JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren Dian Asmita Aisyah*. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sari Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragam. Jakarta, indonesia *aisyah. dianasmita@gmail. Abstract The phenomenon of seniority in Islamic boarding schools affects social dynamics so that there is a communication gap between senior and junior students which ends in bullying and persecution. The purpose of this study is to find out and analyze the interpersonal communication process between senior students and junior students at the Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah Islamic Boarding School. South Jakarta. This research method is The theory used in this study is the Theory of Symbolic Interactionism. The results of the study show that the two dominant subjects use non-verbal communication, namely sign language and writing, although in the preparation of sentences there are often deviations in subjects, predicates, objects, and descriptions that are not in accordance with the rules of the Indonesian language. The communication barrier between the two subjects is the difference in skill levels in the use of sign language, so that often the recipient of the message does not understand the content of the message conveyed. Conflicts that occur between the two subjects, the resolution can be done quickly and efficiently. Keywords: Communication Dynamics. Students with Special Needs. Islamic Boarding Schools. Phenomenology. Symbolic Interactionism Abstrak Fenomena senioritas di pondok pesantren berpengaruh terhadap dinamika sosial sehingga terjadi kesenjangan komunikasi antara santri senior dan junior yang berakhir pada perundungan dan penganiayaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis proses komunikasi antarpribadi yang terjalin antara santri senior dan santri junior di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah. Jakarta Selatan. Metode penelitan ini yakni fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni Teori Interaksionisme Simbolik. Hasil penelitian menunjukan bahwa kedua subyek dominan menggunakan komunikasi non verbal yakni bahasa isyarat dan tulisan, meskipun dalam penyusunan kalimat seringkali terjadi penyimpangan subjek, predikat, obyek, keterangan yang tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Hambatan komunikasi kedua subjek yakni perbedaan tingkat keterampilan dalam penggunaan bahasa isyarat, sehingga seringkali penerima pesan tidak memahami isi pesan yang disampaikan. Konflik yang terjadi antara kedua subjek, penyelesaiannya dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Kata Kunci: Dinamika Komunikasi. Santri Berkebutuhan Khusus. Pondok Pesantren. Fenomenologi. Interaksionisme Simbolik PENDAHULUAN Data Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2022/2023 secara statistik mencatat hingga saat ini terdapat sekitar 39. 043 pesantren yang tersebar di Indonesia, dan mendidik total 4,08 juta santri (Rizaty, 2. Namun berdasarkan data tersebut, tidak semua pondok pesantren menerima santri berkebutuhan khusus. Kepala Sub Direktorat Pendidikan Diniyah Takmiliyah Kementerian Agama Republik Indonesia menyatakan, sesuai dengan UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dan PP No. 13 Tahun 2020 tentang tentang Akomodasi yang Layak bagi Peserta Didik Penyandang Disabilitas. Kemenag berupaya untuk mengaplikasikan peraturan ini. Namun. Kementerian Agama belum mencatat jumlah pesantren khusus penyandang disabilitas dan pesantren yang menerima santri penyandang disabilitas. Meskipun demikian, terdapat pesantren yang menerima anak berkebutuhan khusus, seperti Pesantren Raudhatul Makfufin di Tangerang Selatan (Kontributor Kementerian Agama Republik Indonesia, 2. Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang memerlukan layanan pendidikan khusus. Mangunsong menyatakan, (Fakhiratunnisa et al. , 2022, p. bahwa anak berkebutuhan khusus Submitted: January 2025. Accepted: June 2025. Published: September 2025 ISSN: 2614-8498 . DOI: https://doi. org/10. 32509/pustakom. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 terdapat anomali yang terletak pada ciri mental, sensorik, kemampuan fisik dan neuromuskular, perilaku sosial dan emosional, keterampilan komunikasi atau keterkaitan dua dari tiga perbedaan Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang mempunyai sifat khusus dan berbeda dengan anak pada umumnya, yaitu tidak mungkin menunjukkan ketidakmampuan mental, emosional atau fisik, dan intelektual (Rahmawati et al. , 2024, p. Anak berkebutuhan khusus sering mengalami kendala dalam berkomunikasi dengan orang lain tergantung dengan kondisi yag dialami, sehingga diperlukan keterampilan untuk menyampaikan pesan (Rahmawati et al. , 2024, p. Dilansir dari situs BBC News Indonesia (Lumbanrau, 2. , seorang santri berusia 14 tahun meninggal di Pondok Pesantren Tartirul Quran (PPTQ) Al Hanifiya. Kabupaten Kediri. Provinsi Jawa Timur, rupanya akibat penganiayaan seniornya. Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur mengatakan PPTQ Al Hanifiyah juga belum memiliki izin beroperasi sebagai pesantren. Polisi akhirnya menetapkan empat tersangka, salah satunya disebut-sebut adalah kerabat korban. Peneliti melakukan penelitian di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah. Jakarta Selatan yang memfokuskan pendidikannya pada program penghafalan Al-QurAoan atau yang dikenal juga dengan istilah tahfiz. Pondok pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah merupakan pondok pesantren khusus untuk santri perempuan atau yang disebut juga dengan santriwati, dan dikelola oleh Badan Amil Zakat Nasional atau Baznas (Bazi. Provinsi DKI Jakarta. Pondok pesantren ini membuka kesempatan bagi santri yang berkebutuhan khusus tunarungu untuk belajar bersama dengan santri lainnya. Hal ini menunjukkan komitmen pesantren dalam memberikan akses pendidikan yang setara bagi semua. Penelitian jenis ini sebelumnya banyak dilakukan oleh para peneliti lainnya, seperti Komunikasi Interpersonal Antar Ustadz dan Santri dalam Menanamkan Nilai-nilai Akhlak Mulia di Pondok Pesantren Roudlatut Tholibin Kayen Kidul Kediri Jawa Timur. Penelitian ini ditulis oleh Maulidin. Institut Agama Islam Negeri Kediri di Tahun 2021. Temuan dari penelitian tersebut yaitu dipaparkan nilai-nilai akhlak mulia Pondok Pesantren Roudlatut Tholibin Kayen Kidul Kediri dan komunikasi interpersonal antar ustadz dengan santri dalam menanamkan nilai-nilai akhlak mulia di Pondok Pesantren Roudlatut Tholibin Kayen Kidul Kediri yaitu dengan konsultasi masalah pribadi, penyampaian pesan antara ustadz dengan santri dan memberi teladan, ,motivasi dan teguran bagi santri (Maulidin, 2021, p. Penelitian lainnya berjudul Komunikasi Simbolik Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Interaksi Sosial di Sekolah Alam Saka Karawang. Penelitian ini ditulis oleh Zahra Nur Afifah. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tahun 2024. Hasil temuan peserta didik berkebutuhan khusus menggunakan tiga bentuk komunikasi simbolik. pemahaman tersebut kepada guru, orang tua siswa, dan anak non berkebutuhan khusus beragam. Komunikasi simbolik gerakan tubuh/fisik dimaknai sebagai bentuk pesan semangat, perasaan tidak nyaman/gugup/bahagia, anak yang tidak jelas/aneh. Kedua, komunikasi simbolik pengulangan atau repetisi kata dimaknai sebagai bentuk kesullitan mengatur pola pikir, simbol sulit mendengar, dan simbol ketidakpahaman oleh siswa V, dan ibu T. Ketiga, komunikasi simbolik penggunaan emosi berlebihan dimaknai sebagai bentuk penyaluran emosi/kesal/ingin sesuatu dan memaknai bentuk komunikasi menggunakan emosi sebagai bentuk sikap marah, dan tidak baik dari anak berkebutuhan khusus (Afifah, 2024, p. Selanjutnya penelitian yang berjudul Strategi Komunikasi Antarpribadi Antara Guru dan Murid dalam Implementasi Kurikulum 2013 di SMK MaAo arif NU Mantup (Studi Komunikasi Antarpribadi Antara Guru dan Murid Pada Proses Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum 2013 di SMK MaAo arif NU Mantu. yang ditulis oleh Suroso. Universitas Dr. Soetomo, pada Tahun 2016. komunikasi interpersonal antara guru dan siswa memiliki peran yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar dikelas, dan diketahui masih banyak guru yang mmengajar tidak sesuai dengan Faknya . Jika tidak sesuai dengan keahliannya bisa mempengaruhi komunikasi dan proses pembelajaran dikarenakan guru kurang kompeten dibidangnya (Suroso, 2016, pp. 100Ae. Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Interaksionisme Simbolik. Teori ini menekankan bagaimana individu membentuk makna melalui interaksi sosial dan penggunaan simbol. Teori ini berfungsi untuk memahami bagaimana individu berinteraksi dan menciptakan makna dalam konteks sosial mereka. Komunikasi antarpribadi membentuk hubungan sosial, terutama di lingkungan pendidikan seperti pondok pesantren yang mengajarkan ilmu agama dan juga membentuk karakter dan keterampilan sosial santrinya. Dalam konteks ini, komunikasi antarpribadi antara santri junior dan senior menjadi krusial untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan mendukung proses Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang terjadi antara 2 orang atau lebih, di mana saling memberikan interaksi, feedback, dan masing-masing individu yang berinteraksi berbeda satu dengan lainnya (Adhypoetra et al. , 2019, p. Pondok Pesantren berfokus pada pengembangan karakter dan spiritualitas, memberikan konteks yang ideal untuk meneliti dinamika komunikasi ini. Santri junior sering kali berada dalam posisi belajar dari pengalaman santri senior. Di sisi lain. Santri senior bertanggung jawab untuk membimbing juniornya dan mewariskan ilmu pengetahuannya. Interaksi ini tidak hanya melibatkan transfer informasi, tetapi juga aspek emosional dan sosial yang dapat mempengaruhi perkembangan pribadi Santri junior merujuk pada murid yang baru bergabung dibandingkan seniornya, dalam konteks pesantren, santri junior biasanya mendapatkan bimbingan dan pendampingan dari santri Santri senior merujuk pada individu yang telah menyelesaikan beberapa tingkat pendidikan di pesantren dan biasanya berfungsi sebagai mentor atau pembimbing bagi santri junior. Mereka sering kali ditunjuk untuk membantu santri junior untuk mengawasi disiplin, pembelajaran dan menjadi teladan bagi para santri junior. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sudah disiapkan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang disesuikan dengan kebutuhannya. Meskipun demikian. ABK masih dibedakan dan disingkarkan dengan anak pada umumnya dan menjadi hambatan proses interaksi di antara mereka. Masyarakat juga menjadi tidak akrab dengan ABK, begitu pula sebaliknyas (Nilamsari, 2018, pp. 71Ae. Fenomena senioritas di pondok pesantren merupakan aspek penting yang mempengaruhi dinamika sosial di lingkungan pendidikan agama Islam. Senioritas dan junioritas di pondok pesantren tidak hanya terkait dengan urutan waktu tinggal, tetapi juga mencerminkan struktur sosial dan interaksi antar santri. Namun, dalam praktiknya, tidak jarang terjadi kesenjangan komunikasi antara santri junior dan Berbagai faktor, seperti perbedaan usia, pengalaman, dan pemahaman terhadap norma-norma sosial di pondok, dapat mempengaruhi cara mereka berkomunikasi. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana santri junior dan senior saling berinteraksi dan bagaimana komunikasi tersebut membentuk hubungan sosial di antara mereka. Berdasarkan pembahasan tersebut, penelitian ini berfokus pada Teori Interaksionisme Simbolik yang menekankan pada hubungan dan interaksi yang dilakukan kedua subjek yakni santri senior dan santri junior berkebutuhan khusus Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah di Jakarta Selata. Dimulai dengan proses komunikasi Antarpribadi diantara keduanya yang memunculkan simbol-simbol yang menghasilkan makna tertentu sehingga berujung kepada terbentuknya opini. Didalam komunikasi Antarpribadi yang dilakukan kedua subjek, terdapat hambatan yang terjadi didalamnya, dikarenakan santri senior dan santri junior merupakan anak berkebutuhan khusus tunarungu, sehingga dalam proses komunikasi membutuhkan keterampilan tertentu untuk menyampaikan dan memahami isi pesan. Pesan-pesan tersebut disampaikan dalam bentuk komunikasi nonverbal. Penyampaian pesan tersebut merupakan bentuk yang muncul dari hasil interpretasi makna yang dikaji dalam Teori Interaksionisme Simbolik, yang mana teori tersebut menekankan terhadap Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 perilaku yang timbul melalui hasil pemaknaan yang diperoleh dari interaksi sosial. Manusia tidak akan dapat menginterpretasikan makna tanpa adanya komunikasi dengan orang lain. Oleh sebab itu unsur-unsur komunikasi yang terbentuk akan dikaji melalui Teori Interaksionisme Simbolik, bagaimana aktor tersebut memperoleh pemaknaan melalui komunikasi. Posisi peneliti mencari tahu tentang bagaimana komunikasi Antarpribadi yang dilakukan santri senior dan santri junior berkebutuhan khusus di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathulla. dengan cara melihat unsur-unsur komunikasi seperti: proses komunikasi Antarpribadi, kualitas komunikasi Antarpribadi, intensitas komunikasi Antarpribadi, bentuk-bentuk komunikasi Antarpribadi dan hambatan komunikasi Antarpribadi. Setelah mendapatkan data maka peneliti dapat melihat keefektivan komunikasi antara keduanya. Peneliti menyertakan beberapa penelitian dengan permasalahan yang sama sebagai bentuk komparasi dan referensi untuk penelitian yang dilakukan. Terdapat 2 . penelitian terdahulu yang digunakan sebagai referensi. Penelitian pertama berjudul Komunikasi Interpersonal Antar Ustadz dan Santri dalam Menanamkan Nilai-nilai Akhlak Mulia di Pondok Pesantren Roudlatut Tholibin Kayen Kidul Kediri Jawa Timur. Penelitian ini ditulis oleh Maulidin. Institut Agama Islam Negeri Kediri di Tahun 2021 (Maulidin, 2021, p. Persamaan dengan penelitian ini terletak pada jenis penelitian yang sama-sama menggunakan kualitatif deskriptif dengan obyek penelitian yang sama yakni pondok pesantren. Perbedaan penelitian pertama dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada subjek penelitian. Subjek penelitian pertama yakni ustadz dan santri, sedangkan subjek penelitian yang akan diteliti di dalam penelitian ini yakni santri senior, dan santri junior berkebutuhan khusus. Perbedaan lainnya yakni lokasi penelitian, penelitian pertama meneliti di Pondok Pesantren Roudlatut Tholibin Kayen Kidul Kediri. Jawa Timur, sedangkan penelitian ini akan meneliti di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah. DKI Jakarta. Teori yang digunakan penelitian pertama menggunakan Teori Interpersonal, sedangkan peneliti akan menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik. Penelitian kedua berjudul Komunikasi Simbolik Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Interaksi Sosial di Sekolah Alam Saka Karawang. Penelitian ini ditulis oleh Zahra Nur Afifah. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tahun 2024 (Arifah, 2024, p. Persamaan penelitian kedua dengan penelitian ini terletak pada teori yang digunakan yakni Teori Interaksionisme Simbolik. Subyek yang diteliti sama-sama anak berkebutuhan khusus (ABK), namun penelitian kedua melibatkan perspektif guru, orang tua, dan siswa non-ABK terkait pemahaman mereka terhadap makna komunikasi simbolik anak berkebutuhan khusus sedangkan penelitian ini tidak melibatkan hal tersebut. Perbedaan penelitian kedua dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada lokasi penelitian, penelitian kedua meneliti di Sekolah Alam Saka Karawang, sedangkan penelitian ini akan meneliti di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah. DKI Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis dinamika komunikasi khususnya proses komunikasi antarpribadi yang terjalin antara santri senior dan santri junior berkebutuhan khusus Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah di Jakarta Selatan. METODOLOGI PENELITIAN Profil Informan Penelitian Tabel 1. Profil Informan Penelitian Inisial Jenis Pekerjaan Informan Kelamin Perempuan Pelajar SMA Perempuan Pelajar SMA Perempuan Pelajar SMA Perempuan Pelajar Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 CMP SMP Pelajar SMP Perempuan Pelajar SMP Perempuan Pembina Asrama Perempuan Guru Bina Wicara Perempuan Guru Tahfiz dan Fiqih Sumber: Olahan Peneliti . Perempuan Pondok Pesantren Tahfiz Difabel KH. Ahmad Fathullah yang terletak di Jakarta Selatan merupakan pondok pesantren yang dikhususkan untuk santri perempuan atau yang biasa disebut sebagai santriwati berkebutuhan khusus, sehingga seluruh informan berjenis kelamin perempuan. Seluruh informan yang berasal dari pelajar SMP dan SMA merupakan santriwati berkebutuhan khusus. Penelitian ini menggunakan paradigma kontruktivisme yang menekankan pada pemaknaan yang meyakini bahwa realitas sebagai hasil kontruksi aktor. Karena sekali lagi gejala sosial bukanlah suatu yang dapat diterima dengan sifat face value, atau sesuatu yang terjadi begitu saja secara alamiah. Aktor yang dimaksud dalam penelitian ini adalah santri senior dan santri junior berkebutuhan khusus yang meyakini kebenaran masing-masing kelompoknya. Paradigma ini dipilih karena dalam prosesnya akan terjadi perkembangan makna yang bersifat subjektif terhadap suatu objek. Kemudian hasil makna tersebut akan bervariasi, dan dalam proses pemahaman makna maka akan disusun dan dikategorikan ke dalam suatu konsep. Metode dalam penelitian ini menggunakan studi fenomenologi tekstural yang berfokus pada subjek penelitian tentang sesuatu fenomena berdasarkan apa yang dialami oleh subjek sehingga data bersifat faktual karena hal yang terjadi secara empiris. Pemilihan metode fenomenologi dalam penelitian didasarkan pada tujuan untuk memahami makna pengalaman komunikasi secara mendalam dari sudut pandang para santri sendiri. Fenomenologi memungkinkan peneliti menggali persepsi, emosi, dan nilai yang menyertai interaksi, baik verbal maupun nonverbal, di lingkungan pesantren yang memiliki budaya dan tata nilai khas. Pendekatan ini bertujuan untuk menangkap pengalaman unik santri berkebutuhan khusus serta mengungkap nuansa relasi seniorAejunior dalam struktur sosial yang Dengan fokus pada kedalaman makna, fenomenologi membantu menghadirkan gambaran holistik mengenai dinamika komunikasi yang tidak hanya dilihat dari frekuensi, tetapi juga dari konteks dan makna yang diinternalisasi oleh para pelaku komunikasi. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data wawancara mendalam, observasi, library research dan juga teknik dokumentasi guna memudahkan peneliti untuk menyajikan fakta yang diperoleh dilapangan. Teknik analisis data menggunakan model analisis data fenomenologi yang dikemukakan oleh Cresswell (Solms & Merwe, 2020, p. Data dianalisis menurut 6 . tahapan sebagai berikut: Pengorganisasian dan persiapan data: Data dikumpulkan terlebih dahulu kemudian ditranskripsikan ke dalam bentuk teks dan disajikan dalam bentuk naratif. Pembacaan keseluruhan data: Seluruh data dibaca atau ditranskrip untuk memperoleh informasi secara umum. Proses membaca keseluruhan data dengan analisis terperinci, dan mengklasifikasikan data-data . Proses keempat dimana data-data yang sudah dikategorikan, hasilnya dibandingkan satu sama lain untuk mendapatkan keseluruhan perspektif. Tahap kelima, perspektif tersebut akan direpresentasikan dalam bentuk narasi kualitatif. Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 . Tahap keenam yakni tahap untuk interpretasi data, dimana data ditafsirkan dengan cara yang bermakna, dan interpretasi serta pemahaman dirumuskan dengan hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini berfokus pada komunikasi antarpribadi santri senior dan santri Junior berkebutuhan khusus Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah di Jakarta Selatan dengan tujuan untuk mengetahui dan menganalisis proses komunikasi Antarpribadi yang terjalin antara Santri Senior dan Santri Junior Berkebutuhan Khusus Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. Ahmad Lutfi Fathullah di Jakarta Selatan. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa komunikasi antara santri senior dan santri junior tidak dapat dihindari dari konflik, namun waktu penyelesaian konflik tersebut relatif singkat. Para santri juga kerap kali melakukan beragam tindakan untuk mendapatkan atensi dari santri lainnya dan para guru. Proses komunikasi antarpribadi yang dilakukan juga berbeda dengan masyarakat umumnya, karena para santri berkomunikasi dengan media tertentu seperti tulisan, alat bantu dengar, bahasa isyarat. Hambatan yang terjadi dalam proses komunikasi tersebut, untuk para santri tunarungu tidak semua fasih berbahasa isyarat, sehingga komunikasi disesuaikan dengan kemampuan. Para santri sebelum menjadi peserta didik di pondok pesantren, merasa terasingkan oleh lingkungan karena berkebutuhan khusus, sehingga enggan untuk Namun, setelah menjadi santri di pondok pesantren, para santri lebih percaya diri untuk berkomunikasi dengan lainnya. Bagian ini akan membandingkan temuan penelitian dengan teori interaksionisme simbolik. Teori yang digunakan dalam penelitian ini untuk menjadi perbandingan dengan hasil penelitian yakni Teori Interaksionisme Mead (Elvinaro, 2007, p. yang berisi tiga konsep yang merupakan inti dari pemikiran Mead. Tiga konsep krisis yang diperlukan dan saling mempemgaruhi satu sama lain untuk menyusun sebuah teori Interaksionisme Simbolik Simbolik. Tiga konsep tersebut yakni mind . , self . , society . Hal-hal yang penting mempengaruhi konsep mind dan self yakni particular others dan generalized others merupakan standar umum yang berlaku di suatu tempat yang ditinggali aktor yang melakukan interaksi sosial. Perspektif particular others menekankan kepada pemikiran santri senior dan santri junior mengenai diri sendiri yang diperoleh dari orang-orang terdekatnya seperti keluarga dan para santriwati lainnya. Identitas tersebut seringkali mempengaruhi perasaan akan penerimaan sosial dari diri mereka. Diri (Sel. memiliki dua konsep yaitu AuIAy dan AuMeAy. Individu melihat dirinya sebagai subjek merupkan konsep dari AuIAy sedangkan ketika melihat dirinya sebagai objek merupakan konsep dari AuMeAy. Poin ini membuka jalan bagi kedua subyek untuk berempati terhadap hal yang terjadi diantara Kedua subyek akan sama-sama berfikir hal yang sama bahwa mereka merupakan santri yang sama-sama menuntut ilmu di pondok pesantren yang sama meskipun memiliki beragam perbedaan seperti perilaku, asal dan lama belajar di pondok pesantren tersebut. Santri senior ketika berkomunikasi dengan santri junior ditinjau dalam teori interaksi simbolik, yakni proses komunikasi yang menghasilkan penilaian terhadap diri sendiri. Tanpa adanya proses interaksi sosial maka mereka tidak akan mengalami self awareness. Setelah proses komunikasi, mereka menganggap memiliki kesamaan, khususnya santri senior yang menjadi mentor merasakan empati dan berusaha mendekatkan diri kepada santri junior karena merasakan hal yang sama ketika pertama kali menuntut ilmu di pondok pesantren tersebut. Society menjelaskan bahwa norma-norma sosial yang ada di masyarakat membatasi perilaku Society merupakan jejaring hubungan sosial yang diciptakan dan direspon oleh individu. Interaksi yang dilakukan individu terhadap society dilakukan dengan bagian penting masyarakat yaitu particular others . ereka yang dekat dengan individu seperti keluarga, teman dan koleg. dan generalized others . elompok sosial dan budaya secara keseluruhan. Meskipun demikian, tiap individu pada akhirnya bebas memilih yang ada dalam sosial kemasyarakatannya. Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 Fenomena Dinamika Komunikasi Antarpribadi Santri Senior dan Santri Junior Berkebutuhan Khusus Berdasarkan hasil wawancara terhadap seluruh informan, fenomena komunikasi antarpribadi yang terjalin antara santri senior dan santri junior di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. Ahmad Lutfi Fathullah di Jakarta Selatan mencerminkan dinamika interaksi sosial yang berbeda pada umumnya, terutama dalam konteks media untuk berkomunikasi bagi santri berkebutuhan khusus. Dalam lingkungan pesantren, komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampaian informasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter dan nilai-nilai keagamaan. Santri senior sering kali dianggap sebagai panutan oleh santri junior. Santri senior dianggap sebagai mentor atau contoh bagi para santri junior. AuaTerus kita juga perkamar dikasih juga mentor masing-masing senior. Jadi mentornya senior juga. Makanya kamar digabung. Dan di perkamar juga ada pembina asramanyaAy (Informan VA). Pentingnya pendekatan empatik dalam komunikasi antarpribadi tidak dapat diabaikan. Santri yang memiliki kebutuhan khusus, seperti tunarungu, memerlukan perhatian ekstra dalam interaksi sosial mereka. Pendekatan yang empatik dari santri senior dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, di mana semua santri merasa dihargai dan didengar. Melalui komunikasi yang terbuka dan penuh pengertian, santri senior dapat membantu junior merasa lebih nyaman dalam berinteraksi meskipun terdapat beragam perbedaan seperti usia dan lama menuntut ilmu di pondok pesantren tersebut. Komunikasi antarpribadi yang terjalin antara kedua subyek yakni santri senior dan santri junior juga tak jarang dari konflik. Hal yang menarik karena konflik yang terjadi antara keduanya tidak memakan waktu yang lama untuk penyelesaian. AuKarena di sini lebih nurut. Karena mereka itu lebih enak dikontrol gitu. Oke. Mereka emosinya ga stabil, tapi cukup dengan minta maaf. Udah selesai masalahnyaAy (Informan VA). Hal menarik lainnya yakni, para santri melakukan sesuatu untuk mendapatkan atensi atau perhatian dari para guru atau santri lainnya. Salah satunya yakni dengan merobek baju sendiri, namun menuduh santri lainnya. AuTapi bukan yang pembullyan yang junior ke senior penindasan. Nah yaudah lebih ke berantem sih biasanya, nah kalau konflik itu biasanya kalau ada konflik ditanya kenapa, apa sebab kamu marah gitu misalnya, terus dia nunjuk-nunjuk temennya, misalnya kayak kemarin ini ngerobek-ngerobek baju aku, padahal enggak nah itu kayak disitu. Enggak ini coba ditanya, dihadirin. Ay (Informan CMP). Fenomena komunikasi antarpribadi antara santri senior dan junior di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. Ahmad Lutfi Fathullah dapat dipahami melalui perspektif interaksionisme simbolik George Herbert Mead, khususnya konsep mind, self, dan society. Proses komunikasi yang terjalin menunjukkan bahwa santri dengan kebutuhan khusus mengembangkan mind melalui penggunaan simbol-simbol komunikasi yang adaptif, seperti bahasa isyarat, ekspresi, maupun gestur, sehingga interaksi tetap dapat berlangsung meskipun terdapat keterbatasan. Identitas diri . para santri juga terbentuk dari interaksi sosial: santri junior membangun dirinya dengan meneladani senior sebagai panutan, sementara senior memperkuat peran sebagai pembimbing melalui sikap empatik dan penyelesaian konflik yang cepat. Dalam konteks society, pesantren menyediakan struktur sosial berupa aturan, nilai ketaatan, dan mekanisme mentoring di kamar yang menanamkan norma penghormatan, kedisiplinan, serta penyelesaian masalah secara damai. Dengan demikian, dinamika komunikasi ini mencerminkan bagaimana pikiran, diri, dan masyarakat saling membentuk dalam menciptakan lingkungan pesantren yang inklusif dan membangun karakter religius santri. Bentuk Komunikasi Antarpribadi Santri Senior dan Santri Junior Berkebutuhan Khusus Sebagai Media Perantara Pesan Proses komunikasi Antarpribadi santri senior dan santri junior berkebutuhan khusus Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah di Jakarta Selatan berbeda dengan orang lain pada Santriwati yang menuntut ilmu di lembaga pendidikan ini dikhususkan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus yakni tunarungu, dan dalam berkomunikasi sehari-hari, mereka menggunakan Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 bahasa isyarat sebagai alat bantu untuk berkomunikasi dan juga alat bantu dengar atau yang lebih dikenal dengan ABD agar pendengaran para santri dapat maksimal ketika menerima pesan yang Selain menggunakan bahasa isyarat, dan alat bantu dengar (ABD), para santri yang belum begitu fasih menggunakan bahasa isyarat juga menggunakan media berupa tulisan untuk memudahkan proses komunikasi. Aua. mereka ngobrolnya sama bahasa isyarat. Ada tulis. Isyarat semua. Mereka yang belum bisa aja pas anak baru, ada yang bener-bener belum bisa isyarat kita ajarin. PelanpelanAy. (Informan VA). Santriwati dengan tingkat Pendidikan SMA yang mengenyam pendidikan di pondok pesantren tersebut juga menambahkan bahwa ketika berkomunikasi dengan teman lainnya, mereka menggunakan bahasa isyarat, oral, dan juga tulisan, seperti keterangan yang dijelaskan sebagai AuBicara, tulisan dan isyarat. Ay (Informan P). Selain komunikasi menggunakan media bahasa isyarat, alat bantu dengar, dan juga tulisan, para santri yang sudah fasih menggunakan bahasa isyarat juga diajari untuk berbicara oral dan membaca gerak bibir lawan bicaranya yang lebih dikenal dengan komunikasi total. AuUntuk berkomunikasi sebenarnya teman-teman tuli itu biasanya memang biasanya pakai bahasa isyarat gitu ya di sini. Bahkan sebenarnya juga mereka ada beberapa anak yang akhirnya tidak semuanya paham bahasa isyarat. Jadi pas masuk itu juga di sini ada mata pelajaran bahasa isyarat yang ngajar pun juga guru tuli namanya Ibu Reni. Jadi kalau untuk keseluruhan pakai bahasa isyarat, tapi kita tahu ya bahwa kalau misalnya di dunia nanti mereka ketemu sama orang lain ketemu lingkungan sekitar gitu ya kita juga belajar oral atau membaca gerak bibir. Nah itu bina wicara jadi membina bagaimana mereka bisa memahami gerak oral kita dan itu tidak full bina wicara terus tapi juga dibantu sama isyarat karena memang kalau saya belajar dulu di pendidikan khusus komunikasi yang baik untuk teman-teman tuli adalah komunikasi total jadi bahasa isyarat juga gerak bicara juga gerak bibir juga. Ay (Informan CMP). Selain bahasa isyarat yang digunakan sehari-hari, terdapat pula bahasa isyarat untuk membaca Al-QurAoan. AuBedanya kalau isyarat Alquran seperti huruf hijaiyah. Alif pake a, ba, ta kayak gitu. Dan tidak ada harokat. Seperti kalau Bismillah mereka. Ba, sin, mim. Bismillah. Kalau bahasa isyaratnya kan biasanya Allah. Tapi kalau di Alqurannya A, lam, lam, ha. Allah. Ay (Informan RF). Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan, terdapat beberapa bentuk komunikasi non verbal di lingkungan Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah sebagai media untuk para santri dalam memudahkan proses memahami informasi. Gambar 1. Papan Penunjuk Arah Dalam Bahasa Non Verbal Sumber: Dokumentasi Peneliti . Gambar 1 merupakan papan informasi menuju ruang dalam bentuk komunikasi non verbal sebagai petunjuk untuk memudahkan para santri menuju ruang tertentu yang merupakan fasilitas yang disediakan oleh Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah. Papan penunjuk tersebut menggunakan bahasa braille. Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 Gambar 2. Komunikasi Non Verbal Para Santriwati Sumber: Dokumentasi Peneliti . Gambar 2 merupakan komunikasi non verbal yang dilakukan santri senior dan santri junior saat jam makan siang dengan menggunakan bahasa isyarat juga didukung dengan komunikasi oral yang dilakukan untuk mendukung proses penyampaian pesan kepada santri lainya. Gambar 3. Komunikasi Non Verbal Para Santriwati Sumber: Dokumentasi Peneliti . Gambar 3, santri memanfaatkan media tulisan untuk menyampaikan pesan, dan juga sebagai media yang digunakan selama kegiatan belajar di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah. Gambar 4. Bentuk-bentuk Bahasa Isyarat Arab Sumber: Dokumentasi Peneliti . Gambar 4 merupakan bentuk-bentuk Bahasa Isyarat Arab: Huruf Hijaiyah Tunggal yang dipelajari para santri di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah untuk belajar AlQurAo an. Hal yang menarik ketika proses mewawancarai para santri SMP, bahwa masing-masing santri memiliki nama dengan bahasa isyarat tertentu. Proses komunikasi antarpribadi antara santri senior dan junior di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. Ahmad Lutfi Fathullah dapat dipahami melalui teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead, khususnya konsep mind, self, dan society. Penggunaan bahasa isyarat, alat bantu dengar (ABD), tulisan, hingga komunikasi total . ral, membaca gerak bibir, dan isyara. menunjukkan adanya mind yaitu kemampuan berpikir yang berkembang melalui simbol-simbol komunikasi yang disepakati bersama. Identitas diri . para santri terbentuk melalui interaksi, misalnya santri baru Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 belajar bahasa isyarat dari senior, memiliki nama khusus dalam bahasa isyarat, dan menyesuaikan diri dengan norma komunikasi pesantren. Sementara itu, society tercermin dari aturan, kurikulum, dan fasilitas pesantren yang membentuk lingkungan sosial inklusif, seperti adanya mata pelajaran bahasa isyarat, papan petunjuk braille, serta pengajaran bahasa isyarat Al-QurAoan. Dengan demikian, proses komunikasi ini memperlihatkan bagaimana pikiran, diri, dan masyarakat saling terkait dalam membangun interaksi sosial yang adaptif, inklusif, dan bernilai religius. Hambatan Komunikasi Antarpribadi Santri Senior dan Santri Junior Berkebutuhan Khusus Komunikasi antarpribadi yang dijalan antara kedua subyek yakni santri senior dan santri junior di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah di Jakarta Selatan tidak berjalan lancar dikarenakan diperlukan kemampuan tertentu seperti kemampuan fasih untuk berbahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi dengan para santri yang berkebutuhan khusus yakni tunarungu, dan tidak semua para santri dapat fasih berbahasa isyarat oleh sebab itu pola pengajaran bahasa isyarat disesuaikan kemampuan masing-masing santri. Guru Bina Wicara di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah di Jakarta Selatan menjelaskan terdapat tingkatan pemahaman bahasa isyarat bagi para santri di pondok pesantren ini, seperti keterangan berikut: Auamisalnya 1A berarti mereka baru 1 tahun disini A itu kemampuannya jadi yang istilahnya pemahamannya lebih baik gitu kalau 1B berarti baru 1 tahun disini B nya itu yang pemahamannya masih ya bisa dibilang perlu lebih gitu dibantu, terus kalau untuk tingkatan anak-anaknya ya itu tadi ya memang kita ngajarnya jadinya sesuai kemampuannya gitu sesuai taraf mereka tuh bisanya seperti apa gitu dikelompokan. Itu sih lumayan memudahkan ya akhirnya untuk saya mengajar bina wicaray (Informan CMP). Oleh sebab itu, karena perbedaan tingkatan kemampuan dalam menguasai bahasa isyarat menjadi salah satu hambatan komunikasi antarpribadi santri senior dan santri junior dikarenakan dapat menjadi salah paham atau perbedaan penafsiran dalam proses menyampaikan dan menerima Hambatan lainnya yakni menjelaskan pemahaman atau konsep tertentu yang bersifat abstrak, dan juga menyusun susunan kata dalam bentuk atau struktur yang sesuai kaidah Bahasa Indonesia sehingga tidak menimbulkan salah penafsiran. Aua. Terus yang kedua adalah memahamkan apa ya pemahaman yang kadang abstrak gitu ya itu yang menurut saya lumayan hambatan juga gitu, misalnya pemahaman yang konsep itu abstrak kita gak bisa misalnya kalau apel. Ini apel ada apelnya gitu kan kalau misalnya bilang apelnya jelek atau apelnya itu kan abstrak ya dalam artian kayak kondisi fisiknya atau kondisi lain misalnya juga contoh kayak kangen rumah kangen rumah boleh kayak gitu terus misalnya saya kadang juga jelasin kamu kenapa males belajar gitu, terus males-males dia cuma jawab Males apa sebab, males nah itu kan apa sebab males. Nah itu kan pertanyaan yang abstrak gitu ya mereka juga jawabnya. Cuma gak mau, udah gitu aja. nah memahamkan mereka untuk akhirnya gak boleh males, gitu-gitu itu yang lumayan jadi hambatan buat saya. Memahamkan konsep-konsep pemahaman yang lebih dalam gitu bahasanya kan kalau kita ada C1. C2. C3 gitu gitu ya. Yang C1 tuh misalnya menjelaskan C2 itu yang high order thinking tuh udah lebih bingung nih cara njelasin ke mereka. HOTS itu iya gitu bagaimana menjelaskan konsep-konsep yang abstrak tadi gitu. Ay (Informan CMP). Santriwati dengan tingkat Pendidikan SMP yang mengenyam pendidikan di pondok pesantren tersebut juga menjelaskan bahwa ketika mendengar teman lainnya yang berbicara dalam oral mengalami hambatan meskipun sudah menggunakan Alat Bantu Dengar (ABD), seperti keterangan yang dijelaskan sebagai berikut: AuberdengingA kurang jelas. Ay (Informan A. Santriwati dengan tingkat Pendidikan SMP yang mengenyam pendidikan di pondok pesantren tersebut juga menambahkan salah satu hambatan dalam proses komunikasi antarpribadi yang terjalin Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 yakni ketika diberikan nasihat, arahan tertentu, santri lainnya tidak mengindahkan, seperti keterangan yang dijelaskan sebagai berikut: AuSusah piket pagi, susah bangun. Dikasih nasihat, keluar lagi. Ay (Informan A). Komunikasi antarpribadi antara santri senior dan junior di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel Ahmad Lutfi Fathullah menghadapi hambatan yang dapat dipahami melalui teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead, khususnya mind, self, dan society. Hambatan muncul karena tidak semua santri fasih menggunakan bahasa isyarat, sehingga diperlukan proses pembelajaran bertahap sesuai kemampuan masing-masing. Hal ini menunjukkan peran mind sebagai kemampuan berpikir melalui simbol yang berbeda-beda tingkat penguasaannya, sehingga berpotensi menimbulkan salah Identitas diri . santri terbentuk melalui pengalaman interaksi, misalnya ketika mereka menerima nasihat, belajar mengelola rasa malas, atau berusaha memahami konsep abstrak meski sering kali muncul respon spontan yang sederhana. Sementara itu, society dalam konteks pesantren hadir melalui aturan, pembagian peran senior-junior, dan pembinaan guru yang berfungsi menanamkan norma disiplin serta mendukung terciptanya komunikasi inklusif. Dengan demikian, hambatan komunikasi ini tidak hanya mencerminkan keterbatasan teknis, tetapi juga proses sosial yang terus membentuk pikiran, diri, dan tatanan sosial para santri. Kualitas dan Intensitas Komunikasi Antarpribadi Santri Senior dan Santri Junior Berkebutuhan Khusus Kualitas dan intensitas komunikasi antarpribadi yang dilakukan antara santri senior dan santri junior berkebutuhan khusus Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah di Jakarta Selatan menjadi elemen fundamental dalam interaksi sosial yang terjadi antara keduanya. Kualitas dan intensitas komunikasi menjadi hal penting guna memperkuat hubungan antarpribadi yang terjalin antara keduanya. Kualitas komunikasi antarpribadi sangat dipengaruhi oleh keterampilan komunikasi individu, termasuk kemampuan mendengarkan, berbicara, dan berinteraksi secara efektif dan berperan penting dalam membangun kepercayaan dan mengurangi konflik di antara individu. Sedangkan intensitas komunikasi merujuk pada frekuensi dan kedalaman interaksi antar individu. Pembina Asrama Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah menjelaskan bahwa kualitas komunikasi antarpribadi santri senior dan santri junior sangat dipengaruhi oleh pengaruh masa lalu dari masing-masing individu sebelum bergabung menjadi santriwati di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah. Santriwati kesulitan berkomunikasi dengan teman lainnya karena sudah berprasangka buruk terlebih dahulu, dan juga masa lalulnya yang pernah mengalami perundungan seperti keterangan berikut: AuKalau awal-awal mereka datang ke sini, itu yang angkatan pertama. Memang kan mereka, kalau sekolah itu di SLB ya? Kalau SLB kan umurnya, maksudnya nggak semuanya tunarungu. Ada tunanetra, autis, dan lain-lain. Kalau misalnya dari Wali Santi sendiri, yang bilang, dulu anak saya kalau di SLB, jarang mau sekolah, gitu kan. Karena insecure, gitu. Rasanya dibully Ay (Informan VA). AuIya, iya, bener. Untuk SD. Tapi mereka tuh sensitif banget. Kalau misalnya melihat kita ngobrol nih, terus mereka sendiri. Mereka ngiranya kita ngomongin mereka. Dulu awal-awal sering Mereka tantrum sendiri, gitu kan. Jadi salah paham. Tapi kalau sekarang, alhamdulillah sih udah baik-baik. Mereka ngerti kalau misalnya kita lagi ngobrol kayak gini buat ngomongin Dulu awal-awal sih kayak gitu. Tapi mereka sensitif banget. Ay (Informan VA). Berdasarkan hasil observasi, santri senior dan santri junior yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah diwajibkan untuk tinggal di asrama. Dalam kesehariannya, santri senior dan santri junior mempunyai waktu yang tidak terbatas untuk saling berinteraksi satu sama lain. Hal menarik yang kami temukan, santri senior dan santri junior semuanya dapat berkomunikasi dengan lancar lintas angkatan meskipun dengan keterbatasan. Seperti keterangan para santriwati yang menempuh pendidikan jenjang SMA di Pondok Pesantren Tahfiz Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah. Nessa. Latifah. Poppy menjelaskan bahwa mereka sangat dekat satu sama lain seperti keterangan berikut: Auada, semuanya deket. Ay (Informan N. P). Santri SMP di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah juga memberi keterangan bahwa topik yang mereka diskusikan bermacam-macam ketika berinteraksi satu sama lain, seperti keterangan berikut: AuCerita macam-macam sama teman. Ay (Informan R). Informan R juga menambahkan bahwa dia menganggap para santriwati yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah merupakan saudara untuknya, seperti keterangan berikut: AuKita saudara, sahabat semua. Ay (Informan R). Santri senior dan santri senior ditinjau dari hubungan komunikasi antarpribadi yang terjalin antara keduanya, cenderung memilih teman dekat yang sepemahaman atau memiliki kesamaan dengan lainnya. AuSejauh ini sih nggak ada yang geng-gengan ya. Cuman mereka emang menyadar diri mungkin Jadi mereka ngobrolnya sama-sama yang ini aja gitu. Sama CS-nya. Tapi kalau misalnya lagi di musuhan kayak gini, bareng-bareng aja sih. Nggak ada yang ngerasa itu geng-geng. Mereka ngobrolnya sama bahasa isyarat. Ada tulis. Isyarat semua. Mereka yang belum bisa aja pas anak baru, ada yang bener-bener belum bisa isyarat kita ajarin. Pelan-pelan. Ay (Informan VA). Kualitas dan intensitas komunikasi antarpribadi antara santri senior dan santri junior di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. Ahmad Lutfi Fathullah dapat dijelaskan melalui teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead dengan konsep mind, self, dan society. Hambatan komunikasi yang muncul akibat latar belakang masa lalu, prasangka, maupun pengalaman perundungan mencerminkan bagaimana mind terbentuk dari pengalaman simbolik sebelumnya sehingga memengaruhi cara santri menafsirkan interaksi. Identitas diri . berkembang melalui proses saling belajar dan adaptasi, misalnya ketika santri baru dilatih menggunakan bahasa isyarat, memilih teman yang sepemahaman, serta menganggap teman sebagai saudara. Sementara itu, society terlihat dari aturan pesantren yang mewajibkan hidup bersama di asrama sehingga menciptakan intensitas interaksi tinggi, memperkuat rasa kebersamaan, serta menumbuhkan kedekatan emosional lintas angkatan. Dengan demikian, kualitas dan intensitas komunikasi antar santri tidak hanya dipengaruhi oleh keterampilan berbahasa, tetapi juga oleh dinamika pikiran, pembentukan identitas diri, dan struktur sosial pesantren yang membentuk hubungan interpersonal mereka. Pembahasan Komunikasi antarpribadi di lingkungan pesantren memiliki peranan yang sangat penting, terutama dalam konteks pembentukan karakter santri. Di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah di Jakarta Selatan, interaksi antara santri senior dan santri junior berkebutuhan khusus menjadi fokus utama untuk memahami dinamika komunikasi yang terjadi. Santri dengan kebutuhan khusus sering kali mengalami tantangan dalam berkomunikasi khususnya dalam pemahaman bahasa dan media yang digunakan untuk proses komunikasi. Para santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah di Jakarta Selatan merupakan anak berkebutuhan khusus yakni tunarungu yang memerlukan keterampilan khusus agar dapat berkomunikasi dengan santri lainnya. Para santri juga melibatkan bentuk komunikasi verbal dan non verbal dalam proses komunikasi antarpribadi yang dilakukan. Tantangan dalam komunikasi antarpribadi di pesantren ini mencakup perbedaan tingkat pemahaman dan keterampilan sosial antara santri senior dan junior. Santri junior berkebutuhan khusus mungkin memerlukan lebih banyak waktu dan perhatian dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi bagaimana santri senior dapat berfungsi sebagai mentor yang efektif, membantu junior mereka dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi. Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 Para santri menciptakan beragam simbol-simbol komunikasi baik dalam verbal maupun non verbal agar dapat berkomunikasi dengan santri lainnya. Hal ini jika dikorelasikan dengan Teori Interaksionisme Simbolik dapat dikategorikan menjadi konsep mind pikiran yang menurut pandangan Mead. Pikiran, yang didefinisikan Mead sebagai proses percakapan seseorang dengan dirinya sendiri, tidak ditemukan di dalam diri individu,pikiran adalah fenomena sosial. Pikiran muncul dan berkembang dalam proses sosial dan merupakan bagian integral dari proses sosial. Proses sosial mendahului pikiran, proses sosial bukanlah produk dari pikiran. Jadi pikiran juga didefinisikan secara fungsional ketimbang secara substantif (Aziz & Handoyo, 2. Dalam proses berpikir, individu berinteraksi dengan dirinya sendiri menggunakan simbolsimbol yang memiliki makna. Dalam proses ini, individu memilih respons terhadap berbagai stimulus yang diterimanya. Simbol, terutama simbol bahasa, digunakan dalam proses berpikir subjektif, yang nyata terjadi melalui percakapan internal. Secara tidak langsung, individu juga merujuk pada dirinya sendiri, mengenai identitasnya, yang terbentuk melalui reaksi orang lain terhadap perilakunya. Hasil dari proses ini adalah terbentuknya konsep diri, yang mencakup kesadaran diri yang terpusat pada diri individu sebagai objeknya. Santri senior dan santri junior menggunakan Bahasa isyarat yakni Bisindo untuk memudahkan komunikasi keduanya. Dilansir dari situs resmi Universitas Muhammadiyah Malang . Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) adalah salah satu bentuk bahasa isyarat yang dipakai oleh komunitas tuli untuk berkomunikasi. BISINDO merupakan bahasa isyarat yang sederhana dan mudah dipahami, serta sering digunakan oleh teman-teman tuli dalam interaksi sehari-hari mereka. Salah satu yang menjadi kendala bagi komunikasi yang terjalin karena kedua subjek belum tentu memiliki keterampilan untuk dapat berbahasa isyarat Bisindo. Oleh sebab itu, pondok pesantren memberikan pelajaran khusus untuk mempelajari Bahasa Isyarat Bisindo. Bahasa isyarat adalah bahasa yang digunakan oleh penyandang disabilitas khususnya oleh penyandang tuna rungu dan tuna wicara. Bahasa isyarat juga digunakan oleh siswa penyandang disabilitas untuk berkomunikasi di sekolah inklusi (Perdana et al. , 2022, p. Komunikasi antarpribadi yang dilakukan kedua subjek selain Bahasa isyarat juga menggunakan simbol nonverbal seperti yang telah peneliti jabarkan dalam hasil penelitian dengan menggunakan komunikasi seperi ekspresi atau mimik wajah yang dapat dikategorikan sebagai interaksi simbolik. Devito mengungkapkan, (Baralihan, 2015, pp. 7Ae. intensitas komunikasi antarpribadi antara individu dapat diukur melalui enam aspek, yaitu: frekuensi komunikasi, durasi komunikasi, perhatian yang diberikan selama komunikasi, keteraturan komunikasi, tingkat keluasan pesan, dan tingkat kedalaman pesan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa frekuensi dan durasi komunikasi antarpribadi yang dilakukan kedua subjek meskipun bertemu 24 jam karena berada di lingkungan yang sama, namun sangatlah minim, dikarenakan komunikasi yang dilakukan cenderung dengan santri yang memiliki pemahaman yang sama. Kedalaman dan keluasan pesan menjadi sangat minim karena faktor frekuensi dan durasi yang dilakukan. Hal tersebut bukan hanya berdampak kepada intensitas komunikasi melainkan semua unsur-unsur yang meliputi komunikasi antarpribadi yakni: proses, kualitas dan bentuk komunikasi antarpribadi. Aktivitas komunikasi antarpribadi yang dilakukan kedua subjek mengalami hambatan komunikasi karena tingkat keterampilan santri senior dan santri junior yang berbeda dalam menguasai Bahasa isyarat, dan cenderung merasa berprasangka buruk sebelum memulai proses komunikasi. Halhal tersebut kemudian diungkapkan dalam bentuk-bentuk komunikasi yang bersifat non verbal untuk menunjukan atensi. Proses komunikasi antarpribadi yang efektif jika terdapat proses yang menghubungkan suatu pengiriman dan penerimaan sebuah pesan, yakni (Trimardhany, 2021, p. Adanya keinginan berkomunikasi untuk berbagi gagasan dengan orang. Menurut hasil penelitian, kedua subjek cenderung memiliki keinginan berkomunikasi untuk berbagi gagasan terutama mengenai kehidupan sehari-hari yang mereka jalani dan hal-hal yang dipelajari di Pondok Pesantren. Namun hal tersebut tidak dapat berjalan maksimal karena kecurigaan kedua subjek Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 sebelum memulai proses komunikasi, durasi dan frekuensi komunikasi yang minim dikarenakan kedua subjek cenderung menyukai berkomunikasi dengan santri yang memiliki pemahaman yang sama. Proses encoding oleh komunikator adalah tindakan mengubah isi pikiran atau gagasan menjadi simbol-simbol, kata-kata, atau bentuk lainnya, sehingga komunikator merasa yakin dengan pesan yang disampaikan dan cara penyampaiannya. Santri senior dalam menyampaikan pesan selalu mengutamakan kesopanan dan agar tidak menyakiti perasaan santri junior. Karena seperti yang diketahui bahwa sebelum memulai proses komunikasi mereka memiliki rasa curiga satu sama lain, namun santri senior berusaha merangkul, menjadi mentor agar dapat menjadi teladan untuk santri junior dan meminimalisir pertikaian satu sama lain. Dalam proses pengiriman pesan, komunikator memilih saluran yang sesuai, seperti telepon, surat, atau tatap muka. Pilihan ini tergantung pada karakteristik pesan, lokasi penerima, media yang tersedia, kebutuhan akan kecepatan penyampaian pesan, serta karakteristik komunikan. Pengiriman pesan santri senior dan santri junior dilakukan secara tatap muka karena feedback yang diberikan lebih cepat dibandingkan media lainnya dan karena kedua subjek tinggal di pondok pesantren. Kedua subjek dalam menyampaikan pesan dengan menggunakan komunikasi non verbal karena keterbatasan. Selain itu, proses pengiriman pesan mendapat hambatan karena kedua subjek seringkali kesulitan berkomunikasi karena perbedaan kemampuan keterampilan bahasa isyarat. Keuntungan komunikasi secara tatap muka dimana melibatkan perilaku nonverbal, ekspresi fasial, jarak fisik, perilaku paralinguistik yang sangat menentukan jarak sosial dan keakraban. Penerimaan pesan berarti pesan yang dikirim oleh komunikator telah diterima oleh Komunikasi yang baik dan efektif apabila komunikator telah berhasil menyampaikan pesan yang dimaksud kepada komunikan. Penerimaan isi pesan seringkali mengalami kegagalan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya karena perbedaan kemampuan santri senior dan santri junior dalam menggunakan bahasa isyarat. Decoding merupakan proses memahami pesan. Melalui indera, penerima mendapatkan macam-macam data dalam bentuk mentah, berupa katakata atau simbol-simbol yang harus diubah kedalam pengalaman-pengalaman yang mengandung makna. Menurut hasil penelitian, isi pesan yang disampaikan mengalami proses pemaknaan yang berujung kegagalan dan muncul kesalahpahaman dikarenakan perbedaan kemampuan keterampilan santri senior dan santri junior dalam menggunakan bahasa isyarat, sehingga dalam prosesnya mengalami kesalahpahaman penerimaan arti pesan. Umpan balik yang diberikan keduanya sering kali tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan karena terdapat kegagalan dalam proses memahami pesan yakni perbedaan kemampuan keterampilan dalam menguasai bahasa isyarat santri senior dan santri junior. Konsep pertama dalam Teori Interaksi Simbolik yang diungkapkan Mead yakni Mind tak lepas dari proses komunikasi yang dilakukan kedua subjek. Proses berfikir tidak akan terjadi apabila kedua subjek tidak melakukan interaksi. Interaksi tersebut akan sampai ketika mereka mempelajari bahasa atau simbol-simbol lain berupa bentuk komunikasi verbal maupun nonverbal yang diatur dalam polapola untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaan dan dimiliki bersama. Dengan menggunakan bentuk-bentuk komunikasi tersebut maka kedua subjek dapat mengembangkan pemikiran dan menginternalisasi masyarakat. Melalui teori interaksi simbolik yang diungkapkan George Herbert Mead, proses komunikasi individu akan membentuk makna. Makna tidak bersifat intrinsik terhadap apapun. Dibutuhkan konstruksi interpretif dia antara orang-orang untuk menciptakan makna. Bahkan tujuan dari interaksi adalah untuk menciptakan makna yang sama. Komunikasi antar kedua subjek apabila ditinjau dari segi kualitas komunikasi akan memiliki fungsi dan tujuan yakni berusaha meningkatkan hubungan interpersonal, menghindari dan menyelesaikan konflik pribadi. Komunikasi antarpribadi dapat dikatakan berkualitas apabila memenuhi karakteristik yang disebutkan oleh DeVito (Rahmi, 2021, p. , yakni: Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 . Keterbukaan: Baik pengirim maupun penyampai pesan saling memahami individualitas masing-masing dan mengungkapkan gagasan-gagasan, bahkan permasalahan secara bebas dan terbuka tanpa ada rasa malu. Keterbukaan dianggap menjadi peran penting dalam komunikasi Kedalaman informasi akan semakin maksimal apabila antara komunikator dan komunikan saling terbuka, keterbukaan juga akan mengurangi kegagalan komunikasi dan semakin mengakrabkan hubungan pihak-pihak yang melakukan komunikasi. Meskipun dalam berkomunikasi tak jarang santri senior dan santri junior terlibat konflik, unsur keterbukaan tetap dilakukan oleh kedua subjek. Keterbukaan juga dapat meminimalisir konflik, dikarenakan pihak-pihak yang melakukan komunikasi saling mengetahui pribadi masing-masing. Keterbukaan santri senior kepada santri junior begitu juga sebaliknya terkait beragam hal yang mereka rasakan merupakan bentuk pemublikasian opini pribadi. Tujuan opini tersebut agar opini berkembang dan akhirnya diketahui semua pihak. Menurut hasil observasi, hal tersebut justru semakin mempererat hubungan antara kedua subjek sehingga menghilangkan kecurigaan. Rasa Positif: Jika percakapan antara komunikator dan komunikaton diterima dengan baik oleh kedua belah pihak, maka percakapan selanjutnya akan lebih mudah dan lancar. Rasa positif menyebabkan orang berkomunikasi tanpa prasangka dan keraguan yang menghalangi komunikasi. Rasa positif diterapkan kedua subjek ketika mereka telah menjalin proses komunikasi. Mereka selalu mengutamakan kesopanan, menghargai satu sama lain karena hal tersebut dia yakini akan membawa kenyamanan lawan bicaranya untuk berkomunikasi dengannya. Empati: Baik komunikator maupun penerima sama-sama menyadari situasi dan keadaan yang dialaminya tanpa berpura-pura dan menyikapi dengan penuh perhatian terhadap segala sesuatu yang dikomunikasikan. Empati adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain. Kedua subjek yakni santri senior dan santri senior meskipun dalam berkomunikasi tak luput dari konflik, namun keduanya memiliki empati satu sama lain karena memiliki persamaan yakni Santri senior juga berusaha semaksimal mungkin menjadi contoh yang baik dan memberikan nasihat kepada santri junior saat menjadi mentor. Ditinjau dari perspektif Teori Interaksi Simbolik, diri muncul dan berkembang melalui aktivitas dan hubungan sosial. Diri secara dialektis terhubung dengan pikiran. Diri adalah tempat dimana seseorang memberikan respon terhadap hal-hal yang ditujukan kepada orang lain dan dimana reaksi diri sendiri menjadi bagian dari tindakannya, dimana seseorang tidak hanya mendengarkan suaranya sendiri tetapi juga mendengarkan dirinya sendiri, bereaksi, berbicara pada diri sendiri berbicara dan menjawab dirinya sendiri selayaknya orang lain menjawab kepada dirinya. Dengan kata lain, ada tindakan dimana diri menjadi objek individu. Mekanisme umum untuk pengembangan diri adalah Untuk memiliki diri, individu harus mencapai kondisi "keluar dari dirinya sendiri" sehingga dapat mengevaluasi dan menjadikan dirinya objek bagi dirinya sendiri. Agar ini terjadi, individu harus menempatkan dirinya dalam perspektif yang setara dengan orang lain. Setiap orang merupakan bagian penting dari situasi yang dialami bersama, dan masing-masing harus memperhatikan dirinya sendiri agar dapat bertindak secara rasional. Dalam bertindak rasional, mereka berusaha untuk memeriksa diri secara objektif, impersonal, dan tanpa dipengaruhi oleh emosi. Self (Dir. The self atau diri, menurut Mead merupakan ciri khas dari manusia. Yang tidak dimiliki oleh binatang. Diri adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai sebuah objek dari perspektif yang berasal dari orang lain, atau masyarakat. Tapi diri juga merupakan kemampuan khusus sebagai subjek. Diri muncul dan berkembang melalui aktivitas interaksi sosial dan Bahasa (Hasbullah et al. , 2022, p. Poin ini membuka jalan bagi kedua subjek untuk berempati terhadap hal yang terjadi diantara keduanya. Kedua subjek akan sama-sama berfikir hal yang sama bahwa mereka merupakan santri yang sama-sama menuntut ilmu di pondok pesantren yang sama meskipun memiliki beragam perbedaan seperti perilaku, asal dan lama belajar di pondok pesantren tersebut. Santri senior ketika berkomunikasi dengan santri junior ditinjau dalam teori interaksi simbolik, yakni proses komunikasi yang menghasilkan penilaian terhadap diri sendiri. Tanpa adanya proses Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 interaksi sosial maka mereka tidak akan mengalami self awareness. Setelah proses komunikasi, mereka menganggap memiliki kesamaan, khususnya santri senior yang menjadi mentor merasakan empati dan berusaha mendekatkan diri kepada santri junior karena merasakan hal yang sama ketika pertama kali menuntut ilmu di pondok pesantren tersebut. Dukungan: Dukungan membantu seseorang untuk lebih bersemangat dalam menjalankan aktivitas serta meraih tujuan yang diharapkan. Santri senior memberikan bentuk dukungan dengan cara mencontohkan hal-hal baik kepada santri junior, memberikan nasihat. Kesamaan: Komunikasi dan jalinan pribadi akan menjadi semakin kuat apabila memiliki kesamaan tertentu antara komunikator dan komunikan dalam hal pandangan sikap, kesamaan ideologi dan lain sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian, santri senior dan santri junior cenderung lebih rutin berkomunikasi dengan para santri yang memiliki kesamaan tertentu seperti misalnya pola pikir, pendapat atau ketertarikan. Jika terdapat kesamaan pandangan, sikap, kesamaan ideologi, dan sebagainya antara komunikator dan komunikator, maka komunikasi akan semakin akrab dan ikatan personal semakin Konsep terakhir yang dikemukakan Mead yakni society menjelaskan bahwa norma-norma sosial yang ada di masyarakat membatasi perilaku individu. Society merupakan jejaring hubungan sosial yang diciptakan dan direspon oleh individu. Interaksi yang dilakukan individu terhadap society dilakukan dengan bagian penting masyarakat yaitu particular others . ereka yang dekat dengan individu seperti keluarga, teman dan koleg. dan generalized others . elompok sosial dan budaya secara keseluruha. Meskipun demikian, tiap individu pada akhirnya bebas memilih yang ada dalam sosial kemasyarakatannya (Ningrum & Rajiyem, 2023, p. Hal-hal yang penting mempengaruhi konsep mind dan self yakni particular others dan generalized others merupakan standar umum yang berlaku di suatu tempat yang ditinggali aktor yang melakukan interaksi sosial. Perspektif particular others menekankan kepada pemikiran santri senior dan santri junior mengenai diri sendiri yang diperoleh dari orang-orang terdekatnya seperti keluarga dan para santriwati lainnya. Identitas tersebut seringkali mempengaruhi perasaan akan penerimaan sosial dari diri mereka. Segi particular others memberikan rangsangan kepada kedua subjek bahwa mereka samasama saling membutuhkan karena berada di lingkungan yang sama. Oleh sebab itu mereka mengabaikan egonya dan berusaha menjalin hubungan harmonis satu sama lain. Salah satu hal yang dilakukan demi mencapai tujuan tersebut dengan melakukan komunikasi antarpribadi, meskipun pada awalnya mereka memiliki rasa curiga satu sama lain karena terdapat perbedaan pemikiran, namun setelah dijelaskan mereka memiliki hubungan yang harmonis satu sama lain. SIMPULAN Penelitian ini berfungsi untuk menjelaskan bagaimana komunikasi antarpribadi yang terjalin antara kedua subjek yakni santri senior dan santri junior berkebutuhan khusus Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah di Jakarta Selatan dalam studi fenomenologi. Berdasarkan penelitian, dapat disimpulkan bahwa dalam dinamika komunikasi yang terjalin antara kedua subyek terdapat beberapa upaya yang dilakukan untuk membangun hubungan harmonis diantara kedua subjek, yakni santri senior dan santri junior mengutamakan keterbukaan dalam proses komunikasi dan berusaha mengabaikan sifat curiga satu sama lain sebelum memulai proses komunikasi. Santri senior berusaha menjadi teladan yang baik ketika menjadi mentor untuk santri junior dan memberikan Komunikasi antarpribadi yang dilakukan santri senior dan santri junior dominan dilakukan dengan komunikasi non verbal yakni bahasa isyarat dan tulisan dikarenakan para santri di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. H Ahmad Lutfi Fathullah merupakan anak berkebutuhan khusus tunarungu. Meskipun demikian, guru-guru di pondok pesantren tersebut berusaha mengajarkan komunikasi total yakni komunikasi yang juga menggunakan bentuk verbal dengan suara. Dinamika Komunikasi Santri Senior dan Junior Berkebutuhan Khusus di Pondok Pesantren (Dian Asmita Aisyah. Kevin Kautsar. Achmad Harisman Rangkuti. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 339-356 Beberapa hambatan yang menyebabkan kegagalan untuk komunikasi diantara kedua subjek yakni rasa kecurigaan diantara keduanya sebelum memulai proses komunikasi, keterbatasan keterampilan dalam menggunakan bahasa isyarat dan keterbatasan menyusun pola kalimat dalam bentuk tulisan sesuai susunan kata Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi antarpribadi antara santri senior dan junior berkebutuhan khusus di Pondok Pesantren Tahfiz Difabel K. Ahmad Lutfi Fathullah dipengaruhi oleh keterampilan bahasa isyarat, pengalaman masa lalu, serta intensitas interaksi yang terjalin di lingkungan pesantren. Melalui perspektif interaksionisme simbolik . ind, self, societ. , terlihat bahwa pikiran dan pemaknaan santri terbentuk melalui simbol komunikasi, identitas diri berkembang melalui interaksi dan refleksivitas, sementara norma pesantren membentuk kerangka sosial yang mengatur pola komunikasi. Implikasi praktis penelitian ini adalah pentingnya pengembangan kurikulum komunikasi inklusif dan model mentoring seniorAejunior sebagai strategi memperkuat interaksi santri, sedangkan implikasi akademisnya memperluas kajian komunikasi antarpribadi dalam konteks pendidikan inklusi berbasis pesantren. DAFTAR PUSTAKA Adhypoetra. Putri. , & Citra. Pola Komunikasi Antarpribadi Pelatih Dan Siswa Dalam Membangun Motif Berolahraga Sepak Bola Usia Dini. Jurnal Pustaka Komunikasi, 2. , 118Ae130. Afifah. Komunikasi Simbolik Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Interaksi Sosial di Sekolah Alam Saka Karawang. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Arifah. Komunikasi Simbolik Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Interaksi Sosial di Sekolah Alam Saka Karawang. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Aziz. , & Handoyo. Interaksi simbolik anggota himpunan mahasiswa pecinta alam Universitas Negeri Surabaya. Paradigma, 5. , 27Ae34. https://media. com/media/publications/252881-none-389609c0. Baralihan. Hubungan Antara Intensitas Komunikasi Interpersonal. Repository Universitas Muhammadiyah Surakarta, 1. , 1Ae14. Elvinaro. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Simbosa Rekatama Media. Fakhiratunnisa. Pitaloka. , & Ningrum. Konsep Dasar Anak Berkebutuhan Khusus. Masaliq, 2. , 26Ae42. https://doi. org/10. 58578/masaliq. Hasbullah. Ahid. , & Sutrisno. Penerapan Teori Interaksi Simbolik dan Perubahan Sosial di Era Digital. At-Tahdzib: Jurnal Studi Islam Dan MuAoamalah, 10, 633Ae634. Kontributor Kementerian Agama Republik Indonesia. Pendidikan Inklusi bagi Pesantren. Kementerian Agama Republik Indonesia. https://kemenag. id/opini/pendidikan-inklusi-bagipesantren-onvxjt Lumbanrau. AuAku takut, mama tolong cepat jemputAy, santri di Kediri tewas diduga dianiaya - Mengapa terulang lagi kekerasan di pesantren? BBC News Indonesia. https://w. com/indonesia/articles/c0vjeq20d8po Maulidin. Komunikasi Interpersonal Antar Ustadz dan Santri dalam Menanamkan Nilai-nilai Akhlak Mulia di Pondok Pesantren Roudlatut Tholibin Kayen Kidul Kediri Jawa Timur [Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kedir. https://etheses. id/6418/ Nilamsari. Komunikasi Antarpribadi Orang Tua dan Guru Dalam Memahami Iklusi di TK Jasmien Jakarta Utara. Jurnal Pustaka