Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 286 - 301 Available Online at jurnal. id/focus HUBUNGAN SOCIAL SUPPORT DENGAN SELF-EFFICACY PADA PEKERJA DISABILITAS Ahmad Wildan Muhdhor1. Nida Hasanati2. May Lia Elfina3. 1,2,3 Universitas Muhammadiyah Malang. Article history Received : 07 Oktober 2024 Revised : 12 Desember 2024 Accepted : 25 Januari 2025 *Corresponding author Email : ahmadwildan88880@gmail. No. doi: 10. 24198/focus. ABSTRAK Penyandang disabilitas memiliki keterbatasan dalam mengerjakan aktivitas sehari-hari terutama dalam bekerja. Keterbatasan yang ada membuat selfefficacy yang mereka miliki kurang maksimal. Social dipedulikan, dan diakui sehingga memberikan dorongan bahwa mereka bisa melakukan tugas dengan baik walaupun memiliki keterbatasan. Lingkungan yang kurang mendukung serta keyakinan penyandang disabilitas yang rendah dapat menghalangi mereka mendapatkan pekerjaan yang layak. Hal tersebut bisa terjadi ketika penyandang disabilitas tidak memiliki social support dan self-efficacy yang bagus. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat apakah ada hubungan antara social support dengan self-efficacy pada pekerja Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah 61 subjek yang terdiri dari 55 penyandang disabilitas fisik dan 6 penyandang disabilitas Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara social support dengan selfefficacy pada pekerja disabilitas. Subjek cenderung self-efficacy mendapatkan social support yang tinggi. Diharapkan dari penelitian ini masyarakat terutama pemangku terhadap penyandang disabilitas dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Kata kunci: social support, self-efficacy, pekerja ABSTRACT People with disabilities have limitations in doing daily activities, especially at work. The existing limitations make their self-efficacy less than optimal. Social support gives them a feeling of being valued, encouragement that they can do their job well despite their limitations. A less supportive environment and low confidence of people with disabilities can prevent them from getting a decent job. This can happen when Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 286 - 301 Available Online at jurnal. id/focus people with disabilities do not have good social support and self-efficacy. The purpose of this study is to see if there is a relationship between social support and self-efficacy in workers with disabilities. The number of participants in this study was 61 subjects consisting of 55 people with physical disabilities and 6 people with cognitive disabilities. The results of this study show that there is a relationship between social support and self-efficacy in workers with disabilities. Subjects tend to have moderate self-efficacy despite receiving high social support. It is hoped that from this research, the community, especially policy makers, can improve their understanding of people with disabilities and create a more inclusive environment. Key word: social support, self-efficacy, workers with PENDAHULUAN Disabilitas adalah ketidakmampuan kapasitas untuk melakukan kegiatan (Hallahan Kauffman. Ketidakmampuan keterbatasan fisik atau psikologis karena melemah, kecelakaan, atau bawahan dari Terdapat tiga keadaan pada disabilitas: disabilitas fisik, disabilitas kognitif, dan disabilitas kejiwaan (Smart. Disabilitas fisik seperti tuna daksa, tuna netra, tuna wicara, dan tuna rungu. Disabilitas kognitif contohnya retardasi mental, autisme, dan lain sebagainya. Disabilitas kejiwaan seperti mental illness dan depresi. Menurut Kemenko PMK jumlah disabilitas di Indonesia sebanyak 22,5 juta atau 8,5% dari jumlah penduduk Indonesia (Supanji, 2. Terbatasnya akses fasilitas umum seperti pendidikan, kesehatan, informasi dan teknologi, pekerjaan, dan fasilitas umum terhadap penyandang disabilitas membuat mereka tidak memiliki taraf kehidupan yang baik. Karena itu dibutuhkan upaya untuk membantu penyandang disabilitas menaikan taraf Indonesia menyediakan kesejahteraan dan keadilan bagi semua rakyatnya tidak terkecuali para penyandang disabilitas. Berbagai hal telah dilakukan mulai dari pembentukan regulasi dan pembangunan fasilitas umum yang ramah disabilitas. Indonesia mengeluarkan Undang-Undang No 8 tahun 2016 yang mengatur tentang disabilitas. Pembentukan undang-undang melindungi hak-hak para penyandang disabilitas UU tersebut juga menjelaskan bahwa badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah wajib mempekerjakan penyandang disabilitas minimal 2% dari total karyawan sedangkan perusahaan swasta 1% dari total karyawan. Artinya peluang kerja formal dengan jaminan yang baik terbuka lebar untuk penyandang Namun tetap saja banyak disabilitas masih belum mendapatkan penyandang disabilitas yang bekerja di sektor informal yang rentan. Penyandang disabilitas mendominasi lapangan usaha pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang cenderung memiliki karakteristik informal, sederhana, dan produktivitas relatif rendah (Yulaswati , 2. Mereka berprofesi sebagai petani dan nelayan yang memiliki penghasilan tidak menentu serta tidak mendapat jaminan atas pekerjaannya. Akibatnya kesejahteraan mereka menjadi Rendahnya tingkat kesejahteraan disabilitas tidak hanya karena aksesnya namun juga karena faktor internal mereka. Kepercayaan dan penyesuaian diri menjadi hambatan bagi disabilitas untuk dapat bekerja (Erissa & Widinarsih, 2. Individu menghadapi perasaan takut, bersalah, kasihan atau ketidaknyamanan pada orang lain di samping hambatan fisik dan keterbatasan yang mungkin merupakan konsekuensi tak terhindarkan dari beberapa bentuk disabilitas (Bramston & Mioche. Hal tersebut memunculkan perasaan rendah diri pada penyandang disabilitas dan menjadi hambatan yang harus dihilangkan jika penyandang disabilitas ingin hidup sejahtera. Selain dari pembentukan regulasi untuk menjaga hak penyandang disabilitas. Disabilitas yang bekerja rentan terkena stres, hal ini karena adanya menyebabkan tekanan kerja yang lebih besar dan berakibat stres. Beban kerja berkaitan dengan tuntutan yang harus segera diselesaikan dan jika tidak segera diselesaikan akan mengakibatkan berbagai macam hal negatif, termasuk stres kerja yang bisa mengurangi produktivitas mereka (Izzati & Mulyana, 2. Individu yang mengalami stres kerja tetap produktif, hal itu karena pekerjaannya memiliki tantangan dan menimbulkan kesenangan, komunikasi yang baik antar anggota tim, manajemen yang memberikan keleluasaan (Izzati & Mulyana, 2. Individu yang menikmati stres kerja dan tetap produktif berkaitan dengan motivasi dan bergantung pada tingkatan self-efficacy yang dimiliki. Kemampuan untuk meraih prestasi dan mempunyai motivasi yang tinggi sangat tergantung pada self-efficacy seseorang (Afifah & Wijono, 2. Self-efficacy kemampuan yang dirasakan seseorang untuk melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri dan menjadi sukses (Bandura, 1. Individu yang memiliki self-efficacy lebih kemampuan yang dia miliki. Semakin tinggi self-efficacy maka semakin tinggi (Lianto. Sebaliknya semakin rendah selfefficacy yang dimiliki maka semakin rendah Self-efficacy yang rendah dapat menghancurkan motivasi, aspirasi yang lebih rendah, mengganggu kemampuan kognitif, dan berdampak buruk bagi kesehatan fisik (Schultz & Schultz, 2. Semakin yakin individu mampu mencapai keberhasil maka semakin bersemangat individu tersebut mengerjakan pekerjaan. Banyak self-efficacy memberikan pengaruh positif. Self-efficacy berperan pada pengembangan kepuasan menghadirkan motivasi dan pendidikan dari perusahaan (Lestari dkk. , 2. Selfefficacy membantu mereka untuk maju dan mendapat ketekunan serta kegigihan dalam usaha untuk mencapai target mereka (Florina & Zagoto, 2. Artinya memang self-efficacy memberikan pengaruh yang positif dalam diri untuk bisa mengerjakan tugas yang dikerjakan. Terdapat penyandang disabilitas memiliki keyakinan yang rendah pada kemampuannya yang disebabkan oleh kondisi fisik maupun psikologis yang sudah tidak optimal (Purwandani & Darmadji, 2. Hal itu sangat wajar mengingat keadaan mereka yang sudah tidak lagi optimal membuat mereka kesulitan untuk menjalankan beberapa aktivitas terutama bekerja. Oleh membutuhkan self-efficacy yang baik untuk bisa tetap yakin pada kemampuannya dan mampu bersaing dengan individu tanpa Dengan memiliki self-efficacy yang baik penyandang disabilitas akan mampu menghadapi tantangan yang ada tanpa khawatir maupun panik akan kesulitan-kesulitan yang mungkin akan muncul kedepannya (Ie, 2. Penyandang disabilitas yang merasa lingkunganya berada. Dengan dukungan dari lingkungan mereka akan lebih percaya terhadap dirinya. Hal itu selaras dengan yang dikatakan oleh Benight & Bandura . bahwa dukungan dari lingkungan adalah faktor penting yang dapat memberikan rasa dihargai, dipedulikan. Perasaan kemampuan yang dimiliki dan dapat mendorong individu meningkatkan usaha untuk mencapai targetnya. Mendapatkan kemampuan dan membuat individu tidak mudah menyerah pada situasi sulit, serta meningkatkan usahanya (Riskia & Dewi. Dorongan dan semangat dari lingkungan bisa didapatkan dari social Social support adalah keadaan dimana lingkungan memberikan dukungan kepada individu. Social support melibatkan manfaat-manfaat yang bisa diberikan dari hubungan antar manusia (Turner & Turner. Social support adalah adanya sumber daya yang dapat membantu individu berupa informasi, bantuan dari rekan kerja, umpan balik atau pujian, dan perhatian dari orang lain untuk dia (Kisahwan dkk. , 2. Manfaat yang bisa diberikan oleh social support tidak hanya yang terlihat atau berupa materi namun bisa dengan bentuk yang beragam. Keadaan fisik atau psikologis penyandang disabilitas yang sudah tidak optimal membuat mereka dalam keadaan tertentu membutuhkan bantuan orang lain. Penyandang disabilitas yang menerima dukungan dari lingkungannya (Dayanti & Pribadi, 2. Dalam hal ini social support menyediakan bentuk dukungan yang dibutuhkan oleh penyandang disabilitas sebagai bantuan yang berasal dari Bantuan yang diberikan oleh lingkungan akan memudahkan penyandang disabilitas untuk beraktivitas sehari-hari. Individu yang menerima social support yang baik akan merasa nyaman, diperhatikan, dan dihargai serta tumbuh dalam kompetensi dan kepercayaan diri (Nurita dkk. , 2. Dalam penelitian sebelumnya social support memiliki hubungan dengan selfefficacy. Penelitian menyatakan adanya hubungan antara social support terhadap self-efficacy (Wang dkk. Artinya terdapat hubungan yang positif antara social support dengan selfefficacy. Penelitian tersebut menjadikan perawat sebagai subjek dalam penelitian. Belum adanya penelitian yang melihat pengaruh antara social support terhadap selfefficacy pada pekerja disabilitas membuat pentingnya penelitian ini dilakukan. Penelitian yang menjadikan pekerja disabilitas sebagai subjek sedikit ditemukan di Indonesia. Karena itu penelitian ini bertujuan untuk memperkaya penelitian pada pekerja disabilitas. Secara teoritis penelitian ini ingin melihat bagaimana hubungan social support dengan self-efficacy pada pekerja disabilitas. Secara praktis penelitian ini diharapkan mampu menjadi landasan untuk memberikan dukungan pada pekerja disabilitas. Penelitian ini juga berguna bagi para pemimpin perusahaan atau tempat yang memiliki pekerja disabilitas sebagai upaya untuk memahami menyediakan bantuan yang mereka Self-efficacy keyakinan pada kemampuan seseorang untuk mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mengelola situasi yang prospektif (Bandura, 1. Self-efficacy adalah harapan keyakinan tentang sejauh mana seseorang dapat melakukan perilaku dalam keadaan tertentu (Rachmawati dkk. , 2. Selfefficacy mengacu pada kemampuan yang dirasakan seseorang untuk belajar atau melakukan tindakan pada tingkat yang ditentukan (Schunk & DiBenedetto, 2. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa self-efficacy adalah kepercayaan pada kemampuan yang ada pada diri individu yang membuatnya yakin untuk menyelesaikan suatu pekerjaan sampai pada tingkatan tertentu. Semakin yakin seseorang dengan kemampuan yang dimiliki maka semakin tinggi self-efficacy yang dimiliki. Self-efficacy memiliki tiga aspek yaitu level, generality, dan strength (Bandura. Aspek pertama, level berkaitan tentang tingkat kesulitan pada tugas yang dikerjakan, jika individu meyakini bahwa tugasnya berada pada tingkatan yang bisa diselesaikan maka dia akan memiliki keyakinan untuk menyelesaikan tugasnya dengan mudah, contohnya ketika individu merasa bahwa tugas yang didapatkan berada pada level yang mudah maka dia Individu yang meyakini bahwa dia punya kemampuan untuk menyelesaikan tugas pada level tertentu menyelesaikannya dengan mudah (Lee & Bobko, 1. Aspek kedua, generality berkaitan dengan keyakinan seseorang memiliki kemampuan yang bisa digunakan pada setiap tempat, seperti ketika individu meyakini bahwa dia bisa berbicara didepan umum bagaimanapun situasinya dan seberapa banyak orang yang ada. Keyakinan seseorang berbeda secara umum, kebanyakan orang meyakini bahwa digunakan di beberapa kondisi tertentu menggunakan kemampuannya (Bandura. Aspek ketiga strength, strength yang lemah terhadap kemampuan yang dimiliki akan membuat individu tidak yakin memiliki strength yang kuat akan membuat individu lebih yakin dan mampu mengeluarkan kemampuannya dengan maksimal, contohnya ketika individu mendapatkan tugas tapi dia tidak yakin terhadap kemampuannya sendiri maka dia kemampuannya dengan maksimal. Strength pada kemampuan memperkuat motivasi untuk mencapai keberhasilan dalam kemampuannya (Rosalina & Nugroho. Terdapat empat hal yang mampu mempengaruhi self-efficacy yaitu, mastery persuasion, dan keadaan fisik serta emosional yang baik (Bandura, 1. Faktor memberikan pengaruh terhadap selfefficacy, hal itu dikarena individu memiliki pengalaman sebelumnya namun hal itu juga tergantung dari tingkat keberhasilan pengalaman tersebut. Mastery experience self-efficacy, menurunkannya (Eden, 2. Faktor kedua, vicarious experience memberikan kemampuannya karena melihat orang lain yang memiliki karakteristik sama dengan dirinya berhasil pada suatu tugas. Vicarious mengamati orang lain namun juga melakukannya sendiri dan mengevaluasi hasil (Forbes, 2. Faktor ketiga, social persuasion memberikan dorongan bahwa lingkungan meyakini bahwa individu menyelesaikan tugas sesuai dengan yang Social persuasion datang dari orang yang berada di dekatnya dan memberikan dorongan untuk lebih percaya pada kemampuannya (Liljedahl, 2. Aspek keempat, kondisi fisik dan emosional yang baik juga membantu individu bisa menyelesaikan suatu tugas, contohnya adalah para atlet yang yakin bahwa fisik mereka mampu menopang aktifitas fisik yang berat dan mendapatkan hasil yang Fisik dan emosional yang baik pada individu, grup, atau tim menaikan keyakinan mereka dalam mencapai tujuan . Nakirolu, 2. Social support didefinisikan sebagai sumber daya yang disediakan oleh orang lain (Cohen & Syme, 1. Social support adalah dukungan yang didapatkan oleh individu melalui ikatan sosial dengan individu lain, kelompok, dan komunitas yang ada (Lin dkk. , 1. Social support mengacu pada kontak intim di antara orang-orang, kontak ini dapat memberikan bantuan spiritual atau material bagi individu ketika mereka menghadapi kesulitan atau ancaman (Wang dkk,. Dengan kata lain social support adalah sebuah dukungan yang disediakan oleh orang-orang yang dekat dan tidak hanya terbatas pada bantuan material namun bisa dalam bentuk non material. Sarafino & Smith . menyebutkan social support memiliki empat bentuk dukungan yang bisa diberikan yaitu, instrumental, dan persahabatan. Pertama, dukungan emosional memberikan perasaan nyaman, perasaan dicintai dan memberikan semangat serta empati bagi penerima. Kedua, dukungan informasi memberikan penjelasan tentang situasi yang dibutuhkan Ketiga, instrumental berupa dukungan langsung seperti fasilitas atau materi yang bisa Terakhir memunculkan perasaan menjadi bagian dari kelompok tersebut. Social support memiliki 3 dimensi yaitu, family, friends, dan significant others (Zimet , 1. Dimensi pertama, family adalah lingkungan yang dekat dan terlibat dalam perkembangan dari masa anak-anak. Keluarga merupakan pemberi bantuan terbesar dan paling awal dalam kehidupan (Hidayati, 2. Dimensi kedua, friends menjadi salah satu aspek yang mampu memberikan dukungan karena berada pada lingkungan yang sama. Dukungan dari teman memberikan rasa perhatian dan lingkungan yang sama (Sulfemi & Yasita. Dimensi ketiga, significant others adalah orang biasa terlibat dalam kehidupan seseorang dan memberikan bantuan sehingga memunculkan rasa diperhatikan dan dicintai. Dukungan yang didapatkan dari orang lain memunculkan perasaan bahwa individu tersebut dihargai dan merupakan bagian dari lingkungan (Kusrini & Prihartanti, 2. Ketiga aspek tersebut adalah sumber dukungan yang bisa dan mudah diakses oleh individu. Wills dalam Sarafino & Smith . mengatakan social support memiliki tiga faktor yang mempengaruhi yaitu size, intimacy, dan frequency. Faktor pertama, size berkaitang dengan orang-orang yang berada di lingkungan dan bisa dijangkau untuk memberikan bantuan. Size adalah jumlah dari orang-orang yang bisa memberikan bantuan (Cohen dkk. , 2. Faktor kedua, intimacy mampu mendorong individu untuk memberi dan menerima bantuan karena sudah ada perasaan dekat. Intimacy berdampak pada emosi yang memunculkan perasaan dekat dan nyaman (Durnovy & Mohammadi, 2. Faktor ketiga, frequency adalah seberapa sering individu mendapatkan bantuan ketika Frequency dirasakan individu, semakin sering bantuan didapatkan semakin terasa dukungan yang diberikan (Garcya-Martyn dkk. , 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan semakin tinggi social support yang didapat maka semakin tinggi self-efficacy yang dimiliki (Heriyani dkk. , 2. Penyandang disabilitas memiliki keterbatasan yang dapat membuatnya merasa rendah diri, kemampuannya dan berdampak pada sulitnya mendapatkan pekerjaan (Rika , 2. Oleh karena itu para penyandang disabilitas membutuhkan dukungan dari lingkungannya berada. Pada disabilitas bantuan yang bisa diberikan oleh orang lain akan menunjang aksesibilitas mereka dalam beraktivitas (Shofana & Supriyanto, 2. Dukungan yang diterima menunjukan bahwa mereka diterima dan memunculkan perasaan Social memunculkan perasaan nyaman dan diterimanya (Sarafino & Smith, 2. Selain menghadirkan perasaan nyaman dan diperhatikan, dukungan yang diberikan meringankan mereka dalam beraktivitas secara mandiri dan menaikan kepercayaan terhadap kemampuannya (Putra dkk. Bantuan yang diberikan menunjang penyandang disabilitas lebih mudah menyelesaikan tugas yang diberikan karena memberikan kemudahan menyelesaikan pekerjaan dan meningkatkan keyakinan terhadap kemampuannya (Lysaght dkk. Dengan begitu bisa disimpulkan bahwa social support memiliki hubungan dengan self-efficacy. METODE Penelitian menggunakan pendekatan korelasional. Penelitian korelasional berkaitan dengan membangun hubungan antara dua atau lebih variabel dalam populasi yang sama atau antara variabel yang sama dalam dua populasi (Leedy & Ormrod, 2. Pendekatan korelasional digunakan karena penelitian ini bertujuan mencari tahu hubungan antara variabel social support dengan self-efficacy pada pekerja disabilitas. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Pemilihan kelompok subjek dalam purposive sampling didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Priadana & Sunarsi. Subjek dari penelitian ini adalah penyandang disabilitas fisik dan kognitif. Penelitian ini melibatkan sebanyak 61 subjek terdiri dari 31 laki-laki dan 30 perempuan, berusia sekitar 17-57 tahun, serta terbagi menjadi 55 penyandang disabilitas fisik dan 6 disabilitas kognitif. Tabel 1. Demografi Subjek Variabel Persentase Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Disabilitas Disabilitas Jenis Disabilitas Penelitian ini menggunakan social support sebagai variabel bebas (X) dan selfefficacy sebagai variabel terikat (Y). Variabel social support diukur menggunakan skala Multidimensional Scale of Perceived Social Support dengan reliabilitas sebesar 0,884. Skala ini didapat dari penelitian milik Handayani . Skala ini menggunakan dimensi dukungan sosial dari Zimet. Dahlem, dan Farley . Jumlah aitem pada skala berjumlah 12 aitem yang mengukur social support dari keluarga, teman sebaya, dan orang penting lainnya. Semua skala bersifat favourable dan menggunakan likert dengan pilihan jawaban terdiri dari 4 kategori. Sangat Setuju (SS). Setuju (S). Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Penilaian aitem dari nilai 4 sampai 1. Adapun untuk variabel self-efficacy diukur menggunakan skala general selfefficacy dengan reliabilitas sebesar 0,949. Skala ini didapat dari Negara . Skala ini mengacu pada teori self-efficacy Bandura . Jumlah skala berjumlah 26 aitem yang mengukur aspek level, strength, dan Terdapat 13 aitem favorable dan 13 aitem unfavorable dan penilaian skala menggunakan likert dengan pilihan jawaban terdiri dari 4 kategori. Sangat Setuju (SS). Setuju (S). Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Penilaian aitem favourable dari nilai 4 sampai 1 sedangkan untuk unfavourable dari nilai 1 Penelitian ini melalui beberapa tahapan seperti persiapan penelitian, pelaksanaan, dan analisis data. Tahap persiapan penelitian dimulai dengan mencari fenomena untuk diteliti, kemudian melakukan kajian literatur mengenai variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y), setelah itu menyusun kerangka berpikir, menetapkan sampel pada penelitian, dan menetapkan alat ukur yang digunakan untuk kedua variabel. Tahap pelaksanaan peneliti mencari subjek sesuai kriteria penelitian untuk mendapatkan data yang Skala disebarkan menggunakan google form. Kemudian tahap analisis data peneliti menganalisis korelasi data yang sudah didapatkan dari para subjek. Data dianalisis menggunakan software IBM SPSS uji korelasi spearman untuk melihat korelasi antara dua variabel yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Isi Hasil dan Pembahasan Tabel 2. Analisis Deskriptif Variabel Standar Mean Deviasi Social Support Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Selfefficacy Dari tabel di atas dijelaskan bahwa social support memiliki mean sebesar 36. 56 dengan nilai standar deviasi 7. 82, sedangkan selfefficacy memiliki mean sebesar 54. 20 dengan nilai standar deviasi 6. Kemudian pada tabel terlihat bahwa mean social support pada laki-laki . dan perempuan . Begitu pula dengan mean variabel self-efficacy antara laki-laki . dan perempuan . Tabel 3. Kategori Tingkat Social Support Tingkat Skor Frekuensi Persentase Tinggi >44 Sedang Rendah <29 Tabel diatas menunjukkan bahwa dalam variabel social support dari 61 subjek, 11 . 03%) subjek berada pada kategori tinggi, 39 . 93%) subjek berada pada kategori sedang, dan 11 . 03%) subjek berada pada kategori rendah. Tabel 4. Kategori Tingkat Self-Efficacy Tingkat Skor Frekuensi Persentase Tinggi >60 Sedang Rendah <48 Dari tabel diatas bisa dilihat dari 61 subjek penelitian 10 . 39%) subjek berada pada tingkat self-efficacy yang tinggi, 48 . subjek berada pada tingkat self-efficacy yang sedang, dan 3 . 92%) subjek berada pada tingkat self-efficacy yang rendah. Tabel 5. Uji Normalitas Variabel Signifikansi Social Self-efficacy Berdasarkan Kolmogorov-Smirnov yang dilakukan pada variabel social support didapatkan 0. sedangkan untuk variabel self-efficacy mendapatkan nilai 0. Dengan begitu bisa disimpulkan bahwa data terdistribusi secara normal dan akan diuji menggunakan uji korelasi pearson. Tabel 6. Uji Korelasi Pearson Variabel Social support Ae Self-efficacy Berdasarkan tabel diatas didapatkan hasil signifikansi antara variabel social support dan self-efficacy sebesar p = 0. < 0. dan nilai r = 0. Hal itu menunjukkan bahwa variabel social support dengan selfefficacy memiliki hubungan yang positif. Artinya hipotesis dalam penelitian ini bahwa terdapat hubungan positif social support dengan self-efficacy pada pekerja disabilitas terbukti. Terdapat alasan kenapa social support dan self-efficacy pekerja disabilitas hanya berada pada kategori sedang. Pada social support hal itu dapat terjadi karena pemahaman terkait kebutuhan disabilitas masih rendah. Rendahnya pemahaman terkait hak pemenuhan hak mereka masih terbatas (Resnawaty Penelitian masyarakat memiliki pemahaman yang rendah terkait disabilitas yang berakibat kebingungan untuk memberikan dukungan yang sesuai (Eldiva dkk. , 2. Dalam social support family atau keluarga menjadi sumber pertama yang bisa memberikan bantuan, namun pemahaman yang rendah membuat bantuan yang diberikan tidak tepat dan tidak banyak Penting bagi keluarga dengan pemahaman terkait jenis disabilitas yang dimiliki, hal itu agar keluarga mampu memberikan bentuk dukungan yang tepat (Lestari dkk. , 2. Artinya penting untuk memberikan bentuk dukungan sesuai dengan jenis disabilitas sehingga bantuan tersebut sesuai dan bisa dirasakan. Pada pekerja disabilitas dukungan dari keluarga adalah hal yang sangat penting karena mereka adalah orang-orang yang terlibat sepanjang tumbuh kembangnya. Keluarga harus mendukung dengan cara yang tepat disabilitas untuk mengeksplorasi dirinya. Hal itu berguna untuk menaikan harga diri dan mengetahui sejauh mana batasan yang ada pada dirinya. Seperti penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa dukungan yang tepat memberikan penyandang disabilitas kesempatan untuk mengeksplorasi dirinya lebih jauh dan mengeluarkan segala kemampuan yang dimiliki serta memahami batasan-batasan yang ada pada dirinya (Pratama & Armaini. Sumber kedua dalam social support adalah friends atau teman. Rendahnya pemahaman terhadap disabilitas akan mengantarkan pada diskriminasi atau perundungan (Alfiyah dkk. , 2. Hal tersebut tentunya sangat tidak baik karena memunculkan batasan bagi penyandang disabilitas untuk Sedangkan dalam menyelesaikan pekerjaannya pekerja disabilitas seringkali mengalami kesulitan dan teman kerjanya adalah orang yang mampu memberikan Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman yang baik agar tidak terjadi diskriminasi dan bantuan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan. Sebaliknya dengan tingkat pemahaman disabilitas yang baik akan memberikan dampak yang positif seperti lingkungan kerja yang mendukung dan tingkat kepuasan kerja yang baik (Maj, 2. Sumber ketiga adalah significant others atau orang penting lainnya. Orang penting dalam penelitian ini adalah individu yang memberikan kenyamanan selain dari Orang penting yang menghargai dan menghormati kita cenderung membuat kita semakin menghargai dan meghormati diri kita sendiri, sebaliknya jika orang menghargai kita maka kita akan cenderung pesimis pada diri sendiri (Fathilda dkk. Mereka menyediakan dukungan yang tidak bisa diberikan oleh dua dimensi Namun melihat hasil social support yang berada pada kategori sedang terdapat indikasi bahwa orang penting lainnya juga memiliki tingkat pemahaman yang rendah terkait disabilitas sehingga tidak bisa memberikan dukungan yang Pada self-efficacy penyebab mayoritas subjek hanya berada pada kategori sedang dapat disebabkan tingkat inklusif tempat kerja Mengingat Indonesia berada pada peringkat ke-115 (Menendian Hal menunjukkan bahwa lingkungan di Indonesia masih perlu dibenahi untuk menciptakan lingkungan yang setara bagi semua orang termasuk penyandang Dalam penelitian sebelumnya disebutkan bahwa para penyandang memilih-milih aktivitas yang akan dilakukannya dan kemampuannya (Zahri & Imanti, 2. Artinya lingkungan yang inklusif dibutuhkan para pekerja disabilitas untuk bekerja karena menyediakan lingkungan yang menunjang untuk beraktivitas termasuk bekerja, selain itu lingkungan inklusif juga memberikan rasa setara bagi semua orang tidak terbatas pada fisik, ras, dan lain sebagainya. Lingkungan yang inklusif akan memberikan perasaan diterima, dihargai, dan didukung (Calvin , 2. Pada pekerja disabilitas lingkungan yang inklusif akan sangat Lingkungan mempengaruhi tingkat kesulitan pekerjaan atau aspek level. Keterbatasan yang ada pada penyandang disabilitas seringkali menghambat mereka dalam mengerjakan atau menguasai suatu hal, semakin tinggi tingkat kesulitannya maka semakin lama waktu mengerjakannya bahkan membuat mereka menyerah. Penyandang disabilitas memerlukan waktu lebih lama dalam menguasai keahlian dan akan menyerah jika memang tidak bisa menguasainya (Muhtarom, 2. Hal itu diperparah dengan lingkungan yang tidak inklusif. Dalam studi yang dilakukan ditemukan bahwa lingkungan yang tidak inklusif menghambat produktivitas penyandang disabilitas karena kesulitan pekerjaannya meningkat (Perkumpulan PRAKARSA. Dalam penelitian yang ada penyandang disabilitas aktivitasnya (Jefri, 2. Kemudahan yang didapatkan dari lingkungan inklusif menyelesaikan pekerjaan yang sulit dan menaikan self-efficacy pekerja disabilitas (Demartoto, 2. Namun dalam penelitian ini mayoritas mereka memiliki self-efficacy dalam kategori sedang, artinya para mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaannya akibat lingkungan yang tidak inklusif dan naiknya tingkat kesulitan Sedangkan pada aspek generality artinya individu yakin bahwa kemampuannya tidak terbatas tempat. Lingkungan inklusif termasuk penyediaan sarana dan prasarana yang menyesuaikan kondisi disabilitas Sarana dan prasarana berkaitan dengan aspek generality. Memiliki generality keyakinannya dalam mengerjakan banyak tugas baru yang belum pernah dikerjakan sebelumnya (Zhu dkk. , 2. Dalam hal ini lingkungan inklusif membuat penyandang disabilitas yakin bahwa lingkungan tidak menyelesaikan pekerjaan. Lingkungan yang inklusif menunjang penyandang disabilitas dengan sarana dan prasarana yang mendukung untuk menyelesaikan Tanpa sarana dan prasarana yang mendukung kinerja penyandang disabilitas akan menurun, namun dengan sarana dan prasarana yang mendukung maka kinerja pekerja disabilitas akan Hal itu diperkuat dengan penelitian yang menunjukkan bahwa sarana dan prasarana yang mendukung pekerjaan akan menaikkan kinerja pekerja disabilitas (Rahimah dkk. , 2. Pada aspek keyakinan atau strength berarti yakin pada kemampuan yang dimiliki dalam mengerjakan pekerjaan. Self-efficacy yang tinggi ditandai dengan tingginya strength yang dimiliki (Efendi, 2. Hal itu menunjukkan jika penyandang disabilitas menginginkan self-efficacy yang tinggi maka mereka harus memiliki keyakinan yang kuat pada kemampuan mereka untuk Dengan lingkungan yang inklusif pekerja disabilitas difasilitasi dengan sarana dan prasarana yang menunjang aktivitasnya dalam menyelesaikan pekerjaan. Lingkungan inklusif memfasilitasi perbedaan dan menjadikannya setara untuk semua orang tanpa adanya diskriminasi (Ng dkk. , 2. Artinya dengan fasilitas yang sesuai pekerja disabilitas akan bisa bisa lebih yakin terhadap kemampuannya menyelesaikan Penelitian ini memiliki beberapa kelebihan dan keterbatasan dalam pelaksanaannya. Kelebihan dalam penelitian ini adalah masih sangat minimnya penelitian yang menyasar pekerja disabilitas sehingga hasil dari penelitian ini menjadi salah satu Sedangkan keterbatasan penelitian ini adalah sektor pekerjaan subjek tidak terdata dalam penelitian ini sehingga hasil cenderung lebih umum dan tidak menyasar pada sektor pekerjaan tertentu. Selain itu, skala self-efficacy yang digunakan tidak secara disabilitas sehingga ada penurunan tingkat reliabilitas skala. SIMPULAN Hasil penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan social support dengan self-efficacy pekerja disabilitas. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara kedua variabel. Walaupun social support dan self-efficacy yang subjek miliki kebanyakan berada pada tingkat sedang. Penyebab banyak subjek yang memiliki social support pemahaman masyarakat yang masih Hal mempengaruhi bentuk bantuan yang diberikan oleh keluarga, teman, dan orang penting lainnya. Dampaknya adalah bantuan yang diberikan cenderung tidak mengakibatkan bantuan yang diberikan tidak banyak berpengaruh. Sedangkan pada self-efficacy dapat disebabkan karena lingkungan inklusif yang rendah. Hal itu mempengaruhi tingkat kesulitan karena pekerja disabilitas memiliki hambatan yang perlu diakomodasi agar dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Lingkungan yang tidak inklusif juga membuat beradaptasi dengan tempat dan suasana sehingga mempengaruhi aspek generality yang ada. Hal itu membuat mereka mempertanyakan kemampuan mereka kareena harus menghadapi situasi yang Penelitian ini menunjukkan bagaimana keadan social support dan self-efficacy yang dimiliki oleh pekerja disabilitas. Penelitian ini dapat menjadi rujukan untuk menaikkan pemahaman masyarakat terkati disabilitas sehingga bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan mereka. Pembangunan lingkungan inklusif juga dibutuhkan untuk dapat mengakomodasi kebutuhan pekerja disabilitas sehingga mereka bisa bekerja dengan maksimal. Dengan begitu peeneliti selanjutnya meneliti tentang tingkat inklusifitas lingkungan kerja dan self-efficacy DAFTAR PUSTAKA