Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 5. No 2. Juli 2024 PERAYAAN 507 TAHUN REFORMASI ADALAH KAIROS BAGI PENINGKATAN PEMBARUAN GEREJA DAN UMAT ALLAH DALAM PIKIRAN. PERKATAAN. DAN PERBUATAN 0KTOBER 1575 Ae 31 OKTOBER 2. AuI cannot and I will not recant anything, for to go against conscience is neither right nor safe. Here I stand. I cannot do otherwise. God help me. AmenAy (Martin Luther, dalam Roland Bainton. Here I Stand: Martin Luther, 1978, hlm. ii & . Anthon Rumbewas STFT GKI I. S Kijne Jayapura Anthonrumbewas21@gmail. ABSTRAK Perayaan 507 tahun Reformasi . merupakan momen penting bagi gereja dan umat Allah untuk merenungkan, menghidupi, dan memperbaharui diri dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther pada tahun 1517 membawa perubahan signifikan dalam sejarah gereja dan terus relevan hingga saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana peringatan Reformasi dapat menjadi kairos, atau momen yang tepat, untuk mendorong pembaruan spiritual dan institusional di kalangan gereja dan umat Allah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi studi teologis. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen dari berbagai sumber buku dan sejarah gereja yang memperingati Reformasi ke-507. Artikel ini berfokus pada aspek-aspek pembaruan yang terjadi dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan jemaat dan pemimpin gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peringatan Reformasi ke-507 membawa dampak positif dalam kehidupan gereja dan umat Allah. Banyak jemaat yang mengalami pembaruan dalam cara berpikir mereka mengenai teologi, misi, dan Dalam perkataan, terlihat peningkatan dalam penyampaian khotbah dan pengajaran yang lebih relevan dan kontekstual. Perbuatan nyata dalam bentuk pelayanan sosial dan misi juga meningkat, menunjukkan komitmen gereja untuk menjadi agen perubahan di masyarakat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perayaan 507 tahun Reformasi benar-benar merupakan kairos bagi gereja dan umat Allah untuk memperbaharui diri. Pembaruan ini bukan hanya sekedar peringatan historis, tetapi juga momen untuk menghidupi nilai-nilai Reformasi dalam setiap aspek kehidupan gerejawi dan bermasyarakat. Kata Kunci: Reformasi. Gereja. Martin Luther. Cermin. Jendela. Teologi Sistematika ABSTRACT The 507th anniversary of the Reformation . is an important moment for the church and people of God to reflect, live, and renew themselves in thought, word, and deed. The Reformation pioneered by Martin Luther in 1517 brought significant changes in church history and continues to be relevant today. The purpose of this study is to explore how the anniversary of the Reformation can be a kairos, or opportune moment, to foster spiritual and institutional renewal among the church and people of God. The research method used is qualitative with a theological study approach. Data was collected through document analysis from various source books and church histories commemorating the 507th Reformation. This article focuses on the aspects of renewal that occurred in the thoughts, words, and deeds of the congregation and church leaders. The results show that the commemoration of the 507th Reformation had a positive impact on the life of the church and God's people. Many congregations experienced renewal in their way of thinking about theology, mission, and ministry. In speech, there has been an increase in the delivery of sermons and teaching that are more relevant and contextualised. Actual deeds in the form of social services and missions have also increased, showing the church's commitment to be an agent of change in The conclusion of this study is that the 507th anniversary of the Reformation is truly a kairos for the church and people of God to renew themselves. This renewal is not just a historical commemoration, but also a moment to live the values of the Reformation in every aspect of ecclesial and social life. Keywords: Reformation. Church. Martin Luther. Mirror. Window. Systematic Theology PENDAHULUAN Artikel ini bertujuan untuk menelaah pentingnya perayaan 507 tahun Reformasi sebagai momen krusial . dalam memperbarui gereja dan umat Allah dalam pemikiran, perkataan dan perbuatan. Reformasi Gereja yang dimulai oleh Martin Luther pada tahun 1517 merupakan fakta historis yang signifikan, bukan hanya bagi sejarah gereja tetapi juga bagi seluruh umat Kristiani. Mengingat kembali peristiwa ini tidak hanya sekedar memperingati masa lalu, tetapi juga untuk menafsirkan dan menerapkan kembali cita-cita serta tujuan reformasi dalam konteks tugas dan panggilan misi gereja di masa kini. Dengan demikian penelitian ini tidak hanya penting secara akademis, tetapi juga praktis dalam rangka memperbaharui spiritualitas dan kehidupan berjemaat. Pentingnya Artikel ini terletak pada upaya untuk memahami dan menghidupkan kembali nilai-nilai reformasi yang telah diperjuangkan oleh Martin Luther. Pendekatan ini membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana sejarah dapat dimaknai dan diterapkan dalam konteks modern. Dalam hal ini, artikel ini berupaya untuk melihat reformasi sebagai cermin dan jendela. Sebagai cermin, peristiwa reformasi membantu kita merefleksikan diri, memahami identitas kita, dan menghindari kecenderungan untuk mendewakan sejarah atau tokoh tertentu. Sebaliknya, sebagai jendela, reformasi membuka pandangan kita untuk melihat ke depan, memfokuskan perhatian pada maksud Allah bagi misi gereja di masa kini dan masa yang akan datang. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengkaji bagaimana nilai-nilai reformasi dapat diterapkan dalam kehidupan gereja dan umat Allah saat ini. Dengan menjadikan reformasi sebagai jendela, kita dapat belajar dari tindakan Allah dalam sejarah untuk melihat dan merespon tantangan dan peluang yang ada di depan Penelitian ini juga akan mengidentifikasi bagaimana gereja dapat berperan lebih efektif dalam tugas panggilan misinya dengan menerapkan prinsip-prinsip reformasi dalam konteks modern. Oleh karena itu, penelitian ini berkontribusi dalam menjembatani antara warisan teologis masa lalu dan praktik misi gereja di masa kini. Dengan demikian, perayaan 507 tahun Reformasi bukan hanya sekedar peringatan historis, tetapi juga sebagai kairos untuk memperbarui komitmen gereja dan umat Allah dalam menghidupi nilai-nilai reformasi. Hal ini menjadi relevan dalam upaya mengatasi tantangan zaman yang terus berubah dan menuntut gereja untuk tetap relevan dan berdaya guna dalam misinya. Penelitian ini, dengan fokus pada pemaknaan dan penerapan nilai-nilai reformasi, diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam memperbaharui kehidupan berjemaat dan memperkuat misi gereja dalam konteks masa kini. METODE PENELITIAN Kajian ini merupakan studi perkembangan dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Yang dimaksud adalah mendeskriptifkan suatu keadaan saja, tetapi juga mendiskriptifkan keadaan dalam tahapantahapan perkembangannya. Dalam kajian ini yang dikaji adalah perubahan-perubahan atau kemajuankemajuan yang dicapai seseorang, suatu organisme, lembaga, organisasi ataupun kelompok masyarakat Selain studi perkembangan yang dikemukakan di atas, kajian ini merupakan pula studi kepustakaan. Pendekatan ini merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian. Untuk mengidentifikasikan diperlukan studi kepustakaan berkenan dengan hasil penelitian terdahulu serta dokumen-dokumen berkenan dengan data atau informasi. Berkenan dengan studi perkembangan dan studi pustaka, maka yang dilakukan adalah mengkaji secara historis, tetapi juga mengamati sejauhmana perkembangan reformasi dan maknanya sudah dijadikan sebuah gerakan pembaruan ajaran, teologi, dan historis, atau tidak. Sejalan dengan hal ini, informasi utama sejarah perkembangan reformasi yang dijadikan dasar tulisan ini adalah buku-buku yang mendokumentasikan sejarah perkembangan reformasi Luther. HASIL DAN PEMBAHASAN MENGAPA REFORMASI PENTING BAGI GEREJA DI MASA KINI? Sebagai peristiwa historis yang bermakna, hari reformasi gereja yang dipelopori Martin Luther 31 Oktober 1517 dan yang kita rayakan usianya yang ke-507 tahun pada 31 Oktober 2024 bukanlah perayaan untuk bernostalgia ke masa lampau, bukan pula dirayakan sebagai tradisi yang telah membudaya dalam sistem bergereja atau cara pandang yang sekular. 1 Sebaliknya, reformasi gereja sebagai fakta historis yang berusia 507 tahun hendak menjelaskan kepada kita tentang kejadian dan peristiwa yang terjadi di masa lampau. Itu berarti yang perlu bagi kita di saat ini adalah bagaimana menafsirkan, memaknai, menerapkan dan menghidupkan kembali cita-cita serta tujuan reformasi Luther dalam tugas panggilan misi gereja di masa kini sesuai kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam konteks tiap-tiap hari. Dalam rangka memaknai proses sejarah 507 tahun reformasi gereja yang terus berjalan maju, maka ada dua pendekatan yang seharusnya kita ketahui, yaitu bagaimana seharusnya kita melihat sejarah dan memaknai masa lampau bagi kita di masakini. Pendekatan pertama, kita melihat sejarah sebagai cermin, dan pendekatan kedua kita melihat sejarah sebagai jendela. Jika hari ini kita melihat sejarah 507 tahun reformasi sebagai cermin, maka yang kita peroleh adalah hanya akan mengagumi diri sendiri, kita akan mendewakan sejarah, mendewakan manusia serta menciptakan kembali masa lampau dengan maksud mengagungkan, membanggakan diri sendiri dan bukan Allah yang dihormati, disembah dan diagungkan sebagai pembuat sejarah. Sedangkan jika perayaan 507 tahun reformasi dimaknai sebagai jendela, maka kita belajar dari tindakan Allah dalam sejarah untuk melihat keluar jauh ke depan kepada maksud Allah bagi hidup misi gereja di masa kini menuju masa yang akan Dengan demikian yang terpenting bagi kita dalam perayaan 507 tahun reformasi ini adalah menghayati dan memaknai nilai luhur dari pesan reformasi yang telah diperjuangkan Martin Luther pada masanya. Sebab nilai luhur dari pesan itu membangkitkan semangat dan menghidupkan cita-cita reformasi selama 507 tahun dan terus menjadi pola dan karakter misi maupun berteologi bagi gerejagereja protestan sepanjang abad dan zaman. Karena itu, pesan perayaan 507 tahun reformasi hendaknya menjadi kekuatan spiritual bagi gereja dan warga gereja dalam menghadapi perubahan sosial yang berkembang dengan cepat dan turut mempengaruhi kualitas pertumbuhan iman Kristen. Jadi tujuan perayaan hari reformasi ialah agar kita bangkit menjadi dewasa dalam peran kenabian kita untuk membarui, mereformasi gaya bergereja kita, ajaran-ajaran gereja serta membangkitkan semangat bersaksi, melayani dan bersekutu bersama-sama dalam setiap konteks sehingga gereja dapat menjadi kekuatan spiritual bagi pewartaan berita Injil yang membarui dan mempersatukan pada ajaran yang MUNCULNYA REFORMASI SEBAGAI GERAKAN PEMBARUAN GEREJA Reformasi sebagai gerakan pembaruan gereja muncul dengan cita-cita utama membarui kompromi dan prinsip ajaran gereja yang menyimpang, yaitu: untuk mengadakan pembaruan dalam kekristenan Barat yang dimulai sejak abad ke-14 hingga ke-17. Reformasi boleh dikatakan dimulai dari munculnya golongan Lollard. Waldens. 2 (Willem, 1994, hl. Mereka menyerang struktur gereja yang hirarkis dan legalistik serta keburukan-keburukan dan lainnya yang terdapat dalam gereja. Meskipun dalam tubuh Gereja Barat diadakan pembaruan-pembaruan gereja, namun gerakan yang menuntut adanya pembaruan yang lebih berarti tetap berjalan. Martin Luther mengancam keburukan-keburukan dalam gereja seperti penyelewengan penjualan Surat Penghapusan Siksa, dan seterusnya. 3 (Reformasi Yang dimaksud ialah Aukeadaan atau paham di mana Gereja memasuki roh dunia, keadaan dan suasana Gereja diduniawikan. Tetapi juga paham ini menunjuk pada kenyataan bahwa masyarakat tidak meninggalkan agama yang dianut, tetapi relasinya dengan yang transenden tidak berfungsi atau bermakna lagi. Lollard=nama yang diberikan kepada pengikut John Wycliffe di Inggria pada abad ke-13 dan 14. Nama ini dipergunakan secara resmi pada tahun 1387. Mereka adalah pengkhotbah yang bersemangat dan sangat menekankan kemiskinan sebagai reaksi atas kehidupan para Klerus yang kaya dan hidup mewah. Mereka menyebut dirinya sebagai pengkhotbah-pengkhotbah miskin. Golongan ini berpegang pada ajaran Wycliffe seperti rahmat Allah dapat diterima tanpa perantara, satu-satunya otoritas dalam gereja hanyalah Alkitab. Waldens=suatu golongan Kristen pengikut Petrus waldo yang muncul pada abad ke-12. Mereka juga dikenal dengan sebutan orang-orang miskin dari Lyons. Golongan Waldens menolak praktek kegerejaan yang tidak didasarkan pada Alkitab. Wellem. Kamus Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994, hlm. 151, 267. Wellem. Ibid. , hlm. sebagai gerakan pembaruan dalam gereja muncul karena penjualan surat penghapusan siksa (Lat. yang dikeluarkan gereja Katolik Roma. AuPenjualan surat penghapusan siksa itulah yang menyebabkan mulainya reformasi. Terutama dalam hal inilah Luther kelak mengerti betapa dalamnya jurang perbedaan antar dia dengan gereja resmi. Ay4 (Berkhof & Enklaar, 1. Perlu diketahui pula. AuMartin Luther pada mulanya tidak bermaksud memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma. Namun akibat studinya atas Perjanjian Baru, ia mengemukakan pokok-pokok iman yang oleh gereja pada zaman itu dianggap ajaran-ajaran sesat. Apa yang ia prihatinkan adalah agar iman sederhana dalam Kristus tidak akan diganggu oleh rintangan apa pun. 5 (Lane,Tony, 2. Peristiwa tentang mulainya reformasi itu adalah sebagai berikut. Uskup Agung Albrecht dari Mainz mengambil dua daerah uskup yang lain, yang pada waktu itu tidak ada uskupnya, sehingga ia menerima pendapatan uang tiga kali lipat. Paus Leo X sudah barang tentu tidak mau mengizinkan itu, kecuali jikalau Albrech membayar sejumlah besar kepada Paus. Banyaknya uang yang diminta Paus itu kurang dari 10. uang keping emas. Jumlah itu dipinjam oleh Albrech dari bank Fugger di Augsburg, tetapi kemudian susah untuk melunasinya. Lalu paus menyarankan kepadanya untuk memperdagangkan surat penghapusan siksa secara besar-besaran di Jerman. Separuh dari hasilnya boleh dipakai oleh Albrech untuk membayar hutangnya, dan separuhnya lagi hendaknya dikirim ke Roma untuk membangun gedung gereja Santo Petrus. Demikian permufakatan paus Leo X dan Albrech. Perjanjian ini tidak diketahui oleh umat Kristen. dan Luther pun tidak mengetahuinya. Surat kuasa yang diberi Albrech kepada para penjual surat penghapusan siksa itu menimbulkan sangkaan, bahwa idulgensia itu bukanlah hanya menghapus siksa, tetapi dapat pula menebus dosa. Kepala penjual. Johan Tetzel, seorang Dominikan. 6 Kata Tetzel: Kalau uang berdenting di dalam peti, melompatlah jiwa itu ke dalam sorga! Dan lagi: Belum pernah rahmat sebesar itu ditawarkan gereja dengan harga semurah ini. Luther terpaksa menyerang kebiasaan yang buruk itu, tatkala orang yang datang mengaku dosa kepadanya menuntut penghapusan siksa berdasarkan idulgensia Tetzel itu. Pada tanggal 31 Oktober 1517 ia memakukan sehelai kertas, berisi 95 dalil dalam Bahasa Latin tentang penghapusan siksa pada pintu gereja-istana di Wittenberg dengan permohonan untuk memperdebatkan pandangan yang dikemukakannya dalam dalil-dalil itu. AuLuther was shown a copy of the ArchbishopAos instructions to Tetzel, and was shocked. On All SaintsAo Eva, 31 October 1517, he fastened to the door of the castle church at Wittenberg a placard inscribed with Ninety-five Theses upon Idulgences. He announced that he was ready to defend these theses at a public disputation. Ay8 Selain hal ini. AuLuther melawan juga perbendaharaan dan amalan dan jasa yang lebih dari gereja, katanya: harta gereja yang tulen dan sejati ialah Injil yang mahasuci tentang kemuliaan dan rahmat Allah . (Chadwick,O. Keselamatan yang kekal tak dapat diperoleh dengan mengadakan perdagangan dengan sorga, tetapi hanya dengan memikul salib mengikuti Kristus saja. Ay 9 Di bawah ini adalah beberapa dari dalildalil itu yang dikutip oleh Frances E. Williamson. Sesatlah pemberita-pemberita penghapusan siksa yang mengatakan, bahwa dengan penghapusan siksa yang diberikan Paus maka manusia dilepaskan dari semua siksa serta diselamatkan. Hanya anggapan manusia saja diberitakan mereka yang berkata, bahwa pada saat mata uang berbunyi dipeti, maka jiwa terbang keluar dari api penyucian. Orang yang percaya, bahwa keselamatan mereka telah terjamin dengan surat penghapusan siksa, akan binasa untuk selama-lamanya bersama dengan pengajar-pengajar mereka. AeAjaran-ajaran yang tidak bersifat Kristen Berkhof dan I. Enklaar. Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987, hlm. Tony Lane. Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristen, judul asli: The Lion Concise Book of Christian Thought. Jakarta: BPK Gunung Muia, 2012, hlm. Serikat kebiaraan dalam Gereja Katolik Roma yang didirikan oleh Gusmanz Dominicus pada tahun 1215 dan mendapat pengesahan oleh Paus Honorius i pada tahun 1216. Serikat ini mengikuti Paratutan Augustinus. Tujuannya adalah untuk mentobatkan para penyesat seperti Golongan Albigensis . liran sesat yang timbul dan berkembang di Albi. Languedoc. Perancis Selatan pada akhir abad ke-12 dan awal abad ke-13. Ajarannya bersifat dualistis. Pada tahun 1233 Paus Gregorius IX memusnahkan Albigensis dengan Inkuisisi yang dilaksanakan oleh Serikat Dominikan, sehingga pada akhir abad ke-14 Albigensis lenyap sama sakali. Wellem. Ibid. , hlm. dan dikemudian hari juga menobatkan orang-orang yang masih beragama suku. Wellem. Ibid. , hlm. Berkhof dan Enklaar. Op. , hlm 126-128. Owen Chadwick. The Reformation. New Zealand: Penguin Books, 1986, hlm. Ibid. , hlm. diberitakan mereka, yang mengajar bahwa penyesalan tidak perlu bagi orang yang mau menebus jiwajiwa. Setiap orang Kristen yang sungguh-sungguh menyesal, berhak atas penghapusan penuh dari siksa dan kesalahan, juga tanpa surat-surat penghapusan. Setiap orang Kristen yang benar baik, yang hidup maupun yang mati, diberikan Allah bagian dalam segala harta Kristus dan harta gereja juga tanpa surat-surat penghapusan. Harta gereja yang sebenarnya ialah Injil yang mahasuci tentang kemuliaan dan kemurahan Allah. Penghapusan yang diberikan Paus itu tidak dapat juga melenyapkan dosa ringan yang paling kecil sekalipun. Dan mengatakan bahwa salib merah . ang ditegakkan di dalam gedung gereja, di mana ditawarkan surat-surat penghapusan siks. dengan disertai lambang Paus sama nilainya dengan salib Kristus, adalah hujat . enista Alla. 10(Williamson, 1. Jadi cita-cita reformasi yang sesungguhnya adalah hendak mentransformasi kompromi dari pihak manusia, pemimpin gereja yang menggunakan otoritasnya mencari kepentingan, keuntungan diri sendiri dengan jalan manipulasi kebenaran yang bertentangan dengan maksud dan kehendak Allah. Itulah sebabnya. Martin Luther bangkit untuk memberi koreksi sekaligus arah yang benar bagi gereja berdasarkan firman Allah, agar umat Kristen dan pemimpin gereja tidak menyimpang dari ajaran benar yang bersumber dari Injil dan kebenaran yang dikehendaki Allah. Dengan demikian hari reformasi yang dipelopori Luther 31 Oktober 1517 mau mengingatkan gereja, pemimpin gereja dan umat Kristen supaya berjalan pada jalan kebenaran yang ditunjukkan oleh Injil, bukan pada ide, pengetahuan, dan filsafat manusia. ARTI DAN PERAN SUARA PROFETIS MARTIN LUTHER BAGI GEREJA DI MASA KINI Sejarah gereja dan sejarah perkembangan teologi atau ajaran iman Kristen mencatat bahwa hari reformasi gereja tidak dapat dipisahkan dari peran dan perjuangan Martin Luther. Kita juga tidak dapat mengabaikan tokoh-tokoh lain yang berjuang bagi proses reformasi dalam gereja seperti: Swingli. Calvin, dan yang lainya. Luther adalah seorang Katolik yang dididik dalam sistem biara . umah pertapaa. yang sangat disiplin, keras aturannya dan dengan ajaran yang ketat, yaitu ordo Augustin. Luther adalah seorang rahib . rang pertapa di biara. yang paling taat dan disiplin. Ia hidup dan berjalan pada ajaran gereja pada zamannya dengan sungguh-sungguh. Tetapi yang menggelisahkan hatinya ialah bagaimana ia dapat memperoleh rahmat atau keselamatan Allah. berdoa, berpuasa, mengaku dosanya, menerima sakramen Misa untuk mendapat anugerah, namun ia semakin putus asa dan tidak memperoleh kepastian dalam hidupnya. Pada tahun 1514. Luther menemukan jalan keluar dari pergumulan hidupnya. Jalan itu adalah pengertian baru tentang perkataan Paulus dalam Roma 1:16-17, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percayaA Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: Orang benar akan hidup oleh iman. Dengan ini ia mengerti bahwa kebenaran Allah tidak lain adalah rahmat Allah atau anugerah yang diberikan kepada orang percaya. Inilah kunci yang membuka perbendaharaan Alkitab baginya. Ia telah menemukan Allah pada jalan yang benar sesuai kesaksian Alkitab. Luther telah menghayati hubungan antara Allah dan manusia dengan cara baru. Penghayatan inilah menjadi titik-tolak bagi gerakan reformasi. Penghayatan profetisnya yang kuat berdasarkan hikmat, pengetahuan dan kepercayaannya kepada kebenaran Allah telah melahirkan komitmen spiritual yang terkenal, yaitu: Di sini aku berdiri. tidak dapat berbuat yang lain . ia tetap berdiri teguh pada pendiriannya, ajaranny. AuI cannot and I will not recant anything, for to go against conscience is neither right nor safe. Here I stand. I cannot do otherwise. God help me. Amen. Ay11 (Bainton, 1. Ketulusan dari perjuangannya telah membuat. Luther naik ke panggung sejarah umat manusia oleh karena suatu ide. Ide itu menyakinkannya bahwa gereja pada masa kehidupannya telah salah mengerti Injil, esensi kekristenan itu. Perlu kiranya mengingatkan gereja agar setia pada imannya, untuk membarui ideologinya terlebih dulu dan berikutnya membarui praktik kebiasaannya. Idenya diringkaskan dalam ungkapan pembenaran hanya Frances E. Williamson. Martin Luther Mencari Kebenaran, judul asli: Pilgrimage to Truth, diterjemakan: B. Mogot. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1965, hlm. Kata-kata yang diucapkan Luther di hadapan Kaisar dan Sidang Negara ketika ia diminta untuk menarik kembali tulisantulisannya. Dalam. Roland Bainton. Here I Stand: Martin Luther. Australia: A Lion Paperback, 1978, hlm. ii dan 386. oleh iman dan perlu dijelaskan secara tepat apa yang dimaksudkan dengan hal ini dan mengapa hal itu begitu penting. 12(McGrath, 1. Kemudian dalam menghadapi yang disebut reformasi radikal,13 AuBaik Luther maupun Calvin mengancam upaya pembaharuan gereja dengan cara yang radikal, karena pembaruan gereja bukan pekerjaan manusia melainkan pekerjaan Tuhan Allah yang harus dilaksanakan dengan lemah Ay14 James Atkinson menyatakan bahwa Luther menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan dan tindakan manusia. AuHe set Christ in the center in the theological schools. Christ in the center of manAos everyday life. Ay15(Atkinson, 1. Demikian pula menurut Luther, kepercayaan manusia kepada Kristus dikerjakan semata-mata oleh Roh Kudus. With this recovery of the New Testament creedal, patristic doctrine of Christ there was given a deeper doctrine of the Spirit, exactly parallel to the churchAos struggle with Macedonianism after Nicaea. With a fresh doctrine of the spirit there followed the corollary of a recovery of the doctrine of the church, seen as a community of believing men united with Christ through the Holy Spirit. Lebih lanjut ia mencatat bahwa AuAunder one head. Christ, called together by the Holy Spirit in one faith and understanding. possessing many gifts, but one in love, without sect or schism. Ay17 Kenyataan ini ditegaskan pula oleh Blauw sebagai berikut: AuAthe Holy Scriptures make clear to us that the proclamation of the gospel among the nations is possible onlyAThrough the gift of the Holy Spirit, which enables the apostles and the community to witness. Ay18(Blauw, 2. Arti dan peran kenabian Luther nyata pula dalam ungkapannya yang terkenal dan sangat berpengaruh bagi prinsip reformasinya, yaitu AuA but I will let no one attack my doctrine without responding, because I know that it is not mine, but GodAos. Ay19 (McSoeley, 1. Inilah kesadaran dan penghayatan yang mendalam dari keyakinannya tentang kebenaran Allah yang nyata dalam dirinya sehingga berani mengatakan, dia tidak akan membiarkan ajarannya di serang tanpa jawaban, karena ia tahu itu bukan idenya, pendapat atau pikirannya, tetapi ia menyadari semua dalam dirinya itu berasal dari tuntunan kuasa Roh Allah . 1 Kor 2:. Selain keyakinannya dan teologinya yang berpusat pada Allah Tritunggal (Allah: Bapa. Anak dan Roh Kudu. Luther menekankan pula peranan Alkitab dalam kehidupan Kristen sebagai regula fidei, kata Latin yang artinya: Alkitab sumber pengetahuan kebenaran Kristen. Hal ini ditegaskan McSorley sebagai berikut: Awe are now in a position to see him as a teacher for Protestants and Catholics. One more coveat is needed, however. When Luther says his teaching is not his, but GodAos, that teaching of Luther which is in conformity with the Scriptures. Luther certainly did not exempt himself from his own canon: The saints have often sinned in their own lives and erred in their writings, but the Scriptures cannot err. A(Therefor. nothing is more dangerous than the works and the lives of the saints which are not grounded in the Scriptures. Alister E. McGrath. Sejarah Pemikiran Reformasi (Judul asli: Reformation Thought: An Introductio. diterjemakan oleh Liem Sien Kie. Cet. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997, hlm. Reformasi Radikal adalah AuGerakan yang muncul di Eropa pada abad ke-16 yang berusaha mengadakan pembaruan gereja secara radikal. Mereka menilai upaya pembaruan yang diadakan oleh para reformator gereja (Luther. Calvin. Zwingl. terlalu Mereka merupakan golongan sayap kiri dari Gerakan Reformasi. Dalam Gerakan Reformasi Radikal terdapat beberapa golongan di mana satu golongan berbeda dengan golongan lain. Namun mereka semuanya ingin agar gereja kembali kepada akar iman Kristen yang pertama. Ay F. Wellem. Kamus Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994, hlm. Loc. James Atkinson. Ecclesia reformata semper reformanda, dalam: Luther for an Ecumenical Age: Essay in Commemoration of the 450th Anniversary of the Reformation. Carl S. Meyer. Editor. London: Concordia Publishing House, 1967, hlm. Loc. Loc. Johannes Blauw. The Missionary Nature of the Church: A Survey of the Biblical Theology of Mission. London: Lutterworth Press, 1962, hlm. Harry McSorley. Luther: Model or Teacher for Church Reform? dalam: Luther: Theologian for Catholics and Protestans. Edited by George Yule. Edinburgh. Scotland: T. & T. Clark, 1986, hlm. Loc. Sejalan dengan pandangan Luther: Calvin menegaskan bahwa pengetahuan yang sejati mengenai Allah hanya dapat diperoleh dari Alkitab, sebab Alkitablah yang mengandung Firman Allah. gereja dibangun atas kesaksian para rasul dan nabi, singkatnya Alkitab, maka mustahil bahwa ajaran gereja lebih berwibawa dari Alkitab. Sambil melawan ajaran Gereja Katolik Roma pada zamannya. Calvin mempertahankan di sini prinsip Protestan mengenai sola Scriptura. Alkitab menentukan ajaran gereja, bukan sebaliknya. 21(De Jonge, 2. Demikian pula. AuCalvin follows Zwingli, and diverges from Luther, in this conception of scripture less as a means of grace than as a revelation of the divine will. and, as we have seen, that will, being one and immutable, is revealed as certainly in the Old Testament as in the New. Ay22 (Reardon, 1. Dari penjelasan dan pendapat-pendapat di atas, dapatlah kita menentukan arti dan peran kenabian bagi Gereja-gereja di tanah Papua. Indonesia, maupun secara universal, seperti berikut: Hanya satu hal yang dimaksudkan Luther: ia mau membebaskan Injil dari belenggunya yang sudah berabad-abad Lutherlah yang pertama-tama sadar akan kesesatan dan kekhilafan itu, yang sekian lamanya melemahkan gereja Kristus. Bahkan dari zaman kemudian sesudah rasul-rasul, gereja salah mengerti rahmat Tuhan, sehingga memahaminya seperti suatu taurat baru. Dengan demikian perbuatan manusia menjadi pusat agama Kristen dan bukan lagi karunia Tuhan di dalam Anak-Nya. Lebih lagi daripada Augustinus. Luther melawan salah paham itu. Usaha manusia untuk memperoleh kesucian dan keselamatan dengan ketaatannya pada taurat gereja, ditolaknya sama sekali. Oleh iman saja manusia dibenarkan, berkat rahmat Allah! bukan para klerus yang berkuasa dalam gereja Kristus, melainkan Alkitab saja. Semenjak Luther, gereja dapat menempuh suatu jalan baru, sebab kebenaran Injil sudah didasarinya kembali. Luther dan gagasan kenabiannya yang telah melahirkan ide dan gerakan reformasi sebagai gerakan pembaruan dan pembelaan terhadap kebenaran Firman Allah sebagai landasan kehidupan bergereja terus berpengaruh ke seluruh dunia dan tetap hidup hingga usianya yang ke-507 tahun. Angka 507 tahun bukan angka matematik atau ilmu pasti, melainkan angka yang menunjuk pada Auwaktu TuhanAy (Yun. Kairo. yang membuktikan bahwa Allah masih terus berkarya dan gereja-Nya masih terus hidup serta dilibatkan Allah sendiri dalam karya-Nya di dalam dunia (Lat. Missio Dei, ke missiones De. Jadi secara singkat, arti reformasi Luther dan peran kenabiannya bagi Gereja maupun komunitas umat Allah di masakini sebagai berikut: Ia menyadari bahwa dirinya sebagai alat di tangan Allah untuk menyatakan kebenaran-Nya serta membarui kesalahan manusia yang menyimpang dari kehendak-Nya. Dan bagi Luther, itulah panggilan kenabiannya. Ia merasa bersalah jika membiarkan manusia salah gunakan kekuasaan gereja dan kebenaran Injil. Itulah sebabnya, selaku gereja di masa kini, memerlukan keberanian kenabian atau profetis bahwa kita adalah alat Tuhan di dunia ini dan gereja adalah tanda kehadiran Kerajaan Allah, yang bukan hanya dihadirkan untuk mewartakan Injil-Nya, melainkan lebih utama lagi hidup berdasarkan Injil, melakukan kebenaran Injil, dan memelihara kemurniannya sebagai Firman Allah. Ia memperingati gereja serta membarui cara menggunakan Alkitab sebagai sumber pengetahuan Bagi Luther, berbagai pendapat di bidang teologi atau keputusan-keputusan gereja harus bercermin pada wibawa Firman Allah (Alkita. Sebab manusia bisa saja salah dalam pengetahuannya, tetapi Alkitab adalah kebenaran absolut di atas segala kebenaran. Bagi Luther iman adalah kekayaan yang memberi respon terhadap karya keselamatan Allah dalam Kristus dan Roh Kudus. Iman adalah dasar keselamatan, pengharapan dan masa depan yang dijanjikan Allah bagi orang percaya untuk menyambut anugerah-Nya (Ibr 11:. Inilah tugas gereja yang penting di masa kini. Gereja tidak boleh mengabaikan tugas pemeliharaan dan upaya pertumbuhan iman warga gereja. Cita-cita dan harapan menjadi gereja yang dewasa, mandiri dan misioner adalah strategi misi gereja yang penting dikerjakan (Yoh 5:. , dan berpola pada kebenaran teologi dalam perjuangan reformasi Luther. Christiaan de Jonge. Apa Itu Calvinisme? Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001, hlm. Bernard M. Reardon. Religious Thought in the Reformation. New York: Longman House, 1986, hlm. Berkhof dan I. Enklaar. Sejarah Gereja. Jakarta: BPK gunung Mulia, 1987, hlm. MEMAKNAI NILAI-NILAI REFORMASI DALAM KONTEKS BERGEREJA DI SEGALA TEMPAT Reformasi Luther yang kini berusia 507 tahun merupakan kenyataan sejarah yang perlu dimaknai dalam konteks kita kini dan di sini. Luther tidak bermaksud keluar dari persekutuan Ia juga tidak bermaksud menciptakan perbedaan dan perpecahan secara organisasi maupun Tetapi ia punya tujuan baik dan mau menempatkan posisi gereja dan teologinya pada jalan yang benar berdasarkan kebenaran Alkitab. Inilah harapan dan cita-cita Luther pada masa itu. Kita tidak bisa menarik peristiwa dan konteks 31 Oktober 1517 di waktu lalu, ke dalam konteks kita kini dan di sini. Tetapi nilainya, semangatnya, kebenarannya tetap menjadi bagian pergumulan dalam hidup dan konteks kita secara baru kini dan di sini 31 Oktober 2024. Itulah sebabnya, pendekatan yang perlu mendapat perhatian dalam hubungan dengan nilai-nilai reformasi, antara lain: Pendekatan Eklesiologi Berbicara eklesiologi berarti berbicara tentang segala hal ikhwal tentang gereja, yakni panggilannya, misinya, pelayanannya, kesaksiannya, dan seterusnya. Dalam hubungan dengan spirit reformasi, maka pendekatan ini bertujuan membangun komitmen baru bagi pemberitaan Injil, pengajaran gereja, mengarahkan para pemimpin gereja dan warga gereja dalam rangka mempertahankan kebenaran Injil. Konsep eklesiologi berarti gereja dipahami sebagai persekutuan umat yang percaya, bahkan tugas panggilan gereja di dalam dunia. Itu berarti jemaat adalah basis utama dari konsep tentang gereja. Jadi penguatan serta pemberdayaan terhadap warga gereja secara holistik harus menjadi perhatian gereja. Harus disadari pula bahwa warga gereja bukan semata-mata obyek, melainkan subyek dari misi gereja. Jadi reformasi gereja harus dimulai dari penguatan, pemberdayaan dan pendewasaan warga gereja pada lingkup basis, yaitu keluarga dan jemaat. Setiap gereja atau denominasi harus mempersiapkan umat Allah agar bertanggung jawab sebagai pelaku misi. Kedewasaan bergereja harus dijadikan agenda penting bagi tujuan pemberdayaan warga gereja kearah kedewasaan, kemandirian dan misioner. Karena itu diharapkan perhatian dari para pemimpin umat harus terus bermisi mendorong pertumbuhan kualitas iman umat Allah secara holistik, menyeluruh dan menyangkut aspek kebutuhan hidup manusia, baik jasmani maupun spiritual . Konsep eklesiologi gereja harus menyentuh kebutuhan umat secara holistik. Eklesiologi yang eksklusif, kaku dan berorientasi pada kepentingan individual dan kelompok sudah saatnya dibarui sehingga peranan gereja atau umat sungguh-sungguh menjadi garam dan terang. Gereja atau umat harus menjadi pelopor yang aktif, bukan penonton yang pasif di tengah kemajuan dan perubahan dunia. Pendekatan Institusional atau organisasi Pendekatan ini mengharuskan gereja pada lingkup sinodal, klasis dan jemaat-jemaat agar menata dan memberi penguatan terhadap struktur, manajemen: pengorganisasian, pengawasan dan evaluasi yang berkelanjutan. Walaupun organisasi gereja bukan tujuan misi, tetapi penting sebagai alat yang mengendalikan pola atau tata kerja untuk mencapai tujuan misi gereja. Itulah sebabnya, cara pandang terhadap organisasi gereja atau struktur juga harus direformasi. Struktur atau organisasi gereja mempunyai dimensi misiologis atau dimensi spiritual yang sangat Cara pandang kita harus direformasi atau ditinjau kembali. Pendekatan Teologi Kontekstual Pendekatan ini mengharuskan gereja-gereja kita mempunyai atau membangun pusat-pusat pembinaan warga gereja, pusat pendidikan atau sekolah, pusat kesehatan dan pusat pengkajian teologi yang kontekstual. Wadah-wadah ini akan berfungsi untuk merumuskan, mempertimbangan dan menguji berbagai ajaran teologi yang layak atau sesuai Alkitab. Karena teologi yang keliru atau tidak sesuai Alkitab akan menghasilkan pertumbuhan moralitas warga gereja yang keliru. Jadi gereja-gereja kita memerlukan reformasi dibidang teologi sebagai kebutuhan yang fundamental, secara khusus teologi yang bertolak dari wawasan dan kebutuhan konteks, teologi yang berangkat dari konteks nyata dalam hubungan dengan budaya, pandangan hidup . masyarakat, perubahan sosial, globalisasi, dan seterusnya. AuTeologi Luther, umumnya teologi reformasi, biasanya diringkaskan dengan tiga ungkapan dalam bahasa Latin: sola gratia, sola fide, dan sola scriptura. Ay24 Hanya oleh anugerah, hanya oleh iman dan hanya oleh Alkitab. Ketiga aspek ini harus dipelajari, didalami, dihayati dan dijadikan roh atau dinamika spiritual bagi warga gereja, para pelayan dan pemimpin gereja. Inilah prinsip-prinsip yang menuntun gereja, warga gereja untuk terus berpikir, mendalami, mengembangkan misi dan tanggung jawabnya di dalam dunia. Sebab gereja bukanlah lembaga yang statis, melainkan lembaga misi yang dinamis. Di dalam proses inilah teologi, pemberitaan Injil, tanggung jawab gereja, warga gereja sungguh-sungguh kontekstual dan reformis. Pendekatan Kemitraan Kemitraan yang kita butuhkan bersifat tiga rangkap atau tiga tungku: baik ke dalam antar gereja-gereja maupun keluar, yakni dengan pemerintah dan lembaga-lembaga yang bergerak dibidang sosial, kemanusiaan serta dengan lembaga adat atau pemimpin dalam masyarakat adat. Reformasi yang dibutuhkan gereja adalah gereja memposisikan diri di dalam dunia menjadi lembaga yang inklusif bukan eksklusif. Gereja jangan membuat diri hidup terasing di tengah perkembangan zaman. Reformasi gereja mengharuskan gereja membaharui seluruh eksistensinya . eologi, sistem, manajemen, dst. ,) sehingga sungguh-sungguh menjadi Garam dan Terang dunia. Gereja bukan lembaga kaum elit, melainkan gereja adalah lembaga yang diperkaum oleh Allah untuk melanjutkan rencana penciptaan dan penyelamatan-Nya, yaitu missio Dei, missio Christi, missio spiritus dan missio ecclesiae di dalam dunia sampai Kristus datang kembali sebagai Hakim dan Raja. Pendekatan Spiritual Reformasi tidak bermaksud agar kita menonjolkan perbedaan-perbedaan yang ada pada Perbedaan itu harus dipelihara dan dijadikan kekayaan gereja kita masing-masing. Perbedaan doktrin, perbedaan teologi tidak boleh diperdebatkan dan menjadi alasan yang menyebabkan perpecahan, baik ke dalam maupun keluar. Gereja harus menjadi Aukekuatan spiritual atau kekuatan moral sebagai pengawal berita Injil Kristus. Ay Sebab inti dari reformasi Luther adalah mengarahkan tugas dan tanggung jawab gereja di bangun kembali pada dasar Alkitab, pada kebenaran Firman Allah yang autentik. Jadi setiap lembaga gereja atau setiap individu, tidak memiliki otoritas untuk menilai serta menghakimi gereja atau orang lain berdasarkan nilai atau ukuran yang ada pada dirinya. Spiritual kristiani harus bersumber pada nilai-nilai kebenaran Injil. Spiritual kristiani merupakan identitas kepercayaan gereja sebagai dasar tegaknya relasi Allah dan manusia, manusia dengan sesama, manusia dengan kosmos, alam dan segala makhluk ciptaan Tuhan. Pendekatan Injil Bagian Alkitab yang memberi inspirasi bagi tindakan mereformasi teologi, iman dan hidup Luther adalah Roma 1:16-17, bahwa Injil adalah kekuatan Allah. Melalui Injil. Luther berjumpa dengan Allah dan kebenaran-Nya. Bercermin pada Luther, maka pesan perayaan reformasi tahun ini menjadi bunyi sirene di seluruh jagat raya, di seluruh dunia bagi gereja-gereja dan umat Allah, agar hidup, berpikir, berkata, berbuat dan bermisi berdasarkan Injil Yesus Kristus. Sebab Injil adalah kebenaran Allah dan kebenaran Allah itulah yang telah menghadirkan reformasi yang sesungguhnya bagi kita. Injil memposisikan kita pada jalan dan kebenaran yang dikehendaki Allah. Injil adalah kabar baik yang menyatakan seluruh karya Allah dalam diri Yesus Kristus sebagai tindakan penyelamatan dan pengampunan dosa manusia. Sebab itu. Injil tidak boleh diperdebatkan . erkecuali dogma atau teologi. Injil adalah kebenaran Allah yang absolu. , didiamkan, diabaikan dalam tugas panggilan gereja. Injil harus menjadi norma bagi kehidupan, kesaksian dan pelayanan bergereja. Pendekatan Iman Berbicara tentang iman Kristen berarti berbicara hubungan manusia secara individu maupun komunitas dengan Allah, dengan sesama manusia dan dunia, kosmos atau lingkungan De Jonge. Op. , hlm. Jadi iman harus menjadi kekuatan spiritual untuk mendorong perubahan sosial dan pengembangan missio Dei dalam gereja secara holistik kontekstual. Pendekatan iman pada dasarnya menunjuk pada hubungan manusia secara individu maupun komunitas dengan Allah, kepatuhan dan ketaatan gereja pada Firman dan kebenaran Allah. Iman menjadi dasar yang melindungi dan memimpin gereja menuju pengharapan masa depan. Dengan demikian, di tengah perkembangan zaman gereja tidak boleh hanyut oleh pengaruh duniawi, bahkan menjadi serupa dengan dunia ini. Dunia tidak negatif, tetapi pengaruhnya yang harus dikritisi, dihindari. Gereja tidak boleh menjadi lembaga sekuler yang melupakan identitas surgawinya pada amanat Allah bagi panggilan misinya. Alkitab menegaskan bahwa kamu ada di dunia, tapi bukan dari dunia. Pendekatan Kekristenan . eesaan Alla. Kekristenan itu hidup karena adanya hubungan dan kuasa Allah yang memimpin melalui Roh Kudus. Inilah kehidupan baru atau reformasi di dalam Yesus Kristus dan hal itu diberikan kepada semua orang yang dipersatukan dalam diri-Nya: Episkopal. Presbiterian. Baptis. Katolik, kongregasional, dan yang lainnya. Jadi reformasi harus menjadi prinsip pemersatu dalam satu gereja maupun antara gereja (Yoh 17:. Sejarah reformasi adalah salah satu sejarah terbesar yang dikerjakan Allah bagi kita melalui orang pilihan-Nya, gereja-Nya agar dari perbedaanperbedaan ajaran, teologi kita dipersatukan dalam misi-Nya, di dalam kebenaran Kristus untuk melayani, bersaksi dan berdoa bersama. Setiap gereja, denominasi, umat Allah di segala zaman dan tempat memiliki tugas misi utama ialah melakukan, menemukan kebenaran Allah di dalam Alkitab dan menerapkannya sebagai satu-satunya sumber pengetahuan kebenaran. Perbedaan teologi merupakan kekayaan spiritual sebagai jembatan untuk menuntun orang percaya bertemu dengan Allah. Karena itu, perbedaan teologi tidak boleh menjadi pintu masuk bagi lahirnya konflik antar umat Allah. Sebab semua gereja, semua orang percaya dibangun atas dasar iman dan kasih yang sama kepada Allah: Bapa. Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Pendekatan Pendidikan Salah satu prinsip reformasi yang penting bagi gereja, warga gereja adalah pendidikan (= pendidikan teolog. Pendidikan sangat berhubungan dengan kualitas sumber daya manusia. Sumber daya manusia menjadi perhatian karena bukan saja modal pembangunan dan pembaruan gereja, tetapi yang lebih utama adalah sumber daya manusia merupakan investasi bagi masa depan gereja dan masyarakat. Lewat pendidikan berlangsung transfer pengetahuan yang bermanfaat meningkatkan kualitas hidup, iman, serta tanggung jawab terhadap Tuhan, sesama, dan alam semesta. Jadi reformasi adalah kekuatan yang menyalurkan kesadaran menghidupkan pengetahuan melalui pendidikan sebagai senjata kekuatan untuk mengubah kehidupan di bidang etik, moral dan spiritual. Sebab kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan (Yes 33:. Pendidikan Kristen tidak dapat dipisahkan dari pemberitaan Injil. Sebab pendidikan Kristen dan Injil saling menyatu dan bersifat holistik. Artinya Injil punya kekuatan pedagogik . imensi pendidika. Pendidikan Kristen adalah tindakan menerapkan nilai-nilai Injil yang terbuka, humanistis dan universal. Maka pendidikan Kristen dan pemberitaan Injil merupakan fungsi dan tugas gereja, lembaga-lembaga pendidikan, tanggung jawab pemimpin gereja dan warga gereja. Pendidikan Kristen dan Injil adalah kekuatan spiritual yang menghadirkan peradaban baru ajaran iman Kristen. Jadi pesan reformasi menjadi bermakna apabila diintegrasikan dalam pengembangan pendidikan yang holistik. Pendidikan berhubungan dengan kualitas pengetahuan yang memberi pengertian bagi kebenaran, hidup dan segi pertanggungjawaban iman Kristen dan pengharapan Kristen kepada Allah: Bapa. Anak, dan Roh Kudus. Pendekatan Sistematik (Doktrina. Berdasarkan prinsip reformasi, pendekatan ini bertujuan mempertanggungjawabkan iman Kristen secara ilmiah. Artinya rasional, sistematis dan empiris. Dengan demikian berpikir sistematik bukan spekulasi intelektual semata yang sifat abstrak, tetapi obyektif bertolak dari karya dan tindakan penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus. Reformasi membawa kesadaran baru bagi gereja dan warga gereja dalam hal iman Kristen yang mengharuskan pilihan autentik dan obyektif, yaitu secara doctrinal apa yang seharusnya saya percayai di masa kini? Dan secara etika apa yang seharusnya saya lakukan di masa kini? Kedua pertanyaan ini hendak menyadarkan gereja, warga gereja berkenan dengan reformasi ajaran, teologi yang sejalan dengan kesaksian Alkitab. Spirit reformasi harus mendorong gereja, warga gereja menyelidiki dan merumuskan kebenaran-kebenaran yang dinyatakan dalam Alkitab dan menentukan, memerintahkan yang seharusnya dipercayai dan dilakukan pada masa kini. Tetapi juga menyelidiki dan merumuskan apa yang harus diberitakan gereja. Dalam pendekatan ini reformasi bertujuan menuntun gereja, warga gereja untuk berjalan pada ajaran, teologi yang tidak menyimpang dari kesaksian Alkitab. Karena itu dalam menjalankan tugas panggilannya, gereja harus mendasarkan rancang bangun ajaran, teologinya pada faktor-faktor yang menentukan ajaran iman Kristen sebagai berikut: Alkitab. Dogmata . eputusan-keputusan konsil. , simbolsimbol . engakuan-pengakuan ima. , pengakuan-pengakuan iman . ulisan-tulisan, ajaran-ajaran gerej. , dan akal budi manusia yang merupakan alat filsafat agama, termasuk agama Kristen. KESIMPULAN Pertanyaan sederhana tapi penting yang dijadikan dalam bagian analisa dan evaluasi ini adalah mengapa Luther mempelopori reformasi dalam gereja sehingga 31 Oktober ditetapkan dan diperingati sebagai hari reformasi? Ada beberapa alasan penting yang menjadi dasar bagi Luther. Gereja telah salah menafsirkan dan mengerti Injil untuk menemukan relasi teosentris dan Karena itu diperlukan pembaruan atau reformasi yang bersifat holistik dalam misi Itulah sebabnya, perjuangan reformasi Luther tidak boleh dilupakan sebagai fakta sejarah dalam rangka perlindungan identitas ajaran gereja yang alkitabiah. Reformasi Luther mengingatkan gereja supaya setia pada imannya, berjalan pada firman Allah yang benar sesuai Alkitab. Gereja tidak boleh berkompromi dengan berbagai kepentingan yang tidak sesuai kebenaran Allah yang disaksikan dalam Alkitab. Gereja tidak boleh berpusat pada kebenarannya sendiri. Manusia adalah alat penyalur kebenaran, bukan sumber kebenaran. sinilah prinsip reformasi dibangun, yakni kepatuhan dan ketaatan pada Alkitab. Gereja harus punya komitmen spiritual, berdiri teguh pada prinsip kebenaran iman yang dipercayai dan diberitakan, yakni tentang Allah Trinitas dan kebenaran-Nya. Reformasi memanggil gereja agar mentransformasi hubungan antara Allah dan manusia secara baru, manusia dengan prinsip-prinsip jaran gereja, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta. Reformasi menegaskan prinsp normatif bahwa kebenaran Allah adalah rahmat dan anugerah-Nya terbesar dari pihak Allah bagi manusia. Kebenaran Allah tidak boleh diganti dengan kebenaran . Filosofi reformasi. Allah dan kebenaran-Nya harus dijadikan pusat kehidupan dan tindakan Karena pembenaran manusia hanya karena anugerah, bukan karena jasa dan prestasi . Gereja harus berjalan pada jalan dan kebenaran Allah, dan mempertanggungjawabkan ajaran, teologi sesuai penyataan Allah, tidak boleh bertentangan dengan penyataan Allah. Gereja harus hidup menurut Injil, sebab Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya (Rm 1:16, . Inilah dasar panggilan reformasi Luther bagi gereja masa kini. Jadi analisa dan kajian ini dibuat sebagai bunyi sirene untuk mengingatkan gereja pada peristiwa reformasi Luther 507 tahun yang lalu sebagai momen sejarah bermakna yang tak boleh dengan mudah, dengan sengaja dilupakan atau diabaikan. Sebab reformasi adalah jati diri, identitas doktrinal gereja yang bersumber pada Alkitab, penyataan Allah. DAFTAR PUSTAKA