanfaatan pelepah sawit sebagai pakan sangat terbatas karena tingginya kandungan lignin yang menyebabkan kecernaan pelepah sawit menjadi rendah. Kandungan protein kasar daun sawit 5,75% lebih rendah dibandingkandengan protein kasar rumput 10,07 –13,87% ( Sirait, et al., 2005). Untuk meningkatkan penggunaan pelepah sawit dalam ransum diperlukan usaha untuk menurunkan kandungan NDF, SDF, selulosa, lignin dan hemiselulosa salah satunya melalui teknik fermentasi menggunakan mikroorganisme yang memiliki kemampuan mendegradasi lignin. Ligninase adalah enzim pendegradasi lignin yang dihasilkan mikroorganisme yang bersifat lignophilik. Salah satu cara pengolahan untuk meningkatkan kualitas bahan pakan yaitu dengan cara fermentasi yang menggunakan Ekstrak Cairan Asam Laktat Batang Pisang. Fermentas ini bertujuan untuk meningkatkan nutrisi pelepah kelapa sawit sehingga dapat dijadikan bahan pakan alternatif melalui pemakaian Ekstrak Cairan Asam Laktat Batang Pisang spsebagai fermentor pada pelepah kelapa sawit. Diharapkan perlakuan tersebut mampu meningkatkan kandungan protein kasar dan menurunkan kandungan serat kasar melalui pendegradasian ikatan lignin. Proses fermentasi aktivitas mikroorganisme dapat digunakan untuk menguraikan ikatan kompleks lignoselulosa dan lignohemiselulosa dari pelepah kelapa sawit. Selanjutnya pelepah kelapa sawit dapat dipakai sebagai bahan pakan alternatif pengganti hijauan untuk ternakruminansia (Azmi dan Gunawan, 2005). Batang pisang sebagai salah satu limbah pertanian memiliki potensi untuk dijadikan pakan ternak, akan tetapi memiliki faktor pembatas yaitu daya simpan yang rendah karena memiliki kadar air yang tinggi sehingga akan mempercepat proses pembusukan, Tingginya kandungan serat kasar pada batang pisang (27,73%), NDF batang pisang (78,84%) dan bonggol pisang (64,151%), Fraksi serat pada ternak ruminansia merupakan sumber energi yang sangat potensial sepanjang ketersediaannya tidak dihambat oleh faktor lain seperti lignifikasi dan kristalisasi (Retno, 2015). Kusmiati et al. (2007) menambahkan molases mengandung nutrisi cukup tingg 544 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 untuk kebutuhan bakteri, sehingga dapat dijadikan bahan alternatif sebagai sumber karbon dalam media fermentasi. sehingga batang dan bonggol pisang susah dicerna oleh ternak, sehingga perlu diupayakan penurunan fraksi serat pada batang dan bonggol pisang terutama kandungan NDF, ADF dan lignin.Penggunaan Ekstrak Cairan Asam Laktat Batang Pisangfermentasi pelepah sawit memberikan keuntungan khususnya dalam mendegradasi ikatan lignoselulosa. Ekstrak Cairan Asam Laktat Batang Pisang dapat mensekresikan enzim yang bertindak langsung dalam mendegradasikan lignin, sehingga kapang ini memiliki kemampuan dalam mendegradasi lignoselulosa secara selektif dibandingkan dengan mikroorganisme yang lain. Perlakuan fermentasi ini dilakukan dengan agar komponen seratberupa selulosa dan hemiselulosa yang terikat pada lignoselulosa tersebut dapat dimanfaatkan sebagai energi yang mudah untuk dicerna (Imsya dan Palupi, 2009).Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Kandungan ADF, NDF, Selulosa, Hemiselulosa Dan Lignin Silase Pelepah Sawit Dengan Penambahan Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Pisang. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Kampus Universitas Andalas Padang Falkutas Pertanian dan Perternakan Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan dan Farm Fakultas Pertanian Program Studi Peternakan Universitas Islam Kuantan singingi. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan dimulai bulan juni sampai dengan juli 2019. selama 28 hari, dengan uji NDF, ADF, Selulosa, Hemiselulosa dan Lignin. Perlakuan : Perlakuan ECAL dengan molases : A1 (0% ECAL + 100% molase) A2 (100% ECAL + 0% molases) A3 (50% ECAL + 50% molase) Objek perlakuan : B 1 = 0% Daun +100% Pelepah B 2 = 50% Daun + 50% Pelepah B 3 = 100 Daun + 0% Pelepah Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Timbangan, Tong Plastik (Silo) Kapasitas 5 Liter, Cawan Conway, wadah sampel, oven listrik, timbangan analitik, eksikator, tang jepit, cawan porselen 30 ml, hot plate, tanur listrik, labu kjeldahl 300 ml, satu set alat estilasi, erlenmeyer 250 cc, buret 50 cc skala 0,1 ml, satu set alat sokhlet, kertas saring bebas lemak, kapas ,biji hekter, gelas piala khusus 600 ml, corong buchner diameter 600ml, corong buchner diameter 4,5cm, pompa vakum, dan kertas saring bebas abu, sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Pelepah dan daun kelapa sawit, batang pisang kepok yang telah dipanen buahnya, molases sebagai bahan ECAL. Asam Sulfat pekat, Asam Chorida, Natrium Hydroxsida 40%, Asam borax,Katalis campuran, Indikator campuran, Kloroform, Aquades panas, dan Aseton, yang digunakan sebagai bahan uji proksimat. Parameter yang Diukur Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah kandungan NDF, ADF, selulosa, hemiselulosa dan lignin Silase Pelepah Sawit Dengan Penambahan Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Pisang. Prosedur Kerja Analisis Kadar ADF, NDF, Lignin, Selulosa dan Hemiselulosa menurut Van Soest, (1976): Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ADF dan NDF (Van Soest, 1976). Penentuan Kadar Acid Detergent Fiber (ADF) Perhitungan: Kadar ADF = c-b/ bs x 100 Penentuan Neutral Detergen Fiber (NDF) Perhitungan: Kadar NDF = c-b/ bs x 100 Penentuan Selulosa dan Lignin Perhitungan: Kadar Lignin = c-b/ bs x 100 % selulosa = % ADF - % Abu yang taklarut - lignin. % hemiselulosa = % NDF - %ADF Perhitungan KCS1 (𝐵.𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑥 𝐵𝐾 𝑥% 𝑆1−(𝐵.𝑅𝑒𝑠𝑒𝑑𝑢 𝑥 𝐵𝐾 𝑥 𝐵𝐾 𝑥 % 𝑆1 𝑥 100% Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode eksperimen, model penelitian ini menggunakan perlakuan kombinasi ECAL dengan molases yang diberikan kepada objek pelepah,daun dan pelepah kombinasi daun dan difermentasi 𝐵.𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑥 𝐵𝐾 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑥 % 𝑆1 545 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Keterangan mengendap dibawahnya. Menyiapkan S1 = Selulosa gelas saring pada tempatnya dan Perhitungan panaskan dengan air mendidih. Bahan KC Hemi larutan kemudian disaring secara pelan(𝐵. 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑥 𝐵𝐾 𝑥% 𝐻𝑒𝑚𝑖 − (𝐵. 𝑅𝑒𝑠𝑒𝑑𝑢 𝑥 𝐵𝐾 𝑥 𝐵𝐾 𝑥 % 𝐻𝑒𝑚𝑖 pelan mulai dari bahan cairan yang 𝑥 100% terlarut cukup dengan vakum yang 𝐵. 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑥 𝐵𝐾 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑥 % 𝐻𝑒𝑚𝑖 rendah dayanya, kemudian bagian Keterangan padatanya bisa dimasukan ke saringan Hemi = hemiselulosa sambil dibilas dengan air mendidih sampai semua sampel habis masuk ke Analisis Van Soest gelas saring. Vakum bisa ditambah Prosedur dari analisis Van Soest dilakukan kekuatanya sesuai dengan kebutuhan; sebagai berikut: e. sampel dicuci sekitar 2 kali dengan air a. menimbang bahan sampel sebanyak 0.5 panas, 2 kali dengan aseton dan – 1g (kering udara dan sudah digiling) kemudian dapat dikeringkan. Krusibel masukan ke dalam gelas beaker 600 ml; dapat dikeringkan minimal selama 8 jam b. menambahkan 100 ml larutan detergen (atau disimpan semalam apabila analsis netral dan 2-3 tetes decalin; dilanjutkan hari berikutnya) pada suhu c. menyimpan ditempat pemanasan 105oC dalam oven yang dilengkapi (hotplate) tunggu antara 5-6 menit dengan sistem kipas.Setelah ditimbang sampai mulai panas kemudian dihitung akan didapatkan berat kering resisu waktu pemanasanya selama 60 menit NDF, kemudian sampel dibakar dalam sambil di reflux dengan aliran air untuk tanur 500 oC cukup selama 3 jam. menghindari sampel yang nempel Pindahkan kedalam oven sampai didinding gelas dan tidak terendam suhunya kembali menjadi 105oC larutan. Apabila mengerjakan lebih dari kemudain ditimbang. Bahan yang satu sampel bisa ditambah 3 menit, tersisa pada crusible adalah abu dari antara satu dengan lainya untuk dinding sel (Tim Pengajar Laboratorium memberikan semua bahan yang Ilmu dan Teknologi Pakan, 2002). Alur dilarutkan dimulai dari panas yang penelitian dari proses pengambilailan cukup; sampel hingga analisis Van Soest yang d. setelah 60 menit dididihkan baker dilakukan di laboratorium dapat dilihat diambil dari pemanas dan dibiarkan seperti gambar di bawah ini. sebentar supaya bahan padatan 546 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Gambar 3. Diagram alur penelitian dari pengambilan sampel hingga proses analisis Van Soest di laboratorium (Tim Pengajar Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, 2002) Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, dengan menghitung rata-rata dan standar deviasi menurut Steel and Torrie (1991), adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Rata-rata hitung: X = rataan data ke n 2. Standar deviasi: Keterangan: Sd = Simpangan baku atau standar deviasi X = data ke n X = x rata-rata sampel n = banyaknya data HASIL DAN PEMBAHASAN Fraksi NDF Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 1 dapat dilih at hasil rataan degradasi Fraksi NDF Pelepah Sawit Hasil Degradasi Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Pisang. Tabel 1. Analisa fraksi NDF pelepah dan daun sawit hasil degradasi bahan aditif ekstrak cairan asam laktat produk fermentasi anaerob batang pisang Perlakuan A1 A2 A3 A4 Rataan B1 78,01 78,55 78,47 73,67 77,17 B2 79,71 77,66 72,60 72,56 75,63 B3 70,84 72,46 73,13 73,11 72,38 Rataan 76,18 76,22 74,73 73,11 Standar Deviasi 18,765 Keterangan : A1 = (0% ECAL + 100% molase) B 1 = 0% Daun +100% Pelepah A2 = (25% ECAL +75 % molase) B 2 = 50% Daun + 50% Pelepah A3 =(50% ECAL + 50% molase) B 3 = 100% Daun + 0% Pelepah A4 =(100% ECAL + 0% molases) Pada tabel 1 rataan analisa fraksi NDF pelepah dan daun sawit kombinasi daun pelepah menggunakan asam laktat selama penelitian diperoleh kandungan NDF tertinggi hingga terendah yaitu pada perlakuan B 1 dengan nilai rataan 77,17% dan perlakuan B 2 dengan nilai rataan 75,63% dan perlakuan B 3 dengan nilai rataan 72,38 %. Dari hasil penelitian terdegradasinya secara sempurna perlakuan B3 dari perlakuan B1 dan B2 disebabkan ikatan lignin dan serat pada daun lebih longgar dibandingkan pada ikatan lignin perlakuan B1 dan B2 lebih keras. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan ECAL dan Molase dapat menurunkan fraksi serat dinding sel daun sawit dibandingkan dengan pelepah sawit. Lebih lanjut dijelaskan oleh Harfiah (2009) bahwa menurunnya kandungan fraksi 547 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 serat pakan disebabkan karena selama berlangsungnya fermentasi terjadi pemutusan ikatan lignoselulosa dan adanya aktivitas mikroba yang berkembang serta dipertahankannya dalam kondisi anaerob. Sedangkan hasil analisis sampel perlakuan pemberian asam laktat dan molases daun kelapa sawit yang tertinggi pada perlakuan A3B3 (50% ECAL + 50% molase) + 100 Daun + 0% Pelepah dengan nilai 73,13 % dan hasil penelitian terendah yakni A1B3 (0% ECAL + 100% molase) + 100 Daun + 0% Pelepah dengan nilai 70,84 %. Lambatnya terdegradasi kandungan NDF pada perlakuan daun kelapa sawit A3B3 dibandingkan perlakuan A1B3 disebabkan tekstur pelepah lebih keras, hal ini akan menyebabkan terdegradasi pelepah sawit, tetapi aktifitas mikroba masih berjalan dengan baik. Di lihat dari penurunan kadar NDF. Hal ini menunjukkan bahwa aktvitas mikroba pengurai serat kasar sudah berlangsung dimana selama berlangsungnya proses fermentasi terjadi perenggangan ikatan lignoselulosa dan ikatan lignohemiselulosa. Kadar ADF menurun disebabkan oleh terlarutnya sebagian protein dinding sel dan hemiselulosa dalam larutan deterjen asam sehingga meningkatkan porsi ADS dan menyebabkan menurunnya kadar ADF. Kandungan NDF silase berbahan dasar pelepah dan daun kelapa sawit hasil penelitian ini masih berada dalam batas yang aman untuk diberikan ke ternak ruminansia. Secara normal persentase NDF yang aman untuk diberikan ke ternak adalah adalah 36,7-66,6% (NRC 2001). Fraksi ADF Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 2 dapat dilihat hasil rataan degradasi Fraksi ADF Pelepah Sawit Hasil Degradasi Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Pisang. Tabel 2. Analisa Fraksi ADF Pelepah Sawit Hasil Degradasi Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Pisang Perlakuan A1 A2 A3 A4 Rataan B1 49,68 47,36 48,49 51,45 49,19 B2 49,13 52,72 48,58 51,05 50,36 B3 46,93 49,52 50,00 51,25 49,42 Rataan 48,58 49,86 49,02 51,25 Standar Deviasi Keterangan : A1 = (0% ECAL + 100% molase) A2 = (25% ECAL +75 % molase) A3 =(50% ECAL + 50% molase) A4 =(100% ECAL + 0% molases) 12,41 B 1 = 0% Daun +100% Pelepah B 2 = 50% Daun + 50% Pelepah B 3 = 100% Daun + 0% Pelepah Acid Detergen Fiber (ADF) merupakan zat makanan yang tidak larut dalam detergent asam yang terdiri dari selulosa, lignin dan silika (Van Soest, 2006). Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 2 analisa fkarsi NDF pelepah dan daun sawit menggunakan asam laktat selama penelitian diperoleh kandungan ADF tertinggi hingga terendah yaitu pada perlakuan B2 = 50% Daun + 50% Pelepah Pelepah dengan nilai rataan 50,36% dan perlakuan B3 = 100 Daun + 0% Pelepah dengan nilai rataan 49,42% dan perlakuan B1 = 0% Daun +100% Pelepah dengan nilai rataan 49,19%. Rendahnya hasil rataan perlakuan B3 pada perlakuan Pelepah karena kandungan dan serat pada Pelepah sudah terdegradasi oleh asam laktat dan lama waktu penelitian. Hal tersebut diduga karena perlakuan dosis Ekstrak Cairan Asam dan lama fermentasi selama proses fermentasi mempengaruhi pertumbuhan miselia kapang sehingga dapat menurunkan kandungan ADF. Miselia kapang akan meningkat seiring dengan bertambahnya dosis Ekstrak Cairan Asam dan lama fermentasi sehingga miselia tersebut dengan cepat dapat dapat menutup substrat dan menghasilkan enzim yang dapat menurunkan kandungan ADF pada substrat tersebut (Musnandar 2006). Berdasakan hasil analisis sampel perlakuan pemberian asam laktat dan molases 548 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 pelepah kelapa sawit diurutkan dari urutan terendah sampai tertinggi A2B1 (25% ECAL +75 % molase) + 0% Daun +100% Pelepah dengan hasil 47,36% dan nilai terendah pada perlakuan A4B1 (100% ECAL + 0% molases) + 0% Daun +100% Pelepah dengan hasil 51,45 %. Tinggi rendahnya nilai kandungan NDF diduga karena bahwa bertambahnya dosis asam laktat dan molases menyebabkan jumlah enzim yang dihasilkan semakin banyak dan pada akhirnya kandungan ADF akan semakin menurun. Faktor lama fermentasi juga mempengaruhi perubahan kandungan ADF secara fluktuatif selama proses fermentasi. Dengan menurunnya kandungan ADF maka kecernaan silase berbahan dasar pelepah kelapa sawit akan meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat Ruddel et al,. (2002) bahwa persentasi ADF yang tinggi akan menurunkan daya cerna bahan pakan. Sedangkan hasil analisis sampel perlakuan pemberian asam laktat dan molases daun kelapa sawit yang terendah pada perlakuan A1B3 (0% ECAL + 100% molase) + 100 Daun + 0% Pelepah dengan nilai 46,93 % dan hasil penelitian tertinggi yakni A4B3 (100% ECAL + 0% molases)+ 100 Daun + 0% Pelepah dengan nilai 51,25 %. Terjadinya peningkatan kandungan NDF pada perlakuan daun kelapa sawit A1B3 dibandingkan perlakuan A4B3. Hal ini disebabkan karena belum optimalnya pertumbuhan mikroorganisme sehingga enzim yang dihasilkan sedikit, enzim yang sedikit ini belum mampu bekerja dengan optimal dalam proses mendegradasi lignin substrat sehingga kandungan lignin dan fraksi serat masih tinggi. Kandungan lignin dan fraksi serat yang masih tinggi ini membuat mikroba rumen sulit untuk mendegradasi pakan sehingga kecernaannya masih rendah. Hal ini menunjukkan ADF merupa-kan bagian dinding sel tanaman yang sulit dicerna karena memiliki ikatan rangkap, ADF terdiri dari selulosa, lignin dan silika, bagian yang mudah dicerna adalah selulosa, sedangkan lignin dan silika sulit dicerna karena memiliki ikatan rangkap, nilai ADF berkore-lasi negatif dengan kecernaan pakan semakin tinggi kandungan ADF dalam pakan akan menurunkan kecernaannya (Shroeder, 2004). Angka kecernaan ADF pada penelitian ini hampir sama dengan yang diperoleh Zain et al. (2007) yang mendapatkan kecernaan ADF sebesar 10,98%–51,09% pada domba defaunasi yang diberikan sabut sawit amoniasi, yang disuplementasi dengan analog hidroksi metionina dan asam amino rantai bercabang. Fraksi Selulosa Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 3 dapat dilihat hasil rataan degradasi Fraksi Ndf Pelepah Sawit Hasil Degradasi Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Pisang. Tabel 3. Analisa Fraksi Selulosa Pelepah Sawit Hasil Degradasi Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Pisang Perlakuan A1 A2 A3 A4 Rataan B1 28,33 31,18 29,79 22,21 27,87 B2 30,58 24,94 24,01 21,5 25,25 B3 23,90 22,93 23,13 21,85 13,28 Rataan 27,60 26,35 25,64 21,85 Standar Deviasi A1 = (0% ECAL + 100% molase) A2 = (25% ECAL +75 % molase) A3 =(50% ECAL + 50% molase) A4 =(100% ECAL + 0% molases) 5,53 B 1 = 0% Daun +100% Pelepah B 2 = 50% Daun + 50% Pelepah B 3 = 100 %Daun + 0% Pelepah Selulosa adalah penyusun dinding sel tanaman yang sulit untuk didegradasi. Selulosa merupakan penyusun utama kayu berupa polimer alami yang panjang dan linier terdiri dari residu β-D-glukosa yang dihubungkan oleh ikatan glikosida pada posisi C1 dan C4 (Martina et al. 2002). Selulosa merupakan biopolymer dari glukosa dengan rantai lurus yang dihubungkan dengan ikatan β-1,4-glukosida (Dashtban et al., 2009). 549 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 3 analisa fkarsi Selulosa pelepah dan daun sawit menggunakan asam laktat selama penelitian diperoleh kandungan Selulosa tertinggi hingga terendah yaitu pada perlakuan B1 = 0% Daun +100% Pelepah dengan nilai rataan 27,87% dan perlakuan B2 = 50% Daun + 50% Pelepah dengan nilai rataan 25,25% dan perlakuan B3 = 100 Daun + 0% Pelepah dengan nilai rataan 13,28%. Rendahnya hasil rataan perlakuan B3 pada perlakuan Pelepah karena kandungan dan serat pada Pelepah sudah terdegradasi oleh asam laktat dan lama waktu penelitian. Hal tersebut diduga karena Hasil ini menunjukkan bahwa penambahan Molase dapat meningkatkan produktivitas mikroorganisme dalam merombak dinding sel bahan pakan. Fadilah et al,. (2008) menyatakan bahwa cairan asam laktat batang pisang selain menghasilkan enzim untuk mendegradasi lignin, cairan asam laktat batang pisang tersebut juga menghasilkan enzim yang dapat menguraikan selulosa seperti enzim protease, kuinon reduktase, dan selulase. Enzim-enzim tersebut dapat mendegradasi sejumlah selulosa tetapi jumlahnya relatif lebih kecil dibanding degradasi lignin. Berdasakan hasil analisis sampel perlakuan pemberian asam laktat dan molases pelepah kelapa sawit diurutkan dari urutan terendah sampai terendah A4B1 (100% ECAL + 0% molases)+ 0% Daun +100% Pelepah dengan hasil 22,21% dan nilai tertinggi pada perlakuan A2B1 (25% ECAL +75 % molase)+ 0% Daun +100% Pelepah dengan hasil 31,18 %. Tinggi rendahnya nilai kandungan selulosa diduga karena cairan asam laktat batang pisang dapat menguraikan selulosa menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga dapat dimanfaatkan oleh ternak sebagai sumber energi. Nurhaita et al,. (2012) menyatakan bahwa semakin tinggi level cairan asam laktat batang pisang yang diberikan, maka jumlah mikroba yang menghasilkan enzim selulase semakin banyak sehingga komponen serat yang dipecah semakin banyak, sehingga produk hasil fermentasi lebih baik kualitasnya. Selama proses fermentasi, selulosa yang diuraikan oleh kapang menjadi senyawa yang lebih sederhana akan dimanfaatkan oleh kapang tersebut sebagai nutrisi untuk pertumbuhannya. cairan asam laktat batang pisang akan memanfaatkan nutrien yang ada termasuk selulosa untuk pertumbuhan (Nelson dan Suparjo 2011). Degradasi selulosa secara enzimatik dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, pH, waktu, dan faktor kimia seperti adanya monosakarida (Martina et al,. 2002). Sedangkan hasil analisis sampel perlakuan pemberian asam laktat dan molases daun kelapa sawit yang terendah pada perlakuan A4B3 (100% ECAL + 0% molases) + 100 Daun + 0% Pelepah dengan nilai 21,85 % dan hasil penelitian tertinggi yakni A1B3 (0% ECAL + 100% molase)+ 100 Daun + 0% Pelepah dengan nilai 23,90 %. Terjadinya peningkatan kandungan selulosa pada perlakuan daun kelapa sawit A4B3 dibandingkan perlakuan A1B3. Hal ini disebabkan karena terjadi perubahan kandungan selulosa daun sawit setelah mengalami proses biodelignifikasi menunjukkan asam laktat dan molases mempunyai aktivitas enzim selulase. Penurunan kandungan selulosa disebabkan karena pada saat proses fermentasi cair, selulosa yang terikat dengan lignin oleh ikatan ligno selulosa ikut larut dalam proses tersebut hal ini lah yang menyebabkan kandungan selulosa juga menurun Peningkatan tersebut menjadi sangat menguntungkan bagi ternak ruminansia karena ternak ruminansia dapat memanfaatkan selulosa sebagai sumber energi, asalkan tidak dalam bentuk kristalisasi selulosa. Landecker, (1990) menyatakan bahwa dalam pendegrasian selulosa akan di ubah menjadi rantai-rantai linear dan unit-unit disakarida selubiosa oleh enzim selulosa, lalu selubiosa dihirolisis menjadi glukosa oleh enzim selulosa. Zeng et al., (2010) menambahkan bahwa hasil perombakan komponen lignoselulosa akan di manfaatkan oleh jamur untuk pertumbuhannya. Fraksi Hemiselulosa Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4 dapat dilihat hasil rataan degradasi Fraksi Hemiselulosa Pelepah Sawit Hasil Degradasi Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Pisang. Tabel 4. Analisa Fraksi Hemiselilosa Pelepah Sawit Hasil Degradasi Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Pisang 550 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Perlakuan A1 A2 A3 A4 Rataan B1 6,68 9,16 6,15 6,12 7,02 B2 6.40 8,56 5,06 7,00 5,15 B3 4,83 14,55 6,87 6,56 3,04 Rataan 1,61 10,75 6,02 6,56 Standar Deviasi A1 = (0% ECAL + 100% molase) A2 = (25% ECAL +75 % molase) A3 =(50% ECAL + 50% molase) A4 =(100% ECAL + 0% molases) 1,26 B 1 = 0% Daun +100% Pelepah B 2 = 50% Daun + 50% Pelepah B 3 = 100 %Daun + 0% Pelepah Hemiselulosa merupakan polisakarida pada dinding sel tanaman yang larut dalam alkali serta menyatu dengan selulosa (Howard et al., 2003). Hemiselulosa merupakan polisakarida yang mempunyai tingkat degradasi yang lebih baik dibandingkan dengan selulosa dan lignin (Suparjo et al., 2009). Hasil analisa laboratorium terhadap kandungan hemiselulsa daun sawit hasil degradasi bahan aditif ekstrak cairan asam laktat produk fermentasi anaerob batang pisang diperoleh kandungan hemiselulosa terendah hingga tertinggi yaitu pada perlakuan B1 = 0% Daun +100% pelepah dengan nilai rataan 7,02% dan perlakuan B2 = 50% Daun + 50% pelepah dengan nilai rataan 5,15% dan perlakuan B3 = 100 Daun + 0% pelepah dengan nilai rataan 3,04%. Rendahnya hasil rataan perlakuan B3 pada perlakuan pelepah karena kandungan dan serat pada pelepah sudah terdegradasi oleh asam laktat dan lama waktu penelitian. Hal ini di karenakan perlakuan yang difermentasi Penambahan ECAL dan molase, tinggi kemampuannya dalam mendegradasi kandungan lignin sehingga kandungan hemiselulosa tidak terdegradasi. Lebih lanjut dijelaskan Landecker 2000 bahwa dalam mendegradasi hemiselulosa, ikatan hemiselulosa diserang pertama kali oleh endoenzim-endoenzim (mannase dan xilanase) yang menghasilkan secara intensif ikatan-ikatan pendek yang dhidrolisis menjadi gula sederhana oleh glukosidae (mannosidae, xilosidae dan glukosidae) seperti dengan selulosa, gula-gula sederhana membatasi produksi sebagian besar enzim-enzim pendegrdasi hemiselulosa oleh jamur pelapuk. Selulosa diduga menjadi sumber karbon penting untuk mendorong terbentuknya enzim-enzim pendegradasi hemiselulosa oleh kapang. Berdasakan hasil analisis sampel perlakuan pemberian asam laktat dan molases pelepah kelapa sawit diurutkan dari urutan terendah sampai terendah A4B1 (100% ECAL + 0% molases)+ 0% Daun +100% Pelepah dengan hasil 6,12% dan nilai tertinggi pada perlakuan A2B1 (25% ECAL +75 % molase)+ 0% Daun +100% Pelepah dengan hasil 9,16 %. Kandungan hemiselulosa yang meningkat diperkirakan karena memperoleh tambahan serat kasar yang berasal dari pelepah kelapa sawit. Pengolahan secara fermentasi dengan menggunakan bahan aditif ekstrak cairan asam laktat produk fermentasi anaerob batang pisang terhadap bahan pakan yang mengandung pati dan serat tinggi mempunyai kelemahan di mana hifa dari batang pisang tersebut merupakan serat kasar sehingga kandungan serat kasar substrat tetap tinggi (Wizna et al., 2005). Selain itu, peningkatan kandungan hemiselulosa dapat terjadi karena adanya peningkatan kandungan hemiselulosa yang diikuti dengan penurunan kandungan selulosa dan lignin dalam fraksi serat. bahan aditif ekstrak cairan asam laktat produk fermentasi anaerob batang pisang memiliki kemampuan selain dapat mensekresikan ligninase dan selulase (Howard et al., 2003) juga dapat menghasilkan hemiselulase (Zeng et al., 2010). Selama proses fermentasi, hemiselulosa akan dirombak menjadi monomer gula dan asam asetat (Sanchez 2009). Sedangkan hasil analisis sampel perlakuan pemberian asam laktat dan molases daun kelapa sawit yang terendah pada perlakuan A1B3 (0% ECAL + 100% molase) + 100 Daun + 0% Pelepah dengan nilai 4,83 % dan hasil penelitian tertinggi yakni A2B3 A2 = (25% ECAL +75 % molase)+ 100 Daun + 0% Pelepah dengan nilai 14,55 %. Terjadinya peningkatan kandungan selulosa pada 551 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 perlakuan daun kelapa sawit A4B3 dibandingkan perlakuan A1B3. Hal ini disebabkan karena terjadi perubahan kandungan selulosa daun sawit setelah mengalami proses biodelignifikasi menunjukkan asam laktat dan molases mempunyai aktivitas enzim selulase. Indikasi yang positif untuk dapat menggunakan daun sawit sebagai patan lernak hal ini disebabkan semakin rendah kandungan lignin dalam suatu bahan pakan temak makaakan meningkatkan nilai kecernaan bahan pakan tersebut bagi ternak seperti yang dinyatakan oleh Van Der Meer and Van Es (2001) bahwa kecernaan bahan pakan seratakan sangat dipengaruhi oleh kandungan penyusunan dinding sel tanaman tersebut berupa kandungan NDF, ADF dan Lignin. Fraksi Lignin Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5 dapat dilihat hasil rataan degradasi Fraksi Lignin Pelepah Sawit Hasil Degradasi Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Pisang. Tabel 5. Analisa Fraksi Lignin Pelepah Sawit Hasil Degradasi Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Pisang Perlakuan A1 A2 A3 A4 Rataan B1 21,13 21,28 20,59 18,78 20,44 B2 21,51 20,81 21,03 19,23 20,64 B3 22,48 20,15 19,15 21,51 20,82 Rataan 21,70 20,74 20,25 19,84 Standar Deviasi A1 = (0% ECAL + 100% molase) A2 = (25% ECAL +75 % molase) A3 =(50% ECAL + 50% molase) A4 =(100% ECAL + 0% molases) 5,15 B 1 = 0% Daun +100% Pelepah B 2 = 50% Daun + 50% Pelepah B 3 = 100 %Daun + 0% Pelepah Lignin merupakan bagian atau kesatuan dalam karbohidrat dan berada dalam tanaman, tetapi bukan termasuk dalam golongan karbohidrat. Menurut Nelson dan Suparjo (2011), lignin merupakan komponen dinding sel tanaman yang mengalami perkembangan setelah tanaman tersebut mengalami proses pendewasaan. Lignin merupakan suatu makromolekul kompleks, suatu polimer aromatik alami yang bercabang dan memiliki struktur tiga dimensi yang terbuat dari fenil propanoid yang saling terhubung dengan ikatan yang bervariasi. Lignin membentuk matriks yang mengelilingi selulosa dan hemiselulosa sebagai penyedia kekuatan pohon dan pelindung dari biodegradasi (Fadilah et al., 2008). Hasil analisa laboratorium terhadap kandungan lignin daun sawit hasil degradasi bahan aditif ekstrak cairan asam laktat produk fermentasi anaerob batang pisang diperoleh kandungan lignin terendah hingga tertinggi yaitu pada perlakuan B1 = 0% Daun +100% Pelepah dengan nilai rataan 20,44% dan perlakuan B2 = 50% Daun + 50% Pelepah dengan nilai rataan 20,64% dan perlakuan B3 = 100 Daun + 0% Pelepah dengan nilai rataan 20,82%. Tinggi rendahnya hasil rataan perlakuan pada perlakuan pelepah dan daun karena semakin banyak dosis asam laktat yang ditambahkan pada media pelepah sawit maka kapang yang tumbuh dalam media tersebut akan semakin banyak, sehingga kapang tersebut dapat menghasilkan enzim yang dapat bekerja optimum untuk mendegradasi lignin. Hal ini sejalan dengan penelitian Musnandar (2006) yang menyatakan semakin bertambahnya dosis inokulum sampai batas tertentu menyebabkan pertumbuhan miselium lebih cepat, enzim dapat bekerja dengan optimum, sehingga pertumbuhan jamur untuk mendegradasi lignin relatif lebih cepat. Berdasakan hasil analisis sampel perlakuan pemberian asam laktat dan molases pelepah kelapa sawit diurutkan dari urutan terendah sampai terendah A4B1 (100% ECAL + 0% molases)+ 0% Daun +100% Pelepah dengan hasil 18,78% dan nilai tertinggi pada perlakuan A2B1 (25% ECAL +75 % molase)+ 0% Daun +100% Pelepah dengan hasil 21,28 %. Kandungan Lignin yang meningkat diperkirakan karena memperoleh tambahan serat kasar yang berasal dari pelepah kelapa 552 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 sawit dan pemberian asam laktat dan molases dapat meningkatkan pertumbuhan miselium kapang sehingga enzim yang dihasilkan lebih banyak dan proses degradasi lignin terjadi secara optimal. Rendahnya penurunan lignin pada perlakuan pemberian A4B1 (100% ECAL + 0% molases)+ 0% Daun +100% Pelepah disebabkan karena pemberian dosis tersebut belum dapat mengoptimalkan pertumbuhan miselia kapang sehingga enzim yang dihasilkan sedikit dan membuat kerja enzim yang dihasilkan oleh kapang dalam mendegradasi lignin belum optimal, semakin lama waktu fermentasi akan menyebabkan kapang kekurangan nutrien sehingga aktifitas kapang menurun dan kapang menuju fase kematian,Waktu inkubasi mempengaruhi produksi enzim ligninolitik dan degradasi lignin (Shi et al., 2009). Zeng et al., (2010) menyatakan bahwa puncak produksi enzim pendegradasi lignin terjadi pada hari ke-10 dan ke-21 pada proses biokonversi limbah pertanian dengan asam laktat. Peningkatan degradasi lignin akan terjadi kembali pada saat kebutuhan nutrien dalam media berkurang. Degradasi lignin dapat membuka akses bagi enzim yang dihasilkan oleh kapang untuk perombakan selulosa dan hemiselulosa (Nelson dan Suparjo 2011). Sedangkan hasil analisis sampel perlakuan pemberian asam laktat dan molases daun kelapa sawit yang terendah pada perlakuan A1B3 (0% ECAL + 100% molase) + 100 Daun + 0% Pelepah dengan nilai 4,83 % dan hasil penelitian tertinggi yakni A2B3 A2 = (25% ECAL +75 % molase)+ 100 Daun + 0% Pelepah dengan nilai 14,55 %. Terjadinya peningkatan kandungan lignin pada perlakuan daun kelapa sawit A2B3 dibandingkan perlakuan A1B3. Hal ini disebabkan karena terjadi karena pemberian (25% ECAL +75 % molase)+ 100 Daun + 0% telah mengalami proses fermentasi sehingga dapat merenggankan ikatan lignosellulosa dan lignohemisellulosa yang pada akhirnya akan meningkatkan kecernaan Hal ini sesuai dengan pendapat Widayati dan Widalestari (2001) menyatakanbahwa tujuan dari proses fermentasi adalah memecah ikatan kompleks lignoselulosa dan menghasilkan kandungan selulosa untuk dipecah oleh enzim selulase yang dihasilkan mikrobia. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian menunjukan penambahan Perlakuan yang diberikan Faktor A Subtrat dengan ECAL Kombinasi Molases. A1. Pelepah sawit + (0 % ECAL + 100 % molase) A2. Pelepah sawit + (25% ECAL + 75 % molase) A3. Pelepah sawit + (50% ECAL + 50 % molase) A4. Pelepah sawit + (100% ECAL + 0 % molase) Faktor B. 28 hari Penyimpanan, Parameter yang diamati adalah NDF,ADF, Hemiselulosa, Lignin dan Selulosa. Hasil penelitian menunjukan penambahan Bahan Aditif Ekstrak Cairan Asam Laktat Produk Fermentasi Anaerob Batang Kesimpulan Pisang dengan daun sawit dengan lama fermentasi 28 hari menghasilkan penurunan kandungan NDF sebesar 72,38%, ADF sebesar 49,42%, hemiselulosa sebesar 3,04%, lignin sebesar 29,44%, dan selulosa sebesar 13,28%. Saran Untuk mendaptkan lebih maksimal dalam pembuatan silase pelapah dan dun kelapa sawit perlu dilakukan pencecahan yang lebih halus. Mie Kering. Skripsi. Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung. DAFTAR PUSTAKA Abu hassan, o. And m. Ishida. 1992. Status ofutilization of selected fibrous crop residuesand animal performance with special emphasison processing of oil palm frond (OPF) forruminant feed in Malaysia. Trop. Agri. Res.Series. 24: 135-143. Amry, R. Azmi 2009. Pegaruh Imbangan Tepung Bonggol Pisang Batu (Musa Brachycarph) dan Terigu terhadap Beberapa Karakteristik 553 dan Gunawan. 2005. Pemanfaatan pelepah kelapa sawit dan solid untuk pakan sapi potong. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Anggorodi, R. 1984.Ilmu Makanan Ternak.Gramedia. Jakarta Arief, A.2001. Hutan dan Kehutanan.Buku.Kanisius.Yogyakar Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 ta.180 p.BalaiTaman Nasional Way Kambas.2006. Zonasi Taman Nasional Way Kambas.Buku.Taman Nasional Way Kambas. Lampung Timur.13 Efremenko E.; O. Spiricheva; S. Varfolomeyev; V. Lozinsky. Rhizopus oryzae Fungus Ccells Producing L (+) Lactic Acid: Kinetic and Metabolic Parameters of Free and PVAcryogel-entrapped Mycelium. Appl Microbial Biotechnol 2006. 72: 480485, USA Batubara, L. P. 2002. Potensi Biologis Daun Kelapa Sawit sebagai Pakan Basaldalam Ransum Sapi Potong.ProsidingSeminar Nasional TeknologiPeternakan.Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.BadanPenelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta. Efryantoni. 2011.Pola Pengembangan Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapisebagai Penjamin Ketersediaan Pakan.Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu.www.google.co.id. Diakses Tanggal 10 Oktober 2019 Cahyono B. 2009. Pisang Usaha Tani dan Penanganan Pascapanen.Revisi kedua. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.Hlm. 85. Ensminger, M. E. dan C.G. Olentine.1980 Feed and Nutrition. The Ensminger Publishing Company, USA. Candra, I. 2003. Pengaruh Jenis Pisang dan Jenis Gula Terhadap Mutu MaduBuah Pisang.Skripsi. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor Dashban, Ensminger, M. E. and C. G. Olentine. 1980. Feed and NutritionComplate. The Ensminger Publishing Company. Clovis. California. USA Ennahar.S., Y. Cai., and Y. Fujita. 2003. Phylogenetic diversity of lactic acid bacteria associated with paddy rice silage as determined by 16S ribosomal DNA analysis. Applied and Enviro-mental Microbiology 69 (1): 444-451 M., H. Scrraft, W. Qin. 2009. Fungal bioconversion of lignocellulosic residues: Opportunities and perspective Int J Biol Sci. 5(6):578 -595. Departemen Pertanian, 1980. Silase sebagai Makanan Ternak. Bogor: Departemen Pertanian. Balai Informasi Pertanian.. 2009. Silase. Jakarta: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Fadilah dan S. Distantina.2009. Delignifikasi ampas batang aren: pembandingan pengaruh penambahan glukosa dengan penambahan tetes. Ekuilibrium. Vol l8(2):19-25. Dhalika, T. Mansyur, dan A. R, Tarmidi. 2011. Nilai Nutrisi Batang Pisang dari Produk Bioproses (Ensilage) sebagai Ransum Lengkap. Jurnal Ilmu Ternak.11(1):17-23. Fauzi, Yan dkk. 2007. Kelapa Sawit , Budi Daya, Pemanfaatan Hasil, dan Limbah,Analisa Usaha dan Pemasaran. Edisi Revisi. Cetakan 21. Jakarta: Penebar Swadaya. Dominguez, J.M. and Vazquez, M. Effect of the Operational Condition on Lactic Acid Production by Rhizopus oryzae. Cienc.Tecnol. Alinment. Vol.2, No.3. (113-118), 1999, Galicia, Spanyol Harris, 554 L. E. 1970. Nutrition Research Techniques for Domestic and WildAnimals.Volume 1. An International Record System and Proceduresfor Analyzing Samples Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Hanafi, N.D. 2004. Perlakuan silase dan amoniasi Pelepah kelapa sawit sebagaibahan baku pakan domba.Karya Ilmiah.Faperta USU. Medan. jin Bo, Pinghe Yin, Yibong Ma, Ling Zha O, Production of Lactic Acid and Fungal Biomassa by Rhizopus Fungi from Food Processing Waste Streams, Jurnal Ind. Microbiol. Biotechnol, 2005, 32: 678 – 686, Enviromental Biotechnology, Australia Harfiah. 2009. Peningkatan kualitas pakan berserat dengan perlakuan alkali, amoniasi, dan fermentasi dengan mikroba selulolitik dan lignolitik. J. Sains & Teknologi. 9 (2) : 150 ± 156. Kaleka, N. 2013. Pisang-pisang Komersial. Solo. Arcita Kusmiati, Swasono R. Tamat, Eddy, J, danRia, I. 2007. Produksi Glukan dari duaGalur Agrobacterium sp. Pada MediaMengandung Kombinasi Molase danUrasil.Biodiversitas, (Online), Vol. 8.No.1. Howard R.L., E. Abotsi, E.L.J. van Rensburg and S. Howard. 2003. Lignocellulose biotechnology: issues of bioconversion and enzyme production. Afr. J. Biotechnol. 2:602-619. Lado. L. 2007. Evaluasi Kualitas Silase Rumput Sudan (Sorghum Sudanense) pada Penambahan Berbagai Macam Aditif Karbohidrat Mudah Larut. Tesis. Pascasarjana Program studi ilmu peternakan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Imsya, A. dan R. Palupi. 2009. Perubahan kandungan lignin, NDF, danADF pelepah sawit melalui proses biodegumming sebagai sumberbahan pakan serat ternak ruminansia. J.I. Ternak dan Veteriner,14(4): 284-288. 555