Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 PERAN WANITA ISLAM AL-KHAIRAAT DAN MASYARAKAT KELURAHAN LOLU UTARA DALAM MEWUJUDKAN NILAI TOLERANSI UMAT BERAGAMA DAN KEARIFAN LOKAL (STUDI LIVING KITAB SUCI) Gasim Yamani1. Sari Sakinah2 Program Studi Hukum Keluarga Islam. Pascasarjana UIN Datokarama Palu Email: gasimyamani@uindatokarama. Abstract This study examines the practice of religious moderation and the preservation of local wisdom in Lolu Utara Subdistrict. Palu Timur District. Palu City, which is known for its ethnic and religious diversity yet maintains social harmony. The objective is to analyze the communityAos religious activities that reflect the values of the QurAoan and the Bible in managing conflicts related to ethnicity, religion, race, and inter-group relations (SARA) through the Living Holy Book approach. This quantitative study uses proportional sampling techniques, with data collected through questionnaires, surveys, and interviews. The findings indicate a high level of tolerance among the people of Lolu Utara, supported by the active role of community leaders and Wanita Islam Al-Khairaat (WIA) in promoting Local wisdom, such as Nosarara Nosabatutu, further strengthens social harmony. Lolu Utara can serve as a model for successful community-based religious moderation. Keywords: Living Holy Book, local wisdom. Lolu Utara, religious moderation, tolerance. PENDAHULUAN Indonesia adalah negara multikultural yang terdiri dari beragam suku, bahasa, budaya dan agama. Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya berbagai konflik dan kepentingan. Beragam konflik yang terjadi di tengah masyarakat, baik yang mengatasnamakan ekonomi, sosial, politik maupun agama Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 Banyak mengatasnamakan agama terjadi di Indonesia, di antaranya konflik agama di Poso tahun 1992, konflik Sunni-Syiah di Jawa Timur tahun 2012, konflik agama di Bogor tahun 2013. Peristiwa ledakan bom di depan Gereja Katedral Makassar yang terjadi pada tahun 2021. Peristiwa serupa juga terjadi pada tahun 2018 lalu, dimana terjadi serangan bom pada 3 gereja di Surabaya yang merupakan bentuk aksi terorisme yang mengatasnamakan agama. Demikian halnya kasus yang terjadi antar umat beragama, seperti konflik Tolikara Islam dan Nasrani pada tahun 2015, konflik antar agama di Aceh tahun 2015, konflik Poso Islam dan Nasrani tahun 2006 dan masih banyak lagi kasus konflik yang terjadi dengan berdalihkan agama sebagai penyebab utamanya sebagai perwujudan dari sikap fanatisme keagamaan. Konflik-konflik yang terjadi tersebut merupakan dampak dari Aupersatuan dan kesatuanAy yang terbangun di tengah heterogenitas yang sudah lama rapuh. Atas dasar realitas konflik-konflik yang terjadi, maka pemerintah melakukan berbagai upaya untuk meredam, mengatasi, dan mencegah mengatasnamakan agama. Upaya pemerintah dalam rangka Ulfah Fajarini. AuPotret Konflik Keagamaan Masyarakat Tangerang Banten Dan Resolusi Konflik Berbasis Multikulturalisme Dalam Islam,Ay AlTahrir: Jurnal Pemikiran Islam 14, no. : 343Ae361, https://doi. org/10. 21154/al-tahrir. Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 merupakan amanah Undang-Undang. Perbedaan yang terjadi di Indonesia seperti perbedaan budaya, bahasa, bahkan agama dapat disatukan dalam semboyan AuBhineka Tunggal IkaAy, yakni: berbeda-beda namun tetap satu, yaitu satu sebagai sesama manusia. Hal ini sejalan dengan Firman Allah dalam al-QurAoan surat Al-Hujurat ayat 13. Kota Palu memiliki wilayah seluas 395,06 kmA yang terdiri dari 46 Kelurahan dan 8 Kecamatan, salah satu Kecamatan dari 8 Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Palu Timur yang terdiri dari 5 Kelurahan yaitu Kelurahan Besusu Barat. Besusu Tengah. Besusu Timur. Lolu Selatan dan Lolu Utara. Kelurahan Lolu Utara mewujudkan toleransi umat beragama serta upaya habituasi nilai-nilai kearifan lokal melalui peran serta Camat Palu Timur. Lurah Lolu Utara. Wanita Islam Al-Khairaat, pata ketua RW dan RT, para tokoh agama dan masyarakat yang ada di wilayah Kelurahan Lolu Utara. Nilai-nilai toleransi dimaksud sesuai dengan amanat yang tercermin dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 29 ayat . tentang Kebebasan Beragama yang di dalamnya menjelaskan bahwa negara menjamin kemerdekaan bagi tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu. Demikian pula dalam Pancasila khususnya sila pertama tentang Ketuhanan Yang Maha Esa. Salah satu cara Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 mewujudkannya adalah dengan menghabituasi masyarakat untuk mengaktualisasikan sikap toleransi . , moderat . , seimbang . dan tegak lurus atau adil . Aotida. Keempat sikap ini merupakan prinsip sentral dalam Islam dan tentu saja di semua agama yang seyogyanya dapat membentuk karakter kepribadian setiap warga masyarakat, baik secara individual maupun kolektif. Kebaikan dan toleransi merupakan ajaran semua agama. Hal ini sebagaimana tergambar dalam al-Qur'an surah al-Hujurat ayat 13 dan Injil Yohanes pasal 1 ayat 11 tentang berbuat baik. AuBarang siapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barang siapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat AllahAy. Nilai-nilai Kitab Suci inilah yang diamalkan oleh sebagian masyarakat, salah satunya adalah masyarakat Kelurahan Lolu Utara Kecamatan Palu Timur Kota Palu. Kebiasaan mengamalkan dan menghidupkan nilai-nilai Kitab Suci semacam itu disebut dengan istilah Living Kitab Suci atau juga disebut Living Qur'an. 3 Budaya Living Kitab Suci ini kemudian melahirkan budaya toleransi di tengah masyarakat dengan segala bentuk dan Kantor urusan khusus presiden untuk dialog dan kerja sama antar agama dan peradaban. Wasatiyyah Islam untuk peradaban dunia: Konsepsi dan implementasi. (Bogor,Usulan Indonesia untuk konsultasi tingkat tinggi ulama dan cendekiawan muslim dunia tentang wasathiyah islam, 2. , 10. Hamam Faizin. Living QurAoan Sebuah Tawaran. Artikel Scholar. Sumber Artikel: http://elabidisme. id/2008/11/living-quran-sebuahtawaran. html, diakses pada bulan September 2024. Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 Salah satu organisasi yang memiliki peran dalam hal ini adalah Wanita Islam Al-Khairaat (WIA). Dibentuk pada hari Jumat, 15 SyaAoban 1348 H atau bertepatan dengan 5 Agustus 1964, atas inisiatif Hj. Syarifah SaAodiyah Binti Idrus Aljufrie, putri dari H. S Idrus bin Salim Aljufrie. Organisasi ini pertama kali bermarkas di kota Palu. Sulawesi Tengah, dan memiliki jaringan cabang yang tersebar di berbagai provinsi dengan Kabupaten/Kota. Kecamatan. Kelurahan. Provinsi. RT/RW. Wanita Islam Alkhairaat (WIA) adalah satu organisasi atau komunitas khusus Wanita Islam Alkhairaat yang pertama kali dibentuk di Indonesia bagian Timur. The Living Kitab Suci adalah konsep yang menekankan teks-teks dalam sebuah kitab suci yang hidup dalam masyarakat atau respons masyarakat terhadap teks dan hasil penafsiran Termasuk dalam pengertian Aurespons masyarakatAy adalah persepsi mereka terhadap teks tertentu dan hasil penafsiran tertentu. Pendekatan Living Kitab Suci yang diadaptasi dari pendekatan Living Qur'an dan Injil dalam mengelola konflik membawa perubahan positif yang signifikan dalam mewujudkan nilai-nilai perdamaian, kasih sayang dan 4 Living Kitab Suci bertujuan mengajarkan tentang kesederhanaan, kerendahan hati serta kebijaksanaan dalam Ahmad Rafiq. AuLiving QurAoan: Its Texts and Practices in the Functions of the Scripture,Ay Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-QurAoan Dan Hadis 22, 2 . Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 mengelola ketegangan sehingga lebih mudah tercipta mediasi dan komunikasi yang harmonis umatumat beragama. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Lolu Utara Kecamatan Palu Timur Kota Palu. Sulawesi Tengah. Populasi dalam penelitian ini adalah orang-orang yang mengetahui fakta dan keadaan yang ada di lapangan. Populasi tersebut sejumlah 56 orang yang terdiri dari 1 . Ketua Wanita Islam Akhairaat (WIA) Lolu Utara, 9 . Majelis Taklim, 9 . embilan Rukun Warga (RW), 31 . iga puluh sat. Rukun Tetangga (RT) dan 6 . Tokoh agama. Teknik pengambilan sampel dilakukan berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Sugiyono yaitu, probability sampling dan non probability sampling yang sering disebut dengan istilah proporsional stratified sampling atau proporsional sampling. Proporsional sampling adalah teknik pengambilan sampel dengan memperhatikan serta mempertimbangkan unsur-unsur atau kategori-kategori yang terdapat dalam populasi dengan menggunakan rumus Slovin sebagai berikut: Keterangan: ycuycu = ycAycA 1 N x e2 n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi . e = Margin of error atau tingkat kesalahan . Menentukan jumlah sampel dilakukan sebagai berikut: Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 Cara kerja rumus SLOVIN adalah data dan informasi x . responden y . jumlah masyarakat = . ama denga. hasil penelitian tentang tingkat pengamalan moderasi beragama masyarakat Kelurahan Lolu Utara. Dalam penelitian kuantitatif ini, teknik analisis data yang dilakukan dengan cara memberi nilai dalam bentuk angka-angka terhadap data yang berhasil dihimpun, baik berupa angket, kuesioner maupun wawancara. Selanjutnya data-data tersebut dikaji, dianalisis, dan dideskripsikan. Atas dasar itu maka, penulis menyusun angka-angka terhadap data-data tersebut melalui analisis deskriptif dan analisis SWOT. Analisis ini digunakan untuk mengetahui keadaan variabel independen dan variabel dependen serta variabel intervening dengan mengacu pada hasil jawaban responden dengan menentukan nilai: Keterangan: responden atas Kuesioner yang telah diajukan. Skor ideal adalah Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 skor bobot tertinggi atau semua respon yang diasumsikan memiliki jawaban dengan skor tertinggi. Penelitian ini menggunakan analisis SWOT sebagai alat nilai-nilai diterapkan di Kelurahan Lolu Utara. Analisis SWOT didasarkan pada kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Peneliti juga menerapkan metode Living Kitab Suci, yakni pendekatan melalui observasi, kajian, dan analisis terhadap praktik keagamaan masyarakat di Kelurahan Lolu Utara yang mengamalkan serta menghidupkan ajaran-ajaran Al-QurAoan dan Injil dalam konteks pengelolaan konflik berdasarkan suku, agama, dan ras. Tujuannya adalah untuk menguji kebenaran dari praktik ritual Living Kitab Suci tersebut dalam menciptakan suasana yang aman, nyaman, tertib, serta mendukung terciptanya ketenteraman dan keharmonisan sosial. Sisca Eka Fitria dan Vega Fauzana Ariva. Analisis Faktor Kondisi Ekonomi, dalam Jurnal Manjemen Indonesia Vol. , 2018, https://journals. id/ijm/article diakses pada tanggal 8 Januari 2023. Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Kelurahan Lolu Utara dalam Mewujudkan Moderasi Beragam Bagi sebagian kalangan, moderasi beragama dipandang sebagai sebuah konsep yang relatif baru dalam dinamika kehidupan umat beragama saat ini. Namun, sebagian lainnya justru menganggapnya sebagai bentuk ajaran atau cara beragama yang berbeda, terutama dalam konteks Islam. Padahal, moderasi beragama pada hakikatnya merupakan cara pandang, sikap, dan tindakan dalam menjalankan agama di tengah kehidupan bersama, yang mengedepankan nilai-nilai ajaran agama yang terciptanya kemaslahatan umum, dengan berlandaskan pada prinsip keadilan, keseimbangan, serta ketaatan terhadap konstitusi sebagai dasar kehidupan berbangsa. 6 Esensi dari moderasi beragama adalah penerapan ajaran dan nilai-nilai agama yang ditunjukkan melalui penghormatan terhadap sesama serta penguatan nilai-nilai universal yang terkandung dalam Pendekatan beragama seperti ini penting diterapkan oleh semua pemeluk agama agar tidak memicu munculnya sikap dan tindakan ekstrem yang justru bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama itu sendiri. 7 Moderasi beragama dimaknai sebagai Tim Penyusun Kementerian Agama RI. Moderasi Beragama (Jakarta: Balai Libang dan Diklat, 2. , hal. Munculnya penentangan Moderasi Beragama oleh sebagian pihak karena adanya asumsi bahwa program tersebut sebatas proyek yang tidak berbeda dengan AuderadikalisasiAy yang dilakukan oleh BNPT, dimana seakan- Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 cara pandang keagamaan yang berada di posisi tengah, tidak berpihak secara ekstrem ke salah satu sisi. Dalam ajaran Islam, konsep wasathiyyah mencerminkan prinsip beragama yang mendorong terciptanya keseimbangan dalam menjalankan ajaran Oleh karena itu, menjadikan pemahaman agama yang adil dan seimbang sebagai landasan merupakan bentuk nyata dari penerapan serta perwujudan nilai-nilai yang menjadi indikator moderasi beragama yang meliputi 4 . indikator sebagai berikut: Toleransi Sikap toleransi merupakan indikator pertama dari 4 . indikator yang pada dasarnya merupakan aspek penting dalam meminimalisir adanya konflik antar umat beragama. Salah satu manfaat dari sikap toleran adalah, dapat terciptanya budaya saling menghormati dan menghargai serta saling mengamalkan keyakinan, kepercayaan serta aktifitas sosial lain yang diyakininya. Sikap toleransi dimaksud terjadi di tengah Kelurahan Lolu Utara Hal ini ditandai dengan semakin kondusifnya sikap saling menghargai, menghormati serta saling memahami perbedaan di antara warga masyarakat yang berbeda-beda. Kehidupan toleransi di tengah Masyarakat Kelurahan Lolu Utara akan meletakkan posisi umat Islam sebagai pihak yang tertuduh. Asumsi ini jauh dari substansi dari konsep Moderasi Beragama yang dijelaskan dalam buku babon Moderasi Beragama yang diterbitkan Kementerian Agama (Balitbang dan Diklat Kemenag RI, 2. Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 ini, secara kontinyus menunjukkan keharmonisan, karena antar warga masyarakat tidak mempermasalahkan perbedaan agama, pemahaman agama dan pengamalan keyakinan yang ada di tengah umat beragama. Karena itu, masyarakat tetap menjalani kehidupannya sehari-hari dalam keadaan harmonis, saling menghargai dan menghormati. Hal ini membuktikan bahwa, penerapan toleransi, benar-benar telah terimplementasi di tengah kehidupan sosial Masyarakat Kelurahan Lolu Utara. Dengan demikian, tingkat toleran Masyarakat Kelurahan Lolu Utara telah terwujud dengan indeks ketercapaian rata-rata 88%, bila dibandingkan dengan masyarakat yang belum toleran hanya mencapai 12% sesuai diagram berikut: Memiliki Belum Memiliki . Anti Kekerasan Moderasi beragama mengajarkan untuk menolak segala bentuk tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Perlu disadari bahwa agama sejatinya merupakan jalan menuju perdamaian dan kasih sayang, bukan pembenaran untuk melakukan kekerasan atau tindakan diskriminatif. Oleh karena Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 itu, peran aktif pemerintah bersama masyarakat sangat diperlukan dalam menghadapi ancaman radikalisme dan sikap intoleran yang dapat mengganggu ketentraman sosial. 8 Setiap orang tentu menginginkan lingkungan yang harmonis dan bebas dari konflik antarumat beragama, termasuk warga Kelurahan Lolu Utara yang juga mendambakan kehidupan yang damai, rukun, dan harmonis. Sikap anti kekerasan ini dapat dimaknai sebagai sikap yang mengedepankan solusi secara damai dari pada solusi dengan cara kekerasan fisik maupun non fisik. Terwujudnya kehidupan harmonis suatu masyarakat, karena jauh dari situasi hiruk-pikuk perselisihan, pertikaian dan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun non fisik, merupakan harapan setiap anggota masyarakat, dimanapun ia berdomisili. Hal serupa, sebagaimana yang terjadi di tengah masyarakat Kelurahan Lolu Utara yang cukup bahkan sangat kondusif. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa, sikap anti kekerasan Masyarakat Kelurahan Lolu Utara sangat tinggi. Hal ini terlihat dari kondusifnya kerukunan, keamanan, kenyamanan, kebersamaan serta ketentraman antara masyarakat yang saling menjaga situasi kondusif tersebut. Situasi inilah kemudian membuat masyarakat merasa nyaman, aman dan tentram tinggal dan menetap di Kelurahan Lolu Utara. Hal itu dapat terlihat pada diagram berikut: Moderasi Beragama: Pilar Kebangsaan dan Keberagaman Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 Memiliki Belum Memiliki . Komitmen Kebangsaan Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki kekayaan dalam keragaman budaya dan agama. Salah satu nilai utama yang dijunjung oleh negara ini adalah semboyan AuBhinneka Tunggal IkaAy yang berarti berbeda-beda tetapi tetap Satu sebagai bangsa yaitu, bangsa Indonesia, berbahasa satu yaitu. Bahasa Indonesia, tanah air satu yaitu Tanah Air Indonesia. Atas dasar itu, maka bangsa Indonesia menjunjung Hal banyaknya masyarakat yang taat dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik terhadap peraturan perundang-undangan pusat maupun daerah. Hanya sebagian kecil masyarakat yang belum memiliki komitmen kebangsaan mencapai 25%. Hal ini berbeda dengan masyarakat yang sudah memiliki sense of belonging atau memiliki komitmen kebangsaan berupa Masyarakat menghormati simbol-simbol negara, . Masyarakat yang sudah taat dan patuh terhadap peraturan serta norma-norma hukum, . Masyarakat yang tidak lagi melanggar ketentuan peraturan Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 perundang-undangan dan . Masyarakat yang tidak lagi menyalahgunakan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang mencapai 75%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat komitmen kebangsaan masyarakat Kelurahan Lolu Utara mencapai tingkat yang cukup tinggi. Hal ini tidak terlepas dari pendidikan masyarakat dan generasi muda Kelurahan Lolu Utara terkait pentingnya komitmen kebangsan berupa ketaatan perundang-undang. Demikian pula, ketaatan dan kepatuhan terhadap norma-norma hukum, saling menghargai perbedaan dan menjaga kerukunan antar umat beragama. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui sebaran angket, kuesioner dan wawancara dalam penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Lolu Utara yang sudah memiliki Komitmen Kebangsaan mencapai rata-rata 75%, sementara yang belum memiliki mencapai rata-rata 25%. Dengan Komitmen Kebangsaan Masyarakat Kelurahan Lolu Utara termasuk dalam Kategori Tinggi. Memiliki Belum Memiliki Moderasi Beragama: Pilar Kebangsaan dan Keberagaman Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 . Penerimaan Terhadap Tradisi (Kearifan Loka. Keberagaman budaya dan tradisi, baik lokal maupun nasional merupakan hasanah kekayaan nusantara yang harus dijaga dan dilestarikan. Sejalan dengan itu, moderasi beragama sebagai sebuah sikap pemahaman, penghayatan dan pengamalan terhadap nilai-nilai sakral keagamaan. Selain itu, moderasi beragama juga mengajarkan tentang bagaimana sikap setiap individu dan masyarakat dapat menerima dan mencintai tradisi, budaya setempat atau kearifan lokal. Indonesia sebagai bangsa yang besar tentu saja mengakomodir, mengayomi dan menerima semua tradisi nusantara dengan segala perbedaannya. Penerimaan terhadap tradisi dan budaya dalam konteks moderasi beragama mencakup penghormatan dan pengakuan terhadap keberagaman cara beribadah, adat istiadat, tradisi dan kearifan orang lain yang ada di tengah masyarakat. Setiap wilayah di seluruh Indonesia memiliki tradisi atau kearifan lokal yang beragam dan berbeda-beda, demikian pula kearifan lokal yang ada di Sulawesi Tengah, khusunya yang ada di Kota Palu. Kecamatan Palu Timu. Kelurahan Lolu Utara, terdapat beragam kearifan lokal antara lain yang dikenal dan populer di tengah masyarakat dengan istilah "Nosarara Nosabatutu" yaitu Persaudaraan Persatuan "Mosango. Morambanga. Mosimpoasi" yaitu Bersatu Bersama Saling Mengasihi"10. Kearifan lokal Nosarara Nosabatutu ini pada Dr. Suaib Djafar, tokoh masyarakat dan budayawan Sulawesi Tengah. Wawancara dilakukan bulan September 2024 Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 gilirannya melahirkan budaya saling menghargai, menghormati dan menyayangi. Berdasarkan tanggapan responden, maka hasil penelitian ini menunjukkan sikap masyarakat Kelurahan Lolu Utara tentang penerimaan terhadap tradisi sangat signifikan. Hal ini juga yang membuat masyarakat merasa nyaman, aman dan tenteram tinggal dan menetap di Kelurahan lolu Utara. Penelitian ini menunjukkan bahwa, sikap penerimaan terhadap tradisi atau kearifan lokal oleh masyarakat Kelurahan Lolu Utara mencapai rata-rata 91,09%, sementara masyarakat yang belum sepenuhnya memiliki sikap menerima, menghargai dan mencintai tradisi atau kearifan mencapai 8,01%. Hal ini dapat dilihat pada diagram berikut: Memiliki Belum Memiliki Peran Wanita Islam Al-Khairaat (WIA) Kelurahan Lolu Utara dalam Mewujudkan Moderasi Beragama Majelis Taklim Wanita Islam Alkhairaat (WIA) resmi didirikan pada hari Jumat, 15 SyaAoban 1348 H atau bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1964, atas prakarsa Hj. Syarifah Sadiyah binti Idrus Aljufrie, putri dari H. Idrus bin Salim Aljufrie, pendiri Alkhairaat. Organisasi ini berpusat di Kota Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 Palu. Sulawesi Tengah, dan telah berkembang ke berbagai wilayah, hampir menjangkau seluruh kabupaten dengan jaringan cabang di berbagai provinsi. Struktur organisasinya mencakup jenjang dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga WIA memiliki fungsi dan tugas yang diatur secara resmi dalam anggaran dasar organisasi, termasuk mekanisme pemilihan pengurus di setiap jenjang kepengurusan yang ditetapkan melalui forum muktamar, termasuk Wilayah Lolu Utara yang menjadi Fokus penelitian dibawahi ibu Hj. Rahmawati sebagai Ketua WIA Kelurahan Lolu Utara. Kontribusi atau peran WIA Lolu Utara dalam mewujudkan toleransi antar umat Bergama dengan melakukan kegiatan sebagai berikut : Mengadakan pengajian dengan menghadirkan semua majelis taklim di kelurahan Lolu Utara yakni melalui kegiatan ceramah dengan menghadirkan penceramah untuk memberikan nasihat dan pencerahan. Selain itu. WIA juga berperan dalam pembentukan karakter warga dan menambah wawasan keilmuan, terutama dalam mengamalkan ilmu yang diperoleh dari kegiatan majelis Fungsi majelis taklim kini tidak lagi sekadar sebagai tempat mengaji, melainkan berkembang menjadi lembaga pendidikan keagamaan Islam yang aktif. Oleh sebab itu, majelis taklim menjadi sarana dakwah yang efektif dalam membina umat serta meningkatkan kualitas Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 hidup masyarakat Muslim, khususnya dalam memahami dan menerapkan nilai-nilai moderasi beragama. WIA juga terlibat dalam pemilihan ketua Rukun Warga (RW), yang merupakan organisasi yang memiliki peran penting dalam menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan di wilayahnya dengan bekerja sama dengan memberikan informasi kepada aparat keamanan terkait aktivitas mencurigakan di sekitar lingkungan. Dengan demikian, keamanan dan rasa aman warga dapat terjamin meliputi pengawasan terhadap keluhan warga terkait kebisingan. RW juga bertindak dalam penyelesaian konflik warga yang mungkin terjadi di lingkungan Dengan kehidupan masyarakat akan menjadi lebih harmonis dan WIA juga terlibat memberikan aspirasi serta masukan dari warga untuk disampaikan kepada pemerintah setepat khususnya Lurah tentang penertiban rambu-rambu jalan, parkir kendaraan yang tidak pada tempatnya, semuanya demi terciptanya suasana yang nyaman, kondusif dan harmonis. Dengan adanya komunikasi yang baik antara warga dan pemerintah setempat, kepentingan warga dapat terakomodasi Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 dengan lebih baik sehingga menciptakan kehidupan yang lebih baik pula. Praktik Living Kitab Suci Masyarakat Kelurahan Lolu Utara dalam Mewujudkan Moderasi Beragama Pendekatan Living Kitab Suci yang diadaptasi dari pendekatan Living Kitab Suci dalam mengelola konflik membawa perubahan positif yang signifikan dalam mewujudkan nilai-nilai perdamaian, kasih sayang dan toleransi. 11 Ajaranajaran religiusitas dalam Living Kitab Suci dapat dijadikan sebagai landasan bagi kedua komunitas masyarakat mayoritas Islam dan Kristen di tengah-tengah masyarakat Kelurahan Lolu Utara untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam keharmonisan, keamanan dan perdamaian di antara semua Esensi dari konsep Living Kitab Suci terletak pada penekanan nilai-nilai kasih sayang, saling memahami, dan toleransi antar sesama. Nilai-nilai utama seperti keadilan, kasih, dan perdamaian menjadi landasan ajaran yang relevan untuk diterapkan dalam menyelesaikan berbagai konflik. 12 Tujuan Living Kitab Suci adalah menanamkan nilai kesederhanaan. Arsal. AuMetode Hermeneutika Dan Tafsir Al Quran (Analisis Kritis Penggunaan Metode Hermeneutika Terhadap Penafsiran Al-Quran,Ay Al Hurriyah: Jurnal Hukum Islam 2, no. Ahmad Rafiq. AuLiving QurAoan: Its Texts and Practices in the Functions of the Scripture,Ay Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-QurAoan Dan Hadis 22, 2 . Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 kerendahan hati, dan kebijaksanaan dalam menghadapi situasi penuh ketegangan, sehingga tercipta ruang untuk mediasi dan tercapainya rekonsiliasi yang utuh dan berkelanjutan. Al-QurAoan mengajarkan tentang konsep AuRahmatan Lil AoAalaminAy, sementara itu. Kitab Injil juga menekankan ajaran tentang kasih, yang membawa pesan perdamaian serta Pesan-pesan Yesus Kristus mengenai cinta kepada sesama, saling memaafkan, dan melayani merupakan inti dari ajaran tersebut. Ajaran-ajaran agama tersebut merupakan dasar pijakan bagi semua pemeluk agama dan setiap individu agar menjadikan pendekatan nilai-nilai kasih sayang tersebut dalam menghadapi konflik. 13 Yaitu menebar kasih sebagai perwujudan dari konsep memberi. Konsep memberi lebih penting daripada menerima. Karena itupula, maka prinsip memberi dan menebarkan kasih sayang merupakan salah satu aspek penyembuhan dan pemulihan hubungan sebagai tema sentral dalam Injil. Pendekatan Living Kitab Suci tidak hanya terbatas pada aspek spiritualitas, tetapi juga melibatkan aksi nyata dalam Upaya Matheus Mangentang and Tony Salurante. AuMembaca Konsep Kasih Dalam Injil Yohanes Menggunakan Lensa Hermeneutik Misional,Ay Phronesis: Jurnal Teologi Dan Misi https://doi. org/10. 47457/phr. John Henry King. AuChrist Is Our Message,Ay Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia https://doi. org/10. 54403/rjtpi. Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 memfasilitasi dialog antaragama, menyelenggarakan program pendidikan lintas budaya, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda, merupakan bentuk implementasi nyata dari nilai-nilai tersebut. Sikap bijak dan arif dalam menyikapi keberagaman sangat dihargai dalam pandangan Living QurAoan dan Injil, yang memandang perbedaan sebagai anugerah dan peluang untuk saling memperkaya pengetahuan. Injil sendiri mengajarkan konsep AuSatu Tubuh Kristus,Ay yang menggambarkan pentingnya saling ketergantungan dan kerja sama dalam komunitas yang lebih luas. 15 Demikian pula dalam konsep Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad mengajarkan AuSatu Tubuh, bila yang satunya sakit, maka yang lainnya turut merasakan sakit dan tubuh sehat, maka yang lainnya turut merasakan sehat. Ay Itulah esensi ajaran agama melalui pendekatan Living Kitab Suci terhadap konflik dalam menciptakan landasan yang kuat untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan serta harmoni antar Tradisi moderasi tidak hanya terdapat dalam agama Islam, tetapi juga dalam agama-agama lain seperti Kristen. Pada masa misi Kristen abad ke-16, konsep moderasi dalam tradisi Kristen penafsiran ekstrem terhadap ajaran agama yang berkembang di Marlon Lahope. AuArminius. Arminian. Dan Kaum Injili: Sebuah Klarifikasi,Ay Veritas: Jurnal Teologi Dan Pelayanan 18, no. https://doi. org/10. 36421/veritas. Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 kalangan umat. Salah satu langkah yang diambil adalah memperkuat interaksi antaragama dan antarmazhab di dalam komunitas Kristen sendiri. Dalam ajaran Kristen, dikenal pula prinsip AukasihAy kepada Tuhan dan sesama manusia, yang menjadi dasar penting dalam menjalin hubungan sosial. Agama Khonghucu diyakini masuk ke Indonesia sekitar abad ke-3 Masehi bersamaan dengan kedatangan para pedagang dari Tiongkok. Kitab suci Khonghucu dikenal dengan Shishu Wujing. Salah satu nilai penting dalam ajaran Khonghucu yang selaras dengan prinsip moderasi beragama adalah konsep Junzi, intelektualitas seseorang. Menjadi Junzi adalah tujuan hidup para penganut Khonghucu. Ketika seseorang menghayati nilainilai Junzi, secara otomatis ia menerapkan kasih sayang terhadap sesama manusia dan makhluk hidup lainnya. Dalam Al-Kitab, mendorong kekerasan, peperangan, atau tindakan merusak, karena Yesus mengajarkan kebaikan dan kebajikan. Perspektif moderasi beragama juga diangkat dalam ajaran Gereja Katolik, yang menggambarkan umat sebagai Aupersekutuan iman, harapan, dan kasih. Ay Ketiga hal ini menjadi fondasi utama dalam KatolikAiiman kehidupan, harapan sebagai dorongan, dan kasih sebagai Qasim. Membangun Moderasi Beragama Umat melalui Integrasi Keilmuan. In Alauddin University Press . st ed. Alauddin University Press. Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 Meskipun Dalam ajaran Hindu, prinsip moderasi beragama diwujudkan dalam konsep Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma, yang berarti keseimbangan antara aspek jasmani dan spiritual . Keseimbangan ini diyakini akan membawa manusia pada kebahagiaan sejati dan pencapaian moksa. Ajaran lainnya seperti Ahimsa menekankan kesadaran untuk tidak menyakiti atau membunuh makhluk lain. Untuk menumbuhkan sikap ini, seseorang harus menjauhi perilaku merendahkan, menghina, atau memaksakan keyakinan, serta menghindari kekerasan terhadap mereka yang berbeda pandangan. Selain itu, ajaran susila hubungan harmonis antarumat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Kasih sayang menjadi nilai utama yang dijunjung dalam semua ajaran agama. Dalam ajaran Buddha, semangat utama agama adalah Metta, yang dalam bahasa Pali berarti kasih sayang tanpa kekerasan dan sikap bersahabat. Dengan mengamalkan Metta, umat Buddha diajarkan untuk menjauhi segala bentuk kebencian, kejahatan, dan permusuhan, serta dituntut untuk menumbuhkan kebaikan hati, persahabatan, dan kesejahteraan, baik terhadap sesama manusia maupun makhluk lainnya. Oleh Kementerian Agama RI, 2019 Rosidi. Dimensi Tradisional dan Spiritual dalam Agama Hindu. Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan. Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 karena itu. Living Kitab Suci atau menghidupkan nilai-nilai kitab suci yang ada di tengah Masyarakat Kelurahan Lolu Utara dipraktikannya dalam 2 . Mengamalkan ayatayat tertentu dalam kitab suci yang berkaitan dengan persamaan derajat, kasih sayang dan lainnya dengan cara membacanya pada kesempatan tertentu yang dipilihnya. Mengamalkan ayatayat kitab suci dalam kehidupan keseharian dengan cara memahami, meresapi dan mengamalkannya, baik dalam bertutur kata, bersikap, berprilaku, senantiasa dilakukannya dengan kasih Upaya Habituasi Masyarakat Kelurahan Lolu Utara Moderasi beragama yang berlangsung di Kelurahan Lolu Utara Kecamatan Palu Timur. Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah merupakan role model atas keberagaman agama masyarakat di Indonesia. Wilayah ini memiliki keragaman suku dan agama, namun perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk bekerja sama, bergotong royong, dan saling membantu, meskipun berasal dari latar belakang yang Wujud kehidupan sosial budaya di Kelurahan Lolu Utara terlihat pada masyarakat yang tidak mempermasalahkan status agama, saling menghargai antar sesama manusia dan saling kebersamaan, dan menjaga kerukunan antar umat beragama. Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 Seperti yang telah digambarkan pada diagram dibawah Penerapan Moderasi Beragama Telah Mengamalkan Dalam Ragu - Ragu Kelurahan Lolu Utara mengenai penerapan Moderasi beragama melalui kuesioner dengan pertanyaan Auapakah Masyarakat Kelurahan Lolu Utara sudah mengamalkan nilai-nilai moderasi beragamaAu 93% Masyarakat menjawab telah mengamalkan dan masyarakat Lolu Utara 7 % menjawab belum mengetahuinya, presentase tersebut menunjukkan bahwa moderasi beragama di Kelurahan Lolu Utara mencapai kategori sangat tinggi. Moderasi beragama di Kelurahan Lolu Utara untuk menciptakan suasana masyarakat yang damai. Suasana damai yang tercipta di masyarakat dapat terwujud jika tidak ditemukan konflik baik internal maupun eksternal beragama, meminimalisir adanya konflik dan gesekan antar umat beragama. Dan menciptakan suasana rukun dan menciptakan suasana yang aman dan nyaman. Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 Di samping itu, tidak pernah terjadi konflik bernuansa agama atau perbedaan lainnya di wilayah tersebut. Lurah Lolu Utara menegaskan bahwa daerahnya dibangun atas dasar kerukunan antarumat beragama, semangat gotong royong, serta saling tolong menolong, sehingga perbedaan yang ada tidak pernah memicu konflik. Sikap saling menghormati antar pemeluk agama dan menjunjung tinggi nilai toleransi menjadi kunci utama dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Tak mengherankan jika Lolu Utara dijadikan sebagai contoh wilayah yang berhasil membangun kerukunan antarumat beragama, khususnya di Kota Palu dan wilayah Palu Utara. Hal ini sejalan dengan pandangan salah satu informan dalam penelitian, yang menyebutkan bahwa toleransi adalah prinsip utama dalam menjaga kehidupan masyarakat yang majemuk. Hasil masyarakat yang mencerminkan sikap toleran terlihat dalam beberapa aspek, antara lain:: Menghindari pembahasan agama dalam percakapan sehari-hari. Saling membantu dalam pembangunan tempat ibadah. Menggunakan simbol-simbol keagamaan saat upacara atau kegiatan keagamaan. Menjalin keharmonisan dalam keluarga yang terdiri dari anggota dengan agama berbeda. Menghormati hari besar dan kegiatan kebudayaan Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 Saling menghormati perbedaan antar Agama. Tidak membeda-bedakan keyakinan yang dianut Agama Bekerja bakti dalam membesihkan rumah-rumah ibadah yang ada di Kelurahan Lolu Utara. Kerjasama bersama RT dan RW bergotong royong. Saling tolong-menolong antar masyarakat. Mempersilahkan setiap agama beribadah sesuai dengan Salah satu pola masyarakat yang gotong royong tercermin dengan melakukan pembersihan tempat ibadah dari masing-masing agama . asjid dan gerej. tanpa memunculkan egoisme dalam beragama. Kehidupan toleransi yang mencolok Kelurahan Lolu Utara ialah berdirinya tempat ibadah agama Islam dan Kristen. Masyarakat Kelurahan Lolu Utara secara konsisten bermasyarakat meskipun berbeda latar belakang. Kerja sama yang terjalin antara pemerintah setempat dan masyarakat juga berjalan baik dalam mewujudkan suasana harmonis tersebut. Nilai-nilai ini perlu dijaga dengan baik dan terus dikembangkan agar Lolu Utara dapat menjadi model bagi daerah lain dalam membangun kehidupan yang rukun dan damai. Toleransi antar pemeluk agama menjadi ciri utama terbentuknya Desa Pancasila di berbagai wilayah. Upaya menjaga kerukunan antarumat beragama di Desa Pancasila perlu Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 dilakukan melalui proses pembiasaan . Habituasi ini dipahami sebagai proses internalisasi nilai-nilai toleransi melalui tindakan nyata dan sosialiasi berkelanjutan yang mendorong terciptanya harmoni antarkelompok. Nilai-nilai ini tidak hanya dibentuk melalui kebiasaan, tetapi juga menjadi hasil dari praktik kehidupan sosial yang dijalankan masyarakat. Habituasi AuNosarara NosabatutuAy yang berasal dari bahasa Suku Kaili, penduduk asli Sulteng. Artinya. AuKita Bersaudara. Kita BersatuAy. Semboyan ini merupakan pemersatu bagi keberagaman masyarakat Sulteng yang terdiri dari berbagai suku dan agama. Gagasan lokal ini sejalan dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Namun demikian, dalam pelaksanaannya kehidupan toleransi tidak lepas dari berbagai tantangan. Meski secara umum mampu menciptakan kondisi yang kondusif, beberapa kendala tetap ditemukan, terutama dari masyarakat pendatang yang belum terbiasa atau belum bisa menyesuaikan diri dengan keragaman agama di wilayah tersebut. Untuk hambatan-hambatan diperlukan langkah strategis dalam menyelesaikan konflik sosial, termasuk dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Salah satu solusinya adalah melalui dialog antara pemerintah Nurhakki. Rustan. , & Syam. AuThe Habituation of Tongkonan Communication as Adhesives for Religious Harmony in Toraja PeopleAy. Aaliyah. Vol. 21 No. 1, hh. 216Ae233. Nuryadi. , & Widiatmaka. , 2022, Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 setempat dan masyarakat, serta memberikan pemahaman akan pentingnya saling menghargai dan menghormati antarindividu dalam masyarakat yang beragam. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang sudah diuraikan sebelumnya, maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: . Kehidupan sosial budaya masyarakat di Kelurahan Lolu Utara dalam mewujudkan moderasi beragama dapat dilihat pada sikap moderasi beragama yang diimplementasikan oleh masyarakat di antaranya sikap tidak mempermasalahkan status agama dalam kegiatan bermasyarakat, saling menghargai dan menghormati sesama manusia beserta keyakinan masingmasing, saling menjaga keamanan, kenyamanan, ketertiban dan kebersamaan, saling menjaga kerukunan antar umat beragama dan mengimplementasikan sikap toleransi antar umat beragama. Hal ini terbukti melalui situasi kehidupan masyarakat Kelurahan Lolu Utara yang aman dari konflik antar umat beragama hingga sekarang ini. Peran Wanita Islam Al-Khairaat Kelurahan Lolu Utara, para ketua RT dan RW, dan para tokoh Agama yang senantiasa kontributif dalam rangka mewujudkan toleransi umat beragama sesuai dengan perannya masing-masing. Hal ini terlihat melalui peran dan aktifitas keagamaannya dalam menghidupkan norma-norma agama serta menjaga kerukunan di lingkungan masyarakat. Praktek Living Kitab Suci masyarakat Kelurahan Lolu Utara dalam menciptakan suasana toleran lebih menekankan pada aspek pentingnya cinta kasih. Comparativa Vol. 6 No. Januari - Juni 2025 saling pengertian dan toleransi di antara sesama manusia, dengan mengamalkan ayat-ayat kitab suci yang mengandung nilai persamaan, kasih sayang, dan kebajikan. Baik melalui pembacaan pada waktu tertentu maupun dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap dan perilaku yang penuh kasih. Dalam ajaran Hindu, moderasi beragama didasarkan pada prinsip Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma yang menekankan keseimbangan jasmani dan rohani, sedangkan dalam ajaran Buddha, nilai Metta mencerminkan semangat persahabatan dan anti kekerasan. Habituasi masyarakat Kelurahan Lolu Utara dalam menerima dan melestarikan tradisi dan kearifan lokal yang secara grafik menunjukkan peningkatan. Salah satu dari sikap menerima tradisi dan atau kearifan lokal tersebut adalah AuNosarara NosabatutuAy yang berarti AuPersaudaraan dan PersatuaAy, prinsip ini yang kemudian menciptakan harmonisasi di antara seluruh komponen masyarakat. REFERENSI