Jurnal Kesehatan Perintis (Perintis’s Health Journal) Volume 5 Nomor 1 Tahun 2018 P-ISSN : 2355-9853 E-ISSN : 2622-4135 HUBUNGAN LINGKUNGAN SOSIAL DAN SPIRITUAL DENGAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA PADA PENGHUNI LPKA (LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK) PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2018 Lilisa Murni1 Rany Desmawati2 STIKes Perintis Padang Email : lilisamurni64@yahoo.com Submission: 27-03-2018, Reviewed: 10-04-2018, Accepted: 28-05-2018 Abstract Cases of drug abuse in West Sumatra became very important to note because it has increased as much as 635 cases year 2015 be 824 cases in the year 2016. The purpose of this research is to know the social environment and spiritual relationship with drug abuse on residents of West Sumatra LPKA year 2018. This research was conducted on 21-25 February 2018 with design research using descriptive analytic approach using cross sectional. The number of samples in the study as many as 37 people with techniques of sampling respondents total sampling. This research instrument using a detailed questionnaire. The results of this research show that the social environment supports as much of 48.6%, which has a less good spiritual as much as 51.4% and 64.9% of heavy drug abuse. The research results obtained there is the relationship between the environment and drug abuse sosail (ρ = 0.008 and OR = 11,000) and there is a spiritual connection with drug abuse (ρ = 0.001 and OR = 29.143). It can be concluded that there is a social and spiritual environment relationship with drug abuse on residents of West Sumatra LPKA year 2018 and recommended to all residents of West Sumatra Province LPKA in order to further improve the spritualitas and stay away from negative social environment and also for the next researcher can use other variables such as economic factors and the intelligentsia against drug abuse. Keywords: Social Environment, Drug Abuse, Spiritual Abstrak Kasus penyalahgunaan narkoba di Sumatera Barat menjadi sangat penting untuk diperhatikan karena telah meningkat sebanyak 635 kasus tahun 2015 menjadi 824 kasus pada tahun 2016. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lingkungan sosial dan hubungan spiritual dengan penyalahgunaan narkoba pada warga LPKA Sumatera Barat tahun 2018. Penelitian ini dilakukan pada 21-25 Februari 2018 dengan desain penelitian menggunakan pendekatan deskriptif analitik menggunakan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 37 orang dengan teknik sampling sampling total sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner yang rinci. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial mendukung sebanyak 48,6%, yang memiliki spiritual kurang baik sebanyak 51,4% dan 64,9% dari penyalahgunaan narkoba berat. Hasil penelitian diperoleh ada hubungan antara lingkungan dan penyalahgunaan narkoba sosail (ρ = 0,008 dan OR = 11.000) dan terdapat hubungan spiritual dengan penyalahgunaan narkoba (ρ = 0,001 dan OR = 29,143). Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan lingkungan sosial dan spiritual dengan penyalahgunaan narkoba pada penduduk LPKA Sumatera Barat tahun 2018 dan direkomendasikan kepada seluruh warga LPKA Propinsi Sumatera Barat agar lebih meningkatkan spritualitas dan menjauhi lingkungan sosial yang negatif dan juga untuk peneliti berikutnya dapat menggunakan variabel lain seperti faktor ekonomi dan intelektual terhadap penyalahgunaan narkoba. Kata kunci: Lingkungan Sosial, Penyalahgunaan Narkoba, Spiritual 106 Jurnal Kesehatan Perintis (Perintis’s Health Journal) Volume 5 Nomor 1 Tahun 2018 PENDAHULUAN Maraknya peredaran dan penyalahgunaan narkoba merupakan sebuah masalah sosial yang banyak meresahkan masyarakat dunia saat ini. Masalah peredaran dan penyalahgunaan narkoba ini menjadi masalah yang belum bisa teratasi oleh berbagai negara di belahan dunia. Menurut kenyataan kasat mata, peredaran gelap narkoba (Narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainya) sudah tidak lagi pada tingkat yang mengkhawatirkan, melainkan sudah pada titik yang berbahaya. (‘Ain Tanjung, 2006). Menurut Word Drug Report From UNODC (2016) diperkirakan lebih dari 29 juta orang pengguna narkoba dan 12 juta diantaranya menyuntikkan (PWID) ke pembuluh darah mereka dan 14% hidup dengan HIV. Dampak penyalahgunaan narkoba salah satunya adalah menghancurkan kesehatan. Diperkirakan 207.400 kasus kematian terkait obat-obatan terlarang pada tahun 2014 dengan rentang usia 15-64 tahun. Berdasarkan hasil pendataan menggunakan SIN (Sistem Informasi Narkoba ) di Indonesia, jumlah kasus narkoba yang berhasil diungkap selama 5 tahun terakhir dari tahun 2012-2016 per tahun sebesar 76,53%. Kenaikan paling tinggi yaitu terjadi pada tahun 2013 ke tahun 2014 yaitu 161,22%. Pada tahun 2016, jumlah kasus narkoba yang berhasil diungkap yaitunya sebesar 868 kasus, sedangkan pada tahun 2015 terdapat 638 kasus. Hal ini membuktikan bahwa kasus narkoba di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2015 sebesar 36,05% . (Infodatin, 2017) Pada tahun 2016 Sumbar memililiki kasus 824 kasus (1.110 orang) meningkat dari tahun 2015 sebanyak 189 kasus dimana pada tahun 2015 sebanyak 635 kasus (815 orang). Menurut kepala BNNP Sumatera Barat bahwa Provinsi Sumatera Barat sudah termasuk wilayah darurat narkoba. Berdasarkan data prevalensi pengguna narkoba provinsi Sumatera Barat tahun 2015 tercatat sebanyak 63.352 orang yang terdiri dari 36.000 pekerja, 20.906 orang pelajar dan 20.272 orang ibu rumah tangga. (BNN Sumbar, 2015). Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain “Narkoba” istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh kementrian ksehatan republik Indonesia adalah NAPZA yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat P-ISSN : 2355-9853 E-ISSN : 2622-4135 Aditif Lainya. (Undang-Undang No. 35 tahun 2009). Akibat dari penyalahgunaan narkoba dapat merusak mental dan gangguan terhadap sistem syaraf manusia. Sehingga dapat berdampak kepada kualitas mental dan fisik. Hal ini dapat dilihat secara kasat mata baik itu perilaku maupun fisik bagi pengguna. Ciri-ciri pemakai narkoba dapat dikenali secara umum dan diidentifikasi. Tentunya keberagaman narkoba tidak menimbulkan efek yang sama. Setiap narkoba memiliki kandungan, bentuk dan efek yang berbeda-beda. (Infodatin,2014). Penyalahgunaan narkoba ini tidak terlepas dari pengaruh lingkungan sosial seperti lingkungan keluarga, teman sebaya dan juga masyarakat. Adanya hubungan yang tidak baik didalam keluarga seperti kurangnya perhatian , keluarga bercerai, orang tua yang terlalu sibuk serta adanya konflik didalam keluarga dapat membuat seseorang mnjadi tertekan dan depresi hingga terjerumus kedalam penyalahgunaan narkoba. Selain itu pengaruh teman sebaya juga memegang peranan penting khususnya dikalangan para remaja, mereka yang sedang dalam masa pencarian jati diri ini akan sangat mudah terpengaruh oleh teman sebayanya, mengikuti trend dan gaya hidup mereka termasuk gaya hidup menggunakan narkoba. Disinilah awal seseorang dapat terjerumus kedalam penyalahgunaan narkoba (Surandi, 2007). Sedangkan menurut Agustina, (2014) faktor faktor penyebab penyalahgunaan narkoba yaitunya faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor internalnya adalah faktor agama atau spiritual seseorang. Menurut Ain Tanjung , (2006) ada 5 faktor yang menyebabkan orang menyalahgunakan narkoba, salah satunya adalah dasar agama yang tidak kuat. Dasar agama yang ditanamkan dalam diri seseorang sejak kecil akan menjadi perisai bagi dirinya untuk menolak sesuat yang merusak akhlaq. Akan tetapi jika seseorang yang tidak pernah mendapatkan pendidikan tentang agama sejak kecil akan sangat rawan untuk terjerumus kedalam tindakan kriminal seperti penyalahgunaan narkoba tersebut (Ain Tanjung , 2006). Spritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan yang Maha Kuasa dan Maha pencipta. Sebagai contoh seseorang yang percaya kepada Allah sebagai Pencipta atau sebagai Maha Kuasa (Yani, 2009). 107 Jurnal Kesehatan Perintis (Perintis’s Health Journal) Volume 5 Nomor 1 Tahun 2018 Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan lingkungan sosial dan spritual dengan penyalahgunaan narkoba pada penghuni LPKA provinsi Sumatera Barat tahun 2018. METODE PENELITIAN digunakan kuesioner. dalam P-ISSN : 2355-9853 E-ISSN : 2622-4135 penelitian ini adalah HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Lingkungan Sosial pada Responden di LPKA Provinsi Sumatera Barat Tahun 2018 Desain penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik yang artinya survey atau penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena itu terjadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan pendekatan cross sectional dimana waktu pengukuran atau pengamatan data variabel independen dan dependen dilakukan pada waktu bersamaan atau dalam satu waktu (Nursalam, 2011). Variabel Lingkungan Sosial Tidak mendukung Mendukung Jumlah Spiritual Kurang Baik Baik Jumlah Penyalahgunan Narkoba Berat Ringan Jumlah Tempat penelitian ini dilakukan di LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak ) Provinsi Sumatera Barat tahun 2018. Penelitian ini telah dilakukan pada tanggal 21 Februari- 25 Februari 2018 di LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) Klas IIB Provinsi Sumatera Barat.Populasi dalam penelitian ini adalah 42 orang dengan 40 orang wanita usia dewasa dan 2 orang laki laki. Populasi yang diambil dalam penelitian ini merupakan seluruh narapidana yang memiliki status sebagai pemakai narkoba atau pernah pakai (bandar dan pernah pakai, pengedar dan pernah pakai. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling, yaitunya teknik yang dilakukan dengan mengambil semua populasi untuk dijadikan sampel (Notoeatmodjo, 2005). Instrumen yang f % 19 18 37 51,4 48,6 100 19 18 37 51,4 48,6 100 24 13 37 64,9 35,1 100 Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 37 responden, hampir separuh (48,6%) responden atau 19 responden memiliki lingkungan sosial yang mendukung terhadap penyalahgunaan narkoba, 19 responden atau lebih dari separuh (51,4%) responden memiliki spritual yang kurang baik, lebih dari separuh (64,9%) atau 24 responden memiliki kategori penyalahgunaan narkoba berat pada penghuni LPKA yang memiliki status pemakai di LPKA Provinsi Sumatera Barat. Tabel 2. Hubungan Lingkungan Sosial dengan Penyalahgunaan narkoba di LPKA Provinsi Sumatera Barat Tahun 2018 Variabel Lingkungan Sosial Mendukung Tidak mendukung Jumlah Spritual Kurang baik Baik Jumlah Penyakahgunaan Narkoba Berat Ringan n % n % N % 16 8 24 18 19 37 100 100 100 88,9 42,1 64,9 2 11 13 11,1 57,9 35,1 Total P value OR 0,008 11.000 (1,95261,999) 0,001 7 17 24 36,8 94,4 64,9 Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa dari 37 responden yang memiliki 12 1 13 63,2 5,6 35,1 19 18 37 100 100 100 29.143 (3.160268.807) lingkungan sosial mendukung dengan penyalahgunaan narkoba berat yaitu sebanyak 108 Jurnal Kesehatan Perintis (Perintis’s Health Journal) Volume 5 Nomor 1 Tahun 2018 16 responden (88,9%) dan yang memiliki Lingkungan Sosial tidak mendukung dengan penyalahgunaan narkoba berat sebanyak 8 responden (42,1%). hasil uji statistik chi square dalam penelitian ini didapatkan ρ value = 0,008, jika dibandingkan dengan α= 0,05, maka ρ value < α 0,05, maka dari itu hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara variabel lingkungan sosial dengan penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan hasil pengolahan uji statisti juga didapatkan nilai OR = 11.000, artinya bahwa responden yang memiliki lingkungan sosial yang mendukung beresiko terhadap penyalahgunaan narkoba 11.000 kali lebih besar terhadap penyalahgunaan narkoba berat dibandingkan dengan responden yang memiliki lingkungan sosial yang tidak mendukung terhadap penyalhgunaan narkoba. Dari 37 responden didapatkan bahwa responden yang memiliki spiritual yang kurang baik dengan penyalahgunaan narkoba berat sebanyak 7 responden (36,8%) dan yang memiliki spiritual yang baik dengan penyalahgunaan narkoba berat sebanyak 17 responden (94,4%). Uji statistik chi square dalam penelitian ini didapatkan ρ value = 0,001, jika dibandingkan dengan nilai α = 0,05, maka nilai ρ value < α 0,05, maka dari itu hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara variabel spiritual dengan penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan hasil pengolahan uji statistik didapatkan nilai OR = 29.143, artinya responden yang memiliki spiritual yang kurang baik memiliki resiko 29.194 kali lebih besar terhadap penyalahgunaan narkoba dibandingkan dengan responden yang memiliki spritual baik. PEMBAHASAN Lingkungan Sosial Dari hasil penelitian dan pengolahan data didapatkan bahwa hampir separoh (48,6%) responden yang memiliki status pemakai narkoba memilki lingkungan sosial mendukung terhadap penyalahgunaan narkoba. Hasil penelitian ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jaji (2016) tentang hubungan faktor sosial dan spiritual dengan resiko penyalahgunaan narkoba pada remaja smp dan sma di P-ISSN : 2355-9853 E-ISSN : 2622-4135 palembang. Hasil penelitian nya didapatkan bahwa sebanyak 51,1% responden dipengaruhi oleh teman sebaya dan sebesar 86,6% responden dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang buruk. Menurut asumsi peneliti bahwa lingkungan sosial ini merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap seseorang dalam penyalahgunaan narkoba. Peneliti berpendapat bahwa pada umumnya responden melakukan penyalahgunaan narkoba karena kurangnya perhatian didalam keluarga dan juga dipengaruhi oleh lingkungan seperti teman teman dan rekan kerja. Hal ini diperkuat oleh teori yang dikemukakan oleh Noorkasiani & dkk, (2009) bahwa faktor yang berkontribusi seseorang menggunakan narkoba adalah kondisi keluarga yang tidak baik, orang tua yang terlalu sibuk sehingga kekurangan perhatian dan kasih sayang dari keluarga. Hal ini diperkuat oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa hampir separoh (48,6%) responden memiliki lingkungan sosial yang mendukung terhadap penyalahgunaan narkoba. Spiritual Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa dari 37 responden lebih dari separoh (51,4%) responden yang memiliki status pemakai narkoba memiliki spiritual yang kurang baik. Spritual artinya berhubungan dengan religi atau agama. Spiritual adalah keyakinan dalam hubunganya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha pencipta. Sebagai contohnya adalah seseorang yang percaya kepada Allah sebagai Pencipta atau sebagai Maha Kuasa (Jaji, 2008). Agama menentukan orientasi hidup seseorang, baik individu maupun hidup bermasyarakat. Hal tersebut sangat penting dalam memberi dasar untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, boleh atau tidak, halal atau haram. Sesuai hasil penelitian (Moore, 1990 dalam Adiningsih , 2002) memperlihatkan bahwa seseorang yang komitmen agamanya lemah mempuyai resiko empat kali lebih 109 Jurnal Kesehatan Perintis (Perintis’s Health Journal) Volume 5 Nomor 1 Tahun 2018 tinggi untuk terlibat ke dalam penyalahgunaan narkoba. Seharusnya secara empirik agama dapat dipandang sebagai kontrol sosial. Kontrol sosial yang dimaksud adalah seluruh pengaruh kekeuatan yang menjaga terbinanya pola-pola kelakuan dan kaidah –kaidah sosial milik masyarakat . dengan demikian, seseorang yang berada pada fase transmisi yang dipengaruhi oleh lingkungan dapat menjaga keseimbangan melalui masa transisi tersebut sehingga seseorang tidak harus terjerumus kedalam dunia penyalahgunaan narkoba tersebut (Jaji, 2009). Menurut asumsi peneliti bahwa pada umumnya responden memiliki spiritual yang kurang baik dan keimanan yang tidak kuat sehingga mengakibatkan mereka mudah terpengaruh oleh kondisi dan lingkungan yang mengakibaktkan mereka terjerumus kedalam penyalahgunaan narkoba dan mengabaikan aturan dan prinsip agama mereka seperti larangan untuk menyalahgunakan narkoba. Hal ini diperkuat oleh hasil kuesioner bahwa lebih dari separoh (51,4%) responden memiliki spiritual yang kurang baik. Penyalahgunaan Narkoba Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa dari 37 responden didapatkan lebih dari separoh (64,9%) responden memiliki penyalahgunaan narkoba dengan kategori berat. Penyalahgunaan Narkoba adalah penggunaan narkoba yang dilakukan tidak untuk maksud pengobatan, tetapi karena ingin menikmati pengaruhnya, karena pengaruhnya itu narkoba dislahgunakan (Martono & Joewana,2008). Menurut Wijayanti (2016) Penyalahgunaan narkoba ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti individu, lingkungan sosial. Konsep ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Dwi Agustina & dkk (2014) tentang faktor penyebab penyalahgunaan narkoba pada P-ISSN : 2355-9853 E-ISSN : 2622-4135 wanita yaitu seperti faktor intrnal yaitu agama dan intelegensi dan faktor lingkungan sosial. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Jaji (2016) bahwa penyalahgunaan narkoba bahwa penyalahgunaan narkoba pada remaja lebih dari separoh (52,3%) remaja memiliki resiko tinggi terhadap penyalahgunaan narkoba. Hal ini disebabkan oleh remaja lebih cendrung merasa bebas dan mudah bergaul serta banyak yang menjawab ya pada pertanyaan ketika merasa kegagalan tidak harus menyelesaikan dengan merokok dan minuman keras. Hal ini menunjukkan bahwa responden lebih cendrung beresiko terhadap penyalahgunaan narkoba. Menurut asumsi peneliti, penyalahgunaan narkoba ini juga bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan keluarga akan bahaya penyalahgunaan narkoba dan juga kurangnya peran anggota keluarga dalam pencegahan terjadinya penyalahgunaan narkoba.Hal ini bisa diatasi dengan adanya pemberian edukasi kepada keluarga akan bahaya penyalahgunaan narkoba sedini mungkin. Hubungan Lingkungan Sosial dengan Penyalahgunaan Narkoba pada Penghuni LPKA Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa dari 37 responden yang memiliki lingkungan sosial mendukung dengan penyalahgunaan narkoba berat yaitu sebanyak 16 responden (88,9%) dan yang memiliki Lingkungan Sosial mendukung dengan penyalahgunaan narkoba ringan sebanyak 2 responden (11,1%). Hasil analisis lebih lanjut terlihat bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lingkungan sosial dengan penyalahgunaan narkoba pada penghuni LPKA Provinsi Sumatera barat yang memiliki status pemakai denga ρ value = 0,008 dengan nilai nilai OR = 11.000, 110 Jurnal Kesehatan Perintis (Perintis’s Health Journal) Volume 5 Nomor 1 Tahun 2018 artinya bahwa responden yang memiliki lingkungan sosial yang tidak mendukung terhadap penyalahgunaan narkoba mempunyai peluang 11 kali lebih besar terhadap penyaahgunaan narkoba. Hal ini sesuai dengan proses terjadinya penyalahgunaan dan ketergantugan narkoba merupakan hasil interaksi faktor predisposisi, faktor kontribusi dan faktor pencetus. Seseorang yang memiliki gangguan kepribadian (anti sosial) akan mengalami gangguan kepribadian ditandai dengan perasaan tidak puas terhadap prilaku orang lain serta tidak mampu berfungsi secara wajar dan efektfif, baik dirumah, di sekolah, ditempat kerja maupun dalam pergaulan sosialnya (Hawari,2000 dalam Noorkasiani & dkk,2009). Menurut asumsi peneliti lingkungan sosial merupakan salah satu faktor yang dominan dan berpengaruh pada seseorang dalam penyalahgunaan narkoba. Hal ini diperkuat oleh hasil kuesioner yang menunjukkan 88,9% responden memiliki lingkungan sosial yang mendukung dengan penyalahgunaan narkoba ringan. Lingkungan sosial yang baik akan membawa dampak positif terhadap diri kita dan sebaliknya jika lingkungan sosial kita selalu memberikan hal negatif, maka kita juga bisa terpengaruh terhadap hal negatif tersebut termasuk penyalahgunaan narkoba. Maka dari itu untuk mengatasi masalah tersebut hal yang dapat dilakukan yaitunya dengan menjauhi segala interaksi atau pergaulan yang dapat membawa kita terjerumus kedalam penyalahgunaan narkoba tersebut. Hubungan Spiritual dengan Penyalahgunaan Narkoba Pada Penghuni LPKA Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 36,8% responden memiliki spiritual yang kurang baik dengan ketegori penyalahgunaan narkoba berat . Hasil analisis lebih lanjut didapatkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara Spiritual dengan penyalahgunaan narkoba pada P-ISSN : 2355-9853 E-ISSN : 2622-4135 penghuni LPKA Provinsi Sumatera Barat dengan nilai ρ velue = 0,001, dan didapatkan nilai OR = 29,143, artinya responden yang memiliki spiritual yang baik memiliki peluang 29 kali lebih besar terhadap penyalahgunaan narkoba dengan kategori ringan dibandingkan dengan responden yang memiliki spritual kurang baik . Spiritual menurut Hidayat (2006) adalah suatu yang dipercayai oleh seseorang dalam hubungannya dengan kekuatan yang lebih tinggi (Tuhan), yang menimbulkan suatu kebutuhan atau kecintaan terhadap Tuhan, dan permohonan maaf atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Agama menentukan orientasi hidup seseorang, baik individu maupun hidup bermasyarakat. Hal tersebut sangat penting dalam memberi dasar untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, boleh atau tidak, halal atau haram. Hal ini diperkuat oleh konsep Menurut Dewey dalam Fauzi (2007) hilangnya keseimbangan dan ketidakmengertian tentang makna hidup menyebabkan manusia modern menjadi manusia primitif dalam menguasai dan menaklukkan dirinya. Agama yang dilaksanakan dengan benar seharusnya akan membuat seseorang mampu mengendalikan dirinya termasuk untuk tidak terjerumus menggunakan narkoba. Walaupun saat ini belum sepenuhnya sesuai dengan yang diharapkan, terbukti dengan penelitian bahwa individu yang rajin dan taat beribadah tidak menjamin terbebas dari penyalahgunaan narkoba . ada sekitar 6% dari mereka yang mengaku selalu dan rutin beribadah pernah pakai narkoba baik di kota maupun di kabupaten, tetapi mereka menyatakan jarang atau tidak pernah beribadah ternyata dua kali lebih besar angka penyalahgunaan narkoba dibandingkan dengan mereka yang rutin atau rajin beribadah (Puslitbang & Info Lakhar BNN (2006)). Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Ramadhona (2014) didapatkan tentang faktor yang berhubungan dengan penyalahgunaan narkoba di RSJ Hb Saanin didapatkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat religiusitas dengan penyalahgunaan narkoba dengan resiko 175 kali lebih besar menyalahgunakan narkoba bila religiusitasnya rendah dibandingkan dengan responden yang tidak menyalahgunakan narkoba. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat 111 Jurnal Kesehatan Perintis (Perintis’s Health Journal) Volume 5 Nomor 1 Tahun 2018 spiritual atau religiusitas juga berpengaruh terhadap prilaku seseorang melakukan penyalhgunaan narkoba. Menurut asumsi peneliti, tingkat spiritual seseorang akan sangat mempengaruhi seseorang dalam melakukan tindakan penyalahgunaan narkoba. Hal ini dapat diperkuat dengan hasil kuesioner bahwa 36% responden memiliki spiritual yang kurang baik dengan penyalahgunaan narkoba berat. Seseorang yang memilki spritual dan agama yang baik akan mengetahui bahwa narkoba adalah barang haram dan tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Hal ini juga dipengaruhi oleh pendidikan agama seseorang sejak dini, seseorang yang memiliki bekal ilmu agama dan iman yang kuat cendrung lebih sedikit beresiko melakukan penyalahgunaan narkoba dibandingkan seseorang yang tidak dibekali spritual yang baik sejak dini. Hal ini dapat diatasi dengan meningkatkan keimanan dan spritual keluarga dan anggota keluarga serta memperdalam ilmu agama sejak dini agar dapat terhindar dari penyalahgunaan narkoba. KESIMPULAN Disimpulkan bahwa hampir separoh (48,6%) memiliki lingkungan sosial yang mendukung terhadap penyalahgunaan narkoba pada penghuni LPKA Provinsi Sumatera Barat Tahun 2018. Lebih dari separoh (51,4%) memiliki spiritual yang kurang baik pada penghuni LPKA Provinsi Sumatera Barat yang memiliki status Pemakai . Lebih dari separoh (64,9%) responden memiliki kategori penyalahgunaan narkoba berat pada Penghuni LPKA Provinsi Sumatera Barat Tahun 2018. Terdapat hubungan yang bermakna antara Lingkungan Sosial dengan Penyalahgunaan Narkoba pada Penghuni LPKA Provinsi Sumatera barat Tahun 2018 dengan nilai ρ value = 0,008 dan nilai OR=11. Terdapat hubungan yang bermakna antara spiritual dengan penyalahgunaan narkoba pada penghuni LPKA provinsi Sumatera barat Tahun 2018 dengan nilai ρ value = 0,001 dan nilai OR = 29,143. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara lingkungan sosial dan spiritual dengan penyalhgunaan narkoba pada penghuni LPKA Provinsi Sumatera Barat tahun 2018. P-ISSN : 2355-9853 E-ISSN : 2622-4135 DAFTAR PUSTAKA Infodatin. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. (2014). http://www.depkes.go.id/resources/down load/pusdatin/infodatin/infodatin-antinarkoba.pdf. Situasi dan Analisis Penyalahgunaan Narkotiba. di akses pada tanggal 15 september 2015 pukul 23.30 WIB. Infodatin. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. (2017). www.depkes.go.id/download.php?file/inf odatin/infodatin%20narkoba%202017.pd f di akses pada tanggal 26 Juni 2017. UNODC (United Nations Office Drug on Drug and Crime). (2016). Word Drug Report.https://www.unodc.org/doc/wdr2 016/WORLD_DRUG_REPORT_2016_ web.pdf . Kusno Adi, Diversi Sebagai Upaya Alternative Penanggulangan Tindak Pidana Narkotika Oleh Anak, Umm,Press, Malang, 2009, hal 3 Undang-Undang No.35 tahun 2009 dalam Wijayanti. Daru. (2016). Revolusi Mental Stop Penyalahgunaan Narkoba. Yogyakarta. INDOLITERASI Alimul Hidayat, Aziz.(2009). Metodologi Penelitian keperawatan dan teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika. Trilhendradi. (2009). Step by step SPSS 16 Analisa Data Statistik. Yogyakarta: Andi. Nursalam.(2013). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan. Jakarta: Medika Salemba. Notoeatmodjo,S.(2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Notoeatmodjo,S.(2002). Metodologi Penelitian Kesehatan cetakan kedua. Edisi Revisi Jakarta : Rineka Cipta. Perry, & Potter. (2005). Fundamental Kperawatan Edisi 4 volume 1. Jakarta : EGC. Notoeatmodjo,S.(2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. ‘Ain Tanjung,H.Mastar. (2006). Pahami Kejahatan Narkoba. Jakarta : Lembaga terpadu Permasyarakata Anti Narkoba. Wijayanti,Daru. (2016). Revolusi Mental Stop Narkoba. Yogyakarta : INDOLITERASI. Partodiharjo,S. (2007). Kenali Narkoba dan Musushi Penyalahgunaanya.Jakarta: Erlangga. 112 Jurnal Kesehatan Perintis (Perintis’s Health Journal) Volume 5 Nomor 1 Tahun 2018 Surandi,Edy.(2007). Kebersamaan Memerangi Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba . Padang : Badan Narkotika Provinsi (BNP) Sumatera Barat. Jaji, Jaji (2010) Hubungan Faktor Sosial dan Spiritual dengan Risiko Penyalahgunaan Napza pada Remaja SMP dan SMA di Kota Palembang 2009. JURNAL PEMBANGUNAN MANUSIA, 4 (2). Diakses tanggal 24 April 2012. Sembiring, Nova Farida Br .(2014). Faktor Faktor yang Mempengaruhi Penyalahgunaan Narkoba pada Remaja di Lingkungan XIV Kelurahann Glugur Kota Kecamatan Medan Barat . diakses pada tanggal 2 April 2015. Archiliandi, (2016). Gambaran Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Care oleh Perawat Kepada Pasien Rawat Inap RS PKU P-ISSN : 2355-9853 E-ISSN : 2622-4135 Muhammadiyah Bantul. 123doc . diakses pada 3 juni 2016. Agustina, Dwi & dkk (2014). Analisis Terhadap Faktor-Faktor Penyebab Penyalahgunaan Narkotika Yang Dilakukan Oleh Wanita (Studi pada Lembaga Pemasyarakatan Wanita Bandar Lampung). Vol 3 no 1. Diakses pada 1 Maret 2015. Resmana, Angga. (2012). Pengaruh Lingkungan Keluarga, Teman Sebaya, dan Tetangga Terhadap Perilaku Menyimpang Anak Usia Sekolah Dasar yang Bekerja Sebagai Pemulung di Lingkungan III Kelurahan Tanjung Karang Kecamata Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung. http://padangkita.com/angka-hasil-ungkapkasus-narkoba-di-sumbar-alamipeningkatan/ 113