Jurnal Lantera Ilmiah Kesehatan Artikel https://doi. org/10. 52120/jlik. Evaluasi Radiografis Osteomielitis Pedis Dextra: Analisis Temuan Foto Polos di Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang Received: 8 Desember 2025 Danda Wibowo1*. Harry Wahyudhy2. Zanariah3 Accepted: 15 Desember 2025 Publish online: 30 Juni 2026 Abstrak Osteomielitis merupakan infeksi tulang yang dapat menyebabkan kerusakan struktur tulang dan gangguan fungsi ekstremitas, sehingga memerlukan diagnosis yang cepat dan akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi temuan radiologis foto polos Pedis dextra pada pasien dengan Osteomielitis di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang. Penelitian menggunakan desain deskriptif observasional tanpa pendekatan kualitatif khusus, dengan total sampel tiga pasien yang memenuhi kriteria inklusi pada periode Januari 2024 hingga Desember 2025. Data diperoleh melalui studi dokumentasi hasil radiografi menggunakan proyeksi anteroposterior (AP), oblique, dan lateral berbasis Computed Radiography (CR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh pasien . %) memperlihatkan destruksi tulang, penurunan densitas tulang, serta pembengkakan jaringan Lesi litik ditemukan pada satu pasien . %), sedangkan reaksi periosteal dan tanda gangren jaringan lunak tampak pada seluruh sampel. Temuan ini menunjukkan pola kerusakan tulang yang konsisten pada Osteomielitis pedis, terutama pada metatarsal dan Foto polos terbukti tetap memiliki nilai diagnostik dalam mengidentifikasi perubahan struktural, meskipun sensitivitasnya terbatas pada fase awal infeksi. Penelitian ini menegaskan pentingnya evaluasi sistematis radiografi pedis dalam mendeteksi perubahan morfologi tulang, serta menyoroti peran kualitas teknik pemeriksaan dalam menentukan ketepatan interpretasi. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa foto polos Pedis dextra merupakan modalitas awal yang efektif dan mudah diakses untuk menilai karakteristik radiologis Osteomielitis, sehingga layak digunakan dalam penapisan awal sebelum pemeriksaan lanjutan Kata kunci: Osteomielitis. Pedis dextra. Radiografi. X-ray Abstract Osteomyelitis is a bone infection that can lead to progressive structural damage and functional impairment of the extremities, requiring rapid and accurate diagnostic evaluation. This study aimed to assess the radiological findings of plain radiographs of the right foot in patients with osteomyelitis at the Radiology Department of Siloam Sriwijaya Hospital. Palembang. descriptive observational design without a specific qualitative analytical approach was used, involving three patients who met the inclusion criteria between January 2024 and December Data were obtained through documentation of radiographic images using anteroposterior (AP), oblique, and lateral projections performed with Computed Radiography (CR). The results showed that all patients . %) demonstrated bone destruction, decreased bone density, and soft tissue swelling. Lytic lesions were identified in one patient . %), while periosteal reaction and signs of soft tissue gangrene were observed in all cases. These findings indicate a consistent pattern of bone involvement in osteomyelitis of the foot, particularly affecting the metatarsals and phalanges. Although plain radiography has limited sensitivity in the early stages of infection, it remains valuable for detecting structural changes associated with osteomyelitis. This study highlights the importance of systematic radiographic evaluation in identifying morphological alterations of the bone and emphasizes that image quality is strongly influenced by proper examination techniques and patient positioning. The findings conclude that plain radiographs of the right foot serve as an effective and accessible initial imaging modality for evaluating radiological characteristics of osteomyelitis prior to advanced imaging examinations. Key words: Osteomyelitis. Radiography. Right foot. X-ray 1,2,3 Program Studi Di Teknik Rontgen. Fakultas Kesehatan. Universitas Kader Bangsa Palembang Koresponden: Danda Wibowo . e-mail: dandawibowo09@gmail. JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 4 NO. Artikel Evaluasi Radiografis Osteomielitis Pedis Dextra: Analisis Temuan a PENDAHULUAN Osteomielitis merupakan infeksi pada tulang yang ditandai oleh peradangan progresif, kerusakan korteks, dan gangguan fungsi ekstremitas (Kremers et al. , 2. Infeksi ini umumnya disebabkan oleh bakteri piogenik dan dapat berkembang menjadi fase akut atau kronis apabila tidak ditangani secara adekuat. Secara global, osteomielitis masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan, terutama di negara berkembang yang memiliki keterbatasan fasilitas Di Indonesia, kasus osteomielitis pada ekstremitas bawah, termasuk tulang pedis, banyak ditemukan pada pasien usia lanjut dan penderita diabetes mellitus, yang sering datang dalam kondisi lanjut akibat keterlambatan diagnosis (Sjahriar, 2. Radiografi konvensional masih menjadi modalitas awal yang paling umum digunakan dalam mendiagnosis osteomielitis karena mudah diakses, ekonomis, serta mampu memperlihatkan perubahan anatomi seperti destruksi korteks, osteolisis, reaksi periosteal, sklerosis, dan keterlibatan jaringan lunak (Lampignano & Kendrick, 2. Pedoman klinis internasional menegaskan bahwa radiografi harus digunakan sebagai pemeriksaan lini pertama, namun perlu segera dilanjutkan dengan modalitas lanjutan seperti MRI atau CT bila gambaran tidak khas atau diperlukan pemetaan lesi yang lebih detail untuk perencanaan terapi (Lipsky et al. , 2. Penelitian terdahulu oleh Tuon et al. , . yang melibatkan 60 pasien osteomielitis kronis menunjukkan prevalensi tinggi temuan radiografis berupa bone destruction . %), sklerosis . %), cortical irregularities . %), dan soft tissue swelling . %). Temuan ini menegaskan bahwa radiografi tetap relevan dalam identifikasi perubahan morfologi tulang, terutama pada fase lanjutan penyakit meskipun sensitivitasnya terbatas pada fase awal. Area pedis memiliki struktur tulang yang kecil dan saling berdekatan, sehingga interpretasi radiografi membutuhkan teknik proyeksi yang tepat serta kualitas citra yang baik. Faktor seperti posisi pasien, pemilihan proyeksi, dan parameter radiograf dalam menunjukkan kelainan tulang (Lampignano & Kendrick, 2. JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 4 NO. Namun, hingga saat ini belum terdapat laporan ilmiah yang secara spesifik mengevaluasi temuan radiologi foto polos pedis pada kasus osteomielitis di Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang, padahal rumah sakit ini merupakan salah satu pusat rujukan penyakit infeksi tulang dengan jumlah kasus yang meningkat setiap Ketiadaan menyebabkan belum adanya gambaran pola kerusakan tulang yang dominan dan variabilitas temuan radiografis pada populasi pasien di rumah sakit tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi secara sistematis temuan radiologis foto polos pedis dextra pada pasien osteomielitis, sehingga mampu memberikan berdasarkan data klinis lokal. Hasil penelitian diagnosis, memperbaiki kualitas pelayanan radiologi, serta menjadi data awal bagi penelitian lanjutan di bidang radiologi muskuloskeletal. METODE PENELITIAN Penelitian observasional deskriptif untuk mengevaluasi temuan radiologis pada foto polos pedis dextra pasien osteomielitis. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang selama periode Januari 2024 hingga Desember 2025, bersamaan dengan kegiatan praktik kerja lapangan peneliti selama satu bulan. Populasi penelitian meliputi seluruh pasien yang didiagnosis osteomielitis dan menjalani pemeriksaan radiografi pedis di instalasi tersebut. Sampel penelitian diperoleh dengan teknik total sampling sebanyak tiga pasien. Jumlah sampel yang kecil disebabkan oleh terbatasnya jumlah kasus osteomielitis pedis yang datang selama periode pengumpulan data, sehingga seluruh diikutsertakan dalam penelitian. Kriteria inklusi osteomielitis berdasarkan data klinis. memiliki hasil radiografi pedis lengkap . nteroposterior (AP), oblique, latera. memiliki rekam medis yang dapat diakses. Data dokumentasi hasil foto polos pedis dextra. Artikel Evaluasi Radiografis Osteomielitis Pedis Dextra: Analisis Temuan a penelaahan rekam medis pasien, observasi prosedur pemeriksaan di ruang radiografi, serta wawancara singkat dengan radiografer mengenai teknik pemeriksaan. Pemeriksaan radiografi dilakukan menggunakan Computed Radiography (CR) dengan standar teknik pemeriksaan pedis, yaitu menggunakan Source to Image Distance (SID) 100Ae110 cm, tanpa grid, dan faktor eksposi rata-rata 50Ae60 kVp dan 3Ae5 mAs, disesuaikan dengan ketebalan anatomis. Posisi pasien disesuaikan untuk masing-masing proyeksi: proyeksi anteroposterior (AP) dengan dorsum . proyeksi oblique dengan rotasi internal 30Ae 45A, . proyeksi lateral dengan posisi kenyamanan pasien. Interpretasi citra radiografis dilakukan oleh dua observer, yaitu peneliti dan seorang radiolog berpengalaman minimal lima tahun dalam bidang radiologi muskuloskeletal. Penilaian dilakukan berdasarkan karakteristik temuan osteomielitis, meliputi osteolisis, destruksi korteks, reaksi periosteal, sklerosis, pembentukan sequestrum, serta pembengkakan jaringan lunak. Setiap temuan dicatat dalam lembar checklist khusus. Perbedaan pendapat antara observer diselesaikan melalui diskusi bersama untuk mencapai consensus . nterobserver agreemen. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan mengelompokkan temuan radiologis berdasarkan jenis kelainan tulang dan jaringan Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan narasi untuk memberikan gambaran yang radiologis osteomielitis pada foto polos pedis HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Karakteristik responden pada penelitian ini disajikan untuk menggambarkan profil dasar pasien yang menjadi subjek penelitian, meliputi usia dan jenis kelamin. Penyajian data karakteristik ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal mengenai kelompok pasien yang mengalami osteomielitis pedis serta membantu memahami faktor demografis yang berpotensi JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 4 NO. berhubungan dengan kejadian infeksi tulang pada area pedis. Data karakteristik disusun dalam bentuk tabel untuk memudahkan interpretasi dan perbandingan antar subjek penelitian. Tabel 1 Distribusi Karakteristik Pasien No Inisial Pasien Umur . Jenis Kelamin Ny. Perempuan Bpk. Laki-laki Ny. Perempuan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien terbanyak berada pada kelompok usia lanjut (>50 tahu. , yaitu 3 pasien . %). Hal ini menunjukkan bahwa kasus Osteomielitis pedis lebih sering ditemukan pada usia lanjut, terutama pada pasien dengan penyakit penyerta seperti diabetes mellitus. Hasil Radiologis Foto Polos Pedis Pemeriksaan radiografi pedis dextra dilakukan melalui proyeksi AP, oblique, dan lateral . , serta AP dan oblique . asien 2 dan . Evaluasi radiografis difokuskan pada analisis lesi secara profesional yang mencakup lokasi kelainan, karakter destruksi tulang, margin lesi, keterlibatan korteks, perubahan densitas tulang, kemungkinan periosteal reaction, serta gambaran jaringan lunak. Secara umum, seluruh pasien menunjukkan pola osteolisis dan soft tissue swelling, meskipun tingkat keparahan kerusakan dan lokasi keterlibatan bervariasi. Hasil Radiologis Pasien 1 Pada pasien perempuan berusia 55 tahun dengan diagnosis klinis gangren pedis dextra Osteomielitis, pemeriksaan radiografi dilakukan melalui tiga proyeksi, yaitu AP, oblique, dan Artikel Evaluasi Radiografis Osteomielitis Pedis Dextra: Analisis Temuan a Gambar 1. Hasil Proyeksi AP Pasien 1 (Sumber data: Data Primer, 2. Pada pasien perempuan usia 55 tahun, radiografi menunjukkan destruksi tulang luas pada diafisis distal metatarsal iAeV. Lesi tampak sebagai area osteolisis dengan margin ill-defined, mengindikasikan proses infeksi aktif. Keterlibatan korteks terlihat berupa cortical break pada basis phalanx proksimal digiti IVAeV, menunjukkan Densitas keseluruhan menurun dengan gambaran disuse Tidak tampak periosteal reaction, menandakan proses infeksi lebih dominan pada bagian intrameduler dan korteks internal. Pada jaringan lunak terlihat soft tissue swelling signifikan dengan diskontinuitas jaringan plantar, sesuai dengan gambaran gangren. Secara keseluruhan, pola kerusakan mengarah pada osteomielitis kronik disertai gangren jaringan lunak . Lidrian Arifan Darma. Sp. Ra. Hasil Radiologis Pasien 2 Pasien laki-laki berusia 63 tahun dengan diagnosis klinis selulitis pedis dextra menjalani pemeriksaan radiografi pedis melalui proyeksi AP dan oblique. Gambar 2. Hasil Proyeksi Oblique Pasien 1 (Sumber data: Data Primer, 2. Gambar 4. Hasil Proyeksi AP Pasien 2 (Sumber data: Data Primer, 2. Gambar 3. Hasil Proyeksi Lateral Pasien 1 (Sumber data: Data Primer, 2. JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 4 NO. Artikel Evaluasi Radiografis Osteomielitis Pedis Dextra: Analisis Temuan a Gambar 5. Hasil Proyeksi Oblique Pasien 2 (Sumber data: Data Primer, 2. Gambar 7. Hasil Proyeksi Oblique Pasien 3 (Sumber data: Data Primer, 2. Pada pasien laki-laki usia 63 tahun, lesi litik tampak multipel pada kepala metatarsal IAei dan basis phalanx digiti IAeII. Lesi tampak osteolisis dengan margin tidak tegas . ll-define. yang menunjukkan destruksi tulang aktif. Terlihat pula penurunan densitas tulang lokal sebagai tanda osteoporosis regional. Keterlibatan korteks tampak sebagai penipisan dan erosi ringan, meskipun tanpa adanya periosteal reaction. Soft tissue swelling disertai bayangan radiolusen pada subkutis mengindikasikan infeksi jaringan lunak atau abses kecil. Gambaran ini mendukung diagnosis osteomielitis akut dengan komplikasi gangren jaringan lunak . RM Faisal. Sp. Rad (K)). Pada pasien perempuan usia 72 tahun, radiografi pedis menunjukkan soft tissue swelling luas dengan area radiolusen pada aspek plantar, konsisten dengan infeksi jaringan lunak aktif. Kerusakan tulang tampak sebagai cortical destruction pada aspek posteroinferior calcaneus dengan margin lesi tidak tegas, mengindikasikan proses infeksi progresif. Densitas tulang secara menyeluruh menurun, sesuai dengan osteopenia Tidak ditemukan periosteal reaction yang Secara keseluruhan, pola radiografis mendukung adanya osteomielitis akut pada calcaneus yang disertai gangren jaringan lunak . Erika Apriyani. Sp. Rad (K)). Hasil Radiologis Pasien 3 Pasien perempuan berusia 72 tahun dengan riwayat tindakan nekrotomi dan debridement menjalani pemeriksaan radiografi pedis dextra melalui proyeksi AP dan oblique. Hasil Wawancara Radiografer Wawancara dengan dua radiografer menunjukkan bahwa proyeksi yang paling sering digunakan untuk evaluasi dugaan osteomielitis pedis adalah AP dan oblique, sementara proyeksi lateral kurang optimal bila pasien mengalami nyeri atau tidak kooperatif. Gambaran yang sering ditemukan pada pemeriksaan klinis mencakup destruksi tulang metatarsal, perubahan densitas, serta pembengkakan jaringan lunak. Parameter teknik yang digunakan umumnya berada pada kisaran 50Ae60 kV dan 4,5Ae6,5 mAs. Radiografer menekankan bahwa kualitas citra sangat mempengaruhi kemampuan radiolog dalam mengidentifikasi margin lesi, keterlibatan korteks, dan tanda infeksi jaringan lunak. Gambar 6. Hasil Proyeksi AP Pasien 3 (Sumber data: Data Primer, 2. JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 4 NO. Artikel Evaluasi Radiografis Osteomielitis Pedis Dextra: Analisis Temuan a Rangkuman Temuan Radiologis Rangkuman menunjukkan bahwa seluruh sampel memiliki pola kerusakan tulang dan jaringan lunak yang konsisten, yaitu destruksi tulang, soft tissue swelling, penurunan densitas tulang, dan gangren jaringan lunak. Lesi litik hanya tampak pada satu pasien, menegaskan bahwa osteolisis tidak selalu hadir pada setiap kasus osteomielitis. Variasi mengindikasikan bahwa tingkat progresivitas infeksi sangat dipengaruhi oleh faktor predisposisi pasien, seperti kondisi vaskular, status imun, serta lamanya infeksi sebelum pemeriksaan radiologi. Tabel 2 Rangkuman Temuan Radiologis Temuan Sampel Sampel Sampel 1 Radiologi Destruksi Ada Ada Ada Lesi litik Tidak Ada Ada Tidak Ada Soft tissue Ada Ada Ada Penurunan Ada Ada Ada densitas tulang Gangren Ada Ada Ada jaringan lunak Analisis komparatif menunjukkan bahwa pasien 1 mengalami destruksi tulang yang paling luas dengan keterlibatan multipel metatarsal dan phalanx, menandakan progresivitas infeksi lebih tinggi, kemungkinan terkait diabetes mellitus yang Pasien 2 menunjukkan lesi litik multipel mencerminkan fase infeksi yang lebih akut. Pasien 3 memperlihatkan destruksi terlokalisasi pada calcaneus, namun dengan soft tissue swelling paling masif, menggambarkan infeksi jaringan lunak yang lebih dominan. Perbedaan ini menunjukkan variabilitas manifestasi osteomielitis pada pedis, meskipun pola umum berupa osteolisis, penurunan densitas, dan gangren tetap konsisten pada seluruh sampel. Pembahasan Temuan radiografis pada ketiga sampel menunjukkan pola dominan berupa destruksi tulang, penurunan densitas, dan pembengkakan JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 4 NO. jaringan lunak, yaitu suatu gambaran yang konsisten dengan karakteristik osteomielitis sebagaimana dilaporkan dalam literatur radiologi muskuloskeletal modern. Variasi manifestasi antar pasien, seperti destruksi multipel pada pasien 1, lesi litik pada pasien 2, dan keterlibatan calcaneus pada pasien 3, sangat mungkin berkaitan dengan perbedaan fase penyakit dan faktor predisposisi klinis, terutama diabetes mellitus yang diketahui meningkatkan risiko penyebaran infeksi serta mempercepat progresivitas kerusakan osseus (Woo et al. , 2. Radiografi polos secara klasik mampu menampilkan temuan khas osteomielitis kronik seperti sequestrum, sklerosis, dan destruksi namun perubahan osseus tersebut umumnya baru muncul setelah 10Ae14 hari sejak infeksi awal, sehingga sensitivitas radiografi konvensional relatif rendah pada fase akut (Lee et , 2. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa sampel tidak menunjukkan lesi litik meskipun infeksi secara klinis telah terkonfirmasi. Pada kasus dengan lesi litik multipel seperti pasien 2, pola osteolisis dengan margin tidak tegas lebih mencerminkan fase akutAesubakut dengan dominasi resorpsi tulang. Sebaliknya, gambaran disuse porotic dan kerusakan kortikal luas pada pasien 1 menunjukkan perjalanan penyakit yang lebih kronik, konsisten dengan mekanisme menyebabkan destruksi korteks dan gangguan remodeling (Hassan et al. , 2. Sementara itu, keterlibatan calcaneus pada pasien 3 dapat dikaitkan dengan riwayat debridement dan tekanan plantar, di mana calcaneal osteomyelitis lazim memperlihatkan perubahan jaringan lunak yang lebih dominan (Lauri et al. , 2. sehingga penilaian radiologis harus selalu dikorelasikan dengan kondisi klinis. Keterbatasan radiografi polos merupakan aspek penting dalam interpretasi. Sejumlah ulasan sistematik melaporkan sensitivitas film polos berkisar 43Ae75%, sehingga ketidakhadiran temuan radiografis tidak dapat mengeksklusi osteomielitis dini. Modalitas cross-sectional seperti MRI menawarkan sensitivitas dan spesifisitas yang jauh lebih tinggi untuk mendeteksi edema sumsum tulang, abses jaringan lunak, dan perluasan infeksi pada tahap awal. MRI dianjurkan ketika radiografi menunjukkan Artikel Evaluasi Radiografis Osteomielitis Pedis Dextra: Analisis Temuan a gambaran tidak khas atau ketika diperlukan delineasi lesi sebelum tindakan operatif (Tuon et , 2. CT dapat memberikan keuntungan dalam visualisasi detail kortikal, termasuk identifikasi sequestrum dan erosi tulang, sedangkan modalitas nuklir seperti SPECT/PET dapat menilai aktivitas metabolik infeksi (Perera et , 2. Meskipun demikian, pemilihan modalitas harus mempertimbangkan ketersediaan fasilitas, kondisi klinis pasien, dan kebutuhan Aspek teknis pemeriksaan radiografi juga turut menentukan kualitas citra dan ketepatan Faktor seperti posisi pasien, variasi angulasi beam (AP vs obliqu. , jarak fokusAefilm, dan parameter eksposur . Vp dan mA. ketajaman kortikal, dan visibilitas margin lesi. Standardisasi protokol pemeriksaan pedis serta peningkatan kompetensi radiografer sangat penting untuk meminimalkan distorsi posisi dan mengurangi artefak yang dapat menutupi tanda radiologis infeksi (Hassan et al. , 2. Hal ini diperkuat oleh wawancara dengan radiografer yang menyoroti bahwa kualitas posisi dan parameter eksposi sering kali menentukan kemampuan radiolog dalam mengidentifikasi keterlibatan korteks dan jaringan lunak. Meskipun memiliki keterbatasan, radiografi polos tetap menjadi modalitas awal yang praktis dan ekonomis dalam evaluasi osteomielitis, terutama di fasilitas rujukan dengan sumber daya Pooled sensitivity radiografi yang dilaporkan sekitar 70% (CI 61. 6Ae77. 8%) masih menempatkan modalitas ini sebagai alat skrining yang penting sebelum pemeriksaan lanjutan (Liewellyn et al. , 2. Studi ini memberikan kontribusi dengan mendokumentasikan temuan radiografis osteomielitis pada populasi lokal RS Siloam Sriwijaya secara sistematis, meskipun keterbatasan seperti jumlah sampel kecil dan ketiadaan gold-standard . iopsi/MRI untuk semua kasu. perlu dipertimbangkan dalam generalisasi temuan (Tuon et al. , 2. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sensitivitas MRI untuk osteomielitis dapat mencapai 95%, tetapi spesifisitasnya dapat menurun pada kondisi ulkus kronik, sehingga interpretasi tetap memerlukan korelasi ketat dengan data klinis dan mikrobiologi (Mishra et al. JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 4 NO. Mengingat bahwa perubahan radiografis baru mulai tampak setelah 7Ae15 hari infeksi tulang, radiografi polos pada fase awal dapat menghasilkan falseAanegative. oleh sebab itu, hasil foto polos yang normal tidak dapat menyingkirkan osteomielitis dini dan harus ditindaklanjuti berdasar kecurigaan klinis (Foti et al. , 2023. Smith et al. , 2. Dengan demikian, rekomendasi praktis dari penelitian ini meliputi: . penggunaan radiografi polos sebagai pemeriksaan awal diikuti MRI/CT bila gambaran tidak konklusif, . standardisasi protokol radiografi pedis termasuk proyeksi dan parameter eksposur, serta . perlunya penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar dan verifikasi diagnostik untuk memperkuat data karakteristik osteomielitis pedis pada populasi lokal (Labiste et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, foto polos menunjukkan pola radiologis yang konsisten, terutama berupa destruksi tulang, penurunan densitas, dan pembengkakan jaringan lunak. Pemeriksaan radiografi konvensional terbukti berperan sebagai modalitas awal yang efektif karena mudah diakses dan ekonomis, meskipun sensitivitasnya terbatas pada fase awal infeksi. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya ketepatan teknik pemeriksaan dan posisi pasien untuk menghasilkan citra diagnostik yang optimal. Untuk kasus yang menunjukkan gambaran tidak penggunaan modalitas lanjutan seperti MRI atau CT scan serta perlunya standardisasi protokol radiografi pedis guna meningkatkan akurasi diagnosis dan kualitas pelayanan radiologi. DAFTAR PUSTAKA