JURNAL ABDI INSANI Volume 13. Nomor 6. Juni 2026 http://abdiinsani. e-ISSN : 2828-3155. p-ISSN : 2828-4321 IMPLEMENTASI KEWIRAUSAHAAN TAHAP AWAL BERBASIS SDGS PADA PERANCANGAN PROTOTIPE PRODUK SKINCARE Implementation of Early-Stage SDGs-Based Entrepreneurship in the Design of Skincare Product Prototypes Sinta Ramaiyanti1*. Fitri Humairoh2. Nurrahma Dewi3. Suci Nurulita4. Rahmat Junaidi5. Fitri6 Prodi S1 Akuntansi Universitas Riau, 2Prodi S1 Akuntansi Universitas Riau, 3Prodi S1 Akuntansi Universitas Riau, 4Prodi S1 Akuntansi Universitas Riau, 5Prodi S1 Manajemen Universitas Riau, 6Prodi S1 Manajemen Universitas Riau Kampus Bina Widya KM. 12,5. Jalan HR. Soebrantas. Kelurahan Simpang Baru. Kecamatan Bina Widya. Kota Pekanbaru. Riau 28293 Alamat Korespondensi: sinta. ramaiyanti@lecturer. (Tanggal Submission: 21 Januari 2026. Tanggal Accepted : 29 Juni 2. Kata Kunci : Abstrak : UMKM Kosmetik. SOP Produksi. Literasi Keuangan. SIAPIK. SDGs Entrepreneurship Industri kosmetik di Indonesia terus berkembang pesat, tetapi banyak UMKM masih mengalami kesulitan dalam hal legalitas, standar produksi, dan pengelolaan keuangan. Akibatnya, potensi usaha mereka belum bisa berkembang secara maksimal karena kurangnya pengetahuan teknis dan kesadaran akan pentingnya tata kelola yang baik. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memperkuat kesiapan operasional UMKM dibidang skincare dengan pendekatan kewirausahaan tahap awal yang mengacu pada SDGs. Kegiatan ini meliputi pendampingan intensif dalam penyusunan SOP produksi sesuai GMP, edukasi tentang perizinan BPOM dan sertifikasi halal, pelatihan keuangan menggunakan aplikasi SIAPIK, serta penguatan identitas digital melalui pembuatan website. Hasilnya, pemahaman tentang legalitas dan standar mutu meningkat, alur produksi menjadi lebih sistematis, dan skor literasi keuangan naik hingga 400% pada aspek penyusunan laporan keuangan dan perhitungan HPP. Identitas digital usaha juga menjadi lebih kredibel berkat website yang menonjolkan nilai keberlanjutan dan keamanan produk. Secara keseluruhan, kegiatan ini membantu UMKM beralih dari tahap pra-produksi ke kesiapan validasi usaha sesuai standar industri. Program ini dapat diterapkan pada UMKM kosmetik lain yang menghadapi tantangan serupa. Key word : Abstract : Cosmetic MSMe. Production SOP. Financial The cosmetic industry in Indonesia has shown rapid growth, yet most MSMEs still struggle with regulatory compliance, standardized production systems, and financial management. These constraints hinder their business scalability due Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Ramaiyanti et al. , 1198 Literacy. Siapik. SDGs Entrepreneurship to the lack of technical knowledge and structured governance. This community service program was conducted to strengthen the operational readiness of the skincare MSME AuRAUMEAy through an SDGs-based early-stage entrepreneurship The implementation involved intensive mentoring, including the development of GMP-based production SOPs, education on BPOM licensing and halal certification, financial literacy training using the SIAPIK application, and digital branding through website development. The results indicated a significant improvement in regulatory awareness and quality assurance, the establishment of a systematic production workflow, and a 400% increase in financial literacy scores related to financial reporting and cost of goods Furthermore, the digital identity of the business became more credible through a website that reflects sustainability and product safety values. Therefore, the program successfully transformed the MSME from a preproduction phase into an industry-standard validation stage. This model is highly replicable for other cosmetic MSMEs facing similar challenges. Panduan sitasi / citation guidance (APPA 7th editio. Ramaiyanti. Humairoh. Dewi. Nurulita. Junaidi. , & Fitri. Implementasi Kewirausahaan Tahap Awal Berbasis SDGs pada Perancangan Prototipe Produk Skincare. Jurnal Abdi Insani, 13. , 1198-1208. https://doi. org/10. 29303/abdiinsani. PENDAHULUAN Industri kosmetik di Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan, ditopang oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perawatan kulit dan gaya hidup sehat. Menurut Ferdinand & Ciptono . Pertumbuhan sektor kosmetik Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh tren estetika, tetapi juga oleh peningkatan akses digital dan perubahan pola konsumsi masyarakat. Data Kementerian Perindustrian . mencatat terdapat lebih dari 1. 500 pelaku usaha kosmetik, dengan 89% di antaranya merupakan usaha mikro dan kecil. Kontribusi UMKM dalam industri ini sangat strategis karena berperan dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan Produk Domestik Bruto. Menurut (Tambunan, 2. struktur ekonomi berbasis UMKM di Indonesia masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan apabila diberikan intervensi yang tepat pada aspek literasi dan tata Namun, berbagai studi menunjukkan daya saing UMKM masih terhambat oleh keterbatasan literasi keuangan, rendahnya adopsi digital, serta tantangan dalam memenuhi regulasi usaha. Hal ini sejalan dengan temuan Hasan et al. yang menyebutkan bahwa kurangnya dokumentasi keuangan dan ketidakterauran administasi menjadi hambatan utama untuk naik kelas. Permasalahan tersebut banyak dialami UMKM. Salah satu UMKM yang mengalami permasalahan tersebut adalah Raume. Sebuah UMKM industri skincare lokal di Pekanbaru masih berada pada tahap pra-operasional. Menurut (Situmorang et al. , 2. kondisi pra operasional seperti ini umum terjadi pada UMKM kecantikan karena minimnya pendampingan legalitas dan produksi. Kondisi awal Raume sebelum dilakukan pendampingan terlihat belum memiliki standar operasional prosedur (SOP) produksi, sistem pencatatan keuangan, kanal pemasaran digital, maupun legalitas Sugibayashi et al. menegaskan bahwa ketidaksiapan dokumen produksi dan sertifikasi halal/BPOM dapat menghambat masuknya produk ke pasar modern. Kondisi ini menjelaskan temuan Hasan et al. , . yang menyatakan bahwa rendahnya literasi keuangan dan minimnya digitalisasi merupakan hambatan utama bagi keberlanjutan UMKM di Indonesia. Literatur terdahulu memperkuat urgensi intervensi pada tiga aspek utama tentang digitalisasi, manajemen keuangan, dan legalitas. Pada aspek produksi. Widjanarko & Anggoro . membuktikan bahwa kepatuhan terhadap Good Manufacturing Practices (GMP) yang dituangkan ke dalam Standar Operasional Prosedur berdampak langsung pada efisiensi dan kualitas produk kosmetik, sementara Supardi & Hutabarat . menekankan kepatuhan regulasi kosmetik sebagai instrumen perlindungan konsumen. Dari sisi keuangan. Hasan et al. dan Suidarma et al. , sama-sama menegaskan bahwa literasi keuangan digital meningkatkan akuntabilitas usaha dan membuka akses Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Ramaiyanti et al. , 1199 pembiayaan formal, sehingga relevan untuk pelatihan pencatatan keuangan dengan aplikasi SIAPIK. Malau . juga menunjukkan efektivitas penerapan SIAPIK dalam menjaga konsisten pencatatan kas harian pada UMKM. Pada aspek pemasaran. Rahayu & Day . menunjukkan bahwa adopsi ecommerce meningkatkan penetrasi pasar UMKM di negara berkembang, sehingga relevan sebagai dasar pengembangan website RAUME. Dwivedi et al. menambahkan bahwa digital marketing kini menjadi determinan utama keberhasilan UMKM, yang mendukung strategi pendampingan berbasis media digital. Selain kajian akademis, sejumlah program pengabdian masyarakat (PKM) serupa pernah dilakukan sebelumnya. Ramadhan et al. menunjukkan bahwa optimalisasi strategi digital marketing pada UMKM berdampak positif pada perluasan jangkauan pasar dan peningkatan penjualan, sehingga membuktikan relevansi strategi ini untuk RAUME. Widiastuti et al. menekankan bahwa literasi keuangan digital terbukti meningkatkan keteraturan pencatatan usaha kecil, yang mendukung urgensi pelatihan SIAPIK dalam program ini. Sementara itu. Kader et al. memperlihatkan bahwa adopsi pemasaran berbasis website dan media digital mampu memperkuat branding serta memperluas jangkauan konsumen UMKM, sehingga relevan untuk intervensi website RAUME. Kegiatan diawali dengan tahap identifikasi dan analisis kebutuhan mitra. Tim pengabdi melakukan observasi dan wawancara langsung dengan pelaku UMKM untuk mengetahui kondisi aktual usaha, termasuk tantangan yang dihadapi. Dari hasil identifikasi dilakukan analisis kebutuhan dan perancangan kegiatan/program intervensi yang disesuaikan dengan karakteristik dan kapasitas mitra. Solusi yang diberikan untuk menjawab permasalahan utama UMKM Raume berfokus pada 3 segmen yang terdiri dari : manajemen produksi yaitu pendampingan penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan berdasarkan prinsip Good Manufacturing Practice (GMP) serta memberikan pelatihan sederhana terkait produksi. Pengelolaan keuangan, dilakukan dengan pelatihan pencatatan keuangan Digital menggunakan aplikasi SIAPIk. untuk membantu UMKM yang berfungsi sebagai alat pencatatan keuangan yang mudah digunakan oleh pelaku UMKM pemasaran, dilakukan pembangunan dan Optimalisasi website. Program pengabdian ini dirancang untuk menjawab permasalahan RAUME dengan mengintegrasikan pendekatan early-stage entrepreneurship berbasis kerangka Sustainable Development Goals (SDG. SDG 8 menekankan penciptaan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. SDG 9 menekankan inovasi industri dan digitalisasi. SDG 12 menekankan praktik produksi yang berkelanjutan dan sesuai regulasi, sedangkan SDG 16 menekankan tata kelola usaha yang transparan dan legal (Kementerian PPN/Bappenas, 2. METODE KEGIATAN Pelaksanaan kegiatan berlangsung pada bulan AgustusAeSeptember 2025. Objek yang menjadi kegiatan ini adalah UMKM RAUME Skincare yang berlokasi di Jalan Lumba-Lumba kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan. Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Pemilihan UMKM didasarkan pada profil mitra yang masih berada pada tahap pra-operasional, sehingga sangat relevan dengan tujuan kegiatan yaitu membangun kapasitas kewirausahaan awal berbasis SDGs. Menurut Situmorang et. pendekatan penguatan kelembagaan UMKM pra-operasional harus dimulai dari penataan fondasi Kegiatan pelaksanaan ini menggunakan pendekatan partisipatif . articipatory approac. dan praktik langsung . earning by doin. , yang memungkinkan pelaku UMKM untuk belajar sekaligus menerapkan materi yang diberikan secara langsung dalam kegiatan usahanya. (Hakim & al. , 2. menjelaskan model pelatihan berbasis partisipatif terbukti meningkatkan retensi implementasi hingga 60% karena peserta terlibat langsung dalam proses perumusan solusi. Setiap tahapan kegiatan dirancang agar sesuai dengan kebutuhan nyata mitra UMKM, dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. , khususnya SDG 8 . ekerjaan layak dan pertumbuhan ekonom. SDG 9 . ndustri, inovasi, dan infrastruktu. , serta SDG 12 . onsumsi dan produksi yang bertanggung Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Ramaiyanti et al. , 1200 Menurut Gupta dan Vegelin . integrasi prinsip SDGs, dalam model pendampingan ekonomi lokal memungkinkan keberlanjutan dampak setelah program selesai. Secara teknis, metode pelaksanaan terdiri dari tiga segmen utama sebagai berikut. Segmen Manajemen Produksi Pendampingan difokuskan pada penyusunan standar operasional prosedur (SOP) produksi sesuai prinsip Good Manufacturing Practice (GMP). Kegiatan ini dilakukan dengan penyampaian materi mengenai alur kerja produksi kosmetik yang baik disertai praktik penyusunan SOP langsung bersama mitra dan pihak maklon Penerapan GMP pada UMKM kosmetik mampu menurunkan risiko ketidaksesuaian mutu hingga 30% apabila didokumentasikan dalam bentuk SOP tertulis (Widjanarko & Anggoro, 2. Proses penyusunan SOP dilakukan secara bertahap dengan melibatkan analisis kebutuhan produksi, pemilihan malon sesuai kriteria CPKB, penyusunan alur kerja produksi, penetapan titik kendali mutu, penyusunan draft SOP sera validasi bersama pihak Chen et al. menyatakan bahwa keterlibatan mitra produksi dalam penyusunan SOP meningkatkan komitmen implementasi di lapangan. Berikut ini tahapan pelaksanaan yang terdiri dari beberapa langkah sistematis sebagai berikut : Tahap Analisis kondisi dan kebutuhan produksi. Kegiatan ini menghasilkan panduan yang mengatur alur komunikasi, tahapan produksi serta titik pengawasan antara pihak Raume dan Maklon. Tahap Identifikasi dan seleksi Maklon Kriteria pemilihan meliputi : Kepemilikan izin CPKB sesuai standar BPOM, kapasitas produksi sesuai volume pesanan awal, dan memiliki kemampuan menyediakan layanan uji stabilitas dan pengujian mutu. Tahap Penyusunan alur produksi dan titik kendali Mutu Kegiatan ini dilakukan untuk menyusun alur kerja produksi skincare yang menghasilkan flowchart produksi dengan menggunakan jasa maklon yang mencakup. Formulasi dan pembuatan sampel awal, uji stabilitas dan persetujuan sampel, pengadaan bahan baku dan kemasan, produksi massal dan pengemasan, pengujian mutu akhir dan pelaporan hasil serta pengiriman produk ke pihak Raume. Dari alur ini juga ditetapkan titik kendali mutu (Critical Control Point. Tahap Penyusunan Draft SOP Produksi Draft SOP mencakup. tujuan dan ruang lingkup kerja sama, prosedur dan komunikasi dan pelaporan produksi, pembagian tanggung jawab antara Raume dan pihak maklon, standar uji mutu dan dokumen pendukung serta produksi koreksi jika terjadi ketidaksesuaian hasil Tahap Validasi dan Uji Coba SOP SOP yang telah disusun kemudian dikonsultasikan dengan pihak Maklon. Dilakukan validasi agar seluruh isi SOP sesuai dengan sistem kerja maklon dan tidak bertentangan dengan regulasi internal mereka. Apabila telah disetujui. SOP akan digunakan dalam batch produksi perdana Produk Raume. Segmen Keuangan Pada segmen ini mitra diberikan pelatihan penggunaan aplikasi SIAPIK untuk pencatatan keuangan digital. Pelatihan dilakukan dengan pendekatan coaching dan simulasi agar peserta memahami alur pencatatan kas masuk, kas keluar, aset. HPP dan laporan laba rugi otomatis. Penggunaan aplikasi SIAPIK terbukti mampu meningkatkan akurasi pencatatan transaksi harian UMKM hingga 80% (Malau, 2. Setelah pelatihan peserta diberikan template dan buku panduan penggunaan SIAPIk agar dapat diterapkan secara mandiri. Suidarma et. menegaskan bahwa keberhasilan literasi keuangan tidak hanya ditentukan oleh materi pelatihan, tetapi juga oleh ketersediaan alat bantu Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Ramaiyanti et al. , 1201 Segmen Pemasaran Segmen ini berfokus pada penguatan identitas digital melalui pembangunan website RAUME sebagai minimum viable branding aset. Websiter dikembangkan oleh tenaga profesional dengan pendekatan visual modern dan narasi berbasis keberlanjutan. Rahayu & Day . mengungkapkan eksistensi website sebagai kanal digital resmi meningkatkan kredibilitas usaha kecil dalam proses pembentukan kepercayaan konsumen. Narasi website disusun berdasarkan hasil FGD dan kerangka SDGs agar dapat merepresentasikan nilai keberlanjutan dan keamanan Dwivedi et al. menambahkan bahwa digital branding berbasis narasi nilai . alue-driven brandin. lebih efektif dibanding pemasaran berbasis promosi harga. Target pencapaian dari kegiatan ini adalah identitas brand serta platform edukatif berbasis digital. Penggunaan website Raume dikembangkan sebagai minimum viable Branding asset, yakni kanal edukasi awal untuk menyampaikan identitas dan arah brand sebelum memasuki fase komersial. Secara teknis, website dirancang oleh tenaga Ahli profesional agar memiliki tampilan yang modern, responsif, selaras dengan positioning brand. Indikator yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan program yang dilakukan adalah dengan Tersedianya SOP/Flowchart produksi pra operasional tertulis, proses legalitas sudah dimulai, peningkatan keterampilan dan pemahaman UMKM terhadap laporan keuangan berbasis SIAPIK, tersedianya template penggunaan aplikasi SIAPik yang sesuai dengan RAUME serta panduan singkat penggunaan, dan serta ketersediaan website aktif yang dapat meningkatkan visibilitas produk. Tujuan program ini adalah Meningkatkan kualitas produksi UMKM melalui SOP standar. Meningkatkan literasi keuangan dan penerapan pencatatan berbasis digital serta memperluas jangkauan pemasaran melalui media digital . Kegiatan ini diarahkan kepada tahap early stage entrepreneurship yang berfokus pada efisiensi dan validasi struktur dasar usaha. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan dilaksanakan melalui tiga tahapan segmen, yaitu: Manajemen produksi, keuangan dan pemasaran. Kegiatan ini berhasil meningkatkan kapasitas usaha mitra dalam aspek operasional, legalitas, keuangan, dan pemasaran. Hasil Segmen Manajemen Produksi Dari hasil wawancara dan observasi. Pemilik UMKM Raume belum memiliki dokumen standar produksi dan sistem pengawasan mutu. Kegiatan ini dilakukan dengan pendampingan penyusunan SOP bersama pihak maklon. Pendampingan penyusunan SOP berbasis GMP dapat menurunkan risiko kegagalan produksi dan meningkatkan efisiensi koordinasi antara UKM dan penyedia jasa maklon. Hasil yang diperoleh dari pendampingan ini adalah Ketersediaan alur penyusunan SOP Produksi Skincare Raume yang menggunakan jasa Maklon, serta peningkatan pemahaman manajerial UMKM khususnya dalam pengawasan mutu dan komunikasi antar pihak. Chen et al. menyatakan bahwa keterlibatan aktif UMKM dalam penyusunan SOP meningkatkan kepatuhan implementasi karena pelaku usaha merasa proses tersebut. Early Stage Entrepreneurship Manajemen Produksi Keuangan Alur SOP Produksi Pemasaran Penggunaan SIAPIK Website Aktif Gambar 1. Program Kegiatan Pengabdian Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Ramaiyanti et al. , 1202 Gambar 2. Flowchart Penyusunan SOP Produksi Sincare Hasil Segmen Keuangan Kondisi awal UMKM yang berada pada fase pra-operasional tentunya belum memiliki sistem pencatatan keuangan. Kegiatan pada segmen ini dilakukan dengan pendekatan coaching penggunaan alikasi SIAPIK, penyusunan template dan buku panduan. Menurut malau . penggunaan SIAPIK secara konsisten mampu meningkatkan akurasi pencatatan transaksi harian hingga 80% pada UMKM skala mikro. Peningkatan keterampilan dan pemahaman penyusunan laporan keuangan terlihat dari hasil pre-test dan post-test yang menunjukkan lonjakan skor signifikan. Suidarma et al. menegaskan bahwa peningkatan literasi keuangan yang diukur melalui peningkatan skor post test merupakan indikator valid keberhasilan program pelatihan. Tabel 1. Hasil Pre-test dan Post-test Kegiatan Segmen Keuangan No Pertanyaan Keuangan (Redaksi Standar Skor Skor Selisih Interpretasi Pre-Tes. Pre Post Saya dapat memisahkan keuangan Sudah disiplin sejak awal usaha dengan keuangan pribadi. & konsisten Saya memiliki pemahaman tentang pentingnya pencatatan aset dan kewajiban usaha. Saya bisa menyusun laporan laba-rugi bulanan sederhana. Peningkatan kesadaran pencatatan finansial Saya mengetahui cara menghitung harga pokok produksi (HPP) per produk. Lonjakan signifikan Ai dari tidak bisa Ie sangat Awalnya belum paham HPP, kini sangat yakin Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Ramaiyanti et al. , 1203 Saya mampu membaca laporan keuangan untuk menentukan strategi promosi atau harga. Saya dapat membuat proyeksi keuangan sederhana . encana pemasukan dan Saya sudah mulai menggunakan aplikasi/alat digital untuk pencatatan (Tambahan Post-Tes. Saya merasa literasi keuangan saya meningkat setelah mengikuti program (Tambahan Post-Tes. Sudah mampu gunakan data untuk keputusan Sudah bisa sejak awal, tinggal dipertahankan Ai Ai Indikasi adopsi teknologi Ai Ai Konfirmasi self-efficacy Pasca pelatihan, seluruh indikator keuangan yang sebelumnya berada pada kategori rendah meningkat secara drastis menjadi skor maksimum . Peningkatan sebesar 400% pada tiga indikator inti Ai yaitu penyusunan laporan laba-rugi, perhitungan HPP, dan analisis laporan keuangan untuk strategi harga/promosi Ai menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis simulasi dan studi kasus yang digunakan dalam pelatihan efektif dalam mengonversi pengetahuan pasif menjadi applied financial competence. Selain peningkatan kuantitatif, munculnya dua indikator baru pada Post-Test Ai yakni penggunaan aplikasi pencatatan keuangan digital dan peningkatan literasi keuangan secara subjektif Ai menandakan bahwa pelatihan tidak hanya membangun kemampuan teknis, tetapi juga mendorong perubahan perilaku . ehavioural transformatio. dalam pengelolaan keuangan usaha. Gambar 3. Hasil Post test dan Pre Test tingkat pemahaman UMKM Raume Setelah melakukan Coaching kepada UMKM Raume Skincare, selanjutnya tim pengabdian menyusun template dan panduan yang akan digunakan nantinya ketika UMKM memulai kegiatan Berikut tabel template penggunaan aplikasi SIAPIk. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Ramaiyanti et al. , 1204 Tabel 2. Template Penggunaan Aplikasi SIAPik Menu . plikasi SIAPi. Menu pencatatan kas masuk/Keluar Menu pencatatan Kas Keluar Menu Biaya produksi /Modal Menu Laporan laba/rugi otomatis Menu hutang/Piutang Menu grafik Laporan tahunan/Bulanan Fungsi Untuk mencatat semua pemasukkan usaha (Penjualan, tambahan modal, dl. Untuk mencatat semua pengeluaran . ahan baku, ongkos, operasiona. Untuk mencatat pembelian bahan baku/alat Menghitung hasil usaha dari selisih pemasukan dan pengeluaran Untuk mencatat transaksi non tunai Menampilkan performa usaha secara visual Fitur rekap Otomatis Untuk penggunaan Aplikasi SIAPIk. Tim Pengabdian menyusun buku panduan yang bisa digunakan oleh Raume. Dengan perincian panduan sebagai berikut : Persiapan Awal Sebelum memulai. UMKM perlu menyiapkan beberapa data dasar, yaitu identitas usaha . ama, alamat, dan sektor usah. , daftar kas/bank, daftar barang/jasa, daftar pelanggan dan pemasok, serta saldo awal . as, persediaan, piutang, utang, dan moda. Data ini menjadi fondasi agar laporan yang dihasilkan merepresentasikan kondisi usaha dengan tepat. Pembuatan Profil Usaha Setelah aplikasi terpasang. UMKM melakukan registrasi dan membuat profil usaha. Pada tahap ini ditentukan sektor usaha . isalnya perdagangan, jasa, atau manufaktu. , periode pembukuan . mumnya JanuariAeDesembe. , serta input saldo awal sesuai kondisi riil. Pengisian Master Data Tahap berikutnya adalah mengisi master data. Kas/bank dicatat sebagai sumber dana, daftar barang/jasa dimasukkan untuk memudahkan pencatatan penjualan, dan daftar pelanggan maupun pemasok diinput agar piutang dan utang dapat tercatat otomatis. Pencatatan Transaksi Harian SIAPIK menyediakan menu Penerimaan dan Pengeluaran yang dirancang sederhana sesuai kebutuhan UMKM. A Penerimaan mencakup penjualan tunai, penjualan kredit, penerimaan pelunasan piutang, serta setoran modal. A Pengeluaran mencakup pembelian bahan baku, pembelian kredit, pembayaran utang, biaya operasional . istrik, iklan, ongkir, gaj. , hingga pembelian aset tetap. Selain itu. SIAPIK mendukung pencatatan pemindahan dana antar kas dan bank. Pencatatan Persediaan Jika digunakan, fitur stok/persediaan akan menambah otomatis barang saat ada pembelian dan mengurangi saat penjualan. Fitur stock opname dapat digunakan untuk menyesuaikan data dengan kondisi fisik. Pembuatan Laporan Keuangan Setiap transaksi yang tercatat secara otomatis terintegrasi dalam laporan keuangan. SIAPIK menghasilkan laporan laba rugi . HPP, dan laba bersi. , neraca . set, kewajiban, dan moda. , laporan arus kas, serta buku besar dan jurnal. Tutup Buku Bulanan Pada akhir bulan, dilakukan tahapan closing yang mencakup rekonsiliasi kas dan bank, pemeriksaan piutang dan utang, pencatatan biaya periodik, serta pengarsipan laporan Tahap ini memastikan bahwa laporan yang dihasilkan siap digunakan untuk evaluasi internal maupun akses pembiayaan eksternal. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Ramaiyanti et al. , 1205 Gambar 4. Coaching Aplikasi SIAPik Hasil Segmen Pemasaran Digital Berbasis Website Dalam segmen pemasaran. UMKM yang berada pada fase pra-operasional belum memiliki sistem pemasaran. Pendampingan dilakukan dengan pendekatan kurasi pesan brand dan penyusunan website sebagai minimum viable branding aset. Rahayu dan Day . mengungkapkan website resmi meningkatkan kredibilitas UMKM dimata konsumen karena dianggap sebagai bentuk legitimasi usaha. Hasil dari pendampingan adalah tersedianya Website Raume yang dapat diakses secara publik melalui https://raume-staging. Website menampikan narasi berbasis keberlanjutan dan kepercayaan konsumen. Dwivedi et. menjelaskan bahwa brand awareness pada UMKM lebih efektif dibangun melalui kanal digital yang menyajikan narasi nilai, bukan sekedar promosi produk. Gambar 5. Tangkapan Layar Website Raume KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian ini berhasil menggeser UMKM dari fase pra-operasional menuju tahap kesiapan validasi usaha berbasis standar industri. Transformasi ini dicapai melalui pendekatan terpadu yang mencakup penyusunan SOP Produksi GMP, pelatihan pencatatan keuangan digital menggunakan aplikasi SIAPIK serta penguatan identitas digital melalui pengembangan website. Menurut Gupta dan Vegelin . , keberhasilan intervensi ekonomi lokal tidak hanya ditentukan oleh peningkatan keterampilan teknis, tetapi jufa oleh integrasi nilai keberlanjutan dalam proses bisnis. Agar manfaat dari program dapat terus berlanjut diperlukan strategi tindak lanjut tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi memastikan penerapan hasil pendampingan secara nyata. Salah satu langkah penting adalah memastikan bahwa SOP produksi yang telah disusun tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi diuji melalui produksi nyata. Chen et al. menegaskan bahwa efektivitas SOP hanya dapat diukur setelah diuji dalam kondisi operasional sebenarnya. Selain itu, keberlanjutan pendampingan pada aspek keuangan dan pemasaran digital perlu dijaga agar UMKM tidak kembali ke pola kerja informal. Menurut Hakim et al. pendampingan lanjutan secara Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Ramaiyanti et al. , 1206 berkala berkontribusi terhadap peningkatan konsistensi penerapan hasil pelatihan pada UMKM hingga Dengan kesinambungan pendampingan teknis, finansial dan pemasaran. UMKM diharapkan tidak hanya berkembang sebagai produsen, tetapi juga sebagai brand yang kredibel dan kompetitif sehingga mampu bersaing dipasar nasional bahkan global. Gambar 6. FGD survey Preferensi Konsumen dan Pendalaman Problem UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau yang telah mendanai kegiatan pengabdian ini melalui skema Program Pengembangan Produk Lokal Dana Dipa Tahun Anggaran 2025. DAFTAR PUSTAKA